Abrar Adhani, S.Sos, MIKom (Ketua Ikatan Ilmu Komunikasi Perguruan Tinggi Muhammadiyah “APIK-PTM”). APIK-PTM merupakan wadah pendidikan ilmu komunikasi dibawah naungan perguruan tinggi muhammadiyah seluruh indonesia.
Biodata Editor
Komunikasi dan Multikulturalisme
Pengelolaan Kearifan Lokal Ponorogo (Konservasi kesenian Reyog Ponorogo ditinjau dari idealitas dan tuntutan ekonomi) Nurul Iman, Slamet Santoso, Rido Kurnianto, Jusuf Harsono. Pelanggaran Konten Siaran Televisi Lokal di Daerah Istimewa Yogyakarta: Studi Kasus Pengarah Dunia Televisi (ADITV) Mariana Ulfah, Ayu Nuangsari.
Religi dan Media Komunikasi
Merentasi Sempadan
Pengenalan
Melalui amalan tradisional, pendakwah berhubung secara bersemuka dengan mad’u untuk menyampaikan ajaran berkaitan nilai-nilai kebaikan khususnya berkaitan ajaran Islam. Namun, melalui media sosial, pendakwah boleh memanfaatkan rangkaian ini sebagai platform untuk menyampaikan dakwah kepada khalayak yang lebih luas, ramai dan merentasi sempadan.
Konsep Dakwah
Manhaj ialah cara, jalan atau kaedah yang digunakan untuk menyampaikan dakwah dan mencapai matlamat dakwah (Abd Aziz, 1995). Kaedah ialah proses penyampaian yang digunakan oleh pendakwah untuk menyampaikan ilmunya kepada khalayak sasaran sambil memastikan kaedah penyampaian yang digunakan berkesan dalam mengubah tingkah laku khalayak sasaran.
Dakwah Secara Bersemuka
Inilah antara cabaran dan halangan logistik yang perlu diharungi dalam dakwah secara bersemuka. Persoalan tentang peraturan dan undang-undang juga sering menjadi persoalan dan halangan berhubung dengan dakwah secara bersemuka.
Dakwah Secara Siaran
Generasi muda hari ini lebih gemar berkomunikasi melalui media interaktif yang membolehkan mereka berkongsi banyak perkara sama ada idea, bahan bertulis, audio mahupun video. Majoriti generasi muda hari ini adalah netizen, komuniti maya yang hidup setiap hari dan membentuk rangkaian sosial dalam talian menggunakan media sosial seperti Facebook, Twitter, WeChat, Instagram, Messenger, WhatsApp dan lain-lain.
Prospek Dakwah Melalui Media Sosial
Dakwah melalui media sosial juga dapat menarik golongan sasar daripada generasi muda dengan lebih aktif. Penyampaian dakwah melalui media sosial akan menjadi lebih berkesan khususnya kepada golongan belia dan remaja.
Cabaran Dakwah Melalui Media Sosial
Konsep dakwah media sosial tidak mempunyai unsur keberkatan sebegitu, malah pendakwah tidak tahu madunya. Berbanding dengan dakwah konvensional melalui beberapa siri peperiksaan secara bersemuka, konsep dakwah melalui media sosial kurang konsep keberkatan pengajaran antara daie dan mad'u.
Rumusan dan Cadangan
Bagi menarik perhatian golongan belia dan remaja, pendakwah disarankan media sosial menghasilkan bahan dakwah digital yang menarik dan mempunyai faktor wow. Bahan dakwah seperti video pendek (thriller), filem animasi, permainan video dan sebagainya yang menerapkan konsep audio dan visual dengan baik akan menarik perhatian mad'u terhadap mesej dakwah yang ingin disampaikan oleh asatizah.
Pendahuluan
Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut: pertama, bagaimanakah wajah (citra masyarakat) Muhammadiyah dan NU menurut warga Muhammadiyah dan NU itu sendiri. Kedua, bagaimana warga Muhammadiyah dan warga NU menghadapi dan menyelesaikan konflik berdasarkan pendekatan komunikasi antarbudaya.
Tinjauan Pustaka
Ting-Toomey menyimpulkan bahwa menghindari, melakukan, dan berkompromi adalah respons khas orang-orang dari budaya kolektivistik dan konteks tinggi. Sedangkan dominan dan integratif cenderung digunakan oleh orang-orang yang berasal dari budaya individualistis dan berkonteks rendah.
Metode
Dalam penelitian ini sesuai dengan pendekatan penelitian terapan yaitu kualitatif, tujuannya adalah untuk mengembangkan teori Negosiasi Wajah dalam konteks yang berbeda. Ting-Toomey berfokus pada perbedaan budaya komunikasi yaitu budaya kolektif dan individual, serta budaya komunikasi konteks rendah dan konteks tinggi, sehingga penelitian ini akan lebih fokus pada perbedaan budaya antara budaya egaliter dan budaya paternalistik.
Hasil Penelitian
Sikap lain yang dilakukan warga Muhammadiyah dan warga NU dalam menghadapi konflik adalah integrasi (penyelesaian masalah) dan kompromi (tawar-menawar). Cara menyikapi dan menyelesaikan perbedaan pendapat dan konflik antara warga Muhammadiyah dan warga NU yang sama-sama lebih dominan dalam ingin menghindar (hindari) konflik merupakan salah satu ciri kelompok budaya komunikasi kolektif dan berkonteks tinggi.
Pembahasan
Perbedaan keyakinan, nilai dan sikap antara warga Muhammadiyah dan warga NU tentu akan mempengaruhi perilaku komunikasinya. Secara sosiologis, terdapat proses sosial yang saling bertentangan atau oposisi antara anggota Muhammadiyah dan anggota NU.
Simpulan
Misalnya saja, jika ada warga NU yang melakukan penyelamatan dan tahlilan, maka warga Muhammadiyah biarkan saja. Misalnya, ketika anggota NU hendak menunaikan qobliyah jum'ah, meskipun khatibnya adalah anggota Muhammadiyah, anggota NU diberi waktu untuk shalat qobliyah jum'ah.
Daftar Pustaka
Aisyiyah dalam Pusaran Tantangan Internal dan Eksternal
Makna dari konsep dakwah adalah dalam melakukan komunikasi dakwah di masa depan, Aisijjeh dilandaskan pada pandangan Islam yang progresif. Gerakan 'Aisyiyah (masyarakat) akar rumput menghadapi tantangan yang luar biasa karena faktor internal dan eksternal.
Pertanyaan Penelitian
Aisyiyah ke depan ditengah perubahan eksternal yang luar biasa yaitu menurunnya kohesi masyarakat dan hilangnya modal sosial akibat pragmatisme yang semakin kuat.
Kerangka Teori
Proses kognitif adalah ilmu yang mempelajari pengolahan informasi manusia yang berkaitan dengan faktor-faktor berpikir, khususnya paparan terhadap informasi dan perhatian atau persepsi, ingatan (memori), analisis dan orientasi tindakan – yang merupakan hal-hal yang mendahului suatu tindakan. Sikap atau pengaruh berkaitan dengan perasaan atau emosi, positif atau negatif, yang dihasilkan oleh informasi atau fenomena.
Metode Penelitian
Karakteristik peserta pengajian di komunitas Aisyiyah mempunyai latar belakang pekerjaan yang sangat beragam tergantung daerahnya. Selain itu jika dianalisis terkait dengan keterbatasan cara melaksanakan dakwah 'Aisyiyah di masyarakat dengan pengajian tersebut. Pengajian manajerial, yaitu pengajian yang pesertanya adalah pimpinan (pengurus) 'Aisyiyah di tingkat cabang (kabupaten) atau cabang (desa).
Kesimpulan
Pasca Orde Baru, berbagai pengajian berupa pertemuan taklim, pengajian sayap organisasi partai politik, sayap ormas baru dengan berbagai perspektif bermunculan di masyarakat.
Di Tanjungbalai Pada Harian Kompas Tahun 2016
Analisis bingkai merupakan metode analisis data yang digunakan untuk melihat bagaimana media massa seperti surat kabar atau televisi membingkai realitas yang ada, diterbitkan atau disiarkan sebagai berita (Herman & Nurdiansa, 2010). Fokus analisis bingkai Entman adalah pemilihan isu dan penonjolan aspek realitas atau isu yang terjadi. Dalam penelitian ini, analisis bingkai akan diterapkan pada pemberitaan pembakaran rumah ibadah di Tanjungbalai yang dimuat di Harian Kompas.
Telaah Pustaka
Data primer dalam penelitian ini berupa teks berita yang terdapat di Kompas terkait pembakaran tempat ibadah di Tanjungbalai pada tanggal 31 Juli – 05 Agustus 2016. Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari sumber kedua. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi yang bertujuan untuk menggali data masa lalu secara sistematis dan obyektif (Kriyantono, 2010). Dalam penelitian ini unit analisisnya adalah teks berita tentang pembakaran rumah ibadah di Tanjungbalai yang dipilih berdasarkan penempatan beritanya.
Hasil dan Pembahasan
Keberagaman menjadi Pilar Perkuat Bangsa
Berdasarkan pemberitaan di atas, kekerasan atas nama agama seperti yang terjadi di Tanjungbalai tidak mencerminkan jati diri bangsa Indonesia yang majemuk dan cinta damai. Berdasarkan cuplikan berita di atas dijelaskan bahwa kerusuhan di Tanjungbalai disebabkan oleh kesenjangan kesejahteraan. Selain ditampilkan dalam teks berita, Kompas juga memuat judul berita yang terbit pada 3 Agustus 2016 yaitu “Mendesak, Terwujudnya Perpolisian Masyarakat”.
Anarkisme Umat Islam
Artinya, Kompas menilai komunitas Muslim di Tanjungbalai yang menjadi pemicu kerusuhan adalah karena mereka tidak memanfaatkan pengeras suara azan secara efisien sehingga meresahkan umat agama lain. Abdul Mu'ti, Sekjen Pimpinan Pusat Muhammadiyah, mengatakan permasalahan di Tanjungbalai bisa disebabkan oleh banyak faktor. Berdasarkan kutipan di atas, Kompas menjelaskan melalui penuturan tokoh agama yaitu Abdul Mu'ti selaku Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Muhammadiyah, mengungkapkan bahwa kerusuhan Tanjungbalai disebabkan oleh banyak faktor termasuk ketimpangan ekonomi. .
Media Sosial Pemicu Anarkisme
Kapolri menambahkan, peringatan pelarangan ujaran kebencian melalui media sosial mengacu pada kerusuhan di Tanjungbalai yang terjadi setelah muncul isu-isu provokatif di media sosial. Mereka juga diharapkan memiliki server di Indonesia sehingga pelacakan pelaku ujaran kebencian di media sosial bisa dilakukan dengan mudah. Mengatasi permasalahan terkait penyebaran ujaran kebencian melalui media sosial, salah satunya meminta bantuan pihak lain dalam hal ini operator jasa telekomunikasi untuk meminimalisir tindak pidana di media sosial.
Digital: Studi Kasus Majalah Kuntum yang Mampu Bertahan Sebagai Media Cetak
Dimana studi kasus yang telah selesai akan fokus pada bagaimana Majalah Kuntum dapat bertahan sebagai media cetak di tengah era media digital. Meskipun hingga saat ini Majalah Kuntum mampu bertahan sebagai media cetak di tengah banyaknya media cetak lain yang beralih ke media digital, namun tidak. Jika melihat bagaimana Majalah Kuntum bertahan sebagai media cetak adalah dengan menjalin relasi dengan masyarakat.
Kesimpulan dan Saran
Oleh karena itu, media cetak merupakan media yang dapat dikoleksi, ditambah dengan kemudahan akses untuk mendapatkannya. Sebab, Kuntum Tydskrif bisa menjadi contoh bahwa media cetak tetap bisa bertahan di tengah era media digital. Oleh karena itu, konvergensi media akan berdampak besar pada media di Indonesia, yaitu dengan memadupadankan media cetak dan media digital.
Landasan Teori
Dalam tulisan lainnya, Suara Muhammadiyah juga mengutip pernyataan Din Syamsuddin yang menjadi stimulus bagi ummat. Suara Muhammadiyah kemudian menyikapi hal tersebut dengan mengutip pernyataan Pimpinan Muhammadiyah bahwa umat Islam sendiri merupakan salah satu komponen bangsa yang juga menjunjung tinggi keberagaman meskipun merupakan kelompok mayoritas dan kuat dalam menjalankan keyakinan/keyakinan agamanya. . Suara Muhammadiyah sebagai media tertua melalui media masa kini (berkembangnya majalah Suara Muhammadiyah menjadi digital) menjadi media alternatif dalam menyebarkan wacana keberagaman dan toleransi.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, peneliti dapat memberikan saran yang mungkin dapat bermanfaat bagi pondok pesantren mengenai akses teknologi dan informasi yang sudah berjalan baik di pondok pesantren ini. Pesantren hendaknya lebih aktif dalam upaya pengembangan diri santri dengan lebih banyak melibatkan santri dalam kompetisi teknologi informasi tingkat daerah dan nasional. Perlu dilakukan penelitian yang lebih mendalam mengenai efektivitas akses teknologi dan informasi di pesantren, untuk melengkapi penelitian yang sedang dilakukan peneliti.
Peran Media Komunitas dalam Mentransformasikan Budaya Islam
Media komunitas menjadi fokus utama media berbasis cyber untuk berkontribusi “menyelamatkan” keutuhan budaya Islam di Yogyakarta. Kajian transisi transformasi sejarah Islam terkini, peran media komunitas dalam transformasi budaya Islam di Yogyakarta menjadi hal yang menarik untuk diteliti. Seringkali masyarakat meninggalkan atau tidak mengetahui budaya Islam di Yogyakarta hanya karena menganggap sejarah Islam adalah sejarah kuno yang tidak perlu dilestarikan.
Kualitas pelayanan dan pelayanan terhadap pemangku kepentingan stasiun radio harus selalu menjadi pertimbangan utama manajemen. Selain itu juga berkaitan dengan unsur manusia yaitu pekerja radio itu sendiri dan pendengar radio yang memberikan kesan terhadap layanan yang diberikan oleh stasiun radio tersebut. Orisinalitas, keaslian (orisinalitas) suatu stasiun radio berkaitan dengan kreasi dan kualitas program yang dibuat oleh stasiun radio tersebut.
Metodologi
Hampir seluruh mahasiswa UMSU belum banyak mengetahui tentang program-program Islami di M-Radio karena kurangnya promosi. Mahasiswa UMSU mengetahui peran M Radio dalam menyebarkan Islam sudah optimal. Dengan pangsa pasar yang jelas sebanyak 24.000 mahasiswa UMSU, seharusnya M Radio bisa eksis di dunia penyiaran Islam.
Bandung Berkomunikasi di Media Massa
Teknik komunikasi media menjadi permasalahan dalam pelaksanaan dakwah dengan pendekatan komunikasi massa. Komunikasi persuasif dan teknik komunikasi di media massa menjadi permasalahan yang ingin diselesaikan oleh majelis tabligh muhammadiyah kota bandung. Dengan diadakannya pelatihan komunikasi massa dan komunikasi persuasif diharapkan dapat meningkatkan rasa percaya diri para dakwah Muhammad di kota Bandung untuk berani mencoba dakwah di media massa.
Qaulan Balighan (an-Nisa: 63), Qaulan Layyinann (Thaha: 44)
Perkataan Qaulan Layyinan terdapat dalam Al-Quran Surah Thaha ayat 44 seperti berikut. maka katakanlah kepadanya dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan dia ingat atau takut”. Kecekapan komunikasi tertumpu kepada kebolehan menyampaikan mesej komunikasi dengan kata-kata yang lembut. Bukan mudah untuk berkomunikasi dengan kata-kata yang lemah lembut terutama kepada orang yang fasik dan derhaka kepada Allah.
Penutup
Seorang komunikator yang berkomunikasi menggunakan kata-kata kasar akan terpengaruh oleh kata-kata lembut yang disampaikan oleh seorang komunikator. Biasanya kata-kata kasar dibalas dengan kata-kata kasar yang akan membuat suasana menjadi keruh, namun jika kata-kata kasar dibalas dengan kata-kata yang lembut maka akan tercipta kondisi dimana kata-kata kasar tidak dijawab, seperti menuangkan air ke dalam api. Inilah sebabnya Allah memberi kita petunjuk untuk berkomunikasi dengan kata-kata yang lemah lembut, terutama ketika berdakwah kepada orang yang durhaka kepada Allah.
Komunikasi dan Multikulturalisme
Budaya, Tradisi dan Kearifan Lokal