Pendahuluan
Konteks
Latar Belakang
Ruang Lingkup dan Metode Penelitian
Komponen Sistem dan Proses Hukum Indonesia
Pemerintah Pusat
DPR mempunyai kewenangan untuk menetapkan dan mengubah undang-undang serta bekerja sama dengan lembaga eksekutif dalam perumusan undang-undang. DPD juga dapat mengajukan rancangan undang-undang, sehingga rancangan undang-undang tersebut harus diusulkan oleh DPR.2.
Pemerintahan Daerah
Mahkamah Agung (MA) merupakan pengadilan tertinggi yang berwenang untuk 1) mengadili dan akhirnya memutus semua perkara yang diputus oleh Pengadilan Tinggi, 2) meninjau peraturan di bawah undang-undang (fungsi parlemen), 3) memberikan klarifikasi dan pertimbangan hukum kepada instansi pemerintah, serta 4) meninjau kembali putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, serta berbagai kewenangan lain yang dilimpahkan oleh undang-undang.4 Mahkamah Agung juga berwenang melakukan pengawasan terhadap penanganan perkara perdata dan pidana di lingkungan peradilan umum, pengadilan agama, pengadilan militer, dan pengadilan tata usaha negara, serta pada pengadilan tinggi dan pengadilan negeri. Mahkamah Konstitusi (MK) memastikan undang-undang yang disahkan oleh Parlemen Nasional Indonesia sesuai dengan Konstitusi dan menyelesaikan perselisihan hasil pemilihan umum, perselisihan kekuasaan lembaga negara, serta pembubaran partai politik.
Proses Pembuatan Undang-Undang
KERANGKA HUKUM DAN TATA KELEMBAGAAN SEKTOR PERIKANAN DI INDONESIA Komponen sistem dan proses hukum Indonesia (penasihat teknis, perusahaan, organisasi masyarakat sipil dan akademisi) dapat memberikan masukan terhadap proses legislatif. Setelah undang-undang tersebut disahkan oleh DPR dan kemudian ditandatangani dan diundangkan oleh Presiden, maka lembaga pelaksana akan menerbitkan peraturan pelaksanaannya.
Jenis Peraturan Perundang-Undangan
Masing-masing RUU dibahas bersama oleh DPR dan Presiden untuk mendapatkan persetujuan bersama. Rancangan undang-undang diajukan oleh anggota DPR, komisi, gabungan komisi, perangkat lunak, atau DPD di lingkungannya.
Instrumen Kebijakan Lainnya
Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen) No. 17 Tahun 2006 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen) No. 5 Tahun 2008.
Aspek Penting Kerangka Hukum dan Peta Instansi Pemerintah
Peraturan Perundang-Undangan Bidang Perikanan: Ruang Lingkup Tinjauan
Tinjauan ini berupaya memetakan undang-undang dan peraturan nasional utama yang berkaitan dengan sektor perikanan. Kajian ini belum bisa dikatakan sempurna mengingat banyaknya peraturan perundang-undangan yang saling berkaitan satu sama lain.
Undang-Undang Penting Terkait Sektor Perikanan
KERANGKA HUKUM DAN TATA KElembagaan SEKTOR PERIKANAN DI INDONESIA Aspek penting kerangka hukum dan peta instansi pemerintah sektor perikanan di Indonesia. Ciri-ciri penting dari semua undang-undang tersebut di atas akan dijelaskan pada bagian ini, karena semua undang-undang tersebut di atas akan sering dirujuk pada bagian tematik berikutnya.
Terkait dengan pengelolaan perikanan, Penjelasan Umum menunjukkan adanya permasalahan koordinasi antar kewenangan yang diatur dalam UU Tahun 2004. Bagian penting dari UU Perikanan adalah pemberian kewenangan pengambilan keputusan terkait pengelolaan perikanan kepada Menteri Kelautan dan Perikanan. Bisnis dan Perikanan. .
Namun terdapat beberapa ketentuan dalam UU yang berkaitan dengan perikanan dan kewenangan kehakiman. Dengan demikian, sektor kelautan dan perikanan terbagi di antara tingkat pemerintahan tersebut.27 Rincian spesifik yurisdiksi tercantum dalam lampiran UU No.
Instansi Pemerintah Penting yang Terlibat dalam Bidang Perikanan
Undang-undang (UU) no. 17/1985 tentang ratifikasi Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS). Mengacu pada hak kedaulatan tersebut, UU No. 1 Tahun 1973 Pasal 2 menegaskan bahwa negara adalah pemilik sumber daya alam tersebut.
Aspek Penting Konteks Historis Terkait Klaim Teritorial dan Kebijakan Kelautan
Klaim Teritorial
Indonesia mulai melakukan klaim atas ZEE pada tahun 1980 dan bergerak cepat dengan memberlakukan UU No. Sistem Perizinan Usaha Perikanan Tangkap Terpadu diperkenalkan pada tahun 2006 sesuai dengan ketentuan Undang-undang Perikanan baru tahun 2004.
Kebijakan Kelautan
Penerapan sistem perizinan penangkapan ikan terpadu untuk memanfaatkan manfaat ekonomi perikanan di zona ekonomi eksklusif. Memfasilitasi impor kapal penangkap ikan asing bekas dengan ukuran di atas 200 GT untuk memfasilitasi eksploitasi penangkapan ikan yang diizinkan di zona ekonomi eksklusif di atas batas 200 mil laut secara lebih efisien.
27/2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil63 yang meliputi perairan sampai dengan batas 12 mil laut. 27 Tahun 2007 menetapkan wilayah pesisir sebagai aset nasional yang dikelola untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, dengan fokus pada perlindungan, konservasi, rehabilitasi, pemanfaatan dan pengayaan sumber daya wilayah pesisir;
Perubahan UU Nomor 27 Tahun 2007 mengacu pada putusan Mahkamah Konstitusi bahwa hak pengelolaan perairan pesisir (HP3) melanggar prinsip persamaan dan keadilan yang diatur dalam Pasal 33 ayat (4) UUD. Diukur oleh Kementerian Perhubungan (UU No. 17/2008) dan mempunyai dokumen pengukuran jika ada pengukuran 7 GT ke atas.
Kewenangan Yurisdiksi dan Hak
- Fitur Penting
- Konteks Historis
- a Peran Negara sebagai Pengelola
- b Perikanan sebagai Hak Pakai dan Hukum Adat
- c Hak Nelayan Kecil
- d Devolusi Yurisdiksi Negara dalam Perikanan
Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 2002 tentang Tarif Jenis. Keputusan Presiden) Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 9 Tahun 2007 Pengesahan Agreement Creating the Indian Ocean Tuna Commission (Perjanjian Pembentukan Komisi Tuna Samudera Hindia). Keputusan Presiden) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2016 Tentang Daftar Bidang Usaha Tertutup dan Bidang Usaha Terbuka Dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal.
1999 Kewenangan dan Hak Yurisdiksi, baik Keputusan Presiden Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 147 Tahun 1999 tentang Perubahan.
Pengelolaan dan Perencanaan
- Fitur Penting
- Mandat Negara Dalam Pengelolaan Perikanan
- b Upaya Awal Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan dalam Perairan Teritorial
- c Perluasan Pengelolaan Perikanan untuk Mencakup ZEE
- d Kode Etik FAO 1995 tentang Perikanan Yang Bertanggung Jawab
- e Perluasan Pengelolaan untuk Mencakup Wilayah Pesisir
- f Fokus Baru pada Konservasi dan Pengelolaan Perikanan Berbasis Sains
- g Pengelolaan dan Perencanaan Perikanan sebagai Aspek Kebijakan Maritim dan Industri
Pengelolaan dan Perencanaan Perikanan Tangkap Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor PER.21/. Peraturan Menteri Pengelolaan dan Perencanaan Budidaya Perikanan Tahun 2006 Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor PER 05/. Peraturan Menteri Pengelolaan dan Perencanaan Perikanan Budidaya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor PER.08/.
Registrasi dan perizinan keduanya merupakan peraturan menteri Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 49/PERMEN-.
Pelaksanaan
Fitur Penting
Mereka dapat menyelidiki dan menyita dalam jarak 0-12 mil laut (yaitu di perairan teritorial). Bakamla) ditetapkan berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) no. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan (yang telah diubah dengan UU No. 45 Tahun 2009) membentuk Pengadilan Perikanan tahap pertama, yaitu di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, Medan, Pontianak, Bitung, dan Tual. Ada potensi tumpang tindih kewenangan dengan BPK terkait penegakan hukum dalam rangka pemberantasan illegal fishing.
Wajib menjamin keselamatan dan keamanan di laut, sebagaimana diatur dalam UU No. 17/2008 secara tegas mengatur pembentukan pasukan penjaga laut dan pantai yang bertanggung jawab langsung kepada presiden.
Jaksa Penuntut Umum harus menyerahkan perkara itu kepada ketua Pengadilan Negeri yang bersangkutan dalam jangka waktu paling lama 30 hari terhitung sejak berkas penyidik dinyatakan lengkap. Benda dan/atau alat yang digunakan atau dihasilkan dari kegiatan tindak pidana penangkapan ikan dapat disita, dilelang, atau dimusnahkan oleh negara setelah diperolehnya. Pengadilan Negeri Pontianak Pengadilan Negeri Bitung Pengadilan Negeri Tual Pengadilan Negeri Tanjung Pinang Pengadilan Negeri Ranai.
Masyarakat dapat berpartisipasi aktif melalui Kelompok Pemantau Masyarakat (Pokwasmas) untuk menyampaikan laporan atau pengaduan kejahatan penangkapan ikan.
Konteks Historis
Satgas ini bertugas mengerahkan kemampuan operasional KKP, TNI Angkatan Laut, Kepolisian, Kejaksaan, Bakamla dan lembaga terkait lainnya, serta berwenang mengidentifikasi sasaran penindakan, mengoordinasikan pengumpulan data dan informasi terkait, serta mengawasi prosedur penindakan. oleh Angkatan Laut, Polisi, PKC dan Badan Keselamatan Maritim. Namun keikutsertaan KPLP di Kementerian Perhubungan tidak disebutkan, yang menunjukkan bahwa Kelompok Proyek 115 tidak mempunyai peran dalam pekerjaannya.
Pendaftaran dan Perizinan
Fitur Penting
7/2016 berlaku untuk definisi nelayan kecil (yaitu kapal sampai dengan 10 GT), yang menyatakan bahwa UU No. Perlu diperhatikan bahwa sertifikat pendaftaran kapal penangkap ikan bagi nelayan kecil dan sertifikat pendaftaran bagi pembudi daya ikan kecil, sebagaimana tercantum pada Lampiran E. 2 Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2009. Terkait dengan kapal berukuran maksimal 10 GT, Surat Tanda Daftar Kapal Perikanan bagi Nelayan Kecil menggantikan Surat Tanda Daftar Kapal (BPK) yang sebelumnya diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan. TIDAK.
Memiliki surat tanda registrasi kapal penangkap ikan bagi nelayan kecil, apabila kapal berukuran 10 GT atau kurang, yang diterbitkan oleh pemerintah provinsi atau (jika dilimpahkan oleh provinsi) kepada pemerintah kabupaten, sesuai dengan Lampiran E.2 Peraturan Pemerintah No.
Konteks Historis
Peraturan perikanan kemudian diperbarui secara substansial untuk mengakomodasi perubahan undang-undang baru berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. Memberikan arahan antara lain tata cara perizinan kapal berukuran lebih dari 30 GT oleh CCP Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap dan kapal di bawah ambang batas tersebut oleh Gubernur (sampai 30 GT) dan Bupati/Bupati (sampai 10 GT) . Mewajibkan semua investor asing untuk berinvestasi pada unit pengolahan lokal; dan memperkenalkan rezim perizinan bagi Usaha Perikanan Terpadu untuk mengatur jenis investasi ini.
12/2012, menetapkan aturan perizinan kapal Indonesia di laut lepas, sesuai dengan standar Organisasi Pengelola Perikanan Daerah (RFMO) mengenai perikanan tangkap dan pengangkutan ikan.
Pada saat yang sama, peraturan tersebut juga menyebutkan bahwa kapal asing hanya dapat memperoleh izin jika terdapat perjanjian bilateral dengan negara asalnya.182. Antara tahun 2000 dan 2005, Departemen Eksplorasi Kelautan yang baru dibentuk menandatangani serangkaian perjanjian bilateral baru dengan negara-negara penangkapan ikan lainnya untuk mengizinkan kapal asing beroperasi di perairan Indonesia untuk mengeksploitasi tangkapan yang tidak dialokasikan di ZEE, sesuai dengan kewajiban Indonesia berdasarkan UNCLOS. 187 Setiap negara peserta menerima kuota berikut: 250.000 GT untuk Tiongkok; 54/2002 mengatur tentang Surat Izin Usaha (SIUP) perikanan tangkap di ZEE, termasuk bagi kapal asing dari negara peserta perjanjian bilateral188 dan bagi pihak yang dibiayai oleh penanaman modal asing.
Namun, pada tahun 2006 kebijakan partisipasi aktor asing kembali berubah: pemerintahan Presiden Yudhoyono tidak lagi menganggap bahwa pengaturan bilateral dan perizinan langsung kapal asing dapat membawa banyak manfaat bagi Indonesia.
Ketentuan ini belum diubah oleh peraturan terbaru tentang PNPB sektor perikanan (Peraturan Pemerintah No. 75 Tahun 2015). 31/2004 tentang Perikanan juga mensyaratkan bahwa Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dari sektor perikanan harus ditempatkan pada pembangunan perikanan, termasuk dalam upaya pelestarian sumber daya perikanan dan lingkungan hidup.234 Berdasarkan UU No.1, peraturan pelaksanaan penting lainnya pada tahun 2004 UU Perikanan adalah UU Kelautan dan Peraturan Menteri Perikanan No.
Penerimaan Negara
Fitur Penting
KPS Perizinan Penangkapan Ikan (SIUP)208 = jumlah kapal yang dialokasikan x ukuran kapal terbesar yang dialokasikan x tingkat peralatan KPS. Secara keseluruhan, perubahan-perubahan ini secara signifikan meningkatkan bea masuk yang dikenakan pada kapal penangkap ikan berukuran 30 GT atau lebih. Namun karena perubahan ini dilakukan bersamaan dengan masa moratorium perizinan, perubahan tersebut tidak serta merta meningkatkan penerimaan negara bukan pajak dari sektor perikanan.
Hal ini tercermin dari angka PNBP dari sektor perikanan yang mengalami penurunan pada tahun 2015 sebelum akhirnya pulih dan meningkat pada tahun 2015.
Retribusi sumber daya perikanan terhadap kapal yang berbobot sampai dengan 30 GT dan/atau bermesin kurang dari 90 hp dan beroperasi di wilayah provinsi dan/atau kabupaten/kota (secara bersama-sama disebut pemerintah daerah) diatur oleh pemerintah daerah yang bersangkutan. . . Ketentuan mengenai dasar pemungutan, kriteria, sifat dan besarnya pajak yang dipungut sebagaimana dimaksud pada ayat pertama diatur dengan atau dengan peraturan Menteri Keuangan. Pengepul adalah badan usaha atau eksportir yang bergerak di bidang kehutanan, perkebunan, pertanian, dan/atau perikanan.
Perusahaan perikanan berdalih PBB yang berlaku pada sektor perikanan adalah pemberlakuan pajak berganda, karena sudah ada pungutan hasil perikanan (PHP) berdasarkan Pasal 48 UU No.
Konteks Historis
Menurut Mahkamah Konstitusi, PBB di bidang perikanan berkaitan dengan penggunaan lahan berupa wilayah laut atau wilayah penangkapan ikan yang tercantum dalam Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI), sedangkan pungutan di bidang perikanan berkaitan dengan pemanfaatan sumber daya ikan. . Tarif PBB yang dikenakan pada Objek Kena Pajak (tanah dan/atau bangunan) sebesar 0,5% dari Nilai Jual Kena Pajak (TTV). Dasar penghitungan NJKP ditetapkan minimal 20% dan maksimal 100% dari Nilai Jual Objek Pajak (NJOP).
Pertambahan Nilai Barang dan Jasa serta Pajak Perputaran Barang Mewah, hasil ikan segar tidak dikenakan PPN lagi mulai tanggal 1 April 2010, hasil ikan segar tidak dikenakan PPN lagi.