INTERAKSI OBAT ANTIPSIKOTIK PADA PENGOBATAN
PASIEN SKIZOFRENIA RAWAT JALAN
DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
SKRIPSI
OLEH:
DINI PERMATA SARI
NIM 111501126
PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
INTERAKSI OBAT ANTIPSIKOTIK PADA PENGOBATAN
PASIEN SKIZOFRENIA RAWAT JALAN
DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara
OLEH:
DINI PERMATA SARI
NIM 111501126
PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
PENGESAHAN SKRIPSI
INTERAKSI OBAT ANTIPSIKOTIK PADA PENGOBATAN
PASIEN SKIZOFRENIA RAWAT JALAN
DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
OLEH:DINI PERMATA SARI NIM 111501126
Dipertahankan di Hadapan Panitia Penguji Skripsi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara
Pada Tanggal : 3 Agustus 2015
Disetujui Oleh:
Pembimbing I, Panitia Penguji:
Prof. Dr. Urip Harahap., Apt. Prof. Dr. Rosidah, M.Si., Apt.
NIP 195301011983031004 NIP 195103261978022001
Prof. Dr. Urip Harahap., Apt.
Pembimbing II, NIP 195301011983031004
Dra. Nurminda Silalahi, M.Si., Apt Dra. Azizah Nasution, M.Sc., Ph.D., Apt. NIP 196206101992032001 NIP 195503121983032001
Marianne, S.Si., M.Si., Apt. NIP 198005202005012006
Medan, Agustus 2015 Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara Wakil Dekan I,
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan karunia yang berlimpah sehingga penulis dapat menyelesaikan penyususnan skripsi yang
berjudul Interaksi Obat Antipsikotik pada Pengobatan Pasien Skizofrenia Rawat Jalan di RSUP H. Adam Malik Medan. Skripsi ini diajukan untuk melengkapi
salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi Universitas Sumatera Utara.
Pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Prof. Dr. Julia Reveny, M.Si., Apt., selaku Wakil Dekan I Fakultas Farmasi yang telah menyediakan fasilitas
kepada penulis selama berkuliah di Fakultas Farmasi. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Urip Harahap., Apt., dan Ibu Dra. Nurminda Silalahi, M.Si., Apt., yang telah membimbing penulis dengan penuh kesabaran
dan tanggung jawab, memberikan petunjuk dan saran selama penelitian hingga selesainya skripsi ini. Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada Ibu Dr.
Purnawati, MARS., selaku direktur SDM dan Pendidikan RSUP H. Adam Malik Medan yang telah meberikan izin melaksanakan penelitian di rumah sakit tersebut, kepada Ibu Prof. Dr. Rosidah, M.Si., Apt., selaku ketua penguji, Ibu Dra.
Azizah Nasution, M.Sc., Ph.D., Apt., dan Ibu Marianne , S.Si., M.Si., Apt., selaku anggota penguji yang telah memberikan saran untuk penyempurnaan skripsi ini
Penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada keluarga
tercinta. Ayahanda H. Amri Syarkawi B.Ac., dan Ibunda Hj. Yenny Warti, S.Pd., serta abangku Akip Amri S.E., dan Adikku Dani Fadila, yang telah memberikan
semangat, doa, dan pengorbanan baik moril maupun materil dalam penyelesaian skripsi ini.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada para sahabat Pricella,
Kristanti, Dian, Asrika, Eka, Christica, Eka, Maria, Vicy, Nana, Yuni, dan Uci serta sahabat-sahabat seperjuangan lainnya yang tidak bisa penulis sebutkan satu
persatu yang telah memberikan semangat dan kasih sayang yang tak ternilai dengan apapun.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih belum sempurna.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini
bermanfaat bagi ilmu pengetahuan khususnya di bidang farmasi.
Medan, Agustus 2015
INTERAKSI OBAT ANTIPSIKOTIK PADA PENGOBATAN PASIEN SKIZOFRENIA RAWAT JALAN
DI RSUP H. ADAM MALIK
ABSTRAK
Obat antipsikotik telah menjadi terapi farmakologi utama untuk skizofrenia sejak tahun 1950-an. Pada pengobatan pasien skizofrenia obat antipsikotik biasanya dikombinasi dengan obat-obat lain seperti antikolinergik, dan antidepresan. Pemberian bersama obat-obatan lain dapat meningkatkan terjadinya interaksi obat yang boleh jadi merugikan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran potensi interaksi obat di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan.
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan metode retrospektif. Data interaksi obat diambil dari 88 rekam medis pasien skizofrenia rawat jalan selama bulan Agustus 2014 - Oktober 2014. Analisis data interaksi obat berpedoman dengan buku yang relevan (Drug Interaction Fact dan
Stockley’s Drugs Interaction). Selain itu juga digunakan situs internet terpecaya
Drugs.com dan Medscape.com.
Berdasarkan penelitian ditemukan dari 88 pasien skizofrenia rawat jalan yang berpotensi mengalami interaksi obat adalah sebanyak 74 pasien (85,09%). Golongan obat antipsikotik yang paling banyak diresepkan adalah clozapine (34,90%). Berdasarkan mekanisme interaksi, mekanisme interaksi farmakokinetik ditemukan sebanyak 23 kasus (10,85%), interaksi farmakodinamik 173 kasus (81,60%), dan interaksi unknown 16 kasus (7,55%). Berdasarkan tingkat keparahan, tingkat keparahan ringan ditemukan 3 kasus (1,42%), sedang 167 kasus (78,77%), dan berat 42 kasus (19,81%). Jenis interaksi obat yang memiliki insiden kejadian paling tinggi adalah clozapine dan trihexyphenidyl (28 kasus), olanzapine dan fluoxetine (20 kasus). Dengan menggunakan uji statistik Chi
Square Test ditemukan terdapat hubungan yang bermakna antara umur pasien dan
DRUG INTERACTION OF ANTIPSYCHOTIC IN THE TREATMENT OF SCHIZOPHRENIA OUTPATIENTS
AT RSUP H. ADAM MALIK
ABSTRACT
Antipsychotic drugs have become the primary pharmacological therapy for schizophrenia since the 1950. In the treatment of patients with schizophrenia antipsychotics are usually combined with other drugs like anticholinergic and antidepressant . Administration of other drugs together increase the possibility of drug interaction which may be detrimental to the patient . The present research was done to reveal the drug interaction problem in Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan.
It is a descriptive research that uses data collecting method retrospectively. The research resource is patient medical record. Data of drug interaction was retrieved from the medical records of 88 patiens schizophrenia outpatients during August 2014 - October 2014. Drugs interaction analysis is done by be based with relevant books (Drug Interaction Fact and Stockleys Drugs Interaction), it’s also use trusted internet sites Drugs.com and Medscape.com.
The result of this research showed that of 88 patients who potential experience drug interaction, 74 cases (85.09%). The most prescribe antipsychotic was clozapine (34.90%). There are 23 cases (10.85%) of phamacokinetics interaction, 173 cases (81.60%) of pharmacodynamic interaction and unknown mechanisms of interaction 16 cases (7.55%). Based on the severity, severity of minor 3 cases (1.42%), severity of moderate 167 cases (78.77%), and major 42 cases (19.81%). Drug interaction that have the highest incidence of occurrence is clozapine and trihexyphenidyl (28 cases), olanzapine and fluoxetine (20 cases). Using statistical analysis Chi Square it was revealed that there is significant correlation between age, the number of medication in one prescription with the number of drug interaction found.
DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
PENGESAHAN SKRIPSI ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
ABSTRAK ... vi
ABSTRACT ... vii
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Kerangka Pikir Penelitian ... 4
1.3 Perumusan Masalah ... 5
1.4 Hipotesis ... 5
1.5 Tujuan Penelitian ... 5
1.6 Manfaat Penelitian ... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 7
2.1 Interaksi Obat ... 7
2.1.1 Mekanisme Interaksi Obat ... 7
2.1.2 Tingkat Keparahan Interaksi Obat ... 12
2.2.1 Definisi Skizofrenia ... 13
2.2.2 Epidemiologi Skizofrenia ... 14
2.2.3 Etiologi Skizofrenia ... 14
2.2.4 Patofisiologi Skizofrenia ... 16
2.2.5 Perjalanan Penyakit ... 17
2.2.6 Tipe - tipe Skizofrenia ... 18
2.2.7 Penatalaksanaan Skizofrenia ... 19
2.3 Rekam Medis ... 21
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 23
3.1 Jenis Penelitian ... 23
3.2. Populasi dan Sampel ... 23
3.2.1 Populasi ... 23
3.2.2 Sampel ... 24
3.3 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 25
3.3.1 Lokasi Penelitian ... 25
3.3.2 Waktu Penelitian ... 25
3.4 Defenisi Operasional ... 25
3.5 Instrumen Penelitian ... 26
3.5.1 Sumber Data ... 26
3.5.2 Teknik Pengumpulan Data ... 26
3.5.3 Analisis Data ... 26
3.6 Bagan Alur Penelitian ... 27
3.7 Langkah Penelitian ... 28
4.1 Karakteristik Umum Subjek Penelitian ... 29
4.2 Gambaran Potensi Interaksi Obat Antipsikotik Subjek Penelitian ... 31
4.3 Gambaran Kejadian Potensi Interaksi Obat Antipsikotik Subjek Penelitian ... 32
4.4 Pola Penggunaan Obat Antipsikotik Subjek Penelitian ... 33
4.5 Jumlah Obat Antipsikotik yang Mengalami Potensi Interaksi Obat ... 35
4.6 Jenis Mekanisme Interaksi Obat Antipsikotik Subjek Penelitian ... 38
4.7 Tingkat Keparahan Potensi Interaksi Obat Antipsikotik pada Subjek Penelitian ... 39
4.8 Analisis Bivariat ... 41
4.8.1 Faktor Jenis Kelamin ... 41
4.8.2 Faktor Usia ... 42
4.8.3 Faktor Jumlah Obat ... 44
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 46
5.1 Kesimpulan ... 46
5.2 Saran ... 47
DAFTAR PUSTAKA ... 48
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
4.1 Karakteristik subjek penelitian ... 29
4.2 Gambaran potensi interaksi obat antipikotik subjek penelitian ... 31
4.3 Jenis kejadian potensi interaksi obat antipsikotik subjek penelitian ... 33
4.4 Jumlah obat antipsikotik yang mengalami potensi interaksi ... 36
4.5 Jenis mekanisme interaksi obat antipsikotik subjek penelitian ... 38
4.6 Tingkat keparahan interaksi obat antipsikotik subjek penelitian ... 39
4.7 Kejadian potensi interaksi obat berdasarkan jenis kelamin pasien subjek penelitian ... .. 41
4.8 Kejadian potensi interaksi obat berdasarkan usia subjek penelitian ... 42
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1.1 Skema hubungan variabel bebas dan variabel terikat ... 4
3.1 Gambaran pelaksanaan penelitian ... 27
4.1 Diagram jenis mekanisme intraksi ... 38
4.2 Diagram tingkat keparahan interaksi obat ... 40
4.3 Diagram kejadian interaksi obat berdasarkan jenis kelamin ... 42
4.4 Diagram kejadian interaksi obat berdasarkan usia ... 43
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1. Hasil analisis bivariat beberapa variabel bebas terhadap kejadian potensi interaksi obat dengan m enggunakan uji Chi-Square pada program SPSS Advanced Statistics 17 ... 51
2. Data potensi interaksi obat antipsikotik pada pasien skizofrenia rawat jalan di RSUP H. Adam malik periode Agustus 2014 - Oktober 2014 ... 55
3. Kejadian potensi interaksi obat pasien skizofrenia rawat jalan di RSUP H. Adam Malik periode Agustus 2014 – Oktober 2014 ... 66
4. Surat permohonan izin penelitian di RSUP H. Adam Malik ... 78
5. Surat izin melakukan penelitian di RSUP H. Adam Malik ... 79
6. Surat keterangan telah selesai melakukan penelitian
INTERAKSI OBAT ANTIPSIKOTIK PADA PENGOBATAN PASIEN SKIZOFRENIA RAWAT JALAN
DI RSUP H. ADAM MALIK
ABSTRAK
Obat antipsikotik telah menjadi terapi farmakologi utama untuk skizofrenia sejak tahun 1950-an. Pada pengobatan pasien skizofrenia obat antipsikotik biasanya dikombinasi dengan obat-obat lain seperti antikolinergik, dan antidepresan. Pemberian bersama obat-obatan lain dapat meningkatkan terjadinya interaksi obat yang boleh jadi merugikan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran potensi interaksi obat di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan.
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan metode retrospektif. Data interaksi obat diambil dari 88 rekam medis pasien skizofrenia rawat jalan selama bulan Agustus 2014 - Oktober 2014. Analisis data interaksi obat berpedoman dengan buku yang relevan (Drug Interaction Fact dan
Stockley’s Drugs Interaction). Selain itu juga digunakan situs internet terpecaya
Drugs.com dan Medscape.com.
Berdasarkan penelitian ditemukan dari 88 pasien skizofrenia rawat jalan yang berpotensi mengalami interaksi obat adalah sebanyak 74 pasien (85,09%). Golongan obat antipsikotik yang paling banyak diresepkan adalah clozapine (34,90%). Berdasarkan mekanisme interaksi, mekanisme interaksi farmakokinetik ditemukan sebanyak 23 kasus (10,85%), interaksi farmakodinamik 173 kasus (81,60%), dan interaksi unknown 16 kasus (7,55%). Berdasarkan tingkat keparahan, tingkat keparahan ringan ditemukan 3 kasus (1,42%), sedang 167 kasus (78,77%), dan berat 42 kasus (19,81%). Jenis interaksi obat yang memiliki insiden kejadian paling tinggi adalah clozapine dan trihexyphenidyl (28 kasus), olanzapine dan fluoxetine (20 kasus). Dengan menggunakan uji statistik Chi
Square Test ditemukan terdapat hubungan yang bermakna antara umur pasien dan
DRUG INTERACTION OF ANTIPSYCHOTIC IN THE TREATMENT OF SCHIZOPHRENIA OUTPATIENTS
AT RSUP H. ADAM MALIK
ABSTRACT
Antipsychotic drugs have become the primary pharmacological therapy for schizophrenia since the 1950. In the treatment of patients with schizophrenia antipsychotics are usually combined with other drugs like anticholinergic and antidepressant . Administration of other drugs together increase the possibility of drug interaction which may be detrimental to the patient . The present research was done to reveal the drug interaction problem in Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan.
It is a descriptive research that uses data collecting method retrospectively. The research resource is patient medical record. Data of drug interaction was retrieved from the medical records of 88 patiens schizophrenia outpatients during August 2014 - October 2014. Drugs interaction analysis is done by be based with relevant books (Drug Interaction Fact and Stockleys Drugs Interaction), it’s also use trusted internet sites Drugs.com and Medscape.com.
The result of this research showed that of 88 patients who potential experience drug interaction, 74 cases (85.09%). The most prescribe antipsychotic was clozapine (34.90%). There are 23 cases (10.85%) of phamacokinetics interaction, 173 cases (81.60%) of pharmacodynamic interaction and unknown mechanisms of interaction 16 cases (7.55%). Based on the severity, severity of minor 3 cases (1.42%), severity of moderate 167 cases (78.77%), and major 42 cases (19.81%). Drug interaction that have the highest incidence of occurrence is clozapine and trihexyphenidyl (28 cases), olanzapine and fluoxetine (20 cases). Using statistical analysis Chi Square it was revealed that there is significant correlation between age, the number of medication in one prescription with the number of drug interaction found.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Gangguan jiwa merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Gangguan jiwa dapat menyerang semua usia. Sifat serangan penyakit biasanya akut tetapi juga bisa kronis atau menahun. Di masyarakat ada stigma
bahwa gangguan jiwa merupakan penyakit yang sulit disembuhkan, memalukan, dan aib bagi keluarga. Pandangan lain yang beredar di masyarakat bahwa
gangguan jiwa disebabkan oleh guna-guna orang lain. Ada kepercayaan di masyarakat bahwa gangguan jiwa timbul karena musuh roh nenek moyang masuk ke dalam tubuh seseorang kemudian menguasainya (Hawari, 2003).
Seiring dengan perkembangan zaman, penyakit ganguan jiwa atau mental merupakan masalah yang serius karena cukup banyak penderitanya. Salah satu
dari penyakit gangguan mental adalah skizofrenia. Skizofrenia merupakan bentuk psikosis fungsional paling berat, dan menimbulkan disorganisasi personalitas yang terbesar. Dalam kasus berat, pasien tidak mempunyai kontak dengan realitas,
sehingga pemikiran dan perilakunya abnormal. Perjalanan penyakit ini secara bertahap akan menuju kearah kronisitas (Ingram, dkk., 1995).
Skizofrenia merupakan salah satu gangguan kesehatan jiwa yang menjadi perhatian, dan dikategorikan dalam gangguan psikis yang paling serius karena menyebabkan penurunan fungsi manusia dalam melaksanakan aktivitas kehidupan
seseorang. Skizofrenia mempunyai prevalensi sebesar 1% dari populasi di dunia
(rata-rata 0,85%) dengan angka insiden skizofrenia adalah 1 per 10.000 orang pertahun. Riset kesehatan dasar tahun 2007 melaporkan angka kejadian
skizofrenia di Indonesia adalah 4,6 per 1000 penduduk, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 1-3 per 1000 penduduk (Depakes RI, 2010).
Prevalensi skizofrenia hampir mirip pada satu negara dengan negara lain.
Biasanya terjadi pada akhir remaja atau awal dewasa, jarang terjadi sebelum remaja atau setelah umur 40 tahun. Angka kejadian pada wanita sama dengan
pria, namun perjalanan penyakit pada pria lebih awal dengan lebih banyak gangguan kognitif dan outcome yang lebih jelas daripada wanita (Sadock dan Sadock, 2007).
Skizofrenia cenderung berlanjut atau kronis, oleh karena itu terapi obat antipsikotik diberikan dalam jangka waktu relatif lama, berbulan-bulan bahkan
bertahun-tahun. Obat antipsikotik telah menjadi terapi farmakologi utama untuk skizofrenia sejak 1950-an. Antipsikotik dapat digunakan untuk mengatasi skizofrenia dengan gejala halusinasi, delusi, dan untuk pencegahan kekambuhan.
(Weinberger dan Harisson, 2011).
Obat-obat antipsikotik memiliki efek samping yang beragam dan sering kali mengakibatkan pasien skizofrenia tidak patuh menjalani terapi. Efek samping
utama yang perlu menjadi perhatian adalah efek samping ekstrapiramidal, terutama karena penggunaan antipsikotik generasi lama, berupa distonia akut,
ekstrapiramidal, efek samping lain adalah sedasi, sindrom neuroleptik malignant,
gangguan kardiovaskular, efek antikolinergik dan antiadrenergik, gangguan metabolisme, kenaikan berat badan, serta disfungsi seksual (Dipiro, dkk., 2009).
Pasien penderita skizofrenia perlu penanganan khusus. Perlu terapi yang cukup lama untuk mengembalikan pasien seperti sediakala. Tingkat ringan atau beratnya gangguan dapat dilihat dari jenis penggunaan obat yang diberikan. Pada
kondisi tertentu obat antipsikotik harus dikombinasikan dengan obat lain untuk mengurangi efek samping antipsikotik sehingga meningkatakan pengobatan.
Pemberian obat antipsikotik bersama obat lain bisa mempengaruhi efek kerja ataupun interaksi (Cristoph, dkk., 2009).
Interaksi bisa terjadi ketika efek suatu obat diubah oleh kehadiran obat
lain, obat herbal, makanan, minuman, atau agen kimia lainnya dalam lingkungan. Definisi yang lebih relevan adalah ketika obat bersaing satu dengan yang lainnya,
atau terjadi ketika satu obat hadir bersama dengan obat yang lainnya. Interaksi obat didefinisikan sebagai modifikasi efek suatu obat yang diakibatkan oleh obat lainnya sehingga keefektifan atau toksisitas suatu obat meningkat. Risiko
interaksi obat akan meningkat seiring dengan peningkatan jumlah obat yang digunakan oleh individu (Stockley, 2008).
Berdasarkan hal-hal yang diuraikan di atas, maka peneliti tertarik
melakukan penelitian mengenai interaksi obat antipsikotik pada pasien skizofrenia rawat jalan di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik periode Agustus 2014
1.2Kerangka Pikir Penelitian
Penelitian ini mengkaji tentang frekuensi kejadian interaksi obat antipsikotik pada pasien skizofrenia rawat jalan di Rumah Sakit Umum Pusat H.
Adam Malik. Variabel bebas (independent variable) pada peneitian ini adalah karakteristik pasien (usia dan jenis kelamin) dan karakteristik obat (jumlah obat yang diterima pasien). Variabel terikat (dependent variable) dalam penelitian ini
adalah interaksi obat antipsikotik. Hubungan kedua variabel tersebut digambarkan dalam kerangka pikir penelitian seperti ditunjukkan pada Gambar 1.1.
Variabel Bebas Variabel Terikat
Gambar 1.1 Skema hubungan variabel bebas dan variabel terikat
1.3 Perumusan Masalah
Berdasarkan penjelasan di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. apakah kejadian potensi interaksi obat antipsikotik-obat di RSUP H. Adam Malik tinggi ?
b. apa saja jenis obat yang berinteraksi dengan obat antipsikotik di RSUP H.
Adam Malik ?
c. apa saja tingkat keparahan yang timbul akibat interaksi yang terjadi ?
1.3Hipotesis
Berdasarkan penjelasan di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. kejadian potensi interaksi obat antipsikotik-obat di RSUP H. Adam Malik
adalah tinggi.
b. jenis obat yang berinteraksi dengan obat antipsikotik adalah beragam.
c. tingkat keparahan yang timbul akibat interaksi yang terjadi meliputi ringan, sedang, berat.
1.4Tujuan Penelitian
Berdasarkan penjelasan di atas, maka tujuan dalam penelitian ini adalah
untuk:
a. mengetahui kejadian potensi interaksi obat antipsikotik di RSUP H. Adam
Malik.
c. mengetahui mekanisme, jenis obat dan tingkat keparahan interaksi obat
antipsikotik-obat yang terjadi di RSUP H. Adam Malik.
1.5Manfaat Penelitian
Berdasarkan penjelasan di atas, manfaat dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
a. sebagai bahan kajian bagi pemerintah daerah, khususnya profesional kesehatan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.
b. sebagai informasi terkait frekuensi kejadian interaksi obat antipsikotik-obat, jenis obat yang berinteraksi dengan obat antipsikotik dan tingkat keparahan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Interaksi Obat
Interaksi obat merupakan satu dari delapan kategori masalah terkait obat (drug related problem) yang diidentifikasi sebagai kejadian atau keadaan terapi
obat yang dapat mempengaruhi outcome klinis pasien. Suatu interaksi obat terjadi ketika farmakokinetika atau farmakodinamika obat dalam tubuh diubah oleh
kehadiran satu atau lebih zat lain (Piscitelli dan Rodvolk, 2005).
Perubahan efek itu bisa juga disebabkan oleh kehadiran obat lain, obat herbal, makanan, minuman atau agen kimia lainnya dalam lingkungannya.
Definisi yang lebih relevan terkait dengan pasien adalah ketika satu obat bersaing satu dengan yang lain (Stockley, 2008).
Interaksi obat dianggap penting secara klinis jika meningkatkan toksisitas dan atau mengurangi efektivitas obat yang berinteraksi terutama bila menyangkut obat dengan batas keamanan yang sempit (indeks terapi yang sempit), misalnya
glikosida jantung, antikoagulan, dan obat-obat sitostatika (Setiawati, 2007).
2.1.1 Mekanisme Interaksi Obat
Secara umum, ada dua mekanisme interaksi obat:
1. interaksi farmakokinetik
Interaksi farmakokinetik terjadi ketika suatu obat mempengaruhi absorpsi,
Interaksi farmakokinetik terdiri dari beberapa tipe :
i. interaksi pada absorpsi obat
a. efek perubahan pH gastrointestinal
Obat melintasi membran mukosa dengan difusi pasif tergantung pada apakah obat terdapat dalam bentuk terlarut lemak yang tidak terionkan. Absorpsi ditentukan oleh nilai pKa obat, kelarutannya dalam lemak, pH isi usus dan
sejumlah parameter yang terkait dengan formulasi obat (Stockley, 2008). b. khelasi, dan mekanisme pembentukan kompleks
Arang aktif dimaksudkan bertindak sebagai agen penyerap di dalam usus untuk pengobatan overdosis obat atau untuk menghilangkan bahan beracun lainnya, tetapi dapat mempengaruhi penyerapan obat yang diberikan dalam dosis
terapetik. Antasida juga dapat menyerap sejumlah besar obat-obatan. (Stockley, 2008).
c. perubahan motilitas gastrointestinal
Sebagaian besar obat diserap di bagian atas usus kecil, oleh karena itu obat-obat yang mengubah laju pengosongan lambung dapat mempengaruhi
absorpsi (Stockley, 2008).
d. induksi atau inhibisi protein transporter obat
Ketersediaan hayati beberapa obat dibatasi oleh aksi protein transporter
obat. Saat ini, transporter obat yang khas adalah P-glikoprotein (Stockley, 2008). e. malabsorpsi dikarenakan obat
ii. Interaksi pada distribusi obat
a. interaksi ikatan protein
Setelah absorpsi, obat dengan cepat didistribusikan ke seluruh tubuh oleh
sirkulasi. Beberapa obat secara total terlarut dalam cairan plasma, banyak yang lainnya diangkut oleh beberapa proporsi molekul dalam larutan dan sisanya terikat dengan protein plasma, terutama albumin. Ikatan obat dengan protein plasma
bersifat reversibel, kesetimbangan dibentuk antara molekul-molekul yang terikat dan yang tidak. Hanya molekul yang tidak terikat yang tetap bebas dan aktif
secara farmakologi (Stockley, 2008).
iii.interaksi pada metabolisme obat
a. perubahan pada metabolisme fase pertama
Beberapa obat dikeluarkan dari tubuh dalam bentuk tidak berubah dalam
urin, tetapi ada juga diantaranya secara kimia diubah menjadi senyawa lipid kurang larut, sehingga lebih mudah diekskresikan oleh ginjal. Jika tidak demikian, banyak obat yang akan bertahan dalam tubuh dan terus memberikan efeknya
untuk waktu yang lama. Perubahan kimia ini disebut metabolisme, biotransformasi, degradasi biokimia, atau kadang-kadang detoksifikasi. Beberapa
metabolisme obat terjadi di dalam serum, ginjal, kulit dan usus, tetapi proporsi terbesar dilakukan oleh enzim yang ditemukan di membran retikulum endoplasma sel-sel hati. Ada dua jenis reaksi utama metabolisme obat. Pertama, reaksi tahap I
(melibatkan oksidasi, reduksi atau hidrolisis) obat-obatan berubah menjadi senyawa yang lebih polar. Sedangkan, reaksi tahap II melibatkan terikatnya obat
b.induksi enzim
Keterlibatan enzim tertentu dapat meningkatkan laju metabolisme obat di dalam tubuh, sehingga obat lebih cepat di metabolism di dalam tubuh (Stockley,
2008).
c. inhibisi enzim
Inhibisi enzim menyebabkan berkurangnya metabolisme obat, sehingga
obat terakumulasi di dalam tubuh. Berbeda dengan induksi enzim, yang mungkin memerlukan waktu beberapa hari atau bahkan minggu untuk mensintesis
sepenuhnya, inhibisi enzim dapat terjadi dalam waktu dua sampai tiga hari, sehingga terjadi perkembangan toksisitas yang cepat. Jalur metabolisme yang paling sering dihambat adalah fase I oksidasi oleh isoenzim sitokrom P450.
Signifikansi klinis dari banyak interaksi inhibisi enzim tergantung pada sejauh mana tingkat kenaikan serum obat. Jika serum tetap berada dalam kisaran
terapeutik interaksi tidak penting secara klinis (Stockley, 2008). d. faktor genetik dalam metabolisme obat
Peningkatan pemahaman genetika telah menunjukkan bahwa beberapa
isoenzim sitokrom P450 memiliki polimorfisme genetik, yang berarti bahwa beberapa dari populasi memiliki varian isoenzim yang berbeda aktivitasnya. Contoh yang paling terkenal adalah CYP2D6, yang sebagian kecil populasi
memiliki varian aktivitas rendah dan dikenal sebagai metabolisme lambat. Sebagian lainnya memiliki isoenzim cepat atau metabolisme ekstensif.
iv. interaksi pada ekskresi obat
a. perubahan pH urin
Pada nilai pH tinggi (basa), obat yang bersifat asam lemah (pKa 3-7,5)
sebagian besar terdapat sebagai molekul terionisasi larut lipid, yang tidak dapat berdifusi ke dalam sel tubulus, sehingga akan tetap dalam urin dan dikeluarkan dari tubuh. Sebaliknya, basa lemah dengan nilai pKa 7,5 sampai 10,5. Dengan
demikian, perubahan pH yang meningkatkan jumlah obat dalam bentuk terionisasi, meningkatkan hilangnya obat (Stockley, 2008).
b. perubahan ekskresi aktif tubular renal
Obat yang menggunakan sistem transportasi aktif yang sama di tubulus ginjal dapat bersaing satu sama lain untuk diekskresikan. Sebagai contoh,
probenesid dapat mengurangi ekskresi penisilin dan obat lain. Dengan meningkatnya pemahaman terhadap protein transporter obat pada ginjal, sekarang
diketahui bahwa probenesid menghambat sekresi banyak obat anionik lain di ginjal melalui transporter anion organik (Stockley, 2008).
c. perubahan suplai darah renal
Suplai darah ke ginjal dikendalikan oleh vasodilator prostaglandin ginjal. Jika sintesis prostaglandin dihambat, maka ekskresi beberapa obat melalui ginjal dapat berkurang (Stockley, 2008).
2. interaksi farmakodinamik
Interaksi farmakodinamik adalah interaksi yang terjadi antara obat yang
diprediksi dari pengetahuan tentang farmakologi obat-obat yang berinteraksi
(Stockley, 2008).
a. interaksi aditif atau sinergis
Jika dua obat memiliki efek farmakologis yang sama diberikan bersamaan maka efeknya bisa bersifat aditif. Sebagai contoh, alkohol menekan SSP, jika diberikan bersama ansiolitik, dan hipnotik dapat menyebabkan mengantuk
berlebihan. Kadang-kadang efek aditif menyebabkan toksik (misalnya aditif ototoksisitas, nefrotoksisitas, depresi sumsum tulang dan perpanjangan interval
QT) (Stockley, 2008).
b. interaksi antagonis atau berlawanan
Berbeda dengan interaksi aditif, ada beberapa pasang obat dengan kegiatan
yang bertentangan satu sama lain. Misalnya kumarin dapat memperpanjang waktu pembekuan darah yang secara kompetitif menghambat efek vitamin K. Jika
asupan vitamin K bertambah, efek dari antikoagulan oral dihambat dan waktu protrombin dapat kembali normal, sehingga menggagalkan manfaat terapi pengobatan antikoagulan (Stockley, 2008).
2.1.2 Tingkat Keparahan Interaksi Obat
Keparahan interaksi diberi tingkatan dan dapat diklasifikasikan ke dalam tiga level yaitu ringan, sedang, atau berat.
a. keparahan ringan
Interaksi dikatakan keparahan ringan jika interaksi yang terjadi
b. keparahan sedang
Interaksi dikatakan keparahan sedang jika satu dari bahaya potensial mungkin terjadi pada pasien, dan beberapa tipe intervensi/monitor sering
diperlukan. Efek interaksi sedang mungkin menyebabkan perubahan status klinis pasien, menyebabkan perawatan tambahan, perawatan di rumah sakit dan atau perpanjangan lama tinggal di rumah sakit (Bailie, dkk., 2004).
c. keparahan berat
Interaksi dikatakan keparahan berat jika terdapat probabilitas yang tinggi
kejadian yang membahayakan pasien termasuk kejadian yang menyangkut nyawa pasien dan terjadinya kerusakan permanen (Piscitelli dan Rodvolk, 2005).
2.2 Konsep Skizofrenia
2.2.1 Definisi Skizofrenia
Skizofrenia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu
gangguan psikiatrik mayor yang ditandai dengan adanya perubahan pada persepsi, pikiran, afek, dan perilaku seseorang. Kesadaran yang jernih dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun defisit kognitif tertentu dapat
berkembang kemudian (Sadock dan Sadock, 2007).
Gejala skizofrenia secara garis besar dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu gejala positif dan gejala negatif. Gejala positif berupa delusi, halusinasi,
kekacauan pikiran, gaduh gelisah dan perilaku aneh atau bermusuhan. Gejala negatif adalah alam perasaan (afek) tumpul atau mendatar, menarik diri atau
isolasi diri dari pergaulan (pendiam, dan sulit diajak bicara), pasif, apatis atau acuh tak acuh, sulit berpikir abstrak dan kehilangan dorongan kehendak atau
2.2.2 Epidemiologi Skizofrenia
Skizofrenia dapat ditemukan pada semua kelompok masyarakat dan di berbagai daerah. Insiden dan tingkat prevalensi sepanjang hidup secara kasar
hampir sama di seluruh dunia. Gangguan ini mengenai hampir 1% populasi dewasa dan biasanya perjalanan penyakit pada usia remaja akhir atau awal masa dewasa. Pada laki-laki biasanya gangguan ini mulai pada usia lebih muda yaitu
16-25 tahun sedangkan pada perempuan lebih lambat yaitu sekitar 25-35 tahun. Insiden skizofrenia lebih tinggi pada laki-laki dari perempuan dan lebih besar di
daerah urban dibandingkan daerah rural. Skizofrenia cenderung menyebar di antara anggota keluarga sedarah (Sadock dan Sadock, 2007).
Pasien skizofrenia berisiko meningkatkan penyalahgunaan zat, terutama
ketergantungan nikotin. Hampir 90% pasien mengalami ketergantungan nikotin. Sekitar sebagian dari penderita skizofrenia merupakan penggunaan obat-obatan
secara berlebihan. Pasien skizofrenia juga berisiko untuk bunuh diri dan perilaku menyerang. Bunuh diri merupakan penyebab kematian pasien skizofrenia yang terbanyak, hampir 10% dari pasien skizofrenia yang melakukan bunuh diri
(Maramis, 2005).
2.2.3 Etiologi Skizofrenia
Arif (2006) menjelaskan bahwa skizofrenia tidak disebabkan oleh penyebab
tunggal, tetapi dari berbagai faktor yaitu: a. faktor-faktor genetik (keturunan)
keluarga telah menunjukkan bahwa semakin dekat relasi seseorang dengan klien
skizofrenia, maka besar risikonya untuk mengalami penyakit tersebut. b. biokimia (ketidak seimbangan kimiawi otak)
Beberapa bukti menunjukkan bahwa skizofrenia mungkin berasal dari ketidak seimbangan kimiawi otak yang disebut neurotransmiter, yaitu kimiawi otak yang memungkinkan neuron berkomunikasi satu sama lain. Beberapa ahli
mengatakan bahwa skizofrenia berasal dari aktivitas neurotransmitter dopamin. Beberapa neurotransmitter lain seperti serotonin dan norepinefrin tampaknya juga
berperan.
c. neuroanatomi (kelainan struktur otak)
Beberapa teknik pencitraan, seperti Magnetic Resonance Imaging (MRI)
telah membatu para ilmuwan menemukan abnormalitas struktural spesifik pada otak klien skizofrenia. Misalnya, klien skizofrenia yang kronis cenderung
memiliki ventrikel otak yang lebih besar. Mereka juga memiliki volume jaringan otak yang lebih sedikit dari pada orang normal. Klien skizofrenia menunjukkan aktivitas yang sangat rendah pada lobus frontalis otak. Ada juga kemungkinan
abnormalitas dibagian-bagian lain otak seperti di lobus temporalis, basal ganglia, talamus, hipokampus, dan superior temporal girus.
d. faktor psikologis dan sosial
Faktor psikososial meliputi adanya kerawanan herediter yang semakin lama semakin kuat, adanya trauma yang bersifat kejiwaan, adanya hubungan
mother kadang-kadang digunakan untuk mendeskripsikan tentang ibu yang
memiliki sifat dingin, dominan, dan penolak, yang diperkirakan menjadi penyebab skizofrenia pada anak-anaknya (Durand dan Barlow, 2007).
Keluarga pada masa kanak-kanak memegang peranan penting dalam pembentukan kepribadian. Orang tua terkadang terlalu mengekang anak dan tidak memberi kesempatan anak untuk berkembang, ada kalanya orangtua bertindak
terlalu sedikit dan tidak merangsang anak, atau tidak memberi bimbingan dan anjuran yang dibutuhkannya (Maramis, 2005).
2.2.4 Patofisiologi Skizofrenia
Patofisiologi skizofrenia dihubungkan dengan genetik dan lingkungan.
Faktor genetik dan lingkungan saling berhubungan dalam patofisiologi terjadinya skizofrenia. Neurotransmitter yang berperan dalam patofisiologinya adalah
dopamin, serotonin, glutamat, peptida ,dan norepinefrin (Kaplan, dkk., 1997). Pada pasien skizofrenia terjadi hiperaktivitas dopamin di nigrostriatal dan hipoaktivitas di mesolimbik dan mesokortik. Selain itu terjadi disfungsi glutamat
dan abnormalitas serotonin, konsentrasi serotonin meningkat. Hiperdopaminergik pada sistem mesolimbik berkaitan dengan gejala positif, dan hipodopaminergik
pada sistem mesokortis dan nigrostriatal bertanggungjawab terhadap gejala negatif dan gejala ekstrapiramidal (Kaplan, dkk., 1997) .
Jalur dopaminergik saraf :
a. jalur nigrostriatal bertanggung jawab terhadap fungsi gerakan, kontrol sistem ekstrapiramidal, gangguan pergerakan (parkinson).
c. jalur mesokortik bertanggung jawab terhadap kontrol kognitif, komunikasi
fungsi sosial, dan respon terhadap stress.
d. jalur tuberoinfendibularbertanggung jawab terhadap control regulasi pituitari
dan hipotalamus, mengatur pelepasan prolaktin (Setiawati, 2007).
2.2.5 Perjalanan Penyakit
Perjalanan penyakit skizofrenia dangat bervariasi pada tiap-tiap individu.
Perjalanan klinis skizofrenia berlangsung secara perlahan-lahan, meliputi beberapa fase yang dimulai dari keadaan premorbid, prodromal, fase aktif dan
keadaan residual (Sadock dan Sadock, 2007).
Pola gejala premorbid merupakan tanda pertama penyakit skizofrenia, walaupun gejala yang ada dikenali hanya secara retrospektif. Karakteristik gejala
skizofrenia yang dimulai pada masa remaja akhir atau permulaan masa dewasa akan diikuti dengan perkembangan gejala prodromal yang berlangsung beberapa
hari sampai beberapa bulan. Tanda dan gejala prodromal skizofrenia dapat berupa cemas, gundah (gelisah), merasa diteror atau depresi. Penelitian retrospektif terhadap pasien dengan skizofrenia menyatakan bahwa sebagian penderita
mengeluhkan gejala somatik, seperti nyeri kepala, nyeri punggung dan otot, kelemahan dan masalah pencernaan (Sadock dan Sadock, 2007).
Fase aktif skizofrenia ditandai dengan gangguan jiwa yang nyata secara
klinis, yaitu adanya kekacauan dalam pikiran, perasaan dan perilaku. Penilaian pasien skizofrenia terhadap realita terganggu dan pemahaman diri buruk sampai
2.2.6 Tipe-tipe Skizofrenia
Diagnosa Skizofrenia berawal dari Diagnostik and Statistical Manual of
Mental Disorders (DSM) yaitu: DSM-III (American Psychiatric Assosiation,
1980) dan berlanjut dalam DSM-IV (American Psychiatric Assosiation,1994) dan DSM-IV-TR (American Psychiatric Assosiation, 2006). Berikut ini adalah tipe skizofrenia dari DSM-IV-TR 2006 (APA, 2006).
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala yang dominan yaitu: a. tipe paranoid
Ciri utama skizofrenia tipe ini adalah waham yang mencolok atau halusinasi auditorik dalam konteks terdapatnya fungsi kognitif dan afektif yang relatif masih terjaga. Waham biasanya adalah waham kejar atau waham kebesaran, atau
keduanya, tetapi waham dengan tema lain (misalnya waham kecemburuan, keagamaan, atau kesulitan untuk berkomunikasi) mungkin juga muncul. Ciri-ciri
lainnya meliputi ansietas, kemarahan, menjaga jarak dan suka berargumentasi, dan agresif (APA, 2006).
b. tipe disorganized (tidak terorganisasi)
Ciri utama skizofrenia tipe disorganized adalah pembicaraan kacau, tingkah laku kacau dan afek yang datar atau inappropriate. Pembicaraan yang kacau dapat disertai kekonyolan dan tertawa yang tidak erat kaitannya dengan isi
pembicaraan. Disorganisasi tingkah laku dapat membawa pada gangguan yang serius pada berbagai aktivitas hidup sehari-hari (APA, 2006).
c. tipe katatonik
berlebihan, negativism yang ekstrim, sama sekali tidak mau bicara dan
berkomunikasi (mutism), gerakan-gerakan yang tidak terkendali, mengulang ucapan orang lain (echolalia) atau mengikuti tingkah laku orang lain (echopraxia)
(APA, 2006).
d. Tipe Undifferentiated
Tipe Undifferentiated merupakan tipe skizofrenia yang menampilkan
perubahan pola simptom-simptom yang cepat menyangkut semua indikator skizofrenia. Misalnya, indikasi yang sangat ruwet, kebingungan (confusion),
emosi yang tidak dapat dipegang karena berubah-ubah, adanya delusi, referensi yang berubah-ubah atau salah, adanya ketergugahan yang sangat besar, autisme seperti mimpi, depresi, dan sewaktu-waktu juga ada fase yang menunjukkan
ketakutan (APA, 2006). e. tipe residual
Tipe ini merupakan kategori yang dianggap telah terlepas dari skizofrenia tetapi masih memperlihatkan gejala-gejala residual atau sisa, seperti keyakinan negatif, atau mungkin masih memiliki ide-ide tidak wajar yang tidak sepenuhnya
delusional. Gejala-gejala residual itu dapat meliputi menarik diri secara sosial, pikiran-pikiran ganjil, inaktivitas, dan afek datar (APA, 2006).
2.2.7 Penatalaksanaan Skizofrenia
Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati skizofrenia disebut antipsikotik. Antipsikotik merupakan kelompok obat terbesar yang dipakai untuk
Antipsikotik atipikal juga meningkatkan keefektifan serotonin. Teorinya adalah
bahwa gejala-gejala psikotik diakibatkan oleh ketidakseimbangan
neurotramsmiter dopamin pada otak. Antipsikotik menghambat reseptor dopamin pada otak, sehingga memulihkan gejala-gejala psikotik (Kee dan Hayes, 1996).
Penggolongan antipsikotik dibagi dalam dua golongan besar, yakni
antipsikotik tipikal dan antipsikotik atipikal.
a. antipsikotik tipikal, disebut juga sebagai obat antipsikotik konvensional,
antipsikotik tipikal terutama efektif mengatasi simptom positif. Mekanisme kerjanya, antipsikotik tipikal bekerja dengan memblok reseptor dopamin di mesolimbik, mesokortik, nigostriatal dan tuberoinfundibular di pasca sinaptik
neuron di otak, sehingga dengan cepat menurunkan gejala positif . Walaupun sangat efektif, antipsikotik tipikal sering menimbulkan efek samping yang
serius. Efek samping yang ditimbulkan yaitu berupa gejala ekstrapiramidal. Contoh obat antipsikotik tipikal antara lain haloperidol, thioridazine, ,fluphenazine, chlorpromazine, dan trifluoperazine. Akibat berbagai efek
samping yang dapat ditimbulkan oleh antipsikotik konvensional, banyak ahli lebih merekomendasikan penggunaan antipsikotik atipikal. Tetapi ada
pengecualian, diantaranya pasien yang sudah mengalami perbaikan (kemajuan) yang pesat menggunakan antipsikotik konvensional tanpa efek samping yang berarti. Biasanya para ahli merekomendasikan untuk meneruskan pemakaian
antipsikotik konvensional (Kee dan Hayes, 1996).
a. Antipsikotik atipikal, atau bisa dikenal juga sebagai antipsikotik generasi
yang menyebabkan rendahnya efek ekstrapiramidal dan sangat efektif
mengatasi gejala negatif sekaligus mengatasi gejala positif. Satu teori bagaimana antipsikotik atipikal bekerja adalah teori "cepat-off". Antipsikotik
atipikal memiliki afinitas rendah untuk reseptor D2 dan hanya mengikat pada reseptor secara longgar dan cepat dilepaskan.Antipsikotik atipikal secara cepat mengikat dan memisahkan dirinya pada reseptor D2 untuk memungkinkan
transmisi dopamin normal. Mekanisme pengikat sementara ini membuat tingkat prolaktin normal, kognisi tidak terpengaruh, dan menyingkirkan efek
ekstrapiramidal. Obat-obat ini terdiri dari clozapine, olanzapine, quetiapine, risperidone. Pada saat ini antipsikotik atipikal lebih dipilih untuk pengobatan terhadap pasien skizofrenia karena efek sampingnya yang kecil dan
antipsikotik atipikal dapat mengobati gejala positif dan negatif (Kee dan Hayes, 1996).
2.3 Rekam Medis
Rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan, dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain kepada
pasien pada sarana pelayanan kesehatan, untuk itu rekam medis ini harus dijaga dan dipelihara dengan baik. Rekam medis untuk pasien yang rawat inap sekurang-kurangnya harus membuat data mengenai:
a. identitas pasien b. anamnesis c. riwayat penyakit
f. persetujuan tindakan medis (informed consent) g. tindakan / pengobatan
h. catatan perawat
i. catatan observasi klinis dan hasil pengobatan, dan j. resume akhir dan evaluasi pengobatan
Rekam medis pasien ini wajib diisi pada semua tindakan medis yang
diinstruksikan oleh dokter dan juga terhadap semua hasil observasi pada pasien selama dirawat, mengingat pentingnya arti rekam medis maka rekam medis ini
harus dibubuhi tanda tangan petugas yang memberikan pelayanan kesehatan. Selain itu, Permenkes Nomor 269 tahun 2008 tentang rekam medis ini juga melarang atau tidak memperbolehkan penghapusan tulisan dengan cara apapun
juga, baik dengan menggunakan karet penghapus, tip-ex serta alat penghapus lainnya. Cukup dengan pencoretan, yaitu dengan sebuah garis, baru kemudian
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, yaitu penelitian yang
bertujuan untuk mendapatkan gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara objektif. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif yaitu dengan
mengkaji informasi atau mengambil data yang telah lalu (Storm dan Kimmel, 2006).
3.2 Populasi dan Sampel
3.2.1 Populasi
Populasi target berupa data rekam medis pasien pada periode Agustus 2014 – Oktober 2014 adalah sebanyak 97 pasien. Dari populasi target, yang
memenuhi kriteria inklusi dan tidak memenuhi kriteria eksklusi dijadikan sebagai populasi studi. Populasi studi yang didapatkan adalah sebanyak 88 pasien. Berdasarkan rumus penentuan ukuran sampel diperlukan sebanyak 78 pasien,
sehingga populasi studi sudah memenuhi syarat minimum jumlah sampel yang diperlukan. Subjek penelitian ini adalah yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak
memenuhi kriteria eksklusi.
Kriteria inklusi merupkan persyaratan umum yang dapat diikutsertakan ke dalam penelitian. Adapun yang menjadi kriteria inklusi adalah:
a. pasien skizofrenia rawat jalan didiagnosis mengalami skizofrenia dengan berbagai subtipe yang mendapat terapi obat antipsikotik pada bulan
b. Kategori semua usia.
c. mendapat terapi ≥ 2 obat.
Kriteria eksklusi merupakan keadaan yang menyebabkan subjek tidak
dapat diikutsertakan. Adapun yang menjadi kriteria eksklusi adalah
a. pasien skizofrenia mendapat monoterapi obat sehingga tidak dapat diidentifikasi adanya interaksi obat.
b. data rekam medis yang tidak lengkap, hilang dan tidak jelas (tidak memuat informasi dasar yang dibutuhkan dalam penelitian).
3.2.1 Sampel
Sampel penelitian adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi. Dalam menghitung
besarnya sampel untuk mengukur proporsi dengan derajat akurasi pada tingkat statistik yang bermakna (signifikan) dengan menggunakan formula yang
sederhana, karena populasi lebih kecil dari 10.000, dalam menggunakan rumus sebagai berikut (Notoatmojo, 2010).
n = �
1+� (�2)
keterangan : N = Besar populasi n = Besar sampel
α = Tingkat kepercaan/ketepatan yang diinginkan 5% (0,05)
maka, n= 97
3.3 Lokasi dan Waktu Penelitian
3.3.1 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik.
3.3.2 Waktu Peneitian
Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2014 - Desember 2014.
3.4 Definisi Operasional
a. interaksi obat adalah modifikasi efek suatu obat akibat obat lain yang diberikan bersamaan, atau apabila dua atau lebih obat berinteraksi sehingga aktivitas
suatu obat atau lebih menjadi berubah.
b. interaksi farmakodinamik adalah interaksi obat yang bekerja pada reseptor, tempat kerja, atau sistem fisiologik yang sama sehingga terjadi efek yang
adiktif, sinergis, atau antagonis.
c. interaksi farmakokinetik adalah interaksi akibat perubahan yang terjadi pada
adsorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi suatu obat oleh obat lain.
d. interaksi unknown adalah interaksi obat yang mekanismenya belum diketahui secara pasti.
e. interaksi dengan tingkat keparahan ringan adalah jika interaksi mungkin terjadi tetapi dipertimbangkan signifikan potensial berbahaya terhadap pasien jika terjadi kelainan.
f. interaksi dengan tingkat keparahan sedang adalah jika satu dari bahaya potensial mungkin teradi pada pasien, dan beberapa tipe intervensi/monitor
g. Interaksi dengan tingkat keparahan berat adalah jika terdapat permeabilitas
yang tinggi membahayakan pasien termasuk kejadian yang menyangkut nyawa
3.5 Instrumen Penelitian
3.5.1 Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini yaitu data dari rekam medis pasien skizofrenia rawat jalan di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Periode
Agustus 2014 - Oktober 2014.
3.5.2 Teknik Pengumpulan Data
Pengambilan data dilakukan secara retrospektif dengan menggunakan data
sekunder. Data yang dikumpulkan merupakan data penggunaan obat antipsikotik dari data rekam medis pasien skizofrenia rawat jalan di Rumah Sakit Umum
Pusat H. Adam Malik periode Agustus 2014 - Oktober 2014. Adapun data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah:
a. mengelompokkan data rekam medis pasien berdasarkan kriteria inklusi.
b. mengelompokkan data penggunaan obat pasien meliputi data pasien (usia, jenis kelamin, jumlah obat yang diterima) dan data obat (nama obat, jenis
obat, dosis, aturan pakai, dan cara pemberian).
c. menyeleksi data berdasarkan ada tidaknya interaksi obat yang terjadi pada rekam medis pasien berdasarkan literatur.
3.5.3 Analisis Data
Evaluasi data interaksi obat dilakukan secara teoritik berdasarkan studi
Gambar 3.1 Gambaran pelaksanaan penelitian
terpercaya untuk menentukan interaksi yaitu www.medscape.com, dan
www.drugs.com. Ditentukan frekuensi interaksi obat antipsikotik-obat secara keseluruhan, dihitung seberapa besar pengaruh faktor risiko interaksi terhadap
kejadian interaksi obat antipsikotik-obat menggunakan program SPSS versi 17.0. Analisis data untuk melihat adanya hubungan antara jenis kelamin pasien, usia, dan jumlah obat dalam satu resep dengan jumlah interaksi obat, menggunakan Chi
Square Test. Selain itu, dihitung juga presentase mekanisme interaksi obat baik
yang mengikuti mekanisme interaksi farmakokinetik, farmakodinamik, dan
unknown, serta ditentukan jenis - jenis obat yang sering berinteraksi dan tingkat
keparahan interaksinya.
3.6Bagan Alur Penelitian
Adapun gambaran dari pelaksanaan penelitian adalah seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 2.1.
Rekam medis pasien skizofrenia
Pengelompokan data penggunaan obat pasien skizofrenia
Identifikasi faktor penyebab interaksi obat
Identifikasi interaksi obat
Perhitungan frekuensi interaksi obat
Penentuan mekanisme
Penentuan tingkat keparahan interaksi
Analisis data
3.7 Langkah Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. meminta rekomendasi dekan Fakultas Farmasi USU untuk dapat melakukan
penelitian di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik.
b. menghubungi kepala bidang pendidikan dan penelitian Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik untuk mendapatkan izin melakukan penelitian, dengan
membawa surat rekomendasi dari fakultas.
c. mengumpulkan semua data rekam medis pasien skizofrenia yang masuk dari
bulan Agustus 2014 - Okober 2014 di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik.
d. memilih data rekam medis yang menuliskan obat antipsikotik untuk pasien
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Karakteristik Umum Subjek Penelitian
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan terhadap rekam medis pasien skizofrenia di RSUP H. Adam Malik periode Agustus 20014 - Oktober
2014 diperoleh seluruh data sebanyak 97 rekam medis pasien. Data yang diperoleh dari rekam medis yang memenuhi kriteria inklusi adalah sebanyak 88
pasien. Sedangkan yang tidak memenuhi syarat sebagai objek (ekslusi) sebanyak 9 pasien, yaitu 5 pasien mendapat monoterapi, dan 4 pasien dengan data rekam medis yang tidak jelas.
Berdasarkan sampel yang diambil dari 88 rekam medis pasien skizofrenia karakteristik umum pasien skizofrenia di RSUP H. Adam Malik periode Agustus
2014 - Oktober 2014 ditunjukkan pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Karakteristik subjek penelitian
Berdasarkan hasil penelitian, dilihat dari karakteristik subjek, pasien yang
berjenis kelamin laki-laki lebih banyak menggunakan antipsikotik dengan presentase 64,77% (Tabel 4.1). Prevalensi pria dan wanita adalah sama, tetapi
kemunculan penyakit lebih awal pada pria (Fatemi dan Folsom, 2009). Hal ini besar kemungkinan adanya efek neuroprotektif hormon pada wanita dan kecenderungan yang lebih besar mendapatkan trauma kepala pada pria (Seeman,
2004). Beberapa penelitian telah menyatakan bahwa pria akan lebih mungkin mengalami gangguan gejala negatif skizofrenia daripada wanita dan wanita lebih
mungkin untuk memiliki fungsi sosial yang lebih baik daripada pria (Kaplan, dkk., 1997). Hasil penelitian ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Kurihara, dkk (2006) yang menemukan bahwa dari 39 pasien skizofrenia, 25
diantaranya adalah pria dan 14 lainnya wanita.
Kelompok pasien berdasarkan rentang umur diperoleh data pasien dengan
usia 16-35 tahun persentasenya lebih tinggi yaitu 54,55%, dan tidak ditemukan pasien skizofrenia dengan umur < 16 tahun. Hal ini sesuai dengan literatur bahwa penyakit sizofrenia biasanya baru muncul pada usia muda yaitu 15-30 tahun
(Bertolote, 1992).
Lebih banyak pasien skizofrenia yang menggunakan obat antipsikotik pada rentang usia 16-35 dikarenakan pada rentang umur tersebut manusia memiliki
beban hidup lebih berat dibandingkan dengan rentang umur lainnya sehingga menyebabkan stres. Stres pada rentang umur 16-35 tahun disebabkan
Telah banyak penelitian yang menyebutkan terdapat hubungan yang nyata
antara skizofrenia dengan stres. Teori diatesis stres menyebutkan seseorang mungkin memiliki suatu kerentanan spesifik (diatesis) yang jika dikenai oleh
suatu pengaruh lingkungan yang menimbulkan stres memungkinkan perkembangan gejala skizofrenia. Stres dapat menyebabkan peningkatan sekresi neurotransmiter glutamat (suatu senyawa prekusor GABA) di daerah prefrontal
kortek dan dopamin pada sistem limbik. Ketidak seimbangan neurotransmiter inilah yang mencetuskan terjadinya skizofrenia (Savioli, 2009).
4.2 Gambaran Potensi Interaksi Obat Antipsikotik Subjek Penelitian
Berdasarkan analisis terhadap 88 rekam medis pasien, persentase kejadian potensi interaksi obat sebesar 84,09%. Gambaran umum kejadian potensi
interaksi obat ditunjukkan pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Gambaran potensi interaksi obat antipsikotik subjek penelitian
No.
Kriteria Subjek
Frekuensi potensi interaksi obat antipsikotik pada pasien skizofrenia
terjadi pada 74 rekam medis pasien dengan presentase 84,09% (Tabel 4.2). Tingginya angka kejadian interaksi obat berkaitan dengan jumlah obat yang
dikonsumsi pasien, dimana dalam penelitian ini pasien yang menerima 3 macam obat per resep lebih banyak mengalami interaksi obat. Peristiwa interaksi obat terjadi sebagai akibat penggunaan bersama-sama dua macam obat atau lebih.
Apabila terjadi kegagalan pengobatan pada pasien, hal ini sangat jarang dikaitkan dengan interaksi obat padahal kemungkinan terjadinya interaksi obat cukup besar
terutama pada pasien yang mengkonsumsi lebih dari 2 macam obat dalam waktu yang bersamaan.
Di Indonesia, sebuah hasil penelitian yang dilakukan di rumah sakit
pendidikan Dr. Sardjito Jogjakarta menunjukkan bahwa interaksi obat terjadi pada 59% pasien rawat inap dan 69% pasien rawat jalan (Rahmawati, dkk., 2006).
Beberapa studi memperkirakan kejadian interaksi obat berkisar antara 2,2% sampai 30% pada pasien yang ada di rumah sakit dan 9,2% sampai 70,3% pada pasien luar rumah sakit. Berdasarkan data tersebut disimpulkan bahwa
obat-obat yang potensial berinteraksi sulit untuk diketahui (Rahmawati, dkk., 2006).
4.3 Gambaran Kejadian Potensi Interaksi Obat Antipsikotik SubjekPenelitian
Berdasarkan analisis terhadap 88 rekam medis pasien, ditemukan gambaran kejadian potensi interaksi obat antipsikotik sebanyak 212 kasus. Gambaran umum
Tabel 4.3 Jenis kejadian potensi interaksi obat antipsikotik subjek penelitian
Clozapine - Trihexyphenidyl Olanzapine – Trihexyphenidyl Olanzapine – Fluoxetine Clozapine – Olanzapine Risperidone – Trihexyphenidyl Haloperidol – Trihexyphenidyl Fluoxetine - Trihexyphenidyl Clozapine – Fluoxetine Risperidone - Clozapine Quetiapine – Trihexyphenidyl Amitriptyline-Trihexyphenidyl Clozapine - Haloperidol Clozapine – Amitriptyline Olanzapine – Alprazolam Maproptiline -Trihexyphenidyl Trihexyphenidyl-Alprazolam Clozapine - Quetiapine Olanzapine – Maproptiline Olanzapine- Amitriptyline Risperidone – Amitriptyline Haloperidol – Olanzapine Quetiapine – Fluoxetine Risperidone – Alprazolam Fluoxetine – Alprazolam Clozapine – Lorazepam Risperidone – Quetiapine Clozapine – Ondansetron Clozapine – Ciprofloxacin Fluoxetine – Risperidone Haloperidol - Amitriptyline Risperidone – Olanzapine Olanzapine – Ciprofloxacin Fluoxetine – Ciprofloxacin Quetiapine – Alprazolam Quetiapine- Ondansetron
4.4 Pola Penggunaan Obat Antipsikotik Subjek Penelitian
Obat antipsikotik dikelompokkan menjadi obat antipsikotik golongan
Malik jumlahnya terbatas. Pada penelitian ini didapatkan data obat antipsikotik
yang paling banyak diresepkan pada pasien skizofrenia rawat jalan di RSUP H. Adam Malik adalah clozapine, olanzapine, risperidone, haloperidol, dan
quetiapine. Hanya lima jenis obat antipsikotik yang digunakan yaitu satu jenis dari golongan tipikal dan empat lainnya dari golongan atipikal. Selain obat antipsikotik juga diberikan adjunctive drug. Adjunctive drug yang banyak
diberikan adalah trihexyphenidyl, amitripilin, dan vitamin B kompleks.
Haloperidol merupakan derivat butirofenon termasuk antipsikotik
golongan pertama. Haloperidol memiliki risiko tinggi terhadap timbulnya gejala ekstrapiramidal, termasuk sindrom parkinson. Obat ini bekerja dengan cara memblok reseptor dopaminergik D1 dan D2 di postsinaptik mesolimbik otak (Kee
dan Hayes, 1996).
Risperidone merupakan obat atipikal baru termasuk obat antipsikotik
generasi kedua. Obat ini juga dilaporkan dapat menimbulkan gejala ekstrapiramidal (>10%) terutama menyebabkan diskenia setelah penggunaan selama 5 hari (Kee dan Hayes, 1996).
Olanzapine, clozapine, risperidone, quetiapine dan obat neuroleptik baru lainnya memiliki efek gejala ekstrapiramidal lebih sedikit jika dibandingkan dengan obat klasik (Kee dan Hayes, 1996).
Clozapine merupakan obat dengan risiko terendah menimbulkan efek samping gejala ekstrapiramidal. Di Amerika, clozapine tidak digunakan untuk
cukup menjadi perhatian dan harus diwaspadai yaitu dapat menurunkan jumlah sel
darah putih pasien, sehingga harus selalu dipantau (Fatemi dan Folsom, 2009). Di Eropa clozapine digunakan biasanya dalam waktu singkat (1 minggu)
untuk menstabilkan pasien mania sampai moodnya stabil. Dari hasil penelitian yang membandingkan penggunaan clozapine dengan obat tipikal, clozapine dapat mengatasi sindrom positif, sindrom negatif dan kognitif tanpa menyebabkan
gejala ekstrapiramidal, disamping itu obat ini dapat mengurangi depresi dan keinginan bunuh diri (Fatemi dan Folsom, 2009).
Selain obat antipsikotik, pasien skizofrenia di RSUP H. Adam Malik juga diberikan adjunctive drug. Adapun adjunctive drug yang banyak diberikan di RSUP H. Adam Malik adalah trihexyphenidyl, amitriptyline, dan vitamin B
Kompleks. Adjunctive drug digunakan untuk mengurangi efek samping dari pemakaian antipsikotik. Trihexyphenidyl merupakan obat antimuskarinik yang
berfungsi untuk mengurangi efek samping dari antipsikotik. Salah satu efek samping antipsikotik adalah gejala ekstrapiramidal. Amitriptilin merupakan antidepresan trisiklik. Diberikan sebagai terapi tambahan untuk menangani
terjadinya depresi yang biasa terjadi sesudah psikose. Vitamin B kompleks diberikan karena pasien skizofrenia mengalami defisiensi Vitamin B kompleks. Bila vitamin B3 kurang, pembentukan serotoninpun berkurang. Serotonin yang
berkurang dapat menyebabkan timbulnya depresi mentalis (Kee dan Hayes, 1996).
4.5 Jumlah Obat Antipsikotik yang Mengalami Potensi Interaksi
Tabel 4.4 Jumlah obat antipsikotik yang mengalami potensi interaksi
No. Nama Obat Jumlah (n=212) %
1 Clozapine
Clozapine - Trihexyphenidyl Clozapine – Olanzapine Clozapine – Fluoxetine Clozapine – Risperidone Clozapine – Haloperidol Clozapine – Amitriptyline Clozapine – Quetiapine Clozapine – Ondansetron Clozapine – Ciprofloxacin
28
Olanzapine – Trihexyphenidyl Olanzapine – Fluoxetine Olanzapine – Clozapine Olanzapine – Alprazolam Olanzapine – Maproptiline Olanzapine – Amitriptyline Olanzapine – Haloperidol Olanzapine – Risperidone Olanzapine – Ciprofloxacin
21
Risperidone – Trihexyphenidyl Risperidone – Clozapine Risperidone – Amitriptyline Risperidone – Quetiapine Risperidone – Fluoxetine
12
4 Haloperidol
Haloperidol – Trihexyphenidyl Haloperidol – Clozapine Haloperidol – Olanzapine Haloperidol – Amitriptyline
11
Quetiapine – Trihexyphenidyl Quetiapine – Clozapine Quetiapine – Fluoxetine Quetiapine – Risperidone Quetiapine – Alprazolam Quetiapine – Ondansetron
7
paling banyak yang melibatkan clozapine adalah clozapine-trihexyphenidyl,
clozapine-olanzapine.
Jenis kejadian potensi interaksi paling banyak yang melibatkan olanzapine
adalah olanzapine-trihexyphenidyl, olanzapine-fluoxetine dan untuk risperidone adalah risperidone-trihexyphenidyl, risperidone-clozapine. Pengaruh kejadian potensi interaksi clozapine-trihexyphenidyl, olanzapine-trihexyphenidyl, dan
risperidone-trihexyphenidyl diketahui dapat meningkatkan efek trihexyphenidyl, penurunan dosis satu atau kedua obat mungkin diperlukan jika efek samping
berlebihan. Penurunan dosis trihexyphenidyl pada dosis terendah dianjurkan untuk menghindari efek yang tidak diinginkan. Dosis terendah trihexyphenidyl dapat diturunkan menjadi 1 mg dalam 1 hari (Drugs.com, 2015).
Pengaruh kejadian clozapine-olanzapine diketahui dapat meningkatan efek antidopaminergik, termasuk gejala ekstrapiramidal dan sindrom neuroleptik
ganas. Perhatian dan pemantauan klinis dianjurkan jika kedua obat ini digunakan bersamaan (Drugs.com, 2015).
Pengaruh kejadian olanzapine-fluoxetine diketahui dapat meningkatkan
efek antikolinergik, sistem saraf pusat atau efek pernapasan secara aditif meningkat. Pasien harus terus dipantau untuk mengetahui potensi efek samping berlebihan (Drugs.com, 2015).
Pengaruh kejadian potensi interaksi risperidone-clozapine ialah kemungkinan gangguan pada metabolisme sitokrom P450 2D6 di hati dari
Interaksi
4.6 Jenis Mekanisme Interaksi Obat Antipsikotik Subjek Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian ini ditemukan jenis mekanisme interaksi farmakokinetik 23 kasus, interaksi farmakodinamik 173 kasus dan interaksi
unknown 16 kasus. Jenis mekanisme interaksi obat antipsikotik ditunjukkan pada
Tabel 4.5, dan Gambar 4.1.
Tabel 4.5 Jenis mekanisme interaksi obat antipsikotik subjek penelitian
No. Mekanisme Interaksi Obat
Gambar 4.1 Diagram jenis mekanisme interaksi obat
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh presentase mekanisme interaksi obat farmakodinamik dengan persentase 81,60%, farmakokinetik dengan
persentase 10,85%, dan unknown dengan persentase 7,55%. Pada penelitian ini mekanisme potensi interaksi farmakodinamik lebih sering terjadi dikarenakan
obat paling banyak adalah clozapine-trihexyphenidyl, olanzapine-fluoxetine. Pada
interaksi farmakokinetik jenis kejadian potensi interaksi obat paling banyak adalah clozapine-fluoxetine dan clozapine-risperidon. Pada mekanisme interaksi
unknown jenis kejadian potensi interaksi obat paling banyak ialah haloperidol-
trihexyphenidyl dan haloperidol-olanzapine.
Beberapa kejadian interaksi obat sebenarnya dapat diprediksi sebelumnya
dengan mengetahui efek farmakodinamik serta mekanisme farmakokinetika obat-obat tersebut. Pengetahuan mengenai hal ini akan bermanfaat dalam melakukan
upaya pencegahan terhadap efek merugikan yang dapat ditimbulkan akibat interaksi obat. Dengan mengetahui mekanisme interaksi obat, farmasis dapat menentukan langkah yang tepat dalam pengatasan masalah tersebut. Farmasis
dapat menentukan apakah suatu jenis interaksi obat dapat diatasi sendiri, ataukah memerlukan diskusi dengan klinisi/dokter (Utami, 2013).
4.7 Tingkat Keparahan Potensi Interaksi Obat Antipsikotik pada Subjek Penelitian
Berdasarkan analisis terhadap 88 rekam medis pasien ditemukan tingkat keparahan ringan 3 kasus, tingkat keparahan sedang 167 kasus dan tingkat
keparahan berat 42 kasus. Tingkat keparahan potensi interaksi obat antipsikotik pada subjek Penelitian ditunjukkan pada Tabel 4.6, dan Gambar 4.2.
Tabel 4.6 Tingkat keparahan potensi interaksi obat antipsikotik pada subjek
Penelitian
No. Tingkat Keparahan Potensi Interaksi
Jumlah Kasus %
1 2 3
Ringan Sedang Berat
3 167
42
1,42 78,77 19,81
Total 212
0 20 40 60 80 100
Ringan Sedang Berat
Gambar 4.2 Diagram tingkat keparahan interaksi obat
Kejadian potensi interaksi ringan yang banyak terjadi pada penelitian ini adalah fluoxetine-alprazolam diketahui potensi interaksi ini fluoxetine
meningkatkan efek farmakologi alprazolam, manajemen untuk interaksi ini belum tersedia. Interaksi kategori sedang menyebabkan penurunan status klinis pasien. Pengobatan tambahan, rawat inap, atau diperpanjang dirawat di rumah sakit
mungkin diperlukan (Tatro, 2009).
Kejadian potensi interaksi kategori sedang yang banyak terjadi adalah
clozapine-trihexyphenidyl, diketahui clozapine meningkatkan efek trihexyphenidyl sehingga meningkatkan efek toksik trihexyphenidyl. Manajemen yang dilakukan adalah dengan menurunkan salah satu atau kedua obat jika efek
samping berlebihan (Drugs.com, 2015).
Interaksi kategori berat adalah mengancam jiwa atau kerusakan permanen.
Kejadian potensi interaksi kategori berat yang paling banyak terjadi dalam penelitian ini adalah antara olanzapine-clozapine diketahui kombinasi clozapine dan olanzapine dapat meningkatan efek antidopaminergik, termasuk gejala
dilakukan adalah memantau secara klinis terhadap pengguanaan kedua obat ini.
Penilaian EKG rutin dapat mendeteksi perpanjangan QTc, tetapi tidak selalu efektif dalam mencegah aritmia. Pengobatan clozapine harus dihentikan jika
interval QTc melebihi 500 msec (Drugs.com, 2015).
4.8 Analisis Bivariat
Analisis bivariat adalah analisis secara simultan dari dua variabel. Hal ini dilakuan untuk melihat apakah salah satu variabel terkait dengan variabel lain.
Kegunaan dari analisis bivariat adalah untuk mengukur kekuatan hubungan antara dua variabel atau lebih.
4.8.1 Faktor Jenis Kelamin
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh secara umum subjek penelitian paling banyak adalah jenis kelamin laki-laki yaitu 64,77% (Tabel 4.1). Begitu
pula kejadian potensi interaksi obat lebih banyak terjadi pada pasien berjenis kelamin laki-laki (Tabel 4.7).
Tabel 4.7 Kejadian potensi interaksi obat berdasarkan jenis kelamin subjek
Hasil analisis bivariat dengan Chi-Square Test antara variabel jenis
kelamin dengan kejadian potensi interaksi obat menunjukkan keduanya tidak Jenis Kelami
Potensi Interaksi Obat
% terhadap
total subje Nilai P Terjadi Potensi
Interaksi
Tidak Terjadi Potens Interaksi
Jumlah
% terhadap total jenis
kelamin
Jumlah
% terhadap total jenis
kelamin
Laki-laki 46 80,70 11 19,30 64,77
0,239
Perempuan 28 90,32 3 9,68 35,23