1
Kode : 670
Nama Rumpun Ilmu : Seni Pertunjuakan
LAPORAN AKHIR Tahun 1 dari Rencana 3 tahun
PENELITIAN STRATEGI NASIONAL
PELESTARIAN MUSIK TRADISIONAL MINANGKABAU:
STRATEGI MENJAGA KETAHANAN BUDAYA BANGSA MENGHADAPI MASYARAKAT EKONOMI ASEAN
DI SUMATERA BARAT
TIM PENELITI
EDIWAR, S.Sn.,M.Hum., Ph.D (Ketua) NIDN 0018126210
Dr ROSTA MINAWATI, S.Sn., M.SI (Anggota) NIDN 0009127206
Dr FEBRI YULIKA, S.Ag., M.Hum (Anggota) NIDN 0020274006
Drs HANEFI, M.Pd (Anggota) NIDN 0025055515
KEMENTRIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI INSTITUT SENI INDONESIA PADANGPANJANG
OKTOBER 2017
2
3 RINGKASAN
Kajian pelestarian musik tradisional Minangkabau: Strategi Menjaga ketahanan seni budaya bangsa dilatarbelakangi oleh karena situasi Negara beberapa tahun terakhir dihadapkan dengan kerawanan dalam masalah ketahanan seni budaya sebagai identitas bangsa.
Persoalan pengkleman seni budaya Indonesia oleh Negara tetangga sering memunculkan persoalan menuju konflik antar Negara. Menghadapi persoalan berskala nasional itu, maka diperlukan strategi ketahanan bangsa bidang seni budaya menghadapi MEA yaitu melalui pelestarian seni budaya. Kajian ini fokus kepada tiga kajian dalam tiga tahap pelaksanaan, yaitu : Pertama; pemetaan, inventarisasi dan dokumentasi musik tradisional Minangkabau berbasis geo-budaya dan geo-politik; Kedua, kajian organologi peralatan musik tradisional Minangkabau; Ketiga, kajian formula musikal untuk mendapatkan karakteristik dan identik musik Minangkabau. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan penelitian kualitatif.
Ketiga tahapan ini berjalan secara berkesinambungan sehingga menghasilkan suatu format ilmiah dalam kajian seni budaya.
Key word: pemetaan, Inventarisasi, Dokumentasi, organologi, formula musikal.
4 PRAKATA
Puji syukur Alhamdulillah kami penjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, hidayah, inayah, dan ridho-Nya, sehingga kegiatan Penelitian Strategis Nasional dapat terlaksana sesuai dengan harapan dan penulisan laporan dapat diselesaikan tepat waktu. Shalawat beriring salam semoga tercurah kepada junjungan umat Islam yakni Rasulullah Muhammad SAW.
Kegiatan Penelitian yang berjudul “Pelestarian Musik Tradisional Minangkabau : Strategi Menjaga Ketahanan Seni Budaya Bangsa Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean di Sumatera Barat” pada tahap awal ini difokuskan pada aspek pemetaan dan inventarisasi serta pendokumentasian musik tradisional Minangkabau, sebagai salah satu upaya untuk menyelamatkan warisan budaya dari pendegradasian nilai dan kepunahan musik tradisional seiring dengan perkembangan zaman. Melalui penelitian ini diharapkan munculnya kesadaran masyarakat dan strategi kebijakan dari pemerintah agar musik tradisional Minangkabau eksis dan dapat bersaing secara kompetitif dalam percaturan masyarakat ekonomi Asean.
Kegiatan penelitian ini dapat berjalan dengan lancar, hal itu terwujud karena terjalinnya kerja sama yang baik dari berbagai pihak. Oleh karena itu dengan rasa hormat kami ucapkan banyak terima kasih kepada Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) Kemenristek-Dikti yang telah memberikan kepercayaan kepada kami sebagai pelaksana penelitian tahun 2017. Terima kasih juga disampaikan kepada Prof. Dr. Novesar Jamarun, MS, selaku Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, terima kasih juga disampaikan LPPMPP Institut Seni Indonesia Padangpanjang yang telah memberi dorongan, masukan, dan kemudahan demi kelancaran kegiatan ini. Terima kasih kepada Pemerintah
5 dan masyarakat Kabupaten Padang Pariaman, Sijunjung, Pasaman, Pasaman Barat, Agam, Tanah Datar, Lima Puluh Kota, Kota Pariaman dan Kota Padang, atas kesediaanya dalam memberikan data serta informasi terkait dengan penelitian ini. Terimakasih kepada semua pihak yang tidak dapat disebut satu persatu yang telah membantu untuk kelancaran kegiatan dan terselesainya laporan penelitian ini.
Kami menyadari laporan ini memiliki banyak kelemahan dan kekurangan, untuk itu dengan hati terbuka kami menerima saran dan kritik dari pembaca yang sifatnya membangun. Kami berharap semoga laporan ini bermanfaat bagi masyarakat, dunia pendidikan pada umumnya dan seni khususnya.
Padangpanjang, Oktober 2017
Tim Peneliti
6 DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL i
HALAMAN PENGESAHAN ii
RINGKASAN iii
PRAKATA iv
DAFTAR ISI vi
DAFTAR GAMBAR x
DAFTAR LAMPIRAN xii
BAB I. PENDAHULUAN 1
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 7
BAB III. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 15
BAB IV. METODE PENELITIAN 20
BAB V. HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI 29
A. MUSIK TRADISI MINANGKABAU: TRADISI PERKUSI
(PERKUSI MELODIS DAN RITMIS) 29
1. Pengenalan 29
2. Musik Perkusi Melodis 30
2.1. Music Tradisional Talempong 31
2.1.1 Musik Tradisional Talempong Teknik Jalinan (Interlocking) 32 2.1.1.1 Musik Tradisional Talempong Aia Tabik Kabupaten Lima Puluh
Kota 35
2.1.1.2 Musik Tradisional Talempong Teknik Hocketing 39
2.1.1.3 Musik Tradisional Oguang Jana 39
2.1.1.4 Musik Tradisional Gandang Tigo 41
2.2 Musik Tradisional Talempong Teknik Melodis 43
2.2.1 Talempong Duduak 43
2.2.1.1 Musik Tradisional Talempong Gandang Oguang 44
2.2.1.2.Musik Tradisional Talempong Unggan 48
2.2.1.3 Musik Tradisional Gandang Lasuang 53
2.2.1.4 Musik Tradisional Talempong Uwaik-uwaik 55
7 2.2.1.5 Musik Tradisional Talempong Batuang Kabupaten Lima Puluh
Kota 56
2.2.1.6 Musik Tradisional Talempong Kayu 58
3. Musik Perkusi Ritmis 59
3.1 Musik Perkusi Ritmis Gandang 60
3.1.1 Musik Tradisional Gandang Tambua 60
3.1.2 Musik Tradisional Gandang Sarunai 64
3.1.3 Musik Tradisional Gandang Tambua Tasa 68
3. 1. 4 Musik Tradisional Gondang 70
3. 2. Alat Musik Perkusi Pengiring Nyanyian 72
3.2.1 Musik Tradisional Dikia Mundam 73
3. 2. 2 Musik Tradisional Dikia Pano 75
3.2.3 Muasik Tradisional Dikia Rabano 77
B. MUSIK MINANGKABAU: TRADISI TIUP 79
1. Pengenalan 79
1.1 Musik Saluang 82
1.1.1. Saluang Darek (Saluang Dendang) 83
1.1.2 Saluang Sirompak 91
1.1.3. Saluang Pauah /Dendang Pauah 96
1.1.4 Saluang/Bansi Solok 99
2. Sampelong 100
C. MUSIK GESEK DAN PETIK MINANGKABAU 104
1. Pengenalan 104
1.1 Rabab Pasisia 105
1.2. Rabab Piaman 107
1.3. Rabab Darek 108
1.4. Rabab Badoi 111
3. Sijobang Kucapi 113
D. MUSIK MINANGKABAU: PENGARUH ISLAM 115
1. Indang Pariaman 115
8
2. Indang Solok 124
3. Indang Tuo (Maninjau) 126
4. Indang Tuo 127
E. PEMETAAN MUSIK TRADISONAL MINANGKABAU 131
1. Pengenalan 131
2. Pemetaan Musik Tradisi Berdasarkan Geo Budaya dan Geo Politik 133 3. Pemetaan Musik Tradisi Pengaruh Budaya Rakyat 140 4. Pemetaan Musik Tradisi Pengaruh Budaya Islam 142 5. Pemetaan Musik Tradisi Pengaruh Budaya Popular 144 F. PANDANGAN BIDANG KEBUDAYAAN TERHADAP 147 PEMETAAN MUSIK TRADISIONAL MINANGKABAU
1. Kabupaten Agam 147
2. Kabupaten Dharmasraya 149
3. Kabupaten Sijunjung 152
4. Kabupaten Solok Selatan 155
5. Kabupaten Pesisir Selatan 158
6. Kabupaten Solok 161
7. Kota Sawahlunto 163
8. Kota Solok 165
BAB VI. RENCANA TAHAPAN BERIKUTNYA 170
BAB VII. KESIMPULAN DAN SARAN 172
DAFTAR PUSTAKA 174
LAMPIRAN 180
1. Daftar Informan 180
2. Daftar Nagari di Sumatera Barat 182
3. Data Kesenian Akulturasi Budaya Tahun 2017 224 4. Data Sanggar di Kab. Pesisir Selatan Tahun 2017 236 5. Data Grup Kesenian Kab, Sijunjung Tahun 2017 238
9 6. Data Jenis Kesenian di Kab. Solok Selatan Tahun 2017 239
7. Daftar Kesenian Tradisional di Kabupaten Tanah Datar 2017 241 8. Biodata Kelompok Pertunjukan Rakyat (PERTUNDRA) Se-
Kota Sawahlunto Tahun 2017 244
9. Nama Grup dan Data Kesenian Musik, Tari dan Silek Tradisi
Kota Solok Tahun 2017 251
10 DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 1. Talempong Pacik dalam mengarak pengantin Aia Tabik
Kab. Lima Puluh Kota 36
Gambar 2. Talempong Pacik di Kanagarian Aia Tabik Kab. Lima
Puluh Kota 37
Gambar 3. Talempong Pacik Nagari Sumpu 38
Gambar 4. Arak-arakan menggunakan Talempong Pacik 38 Gambar
5. Penyajian Oguang Jana 40
Gambar 6. Gendang Tigo Baso. Kab. Agama 42
Gambar 7. Talempong Duduak Kab. Agam 43
Gambar 8. Talempong Duduak dan gendang. Kab. Agam 44 Gambar 9. Talempong Gondang Aguang Kecamatan Kapur IX
Kab. Lima Puluh Kota 45
Gambar 10. Gondang dalam Ansambel Talempong Aguang
Kecamatan Kapur IX Kab. Lima Puluh Kota 46 Gambar 11. Pertunjukan Talempong Unggan Kabupaten Sijunjung 52 Gambar 12. Proses Latihan Talempong Unggan Kabupaten
Sijunjung 52
Gambar 13. Talempong Gandang Lasuang 54
Gambar 14. Talempong Uwaik-uwaik Paninjauan 56
Gambar 15. Talempong Batuang 57
Gambar 16. Talempong Kayu 59
Gambar 17. Gendang Tambua Pariaman 63
Gambar 18. Gendang Tansa Maninjau 69
Gambar 19. Gandang dimainkan oleh siswa SMP VI Koto Maninjau 69 Gambar 20. Alat Musik dan Penajian Dikia Mudam 74
Gambar 21. Dikia Pano Pasaman 76
Gambar 22. Dikia Rabano Lasi, Kab. Agam 78
Gambar 23. Saluang jo Dendang 85
Gambar 24. Festival Saluang jo Dendang se Sumatera Barat 86
Gambar 25. Saluang Sirompak 95
11
Gambar 26. Dendang Pauah 98
Gambar 27. Alat musik Sampelong 102
Gambar 28. Sampelong jo Dendang 103
Gambar 29. Sampelong jo Dendang 103
Gambar 30. Rebab Pesisir 105
Gambar 31. Penyajian Rabab Pasisia 106
Gambar 32. Rabab Piaman 107
Gambar 33. Penyajian Dendang Rabab 109
Gambar 34. Rabab Darek 110
Gambar 35. Sijobang Kucapi 114
12 DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Nagari di Sumatera Barat 175
Lampiran 2. Data Kesenian di Kabupaten Darmasaraya tahun 2017 194 Lampiran 3. Data Sanggar di Kabupaten Pesisir Selatan tahun 2017 206 Lampiran 4. Data Grup Kesesnian di Kabupaten Sijunjung 208 Lampiran 5. Data Jenis Kesenian di Kabupaten Solok Selatan 209 Lampiran 6. Daftar Grup Kesenian di Kabupaten Tanah Datar 211 Lampiran 7. Biodata Kelompok Pertunjukan Rakyat (pertundra)
Se-kota sawahlunto tahun 2017 214
Lampiran 8. Nama Grup dan Data Kesenian Musik, Tari dan Silek
Tradisi Kota solok 221
13 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Negara Repoblik Indonesia adalah Negara besar yang memiliki keragaman seni budaya daerah yang menjadi kebanggaan anak bangsa ini yang tersebar di daerah-daerah.
Kebudayaan nasional, identitas budaya dan kepribadian nasional haruslah merupakan hasil atau ‘resultante’ dari dinamika persaingan, perbenturan, atau pun pertarungan budaya antara tradisi lokal dengan pengaruh global. Untuk itu, posisi tawar tradisi lokal dan adat istiadat masyarakat daerah-daerah di seluruh nusantara harus diperkuat sebagaimana mestinya. Jika tidak tentulah segenap anak bangsa akan kehilangan jatidiri masing-masing sebagai orang Indonesia yang berkepribadian Indonesia.
Di alam globalisasi di mana hubungan komunikasi dan pergaulan dunia seakan tanpa batas (borderless), jelas membuka peluang terjadinya proses akulturasi. Jika proses akulturasi akhirnya menghasilkan dominasi kebudayaan asing, berarti memusnahkan lokal genius. Ini tidak lain adalah pendangkalan budaya, yang tidak mustahil bermuara pada kehancuran budaya-budaya lokal, yang berakibat hilangnya jati diri suatu bangsa atau etnik.
Dalam konteks kekinian, hadirnya Deklarasi Asean Community, yang bertujuan untuk lebih memperkuat, mempercepat, dan mengimplementasikan kerjasama diantara negara anggota ASEAN. Adapun ASEAN Community ini mencakup 3 pilar yang menjadi konsep besar yaitu 1) Komunitas bidang politik, keamanan, dan hukum (ASEAN Political Security Community); 2). Kerjasama dibidang ekonomi (ASEAN Economic Society); 3). Kerjasama bidang sosial budaya (ASEAN Socio-cultural Community). Disini amat jelas pada bagian terakhir terkait dengan kerjasama bidang sosial budaya, tingkat kebebasan silang budaya yang akan menumbuhkan perang ideology, kekaburan batas geo-budaya dan geo-plitik akan
14 terjadi. Pasar bebas pada satu pihak akan berdampak positif bila budaya luar bisa dimanfaatkan bagi penguat identitas bangsa, dan akan berdampak negative bila tidak mampu-nya bangsa Indonesia mengadopsi budaya global yang lebih relevan bagi upaya pembangunan bangsa dan karakter bangsa (nation and character building). Percaturan budaya global dan pasar bebas antar bangsa akan berdampak pula akan terjadinya perang ideology, kekaburan batas geo-budaya dan geo-politik, hibriditas, politik identitas dan sebagainya. Nilai-nilai solidaritas sosial, kekeluargaan, keramahtamahan sosial, dan rasa cinta tanah air yang pernah di anggap sebagai kekuatan pemersatu dan ciri khas bangsa Indonesia, dan makin pudar bersamaan dengan menguatnya nilai-nilai materialisme pengaruh budaya global dan pasar bebas itu.
Strategi sebagai upaya pelestarian, upaya kebertahanan seni budaya dalam menghadapi MEA yang sudah digulirkan itu perlu disikapi, agar bangsa Indonesia tidak kehilangan jatidiri budaya lokal yang memiliki simbol-simbol khas, nilai-nilai, makna dan daya bersifat kedaerahan, kelompok, komunitas, dan menjadi anutan/pegangan hidup menurut adat istiadat yang berlaku.
Sehubungan dengan persoalan di atas, bangsa Indonesia telah dibuktikan dengan peristiwa kebudayaan yang disebut dengan “pengklaiman” seni budaya Indonesia oleh Negara lain seperti Angklung, Reog Ponorogo, lagu Rasa Sayang, Tari Piring, Tari Indang, Tari Pendet, Tari Tor-Tor dan Gordang Sambilan, dan lain sebagainya. Negara tetangga melakukan berbagai cara agar kesenian itu menjadi pengakuan internasional (UNESCO) sebagai milik mereka. Tentu saja hal demikian akan dapat menjadi ancaman berskala nasional-Indonesia. Oleh karena itu, bangsa Indonesia harus melakukan langkah strategis agar tidak kehilangan “tongkat” sejarah warisan budaya bangsa, dan perlunya percepatan dan reguliasi Hak Paten terhadap nilai-nilai luhur nenek moyang sebagai bagian kepribadian bangsa serta mendorong ekonomi kerakyatan berbasis budaya.
15 Dalam rangka menyikapi persoalan kenegaraan tersebut, salah satu di antara upaya melestarikan dan kebertahanan politik identitas budaya bangsa adalah melakukan suatu program penelitian dari berbagai sudut pandang dan pendekatan. Salah satu di antaranya adalah pentingnya pemetaan, pendataan, pendokumentasiaan ragam jenis seni budaya bangsa Indonesia dan atau kajian-kajian mendalam terhadap karakteristik/ciri-ciri seni budaya Indonesia. Mengingat Negara Kesatuan Republik Indonesia sangat luas, dan beragamnya jenis seni budaya bangsa ini (tersebar di daerah-daerah, kepulauan nusantara) maka salah satu seni budaya yang menarik dilakukan penelitian adalah musik tradisional Minangkabau, di Sumatera Barat.
Musik tradisional yang terdapat di Minangkabau, merupakan kekayaan budaya yang sangat berharga. Di daerah ini terdapat beragam musik-musik tradisional Minangkabau dengan beragam bentuk dan jenis. Paling tidak terdapat tiga karakter musik tradisional Minangkabau bila diamati berdasarkan historis, yaitu: (1) musik tradisi pengaruh budaya agraris, fungsi dan kegunaannya berhubungan dengan upacara-upacara adat istiadat Minangkabau, seperti talempong (talempong pacik dan talempong duduak), ragam jenis musik tiup (saluang, sampelong, bansi dan pupuik), ragam musik perkusi ritmis (gandang tambua, gandang katipik, gandang sarunai); (2) musik tradisi pengaruh budaya Islam yang berhubungan dengan aktivitas keagamaan, seperti salawat dulang, indang, barzanji, dikie dengan berbagai versi, ratik, dan lain sebagainya; dan (3) musik-musik tradisional Minangkabau yang dipengaruhi budaya populer, bentuknya pun beragam, ada yang terjadi dari sumber utamanya musik tradisi Minangkabau kemudian berkembang setelah berimbuhan dengan musik diatonis (Barat) dan alat-alat musik Barat. Industri kreatif bidang seni musik yang bersumber dari musik tradisional Minangkabau telah
mengantarkan musik-musik yang bernuansa kedaerahan semakin diminati oleh
16 masyarakatnya. Misalnya, talempong kreasi atau talempong goyang, dendang-dendang tradisi yang diaransemen ke dalam lagu-lagu Pop Minang dengan menggunakan
kolaborasi nada-nada diatonis dan tradisional (lokal genius) itu sendiri. Secara faktual ia berkembang dan menjadi salah satu bagian musik yang dinikmati oleh masyarakat Minangkabau dan menjadi identitas kedaerahan.
Dalam rangka upaya pelestarian, strategi mempertahankan identitas bangsa amat diperlukan langkah-langkah tepat untuk menjadikan musik tradisional Minangkabau tetap hidup, berkembang, tercatat sebagai warisan budaya bangsa yang patut dijaga keberadaannya. Paling tidak ada tiga strategi yang menarik dan patut dilakukan dalam penelitian ini, yaitu:
Pertama; pemetaan, pendokumentasian dan inventarisasi musik tradisional
Minangkabau.1 Dalam konteks ini, musik tradisional Minangkabau perlu didata secara lengkap berdasarkan wilayah ”geo-budaya” dan geo-politik. Pemetaan berdasarkan geo-budaya akan berhubungan dengan dua istilah konsep alam Minangkabau, yaitu dari segi filosofis dan sosio-budaya masyarakatnya: luhak dan rantau.2 Manakala pemetaan musik tradisional Minangkabau berdasarkan geo- politik adalah pemetaan musik tradisional Minangkabau berdasarkan daerah
1 Model musik tradisi pengaruh budaya agraris, musik tradisi pengaruh budaya Islam, dan musik tradisi pengaruh budaya populer.
2 Istilah luhak, yaitu lokasi asal yang didiami oleh nenek moyang etnik Minangkabau, dikenal dengan Luhak Nan Tigo yang meliputi Luhak Tanah Data, Luhak Agam, dan Luhak Limo Puluah. Ketiga luhak ini terletak di daerah darek Minangkabau yang merupakan tempat asal perkembangan masyarakat Minangkabau, adat- istiadat, dan sistem pemerintahan menurut tradisi. Sementara rantau, yaitu lokasi baru sebagai tempat perantauan etnik Minangkabau, ketika keluar dari daerah Luhak Nan Tigo untuk mencari wilayah penghidupan baru. Daerah perantauan berada di sekeliling Luhak Nan Tigo sampai ke wilayah pasisia Minangkabau, bahkan meliputi sebagian kecil provinsi Riau, sebagian kecil provinsi Jambi, dan sebagian kabupaten Mandailing-Natal, di provinsi Sumatra Utara, dan termasuk daerah rantau di Negara tentangga (Malaysia) yaitu Negeri Sembilan. Dalam pengertian kebudayaan, berarti ada suku bangsa Minangkabau, kebudayaan Minangkabau, dan kesenian Minangkabau. (M.D. Mansoer: 1970: 2).
17 administratif pemerintahan yang dilingkupi oleh perbatasan menurut pembagian pemerintahan provinsi di Sumatera Baratyaitu akan mengungkap persebaran musik tradisional dengan mengacu kepada wilayah provinsi Sumatera Barat yang meliputi kabupaten dan kota.
Pemetaan musik tradisional Minangkabau bukan hanya menempatkan jenis musik pada suatu tempat, lokasi dan daerah tertentu saja, akan tetapi lebih dari itu adalah akan mengungkap sejauh mana pertisipasi masyarakat dalam rangka sosialisasi dan menumbuhkan motivasi belajar serta penguatan kelembagaan kesenian yang tersebar di daerah-daerah, termasuk upaya strategi pengembangan secara kualitas dan kuantitas, upaya pewarisan kepada generasi muda, pemberdayaan kelompok kesenian, meningkatkan koordinasi integrasi dan sinkronisasi antar instansi/lembaga yang melaksanakan pengembangan dan pemberdayaan kelompok musik tradisional, peningkatan pementasan kesenian, membuat wahana kreativitas dan ekspresi baik di tingkat lokal, nasional maupun global. Produk dari pemetaan, inventarisasi dan dokumentasi adalah akan adanya data-data musik tradisional Minangkabau dalam bentuk data elektronik (digitalisasi) yang dapat diakses oleh masyarakat luas.
Kedua, kajian organologi, yaitu berhubungan dengan aspek bentuk, teknik
pembuatan, kajian bahan, dan pengklasifikasian ragam musik tradisional Minangkabau yang menjadi identitas kedaerahan, seperti jenis peralatan musik berkelas idiophone, chordophone, aerophone, membranophone, idiochordophone, dan sebagainya;
18 Ketiga, kajian formula musikal masing-masing alat musik tradisional
Minangkabau (kajian musikologis) akan berhubungan dengan aspek unsur-unsur musikal yang menjadi karakteristik bagi setiap musik tradisional Minangkabau seperti, tangga nada, melodi, kontur melodi, interval melodi, repertoar konteks, nada dasar, ritme dan sebagainya.
Penelitian juga akan memperhatikan entitas-entitas kreatifitas dari komunitas-komunitas musik yang berbasis lokal yaitu komunitas seni yang memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang “baru” (invention or discovery) seperti gagasan, hasil seni, individu kreatif, komunitas musik kreatif berbasis lokal tradisional Minangkabau, dan lain-lain yang memiliki nilai.
Kelompok musik yang berbagi berbagai pengetahuan dan pengalaman melalui serangkaian diskusi dan pertunjukan, menciptakan sesuatu yang baru dan bernilai, seperti sebuah acara pertunjukan budaya, produk, hasil kerja, pendidikan, rekreasi dan lain-lain.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pembahasan di atas, amat jelas terdapat kekayaan bangsa Indonesia terhadap kesenian, khusunya musik tradisional nusantara yang tersebar di Minangkabau, Sumatera Barat. Mengingat besarnya potensi seni musik tradisional Minangkabau yang perlu diungkap, maka permasalahan kajian dirumuskan sebagai berikut:
19 1. Apa langkah-langkah strategis untuk menjadikan musik tradisional Minangkabau tetap lestari, bertahan, berkembang dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean?
2. Apa langkah strategis pemberdayaan musik tradisional Minangkabau melalui industry kreatif pembuatan alat musik tradisional dengan menggunakan pendekatan organologis?
3. Bagaimana bentuk formula-formula musikal yang terdapat pada musik tradisional Minangkabau yang berkembang di wilayah Provinsi Sumatera Barat, sehingga menjadi identitas dan karakteristik budaya Minangkabau?
20 BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN A. State of the art dalam Bidang yang Diteliti
Tinjauan pustaka berguna untuk melihat literatur-literatur yang mempunyai hubungan langsung maupun tidak langsung dengan masalah Musik Tradisional Minangkabau.
Sebelum menentukan masalah yang akan dikerjakan pada penelitian ini, terlebih dahulu dilakukan tinjauan kepustakaan untuk melihat literatur-literatur yang mempunyai hubungan langsung maupun tidak langsung dengan masalah pelestarian musik tradisional Minangkabau. Tiga pengaruh budaya musik tradisional Minangkabau yang menjadi menarik dalam penelitian ini adalah: 1) tradisi musik pengaruh budaya agraris; 2) tradisi musik pengaruh budaya Islam; dan 3) tradisi musik pengaruh budaya populer. Tinjauan kepustakaan ini mengemukakan sejumlah literatur yang terkait dengan ketiga kategori tersebut, yaitu berupa jurnal, buku, maupun hasil penelitian.
B. Studi Pendahuluan
Studi pendahuluan merupakan langkah awal penelitian yang dilakukan dengan maksud untuk memahami fenomena budaya musik dalam masyarakat Minangkabau-Sumatera Barat. Penelitian dilakukan observasi langsung ke lapangan. Selanjutnya dilakuan tinjauan pustaka untuk mendapatkan data-data penelitian yang sudah dilakukan oleh peneliti terdahulu dan digunakan sebagai bahan rujukan apa-apa saja yang sudah dicapai, kemudian dihubungkaitkan dengan proposal yang diajukan ini.
Kajian terdahulu yang berhubungan musik tradisi pengaruh budaya agraris seperti talempong dibahas oleh penulis terdahulu terkait dengan musik perkusi talempong, seperti
21 Boestanuel Arifin Adam3 (1986/1987), Hajizar4 (2004), Hanefi5 (2002), Syeilendra6 (1997);
Yasril Adha7 (2005). Adam lebih pada memberikan informasi tentang berbagai macam jenis talempong tradisional di Minangkabau, seperti talempong pacik, talempong rea, talempong batuang, dan lain sebagainya. Kemudian empat orang penulis berikutnya terlibat dalam pembicaraan perubahan talempong tradisi ke talempong kreasi dengan penekanan yang berbeda.
Penulis lainnya terkait dengan musik talempong adalah Mahdi Bahar (2009)8, Nusyirwan (2011)9, Nadia Fulzi (2011)10 Bahar mencoba menjelaskan keberadaan musik perunggu Minangkabau dan hubungannya dengan kerajaan Majapahit dan kerajaan Melayu.
Sementara Nusyirwan melalui disertasinya membicarakan salah satu sisi dari aspek teknik penalaan talempong logam di Minangkabau. Nadia Fulzi (2011) – berupa tesis. Fokus pembicaraan Nadia diarahkan pada konsep musikal talempong lagu dendang, pada masyarakat Nagari Limbanang. Talempong lagu dendang yang dibicarakan dalam tulisan Nadia adalah jenis genre baru dalam musik talempong di Minangkabau.
Berikut salah seorang peneliti Amerika yang cukup konsentrasi terhadap musik talempong Minangkabau adalah Jennifer A Frazer (2013)11 membahas tentang perubahan
3 Boestanuel Arifin Adam. “Talempong: Musik Tradisional Minangkabau”. Penelitian: ASKI Padangpanjang, 1986/1987.
4 Hazijar. “Menguak Konsep Musikal Tiga Jenis Talempong Yang Langka Di Luhak 50 Koto”.
Jurnal Penelitian. STSI Padangpanjang, 2004.
5 Hanefi. Talempong Minangkabau Bahan Ajar Musik dan Tari. Bandung: P4St UPI, 2002.
6 Syailendra. Musik Talempong: Fungsinya Pada Industri Pariwisata Di Kotamadya Padang Sumatra Barat”, Tesis. Jurusan Ilmu-Ilmu Humaniora Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Yogyakarata: 1997.
7 Pengaruh Sistem Diatonis Terhadap Perkembangan Talempong Di Minangkabau”, Tesis.
Jurusan Ilmu-Ilmu Humaniora Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta: 2005.
8 Musik Perunggu Nusantara: Perkembangan Budayanya di Minangkabau, Bandung: Bumi Grafika Utama – diangkat dari disertasi.
9 Varian Teknik Penalaan Talempong Logam di Minangkabau”. Disertasi. Yogjakarta. Universitas Gadjah Mada
10 Talempong Lagu Dendang”. Tesis. Pascasarjana ISI Padangpanjang.
11 The Sustainebility and Evolution of Talempong Pluralism in Minangkabau Gong Practices”
Performing Indonesia, Smithsonian Institution Forthcoming-Washington DC, Makalah . Ethnomusicologi Forum 22(2): 129-159. 2013
22 dan keberlanjutan keberagaman musik talempong dalam berbagai kegiatan penyajiannya di Minangkabau, dengan judul: “The Sustainability and Evolution of Talempong: Pluralism in Minangkabau Gong Practices” Performing Indonesia, Smithsonian Institution. Forthcoming.
“The Art of Grieving: West Sumatra’s Worst Earthquake in Music Videos.”
Ethnomusicology Forum 22(2):129-159.”
Lebih jauh Jennifer A. Fraser (2011)12 membahas tentang kemunculan lagu-lagu
“Pop daerah” Minangkabau yang dibawakan dengan orkes talempong Minangkabau yang berlaras diatonik (tangga nada Barat) sebagai suatu usaha kelompok, kemudian menjadi kebiasaan dalam pesta adat perkawinan Minangkabau, dengan judul “Pop Song as Custom:
Weddings, Entrepreneurs, and Ethnicity in West Sumatra.” Ethnomusicology Forum 15(2):200-228. Terkait dengan masalah kekhawatiran terhadap keberadaan musik talempong pengaruh lagu-lagu Pop, dan keberlanjutan sejarah perkembangan talempong kreasi di Sumatera Barat. Jennifer (2011)13 juga membahas pada CONFERENCE PROCEEDINGS dengan judul: “The Fate of Village-Style Talempong in the Twenty-First Century” “Hybridity and Emergent Traditions: Gongs, Pop Songs, and the Story of Talempong Kreasi in West Sumatra.” Proceedings of the 1st Symposium of the ICTM Study Group on Performing Arts of Southeast Asia. 31-36. 2011.
Terakhir penelitian Jennifer A Fraser (2015)14 adalah buku yang berjudul: Gongs &
Pop Songs: Sounding Minangkabau in Indonesia, sebuah buku yang berisikan uraian tentang tradisi dua genre musik talempong Minangkabau yaitu genre musik talempong pacik dan musik talempong duduak di beberapa daerah atau nagari tempat tumbuh dan
12 Pop Song as Custom: Weddings, Entrepreneurs, and Ethnicity in West Sumatra.” Makalah, Ethnomusicology Forum 15(2):200-228.
The Fate of Village-Style Talempong in the Twenty-First Century” “Hybridity and Emergent Traditions: Gongs, Pop Songs, and the Story of Talempong Kreasi in West Sumatra.” Conference Proceedings. The 1st Symposium of the ICTM Study Group on Performing Arts of Southeast Asia, 31-36.
2011.
14 Gongs & Pop Songs: Sounding Minangkabau in Indonesia. (Athens: Ohio University Press, 2015)
23 berkembangnya musik terebut. Kedua genre musik talempong itu kemudian berkembang melalui para seniman kreatif dengan mengkolaborasikan dengan mosik modern yang disebut dengan talempong goyang.
Terkait dengan musik vocal (dendang) dibahas oleh Siti Chairani Proehoeman (2006) yang berjudul “Dendang Darek: Alternatif Pengembangan Cara Menyanyi Tradisional ke Cara yang Sesuai dengan Kaidah Fisiologi” Disertasi ini mengkaji tentang dendang tradisional Minangkabau khususnya dendang darek dari segi cara menyanyi tradisional ke cara yang sesuai dengan kaidah fisiologi terkait cara pernafasan, artikulasi, phrasering, resonansi, vibrasi, improvisasi, dan intonasi. Selain itu juga menekankan bagaimana pentingnya kesadaran penyanyi terhadap penggunaan proses pelahiran suara melalui tenggorokan yang dibagi ke dalam tiga bagian, masing-masing: laring, faring, dan laringofaring.15
Gitrif Yunus, (1990),16 Andar Indrasastra (1999)17, Marzam (2002),18. Ketiga penulis mengkaji musik tiup Minangkabau “saluang dan dendang” di Minangkabau. Gitrif membahas tentang gaya penyajian “saluang jo dendang” di Nagari Singgalang, sementara Andar Indra Sastra mengkaji penyajian “saluang jo dendang” dalam konteks bagurau sebagai budaya konflik di Minangkabau. Sementara Marzam dalam bukunya “Basirompak”.
menjelaskan perubahan bentuk pertunjukan serta fungsi basirompak dari ritual magis menuju seni pertunjukan.
15 “Dendang Darek: Alternatif Pengembangan Cara Menyanyi Tradisional ke Cara yang Sesuai dengan Kaidah Fisiologi. Disertasi (Yogyakarta: Universitas Gajah Mada, 2006)
16 “Studi Deskriptif Gaya Penyajian Dendang Singgalang dalam Tradisi Pertunjukan Saluang Dendang di Luhak Nan Tigo Minangkabau, Sumatera Barat”. Skripsi (Medan: FS-USU Medan. 1990)
17 Andar Indrasastra. “Bagurau dalam Basaluang: Cerminan Budaya Konflik”. Tesis (Yogyakarta:
Universitas Gajah Mada. 1999)
18 Marzam. Sebuah Transformasi Aktivitas Ritual Magis Menuju Seni Pertunjukan Basirompak.
(Yogyakarta: Kepel Press. 2002)
24 Philip Yampolsky & Hanefi (1994),19 Liner Notes For Night Music of West Sumatera: Saluang, Rabab Pariaman, Dendang Pauah, menjelaskan bahwa musik tradisional Minangkabau tersebut merupakan musik yang memiliki karakteristik khusus, sesuai dengan nilai-nilai tradisinya hanya dipertunjukan pada malam hari. Rabab Pariaman (termasuk Rabab Pasisia) dan Dendang Pauah memiliki dua jenis repertoar, yaitu jenis repertoar lagu-lagu dengan teks pantun-pantun “lepas” dan repertoar “bakaba” (bercerita).
Repertoar bakaba yang disajikan dengan Rabab Pariaman adalah cerita “Gombang Patuanan”; sedangkan yang disajikan oleh Saluang Dendang Pauah adalah cerita “Lubuak Sikapiang”. Di samping itu, hal-hal terkait tekhnik permaianan dan repertoar umum juga diuraikan secara singkat.
Kemudian tinjauan pustaka yang berkaitan dengan musik pengaruh budaya Islam seperti, Ediwar (1999), 20 (2012);21 Wilma Sriwulan (1999)22; Awerman (1999) 23; ketiga penulis mengkaji musik Islami dalam sudut pandang yang berbeda. Ediwar menfokuskan kajian pada perubahan kesenian Indang dari budaya surau ke seni pertunjukan rakyat;
Wilma mengkaji perubahan kesenian salawat dulang dan keberlanjutanny, sedangkan Awerman lebih mengkaji kajian fungsi dan struktur musical musik dikia rebana.
19. Philip Yampolsky & Hanefi. Liner Notes For Night Music of West Sumatera: Saluang, Rabab Pariaman, Dendang Pauah. Music of Indonesia, Vol. 6. Smithsonian Folkways SF CD 40422.
20 Ediwar. “Indang Pariaman Dari Tradisi Surau ke Seni Pertunjukan Rakyat Minangkabau”.
Bandung: P4ST Universitas Pendidikan Bandung. 2007;
21 Ediwar. “Dinamika Muzik Islami Minangkabau di Sumatera Barat”. Tesis. (Bangi: University Kebangsaan Malaysia. 2012).
22 Wilma Sriwulan. “Salawat Dulang Seni Bernafaskan Islam Salah Satu Ekspresi Budaya Masyarakat Minangkabau (Kontinuitas dan Perubahan). Tesis. (Yogjakarta: Universitas Gadjah Mada. 1999)
23 Awerman. “Dikia Rabano dalam Kebudayaan Minangkabau: Kajian Fungsi dan Struktur Musikalnya.” Disertasi. (Yogyakarta: Universitas Gajah Mada. 1999)
25 Sementara penulis yang membahas musik ritmik adalah Asril (2002),24 Margaret J.
Kartomi (1986),25 adalah dua penulis yang membahas musik “tambur” dalam upacara tabuik.
Asril menjelaskan tentang sejarah Ritual Tabuik di Pariaman Sumatera Barat dilengkapi dengan uraian unsur-unsur pokok dalam upacara tersebut. Margaret menulis dalam artikelnya yang berjudul, “Tabut – A Shi’a Ritual Transplanted from India to Sumatera,”
dalam buku Nineteenth and Twentieth Century Indonesia, editor David P. Chandler dan M.
C. Ricklefs, menjelaskan tentang sejarah masuknya tabuik ke Bengkulu dan ke Pariaman serta tipe tabuik yang ada di Indonesia. Dijelaskan juga tentang kehadiran gandang tambua sebagai musik dalam upacara tabuik.
Selenjutnya penulis yang membahas pengaruh budaya popular/modern terhadap musik traisional Minangkabau seperti: Hanefi (1999),26 “Traditional Minangkabau Music.”
In Walk in Splendor Ceremonial Dress and The Minangkabau. Mengidentifikasi beberapa tradisi musik di Minangkabau yaitu: tradisi dua genre musik talempong (talempong pacik dan talempong duduak), rabab darek, rabab pasisia, sijobang kucapi, dan gandang tambua.
Hanefi (2006),27 “Perubahan Dendang Minangkabau ke Arah Musik Pop pada 20 Tahun Terakhir”, dalam Perjalanan Kesenian Indonesia Sejak Kemerdekaan: Perubahan dalam Pelaksanaan, Isi, dan Profesi. Penulis menjelaskan secara tradisi musik melodis secara terminologis dan menjelaskan kedudukan berberapa jenis dendang (melodi vokal) sebagai dasar untuk menguraikan substansi musikal tradisi Minangkabau yang mengalami
24 Asril. “Pertunjukan Gandang Tambua dalam Upacara Ritual Tabuik di Pariaman, Sumatera Barat.”
Tesis (Yogyakarta: Universitas Gajah Mada. 2002)
25 Margaret J. Kartomi “Tabut – A Shi’a Ritual Transplanted from India to Sumatera,” dalam Nineteenth Century Indonesia. Ed. David C. Chandler dan M. C. Ricklefs (Clayton: Center of Southeast Asia Studies, Monash University. 1986)
26 Hanefi. “Traditional Minangkabau Music,” In Walk in Splendor: Ceremonial Dress and the Minangkabau, ed. By Anne & John Summerfield (Los Angeles: UCLA Fowler Museum of Cultural History. 1999)
27 Hanefi. “Perubahan Dendang Minangkabau ke Arah Musik Pop pada 20 Tahun Terakhir”, dalam Perjalanan Kesenian Indonesia Sejak Kemerdekaan: Perubahan dalam Pelaksanaan, Isi, dan Profesi.
Disunting oleh Philip Yampolsky (Jakarta: Equinox Publishing Indonesia. 2006)
26 perubahan dari waktu kewaktu yang dipengaruhi oleh berbagai hal di antaranya pengaruh budaya musik Barat, kehadiran alat-alat musik elektronik yang memproduksi bunyi dengan standar Musik Barat, kecanggihan teknologi rekaman, kecanggihan alat-alat music player, media publikasi baik elektronik maupun cetak, dan lain sebagainya. Disamping itu tidak terlepas pula pengaruh budaya “Pop” yang tidak mengenal batas zonasi (telah sampai ke kampung-kampung).
Berdasarkan tinjauan kepustakaan di atas, ternyata belum terdapat kajian dan tulisan yang berkaitan dengan masalah yang akan penulis teliti (penelitian ini) yaitu “Pelestarian Musik Tradisional Minangkabau: Strategi Menjaga Ketahanan Seni Budaya Bangsa di Sumatera Barat Mengadapi Masyarakat Ekonomi Asean” yang dibagi kepada tiga fokus kajian; (1) pemetaan, inventarisasi, dokumentasi, (2) kajian organologi, dan (3) identifikasi formula musikal musik tradisional Minangkabau.
C. Peta Jalan Penelitian
PETA JALAN PENELITIAN
GB 1. Bagan Alir Penelitian Tahun ke-1
PERSEBARAN PENDOKUMENTASIAN INVENTARISASI
geo-budaya geo-politik foto Audio/
video
Musik
agraris Musik
Islami Musik populer alam
Minangkabau provinsi Sumatera Barat
STUDI LETERATUR PENELITIAN LAPANGAN
Laporan penelitian bersumber dari data lapangan berupa pemetaan dan persebaran musik tradisi Minangkabau berdasarkan wilayah DAN
geo-politik.
Inventarisasi dan dokumentasi musik tradisi Minangkabau berupa foto dan audio visual.
Seminar nasional pemetaan dan persebaran musik tradisional Minangkabau HASIL
PENELITIAN/LUARAN TAHUN I
OBSERVASI WAWANCARA
Identifikasi Masalah
PEMETAAN MUSIK TRADISI MINANGKABAU
1 2
3
3
Tahun Pertama 2017
Tahun Kedua 2018
27
Penelitian Tahun ke-2
KAJIAN ORGANOLOGI
IDENTIFIKASI ALAT MUSIK TRADISI MINANGKABAU
IDIOPHONE MEMBRA
NOPHONE AEROPHONE CHORDOPHONE IDIO-
CHORDOPHON E
Slit drum
Bahan Teknik pembuatan Teknik memainkan
STUDI LETERATUR
PENELITIAN LAPANGAN
OBSERVASI WAWANCARA
Identifikasi Masalah
Tahun Ketiga 2019
1 BAB III
TINJAUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
A. Tujuan dan Manfaat Khusus
Penelitian yang berjudul Pelestarian Musik Tradisional Minangkabau:
Strategi Menjaga Ketahanan Seni Budaya Bangsa Menghadapai MEA di Sumatera Barat.
1 Tujuan
a. Untuk mengetahui ragam musik tradisional Minangkabau dalam bentuk yang tersebar di desa-desa, nagari-nagari sebagai langkah strategis menjadikan musik tradisional Minangkabau tetap lestari, bertahan, berkembang dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean, yang dapada akhirnya tersusun dalam bentuk “pemetaan seni musik Minangkabau”
b. Untuk mengetahui jenis dan klasifikasi alat musik tradisional Minangkabau berdasarkan teori Curt-Sach dan Erick Von Hornbostle dalam kajian ilmu organologis.
c. Untuk mengetahui formula-formula musikal yang terdapat pada musik tradisional Minangkabau yang berkembang di wilayah Provinsi Sumatera Barat, sehingga menjadi identitas dan karakteristik budaya Minangkabau.
2 Manfaaat Khusus
2 a. Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan sumber informasi bagi pengkaji-pengkaji musik nusantara berikutnya.
b. Penelitian ini akan dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak sebagai data ketahanan bangsa terhadap seni budaya nusantara.
c. Hasil penelitian ini akan dapat menjadi salah satu pengayaan pengetahuan seni budaya bagi siswa-siswa, mahasiswa dan masyarakat umum.
d. Diharapkan hasil penelitian ini dapat membantu pemerintah dalam upaya strategi menjaga ketahanan seni budaya bangsa, salah satunta di Sumatera Barat.
e. Hasil penelitian ini akan dapat memberikan pengayaan kepada berbagai perpustakaan daerah dan nasional.
B. Urgensi Penelitian
Isu-isu nasional yang saat ini telah menjadi persoalan bangsa dan Negara Indonesia dari tahun ke tahun, salah satu di antaranya adalah persoalan seni dan budaya. Kiranya penelitian ini akan dapat membantu memecahkan persoalan kebangsaan ini, terutama musik tradisi Minangkabau yang berkembang di wlayah geo-budaya dan geo-politik di Sumatera Barat. Dasar pemikiran yang menjadi urgensi penelitian adalah:
3 (1) Belum adanya peneliti terdahulu yang mengkaji tentang persoalan-persoalan kebudayaan musik tradisional Minangkabau secara mendalam dalam hubungannya dengan pemetaan, intventarisasi dan dokumentasi.
(2) Belum ada kajian ilmiah yang membahas tentang langkah strategis terbangunnya industry kreatif dalam pembuatan alat musik tradisional Minangkabau dengan menggunakan pendekatan ilmu organologi.
(4) Masih belum banyak penelitian secara khusus terhadap formula- formula musikal tradisi Minangkabau yang berkembang di Sumatera Barat sebagai kajian karakteristik musik nusantara di Sumatera Barat.
C. Target Luaran
Luaran hasil penelitian Tahap-I (tahun pertama) yang dijanjikan adalah:
1) Luaran yang diharapkan adalah model yang bersifat strategis dan berskala nasional, yaitu langkah strategis pelestarian dan kebertahanan musik tradisional Minangkabau dalam bentuk “pemetaan, inventarisasi dan dokumentasi musik tradisional Minangkabau” di wilayah geo-budaya (Alam Minangkabau) dan geo-politik (Kabupaten
4 dan Kota) Sumatera Barat. Pada akhirnya Pemerintah Provensi Sumatera Barat memiliki dokumentasi dan peta musik tradisional Minangkabau yang siap untuk dipublikasikan kepada masyarakat luas, baik secara manual maupun elektronik. Selanjutnya, hasil penelitian juga akan diseminarkan secara nasional dalam suatu forum seminar nasional.
2) Makalah ilmiah untuk seminar nasional pemetaan dan persebaran musik tradisional Minangkabau.
3) Buku Ajar Peta Sebaran Musik Tradisional Minangkabau dalam wilayah geo-budaya Alam Minangkabau dan geo-politik Provinsi Sumatera Barat.
Luaran hasil kegiatan penelitian Tahap-II (tahun kedua) adalah:
1). Produk Industri kreatif pembuatan alat musik dengan menggunakan pendekatan ilmu organologi yang dapat menghasilkan teknologi tepat guna bagi kesejahteraan masyarakat. Kajian ini akan diperhatikan teknik pembuatan, bahan, teknik memainkan secara tradisional dan usaha-usaha pengembangan secara kreatif dan inovatif. Kemudian dipublikasikan melalui forum seminar nasional.
2). Makalah untuk seminar nasional hasil penelitian untuk mencari kritik dan saran dari para pengamat (seniman, budayawan, pemerintah, pemerhati seni budaya) untuk mencari masukan bagi kesempurnaan penelitian ini.
5 3). Artikel ilmiah yang dipublikasikan pada Jurnal Ilmiah terakreditasi
nasional atau internasional.
4). Buku Ajar pengetahuan organologi alat musik tradisional Minangkabau Luaran hasil kegiatan penelitian tahap–III (tahun ketiga) adalah:
1) Formula-formula musical yang menjadi identitas industry kreatif seniman dan komunitas musik Nusantara di Sumatera Barat.
2) Makalah untuk Seminar internasional pada forum yang melibatkan pakar-pakar musikologis dan etnomosikologis.
3) Artikel ilmiah untuk dipublikasikan pada jurnal ilmiah terakreditasi nasional.
4) Buku Ajar Formula Musikal Musik Tradisional Minangkabau, yang dapat dimanfaatkan oleh pelajar maupun mahasiswa untuk memperkaya pengetahun bidang musik nusantara.
5) HAKI, Laporan ini juga akan didaftarkan pada pemerintah dalam hal ini Kementrian Hukum dan Hak Azasi Manusia (HAKI) D. Rencana Capaian Tahunan
Kegiatan penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan selama tiga tahun dengan luaran yang ditargetkan sebagaiman tabel berikut:
No Jenis Luaran Indikator Capaian
TS TS1 TS2
1 Model/purwarupa/desain/karya seni/rekayasa sosial
Draf editing Produk
6
2 Teknologi tepat guna Draf editing terlaksana 3 Publikasi ilmiah Internasional belum belum belum
Nasional terakreditasi
Draft Submit accepted
4 Pemakalah dalam temu ilmiah
Internasional belum terdaftar terlaksana Nasional Terlaksana Terlaksana terlaksana
5 Inivieted speaker dalam temu ilmiah
Internasional
Nasional terdaftar Terlaksana
6 Visiting lecturer Internasional belum belum belum
7
Hak kekayaan intelektual
Paten belum belum Belum
Paten sederhana
belum draf Terdaftar
Hal cipta belum draf Terdaftar Merek dagang belum belum Belum Rahasia
dagang
belum belum Belum
Desain produk industri
belum belum Belum
Indikasi geografis
belum belum Belum
Perlindungan varietas tanaman
belum belum Belum
Perlindungan topografi
belum belum Belum
7 sirkuit
terpadu
8 Buku ajar (ISBN) terbit terbit Terbit
9 Tingkat kesiapan teknologi (TKT)
Skala I Skala II Skala III
8 BAB IV
METODE PENELITIAN A. Bagan Alir
Penyajian data dilakukan untuk menyampaikan pernhataan ilmiah berdasarkan data-data yang diperoleh ke dalam bentuk tulisan yang dapat dipertanggungjawabkan. Laporan tersebut akan diformat sesuai panduan yang berlaku. Di dalam diagram alir berikut ini akan digambarkan suatu proses perencanaan dari rencana penelitian yang dilaksanakan. Proses ini akan diawali dengan studi literature, penelitian lapangan, pengumpulan data-data lapangan yang terdiri dari tiga kategori penelitian, yaitu (1) pemetaan, pendokumentasian dan inventarisasi; (2) Kajian organologi alat musik tradisional Minangkabau; (3) kajian formula musical musik tradisional Minangkabau untuk mendapatkan karakteristik/identitas.
Diagram alir yang akan digunakan adalah sebagai berikut.
9
Penelitian Tahun ke-3 Penelitian Tahun ke-1
Penelitian Tahun ke-2
Kajian Formula Msikal Transkropsi
lagu-lagu Kalasifikasi
musikal Analisis karakter musikal
tidak tidak layak
ya Persiapan
Observasi
Studi Lapangan: Wawancara, Dokumentasi Iventarisasi, analisis data
Musik Agraris, Musik Islami Musik Populer
Kajian Organologi
Kajian Bahan dan Teknik Pembuatan Klasifikasi Alat Musik Tradisional Minangkabau
sesuai
sesuai
tidak sesuai
layak kaji ulang stop
Identifikasi masalah Tujuan dan Manfaat Tinjauan Literatur
Geo Budaya
Geo Politik
Luhak
Rantau Kabupaten
PETA MUSIK TRADISIONAL Kota MINANGKABAU
Menurut Curt-Sach dan Erick Von Hornbostle
B. Fokus Penelitian
Fokus penelitian ini adalah mengkaji terhadap pelestarian musik tradisional Minangkabau sebagai strategi ketahanan seni budaya bangsa dalam menghadapi MEA yang sudah bergulir di Negara yang terlibat.
Pengkajian ini dilakukan dengan pendekatan pemetaan, inventarisasi dan dokumentasi, pengkajian organologi, etnomusikologi, musikologi, etnografi, dan antropologi.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif.
Penelitian kualitatif, yang dikaji adalah mengenai konsep territorial geo- budaya dan geo-politik, sedangkan pada penelitian kuantitatif, adalah masalah yang berhubungan dengan tingkat apresiasi masyarakat terhadap suatu jenis musik tradisional Minangkabau. Selanjutnya untuk pembuktian
10 dilakukan pengklasifikasian material atas alat musik instrumen itu sendiri, serta pengkajian atas beragamnya teknik memainkan/menyajikan musik yang dipelihara hingga sekarang dalam kajian organologi. Tindak lanjut berikutnya adalah akan dilakukan suatu analisis formula musikal dengan pendekatan musikologis dan etnomusikologis.
Pelaksanaan penelitian akan ditempuh dengan beberapa tahapan, yang saling terkait di antaranya tergambar pada tabel 1 berikut.
C. Tahapan Kerja
Tabel 1. Rancangan Tahapan Kerja dan Indikator Kinerja Kegiatan Waktu
Pelaksanaan
Indikator Kinerja
Tahap Perencanaan Penelitian
20- 29 April 2016
Merancangan terhadap subjek penelitian terkait dengan permasalahan nasional yang dihadapi terakit dengan seni budaya nusantara.
Tahap Pembuatan Proposal
1 – 15 Mei 2016 Menyusun proposal peneltian depada format terbaru (edisi X) SIMLITABMAS Kemristek Dikti.
Tahap
Pengunggahan proposal ke Simlitabmas
16-30 Mei 2016 Pengunggahan proposal
Tahap menunggu hasil
1 April -31 Des 2016
Menunggu hasil/pengumuman kelulusan sebagai penerima hibah kompetisi Strategis Nasional 2017 oleh Simlitabmas
11 Tahap
Penelitian
30 Februari – 27 Oktober 2017
Menerapkan metode dan teknik yang telah direncanakan.
Tahap Identifikasi Data
01 Maret – 20 Maret 2017
Mengidentifikasi Musik Tradisional Minangkabau pada luhak nan tigo dan rantau Minangkabau.
Tahap Pemetaan, dokumentasi dan
inventarisasi musik
tradisional Minangkabau di Luhak Nan Tigo dan Rantau Nan Duo
01 April – 10 September 2017
Melakukan pemetaan, inventarisasi dan dokumentasi musik tradisional Minangkabau berdasarkan geo-budaya
Tahap Pemetaan, dokumentasi dan
inventarisasi musik
tradisional Minangkabau di Provinsi Sumatera Barat
15 Sept – 14 Okt 2017
Melakukan pemetaan, inventarisasi dan dokumentasi musik tradisional Minangkabau berdasarkan geo-politik
12 Tahap
pengolahan dan analisis data
15 Okt- 15 Nop 2017
Pengklasifikasian data berdasarkan wilayah geo-budaya (Luhak Nan Tigo dan Rantau Minangkabau) dan berdasarkan wilayah geo- politik (Kabupaten dan dota).
Tahap
Seminar Hasil Penelitian
16 – 30 Okt 2017
Hasil penelitian di seminarkan sesuai temuan lapangan.
Penulisan Laporan Akhir
01 Nov – 30 Nov 2015
Diperoleh satu bentuk laporan akhir dalam bentuk pemetaan, dokumentasi dan inventarisasi musik tradisional Minangkabau.
D. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di wilayah geo-budaya Alam Minangkabau, yaitu daera luhak (Luhak Nan Tigo: Luhak Tanah Data, Luhak Agam, Luhak 50 Koto), dan rantau (Rantau Nan Duo: Rantau Darek dan Rantau Pasisia) dan Negeri Sembilan-Malaysia sebagai daerah rantau Minangkabau.
Kemudian, wilayah geo-politik yaitu daerah-daerah yang berada di wilayah Provensi Sumatera Barat yang meliputi Kabupaten dan Kota (Kabupaten:
Tanah Datar, Agam, Pasaman, Pasaman Barat, 50 Kota, Padang Pariaman, Pesisir Selatan, Solok, Darmasraya, Sijunjung, dan Kota: Bukittinggi, Padang, Pariaman, Solok, Sawahlunto, Payakumbuh).
Lokasi penelitian dipilih atas dasar pertimbangan bahwa musik tradisional Minangkabau tersebar di daerah-daerah tersebut. Masing- masing daerah akan terdapat persamaan dan perbedaan ragam jenis musik tradisional yang menjadi identitas masing-masing daerah tersebut.
13 Kemudian, belum ada pendataan dan inventarisasi lengkap di setiap daerah tersebut terhadap ragam musik tradisional Minangkabau.
E. Teknik Pengumpulan Data 1. Tahapan Awal
Pada tahap ini peneliti berupaya mendapatkan sumber tertulis dan sumber lisan atau sumber primer dan sekunder. Sumber lisan akan diperoleh melalui wawancara dengan seniman, budayawan dan pemerhati seni(musik) tradisional. Sementara Studi kepustakaan yang akan dilakukan yaitu mengumpulkan beberapa pendapat dan teori-teori, yang dapat membantu dalam menganalisis atau menafsirkan keberadaan dan perkembangan dan sebaran musik tradisional Minangkabau. Studi kepustakaan akan dilakukan di sejumlah perpustakaan, seperti: perpustakaan yang berada di beberapa lembaga perguruan tinggi di Sumatera Barat; perpustakaan di lingkungan kantor pemerintahan; dan koleksi perpustakaan pribadi tertentu.
2. Tahapan Pengumpulan Data Lapangan
Pengumpulan data lapangan akan dilaksanakan berbentuk ‘etik’ dan
‘emik’. Teknik pendekatan ‘etik’ akan dilaksanakan langsung turun ke lapangan, dengan mempersiapkan pertanyaan yang sesuai dengan permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya. Pendekatan berikutnya akan dilakukan secara ‘emik’ dengan teknik mewawancarai informan yang memiliki kapasitas terkait dengan permasalahan penelitian.
14 Sesuai dengan perkembangan teknologi informasi, pengumpulan data lapangan juga akan dilaksanakan dengan memanfaatkan teknologi informasi dalam bentuk wawancara secara jarak jauh, melalui komunikasi dengan menggunakan fasilitas handpone dan telepon. Disebabkan tidak semua gejala dalam wawancara dapat dipahami secara langsung maka wawancara dibantu dengan menggunakan rekaman melalui handrecord dan handycam. Pendokumentasian dan rekaman musik tradisional Minangkabau dilakukan di dalam dan di luar ruangan. Kerja pendokuemntasian dan rekaman ditujukan pada perorangan dan kelompok.
2. Tahapan Pengolahan Data dan Analisis
Data-data yang sudah dikumpulkan diperlukan pengidentifikasian beberapa persamaan dan perbedaan dari teknik permainan/penyajian yang dihasilkan, maupun hasil wawancara yang dilakukan secara ‘etik’ dan
‘emik’. Identifikasi data nantinya diharapkan dapat bersifat kualitatif atau kuantitatif. Pada tahapan ini, mengenai keabsahan data akan dipertimbangkan secara akurat, sehingga kerja eksperimen itu mendapatkan hasil yang dapat dipertanggung-jawabkan. Dengan ini pula kesimpulan akan dapat diambil secara mudah. Alat-alat pengolahan data nantinya akan dikelompokkan kepada perangkat keras dan perangkat lunak.
Perangkat keras diantaranya: camera handycam; camera foto digital;
handy-recorder, plus microphone; Tuning Chromatic Turner; dan seperangkat computer. Perangkat lunak adalah: Windows XP Professional;
15 software untuk pengaplikasian data yaitu, software Matlab; software Cool Edit Pro; software Pinnacle Studio; dan software Audio Creative.
3. Tahapan Penyusunan Laporan
Tahapan penyusunan laporan akan dilakukan pada tahap akhir.
Data-data yang ditulis telah dikerangka dan dikelompokkan secara keseluruhan. Tujuan penyusunan agar pembahasan topik yang diajukan dapat disingkronisasikan dan untuk mempertanggung-jawabkan terhadap segala sesuatu yang disulkan pada tahap proposal, serta sebagai bukti ilmiah pada penulisan hasil penelitian yang telah dilaksanakan. Pada tahapan ini akan dipadukan segala uraian yang telah disampaikan dengan beberapa pendekatan teori yang sesuai.
F. Luaran dan Indikator Capaian 1. Luaran
Tahun Pertama
Luaran yang diharapkan adalah model yang bersifat strategis dan berskala nasional, yaitu dalam bentuk pemetaan musik tradisional Minangkabau mencakup berupa sebaran musik tradisional Minangkabau di wilayah geo-budaya (Alam Minangkabau) dan geo-politik (Kabupaten dan Kota) Sumatera Barat. Pada akhirnya Pemerintah Provensi Sumatera Barat memiliki dokumentasi dan peta musik tradisional Minangkabau yang siap untuk dipublikasikan kepada masyarakat luas, baik secara
16 manual maupun elektronik. Selanjutnya, hasil penelitian juga akan diseminarkan secara nasional dalam suatu forum seminar nasional.
Tahun Kedua
Pada tahap ini penelitian difokuskan kepada kajian organologi alat musik tradisional Minangkabau yang dapat menghasilkan teknologi tepat guna bagi kesejahteraan masyarakat. Kajian ini akan diperhatikan teknik pembuatan, bahan, teknik memainkan secara tradisional dan usaha-usaha pengembangan secara kreatif daan inovatif. Kemudian hasil penelitian akan diseminarkan dalam skala nasional. Selanjutnya dipublikasikan melalui jurnal terkareditasi nasional. Selain itu akan dibuat buku ajar organologi musik tradisional Minangkabau.
Tahun Ketiga
Pada tahap ketiga ini, luaran yang dihasilkan berupa tulisan ilmiah yang akan dipublikasikan pada (2) jurnal internasional atau jurnal nasional terakreditasi, seperti panggung (ISBI bandung), mudra (ISI Denpasar) dan atau lainnya; (3) HAKI, hasil penelitian akan didaftarkan HAKI; (4) Pemetaan dalam bentuk digitalisasi yang dapat di akses oleh masyarakat luas; (5) Buku Ajar, formula musical musik tradisional Minangkabau.
G. Penyajian dan Analisa Data
Data yang sudah dikumpulkan dari hasil wawancara, dokumentasi merupakan data mentah yang siap disajikan. Penyajian
17 data dalam penelitian ini diwujudkan dalam bentuk tabel, gambar, dan notasi.
Agar data tersebut dapat lebih berguna bagi penelitian ini diperlukan suatu penyajian dan analisa data. Tahapan yang dilakukan dalam penyajian data sebagai berikut:
1. Editing merupakan kegiatan pemeriksaan terhadap data yang sudah siap dijadikan laporan, benar- benar valid, reliable, serta dapat dipertanggungjawabkan.
2. Coding merupakan proses pemberian tanda, simbol, ataupun kode setiap data yang termasuk dalam kelompok yang sama tanda tersebut dapat berupa angka atau huruf
3. Tabulating merupakan tahap memasukan data pada tabel- tabel tertentu dan mengatur angka-angka serta memperhitungkannya.
18 BAB V
MUSIK MINANGKABAU: TRADISI PERKUSI (PERKUSI MELODIS DAN RITMIS)
1. PENGENALAN
Musik perkusi adalah jenis musik yang bunyinya dari hasil tabuhan dengan menggunakan alat pemukul, jari dan telapak tangan. Memahami musik perkusi ini harus terkait dengan teknik-teknik secara musikal, sehingga ditemukanlah “jenis perkusi apa” musik tradisi tersebut.
Bila diperhatikan dari sudut pandang untuk memproduksi bunyi musikal daripada musik perkusi di Minangkabau dapat dibagi atas dua jenis, yaitu ‘musik perkusi melodis’ dan ‘musik perkusi ritmis’. Musik perkusi melodis adalah musik perkusi yang mengutamakan unsur melodi yang membentuk lagu, sedangkan musik perkusi ritmis adalah musik perkusi yang mengutamakan aspek ritmis sebagai unsur yang membentuk lagu.
Beberapa musik tradisional Minangkabau termasuk ke dalam kategori musikal sebagai “musik perkusi ritmis” dengan bahan alat musik secara organologis termasuk keluarga gong berpencu tidak hanya talempong perunggu saja, akan tetapi ada beberapa musik tradisional yang disebut juga dengan talempong dengan bahan lain seperti bahan bambu dan kayu. Jika bahan alat musiknya dari bilahan bambu disebut talempong batuang (talempong bambu) dan talempong kayu jika bahan alat musiknya dari bilahan kayu. Semua jenis musik yang menggunakan alat musik talempong perunggu, bambu, dan kayu dikategorikan sebagai musik perkusi melodis, bedanya dalam teknik permainan sehingga lahir gerakan melodi seperti
19 teknik interlocking pada talempong pacik, teknik hocketing juga pada talempong pacik, dan teknik melodis dengan alat musik disusun menurut tradisi masing- masing di atas rak atau rea. Penyajian musik talempong dengan teknik-teknik di atas menghasilkan komposisi melodi secara utuh.
2. MUSIK PERKUSI MELODIS
Musik perkusi melodis adalah jenis musik yang hasil bunyinya disebabkan oleh permainan nada-nada dari seperangkat alat musik secara teratur dengan teknik-teknik permainan tertentu. Sejumlah nada-nada yang menghasilkan melodi itu biasanya lebih dari dua nada, misalnya sebuah alat tiup saluang otomatis harus memiliki sejumlah lubang nada sehingga mampu memproduksi sejumlah nada pula sebagai materi progresi atau langkah dan lompat nada-nada yang berbeda, menghasilkan kantur (contour) melodi menuju capaian satu kesatuan komposisi musik. Begitu juga sejumlah nada-nada pada suatu ensambel musik tertentu akan mengalami hal yang sama.
Ensambel musik perkusi melodis dapat dipastikan materi nada yang diproduksi alat musik utama pada ensambel tersebut memiliki sejumlah nada-nada yang menentukan ensambel perkusi tersebut adalah jenis musik perkusi melodis.
Namun demikian, jika alat musik utama ensambel tersebut tidak memiliki dua atau lebih nada-nada maka jenis musik tersebut menjadi musik perkusi ritmis, permainan ritme menjadi dasar membangun sebuah komposisi lagu.
20 2.1 Musik Tradisional Talempong
Talempong sebenarnya sudah lama dikenal dan bahkan sudah menunjukkan identitas kedaerahan. Akan tetapi umumnya orang tahu, bahwa yang dimaksud dengan talempong adalah sejenis alat musik pukul keluarga gong berpencu dengan ukuran kecil, terbuat dari campuran bahan tembaga, kuningan dan timah.
Talempong, biasanya dimainkan oleh sekelompok orang dalam posisi berdiri, duduk, atau berjalan (arak-arakan) untuk memeriahkan berbagai upacara adat di kampung-kampung.28
Sebagaimana yang telah dikemukakan pada sub bab pengenalan, lebih rincinya dapat dikemukakan bahwa istilah talempong dapat diartikan sebagai salah satu jenis musik tradisional di Miangkabau, istilah talempong itu sendiri, dapat pula diartikan sebagai alat musik perkusi dengan bahan perunggu. Uniknya masyarakat Minangkabau juga mengartikan sebagai ‘resonansi bunyi’ yang dihasilkan dari tabuhan (memukul) suatu benda. Kata ‘talempong’ yang diartikan sebagai resonansi bunyi dapat ditunjuk sebuah fakta yang ada dan telah menjadi objek wisata yaitu sebutan batu talempong di Talang Anau Kabupaten Limapuluh Kota.29 Benda pipih berukuran relatif besar tersebut bukanlah alat musik secara fungsional, tetapi alat yang berfungsi ritual menghasilkan bunyi hampir sama dengan bunyi talempong, sehingga benda batu pipih itu disebut oleh masyarakat setempat sebagai ‘batu talempong’ (batu yang berbunyi seperti bunyi talempong).
28 Hanefi dkk. Talempong Mingkabau: Bahan Ajar Musik dan Tari. (Bandung: P4ST. 2004), p. 11
29 Wawancara Chairil di Talang Anau 8 Juli 2017