A. Latar Belakang
Evaluasi perencanaan sangat penting dilakukan terutama pada dokumen-dokumen rencana yang ada di Indonesia karena dokumen ini merupakan dokumen penting yang menentukan pembangunan Indonesia pada masa mendatang. Oleh karena itu, perlu dilakukan evaluasi rencana. Dokumen yang dievaluasi yaitu Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Bulukumba Tahun 2025-2045. Berdasarkan jenis dokumennya, dapat ditetapkan bahwa pendekatan yang digunakan yaitu pendekatan penataan ruang. Evaluasi dilakukan dengan melihat aspek substantif dokumen. Parameter evaluasi yang digunakan yaitu validitas isu, validitas permasalahan, reliabilitas tujuan dalam menanggapi isu dan permasalahan. Dari hasil evaluasi, diperoleh hasil bahwa validitas isu dinilai relevan dengan keadaan eksisting wilayah perencanaan, validitas permasalahan dinilai kurang, begitu pula dengan reliabilitas tujuan dalam menanggapi isu dan permasalahan juga dinilai kurang, hanya saja reliabilitas teknik dalam mencapai tujuan berdasarkan isu dinilai kurang karena tujuan yang dibuat tidak mampu menanggapi isu dan permasalahan yang telah dirumuskan. Menurut Pasal 15 Ayat (1) Undang-Undang No. 32 Tahun 2009, pentingnya Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) sangat ditekankan sebagai fondasi utama untuk memasukkan prinsip pembangunan berkelanjutan ke dalam kebijakan, rencana, dan program, termasuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM). Tujuannya adalah untuk menerapkan pembangunan yang berkelanjutan dalam pengembangan wilayah. Peraturan Pemerintah No. 46 Tahun 2016 mengatur proses KLHS, sementara Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 7 Tahun 2018 memberikan detail teknis dan sektoral terkait hal ini.
Dengan demikian, KLHS yang terkait dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Bulukumba tahun 2025-2045 sepenuhnya difokuskan untuk memastikan bahwa rencana pembangunan yang disusun sesuai dengan arah kebijakan yang ada. Tujuan dari kajian ini adalah memastikan bahwa semua aspek, baik sosial, ekonomi, maupun lingkungan, telah dipertimbangkan secara menyeluruh. Proses ini melibatkan pemangku kepentingan dalam sebuah diskusi yang melibatkan partisipasi serta keterlibatan aktif dari berbagai pihak terkait.
B. Maksud dan Tujuan
Maksud. Pembuatan dan pelaksanaan KLHS RPJPD Kabupaten Bulukumba Tahun 2025-2045 dimaksudkan sebagai upaya untuk memastikan pengaru utama prinsip pembangunan berkelanjutan dalam RPJPD Kabupaten Bulukumba Tahun 2025-2045.
Tujuan. Pembuatan dan pelaksanaan KLHS ini bertujuan untuk memberikan pandangan yang komprehensif berdasarkan capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) dan Kondisi Lingkungan Hidup Kabupaten Bulukumba sesuai dengan kondisi dan ketersediaan data terkini. Lebih dari itu, rumusan rekomendasi dalam formasi sasaran pokok dan arahan kebijakan selanjutnya
diintegrasikan ke dalam Ranwal RPJPD Kabupaten Bulukumba. Proses tersebut merupakan salah satu upaya mewujudkan RPJPD yang sesuai dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan
C. Isu Strategis Lingkungan Hidup 1. Timbulan Sampah dan Lumpur Tinja
Potensi timbulan sampah dan lumpur tinja memiliki hubungan sebanding dengan jumlah penduduk di setiap grid. Semakin banyak jumlah penduduk, semakin banyak pula timbulan sampah dan lumpur tinja yang berpotensi ada di wilayah tersebut.
Gambar 01: Peta Timbulan Sampah Tahun 2022
Gambar 02: Peta Timbulan Sampah Tahun 2045
Pola sebaran dari potensi timbulan sampah bergantung pada pola distribusi penduduk, karena pemodelan timbulan sampah hanya mempertimbangkan sampah yang bersumber dari domestik.
Tabel 01: Distribusi Timbulan Sampah Tahun 2022 – 2045
Kecamata n
Proyeksi Timbulan Sampah Kabupaten Bulukumba (Kg)
Peningkat an 2022- 2045 (Kg)
Perse nt ase Penin gk atan
(%) Timbul
an Sampa
h 2022
Timbulan Sampah
2025
Timbulan Sampah
2030
Timbul an Sampa
h 2035
Timbul an Sampa
h 2040
Timbul an Sampa
h 2045
Bontob
ahari 22.712
.35 3,19
24.094.36 5,46
26.144.96 6,49
28.369.40 0,60
30.783.39 9,28
33.403.48 0,61
10.691.12
7,43 47%
Bontotir o 21.678 .00 7,00
23.801.75 9,50
26.153.61 8,75
28.738.30 4,20
31.578.62 6,53
34.698.96 9,55
13.020.96
2,55 60%
Buluku
mpa 42.711
.02 2,45
43.658.05 8,75
44.955.90 7,50
46.291.51 1,85
47.668.01 8,10
49.084.63 9,67
6.373.617,
22 15%
Gantara ng
64.887 .71 8,11
67.940.41 5,69
72.474.23 3,99
77.310.09 7,10
82.469.24 2,53
87.972.12 1,23
23.084.40
3,12 36%
Herlang
22.415 .81 4,50
23.751.41 8,86
25.595.93 7,25
27.582.82 5,71
29.724.66 9,45
32.033.26 7,09
9.617.452,
59 43%
Kajang
38.365 .19 5,75
38.649.14 9,33
39.203.68 4,71
39.766.08 5,83
40.337.13 9,29
40.916.05 8,49
2.550.862,
73 7%
Kindang
25.882 .25 0,38
26.686.91 6,60
27.861.27 3,08
29.088.33 0,08
30.368.87 4,18
31.705.26 5,10
5.823.014,
73 22%
Rilauale
33.582 .81 9,62
34.861.00 3,99
36.757.43 6,32
38.756.90 9,97
40.864.93 0,97
43.087.79 1,91
9.504.972,
30 28%
Ujung
Loe 37.702
.89 9,45
40.062.62 4,45
43.593.55 9,62
47.435.19 1,92
51.615.83 8,04
56.165.38 7,84
18.462.48
8,39 49%
Ujungb
ulu 38.744
.32 4,79
39.372.01 1,64
39.891.15 1,14
40.416.58 3,24
40.949.88 1,09
41.489.47 1,54
2.745.146,
75 7%
Grand Total
348.68 2.4 05,23
362.877.7 24,27
382.631.7 68,84
403.755.2 40,48
426.360.6 19,43
450.556.4 53,03
101.874.0
47,80 29%
Sumber: Hasil Analisis Tim Pokja KLHS RPJPD Kabupaten Bulukumba, Tahun 2023
Secara spasial, timbulan sampah yang cukup tinggi di Kabupaten Bulukumba pada tahun 2022 terdapat di Kecamatan Gantarang sebesar 64.887.718,11 kg/tahun dan mengalami peningkatan pada tahun 2045 menjadi 87.972.121,23 kg/tahun dengan persentase peningkatan mencapai 36 %. Selain Kecamatan Gantarang yang memiliki timbulan sampah cukup tinggi, terdapat Kecamatan Bulumupa yang memiliki timbulan sampah pada tahun 2022 sebesar 42.711.022,45 kg/tahun, kemudian pada tahun 2045 mengalami peningkatan sebesar 49.084.639,67 kg/tahun dengan persentase peningkatan sebesar 15 %. Jika dilihat dari tutupan lahan, timbulan sampah yang tinggi berada pada wilayah yang padat permukiman seperti pada Kecamatan Gantarang dan Bulukumpa
2. Pencemaran dari Limbah Domestik
Limbah domestik adalah limbah yang dihasilkan oleh rumah tangga atau hunian sehari-hari di Kabupaten Bulukumba. Limbah ini mencakup berbagai jenis materi yang tidak lagi diinginkan dan harus dibuang atau diolah agar tidak mencemari lingkungan. Limbah domestik dapat berupa limbah padat, limbah cair, dan limbah gas.
3. Pencemaran dari Limbah Peternakan
Limbah peternakan adalah limbah yang dihasilkan dari kegiatan peternakan seperti penggemukan hewan ternak, pemeliharaan unggas, dan budidaya ikan. Limbah peternakan dapat mencakup berbagai jenis bahan organik dan anorganik yang dihasilkan selama proses pemeliharaan hewan ternak seperti kotoran hewan, air limbah dari peternakan, sisa pakan, limbah ternak mayat dan lainnya.
Limbah cair perternakan adalah semua limbah yang berbentuk cairan atau berada dalam fase cair (urine). Pencemaran ini disebabkan oleh aktfitas peternak yaitu feses, urine, sisa pakan, dan air pembersihan kendang. Adanya pencemaran oleh limbah perternakan sering menimbulkan berbagi protes dari kalangan masyarakat sekitarnya, terutama rasa gatal ketika menggunakan air sungai yang tercemar, disamping bau sangat menyengat. Beban pencemar dari sektor peternakan diperkirakan dengan menggunakan data emisi limbah peternakan yang disajikan pada Tabel berikut.
4. Pencemaran dari Limbah Rumah Sakit dan Hotel
Limbah hotel dan rumah sakit adalah jenis limbah khusus yang dihasilkan oleh kegiatan operasional dan pelayanan di hotel dan fasilitas rumah sakit. Limbah ini mencakup berbagai jenis bahan yang dapat mencemari lingkungan dan membahayakan kesehatan manusia jika tidak dikelola dengan baik. Pengelolaan limbah hotel dan rumah sakit menjadi penting untuk menjaga kebersihan, keamanan, dan keberlanjutan lingkungan. Potensi beban pencemaran dari hotel dan rumah sakit yang tidak memiliki IPAL dilakukan menggunakan faktor emisi yang dikembangkan oleh Balai Lingkungan Keairan, Pulitbang SDA, Kementerian Pekerjaan Umum (2013).
Sedangkan beban pencemaran dari hotel dan rumah sakit yang tidak memiliki IPAL dihitung menggunakan metode langsung sebagaimana perhitungan beban pencemaran untuk industri yang memiliki IPAL.
Tabel 02: Faktor Emisi Hotel dan Rumah Sakit
Sumber Pencemar
Faktor Emisi (gr/hari)
BOD COD TSS
Rumah Sakit (per tempat tidur) 123 169 116,85
Hotel (per kamar) 55 76 52,25
Sumber: BSD-PSDA Tahun 2013
Tabel 03: Pencemaran Hotel Kabupaten Bulukumba Tahun 2022 Rumah Sakit Beds BOD(kg/hari) COD(kg/hari) TSS
(kg/hari) RS Umum H.A.Sulthan
Daeng Radja
247 30,38 41,77 28
,86 Sumber: Hasil Analisis Tim Pokja KLHS RPJPD Kabupaten Bulukumba, 2024
Dari hasil analisis di atas dapat disimpulkan bahwa beban pencemaran dari hotel yang ada di Kabupaten Bulukumba memiliki beban pencemaran sebesar 28,77 kg/hr (Nilai BOD); 39,55 kg/hr (Nilai COD); 27,33 kg/hr (Nilai TSS). Sedangkan. Kabupaten Bulukumba hanya memiliki satu Rumah Sakit umum yaitu Rumah Sakit Umum H.A. Sulthan Daeng Radja dengan jumlah Tempat Tidur 247 yang memiliki beban pencemaran yaitu sebesar 30,38 kg/hr (Nilai BOD);
41,77 kg/hr (Nilai COD); 28,86 kg/hr (Nilai TSS).
5. Efisiensi Penyediaan Pangan
Pada jasa ekosistem penyedia pangan berdasarkan pola ruang memiliki nilai total efisiensi sebesar 110.549,01 Ha (94 %). Kawasan permukiman perkotaan pada pola ruang memiliki nilai
efisiensi yang rendah atau <50%. Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan beberapa tutupan lahan yang menjadi representatif penyedia pangan tidak berada pada pola ruang yang tepat.
Gambar 03: Efisiensi Pola Ruang Terhadap Sumber Daya Alam Penyedia Panga
Tabel 04: Distribusi Efisiensi Pola Ruang Terhadap Sumber Daya Alam Penyedia Pangan Pola Ruang Efisiensi Penyedia Pangan (%)
Danau 100
Hortikultura 100
Hutan Adat 100
Hutan Lindung 100
Hutan Produksi Tetap 95
Hutan Rakyat 100
Industri 89
Kawasan Bandara 100
Perikanan Budidaya 100
Perkebunan 100
Permukiman Pedesaaan 98
Permukiman Perkotaan 12
Pertanian Lahan Kering 97
Pertanian Tanaman Pangan 100
Sempadan Danau 100
Sempadan Pantai 100
Sempadan Sungai 100
Pola Ruang Efisiensi Penyedia Pangan (%)
Sungai 100
Tahura 100
Sumber: Hasil Analisis Tim KLHS RPJPD Kabupaten Bulukumba, Tahun 2023 6. Efisiensi Pengaturan Tata Aliran Air
Pada jasa ekosistem pengaturan tata aliran air memiliki total nilai efisiensi sebesar 105.919,66 (90 %) dari total luas wilayah Kabupaten Bulukumba. Pola ruang dengan efisiensi terendah adalah Kawasan permukiman perkotaan dan sempadan danau yang masing-masing memiliki persentase efisiensi sebesar 24% dan 23%. Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan beberapa tutupan lahan khususnya Hutan yang menjadi representatif pengaturan air tidak berada pada pola ruang yang tepat.
Gambar 04: Efisiensi Pola Ruang Terhadap Sumber Daya Alam Pengaturan Tata Aliran Air
Tabel 05: Distribusi Efisiensi Pola Ruang Terhadap Sumber Daya Alam Pengaturan Tata Aliran Air
Pola Ruang Efisiensi Pengaturan Tata Aliran Air (%)
Danau 100
Hortikultura 100
Hutan Adat 100
Hutan Lindung 100
Pola Ruang Efisiensi Pengaturan Tata Aliran Air (%)
Hutan Produksi Tetap 100
Hutan Rakyat 100
Industri 100
Kawasan Bandara 100
Perikanan Budidaya 100
Perkebunan 94
Permukiman Pedesaaan 96
Permukiman Perkotaan 24
Pertanian Lahan Kering 89
Pertanian Tanaman Pangan 98
Sempadan Danau 23
Sempadan Pantai 96
Sempadan Sungai 96
Sungai 100
Tahura 100
Sumber: Hasil Analisis Tim KLHS RPJPD Kabupaten Bulukumba, Tahun 2023 7. Rawan Bencana Banjir
Banjir di daerah Kabupaten Bulukumba sering terjadi di daerah aliran S. Bialo, S.
Balantiyeng, S. Anyorang, dan S. Bijawang, terutama di daerah muara dan alirannya pada daerah Palatte, Bampang, dan Lembang. Banjir disebabkan tingginya curah hujan di sekitar bagian hulu, daerah pengalirannya cukup sempit. Batuan penyusunan adalah batuan gunung api yang permeabilitas dan porositasnya rendah, adanya penggunaan tanah untuk budidaya pertanian di daerah lereng yang tidak sesuai dengan topografi dan kondisi geologi.
Gambar 05: Peta bahaya banjir
8. Rawan Bencana Longsor
Gerakan tanah terdiri dari longsoran translasi dan longsoran rotasi. Umumnya terjadi pada musim hujan dengan tingkat curah hujan di atas normal pada daerah lereng yang merupakan gerakan tanah lama maupun gerakan tanah baru, batuannya terkekarkan dengan tanah pelapukan cukup tebal dan di beberapa tempat dipacu dengan adanya usaha pertanian oleh penduduk setempat. Longsoran translasi, dijumpai di daerah Kahaya Kecamatan Kindang, kemiringan lereng 30% - 70%, batuan penyusunnya terdiri dari bahan rombakan endapan lahar beserta tanah pelapukannya. Longsoran rotasi dijumpai di daerah Erelebu Kecamatan Bontotiro, kemiringan lereng 30-45%, batuan penyusunnya terdiri dari napal dan bahan rombakan batuan gamping.
Gambar 06:Rawan Bencana Longsor
9. Meningkatnya pencemaran, kerusakan lingkungan dan resiko bencana akibat terbatasnya infrastruktur akses air bersih, sanitasi, penanganan sampah perkotaan,serta pengurangan risiko bencana.
Isu meningkatnya pencemaran, kerusakan lingkungan, dan risiko bencana sebagai akibat dari terbatasnya infrastruktur akses air bersih, sanitasi, penanganan sampah perkotaan, serta pengurangan risiko bencana memiliki keterkaitan yang erat dengan pembangunan berkelanjutan.
Infrastruktur yang tidak memadai dalam sektor-sektor ini dapat menyebabkan penumpukan limbah, pencemaran air, dan kerusakan ekosistem yang pada gilirannya meningkatkan risiko bencana alam. Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, diperlukan upaya terkoordinasi untuk meningkatkan infrastruktur dasar yang berkelanjutan, mempromosikan praktik pengelolaan limbah yang ramah lingkungan, dan mengintegrasikan prinsip- prinsip pengurangan risiko bencana dalam perencanaan kota. Pembangunan berkelanjutan bukan hanya mengarah pada pemenuhan kebutuhan saat ini, tetapi juga melibatkan langkah-langkah preventif dan proaktif untuk melindungi lingkungan dan masyarakat dari ancaman jangka panjang yang disebabkan oleh ketidakberlanjutan praktik-praktik urbanisasi.
Adapun isu-isu strategis terkait lainnya pada isu ini yaitu polusi dan kerusakan lingkungan, kerusakan dan pencemaran lingkungan, pemenuhan pelayanan dasar, peningkatan resiko pencemaran dan air bersih dan sanitasi. Isu strategis ketiga ini berkaitan dengan TPB 6 (Menjamin Ketersediaan Serta Pengelolaan Air Bersih dan Sanitasi yang Berkelanjutan) sebanyak 10 indikator, TPB 12 Menjamin Pola Produksi dan Konsumsi yang Berkelanjutan) sebanyak 1 indikator, TPB 11 (Menjadikan Kota dan Permukiman Inklusif, Aman, Tangguh dan Berkelanjutan) sebanyak 5 indikator dan TPB 15 (Melindungi, Merestorasi dan Meningkatkan Pemanfaatan Berkelanjutan Ekosistem Daratan, Mengelola Hutan secara Lestari, Menghentikan Penggurunan, Memulihkan Degradasi Lahan, serta Menghentikan Kehilangan Keanekaragaman Hayati) sebanyak 1 indikator.
Persentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap layanan sumber air minum layak ditargetkan meningkat menjadi 100% sesuai dengan target nasional yang terdapat pada Perpres No. 59 Tahun 2017. Namun capaian indikator ini hanya meningkat menjadi 92,34% pada tahun 2022. Sehingga dikategorikan belum mencapai target nasional.
Belum tercapainya target rumah tangga yang memiliki akses terhadap layanan sumber air minum layak secara umum disebabkan oleh infrastruktur yang kurang memadai, terutama di daerah pedesaan yang sulit dijangkau, keterbatasan dana untuk memperluas jaringan distribusi air minum, kendala teknis dalam penyediaan sistem air bersih, seperti masalah kualitas air, serta kurangnya kesadaran akan pentingnya sanitasi dan kebersihan yang baik di kalangan masyarakat.
Selain itu, faktor geografis dan topografi wilayah juga dapat menjadi hambatan dalam memastikan distribusi air minum layak ke seluruh rumah tangga di daerah tersebut.
9. Meningkatnya Kerentanan Masyarakat Miskin Akibat Belum Meratanya Pemenuhan Kebutuhan Dasar Masyarakat
Meningkatnya kerentanan masyarakat miskin akibat belum meratanya pemenuhan kebutuhan dasar di Kabupaten Bulukumba memiliki dampak serius terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Aspek sosial pembangunan berkelanjutan, yang mencakup kesejahteraan dan kesetaraan, terancam ketika akses masyarakat miskin terhadap pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dasar tidak merata. Disparitas ini dapat menciptakan kesenjangan sosial yang melanggar prinsip-prinsip keberlanjutan.
Adapun isu-isu strategis terkait lainnya pada isu ini yaitu tata kelola pemerintahan yang berkualitas, peningkatan risiko bencana banjir, kekeringan, cuaca ekstrim, dan pemenuhan pelayanan dasar. Isu strategis kedua ini berkaitan dengan TPB 1 (Mengakhiri Kemiskinan dalam Segala Bentuk Dimanapun) sebanyak 10 indikator, TPB 4 (Menjamin Kualitas Pendidikan yang Inklusif dan Merata serta Meningkatkan Kesempatan Belajar Sepanjang Hayat untuk Semua)
sebanyak 3 indikator, dan TPB 10 (Mengurangi Kesenjangan Intra- dan Antarnegara) dengan ...
indikator. Namun capaian indikator ini di Kabupaten Bulukumba meningkat dimana pada tahun 2016 mencapai 70,14 dan pada tahun 2022 mencapai 90,37% sehingga indikator ini dikategorikan belum mencapai target nasional.
Isu belum tercapainya target proporsi peserta jaminan kesehatan melalui SJSN (Sistem Jaminan Sosial Nasional) dalam bidang kesehatan mengacu pada masalah yang berkaitan dengan tingkat kepesertaan yang belum mencapai sasaran yang ditetapkan oleh pemerintah atau lembaga terkait. Salah satu faktor utama yang menyebabkan belum tercapainya target proporsi peserta adalah kendala aksesibilitas dan informasi. Beberapa masyarakat, terutama yang tinggal di daerah terpencil, mungkin tidak menyadari atau memiliki pengetahuan yang cukup tentang program jaminan kesehatan yang tersedia. Selain itu, ada juga faktor ekonomi yang mempengaruhi kemampuan masyarakat untuk membayar iuran atau memanfaatkan program jaminan kesehatan.
10. Belum Optimalnya Akses Pelayanan Kesehatan, Pola Hidup Sehat Dan Pemenuhan Gizi Yang Memadai.
Isu belum optimalnya akses pelayanan kesehatan, pola hidup sehat, dan pemenuhan gizi yang memadai menjadi permasalahan krusial dalam konteks pembangunan berkelanjutan. Akses terbatas terhadap layanan kesehatan menyebabkan ketidaksetaraan dalam mendapatkan perawatan, menghambat pencapaian target kesehatan global, dan berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi. Pola hidup yang kurang sehat, seperti kurangnya aktivitas fisik dan konsumsi makanan tidak seimbang, dapat meningkatkan beban penyakit kronis dan mempengaruhi produktivitas masyarakat. Sementara itu, pemenuhan gizi yang tidak memadai dapat mengakibatkan masalah kesehatan jangka panjang dan menghambat perkembangan optimal manusia. Oleh karena itu, untuk mencapai pembangunan berkelanjutan, diperlukan upaya terkoordinasi untuk meningkatkan akses pelayanan kesehatan, mengedukasi masyarakat tentang pola hidup sehat, dan memastikan pemenuhan gizi yang cukup, seiring dengan pembangunan infrastruktur dan kebijakan yang mendukung secara holistik.
Adapun isu-isu strategis terkait lainnya pada isu ini yaitu pemenuhan pelayanan dasar, kesehatan masyarakat dan tata kelola pemerintahan. Isu strategis ketiga ini berkaitan dengan TPB 3 (Menjamin Kehidupan yang Sehat dan Meningkatkan Kesejahteraan Seluruh Penduduk Semua Usia) sebanyak 10.
Angka Kematian Ibu (AKI) ditargetkan menurun sesuai dengan target nasional yang terdapat pada Perpres No. 59 Tahun 2017. Namun capaian indikator ini di Kabupaten Bulukumba meningkat dimana pada tahun 2016 mencapai 7 dan pada tahun 2022 mencapai 9 sehingga indikator ini dikategorikan belum mencapai target nasional.
Meningkatnya Angka Kematian Ibu (AKI) secara umum disebabkan oleh sejumlah faktor kompleks, termasuk akses terbatas terhadap pelayanan kesehatan maternal, kurangnya pemantauan kehamilan, komplikasi persalinan yang tidak terdeteksi atau tidak ditangani secara tepat, serta kondisi sosio-ekonomi yang rendah. Faktor-faktor tersebut saling berinteraksi dan menciptakan lingkungan di mana perempuan hamil memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap komplikasi yang dapat berujung pada kematian maternal.
11. Belum Optimalnya Pertumbuhan Ekonomi Dari Sektor-Sektor Unggulan dan Rendahnya Nilai Tambah Ekonomi Untuk Masyarakat
Isu strategis ini merupakan isu yang timbul akibat capaian indikator pada TPB terkait belum mencapai target nasional. Adapun TPB yang berkaitan dengan isu belum optimalnya pertumbuhan ekonomi dari sektor-sektor unggulan dan rendahnya nilai tambah ekonomi untuk masyarakat, yaitu TPB 8 “Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi yang Inklusif dan Berkelanjutan, Kesempatan Kerja yang Produktif dan Menyeluruh, serta Pekerjaan yang Layak untuk Semua” dan TPB 9 “Membangun Infrastruktur yang Tangguh, Meningkatkan Industri Inklusif dan Berkelanjutan, serta Mendorong Inovasi”.
laju pertumbuhan PDRB per kapita ditargetkan meningkat sesuai dengan target nasional yang terdapat pada Perpres No. 59 Tahun 2017. Namun, tren capaian indikator ini pada tahun 2022 hanya menurun menjadi 3,81%. Sehingga dikategorikan belum mencapai target nasional.
Menurunnya Laju pertumbuhan PDRB per kapita di Kabupaten Bulukumba disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu rendahnya investasi dalam sektor produktif dan kurangnya inovasi dalam pengembangan industri. Selain itu, masalah struktural seperti ketidaksetaraan pendapatan, tingkat pengangguran yang tinggi, serta kebijakan ekonomi yang kurang efektif juga dapat memperlambat pertumbuhan PDRB per kapita. Faktor-faktor eksternal seperti ketidakstabilan ekonomi global, fluktuasi harga komoditas, dan konflik politik juga dapat memberikan kontribusi terhadap penurunan pertumbuhan ekonomi suatu negara.
12. Belum Optimalnya Tata Kelola Pemerintahan Khususnya Yang Berkaitan Pelayanan Publik, Pengelolaan Anggaran, Kerjasama Pembangunan, Ketertiban Umum Serta Ketidaksetaraan Gender
Isu strategis ini merupakan isu yang timbul akibat capaian indikator pada TPB terkait belum mencapai target nasional. Adapun TPB yang berkaitan dengan isu belum optimalnya tata kelola pemerintahan khususnya yang berkaitan pelayanan publik, pengelolaan anggaran, kerjasama pembangunan, ketertiban umum serta ketidaksetaraan gender, yaitu TPB 16 “Menguatkan Masyarakat yang Inklusif dan Damai untuk Pembangunan Berkelanjutan, Menyediaan Akses Keadilan untuk Semua, dan Membangun Kelembagaan yang Efektif, Akuntabel, dan Inklusif di Semua Tingkatan”, TPB 5 “Mencapai Kesetaraan Gender dan Memberdayakan Kaum Perempuan”, dan TPB 17 “Menguatkan Sarana Pelaksanaan dan Merevitalisasi Kemitraan Global untuk Pembangunan Berkelanjutan”.
Capaian indikator 16.1.3.(a) proporsi penduduk yang menjadi korban kejahatan kekerasan dalam 12 bulan terakhir ditargetkan menurun sesuai dengan target nasional yang terdapat pada Perpres No. 59 Tahun 2017. Namun, tren capaian indikator ini pada tahun 2022 meningkat menjadi 78 Kasus. Sehingga dikategorikan belum mencapai target nasional.
Meningkatnya Proporsi penduduk yang menjadi korban kejahatan kekerasan dalam 12 bulan terakhir di Kabupaten Bulukumba disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu mencerminkan situasi keamanan yang memprihatinkan dalam suatu masyarakat. Faktor-faktor seperti ketidakstabilan ekonomi, ketidaksetaraan, dan kurangnya keamanan mungkin berkontribusi terhadap peningkatan tingkat kejahatan kekerasan. Selain itu, perubahan dalam dinamika sosial, seperti konflik antar kelompok atau ketidaksetujuan terhadap kebijakan pemerintah, dapat menjadi pemicu meningkatnya kejadian kekerasan. Peningkatan ini menuntut respons yang efektif dari pihak berwenang, termasuk penguatan kebijakan keamanan, pencegahan kejahatan, dan upaya penanganan akar penyebab yang mendasari untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan stabil bagi masyarakat.