Pestisida
Pertanian ( Bagian
fungisida )
BAGIAN FUNGISIDA
CAKUPAN DAN PENGERTIAN FUNGISIDA
JENIS JENIS FUNGISIDA
MODE OF ACTION FUNGISIDA
FUNGISIDA KONTAK DAN SISTEMIK
TERJADINYA RESISTENSI PATOGEN
PENDAHULUAN
Pest = hama , sida= caedo= pembunuh
Fungus : Jamur, Caedo : membunuh
Pengendalian vektor secara kimia
FAO 1986 & PP RI No. 7, 1973
Campuran bahan kimia yang digunakan untuk mencegah, membasmi dan mengendalikakn hewan/tumbuhan
pengganggu seperti binatang pengerat, termasuk serangga penyebar penyakit, dengan tujuan kesejahteraan manusia
PP RI No. 6, 1995
Zat atau senyawa kimia, zat pengatur tubuh dan perangsang tumbuh, bahan lain, serta mikroorganisme atau virus yang digunakan untuk perlindungan
US EPA
Zat atau campuran zat yang digunakan untuk mencegah,
memusnahkan, menolak atau memusuhi hama dalam bentuk hewan, tanaman dan mikroorganisme pengganggu
SYARAT PESTISIDA
Membunuh dgn cepat (efektif dan efisien)
Tidak membahayakan binatang bertulang belakang
Murah dan mudah diperoleh di pasaran
Menguntungkan dalam pemakaian yg luas
Susunan kimia stabil (mempunyai residual efek)
Selektif
Tidak mudah terbakar
Mudah disiapkan
Tidak merusak barang
Bersih
Tidak mengeluarkan bau yang taidak menyenangkan
1) Kebanyakan dari fungisida digunakan untuk mengatasi penyakit daun dan
bagian-bagian tanaman lainnya di atas tanah.
2) mendesinfestasi dan melindungi benih atau umbi dari serangan patogen.
3) Beberapa fungisida dapat digunakan untuk mendesinfestasi tanah atau tempat
penyimpanan untuk melindungi luka, dan sebagainya.
Pada waktu sekarang telah diketahui beberapa macam fungisida yang mempunyai sifat terapetik atau eradikatif dan beberapa diantaranya dapat diabsorpsi oleh bagian dari tanaman dari tanaman dan secara sistematik ditranslokasikan ke tempat lain.
Klasifikasi pestisida
berdasarkan organisme sasaran - 1
abiotik biotik
1. Struktur tanah 2. Kesuburan tanah
3. Kekurangan unsur hara 4. Pencemaran air, udara
Gangguan pada tanaman
1. Hama (serangga, tungau, hewan menyusui, dan moluska)
2. Penyakit (jamur, bakteri, virus dan nematoda)
3. Gulma
Bisa dikendalikan dengan pestisida
Klasifikasi pestisida
berdasarkan organisme sasaran - 2
1. Insektisida : mengendalikan hama2. Akarisida : mengendalikan tungau
3. Moluskisida : mengendalikan hama dari bangsa siput (moluska)
4. Rodentisida : mengendalikan hewan pengerat / tikus
5. Nematisida : mengendalikan nematode
6. Fungisida : mengendalikan penyakit tanaman yang disebabkan oleh jamur/fungi
7. Bakterisida : mengendalikan penyakit tanaman yang disebabkan oleh bakteri
8. Herbisida : mengendalikan gulma Dsb.
KLASIFIKASI PESTISIDA
Berdasarkan organisme target
Insektisida : bunuh/kendali serangga
Herbisida : bunuh gulma
Fungisida : bunuh jamur/cendawan
Algasida : bunuh alga
Avisida : bunuh/kontrol pop burung
Akarisida : bunuh tungau/kutu/pinjal/caplak
Bakterisida : bunuh bakteri
Larvasida : bunuh larva
Molusksisida : bunuh siput
KLASIFIKASI PESTISIDA
Berdasarkan organisme target (lanjutan)
Nematisida : bunuh cacing
Ovisida : bunuh telur
Pedukulisida : bunuh kutu/tuma
Piscisida : bunuh ikan
Rodentisida : bunuh binatang pengerat
Predisida : bunuh pemangsa/predator
Termisida : bunuh rayap
Metisida : bunuh tengu/caplak (mites)
Defoliant : bunuh parasit tanaman
KLASIFIKASI PESTISIDA
Berdasarkan organisme target (lanjutan)
Repellent : penolak serangga
Attractant : penarik serangga
Dessicant : penyerap air
Anti transparant : pembalut daun agar tak kehilangan air
Plant growth regulator: pengatur pertumbuhan tanaman
Dampak penggunaan pestisida pertanian
Dampak bagi keselamatan pengguna 1. Keracunan 2. Gangguan
penyakit
Dampak bagi konsumen
1. Keracunan kronis yang tidak segera terasa
2. Keracunan akut ketika
mengkonsumsi produk yang mengandung residu pestisida
Dampak bagi kelestarian lingkungan 1. Lingkungan
tercemar
2. Terbunuhnya organisme non target
(terbunuhnya
musuh alami dari hama)
3. Resistensi OPT 4. Resurjensi OPT
5. Muncul hama baru
Dampak Sosial Ekonomi
1. Biaya produksi tinggi
2. Proses
perdagangan
terhambat karena residu pestisida tinggi
Penamaan Pestisida
Nama Kimia Nama Umum Nama Dagang
Manganeseethylenebis
(dithiocarbamate) Maneb Pilaram 80 WP
Rhonep 80 WP Sarineb 90 WP Phycozan 90 WP 3-(3,4-dichlorophenyl) 1,1-
dimethylurea Duron Bimaron 80 WP
Gulmaron 500 EC
0-(,4-bromo-2chlorophenyl 0-ethyl-s-propyl
phosporodhitioate
Profenofos Deltracon EC Profile EC Curacon EC Endotoksin dari Bacillus thuringiensis Bacillus
thuringiensis
Bacilin WP Thuricide HP Bactospein ULV Struktur kimia dari
bahan aktif pestisida
Nama yang mudah diingat dan
dimengerti Cap/merk
dagang
FORMULASI PESTISIDA
Pencampuran bahan aktif (active inggrideinet) dengan bahan pembawa (inert carrier) =
formulasi insektisida
Beberapa formulasi dpt digunakan langsung atau dicampur dg air/minyak
Formulasi Pestisida
Bahan aktif Bahan pembantu Bahan pembawa
• Bahan aktif merupakan senyawa
kimia/bahan lain yang memiliki efek sbg
pestisida.
• Bisa berbentuk padat, cair dan gas
• Solvent/bahan pelarut : alcohol, produk minyak bumi
• Emulsifier/bahan pembuat emulsi
• Diluent/bahan pembasah atau pengencer
• Synergist/bahan untuk meningkatkan efikasi pestisida
• Bahan perekat
• Bahan
pembawa digunakan untuk
menurunkan konsentrasi produk
pestisida
• Bisa berupa air, minyak, talk, dsb
sesuai dengan cara
penggunaan
Kode Formulasi Pestisida
1. Emulsifiable Concentrate/ Emulsible Conentrate (EC) : sediaan
berbentuk pekatan cair dengan kandungan bahan aktif tinggi, menggunakan solvent berbasis minyak, apabila dicampur air akan membentuk emulsi
(butiran benda cair yg melayang dalam media cair lainnya)
2. Soluble Liquid (SL) : pekatan cair jika dicampur air membentuk larutan
3. Wettable Powder (WP) : sediaan berbentuk tepung dengan bahan aktif tinggi jika dicampur air membentuk suspense
4. Soluble Powder (S atau SP) : formulasi berbentuk tepung bila dicampur air membentuk laturan homoge
5. Butiran (Granule, G) : sediaan siap pakai dengan bahan aktif rendah
6. Dsb.
FORMULASI CAIR
Emulsi
Solution (larutan)
Konsentrasi tinggi
Konsentrasi Rendah
Suspension (minyak)
Flowable solids (aliran)
Sering menyebabkan nozzletip (pipa semprot tersumbat)
Perlu pengocokan terus menerus
FORMULASI CAIR
Aerosol
Non irritant, tdk berbau tak sedap, tdk ada residu berbahaya, tdk mudah terbakar, tdk keracunan utk pemberian berulang,
spektrum luas, mudah menyebar keseluruh ruang
Aturan aerosol meliputi:
Formulasi, container: jenis, bentuk, isi, kecepatan semprotan, ukuran partikel aerosol yg dihasilkan, tdk mudah terbakar, tdk berpengaruh buruk thd barang lain, acceptable biological performance standard
Standar formulasi (Standars Reference Aerosol) WHO
FORMULASI CAIR
Liquid Gases (gas yg dicairkan)
Disemprotkan pada tekanan tertentu
Dijumpai pada fumigant
Dikemas dlm tabung
Digunakan untuk:
Disemprotkan di ruangan
Disuntikkan ke dlm tanah
Disemprotkan pada tumpukan, gudang dll
FORMULASI KERING
Bahan debu (dust)
mengandung:
Bahan aktif 1 – 10%
Bahan pembawa (inert carrier)
Granula (Granules)
Partikel lebih besar dari debu
Bahan aktif 2 – 40%
Wettable Powder
Sgt halus dan mudah larut dalam air
Bahan aktif 15 – 65%
FORMULASI KERING
Soluable Powder
Bentuk kering, digunakan dengan melarutkan dlm air
Bahan aktif 50%
Umpan (Baits)
Bentuk dapat dicerna/dimakan
Bahan aktif 5%
FORMULASI PESTISIDA
Technical Grade Solution
Emulsifiable Concentrate (E.C.) Emulsion
Solvent Emulsifier Water/
Solvent
Catatan:
Solvent : Bubuk-bubuk padat
Emulsifier : = Surfactant : zat yg menurunkan tekanan permukaan air dan titik-titik minyak
FORMULASI PESTISIDA
Technical Grade
Debu Racun Srg /
Granulated Insecticide
Wettable (Dispersible) Powder Suspensi
Inert Carrier
Wetting
Agent Water
Catatan:
Inert Carrier : Bubuk-bubuk padat (talk, debu, tanah merah=clay, debu vulkanik)
Wetting agent : Pencampur agar lapisan tipis & rata (spreading agent)
KLASIFIKASI PESTISIDA
Berdasarkan komposisi kimia
Insektisida Anorganik
Insektisida Organik
Organik Alami (Botanical)
Organik Sintetis
Chlorinated Hydrocarbon Insecticide (CHI)
Organophosporus Insecticide (OPI)
Carbamat
Thyocyanate
Minyak Bumi
Pyretroid Sintetis
Anorganik Organik
Alami Sintetis
Chlorinated Hydrocarbon Insecticide (CHI)
= organoklorin Organophosporus Insecticide (OPI)
= organofosfat
Carbamat Thiocyanate Minyak Bumi Nikotin
Phyretrum Deris
Kampher Saba Ddilla Cryolit
Belerang
Arsinikel (Sodium arsenit) Fluoride (Sodium Fluoride)
Dieldrin Lindane Aldrin
Heptaklor Klordan Endosulfan
Chlorobenzilate Dilan
DDT (Dichloro Diphenyl
Trichloroethane)
Parathion Diazonin Fenthion Fenithrotion Malathion Abate
Trichlorfon Dichlorfos Asephate Chlorpyrifos
Sevin Pyrolan Isolan
dimethilan Propoxur Baygon
Carbofuran Carbaryl Pirimicarb Phenithiazine
Lethane Lauryl
thiocyanate Thanite
Kerosine Solar Oli
Bensin Parafin Tir
Piretroid Sintetis Fenvolerate Deltamethrin Cyphenothrin Tetramethrin
Klasifikasi kimiawi pestisida
a. Fungisida Biologis
b. Fungisida multi-site Inhibitor
c. Fungisida monosite inhibitor (Antibiotik)
d. Fungisida Mono-site Inhibitor (Organik Sintetik)
DIGUNAKAN SENYAWA KIMIA UNTUK PENANGGULANGAN PENYAKIT
BERBAGAI MACAM FUNGISIDA 1.SENYAWA TEMBAGA
2.SENYAWA BELERANG 3. SENYAWA MERKURI 4. QUINONE
5. SENYAWA BENZENA
6. SENYAWA HETEROSIKLIK 7. ANTIBIOTIKA
PERKEMBANGAN FUNGISIDA
1. Generasi I : Fungisida an organik golongan logam berat (S dan Cu )
2. Generasi ll : Organik belerang dan cl
3. Generasi lll : Generasi sistemik, Translokasi ke atas, ( apoplastik ) ex. Oksatiin
4. Generasi lV : Sistemik ambimobil , apoplastik dan symplastik.
Ex. Asilalanin
Fungisida Cu ( tembaga ) :
Cu So4 + Ca( OH)2 = Bubur Burdeaux CuSo4 + NaCO3 = Bubur Burgundy CuSo4 + NH4CO3 = Bubur Chesunt
Terusi Bersifat asam, toksik pada banyak jamur namun juga bersifat Fitotoksik, maka perlu ditambah kapur ( basa ).
Kelemahan : Korosi pada alat, Tidak dapat disimpan, Lubang nozle buntu, mengendap pada daun sehingga kurang disuka konsumen
MENGAPA CU DAPAT DIPAKAI SEBAGAI FUNGISIDA
1. Sebagai logam berat Punya daya oligodinamik, dan menyebabkan koagulasi protoplas patogen
2. Sebagai Kation CU , bereaksi dengan gugus SH dari asam amino dan ensim dari jamur.
Akibatnya adalah :
a. Denaturasi protein
b. Permeabilitas membran sel terganggu c. Pertumbuhan jamur terhambat
FUNGISIDA BELERANG ( S)
Belerang ( S) + Kapur = Bubur kalifornia
Digunakan bukan karena lebih toksik, tetapi fitotoksiknya lebih rendah dari pada logam berat ( CU).
Mekanisme kerja Sulfur, Berpengaruh pada transpot elektron sepanjang sitokrom dan
kemudian direduksi menjadi Hidrogen sulfida (H2S). Ini yang toksik pada protein patogen
Kekurangan : dapat merusakalat, dan bahaya ke mata
FUNGISIDA ORGANIK ( ll)
An organik dianggap kurang manjur
Fungisida organik memiliki beberapa kelebihan , yaitu :
Dosis efektifnya relatif rendah
Fitotoksiknya lebih rendah
Lebih aman terhadap lingkungan
Senyawa Belerang (S)
terbanyak adalah golongan Fungisida Karbamat
Turunan Fungisida karbamat meliputi :
Ferbam
Tiram
Ziram
Nabam
Zineb
Maneb
Mankozeb
Mekanisme karbamat : Gugus C=S ditiokarbamat oleh jamur diubah menjadi isotiosianat ( N=C=S), dan senyawa ini akan menginaktifasi gugus SH asam amaino pada jamur.
Senyawa Clor (cl)
Dapat menghambat –NH2 dan SH pada asam amina jamur.
Beberapa keturunanya adalah :
PCNB
Klorotalonil
Kaptan
Folfet
Kaptafol
Sifat dan Cara Kerja
Sifat fungisida
Berdasarkan Efek : a. Memiliki efek
fungistatik b. Memiliki efek
fungitoksik c. Antisporulan
Berdasarkan Efek : a. Memiliki efek
fungistatik b. Memiliki efek
fungitoksik c. Antisporulan
Berdasarkan Cara Kerja : a. Fungisida non-sistemik b. Fungisida sistemik
c. Fungisida sistemik lokal Berdasarkan Cara Kerja : a. Fungisida non-sistemik b. Fungisida sistemik
c. Fungisida sistemik lokal
Berdasarkan Waktu Aplikasi : a. Fungisida preventif atau
protektif
b. Fungisida Kuratif c. Fungisida Eradikatif d. Penghambat Sporulasi Berdasarkan Waktu Aplikasi : a. Fungisida preventif atau
protektif
b. Fungisida Kuratif c. Fungisida Eradikatif d. Penghambat Sporulasi
MACAM FUNGISIDA BERDSARKAN CARA KERJANYA
1. Kontak, yaitu fungisida yang bekerja hanya pada tempat dimana terjadi
kontak antara obyek sasaran dengan fungisida
2. Sistemik, yaitu fungisida yang dapat masuk dalam tanaman, sehingga dapat membunuh patogen sasaran yang
berada dalam inang.
FUNGISIDA SISTEMIK ( lll)
Dapat masuk dalam badan tumbuhan sehingga dapat
membunuhpatogen walaupun tidak langsung bersentuhan
Golongan Oksatiin : Hanya terangkut keatas lewat xilem
Golongan Asilalanin : Dapat terangkut keatas dan kebawah
Golongan Benzimidazol : Benomil, Karbendazim, tiabendazol, tiofanat
Golongan Fosfat organik : Fasetil –Al
Golongan Pirimidin
Golongan Triazol
Hampir semua fungisida sistemik berperan dalam menghambat satu atau beberapa langkah yang spesifik dalam metabolisme patogen. Akibatnya setelah dipakai beberapa tahun akan dapat muncul strain baru patogen.
Fungisida memberikan tekanan seleksi sehingga patogen resisten
Misalnya : Benomil akan dapat menghambat pembelahan inti, oksatin menghambat suksinat hidrogenase, yaitu ensim pada proses respirasi mitokondria.
Fasetil Al dismping berfungsi untuk fungisida , juga dapat berfungsi meningkatkan ketahanan tanaman, melalui (1) Mengubah sel dinding inang, (2) Membatasi koensim esensial pada inang, (3) Merubah laju dan arah metabolisme ke pemben. Fitoaleksin.
Fungisida Sistemik.... lanjutan
Keuntungan pestisida sistemik : Diserap dalam jaringan melalui proses difusi, ditranlokasi
secara ambimobil, dapat mecapai sasaran walau tidak terjadi kontak, memberikan efek
perlindungan dan eradikasi, dan tidak muda tercuci dan Tidak mudah menguap.
Kelemahannya: Residu pada material pertanian, sepektrumnya sempit, dan memberikan tekanan seleksi akibat terlalu spesifik dalm mekanisme penghambatannya, sehingga mudah terjadi
resistensi dengan membbentuk strain baru.
Mode of Action Fungisida
Pengintervensi Sintesis Asam Nukleat
Penghambat Mitosis dan Pembelahan Sel
Penghambat Respirasi Sel
Penghambat sintesis asam amino dan protein
Pentransduksi sinyal
Penghambat sintesis lipida dan membrane sel
Penghambat biosintesis sterol
Pengintervensi sintesis glukan dan dinding sel
Penghambat sintesis melanin
Penginduksi pertahanan tanaman inang
Langkah-langkah menekan residu pestida
Menggunakan pestisida jika benar-benar diperlukan
Menghindari penggunaan pestisida sistemik menjelang panen
Melakukan pengendalian hama terpadu (PHT)
Mentaati masa tunggu (holding period, preharvest interval, PHI)
Resistensi OPT terhadap Pestisida
a. Resistensi serangga
b. Resistensi jamur (Cendawan)
1. Faktor genetic
2. Faktor biologi dan ekologi serangga 3. Faktor operasional
1. Berkurangnya permeabilitas membrane sel
2. Meningkatnya kemampuan cendawan mendetokfikasi fungisida
3. Cendawan mengubah proses
metabolism sebagai reaksi terhadap fungisida
4. Cendawan memproduksi lebih banyak enzim yang dihambat oleh pestisida Example : hawar daun
Phytopthora infestan pada kentang
terhadap fungisida fenilamid (Brent, 1995)
Example : hawar daun Phytopthora infestan pada kentang
terhadap fungisida fenilamid (Brent, 1995)
Mekanisme Resistensi patogen terhadap penggunaan fungisida sistemik
1.
Mekanisme Genetik
2.
Mekanisme Biokimiawi
Mekanisme Genetik
1. Adaptasi fenotipik : akibat penggunaan terus menerus, sub letal, tidak mantap dan muda peka kembali, tidak terlalu masalah dilapang.
2. Ketahanan Ekstra kromosomal
( sitoplasmik) : pengaruh pada sistem mitokondria, sintesis protein, tranpot elektron, fosforilasi oksidatif.
3. Ketahanan kromosomal :Pengaruh terhadap gen pada kromosom
Mekanisme Biokimiawi
1. Modifikasi terhadap site peka : Pengurangan terhadap afinitas pada site of action sebab perubahan susunan ribosom
2. Pemintasan jalur alternatif/ sirkumvensi ( By pass dari site yang terhalang)
3. Pengurangan terhdap permeabilitas membran sel
4. Detoksifikasi ( Penawaran senyawa toksin )
5. Pengurangan daya konversi : pengurangan daya patogen untuk mengubah menjadi toksik sehingga senyawa tidak toksik
6. Kompensasi : Peningkatan produksi ensim yang telah terhambat oleh fungisida.
RESISTENSI SILANG ( CROSS RESISTANCE)
Ketahanan jamur terhadap senyawa yang mempunyai mode of action yang sama
Karena perubahan genetik
Penting untuk pertimbangan apabila mengganti fungisida lain atau mau mencampur fungisida
CARA MENANGGULANGI RESISTENSI
1. Penggunaan fungisida secara tepat
2. Apabila terpaksa menggunakan sistemik maka perlu langkah :
a. Tidak menggunakan yg berdaya sangat spesifik
b. Tidak menggunakan satu jenis secara terus menerus c. Menggunakan yang memiliki of action berbeda secara selang seling
d. Untuk membunuh strain baru : perlu aplikasi yang kontak 3. Pemantauan terhadap timbulnya strain yang tahan
Penggunaan pestisida
a. Hubungan antara Pestisida Pertanian dan OPT Sasarannya 1. Kesesuaian antara
pestisida dan sasaran biologi
2. Kepekaan sasaran a. Hubungan antara
Pestisida Pertanian dan OPT Sasarannya 1. Kesesuaian antara
pestisida dan sasaran biologi
2. Kepekaan sasaran
b. Faktor teknik
Penggunaan atau Teknik Aplikasi Pestisida
1. Waktu yang tepat 2. Takaran aplikasi 3. Cara atau metode
aplikasi
b. Faktor teknik
Penggunaan atau Teknik Aplikasi Pestisida
1. Waktu yang tepat 2. Takaran aplikasi 3. Cara atau metode
aplikasi
c. Syarat Keberhasilan Pengendalian
1. Pestisida tepat sasaran untuk OPT 2. OPT sasaran masih
peka terhadap pestisida
3. Pestisida yang diaplikasin sesuai teknik yang benar
c. Syarat Keberhasilan Pengendalian
1. Pestisida tepat sasaran untuk OPT 2. OPT sasaran masih
peka terhadap pestisida
3. Pestisida yang diaplikasin sesuai teknik yang benar
KAPAN FUNGISIDA DI GUNAKAN
Terjadwal ?
Ambang ekonomi ?
Ambang Potensial ( Potensi terjadinya penyakit yang didasarkan pada segitiga penyakit ).
Apabila kondisi mendukung, dapat dilakukan penyemprotan preventif, sebaliknya menunggu sampai terjadinya penyakit sering terlamabat.
Mengapa…?
Cara Penanggulangan
Penyakit dengan Fungisida
1.1. Penyemprotan dan penghembusan pada daun Hingga sekarang fungisida yang dipergunakan untuk
penyemprotan atau penghembusan pada daun biasanya
ditujukan untuk mencegah terjadinya infeksi dan mematikan patogen yang telah mengadakan infeksi. Kebanyakan dari
fungisida dan bakterisida sudah harus berada pada permukaan tanaman sebelum patogen datang menyerang sehingga dengan demikian dapat mencegah terjadinya infeksi. Dengan adanya fungisida tersebut, maka perkecambahan spora dapat dicegah atau sekaligus dapat dibunuhnya. Begitu pula bakterisida dapat menghalangi bakteri untuk memperbanyak diri atau
membunuhnya
1.2. Perlakuan benih
Biji, umbi dan sebagainya biasanya diberi senyawa kimia untuk mencegah pembusukan sesudah ditanam.
Pembusukan ini terjadi karena serangan patogen yang terbawa oleh benih atau yang berada dalam tanah di mana benih tersebut di tanam.
Fungisida ini berupa tepung (WP), sebagai larutan yang encer atau pekat. Diusahakan agar senyawa tersebut dapat melekat pada
permukaan benih sehingga dapat melindungi benih dari serangan patogen yang terdapat dalam benih.
Jika benih tersebut ditanam, maka senyawa kimia akan terdifusi ke dalam tanah dan mendesinfestasi tanah sekeliling benih sehingga kecambahnya yang masih dalam keadaan rentan dapat terhindar dari serangan patogen.
1.3. Perlakuan pada tanah
Untuk membebaskan tanah dari berbagai jasad renik termasuk jasad yang patogenik
injeksi tanah sedalam 10-15 cm .
fumigasi dengan fungisida yang mudah menguap sehingga diperlukan penutup tanah dari plastik.
dilakukan beberapa hari atau beberapa minggu sebelum tanam
zat imia yang banyak dipergunakan ialah chloropocrin,
methylbromide, ethylene bromide (EDB), dichloropropene dichloropropane (D_D), Mylone, Nemagon, Vapam dan
sebagainya.
1.4. Perlakuan terhadap luka
Bagian-bagian tanaman yang telah dipangkas atau dipotong perlu dilindungiterhadap kekeringan dan berbagai parasit luka. Zat kimia yang
dipergunakan untuk menutup luka sebaiknya juga bersifat sebagai fungisida dan merangsang
pembentukan kalus
Mencegah penyakit pada hasil-hasil pertanian dalam penyimpanan
Senyawa kimia untuk keperluan ini selainnya harus melindungi hasil pertanian dari serangan patogen juga harus tidak bersifat merusak pada buah-buahan, sayur-sayuran dan sebagainya dan tidak pula merupakan racun bagi konsumen. Pada waktu
sekarang telah diketemukan berbagai macam zat kimia untuk maksud tersebut.
Perlakuan ini dilakukan segera sesudah panen atau sebelum disimpan dengan cara pencelupan ke dalam larutan zat kimia
yang encer. Selain itu dapat pula diberikan sebagai gas SO2 atau dengan pemakaian kertas pembungkus atau kotak-kotak yang diimpregnasi dengan senyawa kimia tertentu.
Mendesinfestasi OPT dalam penyimpanan
Untuk mencegah adanya infeksi dari patogen yang
berasal dari buah, sayuran dan sebagainya yang disimpan pada waktu sebelumnya,
maka ruangan tersebut harus dibersihkan sebelumnya dari segala macam kotoran dan sisa-sisa tanaman dan kemudian dicuci dengan larutan fungisida antara lain larutan sulfat tembaga dan formaldehid.
Untuk ruangan yang dapat ditutup rapat, maka seringkali digunakan senyawa kimia yang dapat menguap, seperti chloropicrin, gas formaldehid dan sebagainya.