Hasil dan Pembahasan
5. Media Sosial Pemicu Anarkisme
Saran lain dari Kompas yakni dengan menghimbau masyarakat untuk menyerahkan sepenuhnya kepada proses hukum yang berjalan.
Hal ini disampaikan oleh Haidar Siregar selaku ketua FKUB Kota Tanjungbalai:
Ketua FKUB Kota Tanjungbalai Haidir Siregar meminta semua pimpinan umat beragama tak menyebarkan kebencian tetapi kesejukan dan persaudaraan. “Untuk peristiwa perusakan ini, biarlah proses hukum yang berjalan,” katanya (Kompas, 31 Juli 2016)
Berdasarkan kutipan diatas, Kompas menilai bahwa media sosial menjadi permasalahan utama yang memicu pembakaran rumah ibadah di Tanjungbalai.Kompas menjelaskan di awal bahwa pesan berantai di media sosial memprovokasi sejumlah warga. Hal ini didukung dari pernyataan Kapolri Tito Karnavian:
Kapolri menambahkan, peringatan untuk menghentikan ujaran kebencian melalui media sosial ini mengacu pada kerusuhan di Tanjungbalai yang terjadi setelah muncul isu provokatif di media sosial.
Akibat isu provokatif tersebut warga tersulut emosi dan membakar rumah ibadah.
Media sosial dalam kasus Tanjungbalai menjadi perhatian utama kepolisian untuk menghentikan ujaran kebencian yang beredar luas di media sosial yang memperkeruh keadaan di Tanjungbalai hingga mengakibatkan sejumah rumah ibadah terbakar. Konten provokatif yang bersinggungan baik ras, agama,suku dan golongan dengan mudah memancing emosi warga. Untuk itu kepolisisan akan mengerahkan segala upaya salah satunya dengan melacak oleh tim Cyber Crime. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Kapolri Tito Karnavian:
Adapun orang yang memicu isu negative yang disebarkan melalui media sosial akan dilacak tim Cyber Crime,” ungkap Tito.
Diagnose cause
Untuk diagnose cause, Kompas menduga penyebab terjadinya pembakaran karena adanya oknum yang berada dibalik konflik Tanjungbalai. Hal ini diungkapkan oleh Helmy selaku pengurus PBNU
Helmy juga meminta Polri mengusut otak dibalik kerusuhan di Tanjungbalai agar ada efek jera bagi pelaku.Intelejen diharapkan bisa memantau perkembangan dan siap mengantisipasi berbagai kemungkinan timbulnya kekerasan.
Adanya dugaan aktor intelekual memunculkan isu baru bahwa bisa jadi kerusuhan Tanjungbalai hanyalah bagian dari dari skenario orang-orang tertentu yang memiliki motif lain yang ingin mengambil keuntungan dari konflik yang terjadi. Oleh karena itu, Kompas meminta untuk mengusut siapa yang ada dibalik tindakan kekerasan tersebut.
Di samping itu, Kompas dalam pemberitaanya menyatakan bahwa warga Tanjungbalai dikenal sebagai kota yang sangat toleran terhadap
perbedaan. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Ketua Forum Kerukunan Antar Lembaga Adat Kota Tanjungbalai Arfin Marpaung:
Warga Tanjungbalai tidak pernah punya sikap anarkistis.
Tanjungbalai justru terkenal sebagai kota yang sangat toleran terhadap perbedaan,” kata Ketua Forum Kerukunan Antar Lembaga Adat Kota Tanjungbalai Arfin Marpaung
Dalam pernyataan yang dikutip Kompas menyatakan bahwa kota Tanjungbalai dikenal sangat toleran terhadap perbedaan dan warga Tanjungbalai tidak memiliki sikap anarkistis. Penyataan yang berbanding terbalik ini berbeda dengan fakta yang ada bahwa dalam kasus Tanjungbalai tersebut terdapat indikasi intoleransi yang berakhir kekerasan.Dengan demikian, terdapat dugaan baru yang dimunculkan Kompas bahwa pemicu dari tindakan kekerasan kemungkinan bisa berasal dari luar Tanjungbalai.
Make Moral Judgement
Penilaian moral yang disampaikan Kompas terhadap peristiwa Tanjungbalai bahwa kepolisian akan memproses hukum baik yang terlibat pengerusakan, penjarahan maupun provokasi di media sosial.
Eko menegaskan, polisi akan memproses hukum semua orag yang terlibat dalam perusakan, provokasi, dan penjarahan dalam peristiwa di Tanjungbalai. Polri telah megantongi nama-nama penyebar ujaran kebencian melalui media sosial di kasus itu.
Treatment Recommendation
Penyelesaian yang ditawarkan terkait dengan ujaran kebencian yang marak melalui media sosial sekaligus memicu adanya pembakaran di rumah ibadah yakni dengan menindak tegas penyebar provokasi.
Hal tersebut tercantum pada salah satu judul pemberitaan yakni “Polri Tindak Tegas Penyebar Provokasi” yang terbit pada 01 Agustus 2016, yang didukung dengan lead:
Kepolisian Negara republik Indonesia akan menindak tegas pihak yang menyebarkan isu negatif dan menyabarkan provokatif melalui media sosial. Hukuma berdasarkan Undang-Undang yang berlaku,baik kurungan maupun denda
Berdasrakan teks berita di atas, Kompas menegaskan supaya menindak tegas masyarakat yang menyebarkan provokasi.Karena hal
tersebut dapat mengancam persatuan bangsa, sehingga perlu di tindak sesuai dengan hukuman yang berlaku untuk memberikan efek jera sehingga kejadian tersebut tidak terulang kembali.
Penyelesian masalah yang disampaikan Kompas yang sepakat untuk meminta operator jasa layanan telekomunikasi yang ada di Indonesia bekerjasama memberikan informasi.
Polri, Lanjut Tito, akan meminta operator jasa layanan telekomunikasi yang ada di Indonesia bekerjasama memberikan informasi. Mereka juga diharapkan memiliki server di indonesia agar pelacakan pelaku ujaran kebencian di media sosial dapat mudah dilakukan.
Dengan penyelesian masalah terkait merebaknya ujaran kebencian melalui media sosial salah satunya meminta bantuan pihak lain dalam hal ini operator jasa layanan telekomunikasi untuk meminimalisir tindakan kejahatan di media sosial.
Simpulan
Mengangkat peristiwa konflik sebagai berita menjadi suatu hal yang lazim dalam kerja jurnalistik.Konflik merupakan realitas sosial yang mengandung nilai berita. Oleh karena itu, menyajikan konflik dengan konten sensasional juga membantu media dalam meningkatkan rating dan sirkulasi media itu sendiri(Zia & Syedah, 2015).
Pemberitaan konflik di Tanjungbalai menarik perhatian media Kompas yang terlihat dari pemberitaan yang dilakukan selama seminggu berturut- turut pasca konflik. Besarnya news valuedari konflik tersebut ditunjukkan Kompas dengan menempatkannya pada halaman headline serta masuk dalam rubrik politik dan hukum.
Berdasarkan hasil analisis diatas,dapat disimpulkan bahwaKompas membingkai kasus Tanjungbalai ke dalam tiga permasalahan utama.
Pertama, keberagaman menjadi pilar perkuat bangsa.Kedua, anarkisme umat Islam, dan ketiga media sosial pemicu anarkisme.
Kompas sebagai representasi media nasional yang cukup intensif dalam pemberitaan konflik Tanjungbalai memiliki kecenderungan sebagai conflict diminisher, yakni media menenggelamkan suatu isu atau konflik. Secara sengaja media meniadakan isu tersebut, terutamabila menyangkut kepentingan media bersangkutan, bisa
kepentingan ideologis atau pragmatis(Kamaruddin, 2016). Keadaan ini terlihat dari berbagai berita yang disajikan Kompas dengan menonjolkan keberagaman masyarakat Indonesia baik suku, agama, ras, dan golongan.Keberagaman tersebut seharusnya dijadikan asset nasional, dan bukan sebaliknya menjadi risiko atau beban termasuk menjadi pemicu adanya konflik sosial.
Dalam penelitian ini terdapat keterbatasan yakni hanya menerapkan satu media massa saja yakni Kompas. Oleh karena itu, bagi penelitian selanjutnya dapat menganalisis dengan menggunakan metode lain. Selain itu, dapat menggunakan lebih dari satu media baik lokal maupun nasional yang bertujuan untuk menemukan perbedaan konstruksi berita mengenai topik permasalahan yang sama.
Daftar Pustaka
Arvino, P. (n.d.). Analisis Framing Pemberitaan Konflik Front Pembela Islam vs Warga di Kendal, Jawa Tengah pada Portal Berita Antaranews.com Dan Republika Online.
Bratic, V., & Schirch, L. (2007). Why and When to Use the Media for Conflict Prevention and Peacebuilding, (December). Retrieved from https://www.sfcg.org/articles/media_for_conflict_prevention.pdf Entman, R. M. (1993). Framing : Toward Clarification of a Fractured
Paradigm, 43(4).
Eriyanto. (2002) Analisis Framing. Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media (Cetakan I). Yogyakarta: LKiS Yogyakara.
Hamad, I. (2004) Konstruksi Realitas Politik Dalam Media Massa.
Jakarta: Granit.
Herman, A., & Nurdiansa, J (2010). Analisis Framing Pemberitaan Konflik Israel - Palestina dalam Harian Kompas dan Radar Sulteng, Volume 8, , 154–169.
Irwansyah (2013). Potensi Keretakan Hubungan Sosial Muslim-Buddhis (Kasus Konflik Patung Buddha di Tanjungbalai Sumatera Utara).
Jurnal “Analisa,”20(2), 155–168. Retrieved from http://download.
portalgaruda.org/article.php?article=340825&val=7642&title
=The Potential Clash of Social Relationship between Muslim and Buddhist (Case Study on the Conflict of Buddha Statue in Tanjungbalai City, North Sumatra)
Jamil, A., & Doktoralina, C. M. (2016). The Save KPK Movement : A Framing Analysis of Coverage in Indonesian News Media Surrounding the KPK and Police Dispute. Mediterranean Journal of Social Sciences, 7(3), 229–237. http://doi.org/10.5901/
mjss.2016.v7n3s1p229
Kamaruddin (2016). Konstruksi Realitas Dalam Media Massa. Jurnal Jurnalisme, 1(1).
Kriyantono, R. (2010). Teknik Praktis Riset Komunikasi: Disertai Contoh Praktis Riset Media, Public Relation, Advertising, Komunikasi Organisasi, Komunikasi Pemasaran (Cetakan ke). Jakarta:
Kencana.
merdeka.com. (2016). Kronologi kerusuhan SARA di Tanjungbalai versi polisi. Retrieved from https://www.merdeka.com/peristiwa/
kronologi-kerusuhan-sara-di-tanjungbalai-versi-polisi.html Olayinka, A. P., Florence, T. T., Idowu, A. A., Ewoula, P. O., & Aderemi,
A. S. (2015). Impact of Mass Media in Conflict Resolution.
Internasional Journal Of Advanced Academic Research, 1(1), 1–22.
Retrieved from www.ijaar.org/articles/ijaar-sse-v1n1-o15-p11.
Rusli, M. (2013). Alternatif Solusi Konflik Agama Di Indonesia. Jurnal Farabi, 10(1), 119–130. Retrieved from http://www.journal.
iaingorontalo.ac.id/index.php/fa/article/view/439/329
Sobur, A. (2001). Analisis Teks Media. Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing (Cetakan I).
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sudibyo, A. (2001). Politik Media Dan Pertarungan Wacana. (C. I, Ed.).
Yogyakarta: LKiS Yogyakara.
Sugiyono (2013). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R & D.
Bandung: Alfabeta.
Sumartono (2004). Konflik Dalam Pemberitaan Media Massa. Jurnal Komunikologi, 1(1), 13–19. Retrieved from http://digilib.
esaunggul.ac.id/public/UEU-Journal-4569-Sumartono.pdf Suparto, D. (2013). Konflik Identitas Sosial Masyarakat Temanggung
(Kajian Kekerasan Sosial di Temanggung Tahun 2011).
POLITIKA, 4(1), 47–61. Retrieved from http://ejournal.undip.
ac.id/index.php/politika/article/viewFile/7778/6373
Suryawati, I. (2011). Jurnalistik Suatu Pengantar. Teori & Praktik (Cetakan I). Bogor: Ghalia Indonesia.
Syas, M. (2015). Konstruksi Realitas Pemberitaan tentang Konflik Indonesia-Malaysia di Surat Kabar Media Indonesia. Jurnal Ilmu Komunikasi, 13(2), 124–134. Retrieved from jurnal.upnyk.ac.id/
index.php/komunikasi/article/view/1453
Triyono, A. (2010). Citra partai politik dalam framing media.
KomuniTi, 1(1). Retrieved from https://publikasiilmiah.ums.
ac.id/handle/11617/1832
Yusof, S. H., Hassan, F., Hassan, M. S., & Osman, M. N. (2013). The Framing Of International Media On Islam And Terrorism.
European Scintific Journal, 9(8), 104–121. Retrieved from eujournal.org/index.php/esj/article/download/881/924
Zia, A., & Syedah, H. (2015). Use of print media for conflict esolution and peace building: a case study of kashmir dispute. NDU Journal, 161–180. Retrieved from www.ndu.edu.pk/issra/issra_pub/
articles/ndu-journal/NDU.../08-Print-Media.pdf