KETERAMPILAN MATEMATIS
“BELIEF MATEMATIKA”
Dosen Pengampu:
Dr. Kartini M. Si Disusun oleh: Kelompok 4
Siti Hikmah Tussa’ada Elsa (2205125053) Silvy Damayanti Kamil Ginting (2205125046)
Parsiholan Simbolon (2205114173)
Sri Yelviani (2205135903)
KELAS 4C SEMESTER 4
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS RIAU T.A 2023/2024
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami munajatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan nikmat, rahmat, dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keterampilan Matematis. Selain itu, makalah ini kami buat dengan tujuan menambah wawasan dan pengetahuan bagi kami dan para pembaca umumnya mengenai belajar dan pembelajaran. Untuk itu pada kesempatan ini, kami mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Dr. kartini M. Si selaku dosen pengampu mata kuliah Keterampilan Matematis yang telah memberikan bimbingan kepada kami dalam menyelesaikan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu, dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan dan perbaikan makalah ini untuk kedepannya.
Pekanbaru, 11 Juni 2024
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... .iii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 1
1.3 Tujuan Penulisan ... 1
1.4 Manfaat Kajian ... 2
BAB II PEMBAHASAN ... 3
2.1 Pengertian Belief Matematika ... 3
2.2 Pentingnya Belief Matematika ... 4
2.3 Indikator Belief Matematika ... . 5
2.4 Instrumen Belief Matematika ... 7
BAB III PENUTUP ... 12
3.1 Kesimpulan ... 12
3.2 Saran ... 12
DAFTAR PUSTAKA ... 14
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Keyakinan atau Beliefs adalah sebuah keyakinan psikologis tentang kebenaran, nilai, serta kemampuan yang sungguh-sungguh dipegang oleh seseorang dan bagaimana seseorang tersebut menggunakan pengetahuan dan keyakinannya untuk melakukan sebuah tindakan. Keyakinan (belief) siswa terhadap pelajaran matematika mempengaruhi bagaimana siswa menyambut pelajaran matematika nya. Sejalan dengan pendapat Sari et al. (2014) menyatakan bahwa belief siswa terhadap matematika merupakan keyakinan yang mempengaruhi respon siswa dalam menanggapi masalah matematika.
Pentingnya kemampuan belief menjadi alasan penulis tertarik untuk membahas hal tersebut dalam makalah ini. Pembahasan ini nantinya diharapkan dapat memberikan pengetahuan baru dan lengkap mengenai belief tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis perlu mengajukan beberapa rumusan masalah dengan tujuan mempermudah pembaca dalam memahami isi makalah dan mempermudah pembaca dalam menjawab permasalahan.
Berikut ini asdalah beberapa rumusan masalah yang terdapat dalam makalah ini.
1. Apakah pengertian dari belief?
2. Bagaiman Pentingnya Belief dalam pembelajaran Matematika?
3. Apa saja Indikator dalam Belief?
4. Bagaimana instrumen belief?
1.3 Tujuan Kajian
Tujuan kajian dalam makalah ini ditujukan untuk mencari tujuan dari dibahasnya pembahasan atas rumusan masalah dalam makalah. Adapun
tujuan kajian makalah, sebagai berikut.
1. Menjelaskan Pengertian Belief
2. Menganalisis Pentingnya Belief dalam pembelajaran Matematika 3. Menjelaskan Indikator dalam belief
4. Menjelaskan instrumen Belief 1.4 Manfaat Kajian
Manfaat kajian dari tujuan diatas meliputi:
1. Meningkatkan pemahaman tentang pentingnya Belief dalam proses pembelajaran matematika.
2. Memperjelas indikator-indikator yang dapat digunakan untuk mengukur Belief.
3. Menyediakan informasi tentang instrumen-instrumen yang dapat digunakan untuk mengembangkan belief matematika
BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Belief Matematika
Dalam bahasa sehari hari keyakinan (belief) sering disamaartikan dengan istilah sikap (attitude), disposisi (disposition), Pendapat (opinion), filsafat (philoshopy), atau nilai (value). Ada peneliti juga yang menghubungkan belief dengan motivasi (motivation) dan konsepsi (konseption). Belief matematika memiliki pengaruh yang penting bagi perilaku manusia. Belief merupakan suatu kekuatan yang berpengaruh di dalam evaluasi siswa untuk mengatur kemampuan yang mereka miliki, misalnya dalam tugas matematika, dan pada pokok masalah matematika. Menurut Sumarmo (Sumarmo, 2013) keyakinan, sikap, dan nilai tampaknya terhubung secara logis, maksudnya adalahbelief matematika merupakan suatu kesatuan dengan sikap dan nilai.
Dalam Leder & Forgasz (2003) terdapat beberapa definisi belief dari beberapa penulis. Diantaranya Rokeach pada tahun 1972 mendefinisikan bahwa belief merupakan proposisi sederhana, sadar atau tidak sadar, disimpulkan dari apa yang seseorang katakan atau lakukan, serta dapat didahului dengan kalimat
"Saya percaya bahwa ...". Karena beberapa hal tersebut maka sulit sekali untuk mendefinisikan belief secara harfiah. Dalam beberapa studi penelitian, kata
“belief” tidak didefinisikan dengan jelas, melainkan diasumsikan bahwa pembaca sudah tahu apa yang dimaksud (Thompson dalam Österholm, 2009).
Beberapa peneliti mendefinisikan belief dalam sudut pandang yang berbeda, Goldin pada tahun 2002 mendefinisikan belief sebagai “multiply encoded, internal cognitive/affective configurations, to which the holder attributes truth value of some kind (e.g., empirical truth, validity, or applicability)” (Maaß &
Schlöglmann, 2009).
Belief merupakan elemen kepribadian yang krusial. Belief merupakan keyakinan diri terhadap kemampuan sendiri untuk menampilkan tingkah laku yang akan mengarahkannya kepada hasil yang diharapkan. Belief yang dimaksud bukan faktor psikis yang mengontroltingkah laku, namun merujuk kepada struktur
kognisi yang memberikan mekanisme rujukan yang merancang fungsi-fungsi persepsi, evaluasi, dan regulasi tingkah laku. Kloosterman dalam Firmansyah (2014:58) mengatakan bahwa belief matematika memiliki pengaruh yangpenting bagi perilaku manusia.
2.2 Pentingnya Belief Matematika
Belief dalam keterampilan matematis memiliki peran penting dalam pembelajaran dan penguasaan matematika. Berikut adalah beberapa alasan mengapa belief dalam keterampilan matematis penting.
a) Motivasi: belief yang kuat dalam kemampuan matematis dapat meningkatkan motivasi dan minat dalam belajar matematika. Belief yang positif memberikan dorongan untuk mencoba, mengatasi tantangan, dan tetap gigih dalam menghadapi kesulitan.
b) Self-efficacy (keyakinan diri): Belief yang tinggi dalam kemampuan matematis meningkatkan keyakinan diri seseorang dalam menghadapi tugas matematika. Keyakinan diri yang kuat memungkinkan individu untuk merasa lebih yakin dan percaya bahwa mereka dapat berhasil dalam memecahkan masalah matematika.
c) Ketahanan terhadap kegagalan: Belief yang kuat membantu individu dalam menghadapi kegagalan dan kesalahan. Keyakinan bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar dan bahwa kesulitan dapat diatasi mendorong individu untuk terus mencoba dan belajar dari kesalahan mereka.
d) Pilihan dan ambisi karir: Belief dalam kemampuan matematis dapat mempengaruhi pilihan dan ambisi karir seseorang. Jika individu memiliki keyakinan yang tinggi dalam matematika, mereka cenderung lebih cenderung memilih karir yang melibatkan matematika atau bidang yang membutuhkan keterampilan matematis.
e) Kemampuan pemecahan masalah: Belief dalam kemampuan matematis meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Keyakinan yang kuat membantu individu dalam merumuskan strategi, mengidentifikasi pendekatan yang tepat, dan bertahan dalam menyelesaikan masalah matematika.
f) Rasa percaya diri dalam pengambilan keputusan: Belief dalam keterampilan
matematis juga mempengaruhi rasa percaya diri individu dalam pengambilan keputusan yang melibatkan aspek matematis, seperti keuangan pribadi, investasi, atau analisis data.
Melalui peningkatan belief dalam keterampilan matematis, individu dapat merasakan kepuasan dalam mempelajari dan menggunakan matematika.
Keyakinan yang kuat memainkan peran krusial dalam membangun dasar yang kokoh untuk pemahaman matematika yang mendalam dan kemampuan yang baik dalam menerapkan matematika dalam berbagai konteks kehidupan sehari-hari dan profesional.
2.3 Indikator Kemampuan Representasi Matematis
Dalam penelitiannya, Eynde, Corte & Verschaffel (2002, p.19) mencantumkan pendapat para ahli mengenai perbedaan indikator belief mathematics peserta didik. Pendapat para ahli tersebut disajikan dalam tabel berikut.
Tabel Pendapat Para Ahli tentang Perbedaan Indikator Belief Mathematics Peserta Didik
Ahli Indikator
Underhill (1988) a. Keyakinan tentang matematika sebagai suatu disiplin b. Keyakinan tentang belajar matematika
c. Keyakinan tentang pengajaran matematika d. Keyakinan tentang dirinya dalam konteks sosial Mcloed (1992) a. Keyakinan tentang matematika
b. Keyakinan tentang dirinnya
c. Keyakinan tentang pengajaran matematika d. Keyakinan tentang konteks sosial
Kloosterman (1996) a. Keyakinan tentang matematika
b. Keyakinan tentang pembelajaran matematika c. Keyakinan tentang dirinya sebagai pembelajar
matematika
d. Keyakinan tentang peran guru
e. Keyakinan lain tentang belajar matematika Pehkonen (1995) a. Keyakinan tentang matematika
b. Keyakinan tentang dirinya dalam Matematika c. Keyakinan tentang pengajaran matematika d. Keyakinan tentang belajar matematika
Dari pendapat para ahli tersebut, Eynde, Corte, & Verschaffel (2002) melakukan pengembangan terhadap indikator belief mathematics dan Himmah (2017) menjelaskan kembali ke dalam bentuk indikator dan sub indikator, yang akan disajikan pada tabel berikut.
Tabel Indikator dan Sub Indikator Belief Mathematics
Indikator Subindikator
Keyakinan tentang pendidikan matematika
a. Peserta didik memiliki keyakinan mengenai matematika sebagai mata pelajaran.
b. Peserta didik memiliki keyakinan mengenai pembeajaran matematika dan pemecahan masalah.
c. Peserta didik memilki keyakinan tentang pengajaran matematika secara umum.
Keyakinan tentang diri sendiri
a. Peserta didik memiliki keyakinan mengenai self efficacy (self effifacy beliefs) terhadap matematika.
b. Peserta didik memiliki keyakinan mengenai kontrol (control beliefs) terhadap matematika.
c. Peserta didik memiliki keyakinan mengenai harga tugas (task-value beliefs) terhadap matematika.
d. Peserta didik memiliki keyakinan mengenai orientasi-tujuan (goal-orientation beliefs) terhadap matematika.
Keyakinan tentang a. Peserta didik memiliki keyakinan tentang norma
konteks sosial sosial dalam pembelajaran matematika di kelas, yaitu mengenai peran dan fungsi serta peran dan fungsi peserta didik
b. Peserta didik memiliki keyakinan tentang norma sosial matematika di dalam kelas
(Hammah, 2017)
2.4 Instrumen Kemampuan Representasi Matematis
Tabel 2.1 Kisi-Kisi Instrumen Kuisoner Mathematical Beliefs
Aspek Indikator No. Item Jumlah
(+) (-) Keyakinan
tentang pendidikan matematika
Siswa memiliki keyakinan mengenai matematika sebagai mata pelajaran
1,6 5,15 4
Siswa memiliki keyakinan mengenai pembelajaran matematika dan pemecahan masalah
16,17 2 3
Siswa memiliki keyakinan tentang pengajaran matematika secara umum
3,24 4,18 4
Keyakinan tentang diri sendir
Siswa memiliki keyakinan mengenai self efficacy (self efficacy beliefs) terhadap matematika
7,22 13,14 4
Siswa memiliki keyakinan mengenai kontrol (control beliefs) terhadap matematika
23,32 25 3
Siswa memiliki keyakinan mengenai harga tugas (task- value beliefs) terhadap matematika
8,28 9,19 4
Siswa memiliki keyakinan mengenai orientasi - tujuan (goal- orientation beliefs) terhadap matematika
31,33 21,26 4
Keyakinan tentang konteks sosial
Siswa memiliki keyakinan tentang norma sosial dalam pembelajaran matematika di kelas, yaitu mengenaiperan dan fungsi guru serta peran dan fungsi siswa
12,27 30,34 4
Siswa memiliki keyakinan tentang norma sosial matematik di dalam kelas
11, 20,29
10 4
Jumlah 19 15 34
Tabel 2.2 Kuesioner Mathematical Beliefs Siswa Nama:
Kelas:
Petunjuk Pengisian:
Berilah tanda checklist (√) pada jawaban yang sesuai dengan pendapat anda.
Pilih salah satu jawaban yang terdapat pada kolom.
SS : Sangat SetujuS : SetujuRG : Ragu-raguTS : Tidak SetujuSTS : Sangat Tidak Setuju3)
Isilah dengan jawaban objektif.
1) Berilah tanda checklist () pada jawaban yang sesuai dengan pendapat anda.
2) Pilih salah satu jawaban yang terdapat pada kolom SS: Sangat Setuju
S: Setuju
RG: Ragu-Ragu TS: Tidak Setuju
STS: Sangat Tidak Setuju
3) Isilah dengan Jawaban Objektif
No Pernyataan Jawaban
SS S RG TS STS
1 Saya yakin metematika merupakan pelajaran yang penting untuk dipelajari (+)
2 Saya merasa matematika tidak dapat membantu saya dalam memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari (-)
3 Saya merasa metode pembelajaran yang digunakan dalam pengajaran matematika sudah tepat dan mudah dipahami (+)
4 Saya tidak nyaman dengan metode yang diterapkan guru saat pembelajaran matematika berlangsung (-)
5 Saya ragu matematika dapat bermanfaat pada ilmu lain (-)
6 Saya yakin matematika sebagai mata pelajaran yang mudah dipahami (+) 7 Saya merasa percaya diri atas
kemampuan matematika yang saya miliki (+)
8 Saya yakin dapat mengerjakan soal ulangan matematika dengan nilai yang bagus (+)
9 Saya cemas dalam mengerjakan soal matematika (-)
10 Saya merasa ragu untuk bertanya dalam forum diskusi matematika (-) 11 Saya berani mengemukakan pendapat
sendiri di forum diskusi matematika (+)
12 Saya merasa nyaman ketika sedang menjelaskan pendapat saya kepada guru dan teman saat diskusi kelas (+) 13 Saya merasa kurang percaya diri atas
kemampuan matematika yang saya miliki (-)
14 Saya merasa putus asa dalam menyelesaikan tugas matematika (-) 15 Saya merasa bahwa matematika
merupakan mata pelajaran yang paling
sulit dipahami dibandingkan mata pelajaran yang lainnya (-)
16 Saya yakin pembelajaran matematika di sekolah dapat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari (+)
17 saya yakin pembelajaran matematika dapat memudahkan saya mendapatkan solusi dalam menyelesaikan masalah (+)
18 Saya merasa media pembelajaran dalam matematika tidak dapat membantu saya dalam memahami materi matematika (-)
19 Saya ragu mendapatkan nilai yang bagus dalam ujian matematika (-) 20 Saya yakin dapat memberikan solusi
dengan menggunakan argumen matematis (+)
21 Saya belajar matematika tanpa memperhatikan tujuan (-)
22 Ketika saya membaca soal matematika denga teliti saya dapat menyelesaikannya dengan baik (+) 23 Saya yakin berhasil dalam ulangan
matematika yang akan datang (+) 24 Saya yakin pengajaran matematika
disekolaj sesuai dengan komptensi yang ada (+)
25 Saya khawatir gagal menyelesaikan tugas matematika yang berat (-)
26 Saya merasa nyaman belajar matematika tanpa target dan tujuan (-) 27 Saya percaya guru selalu mengajarkan
bahwa mengemukakan ide dan pendapat saat pembelajaran dapat
meningkatkan kemampuan
pemahaman siswa (+)
28 Saya yakin dapat menyelesaikan tugas matematika yang diberikan guru (+) 29 Saya nyaman berdikusi dengan siapa
pun (+)
30 Saya ragu guru memberikan kesempatan yang sama untuk berpendapat (-)
31 Saya yakin bahwa saya dapat
megaplikasikan materi matematika dalam kehidupan sehari-hari (+)
32 Saya dapat mempelajari sendiri materi matematika yang sulit (+)
33 Saya berusahan menetapkan tujuan belajar matematika yang ingin saya capai (+)
34 Saya tidak yakin dapat menghargai pendapat saya (-)
BAB III PENUTUP 1.1 Kesimpulan
Pada makalah ini, penulis menjelaskan secara rinci poin-poin mengenai belief berdasarkan pendapat para ahli yang diambil dari berbagai jurnal maupun penelitian. Berdasarkan pembahasan mengenai belief yang sudah dilakukan sebelumnya, penulis dapat menarik beberapa kesimpulan. Berikut simpulan dari makalah ini.
1. Keyakinan atau Beliefs adalah sebuah keyakinan psikologis tentang kebenaran, nilai, serta kemampuan yang sungguh-sungguh dipegang oleh seseorang dan bagaimana seseorang tersebut menggunakan pengetahuan dan keyakinannya untuk melakukan sebuah tindakan.
2. Keyakinan matematika merupakan hal yang sangat penting untuk dimiliki dalam melakukan pembelajaran matematika, jika mempelajari sesuatu tanpa memiliki keyakinan terhadap apa yang dipelajari maka akan menjadi tidak berarti untuk dilakukan.
3. Ada tiga aspek yang secara simultan mempengaruhi keyakinan matematik, yakni objek pendidikan matematika, konteks kelas, dan dirinya sendiri.
4. Di dalam aspek-aspek belief ada beberapa indikator yang tertuang di dalamnya.
5. Instrumen belief matematis menggunakan kuesioner atau angket untuk mengukur bagaimana mathematical beliefs siswa terhadap mata pelajaran matematika dengan mengajukan berbagai pernyataan.
1.2 Saran
Berdasarkan pembahasan yang telah dijabarkan, kita bisa mengetahui pentingnya kemampuan belief. Selain itu, melalui penjelasan tersebut ada beberapa saran yang bisa penulis berikan bagi pembaca maupun penulis berikutnya, dengan harapan makalah ini terus berlanjut dan bisa memberikan banyak manfaat bagi pembaca. Berikut beberapa saran yang bisa dilakukan untuk penulis selanjutnya.
1. Cara meningkatkan kemampuan belief
2. Analisis kemampuan belief siswa di suatu sekolah
DAFTAR PUSTAKA
Muhtarom, Juniati, D., & Siswono, T. (2017). Pengembangan Angket Keyakinan Terhadap Pemecahan Masalah Dan Pembelajaran Matematika. Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika, 2(1), 55–64.
Firmansyah, M. A. (2017). Peran Kemampuan Awal Matematika Dan Belief Matematikaterhadap Hasil Belajar. Prima: Jurnal Pendidikan Matematika, 1(1), 55. https://doi.org/10.31000/prima.v1i1.255
Hammah, W. I. (2017). Analisis Belief Matematik Peserta didik Tingkat SMP.
Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika, 8(5), 55.
Muhtarom, Juniati, D., & Siswono, T. (2017). Pengembangan Angket Keyakinan Terhadap Pemecahan Masalah Dan Pembelajaran Matematika. Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika, 2(1), 55–64.
Sari, R. F., & Afriansyah, E. A. (2022). Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis dan Belief Siswa pada Materi Persamaan dan Pertidaksamaan Linear.
Plusminus: Jurnal Pendidikan Matematika, 2(2), 275–288.
https://doi.org/10.31980/plusminus.v2i2.1755
Syarifah, L. L. (2016). Pengaruh Model Pembelajaran Dan Belief Matematika Terhadap Kemampuan Komunikasi Matematis. AlphaMath Journal of Mathematics Education, 2(2), 35.
Tanzila, S., & Nasution, H. A. (2022). Pengaruh Kecemasan Matematis dan Belief Matematika Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa. Jurnal MathEducation Nusantara, 5(2), 21. https://doi.org/10.54314/jmn.v5i2.233 Widjajanti, D. B. (2009). Mengembangkan Keyakinan Siswa Sekolah Dasar. 367–
370.