KOM. VISUAL DESAIN GRAFIS
DOSEN PENGAMPAU STEFVANY, S.Ds, M.Sn
DISUSUN
O L E H
GEAN FANBAYO_21101159110012
PROGRAM STUDI DESAIN KOMUNIKASI VISUAL FAKULTAS DESAIN KOMUNIKASI VISUAL
UNIVERSITAS UPI YPTK PADANG 2023
1. Bangkitnya Mimpi Penari Desa
Di sebuah desa yang hendak memanen hasil panennya, terdapat sekelompok masyarakat yang berkumpul untuk melakukan sebuah ritual rasa syukur masyarakat terhadap hasil panen yang sukses serta perlindungan dewa dari berbagai ancaman terhadap mereka.
Seorang pemuda bernama Randi asal Jakarta yang secara tidak sengaja melihat ritual tersebut tertarik untuk mengikutsertakan dalam perlombaan festival seni di Jakarta, Setelah menyaksikan ritual yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat, pemuda tersebut langsung menghampirinya dan menanyakan apa yang sedang mereka lakukan.
Kepala desa menjawab bahwa mereka sedang melakukan tarian rasa syukur kepada dewa yang disebut tari piring. Dan Pemuda tersebut menawarkan untuk memperkenalkan tarian tersebut kepada dunia dengan mengikutsertakannya dalam perlombaan festival seni di Jakarta. Karna hari sudah semakin gelap, pembahasan tersebut di lanjutkan lusa di tempat kepala desa.
Setelah 2 hari tepat di hari yang dijanjikan, pemuda tersebut mendatangi rumah kepala desa untuk membahas lebih lanjut mengenai permasalahan festival seni kemarin.
Sembari menunggu anggota tari piring kemarin, pemilik rumah menyajikan teh kepada tamu asal Jakarta tersebut. Setelah anggota rapat tersebut lengkap, pembahasan pun dimulai, singkat cerita semua orang setuju untuk mengikutsertakan tari piring di festival seni akan tetapi ayah dari kepala desa sekaligus guru dari tari piring menolak usulan tersebut. Pemuda tersebut langsung menanyakan alasannya “kenapa?”. Guru tersebut menganggap hal tersebut sebagai bentuk penghinaan terhadap para dewa, yang awalnya tari tersebut merupakan salah satu bentuk ritual tetapi mereka akan di pertontonkan sebagai hiburan di tempat asing. Setelah terjadinya perdebatan antara guru dan pemuda asal Jakarta, guru tersebut tetap menolak untuk mengikutsertakan teri piring di festival seni.
Tetapi pemuda tersebut tidak menyerah dan akan mendatanginya lagi besok. Tetapi jawaban dari guru tersebut tetap sama, sehingga pemuda tersebut mencari informasi mengenai guru tersebut kepada masyarakat sekitar. Setelah seminggu berlalu pemuda tersebut mendatangi lagi rumah kepala desa, ia memanggil berkali-kali di depan rumah guru tari tersebut tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Guru tari tersebut hanya duduk diam di kamarnya sembari mendengarkan suara berisik pemuda yang memanggilnya.
Sepintas pemuda tersebut melihat bayangan dari guru tari di jendela rumahnya dan langsung memberikan sebuah pernyataan bahwa sebenarnya guru tersebut tidak menganggap festival seni sebagai bentuk penghinaan tetapi dia hanya khawatir kepada cucunya Intan yang juga merupakan salah satu dari anggota tari untuk tinggal di tempat asing dan jauh dari pengawasannya. Karna guru tersebut tahu beratnya hidup merantau di tempat asing sendirian. Kemudian pemuda tersebut menegaskan bahwa mereka tidak sendirian, dia memiliki teman dan juga bukan anak kecil lagi serta ada orang dewasa disampingnya yang akan terus membantunya. Seketika suasana menjadi hening. dan beberapa saat kemudian guru tersebut membuka pintu rumahnya dan keluar menghampiri pemuda tersebut, dia akan menyetujuinya dengan satu syarat yaitu pemuda tersebut harus
memberikan kabar cucunya setiap hari. Pemuda tersebut dengan senang hati menerima syarat tersebut dan langsung menyiapkan keberangkatan mereka ke Jakarta.
3 minggu sebelum festival seni dimulai. Setelah tiba di Jakarta mereka langsung mencari sebuah penginapan untuk beristirahat. Keesokan harinya pemuda tersebut menghubungi beberapa rekannya di Jakarta untuk mendesain sebuah kostum tari yang sesuai dengan budaya serta makna dari tari piring. Kemudian pemuda tersebut mengajak para anggota tari untuk berkeliling dan melihat persiapan festival di Jakarta, dan keesokan harinya mereka mengunjungi temannya yang memiliki sanggar tari untuk mengembangkan gerakan seni dari tari piring. Sembari mereka berlatih, pemuda tersebut mendaftarkan anggotanya untuk berpartisipasi dalam festival seni dengan kategori pertunjukan tari.
Hari yang ditunggu pun tiba, pemuda tersebut mengurus semua persiapan tari piring anggotanya. Sembari menunggu giliran, gadis-gadis tersebut berkeliling dan menikmati bermacam macam seni yang ada di Indonesia di festival seni. Gadis-gadis tersebut juga tidak lupa untuk melihat saingan tari mereka dengan kekaguman mereka di wajahnya.
Sejujurnya mereka sedikit kehilangan percaya diri untuk memenangkan kompetisi tersebut. Tetapi salah satu anggotanya yaitu Tia menyemangati teman-temanya untuk jangan menyerah sampai akhir dan terus percaya diri kepada perjuangan yang telah mereka lalui, setelah mendapatkan semangatnya kembali, giliran mereka pun tiba.
Mereka tampil dengan penuh kepercayaan diri dan melakukan yang terbaik untuk memperkenalkan tari piring kepada penonton.
Setelah melakukan pertunjukannya secara maksimal, gadis-gadis tersebut merasa lega dan penasaran dengan penilaian dari juri. Mereka kembali ke belakang panggung dan pemuda yang bertanggung jawab dengan anggota tari piring tersebut memberikan ucapan selamat atas kerja keras dari penampilan mereka. Karna masih ada waktu, pemuda asal Jakarta tersebut menawarkan kepada gadis-gadis untuk berkeliling menikmati festival seni yang belum mereka kunjungi. Mereka langsung bersemangat dan pergi menikmati festival seni di Jakarta, mulai dari seni membatik, lukisan, kaligrafi, sampai makanan- makanan yang di jual di sekitar sana. Setelah berkeliling, mereka beristirahat di sekitar area festival sambil memakan jajanan yang mereka beli. Tidak lama kemudian pemuda asal Jakarta tersebut menelepon salah satu anggota tarinya untuk berkumpul dan kembali ke penginapan untuk beristirahat.
2 hari kemudian mereka mendapatkan kabar berupa daftar juara 1, 2 dan 3 dengan kategori pertunjukan tari, pemuda tersebut membacakan satu persatu para juara, tetapi dia tidak menemukan nama tari mereka didaftar tersebut, yang artinya mereka gagal untuk mendapatkan juara, tetapi di halaman berikutnya pemuda tersebut menemukan nama tari mereka yang masuk dalam nominasi penghargaan tari baru terbaik yang dapat memeriahkan festival seni. Sontak gadis-gadis tersebut sangat senang karna perjuangannya tidaklah sia-sia dan memicu semangat untuk mendapatkan juara 1 di festival seni berikutnya. Pemuda yang melihat rasa gembira anggotanya langsung menawarkan untuk menjadi manajer dan berambisi untuk mendapatkan yang terbaik di festival selanjutnya.
Beberapa hari kemudian, pemuda yang sekaligus manajer mendapatkan kabar berupa surat undangan untuk menampilkan tarian yang pernah mereka tampilkan di festival seni
kemarin dalam acara pernikahan. bukan hanya itu, mereka juga di undang di beberapa sanggar tari untuk memperkenalkan seni tari piring di sana. Semenjak penampilan mereka di panggung festival seni, tari piring mulai menjadi perhatian bagi para pecinta seni tari karena keunikannya. Pemuda asal Jakarta tersebut langsung memberikan kabar ke anggotanya mengenai surat undangan yang diterimanya tadi. Di sana mereka tidak hanya akan menampilkan seni tari piring saja, tetapi juga beberapa seni tari lainya. Tanpa pikir panjang para gadis tersebut dengan senangnya langsung menerima surat undangan acara pernikahan tersebut yang akan di adakan dalam 8 hari lagi.
Sambil menunggu hari yang di tunggu tiba, mereka membagi 4 kelompok yang masing-masing berisi 2 orang. Intan dan Yuna di Kelompok ke 1, Reni dan Susi di kelompok ke 2, Tia dan Ayu di kelompok ke 3. Karena anggota tari piring tersebut berjumlah 7 orang, maka salah satu kelompok hanya berisi 1 orang, untuk melengkapinya pemuda yang berperan menjadi manajer mereka ikut serta dalam kelompok tersebut yang beranggotakan Riri dan manajernya Rendi yang berada di kelompok ke 4. Mereka semua mengunjungi beberapa sanggar yang mengundangnya, untuk menjadi pembimbing seni tari piring di sana. Setelah kelompok pertama tiba di salah satu sanggar, mereka langsung di sambut oleh pemilik sanggar tari tersebut. Setelah para gadis tersebut masuk ke dalam sanggar mereka melihat beberapa anak-anak yang berusia sekitar 10-13 tahun yang merupakan murid yang akan di bimbing oleh mereka. Pemilik sanggar tersebut langsung mengumpulkan anak-anak untuk mendapatkan bimbingan seni tari piring. Mereka berdua merasa sedikit gugup, karena baru pertama kali mereka dalam mengajar. Mereka berdua mulai menenangkan diri dan menjelaskan asal mula dan makna dalam tari piring serta gerakan-gerakan dalam seni tari piring.
Tetapi terdapat salah satu anak yang belakangan ini sedang bertengkar dengan anak lain. Di saat para gadis tersebut sedang menjelaskan terdapat salah satu anak yang duduk berjauhan seperti sedang di kucilkan. Salah satu gadis yang sedang menjelaskan di depan yaitu si Intan, langsung menghampiri anak tersebut dan bertanya “ada apa?”. Anak tersebut tidak menjawab dan hanya terdiam sambil melihat ke bawah. Salah satu anak di sampingnya menjawab dengan nada mengejek bahwa dia tidak pandai dalam menari, tetapi dia tetap ingin melanjutkan pelatihan seni tari, karena anak tersebut sangat menyukai seni tari. Tidak hanya itu anak-anak yang berada di sanggar juga suka dalam menari, maka anak-anak di sanggar tersebut tidak ingin dia menjadi penghambat dalam mimpi mereka yang ingin menjadi penari profesional. Salah satu gadis di depan yang sedang menjelaskan mengenai seni tari piring menjawab, bahwa seni tari kebanyakan akan dilakukan secara berkelompok, maka mereka harus saling bekerja sama jika mereka benar-benar sangat menyukai seni tari dan ingin menjadi penari profesional.
Gadis yang sedang bersama anak tersebut mengatakan bahwa dulunya salah satu anggota tari mereka juga tidak pandai dalam menari. Dia juga sempat ingin berhenti, tetapi karena teman-temanya selalu menyemangatinya dan dulunya tari piring juga merupakan sebuah ritual adat, maka gadis tersebut tidak bisa berhenti dan tetap melakukan yang terbaik. Guru tersebut menyadari mungkin ada beberapa anak yang kurang paham dengan cara mengajarnya, dan ia mulai ingin memahami anak tersebut dan sedikit mengubah cara mengajarnya. Alhasil sedikit-sedikit anak tersebut mulai pandai dalam menari. Yang ingin gadis tersebut katakan adalah jangan mengejek temanya, hal
tersebut tidak akan membuatnya lebih pandai dalam menari dan cobalah untuk memahami temanya. Pembimbing tersebut menyuruh anak-anak untuk meminta maaf dan berteman dengannya. Dengan nada bercanda dan wajah tersenyum gadis tersebut mengatakan, mereka tidak akan melanjutkan pelajaran seni tari piring jika tidak ingin bekerja sama.
Kelompok-kelompok lain yang juga menghadiri beberapa sanggar yang juga berjalan dengan lancar, walaupun terdapat salah satu kelompok yang anggotanya sedikit pemalu dan kurang pandai dalam mengajar, tetapi manajernya memberikan dukungan dan menutupi kekurangannya sehingga tidak terjadinya masalah.
Beberapa hari kemudian, mereka juga tidak lupa untuk berlatih seni tari lainya yang akan di tampilkan di acara pernikahan yang akan dihadirinya. Hari yang ditunggu pun tiba, mereka bersama manajernya langsung berangkat ke acara pernikahan tersebut dan ikut serta dalam memeriahkan acaranya, dalam acara tersebut mereka menampilkan 2 jenis tari dengan percaya diri yang diantaranya adalah tari piring dan juga tari saman.
Singkat cerita acara tersebut berjalan dengan lancar tanpa masalah. Para gadis tersebut juga menikmatinya dan mulai tertarik untuk mempelajari seni tari lainya.
Setelah acara tersebut selesai para gadis dan manajernya kembali ke penginapan untuk beristirahat. Mereka menghubungi keluarganya di desa untuk kembali besok siang.
Keesokan harinya mereka bersiap-siap untuk kembali ke desanya dan berpamitan dengan pemuda asal Jakarta tersebut yang telah memberikan mimpi baru kepada gadis-gadis tersebut. Setelah sampainya di desa mereka disambut oleh warga setempat dan merayakan kepulangannya. Salah satu kakek dari anggota tarinya yang juga merupakan gurunya langsung berlari memeluk cucunya dengan rasa khawatir dan lega. Warga desa tersebut juga telah menyiapkan acara kecil kecilan di rumah kepala desa untuk menyambut kedatangannya. Mereka semua sangat menikmatinya.
Beberapa bulan telah berlalu, salah satu anggotanya yaitu Yuna mendapatkan kabar dari manajernya bahwa mereka akan di ikutsertakan dalam acara besar akhir tahun yaitu, berupa festival seni yang dikuti oleh beberapa negara di Asia tenggara. Seni tari yang di bawakan oleh mereka terpilih untuk dibawakan di festival seni Asia tenggara. Terdapat 3 kandidat yang akan membawa nama Indonesia. Dan salah satunya yaitu seni tari piring.
Sontak gadis tersebut langsung menghubungi teman-temanya dengan wajah gembiranya.
Perlombaan tersebut akan diadakan 4 bulan lagi dari sekarang.