• Tidak ada hasil yang ditemukan

komposisi serangga permukaan tanah pada areal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "komposisi serangga permukaan tanah pada areal"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

KOMPOSISI SERANGGA PERMUKAAN TANAH PADA AREAL PERTANAMAN KACANG TANAH DI KEJORONGAN

LANGGAM KENAGARIAN KINALI KABUPATEN PASAMAN BARAT

E JURNAL

DEWI FITRIANTI NIM. 11010011

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT

PADANG

2015

(2)
(3)

KOMPOSISI SERANGGA PERMUKAAN TANAH PADA AREAL PERTANAMAN KACANG TANAH DI KEJORONGAN

LANGGAM KENAGARIAN KINALI KABUPATEN PASAMAN BARAT

Dewi Fitrianti, Ismed Wahidi, Lince Meriko

Program Studi Pendidikan Biologi, Sekolah Tinggi Keguruan Dan Ilmu Pendidikan STKIP PGRI Sumatera Barat

Email : [email protected]

ABSTRACT

Peanut is one of the plants are a rich source of protein, oil, calories and carbohydrates to the body.

This plant is more vulnerable to attack insects from early planting to harvest the results. The insects there are beneficial and detrimental to the plant crops. Research on the composition of the ground surface insects in peanut planting area in Kejorongan Langgam Kenagarian Kinali West Pasaman was conducted in August 2015 until September 2015. The purpose of this study is the composition of the surface soil insects in peanut planting area and environmental factors soil temperature, soil moisture and the pH of the soil in Kejorongan Langgam Kenagarian Kinali West Pasaman. The research was conducted using descriptive survey, samples were taken directly in the field, method of catching with trap trap (pitfall-trap), deployment of traps in random sampling to establish 3 research stations and each station installed 15 pieces pitfall-traps, each station a swab at 18.00 pm to 06.00 am (12 hours). Measurement of soil temperature, soil moisture and soil pH in the field. Identification of samples in the laboratory followed Zoology Biology Education Studies Program STKIP Suametra PGRI West. The result showed as many as 20 families and 26 genera.

Namely environmental factors, temperature 28-31ºC soil, soil moisture and soil pH from 1.8 to 2.5% and 7.4 to 7.8

Key words : Composition, Soil Insect, Peanut PENDAHULUAN

Tanah merupakan medium atau substrat tempat hidup bagi jenis makhluk hidup yang meliputi mikroorganisme, tumbuhan, dan hewan. Secara umum tanah bagi serangga tanah berfungsi sebagai tempat hidup, tempat pertahanan, dan makanan (Borror dkk, 1992).

Serangga tanah dapat dikatagorikan sebagai serangga yang menguntungkan dan merugikan bagi tanaman. Serangga maupun tanaman dapat memperoleh keuntungan dari hubungan timbal balik, sedangkan memperoleh kerugian dari serangga yang memakan pertanaman hasil pertanian.

Akibatnya tanaman dapat menyebabkan kematian ataupun cacat pada tanaman, dengan demikian merugikan mutu produksi tanaman. Secara umum serangga tanah dapat dikelompokkan berdasarkan faktor lingkungan dan jenis makanannya (Suin, 1997).

Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi keberadaan serangga tanah adalah faktor abiotik dan biotik. Faktor biotik bagi serangga tanah adalah organisme yang terdapat di habitatnya seperti mikroflora, tumbuhan, dan golongan hewan lainnya. Sedangkan faktor abiotik bagi serangga tanah salah satunya adalah suhu tanah, kelembaban tanah, pH tanah (Suin, 1997).

Serangga tanah tidak kalah pentingnya dengan kelompok fauna yang lain, berperan sebagai perombak bahan organik yang memegang peranan penting bagi kesuburan tanah tetapi jika terganggu akan terjadi sebaliknya sebagai hama. Salah satu pada areal pertanaman habitat serangga permukaan tanah adalah kacang tanah di Kejorongan Langgam Kenagarian Kinali Kabupaten Pasaman Barat.

Kacang tanah merupakan hasil tanaman penting sebagai sumber protein,

(4)

minyak, kalori, dan karbohidrat yang saat ini telah berkurang produksinya di Kejorongan Langgam. Salah satunya disebabkan oleh serangga pengganggu yang merusak tanaman kacang tanah pada fase pertumbuhan dan fase reproduksi antara lain serangga pemakan daun, menghisap cairan daun dan dan menyerang tanaman kacang tanah yang masih muda pada polong atau buah. Penelitian Suwondo (2015) diperoleh hasil 4 ordo dan 11 spesies serangga permukaan tanah di Arboretum Universitas Riau sebagai sumber belajar melalui model inkuiri. Sedangkan penelitian Ummi Zuh Rafal (2007) diperoleh hasil 23 genus, 13 famili dan 7 ordo serangga permukaan tanah di UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi. Berdasarkan latar belakang diatas dan informasi mengenai komposisi serangga permukaan tanah pada areal pertanaman kacang tanah di Kejorongan Langgam Kenagarian Kinali Kabupaten Pasaman Barat belum ada. Maka penulis telah melakukan penelitian tentang

“Komposisi Serangga Permukaan Tanah Pada Areal Pertanaman Kacang Tanah di Kejorongan Langgam Kenagarian Kinali Kabupaten Pasaman Barat”. Tujuan penelitian yaitu Untuk mengetahui Komposisi Serangga Permukaan Tanah pada Areal Pertanaman Kacang Tanah di Kejorongan Langgam Kenagarian Kinali Kabupaten Pasaman Barat dan Untuk mengetahui keadaan faktor lingkungan suhu tanah, kelembaban tanah dan pH tanah.

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Agustus-September 2015 di Kejorongan Langgam Kenagarian Kinali Kabupaten Pasaman Barat. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini kertas label, lup, pinset, mikroskop stereo, cawan petri, kantong plastik, botol perangkap dengan diameter permukaan atas 10 cm, bawah 7 cm dan tinggi 15 cm, kamera, alat pelubang tanah, termometer air raksa, soiltester dan alat-alat tulis. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah larutan kahle, serangga tanah.

Penelitian dilakukan secara survey deskriptif pengamatan langsung ke lapangan. Metode penangkapan serangga permukaan tanah dengan alat Pitfall-trap dan penyebaran perangkap secara random sampling. Pengambilan sampel pada kacang tanah yang berumur 1 bulan, 2 bulan dan 3 bulan dan pengukuran faktor lingkungan (suhu tanah, kelembaban tanah dan pH tanah). Pemasangan perangkap dan pengukuran faktor lingkungan pada pukul 18.00 WIB sampai 06.00 WIB (12jam).

Pada masing-masing stasiun terdapat 15 pitfall-trap secara acak. Tanah digali dengan kedalaman 15cm dengan alat pelubang tanah kemudian masing-masing botol perangkap yang telah di tanam diisikan larutan kahle dengan ketinggian 3cm dan pada permukaan atas botol perangkap lebih ditinggikan sedikit 1cm untuk terhindar aliran air hujan masuk selanjutnya diberikan atap pelindung. Ketika pemisahan dan pengawetan botol perangkap dikeluarkan dari dalam tanah kemudian disaring sehingga serangga tanah yang didapat.

Serangga tanah yang didapat dimasukan ke dalam botol koleksi.selanjutnya pengukuran faktor lingkungan : suhu tanah menggunakan Termometer air raksa yang ditancapkan didalam tanah dengan kedalaman 3cm selama 1-5 menit, kelembaban tanah menggunakan Soiltester yang ditancapkan didalam tanah dengan menekan tombol sampingnya selama 1-5 menit, dan pH tanah menggunkan Soiltester yang ditancapkan pada tanah tanpa menekan tombol sampingnya selama 1-5 menit pengukuran dilakukan pada pukul 18.00 WIB. Identifikasi dilakukan di Laboratorium Zoologi Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat Padang.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil tentang Komposisi Serangga Permukaan Tanah Pada Areal Pertanaman Kacang Tanah Di Kejorongan Langgam Kenagarian Kinali Kabupaten Pasaman

Tabel 1. Genus Serangga Tanah Yang Ditemukan di Areal Pertanaman Kacang Tanah Umur 1 Bulan Di Kejorongan Langgam Kenagarian Kinali Kabupaten Pasaman Barat.

No. Ordo Famili Genus K KR

(%) F FR

(%)

(5)

1. Hymenoptera Formicidae Pheidole 21 1,40 22,54 0,60 27,15 Myrmecocystus 15 1 16,10 0,40 18,09 Solenopis 35 2,33 37,52 0,47 21,27 Monomorium 10 0,67 10,79 0,13 5,88 2. Orthoptera Acrididae Valanga 1 0,07 1,13 0,07 3,17 Chloealtis 1 0,07 1,13 0,07 3,17 3. Coleoptera Scolytidae Xyloborus 2 0,13 2,09 0,13 5,88

Cicindelid ae

Cicindela

1 0,07 1,13 0,07 3,17 4. Araneida Araneidae Cyclosa 1 0,07 1,13 0,07 3,17 Lycosidae Lycosa 6 0,40 6,44 0,20 9,05 Jumlah 93 6,21 100 2,21 100 Keterangan:

K= Kepadatan (perperangkap), KR= Kepadatan Relatif (%), F=Frekuensi (perperangkap), FR=Frekuensi Realatif (%)

Dari Tabel 1 terlihat bahwa kehadiran serangga permukaan tanah yang ditemukan sangat bervariasi yang ditemukan di areal pertanaman kacang tanah pada stasiun I (umur 1 Bulan) terdiri dari 4 ordo, 6 famili dan 10 genus. Dimana genus yang tertinggi

kepadatannya adalah genus Solenopis (Formicidae) 2,33 dan genus yang kepadatan terendah adalah genus Valanga (Acrididae), Chloealtis (Acrididae), Lycosa (Acrididae) dan Cicindela (Cicindelidae) dengan kepadatannya 0,07.

Tabel 2. Genus Serangga Tanah Yang Ditemukan di Areal Pertanaman Kacang Tanah Umur 2 Bulan Di Kejorongan Langgam Kenagarian Kinali Kabupaten Pasaman Barat.

No. Ordo Famili Genus K KR

(%) F FR (%) 1 Hymenoptera Formicidae Pheidole 6 0,40 22,09 0,33 30,81

Myrmecocystus 3 0,20 11,05 0,13 12,15 2 Coleoptera Coccinellidae Epilachna 1 0,07 3,87 0,07 6,54

Lycosidae Lycosa 16 1,07 59,12 0,47 43,92 3 Plecoptera Perlidae Acroncuria 1 0,07 3,87 0,07 6,54

Jumlah 27 1,81 100 1,07 99,99 Genus serangga tanah yang

ditemukan pada stasiun II berjumlah 3 ordo, 4 famili dan 5 genus. Dimana kepadatan yang tertinggi adalah Lycosa (Lycosidae)

yaitu 1,07 dan kepadatan terendah adalah Epilachna (Cocconellidae) dan Acroncuria (Perlidae) yaitu 0,07.

Tabel 3. Genus Serangga Tanah Yang Ditemukan di Areal Pertanaman Kacang Tanah Umur 3 Bulan Di Kejorongan Langgam Kenagarian Kinali Kabupaten Pasaman Barat.

No. Ordo Famili Genus K KR

(%)

F FR

(%) 1. Araneida Lycosidae Lycosa 24 1,60 31,43 0,73 22,88 2. Orthoptera Gryllotalpidae Gryllotalpa 1 0,07 1,37 0,07 2,19

Acrididae Melanoplus 1 0,07 1,37 0,07 2,19 Valanga 4 0,27 5,30 0,20 6,27 Spharagemo

n

4 0,27 5,30 0,20 6,27 Chloealtis 1 0,07 1,37 0,07 2,19 Tettigoniidae Conocephalu

s

1 0,07 1,37 0,07 2,19

(6)

3. Lepidopter a

Noctuidae Spodiptera 1 0,07 1,37 0,07 2,19 4. Dermapter

a

Forficulidae Forficula 1 0,07 1,37 0,07 2,19 5. Coleoptera Hydraenidae Hydraena 5 0,33 6,48 0,27 8,46 Pentagonicidae Pentagonica 3 0,20 3,93 0,13 4,07 Carabidae Cicindela 1 0,07 1,37 0,07 2,19 Cryptophagidae Monolepta 2 0,13 2,55 0,13 4,07 Chrysomelidae Mycetochara 3 0,20 3,93 0,20 6,27

Lebiinadae Microlestode s

1 0,07 1,37 0,07 2,19 6. Collembol

a

Paronellidae Callyntrura 25 1,67 32,81 0,67 21,00 7. Diplopoda Paradoxomatida

e

Oxidus 2 0,13 2,55 0,13 4,07 Jumlah 80 5,09 100 3,19 100 Pada stasiun III juga memiliki

komposisi serangga tanah yang bervariasi, dengan jumlah 7 ordo, 14 famili dan 17 genus. Kepadatan tertinggi adalah Callyntrura (Paronellidae) yaitu 1,67 dan kepadatan terendah yaitu Microlestodes

(Lebiinadae), Chloealtis (Acrididae), Melanoplus (Acrididae), Cicindela (Carabidae), Spodiptera (Noctuidae), Conocephalus (Tettigoniidae), Forficula (Forficulidae) dan Gryllotalpa (Gryllotalpidae) yaitu 0,07.

Tabel 4. Hasil Pengukuran Faktor Lingkungan Tanah di Areal Pertanaman Kacang Tanah Di Kejorongan Langgam Kenagarian Kinali Kabupaten Pasaman Barat.

Parameter Stasiun

I II III

Suhu tanah (ºC) 31 29 28

pH tanah 7,4 7,8 7,8

Kelembaban tanah (%) 2,0 1,8 2,5

Suhu tanah pada stasiun I adalah 31ºC, stasiun II adalah 29ºC dan stasiun III adalah 28ºC.

Sedangkan pH tanah pada stasiun I adalah 7,4, stasiun II adalah 7,8 dan stasiun III adalah 7,8.

Kelembaban tanah pada stasiun I adalah 2,0%, stasiun II adalah 1,8% dan stasiun III adalah 2,5%.

Tabel 5. Indek Keanekaragaman (Diversity) Shannon-Wienner Serangga Tanah Yang Ditemukan di Areal Pertanaman Kacang Tanah Di Kejorongan Langgam Kenagarian Kinali Kabupaten Pasaman Barat.

No. Stasiun Indek Keanekaragaman

1 Stasiun I 1,69

2 Stasiun II 1,13

3 Stasiun III 1,97

Dari hasil analisis data diperoleh nilai indek keanekaragaman (H’) genus secara umum termasuk dalam kategori sedang yaitu berkisar 1,13-1,97 atau 1 < H < 3 (Tabel 5).

(7)

Tabel 6.Indek Keseragaman Serangga Tanah Yang Ditemukan di Areal Pertanaman Kacang Tanah Di Kejorongan Langgam Kenagarian Kinali Kabupaten Pasaman Barat.

No. Stasiun Indek Keseragaman

1 Stasiun I 0,73

2 Stasiun II 0,70

3 Stasiun III 0,69

Pada Tabel 6 Indek Keseragaman pada stasiun I dengan nilai 0,73, satsiun II dengan nilai 0,70, stasiun III dengan nilai 0,69 .

Pada Tabel 1 dan Lampiran 5 dapat dilihat kepadatan dan kepadatan relatif tertinggi pada stasiun I adalah genus Solenopsis yaitu 2,33 dan 37,52%.

Tingginya genus Solenopsis disebabkan karena semut ini dapat bertahan hidup dimana saja hingga kebutuhan makanannya tercukupi. Borror dkk, (1970) menyatakan genus Solenopsis termasuk hewan koloni karnivora, makanan utama adalah serangga- serangga kecil, ulat, kacang-kacangan dan bahan makanan yang mengandung glukosa dan mineral. Pada umur 1 bulan daun-daun pada kacang tanah itu masih sedikit yang muncul dari batang mengakibatkan suhu tanah tinggi yaitu 31ºC karena cahaya matahari langsung menyinari permukaan tanah. Meskipun demikian suhu 31ºC adalah suhu tanah yang cocok untuk kelangsungan hidup genus Solenopsis. Menurut Jumar (2000) bahwa kisaran suhu yang efektif untuk serangga tanah adalah suhu minimum 15ºC, suhu optimum 25ºC dan suhu maksimum 45ºC.

Suhu tanah sangat berpengaruh terhadap kelembaban tanah dan pH tanah.

Suhu yang tinggi dapat menyebabkan penguapan cepat sehingga pH tanah yaitu 7,4 dan kelembaban tanah yaitu 2,0%.

Menurut Suin (2002) pH tanah sangat penting dalam ekologi daratan karena kehidupan organisme tanah sangat ditentukan oleh pH tanah, berarti genus Solenopsis dapat hidup yang pH-nya berkisar antara 6,5-7,5. Stasiun I tinggi dan rendahnya kepadatan dan kepadatan relatif diduga karena suhu tanah, kelembaban tanah dan pH tanahnya mendukung, kondisi lingkungan, sumber nutrisi tercukupi untuk genus Solenopsis dan rendahnya genus Valanga, Chloealtis, Cyclosa dan Cicindela dikarenakan terbatas sumber makanan, habitat kurang memadai, dan faktor lingkungan (suhu tanah, kelembaban tanah dan pH tanah) yang kurang sesuai.

Kepadatan dan kepadatan relatif yang terendah pada stasiun I adalah genus Valanga, Chloealtis, Cyclosa dan Cicindela yaitu 0,07. Rendahnya kepadatan dan kepadatan relatif Valanga, Chloealtis, Cyclosa dan Cicindela diduga persediaan makanan dan nutrisi serangga tersebut tidak cocok. Stasiun I adalah areal pertanaman kacang tanah yang masih berumur 1 bulan, yang masih sedikit ketersediaan bahan makanannya. Genus Valanga dan Chloealtis lebih menyukai makanan yang cukup dan tempat tinggalnya memadai dan aktivitasnya dipermukaan tanah. Menurut Lilies (1991) genus Cyclosa lebih menyukai membuat jaring-jaring untuk memangsa serangga yang tertangkap dalam jaring. Menurut Capinera (2008) menyatakan bahwa genus Cicindela merupakan hama yang sangat penting di musnahkan pada tanaman perkebunan.

Daun-daun tumbuhan yang terserang hewan ini kelihatan seperti adanya tembakan /tusukan kecil pada lembaran daun, sedangkan untuk larva biasanya makan akar- akar tumbuhan yang sama.

Pada tabel 2 stasiun II genus Lycosa memiliki kepadatan dan kepadatan relatif tinggi yaitu 1,07 dan 59,12%, hal ini disebabkan karena genus Lycosa merupakan serangga yang hidupnya tidak berkoloni, tidak membuat sarang/jaring tetapi menyerang mangsanya secara langsung, termasuk serangga yang tinggal di tanah dan dapat berlari dengan cepat (Lilies, 1991).

Kepadatan dan kepadatan relatif terendah yaitu 0,07 dan 3,87% dengan genus adalah Epilachna dan Acroncuria dengan kepadatan masing-masing genus 0,07. Pada genus Epilachna masih berupa larva, larva mengkonsumsi daun untuk dijadikan sumber nutrisi dan merubahnya menjadi kepompong sampai selesai stadia larvanya (Capinera, 2008), sedangkan pada genus Acroncuria merupakan nimpa yang habitatnya di permukaan tanah yang mencari makan serangga-serangga kecil. Komposisi

(8)

serangga tanah juga dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan adalah Suhu tanah, pH tanah dan kelembaban tanah. Pada stasiun II suhu tanah yaitu 29ºC, pH tanah yaitu 7,8 dan kelembaban tanah yaitu 1,8%

yang mempengaruhi tinggi dan rendahnya kepadatan dan kepadatan relatif suatu genus tersebut. Tingginya genus Lycosa dalam kelangsungan hidup disebabakan oleh beberapa faktor lingkungan (suhu tanah, kelembaban tanah dan pH tanah), habitat memadai, sumber nutrisi dan rendahnya suatu genus dikarenakan faktor lingkungannya tidak sesuai dengan kelangsungan hidupnya.

Kemudian pada Tabel 3 stasiun III jumlah genus yang tertinggi terdapat pada genus Callyntrura yaitu 25 individu dengan kepadatan relatif mencapai 32,81% dan kepadatan relatif terendah yaitu genus Microlestodes, Chloealtis, Melanoplus, Cicindela, Spodiptera, Conocephalus, Forficula, dan Gryllotalpa kepadatan relatif yaitu 1,37% dengan masing-masing jumlah 1 genus. Menurut Suhardjono (2012) menyatakan bahwa Callyntrura. merupakan ordo dari Collembola yang berukuran besar dengan tubuh mencapai panjang 2-3 mm.

Tubuh dipenuhi dengan banyak makroseta dan sisik yang kasar dan bergurat. Panjang antena bervariasi ada yang pendek dan ada yang panjang. Callyntrura ini habitatnya dipermukaan tanah. Selain habitat dan nutrisinya yang mendukung tingginya genus Callyntrura ini, faktor lingkungan juga mempengaruhi kehadiran suatu serangga tanah yang meliputi suhu tanah yaitu 28ºC, pH tanah yaitu 7,8 dan kelembaban tanah tanah yaitu 2,5%. Tinggi dan rendahnya suatu species bukan hanya dipengaruhi oleh faktor makanan, habitatnya melainkan faktor lingkungan (suhu tanah, kelembaban tanah dan pH tanah) yang mendukung untuk kelangsungan hidupnya.

Rendahnya kepadatan komposisi serangga tanah pada permukaan tanah dari tiap stasiun menunjukan adanya pengaruh faktor pendukung habitat dan adanya variasi serangga tanah dalam mengantisipasi faktor lingkungan. Kesesuaian lingkungan, ketersediaan makanan, adanya predator dan fungsi ekologis di ekosistem merupakan faktor penentu kehadiran serangga tanah.

Perbedaan dari individu dari setiap penangkapan dan umur tanam adalah pada

umur 1 bulan serangga tanah umumnya aktif memakan daun-daun yang masih muda dan pada umur 2 bulan serangga tanah juga aktif makan daun muda, bunga serta polong, sedangkan umur 3 bulan serangga tanah tidak lagi aktif makan daun-daun karena daun-daun tersebut sudah mulai mengeras dan berlubang-lubang dan menguning sehingga aktifitas serangga tanah berpindah ketanaman lain. Serangga tanah yang bersifat fitophagus sangat tergantung pada vegetasi sekitar, sedangkan yang bersifat predator tergantung kepada kepadatan mangsa di ekosistemnya (Nurhadi, 2009).

Hasil perhitungan indeks keanekaragaman dan indeks keseragaman serangga permukaan tanah di Kejorongan Langgam Kenagarian Kinali Kabupaten Pasaman Barat secara keseluruhan tergolong sedang. Menurut Jumar (2000) menyatakan bahwa suhu efektif bagi serangga tanah adalah suhu optimum 25ºC dan maksimum 45ºC, dan suhu tanah yang dibutuhkan serangga tanah untuk dapat bertahan hidup adalah suhu tanah 4-45ºC. Apabila lebih rendah atau enzimatis di dalam tubuh serangga berlangsung sangat lambat.

Beberapa aktivitas serangga juga dipengaruhi oleh responnya terhadap cahaya, diantaranya cahaya matahari maupun cahaya lampu sehingga terdapat beberapa jenis serangga yang aktif pada siang hari (diurnal) dan aktif malam hari (nokturnal) Fatmah (2013).

KESIMPULAN

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap Komposisi Serangga Tanah Permukaan Tanah Pada Areal Pertanaman Kacang Tanah Di Kejorongan Langgam Kenagarian Kinali Kabupaten Pasaman Barat dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: Jumlah serangga tanah yang ditemukan pada stasiun III itu lebih tinggi komposisi serangga tanah dengan jumlah 7 ordo, 14 famili dan 17 genus dibandingkan dengan stasiun I dan stasiun II. Struktur komposisi serangga permukaan tanah pada tiga areal pertanaman meliputi Indeks keanekaragaman (Diversity) stasiun I adalah 1,69, stasiun II adalah 1,13 dan stasiun III adalah 1,97 dan indek keseragaman satsiun I adalah 0,73, satsiun II adalah 0,70 dan stasiun III adalh 0,69. Faktor lingkungan tanah pada ketiga stasiun yaitu suhu tanah

(9)

berkisar antara (28-31ºC), pH tanah (7,4-7,8) dan kelembaban tanah (1,8-2,5%).

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Altieri, Miguel A. And Fritz Marlene A.

2005. Manage Insects On Your Farm A Guide to Ecological Strategies.

Sustainable Agriculture Network Beltsville MD.

Borror, Donald J. And White, Richard E.

1970. A Field Guide to the Insects.

America North of Mexico.

Borror D.J.,C.A Triplehorn, dan N.F.

Johnson. 1992. Pengenalan Pelajaran Serangga edisi keenam.

(terjemahan) Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Capinera, Jhon L. 2008. Encyclopedia Of Entomology 2nd Edition. Springer Hangay, George and Paul Zborowski. 2010.

A Guide To The Beetles Of Australia.

Jumar. 2000. Entomologi Pertanian. Jakarta:

PT RINEKA CIPTA

Lilies S, Christina. 1991. Kunci Determinasi Serangga. Kanisius Yogyakarta.

Nurhadi dan Rina Widiana. 2009. Komposisi Arthropoda Permukaan Tanah Di Kawasan Penambangan Batubara Di Kecamatan Talawi Sawah Lunto.

Jurnal Sainsdan Teknologi (Sainstek) STAIN Batu Sangkar.

Odum, Eugene P. 1998. Dasar-Dasar Ekologi Edisi Ketiga. Universitas Gajah Mada

Priyantini, Widiyaningrum. 2009.

Pertumbuhan Tiga Spesies Jangkrik Lokal Yang Dibudidayakan Pada Padat Penebaran Dan Jenis Pakan Berbeda. Jurnal MIPA UNES.

Diakses tanggal 26 Desember 2014 Resh, Vincent H and Carde Ring.T. 2003.

Encyclopedia Of Insecta. Academic Press USA

Suhardjono, Yayuk Rahayuningsih, dkk.

2012. Collembola (Ekor Pegas).

Vegamedia. Bogor.

Suin, Nurdin Muhammad. 1997. Ekologi Hewan Tanah. Bumi aksara Jakarta Suin, Nurdin Muhammad, 2002. Metoda

Ekologi. Universitas Andalas. Padang Suin, Nurdin Muhammad, 2006. Metoda Ekologi. Universitas Andalas Padang Ummi, Zuh Rafal. 2007. Studi

Keanekaragaman Serangga Tanah di UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi. Jurnal Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UINM. Diakses pada tanggal 11 agustus 2015

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian yang penulis lakukan di Taman Hutan Kota di Gampong Tibang Kecamatan Syiah Kuala Banda Aceh, maka yang keanekaragaman jenis

Methods: At a health care organization in Southern California, ninety chronic obstructive pulmonary disease COPD patients who were enrolled in a self- management program completed IVR