KETAATAN PENGOBATAN DAN BUNUH DIRI PADA
SKIZOFRENIA
dr. Gusri Girsang, M.Ked, Sp.K.J Dinas Kesehatan Kab. Batu Bara
2021
1
Pendahuluan
Skizofrenia merupakan gangguan mental serius yang mengganggu.
Merupakan penyakit kronik.
Pengobatan yang tersedia saat ini adalah antipsikotik tipikal dan atipikal.
Antipsikotik atipikal lebih disukai dari profil efek samping (EPS)-nya.
Ada 2 masalah yang sering dijumpai pada pasien skizofrenia:
1. Ketaatan terhadap pengobatan.
2. Gejala bunuh diri.
Ketaatan Pengobatan
Hanya 57% pasien skizofrenia yang taat terhadap pengobatan dengan antipsikotik atipikal selama 6 bulan.
Sepertiga dari pasien skizofrenia yang berobat tidak taat terhadap pengobatan setiap tahunnya.
Beberapa penyebab ketidaktaatan:
1. Kurangnya tilikan.
2. Kepercayaan terhadap pengobatan.
3. Penyalahgunaan zat.
3
Ketaatan Pengobatan
Akibat dari ketidaktaatan:
1. Relapse.
2. Rawat inap kembali.
3. Bunuh diri.
Ketaatan Pengobatan
Faktor-faktor yang berkaitan dengan ketaatan:
1. Hubungan yang baik dengan dokter.
2. Persepsi pasien tentang obat yang diminumnya.
5
Ketaatan Pengobatan
Strategi untuk meningkatkan ketaatan pasien:
1. Berbagi keputusan secara bersama (dokter- pasien).
2. Penilaian teratur terhadap kepatuhan pengobatan.
3. Menyederhanakan sediaan obat.
4. Memastikan pengobatan efektif dan efek samping terkendali.
5. Hubungan terapeutik yang positif dan komunikasi yang baik (dokter-pasien).
Ketaatan Pengobatan
Salah satu cara untuk meningkatkan ketaatan pasien terhadap pengobatan adalah antipsikotik long acting injectable (LAI).
Ada 2 jenis LAI:
1. Tipikal antipsikotik LAI.
2. Atipikal antipsikotik LAI.
Salah satu tipikal antipsikotik adalah Fluphenazine LAI.
7
Ketaatan Pengobatan
Risiko tahunan untuk pasien masuk kembali setelah menggunakan fluphenazine LAI dan haloperidol LAI adalah 21 % & 35 %.
Penurunan angka rehospitalisasi 74 % pada pasien yang menggunakan fluphenazine LAI, Perphenazine 59 %, dan risperidone LAI 27 %.
Fluphenazine LAI memiliki nilai 67 % dan risperidone LAI 5,2 % untuk pemakaian antikolinergik.
Ketaatan Pengobatan
Ketaatan Pengobatan
Bunuh Diri
Risiko bunuh diri pada pasien skizofrenia 50
%.
Berhasil bunuh diri 9-13 %.
Faktor risiko :
1. Laki-laki < 30 tahun.
2. Memiliki IQ tinggi.
3. Banyak memperoleh penghargaan saat remaja dan dewasa muda.
4. Menderita skizofrenia sebagai suatu hal yang menyakitkan.
11
Bunuh Diri
Beberapa faktor risiko lainnya:
1.Merasa tidak berdaya.
2.Isolasi sosial.
3.Rawat inap.
4.Stresor keluarga.
5.Hilangnya kepercayaan terhadap pengobatan.
Bunuh Diri
Pencegahan:
1. Penatalaksanaan simtom depresif
secara aktif.
2. Meningkatkan ketaatan terhadap
pengobatan.
3.Pertahankan kewaspadaan terhadap
pasien yang sudah memiliki faktor
risiko. 13
Bunuh Diri
Karakteristik depresi pada skizofrenia:
1. Merasa tidak berdaya.
2. Kurang percaya diri.
3. Perasaan inkompeten.
Bunuh Diri
Meltzer et al (2003) membandingkan clozapine (n=479) dan olanzapine (n=473) sebagai pengobatan perilaku bunuh diri pada skizofrenia
clozapine lebih baik : untukmengobati perilaku bunuh diri, lebih sedikit pasien berusaha bunuh diri, lebih sedikit rawat inap, atau memerlukan terapi antidepresan tambahan atau ansiolitik.
Efek samping yang dijumpai: hipersekresi saliva, somnolen, BB meningkat, dan hoyong.
5,8% mengalami penurunan sel darah putih.
15KESIMPULAN
Skizofrenia merupakan gangguan mental serius, kronik dan mengakibatkan penderitaan bagi pasien.
Ketaatan pengobatan dan bunuh diri merupakan dua masalah yang sering dijumpai pada pasien skizofrenia.
Pemakaian antipsikotik LAI contohnya fluphenazine LAI bisa meningkatkan ketaatan pengobatan pada pasien.
Gejala-gejala merasa tidak berdaya, tidak kompeten, tidak percaya diri harus diwaspadai sebagai perilaku yang mengarah ke bunuh diri pada pasien.
Clozapine bisa digunakan utnuk mengobati perilaku bunuh diri pada pasien skiofrenia.
17