• Tidak ada hasil yang ditemukan

Klasifikasi pestisida berdasarkan organisme sasaran

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Klasifikasi pestisida berdasarkan organisme sasaran"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

Pestisida

Pertanian ( Bagian

fungisida )

(2)
(3)

BAGIAN FUNGISIDA

CAKUPAN DAN PENGERTIAN FUNGISIDA

JENIS JENIS FUNGISIDA

MODE OF ACTION FUNGISIDA

FUNGISIDA KONTAK DAN SISTEMIK

TERJADINYA RESISTENSI PATOGEN

(4)

PENDAHULUAN

Pest = hama , sida= caedo= pembunuh

Fungus : Jamur, Caedo : membunuh

Pengendalian vektor secara kimia

FAO 1986 & PP RI No. 7, 1973

Campuran bahan kimia yang digunakan untuk mencegah, membasmi dan mengendalikakn hewan/tumbuhan

pengganggu seperti binatang pengerat, termasuk serangga penyebar penyakit, dengan tujuan kesejahteraan manusia

PP RI No. 6, 1995

Zat atau senyawa kimia, zat pengatur tubuh dan perangsang tumbuh, bahan lain, serta mikroorganisme atau virus yang digunakan untuk perlindungan

US EPA

Zat atau campuran zat yang digunakan untuk mencegah,

memusnahkan, menolak atau memusuhi hama dalam bentuk hewan, tanaman dan mikroorganisme pengganggu

(5)

SYARAT PESTISIDA

Membunuh dgn cepat (efektif dan efisien)

Tidak membahayakan binatang bertulang belakang

Murah dan mudah diperoleh di pasaran

Menguntungkan dalam pemakaian yg luas

Susunan kimia stabil (mempunyai residual efek)

Selektif

Tidak mudah terbakar

Mudah disiapkan

Tidak merusak barang

Bersih

Tidak mengeluarkan bau yang taidak menyenangkan

(6)

1) Kebanyakan dari fungisida digunakan untuk mengatasi penyakit daun dan

bagian-bagian tanaman lainnya di atas tanah.

2) mendesinfestasi dan melindungi benih atau umbi dari serangan patogen.

3) Beberapa fungisida dapat digunakan untuk mendesinfestasi tanah atau tempat

penyimpanan untuk melindungi luka, dan sebagainya.

(7)

Pada waktu sekarang telah diketahui beberapa macam fungisida yang mempunyai sifat terapetik atau eradikatif dan beberapa diantaranya dapat diabsorpsi oleh bagian dari tanaman dari tanaman dan secara sistematik ditranslokasikan ke tempat lain.

(8)

Klasifikasi pestisida

berdasarkan organisme sasaran - 1

abiotik biotik

1. Struktur tanah 2. Kesuburan tanah

3. Kekurangan unsur hara 4. Pencemaran air, udara

Gangguan pada tanaman

1. Hama (serangga, tungau, hewan menyusui, dan moluska)

2. Penyakit (jamur, bakteri, virus dan nematoda)

3. Gulma

Bisa dikendalikan dengan pestisida

(9)

Klasifikasi pestisida

berdasarkan organisme sasaran - 2

1. Insektisida : mengendalikan hama

2. Akarisida : mengendalikan tungau

3. Moluskisida : mengendalikan hama dari bangsa siput (moluska)

4. Rodentisida : mengendalikan hewan pengerat / tikus

5. Nematisida : mengendalikan nematode

6. Fungisida : mengendalikan penyakit tanaman yang disebabkan oleh jamur/fungi

7. Bakterisida : mengendalikan penyakit tanaman yang disebabkan oleh bakteri

8. Herbisida : mengendalikan gulma Dsb.

(10)

KLASIFIKASI PESTISIDA

Berdasarkan organisme target

Insektisida : bunuh/kendali serangga

Herbisida : bunuh gulma

Fungisida : bunuh jamur/cendawan

Algasida : bunuh alga

Avisida : bunuh/kontrol pop burung

Akarisida : bunuh tungau/kutu/pinjal/caplak

Bakterisida : bunuh bakteri

Larvasida : bunuh larva

Molusksisida : bunuh siput

(11)

KLASIFIKASI PESTISIDA

Berdasarkan organisme target (lanjutan)

Nematisida : bunuh cacing

Ovisida : bunuh telur

Pedukulisida : bunuh kutu/tuma

Piscisida : bunuh ikan

Rodentisida : bunuh binatang pengerat

Predisida : bunuh pemangsa/predator

Termisida : bunuh rayap

Metisida : bunuh tengu/caplak (mites)

Defoliant : bunuh parasit tanaman

(12)

KLASIFIKASI PESTISIDA

Berdasarkan organisme target (lanjutan)

Repellent : penolak serangga

Attractant : penarik serangga

Dessicant : penyerap air

Anti transparant : pembalut daun agar tak kehilangan air

Plant growth regulator: pengatur pertumbuhan tanaman

(13)

Dampak penggunaan pestisida pertanian

Dampak bagi keselamatan pengguna 1. Keracunan 2. Gangguan

penyakit

Dampak bagi konsumen

1. Keracunan kronis yang tidak segera terasa

2. Keracunan akut ketika

mengkonsumsi produk yang mengandung residu pestisida

Dampak bagi kelestarian lingkungan 1. Lingkungan

tercemar

2. Terbunuhnya organisme non target

(terbunuhnya

musuh alami dari hama)

3. Resistensi OPT 4. Resurjensi OPT

5. Muncul hama baru

Dampak Sosial Ekonomi

1. Biaya produksi tinggi

2. Proses

perdagangan

terhambat karena residu pestisida tinggi

(14)

Penamaan Pestisida

Nama Kimia Nama Umum Nama Dagang

Manganeseethylenebis

(dithiocarbamate) Maneb Pilaram 80 WP

Rhonep 80 WP Sarineb 90 WP Phycozan 90 WP 3-(3,4-dichlorophenyl) 1,1-

dimethylurea Duron Bimaron 80 WP

Gulmaron 500 EC

0-(,4-bromo-2chlorophenyl 0-ethyl-s-propyl

phosporodhitioate

Profenofos Deltracon EC Profile EC Curacon EC Endotoksin dari Bacillus thuringiensis Bacillus

thuringiensis

Bacilin WP Thuricide HP Bactospein ULV Struktur kimia dari

bahan aktif pestisida

Nama yang mudah diingat dan

dimengerti Cap/merk

dagang

(15)

FORMULASI PESTISIDA

Pencampuran bahan aktif (active inggrideinet) dengan bahan pembawa (inert carrier) =

formulasi insektisida

Beberapa formulasi dpt digunakan langsung atau dicampur dg air/minyak

(16)

Formulasi Pestisida

Bahan aktif Bahan pembantu Bahan pembawa

Bahan aktif merupakan senyawa

kimia/bahan lain yang memiliki efek sbg

pestisida.

Bisa berbentuk padat, cair dan gas

Solvent/bahan pelarut : alcohol, produk minyak bumi

Emulsifier/bahan pembuat emulsi

Diluent/bahan pembasah atau pengencer

Synergist/bahan untuk meningkatkan efikasi pestisida

Bahan perekat

Bahan

pembawa digunakan untuk

menurunkan konsentrasi produk

pestisida

Bisa berupa air, minyak, talk, dsb

sesuai dengan cara

penggunaan

(17)

Kode Formulasi Pestisida

1. Emulsifiable Concentrate/ Emulsible Conentrate (EC) : sediaan

berbentuk pekatan cair dengan kandungan bahan aktif tinggi, menggunakan solvent berbasis minyak, apabila dicampur air akan membentuk emulsi

(butiran benda cair yg melayang dalam media cair lainnya)

2. Soluble Liquid (SL) : pekatan cair jika dicampur air membentuk larutan

3. Wettable Powder (WP) : sediaan berbentuk tepung dengan bahan aktif tinggi jika dicampur air membentuk suspense

4. Soluble Powder (S atau SP) : formulasi berbentuk tepung bila dicampur air membentuk laturan homoge

5. Butiran (Granule, G) : sediaan siap pakai dengan bahan aktif rendah

6. Dsb.

(18)

FORMULASI CAIR

Emulsi

Solution (larutan)

Konsentrasi tinggi

Konsentrasi Rendah

Suspension (minyak)

Flowable solids (aliran)

Sering menyebabkan nozzletip (pipa semprot tersumbat)

Perlu pengocokan terus menerus

(19)

FORMULASI CAIR

Aerosol

Non irritant, tdk berbau tak sedap, tdk ada residu berbahaya, tdk mudah terbakar, tdk keracunan utk pemberian berulang,

spektrum luas, mudah menyebar keseluruh ruang

Aturan aerosol meliputi:

Formulasi, container: jenis, bentuk, isi, kecepatan semprotan, ukuran partikel aerosol yg dihasilkan, tdk mudah terbakar, tdk berpengaruh buruk thd barang lain, acceptable biological performance standard

Standar formulasi (Standars Reference Aerosol) WHO

(20)

FORMULASI CAIR

Liquid Gases (gas yg dicairkan)

Disemprotkan pada tekanan tertentu

Dijumpai pada fumigant

Dikemas dlm tabung

Digunakan untuk:

Disemprotkan di ruangan

Disuntikkan ke dlm tanah

Disemprotkan pada tumpukan, gudang dll

(21)

FORMULASI KERING

Bahan debu (dust)

mengandung:

Bahan aktif 1 – 10%

Bahan pembawa (inert carrier)

Granula (Granules)

Partikel lebih besar dari debu

Bahan aktif 2 – 40%

Wettable Powder

Sgt halus dan mudah larut dalam air

Bahan aktif 15 – 65%

(22)

FORMULASI KERING

Soluable Powder

Bentuk kering, digunakan dengan melarutkan dlm air

Bahan aktif 50%

Umpan (Baits)

Bentuk dapat dicerna/dimakan

Bahan aktif 5%

(23)

FORMULASI PESTISIDA

Technical Grade Solution

Emulsifiable Concentrate (E.C.) Emulsion

Solvent Emulsifier Water/

Solvent

Catatan:

Solvent : Bubuk-bubuk padat

Emulsifier : = Surfactant : zat yg menurunkan tekanan permukaan air dan titik-titik minyak

(24)

FORMULASI PESTISIDA

Technical Grade

Debu Racun Srg /

Granulated Insecticide

Wettable (Dispersible) Powder Suspensi

Inert Carrier

Wetting

Agent Water

Catatan:

Inert Carrier : Bubuk-bubuk padat (talk, debu, tanah merah=clay, debu vulkanik)

Wetting agent : Pencampur agar lapisan tipis & rata (spreading agent)

(25)

KLASIFIKASI PESTISIDA

Berdasarkan komposisi kimia

Insektisida Anorganik

Insektisida Organik

Organik Alami (Botanical)

Organik Sintetis

Chlorinated Hydrocarbon Insecticide (CHI)

Organophosporus Insecticide (OPI)

Carbamat

Thyocyanate

Minyak Bumi

Pyretroid Sintetis

(26)

Anorganik Organik

Alami Sintetis

Chlorinated Hydrocarbon Insecticide (CHI)

= organoklorin Organophosporus Insecticide (OPI)

= organofosfat

Carbamat Thiocyanate Minyak Bumi Nikotin

Phyretrum Deris

Kampher Saba Ddilla Cryolit

Belerang

Arsinikel (Sodium arsenit) Fluoride (Sodium Fluoride)

Dieldrin Lindane Aldrin

Heptaklor Klordan Endosulfan

Chlorobenzilate Dilan

DDT (Dichloro Diphenyl

Trichloroethane)

Parathion Diazonin Fenthion Fenithrotion Malathion Abate

Trichlorfon Dichlorfos Asephate Chlorpyrifos

Sevin Pyrolan Isolan

dimethilan Propoxur Baygon

Carbofuran Carbaryl Pirimicarb Phenithiazine

Lethane Lauryl

thiocyanate Thanite

Kerosine Solar Oli

Bensin Parafin Tir

Piretroid Sintetis Fenvolerate Deltamethrin Cyphenothrin Tetramethrin

(27)

Klasifikasi kimiawi pestisida

a. Fungisida Biologis

b. Fungisida multi-site Inhibitor

c. Fungisida monosite inhibitor (Antibiotik)

d. Fungisida Mono-site Inhibitor (Organik Sintetik)

(28)

DIGUNAKAN SENYAWA KIMIA UNTUK PENANGGULANGAN PENYAKIT

BERBAGAI MACAM FUNGISIDA 1.SENYAWA TEMBAGA

2.SENYAWA BELERANG 3. SENYAWA MERKURI 4. QUINONE

5. SENYAWA BENZENA

6. SENYAWA HETEROSIKLIK 7. ANTIBIOTIKA

(29)

PERKEMBANGAN FUNGISIDA

1. Generasi I : Fungisida an organik golongan logam berat (S dan Cu )

2. Generasi ll : Organik belerang dan cl

3. Generasi lll : Generasi sistemik, Translokasi ke atas, ( apoplastik ) ex. Oksatiin

4. Generasi lV : Sistemik ambimobil , apoplastik dan symplastik.

Ex. Asilalanin

(30)

Fungisida Cu ( tembaga ) :

Cu So4 + Ca( OH)2 = Bubur Burdeaux CuSo4 + NaCO3 = Bubur Burgundy CuSo4 + NH4CO3 = Bubur Chesunt

Terusi Bersifat asam, toksik pada banyak jamur namun juga bersifat Fitotoksik, maka perlu ditambah kapur ( basa ).

Kelemahan : Korosi pada alat, Tidak dapat disimpan, Lubang nozle buntu, mengendap pada daun sehingga kurang disuka konsumen

(31)

MENGAPA CU DAPAT DIPAKAI SEBAGAI FUNGISIDA

1. Sebagai logam berat Punya daya oligodinamik, dan menyebabkan koagulasi protoplas patogen

2. Sebagai Kation CU , bereaksi dengan gugus SH dari asam amino dan ensim dari jamur.

Akibatnya adalah :

a. Denaturasi protein

b. Permeabilitas membran sel terganggu c. Pertumbuhan jamur terhambat

(32)

FUNGISIDA BELERANG ( S)

Belerang ( S) + Kapur = Bubur kalifornia

Digunakan bukan karena lebih toksik, tetapi fitotoksiknya lebih rendah dari pada logam berat ( CU).

Mekanisme kerja Sulfur, Berpengaruh pada transpot elektron sepanjang sitokrom dan

kemudian direduksi menjadi Hidrogen sulfida (H2S). Ini yang toksik pada protein patogen

Kekurangan : dapat merusakalat, dan bahaya ke mata

(33)

FUNGISIDA ORGANIK ( ll)

An organik dianggap kurang manjur

Fungisida organik memiliki beberapa kelebihan , yaitu :

Dosis efektifnya relatif rendah

Fitotoksiknya lebih rendah

Lebih aman terhadap lingkungan

(34)

Senyawa Belerang (S)

terbanyak adalah golongan Fungisida Karbamat

Turunan Fungisida karbamat meliputi :

Ferbam

Tiram

Ziram

Nabam

Zineb

Maneb

Mankozeb

Mekanisme karbamat : Gugus C=S ditiokarbamat oleh jamur diubah menjadi isotiosianat ( N=C=S), dan senyawa ini akan menginaktifasi gugus SH asam amaino pada jamur.

(35)

Senyawa Clor (cl)

Dapat menghambat –NH2 dan SH pada asam amina jamur.

Beberapa keturunanya adalah :

PCNB

Klorotalonil

Kaptan

Folfet

Kaptafol

(36)

Sifat dan Cara Kerja

Sifat fungisida

Berdasarkan Efek : a. Memiliki efek

fungistatik b. Memiliki efek

fungitoksik c. Antisporulan

Berdasarkan Efek : a. Memiliki efek

fungistatik b. Memiliki efek

fungitoksik c. Antisporulan

Berdasarkan Cara Kerja : a. Fungisida non-sistemik b. Fungisida sistemik

c. Fungisida sistemik lokal Berdasarkan Cara Kerja : a. Fungisida non-sistemik b. Fungisida sistemik

c. Fungisida sistemik lokal

Berdasarkan Waktu Aplikasi : a. Fungisida preventif atau

protektif

b. Fungisida Kuratif c. Fungisida Eradikatif d. Penghambat Sporulasi Berdasarkan Waktu Aplikasi : a. Fungisida preventif atau

protektif

b. Fungisida Kuratif c. Fungisida Eradikatif d. Penghambat Sporulasi

(37)

MACAM FUNGISIDA BERDSARKAN CARA KERJANYA

1. Kontak, yaitu fungisida yang bekerja hanya pada tempat dimana terjadi

kontak antara obyek sasaran dengan fungisida

2. Sistemik, yaitu fungisida yang dapat masuk dalam tanaman, sehingga dapat membunuh patogen sasaran yang

berada dalam inang.

(38)

FUNGISIDA SISTEMIK ( lll)

Dapat masuk dalam badan tumbuhan sehingga dapat

membunuhpatogen walaupun tidak langsung bersentuhan

Golongan Oksatiin : Hanya terangkut keatas lewat xilem

Golongan Asilalanin : Dapat terangkut keatas dan kebawah

Golongan Benzimidazol : Benomil, Karbendazim, tiabendazol, tiofanat

Golongan Fosfat organik : Fasetil –Al

Golongan Pirimidin

Golongan Triazol

(39)

Hampir semua fungisida sistemik berperan dalam menghambat satu atau beberapa langkah yang spesifik dalam metabolisme patogen. Akibatnya setelah dipakai beberapa tahun akan dapat muncul strain baru patogen.

Fungisida memberikan tekanan seleksi sehingga patogen resisten

Misalnya : Benomil akan dapat menghambat pembelahan inti, oksatin menghambat suksinat hidrogenase, yaitu ensim pada proses respirasi mitokondria.

Fasetil Al dismping berfungsi untuk fungisida , juga dapat berfungsi meningkatkan ketahanan tanaman, melalui (1) Mengubah sel dinding inang, (2) Membatasi koensim esensial pada inang, (3) Merubah laju dan arah metabolisme ke pemben. Fitoaleksin.

(40)

Fungisida Sistemik.... lanjutan

Keuntungan pestisida sistemik : Diserap dalam jaringan melalui proses difusi, ditranlokasi

secara ambimobil, dapat mecapai sasaran walau tidak terjadi kontak, memberikan efek

perlindungan dan eradikasi, dan tidak muda tercuci dan Tidak mudah menguap.

Kelemahannya: Residu pada material pertanian, sepektrumnya sempit, dan memberikan tekanan seleksi akibat terlalu spesifik dalm mekanisme penghambatannya, sehingga mudah terjadi

resistensi dengan membbentuk strain baru.

(41)

Mode of Action Fungisida

Pengintervensi Sintesis Asam Nukleat

Penghambat Mitosis dan Pembelahan Sel

Penghambat Respirasi Sel

Penghambat sintesis asam amino dan protein

Pentransduksi sinyal

Penghambat sintesis lipida dan membrane sel

Penghambat biosintesis sterol

Pengintervensi sintesis glukan dan dinding sel

Penghambat sintesis melanin

Penginduksi pertahanan tanaman inang

(42)

Langkah-langkah menekan residu pestida

Menggunakan pestisida jika benar-benar diperlukan

Menghindari penggunaan pestisida sistemik menjelang panen

Melakukan pengendalian hama terpadu (PHT)

Mentaati masa tunggu (holding period, preharvest interval, PHI)

(43)

Resistensi OPT terhadap Pestisida

a. Resistensi serangga

b. Resistensi jamur (Cendawan)

1. Faktor genetic

2. Faktor biologi dan ekologi serangga 3. Faktor operasional

1. Berkurangnya permeabilitas membrane sel

2. Meningkatnya kemampuan cendawan mendetokfikasi fungisida

3. Cendawan mengubah proses

metabolism sebagai reaksi terhadap fungisida

4. Cendawan memproduksi lebih banyak enzim yang dihambat oleh pestisida Example : hawar daun

Phytopthora infestan pada kentang

terhadap fungisida fenilamid (Brent, 1995)

Example : hawar daun Phytopthora infestan pada kentang

terhadap fungisida fenilamid (Brent, 1995)

(44)

Mekanisme Resistensi patogen terhadap penggunaan fungisida sistemik

1.

Mekanisme Genetik

2.

Mekanisme Biokimiawi

(45)

Mekanisme Genetik

1. Adaptasi fenotipik : akibat penggunaan terus menerus, sub letal, tidak mantap dan muda peka kembali, tidak terlalu masalah dilapang.

2. Ketahanan Ekstra kromosomal

( sitoplasmik) : pengaruh pada sistem mitokondria, sintesis protein, tranpot elektron, fosforilasi oksidatif.

3. Ketahanan kromosomal :Pengaruh terhadap gen pada kromosom

(46)

Mekanisme Biokimiawi

1. Modifikasi terhadap site peka : Pengurangan terhadap afinitas pada site of action sebab perubahan susunan ribosom

2. Pemintasan jalur alternatif/ sirkumvensi ( By pass dari site yang terhalang)

3. Pengurangan terhdap permeabilitas membran sel

4. Detoksifikasi ( Penawaran senyawa toksin )

5. Pengurangan daya konversi : pengurangan daya patogen untuk mengubah menjadi toksik sehingga senyawa tidak toksik

6. Kompensasi : Peningkatan produksi ensim yang telah terhambat oleh fungisida.

(47)

RESISTENSI SILANG ( CROSS RESISTANCE)

Ketahanan jamur terhadap senyawa yang mempunyai mode of action yang sama

Karena perubahan genetik

Penting untuk pertimbangan apabila mengganti fungisida lain atau mau mencampur fungisida

(48)

CARA MENANGGULANGI RESISTENSI

1. Penggunaan fungisida secara tepat

2. Apabila terpaksa menggunakan sistemik maka perlu langkah :

a. Tidak menggunakan yg berdaya sangat spesifik

b. Tidak menggunakan satu jenis secara terus menerus c. Menggunakan yang memiliki of action berbeda secara selang seling

d. Untuk membunuh strain baru : perlu aplikasi yang kontak 3. Pemantauan terhadap timbulnya strain yang tahan

(49)

Penggunaan pestisida

a. Hubungan antara Pestisida Pertanian dan OPT Sasarannya 1. Kesesuaian antara

pestisida dan sasaran biologi

2. Kepekaan sasaran a. Hubungan antara

Pestisida Pertanian dan OPT Sasarannya 1. Kesesuaian antara

pestisida dan sasaran biologi

2. Kepekaan sasaran

b. Faktor teknik

Penggunaan atau Teknik Aplikasi Pestisida

1. Waktu yang tepat 2. Takaran aplikasi 3. Cara atau metode

aplikasi

b. Faktor teknik

Penggunaan atau Teknik Aplikasi Pestisida

1. Waktu yang tepat 2. Takaran aplikasi 3. Cara atau metode

aplikasi

c. Syarat Keberhasilan Pengendalian

1. Pestisida tepat sasaran untuk OPT 2. OPT sasaran masih

peka terhadap pestisida

3. Pestisida yang diaplikasin sesuai teknik yang benar

c. Syarat Keberhasilan Pengendalian

1. Pestisida tepat sasaran untuk OPT 2. OPT sasaran masih

peka terhadap pestisida

3. Pestisida yang diaplikasin sesuai teknik yang benar

(50)

KAPAN FUNGISIDA DI GUNAKAN

Terjadwal ?

Ambang ekonomi ?

Ambang Potensial ( Potensi terjadinya penyakit yang didasarkan pada segitiga penyakit ).

Apabila kondisi mendukung, dapat dilakukan penyemprotan preventif, sebaliknya menunggu sampai terjadinya penyakit sering terlamabat.

Mengapa…?

(51)

Cara Penanggulangan

Penyakit dengan Fungisida

1.1. Penyemprotan dan penghembusan pada daun Hingga sekarang fungisida yang dipergunakan untuk

penyemprotan atau penghembusan pada daun biasanya

ditujukan untuk mencegah terjadinya infeksi dan mematikan patogen yang telah mengadakan infeksi. Kebanyakan dari

fungisida dan bakterisida sudah harus berada pada permukaan tanaman sebelum patogen datang menyerang sehingga dengan demikian dapat mencegah terjadinya infeksi. Dengan adanya fungisida tersebut, maka perkecambahan spora dapat dicegah atau sekaligus dapat dibunuhnya. Begitu pula bakterisida dapat menghalangi bakteri untuk memperbanyak diri atau

membunuhnya

(52)

1.2. Perlakuan benih

Biji, umbi dan sebagainya biasanya diberi senyawa kimia untuk mencegah pembusukan sesudah ditanam.

Pembusukan ini terjadi karena serangan patogen yang terbawa oleh benih atau yang berada dalam tanah di mana benih tersebut di tanam.

Fungisida ini berupa tepung (WP), sebagai larutan yang encer atau pekat. Diusahakan agar senyawa tersebut dapat melekat pada

permukaan benih sehingga dapat melindungi benih dari serangan patogen yang terdapat dalam benih.

Jika benih tersebut ditanam, maka senyawa kimia akan terdifusi ke dalam tanah dan mendesinfestasi tanah sekeliling benih sehingga kecambahnya yang masih dalam keadaan rentan dapat terhindar dari serangan patogen.

(53)

1.3. Perlakuan pada tanah

Untuk membebaskan tanah dari berbagai jasad renik termasuk jasad yang patogenik

injeksi tanah sedalam 10-15 cm .

fumigasi dengan fungisida yang mudah menguap sehingga diperlukan penutup tanah dari plastik.

dilakukan beberapa hari atau beberapa minggu sebelum tanam

zat imia yang banyak dipergunakan ialah chloropocrin,

methylbromide, ethylene bromide (EDB), dichloropropene dichloropropane (D_D), Mylone, Nemagon, Vapam dan

sebagainya.

(54)

1.4. Perlakuan terhadap luka

Bagian-bagian tanaman yang telah dipangkas atau dipotong perlu dilindungiterhadap kekeringan dan berbagai parasit luka. Zat kimia yang

dipergunakan untuk menutup luka sebaiknya juga bersifat sebagai fungisida dan merangsang

pembentukan kalus

(55)

Mencegah penyakit pada hasil-hasil pertanian dalam penyimpanan

Senyawa kimia untuk keperluan ini selainnya harus melindungi hasil pertanian dari serangan patogen juga harus tidak bersifat merusak pada buah-buahan, sayur-sayuran dan sebagainya dan tidak pula merupakan racun bagi konsumen. Pada waktu

sekarang telah diketemukan berbagai macam zat kimia untuk maksud tersebut.

Perlakuan ini dilakukan segera sesudah panen atau sebelum disimpan dengan cara pencelupan ke dalam larutan zat kimia

yang encer. Selain itu dapat pula diberikan sebagai gas SO2 atau dengan pemakaian kertas pembungkus atau kotak-kotak yang diimpregnasi dengan senyawa kimia tertentu.

(56)

  Mendesinfestasi OPT dalam penyimpanan

Untuk mencegah adanya infeksi dari patogen yang

berasal dari buah, sayuran dan sebagainya yang disimpan pada waktu sebelumnya,

maka ruangan tersebut harus dibersihkan sebelumnya dari segala macam kotoran dan sisa-sisa tanaman dan kemudian dicuci dengan larutan fungisida antara lain larutan sulfat tembaga dan formaldehid.

Untuk ruangan yang dapat ditutup rapat, maka seringkali digunakan senyawa kimia yang dapat menguap, seperti chloropicrin, gas formaldehid dan sebagainya.

(57)

Aspek Keselamatan dalam

Penggunaan Pestisida

Referensi

Dokumen terkait

In respect of fi nancial viability of South Africa research journals, the general acceptance, in the special South African context where accredited institutional publication outputs are