METODOLOGI IMAM TAQIYYUDDIN DALAM KITAB KIFAYATUL AKHYAR (Kajian tentang air Thohir Ghoiru Muthohhir dalam Prespektif Ilmu kesehatan )
Isna Finurika
Program Doktoral Institut Agama Islam Negeri Kediri Email: [email protected]
Abstrak
Kifâyatul Akhyâr fî halli ghâyatul ikhtishâr karya Imam Taqiyuddin Abi Bakar Muhammad al-Husaini al-Hishni merupakan salah satu kitab yang banyak dikaji di pesantren-pesantren di Indonesia terutama pesantren-pesantren salaf, yang merupakan kitab fiqh Madzhab Syafi’i muta’akhirin. yang juga banyak dijadikan rujukan oleh ulama-ulama di Indonesia. Kitab ini menyajikan model membaca kitab kritis-metodologis (manhaji) bukan hanya sekedar membaca kitab dengan model taqlidi atau “imani”, yang tidak menghasilkan sesuatu yang baru dalam kitab karena jika membaca dengan model taqlidi atau “imani” hanyalah ibarat penumpang yang tidak tahu akan dibawa kemana. Maka sebetulnya Imam Al Hishni sudah mendidik para pembacanya agar membaca persoalan Fiqih secara manhaji, bukan sekedar taqlid terhadap satu pendapat saja. pada setiap babnya beliau memberikan Iktilaf ulama’ kita dituntut untuk menyelesaikan perdebatan dengan menganalisa manhaj (metodologi) yang digunakan masing-masing ulama.
Bukan hanya sekedar taqlid terhadap satu pendapat tanpa mengetahui argumentasinya. Dengan pembacaan model ini akan menjadikan Fiqih lebih aktual dan relevan dengan zamannya. Sehingga persoalan apapun yang muncul akan terjawab, sekalipun itu tidak ditemukan dalam kitab klasik.
Kata Kunci: Kifâyatul Akhyâr, Imam Taqiyuddin, Thohir Ghoiru Muthohhir
A. Pendahuluan
Hukum Islam atau yang sering disebut Fiqih termasuk disiplin ilmu sangat diminati sebagian besar masyarakat Islam di Indonesia. Hal ini tampak dari tema-tema yang diangkat dalam pengajian umum maupun forum-forum diskusi di pesantren yang kerap menjadikan Fiqih sebagai pokok pembahasan. Bahkan, terkesan kalau Fiqih adalah ajaran paling inti dalam Islam. Posisi Fiqih bak penguasa dalam pemerintahan yang memiliki otoritas melakukan intervensi kepada siapa saja. Sehingga problem apapun bisa dipandang dan dijelaskan dalam perspektif Fiqih. Orang pesantren tidak perlu lagi belajar
Ilmu Politik untuk menjelaskan bagaimana pemerintahan yang ideal. Akan tetapi, mereka cukup mengacu kepada kaidah Fiqih, “Tasharruful imam ‘alar-ra’iyyah, manuthun bil mashlaha." 1
Fiqih terkesan terlalu menghegomoni dalam tubuh orang Islam Indonesia, khususnya pesantren. Sebab, semuanya serba dijelaskan dengan Fiqih. Seolah-olah pesantren “lebay” dan terlalu kreatif dalam improvisasi. Apa hubungan Fiqih dengan Demokrasi, HAM, dan toleransi? Apakah dalam Fiqih dibahas mengenai Demokrasi, HAM, dan toleransi? Tentu saja tidak, namun begitulah kehebatan orang-orang pesantren dalam memahami turas agar relevan dengan konteksnya. Singkatnya, “al-muhafazhah alal-qadim ash-shalilh wal akhdz bil jadid al-ashlah.”2
Fiqih bisa diibarat dengan pisau bermata dua, ia akan menjadi progresif apabila dibaca secara cerdas. Sebaliknya, bagi pembaca yang “salah paham” dengan Fiqih ia akan terjebak kepada taqlid yang membabi buta, atau kalau tidak ia akan menjadi orang yang anti Fiqih. Karean Kitab Fiqih yang ada dihadapan mata kita saat ini adalah hasil dari jerih payah ulama klasik. Pastinya, kitab ini ditulis dalam tempo waktu yang berbeda dengan saat ini. perbedaan waktu tentu juga berpengaruh terhadap kejadian, peristiwa, dan kondisi sosial yang ada pada waktu itu. walhasil, realitas ketika kitab terlahir dari pena penulisnya tidak berbanding lurus dengan apa yang dihadapi oleh pembacanya saat ini. Fakta semacam inilah yang dimaksud dengan Fiqih ibarat bermata dua. Orang akan menjadi anti Fiqih atau jatuh kejurang taqlid ketika ia tidak memahami kapan Fiqih itu dibuat dan persoalan apa yang dihadapinya saat itu. bagi si pembaca yang seperti ini, ia kan mengklaim kalau kitab-kitab Fiqih klasik tidak relevan dengan zamannya, sebab tidak membahas persoalan aktual. Kemudian, bagi pembaca yang kedua akan terus menerus jatuh kejurang taqlid dan anti perubahan, karena yang ada dalam kitab Fiqih hanya pendapat-pendapat ulama yang terkadang tidak disebutkan alasan dan argumentasi.
Sehingga menjadi sulit bagi kita untuk menumukan pijakan-pijakan rasionalitas dari pendapat yang ia munculkan. Padahal, permasalah selalu berkembang terus menerus tanpa henti, sedangkan teks sangatlah terbatas, demikian Ibn Rusyd menyebutkan.
Disinilah membaca kitab Kifâyatul Akhyâr fî halli ghâyatul ikhtishâr menemukan konteksnya. kitab ini ditulis oleh Imam Taqiyuddin Abi Bakar Muhammad al-Husaini al-H ishni, seorang ulama yang berasal dari Damaskus. Sebenarnya kitab yang ditulis oleh
1 H. Ah. Djazuli, Kaidah kaidah fiqih: kaidah-kaidah hukum islam dalam menyelesaikan masalah praktis, prenada media, jakarta: 2009, hal 28
2 Ibid,hal 30
ulama abad 9 ini adalah berupa komentar terhadap kitab ghayâtul ikhtisâr, karya Al-Qadhi Abu Syujak Ahmad al-Husain bin al-Isfahani3 (533-593 H). Imam Al Hishni terbilang ulama yang prolifik sekaligus produktif kala itu, hal ini tampak dari banyaknya karya yang timbul dari ukiran pena beliau. Selain Kifayatul Akhyar beliau memiliki beberapa karya lain, seperti Syarah Tanbîh, Syarah Minhâj, Syarah Muslim, Talkhîs Takhrij AHadis Ihya, Talhkhisul Muhimmat, Qawaid Fiqih, Ahwalul Qubur, Siyaru Nisa` as-Salaf al-‘Abidat, Ta dibul Qaum, dan lain-lain.4
Kifâyatul Akhyâr fî halli ghâyatul ikhtishâr merupakan salah satu kitab yang banyak dikaji di pesantren-pesantren di Indonesia terutama pesantren-pesantren salaf, yang merupakan kitab fiqh
5 Madzhab Syafi’i muta’akhirin. yang juga banyak dijadikan rujukan oleh ulama-ulama di Indonesia. Kitab ini menyajikan model membaca kitab kritis-metodologis (manhaji) bukan hanya sekedar membaca kitab dengan model taqlidi atau “imani”, yang tidak menghasilkan sesuatu yang baru dalam kitab karena jika membaca dengan model taqlidi atau “imani” hanyalah ibarat penumpang yang tidak tahu akan dibawa kemana.6 Maka jika ditelisik lebih dalam, sebetulnya Imam Al Hishni sudah mendidik para pembacanya agar membaca persoalan Fiqih secara manhaji, bukan sekedar taqlid terhadap satu pendapat saja. Hal ini dapat dilihat dalam penjelasan yang dipaparkan pada setiap babnya beliau memberikan Iktilaf ulama’ kita dituntut untuk menyelesaikan perdebatan dengan menganalisa manhaj (metodologi) yang digunakan masing- masing ulama. Bukan hanya sekedar taqlid terhadap satu pendapat tanpa mengetahui argumentasinya. Bisa jadi kesimpulan kita akan sama dengan ulama sebelumnya, bisa jadi tidak.
Sebab yang diikuti bukanlah pendapatnya, akan tetapi metodologinya. Dengan pembacaan model ini akan menjadikan Fiqih lebih aktual dan relevan dengan zamannya. Sehingga persoalan apapun yang muncul akan terjawab, sekalipun itu tidak ditemukan dalam kitab klasik.
B. Pembahasan
1. Biografi Imam Taqiyyuddin Al Hishni
3 Nama Lengkapnya adalah al-Qhodi Abu Syuja’ Ahmad bin Husain bin Ahmad al-Ashfihani al-‘Ibadani asy-Syafi’i lahir di Bashrah pada Tahun 433 H dan wafat di Madinah pada Tahun 593 H.
4 Dwi mulyani, Afiksasi dalam penerjemahan : studi kasus terjemahan kitab kifayatul akhyar jilid III Bab Sumpah dan Nazar oleh Achmad Zaidun dan A.Ma'ruf Asrori, Al Zahra jounal for Islamic and Arabic studies, no 1 vol. 2, 2012
5 Ilmu Fiqh, memiliki istilah-istilah tertentu yang harus dipahami terlebih dahulu sebelum lebih lanjut membaca kitab-kitab fiqh dan mendalaminya lebih jauh, secara garis besar istilah-istilah fiqh tersebut dibagi menjadi dua, pertama; yaitu istilah-istilah fiqh yang bersifat umum yang dipergunakan di dalam ilmu fiqh secara umum dimana istilah-istilah tersebut dipahami dan disepakati hampir semua madzhab fiqh yang memiliki makna dan pemahaman yang sama pada kebanyakan kitab fiqh dari berbagai madzhab, dan yang kedua; istilah-istilah yang bersifat khusus yang hanya dipergunakan dalam madzhab tertentu dan tidak ada dalam madzhab yang lain.
Memhami istilah-istilah ini merupakan sesuatu yang sangat penting dalam literatur-literatur madzhab-madzhab fiqh, terutama literatur fiqh klasik, hal ini dimaksudkan untuk menggambarkan peta pemikiran fiqh di kalangan ulama klasik. (Wahba al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh (Damaskus : Dar al_fikr, 1985) Juz 1 Hal 51
6 Ilham Mirsal, Khazanah Kitab Kuning: Membangun Sebuah Apresiasi Kritis, Serambi Tarbawi, Jurnal studi pembinaa, riset dan pengembangan pendidikan Islam, Vol 8 n0 1, 2020, hal 28
Nama lengkap Imam Taqiyuddin al Hishni adalah Imam Abu Bakar bin Muhammad bin 'Abdul Mu'min bin Hariz bin Mu`alla bin Musa bin Hariz bin Sa`id bin Dawud bin Qaasim bin 'Ali bin 'Alawi bin Naasyib bin Jawhar bin 'Ali bin Abi al-Qaasim bin Saalim bin 'Abdullah bin 'Umar bin Musa bin Yahya bin 'Ali al-Ashghar bin Muhammad at-Taqiy bin Hasan al-'Askari bin 'Ali al-'Askari bin Muhammad al-Jawaad bin 'Ali ar-Ridha bin Musa alKaadhzim bin Ja'far ash-Shodiq bin Muhammad al-Baaqir bin 'Ali Zainal 'Abidin bin al-Husain cucu Rasulullah saw, seperti ini yang tercantum pada kitab Syudurat al dzahab. Al Hishni merupakan penisbatan kepada al Hishn, sebuah kota di Hauran ( Dahulu Syam Sekarang Damaskus ).7
Beliau seorang Imam Alim Rabbani Ahli Zuhud dan Wira’i, beliau juga seorang ulama besar dan ahli sufi bermazhab Syafii. Imam Taqiyuddin al Hishni nasab dia berada pada Qadli Husban, 752 dilahirkan pada tahun H (1369 M), dan wafat pada Rabu, 14 Jumadil Akhir 829 H (1446 M) di Damaskus. Dalam pengembaraan intektualnya Imam Taqiyuddin al Hishni mendatangi Damsyiq/Dimasyqa dan tinggal di al Badraiyah. Dia banyak belajar pelbagai disiplin ilmu agama kepada para ulama besar yang ada pada saat itu. Di antaranya adalah: Syaikh Abul 'Abbas Najmuddin Ahmad bin 'Utsman bin 'Isa al- Jaabi, Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Sulaiman ash-Sharkhadi, Syaikh Syarafuddin Mahmud bin Muhammad bin Ahmad al-Bakri, Syaikh Syihaabuddin Ahmad bin Sholeh az-Zuhri, Syaikh Badruddin Muhammad bin Ahmad bin 'Isa, Syaikh Syarafuddin 'Isa bin 'Utsman bin 'Isa al-Ghazi, Syaikh Shadruddin Sulaiman bin Yusuf al-Yaasufi.8
Sepanjang hidupnya, Imam Taqiyuddin al Hishni banyak menulis kitab besar dan memilki reputasi yang sangat tinggi, diantaranya;
1) Da’fu Syubahi Man Syabbaha Wa Tamarrada Wa Nasaba Dzalika Ila asy-Sayyid al-Jalil al-Imam Ahmad;
2) Syarah Asmaullah al-Husna;
3) At-Tafsir;
4) Syarah Shohih Muslim (yang terdiri dari 3 jilid);
5) Syarah al-Arbain an-Nawawi;
6) Ta’liq Ahadits al-Ihya;
7) Syarah Tanbih (terdiri dari 5 jilid);
8) Kifayah Al-Akhyarh al-Akhyar fi Hall Ghayah al-Ikhtishar;
9) Syarah an-Nihayah;
7 Muhammad Ajib, Bermadzhab adalah tradisi ulama’ salaf, ( lentera Islam press, Jakarta : 2015), hal. 21
8 Ibnu Qodhi Sihba, Tabaqat al-Syafi’iyyah, (India : Majlis Da’irah al-Ma’arif, 1980) hal 98
10) Talkhis al-Muhimmat (2 jilid);
11) Syarah al-Hidayah;
12) Adab al-Akl wa asy-Syarab;
13) Al-Qawaa’id;
14) Tanbih as-Saalik;
15) Qami’un Nufuus;
16) Siyarus Saalik;
17) Siyarush Sholihat;
18) Al-Asbaabul Muhlikaat;
19)Ahwal al-Qubur;
20)Al-Mawlid; dan
21) Qo’am an-Nufus wa Ruqyah al-Ma’yus9.
Disamping itu beliau juga memilki karya tulis bidang hadist yaitu takhrij, meskipun karya ini belum tuntas. Sekian banyak karya beliau, ini menunjukkan kedalaman dan keluasaan ilmu yang dimiliki oleh Imam Taqiyuddin al Hishni. Namun demikian, Sebagian ulama juga mendapati karomah kewalian beliau. Sebagaimana disebutkan oleh Syekh Yusuf bin Ismail an-Nabhani dalam kitabnya “Jaami Karaamaat al-Awliya’ juz 1 halaman 621-622, Imam Taqiyuddin al Hishni merupakan seorang ulama yang memiliki kemuliaan tinggi, sebagaimana disebutkan pada waktu para mujahidin berperang di Cyprus, banyak diantara mereka yang melihatnya ikut membantu perjuangan umat Islam, sehingga akhirnya umat Islam memperoleh kemenangan. Ketika mereka menceritakan hal itu kepada murid-muridnya di Damaskus, para muridnya menyatakan bahwa Imam Taqiyuddin al Hishni tidak pergi kemana-mana dan senantiasa mengajarkan ilmu di Damaskus. Dalam suatu kesempatan, Imam Taqiyuddin al Hishni juga terlihat di Makkah dan Madinah mengerjakan ibadah haji bersama umat Islam lainnya, namun diwaktu yang sama murid-muridnya sedang bersama Imam Taqiyuddin al Hishni belajar ilmu agama.10
2. Sistematika Pembahasan dalam kitab Kifayah al-Akhyar
Kitab Kifayah al-Akhyar atau nama lengkap kitab ini adalah Kifayah al-Akhyar fi Hall Ghayah al-Ikhtishar. Makna “kifayah” adalah “mencukupi”, “Al-Akhyar” adalah bentuk jamak dari “khoir” yang berarti “manusia terbaik”, “hall” dapat dimaknai
“menguraikan”, jadi secara keseluruhan bisa dimaksudkan sebagai kitab yang isinya sudah
9 Al-Babani, Hadiyyah al-Arifin, lihat Maktabah Syamillah Juz 1 hal 126
10 Syaikh Yusuf bin Ismail al-Nabhani, Jammi Karaamaatil Awliya Juz 1 Hal 621-622
mencukupi orang-orang baik yang ingin belajar agama (mewakili ulama terbaikdalam hal mensyarah), yakni dengan cara menguraikan, menjelaskan dan mensyarah kitab “Ghoya al-Ikhtishor”.11
Kitab Kifayah al-Akhyar dalam sistematika pembahasanya dibagi dalam dua pokok pembahasan yang cukup rinci dan detail dalam menerangkan satu topik pembahasan dengan sistematika yang sangat baik sebagaimana kitab-kitab fiqh pada umumnya karena merupakan kitab penjelas dari kitab Ghoyah wa al-Ikhtisor karya Abu Syuja’ As-Sifhani.
Dalam kitab Kifayah al-Akhyar menerangkan beberapa permasalahan hukum12 yang hukumnya telah disepakati para ulama-ulama fiqh beserta alasannya, disamping itu juga dikemukakan masalah-masalah yang hukumnya masih diperdebatkan; Juz pertama membahas tentang Thaharah (bersuci) berjumlah 17 pasal, bab sholat 16 pasal, bab zakat 15 pasal, bab puasa 7 pasal, bab haji 5 pasal, dan bab jual beli 23 pasal serta dalam setiap pembahasan selalu diawali dengan penjelasan makna dari masing-masing hukumnya kemudian dilanjutkan dengan pembahasan macam-macamnya dan Juz kedua teridiri dari bab luqothah, waris, dan wasiat, bab nikah, jinayat, (pidana), jihad, peradilan, rinciannya sebagai berikut : 13
Juz 1 :
a) Kitab/bab ath-Thoharah b) Kitab/bab ash-Sholat c) Kitab/bab az-Zakat d) Kitab/bab ash-Shiyam e) Kitab/bab al-Hajji f) Kitab/bab al-Buyu’
Juz II
a) Kitab/bab al-Faraidl wa al- Washoyaa
b) Kitab/bab al-Nikah c) Kitab/bab al-Jinayat d) Kitab/bab al-Hudud e) Kitab/bab al-Jihad
Target ditulisnya kitab ini ada dua macam orang sebagaimana yang diterangkan oleh Imam Taqiyuddin al Hishni sendiri; Pertama ; orang yang mempunyai beban yang tidak ada kesempatan untuk bersinggungan dengan ulama, Kedua ahli ibadah yang fokus pada ibadahnya bukan fokus ke ilmu. Oleh karena itu, meskipun kitab ini berbentuk syarah, tetapi isinya ringkas untuk memberikan pemahaman yang mudah bukan diperuntukkan bagi siapa saja yang ingin mendalami dan menguasai secara tuntas.
11 Imam Taqiyuddin Abi Bakar Ibn Muhammad A Husaini Al Hishni Al Dmasyqy Al Syafi’I, Kifayah Al Akhyar fii Halli Ghayah Al IKhtisar, Dar al Kutub al Islamiyah, Hal 300
12 Ibid
13 Ibid , h. 7
Dalam mensyarah, hal paling menonjol yang dilakukan Imam Taqiyuddin al Hishni adalah memberikan dalil dan ta’lil (reasoning) setiap kali menyajikan hukum.
Imam Taqiyuddin al Hishni juga ahli dalam hadist, oleh karena itu wajar jika beliau cukup piawai dalam menyajikan dalil-dalil dari hadist pada saat mensyarah kitab ini.perhatiannya terhadap hadist cukup tinggi. Dalam kasus fiqh terkadang belaiu menyebut lebih dari satu dalil, dan dalam satu hadist kadang beliau menyebut sejumlah variasi Riwayat. Beliau juga menyempatkan diri untuk menjelaskan sejumlah lafadz hadist, takhrij hadist, sanad, matan dan kualitas hadistnya. Hampir setiap masalah hukum yang disebutkan senantiasa disertai istidlal dari al-Qur’an, as-Sunnah, Ijma’ dan Qiyas, kitab ini diharapkan bisa mencukupi bagi seseorang yang menuntut ilmu sehingga telaah terhadap kitab-kitab hadist hukum tidak diperlukan lagi14. Selain mensyarah Imam Taqiyuddin al Hishni juga mengkritik beberapa kelompok di zamannya; mengkritik qodhi yang menerima suap dan sebagian pemerintah yang dipandangya korup.
Referensi utama dari kitab Kifayah al-Akhyar adalah kitab Roudlotu ath-Tholibin k arya an-Nawawi. Cara menguraikan kasus-kasus fiqh, rincian-rinciannya, penyajian ikhtilaf, termasuk tarjihnya, mengikuti gaya dan cara an-Nawawi. Bahkan tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Imam Taqiyuddin al Hishni terkadang menukilnya dari Roudlotu ath-Tholibin secara lengkap redaksinya tanpa mengubahnya. Hanya saja Imam Taqiyuddin al Hishni merujuk secara kritis, sehingga kadang-kadang beliau memberikan koreksi (ta’qib), melengkapi, merinci hukum dan juga mengkritik, jika mengoreksi Imam Taqiyuddin al Hishni maka akan mengawali dengan “qultu” dan diakhiri dengan
“wallahu’alam”.
Referensi lain yang dipakai Imam Taqiyuddin al Hishni adalah al-Umm, ar- Risalah karya asy-Syafi’i, Mukhtashor al-Buwathi Al-Khisol karya al-Khoffaf, Mukhtashor al-Muzani at-Talkhish karya Ibnu al-Qosh, Al-Ifshoh karya al-Hasan ath- Thobari, Jam’u al-Jawami karya Ibnu Ifris, at-Taqrib karya al-Qoffal asy-Syasyi, Fatawa al-Qoffal al-Faruq karya Abdullah al-Juwaini Ta’liq Abu ath-Thoyyib ath-Thobari, al- Hawi al-Kabir karya al-Mawardi, al-Ibanah karya al-Furoni, at-Ta’liqoh karya Qodhi Husain, at-Tanbih karya asy-Syirozi, asy-Syamil karya Ibnu ash-Shobbagh, Tatimmatu al- Ibanah karya al-Mutawalli, Nihayatu al-Mathlab karya Imamul Haromain, al-Uddah karya al-Husain ath-Thobbari, Bahru al-Madzhab karya ar-Ruyani, al-Kafi, Ihya’
Ulumiddin karya, al-Wajiz, al-Wasith karya al-Ghozzali, al-Mustazhhiri karya al-Qoffal
14 Ibid. Hal 9-10
asy-Syasyi, at-Tahdzib karya al-Baghowi, Fatawa al-Baghowi, adz-Dzakhoir karya al- Makhzumi, al-Bayan karya al-Imroni, al-Istiqsho karya al-Maroni, al-Amali karya ar- Rofi’i, asy-Syarhu ash-Shoghir, karya ar-Rofi’i, asy-Syarhu al-Kabir, Syarah Musnad asy-Syafi’i karya ar-Rofi’i.
Kifayah al-Akhyar juga menjadi sumber data penting untuk mengetahui ikhtilaf asy-Syaikhoni (ar-Rofi’i dan an-Nawawi) karena Imam Taqiyyuddin Al Hishni cukup serius menyebut ikhtilaf-ikhtilaf keduanya. Imam Taqiyyuddin Al Hishni tidak saja menukil ikhtilaf tetapi juga mentahqiqnya, meskipun Imam Taqiyyuddin Al Hishni menghormati keduanya, tetapi beliau juga kritis saat mensyarah, terutama jika menemukan inkonsistensi dari keduanya. Dalam satu pembahasan beliau menyatakan keberatan terhadap ar-Rofi’i yang menulis dalam al-Muharror bahwa memandikan jenazah yang mati tenggelam tidak wajib karena sudah bersih, sementara dalam dua syarah ar-Rofi’i (asy- Syarhu ash-Shoghir dan , asy-Syarhu al-Kabir) beliau menyatakan wajibnya memandikan orang yang mati tenggelam. Imam Taqiyyuddin Al Hishni juga mengkritik an-Nawawi dalam Roudhotu ath-Tholibin yang menulis bahwa orang yang mengucapkan “Ya Luth”
(wahai orang homo) dihukumi melakukan qodzaf shorih/lugas, sementara dalam Tashihu at-Tanbih disebutnya lafadz kinayah.
Sisi lain yang menunjukkan kualitas dari kitab Kifayah al-Akhyar adalah isinya dijadikan rujukan dan dikutip oleh Zakariyya al-Anshori dalam Asna al-Matholib dan al- Ghuroru al-Bahiyyah, ar-Romli dalam Nihayatu al-Muhtaj dan fatawanya al-Khothib asy- Syirbini dalam Mughni al-Muhtaj dan al-Bujairomi dalam Hasyiyah al-Iqna atau yang lebih dikenal dengan nama al-Bujairomi ‘ala al-Khothib yang juga dikutip oleh ulama diluar madzhab asy-Syafi’i seperti Ibnu Abdidin al-Hanafi dalam Roddu al-Muhtar.15
3. Thohir Ghoiru Mithohhir ( Ma’ul Musta’mal )
Pembahasan Jenis-jenis air merupakan pembahasan pembuka pada Bab bersuci di kitab Kifayah Al Akhyar, Karena Air komponen utama yang digunakan untuk mengangkat hadas kecil (wudhu) dan juga hadas besar (mandi junub). Namun tidak semua air suci dapat menyucikan jika air itu telah berubah sifat mulai dari warna, bau, dan rasa seperti salah satunya adalah air musta’mal, Air musta'mal adalah air yang telah dipergunakan untuk bersuci dalam ibadah atau hal-hal fardhu. Mazhab Syafii sepakat, bahwa air musta'mal itu tidak bisa dipergunakan untuk bersuci dan juga tidak bisa mensucikan dari najis meskipun
15 Ibid, hal 11
air tersebut suci, karena sudah dipergunakan, terdapat tiga kategori air musta'mal yang wajib diketahui: pertama air musta'mal adalah air yang sudah dipakai bersuci, bukan sisa.
Kata musta'mal berasal dari dasar "ista'mala yasta'milu" yang bermakna menggunakan atau memakai. Definisi secara syariat adalah air yang sudah digunakan untuk bersuci, yakni mengangkat hadats atau menghilangkan najis, yang sifatnya kewajiban. Imam Taqiyyuddin Al Hishni memperjelas dengan pernyataannya “ kalau memang tidak berubah airnya dan tidak bertambah timbangannya setelah digunakan. Jadi airnya suci “, karena sabda Nabi Muḥammad s.a.w.:16
.هُحَيْرِ وْأَ هُمَعْطَ رَيَّغَ لَّاإِ ءٌيْشَ هُسُجِّنَيْ لَّا ارِوْهُطَ ءٌامَلْا هُللْا قَلخَ
“Allah menciptakan air itu suci mensucikan. Tidak ada satu perkara yang boleh mennajiskan air itu, kecuali perkara itu boleh merubah rasanya atau baunya.” Di dalam riwayatnya Ibnu Mājah ada tambahan: atau warnanya. Hadits riwayat Ibnu Mājah ini dha‘īf. Yang pasti ialah rasa dan baunya saja.
Kedua air musta'mal itu suci. Air musta'mal itu statusnya suci, akan tetapi dia tidak mensucikan alias tidak bisa dipakai untuk mengangkat hadas atau menghilangkan najis. Ada khilāf. Madzhab yang kuat berpendapat tidak boleh mensucikan. Sebab para sahabat Nabi yang demikian perhatiannya terhadap agama (ibadah), tidak pernah menampung air untuk digunakan wudhu’ lagi. Andaikata menampung seperti itu boleh, tentu mereka akan melakukannya padahal mereka berada di tempat dan waktu yang sangat butuh sekali kepada air. 17
Para Ulama Syāfi‘ī saling berselisih pendapat mengenai ‘illat (alasan) tidak diperbolehkannya menggunakan untuk wudhu’ lagi. Qaul yang shaḥīḥ, alasannya air tersebut sudah digunakan untuk mengerjakan fardhu. Ada yang mengatakan: Alasannya air tersebut sudah digunakan untuk mengerjakan ibadah. Adanya khilāf jika Air yang digunakan untuk bersuci sunnat, seperti untuk memperbarui wudhu’, atau mandi sunnat, atau basuhan yang kedua atau yang ketiga kali. Kalau menurut qaul yang shaḥīḥ, air tersebut boleh mensucikan, artinya boleh digunakan untuk berwudhu’, sebab belum digunakan untuk yang fardhu. Kalau menurut qaul yang dha‘īf, tidak boleh mensucikan, sebab sudah digunakan untuk beribadah.
16 Syarifuddin Anwar, Mishbah Mushthafa, Terjemah Kifayatul Akhyar,
17 Ibid, hal 12
Ketiga bekas basuhan tubuh kita jika sudah terpisah itulah musta'mal. Air yang berada di satu anggota tubuh lalu mengalir ke bagian lain di anggota tubuh yang sama tidak disebut musta'mal. Jika kita fahami maka diumpamakan Seperti air yang mengalir dari telapak tangan kelengan lalu ke telapak lagi maka tidak musta’mal tetapi jika air pindah u ntuk membasuh atau mengusap ke anggota tubuh lain itulah air yang disebut musta'mal, Terpisah yang dimaksud adalah air pindah ke anggota tubuh lain tidak dengan mengalir melainkan terpisah, seperti jatuh dari muka ke kaki, atau terciprat, Imām Ḥarāmain berpendapat Apabila beralihnya itu disengaja, airnya menjadi musta‘mal. Kalau tidak disengaja, tidak menjadi musta‘mal. Di dalam kitab at-Taḥqīq, Imām Nawawī menganggap shaḥīḥ adanya air itu musta‘mal. Ibnu Rif‘ah menganggap shaḥīḥ, air itu tidak musta‘mal. Kesimpulanya kita harus membedakan antara sengaja atau tidak sengaja.
Jika ia sengaja menampung air basuhan kepala dengan kaki maka air yang di kaki itu musta'mal. Jika tidak sengaja seperti cipratan dengan sendirinya itu tidak disebut musta'mal.
Seandainya orang yang junub memasukkan tubuhnya ke dalam air yang sedikit – kurang dari dua qullah – tetapi air tersebut dapat meratai seluruh anggota badannya, kemudian ia berniat, janabahnya jadi terangkat tanpa ada khilāf. Dan airnya menjadi musta‘mal untuk orang selain di dan untuk dia sendiri tidak musta‘mal. Demikian itu diterangkan oleh al-Khawārizmī, sampai beliau berkata: Sekiranya orang tersebut hadats lagi ketika masih di dalam air, hadats yang kedua itu terangkat lagi selama dia masih berada di dalam air itu.
تِارَهِاطَّلْا نَمِ هُطَّلْاخَ امَبِ رَيَّغَتَمَلْا وْ
[Demikian juga air yang berubah sebab adanya sesuatu yang mencampuri berupa benda yang suci]. Jadi kalimat tersebut mengandung arti : Air yang berubah oleh sesuatu yang mencampuri berupa benda yang suci, itu juga dihukumkan suci yang tidak mensucikan, sama dengan air musta‘mal. Ketentuan mengenai air yang berubah ini ialah setiap perubahan yang menghilangkan nama air mutlak itu boleh menghilangkan sifat suci mensucikan. Jika tidak menghilangkan nama air mutlak, maka tidak hilanglah sifat suci mensucikan itu.18
Apabila berubahnya air tersebut hanya sedikit, menurut qaul ashaḥḥ, tetap suci mensucikan, sebab nama air mutlak masih tetap. Kata pengarang “sebab adanya sesuatu yang mencampur”, itu mengecualikan perubahan air yang disebabkan oleh sesuatu yang
18 Ibid, hal 12
mendampingi (sekira-kira sesuatu itu dapat dipisahkan), walaupun berubahnya banyak.
Karena air yang berubah oleh sesuatu yang mendampingi itu tetap mensucikan. Misalnya air yang berubah sebab minyak atau sebab lilin. Hukum ini adalah hukum yang shaḥīḥ.
Sebab nama air mutlak masih tetap. Untuk tetapnya nama air thāhir ghairu muthahhir, disyaratkan adanya sesuatu yang masuk ke dalam air harus berupa benda yang mudah untuk dapat dipisahkannya. Misalnya kunyit, kapur dan lain-lain. Kalau berubahnya disebabkan oleh sesuatu yang tidak mudah untuk dipisahkannya, seperti tanah liat, kiambang, tanad kapur, atar dan lain-lain, yang ada di kolam yang ditempati air atau di tempat-tempat yang dilalui oleh air, dan juga air yang berubah karena lama tergenang, maka air yang demikian itu suci dan mensucikan, karena sulit untuk dipisahkan, dan lagi pula namanya masih tetap dipanggil air.
Dalam masalah berubahnya air itu cukup dengan salah satu dari tiga sifat ini, yaitu rasa, warna dan bau. Demikian menurut qaul yang shaḥīḥ. Di dalam sebuah Hadits yang dha‘īf, disyaratkan ketiga-tiganya harus berubah. Andaikan air tersebut berubah sebab tanah yang dimasukkan ke dalamnya dengan sengaja, maka air tersebut tetap suci mensucikan menurut qaul yang shaḥīḥ. Air yang berubah sebab garam, mempunyai banyak wajah. Wajah yang ashaḥḥ, garam boleh menghilangkan sifat mensucikan, jika garamnya garam gunung. Jika garam air, tidak. Andaikata air itu berubah sebab daun-daun yang rontok dengan sendirinya, maka kalau daun tersebut belum hancur di dalamnya, airnya tetap suci mensucikan menurut qaul yang azhhar. Kalau daun tersebut sudah hancur dan bercampur dengan air, mempunyai beberapa wajah. Wajah yang ashaḥḥ, tetap suci mensucikan, karena sulitnya menjaga air dari kerontokan daun-daun itu. Kalau daun- daun tersebut dengan sengaja dimasukkan ke dalam air dan airnya berubah sebab daun- daun itu, menurut mazhab yang kuat, airnya tidak boleh mensucikan, baik waktu dimasukkan daunnya dalam keadaan utuh atau sudah ditumbuk
Imam Taqiyyuddin Al Hishni mempunyai manhaj atau metodologi tersendiri dalam setiap pembahasan yang beliau paparkan dalam kitab Kifayah termasuk pada pembahasan Thohir Ghoiru Mithohhir Air yang Suci tetapi tidak bisa mensucikan ( Air Musta’mal ). Beliau memaparkan secara rinci apa itu air Musta’mal sebagaiman 3 kategori diatas beserta pedebatan anatar Qoul shohih dan Dho’if serta ikhtilaf ulama’ beserta illat al asan logis ditetapkannya hukum boleh atau tidaknya air tersebut digunakan untuk bersuci.
Dari kitab kifayah ini kita dituntut untuk menyelesaikan perdebatan dengan menganalisa manhaj (metodologi) yang digunakan masing-masing ulama. Bukan hanya sekedar taqlid terhadap satu pendapat tanpa mengetahui argumentasinya. Bisa jadi
kesimpulan kita akan sama dengan ulama sebelumnya, bisa jadi tidak. Sebab yang diikuti bukanlah pendapatnya, akan tetapi metodologinya. Dengan pembacaan model ini akan menjadikan Fiqih lebih aktual dan relevan dengan zamannya. Sehingga persoalan apapun yang muncul akan bisa di temukan jawabannya.
4. Air Thohir Ghoiru Muthohhir dalam Prespektif Ilmu Kesehatan
Air bersih adalah air yang memenuhi syarat-syarat yang suci dan menyucikan.
Sedangkan air bersih menurut syarat-syarat kesehatan secara garis besar adalah air yang tidak berwarna (bening dan tembus pandang), tidak berubah rasanya dan tidak berubah baunya, serta tidak mengandung zat-zat dan kuman yang mengganggu kesehatan.19
Menurut definisi dari Kementrian Kesehatan, air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat-syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Adapun syarat kesehatan yang dimaksud adalah meliputi persyaratan mikrobiologi, fisika, kimia, dan radio aktif. Secara terinci syarat-syarat tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 492/MENKES/PER/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum.20
Eksperimen yang membandingkan air suci yang lebih dan kurang dari 2 qullah dalam pengamatan warna air sebagai syarat-syarat air wudhu. Kemajuan dunia fotografi dan keterjangkauannya saat ini seharusnya tidak menyulitkan lagi dalam pengamatan kualitas dan persyaratan air wudhu, yakni membandingkan perubahan warna air yang disimpan selama waktu tertentu di tempat terbuka. Dengan pemotretan akan mudah dipahami mengapa air diam untuk wudhu perlu ditetapkan batasan volumenya, sedangkan untuk air mengalir tidak memiliki batasan tertentu. Eksperimen dan pengamatan perubahan intensitas warna zat terlarut dalam volume air yang berbeda, didiamkan atau diaerasi, akan dengan mudah dilihat dari hasil pemotretan. Perlu sedikit kreativitas untuk pengamatan ini, yakni sedikit sampel air dari masing-masing perlakuan disimpan dalam wadah kaca yang jernih, lalu difoto dengan menggunakan latar belakang permukaan yang putih bersih, misalnya kertas putih. Perbedaan intensitas warna dapat diberi tanda dengan skala bilangan, hasilnya air yang lebih dari 2 qullah walaupun diam tidak akan mudah berubah sifat airnya sedangkan yang kurang dari 2 qullah akan lebih mudah berubah sifat airnya mulai dari bau, rasa dan warnanya.21
19 Tim Penulis MUI, Air, kebersihan, sanitasi dan kesehatan lingkungan menurut agama Islam, Sekolah pascasarjana universitas Nasional, Jakarta:2015, hal 11
20 Ibid,
21 Dede suhendar, Fikih (Fiqh) Air Dan Tanah Dalam Taharah (Thaharah) Menurut Perspektif Ilmu Ki mia, Al Kimiya, vol 5 no 1 2016,hal 170
Persoalannya bahwa jumlah air di bumi ini tetap. Perubahannya hanya pada bentuk dalam mengikuti siklus hidrologi yang berputarsepanjang masa (air di daratan-air laut-uapair-hujan). Padahal penduduk dunia selalu bertambah dan kehidupannya semakin maju pula, sehingga pemakaiannya air semakin bertambah banyak untuk: (1) keperluan domestik (sehari-hari), (2) pertanian, (3) industri, (4) perikanan, (S) pembangkit listrik tenaga air, (6) navigasi serta (7) rekreasi.
Salah satu penggunaan air untuk kepentingan domestik itu ialah air bersih untuk minum dan menjaga kesehatan. Untuk maksud ini, air bersih itu harus direbus lebih dulu sampai mendidih agar zat-zat dan kuman yang berada di dalamnya itu mati sehingga tidak lagi mengganggu kesehatan. Mernin um air yang sudah masak atau di rebus itu merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan yang diperintahkan oleh agama.ir juga dapat dipergunakan untuk bersuci (thaharah). menyucikan badan, pakaian dan tempat dari hadats dan najis serta membersihkan sesuatu dari kotoran. Untuk maksud ini harus menggunakan air yang suci dan menyucikan sesuai dengan hukum syar'i.
Membersihkan sesuatu yang tidak berkaitan dengan ibadah 'yang syarat sahnya harus suci dari hadats dan najis seperti membersihkan lantai ubin, kendaraan dan lain sebagainya tidak seharusnya enggunakan air bersih yang suci menyucikan sesuai dengan hukum syar'i. Demikian pula untuk menyiram tanam-tanaman, menyiramjalan agardebunya tidak berterbangan atau untuk memandikan dan memberi minum binatang.karena Mengingat adanya keterbatasan persediaan air,
Pencemaran air yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup sangat dilarang, karena berkaitan dengan kesehatan, maka:
1. Sediakan air bersih, yang tidak tercemar, baik untuk keperluan minum maupun bersuci.
2. Jangan membiarkan air tergenang, karena airtergenang merupakan tempat berkembang biaknya binatang seperti nyamuk dan lalat yang menjadi sebab datangnya dan tersebarnya penyakit.
3. Sisakan halaman rumah untuk resapan air hujan. Jangan menutup seluruh halaman rumah dengan pengerasan (asal dan beton) karena air hujan tidak akan bisa meresap ke dalam tanah untuk menambah cadangan air tanah.
4. Arahkan kucuran air hujan dari atap rumah utuk bisa masuk ke sumur peresapan di ha la man rumah, sehingga tidak langsung dibuang ke jalan atau selokan.
5. Jangan mencemarkan air
Jika air sudah digunakan bersuci dan tidak memenuhi kriteria air banyak lebih dari 2 qulloh dalam tidak boleh digunakan bersuci kembali karena kalau dikaji dalam ilmu kimia, sifat Thohir muthohhirnya sudah hilang, maka lebih baik digunakan mensucikan sesuatu yang tidak berhubungan dengan ibadah seperti mencuci mobil, menyiram tanaman, mensucikan lantai ubin dan lain lain.
Daftar Pustaka
H. Ah. Djazuli, Kaidah kaidah fiqih: kaidah-kaidah hukum islam dalam menyelesaikan masalah praktis, prenada media, jakarta: 2009
Al-Babani, Hadiyyah al-Arifin, lihat Maktabah Syamillah Juz 1
Dede suhendar, Fikih (Fiqh) Air Dan Tanah Dalam Taharah (Thaharah) Menurut Perspekt if Ilmu Kimia, Al Kimiya, vol 5 no 1 2016,
Dwi mulyani, Afiksasi dalam penerjemahan : studi kasus terjemahan kitab kifayatul akhya r jilid III Bab Sumpah dan Nazar oleh Achmad Zaidun dan A.Ma'ruf Asrori, Al Zahra j ounal for Islamic and Arabic studies, no 1 vol. 2, 2012
Ibnu Qodhi Sihba, Tabaqat al-Syafi’iyyah, (India : Majlis Da’irah al-Ma’arif, 1980) Ilham Mirsal, Khazanah Kitab Kuning: Membangun Sebuah Apresiasi Kritis, Serambi
Tarbawi, Jurnal studi pembinaa, riset dan pengembangan pendidikan Islam, Vol 8 n0 1, 2020,
Imam Taqiyuddin Abi Bakar Ibn Muhammad A Husaini Al Hishni Al Dmasyqy Al Syafi’I, Kifayah Al Akhyar fii Halli Ghayah Al IKhtisar, Dar al Kutub al Islamiyah,
Muhammad Ajib, Bermadzhab adalah tradisi ulama’ salaf, ( lentera Islam press, Jakarta : 2015)
Syaikh Yusuf bin Ismail al-Nabhani, Jammi Karaamaatil Awliya Juz
Syarifuddin Anwar, Mishbah Mushthafa, Terjemah Kifayatul Akhyar, CV. Bina Iman, Surabaya: 2017,
Tim Penulis MUI, Air, kebersihan, sanitasi dan kesehatan lingkungan menurut agama Isla m, Sekolah pascasarjana universitas Nasional, Jakarta:2015,
Wahba al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh (Damaskus : Dar al_fikr, 1985) Juz 1