di Yogyakarta
Fajar Dwi Putra Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
Pendahuluan
Islam merupakan agama yang dianut oleh mayoritas penduduk di provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sensus BPS tahun 2010 menyebutkan lebih dari 92% atau sebanyak 3.179.129 dari 3.457.491 jiwa penduduk Jogyakarta memeluk agama Islam.Yogyakarta juga merupakan basis dan tempat didirikannya Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi reformis Islam yang besar dan berpengaruh di Indonesia. Dari pemaparan sedikit tentang sejarah awal masuknya Islam di Yogyakarta, maka tersimpan pula harta karun yang paling berharga yaitu budaya.
Budaya Islam yang terdapat di Yogyakarta merupakan sebuah peradaban tersendiri dari zaman sebelum masehi, mulai dari masuknya Islam melalui jalur perdagangan, sampai desas desus misionaris yang membawa agama Islam dari tanah Gujarat India. Transformasi budaya Islam yang ada di Yogyakarta membutuhkan dimensi dimensi dan jalur-jalur yang khusus untuk menembusnya. Sebab budaya yang ada saat ini sudah mulai terpinggirkan oleh masuknya budaya barat yang cenderung mendominasi dengan alasan globalisasi dunia.
Dengan alasan modernisasi seolah budaya Islam di Jogja dijadikan sebuah “tontonan” yang mengingatkan pada masa-masa kolonial Belanda. Pemahaman seperti ini perlu dikaji ulang untuk memberikan transfusi pengetahuan yang memadai, sehingga budaya Islam yang ada di Yogyakarta terselamatkan. Belum banyak cara yang dilakukan
warga Yogyakarta untuk mentransformasikan budaya Islam khususnya berupa peninggalan yang mengandung nilai sejarah, komunitas- komunitas yang ada di Yogyakarta hanya sebatas pengamat dan belum banyak yang terjun langsung ke lapangan melihat fakta yang ada.
Seperti kita ketahui, Yogyakarta sebagai miniaturnya Indonesia mengemban lebel yang berat, terlebih jika lebel itu mengandung budaya yang bernilai luhur bagi Bangsa Indonesia. Sejarah Islam di Yogyakarta terbilang kokoh namun rapuh untuk sosial dimensinya, setelah orang lain tau cukup sebatas itu saja untuk melihatnya, ketika sudah pulang ke rumah, itu akan menjadi cerita dongeng saja yang kadang sengaja dilupakan. Bahkan warga Yogyakarta pun yang sudah menetap puluhan tahun kadang tidak sadar bahwa kota yang telah membesarkannya mempunyai nilai budaya Islam yang luar biasa.
Media komunitas adalah sarana yang terpenting dari yang paling penting, mengingat saat ini zaman sudah digandrungi peranan internet.
Media komunitas menjadi tumpuan utama media yang berbasis cyber untuk turut andil “menyelamatkan” keutuhan budaya Islam yang ada di Yogyakarta. Bentuk dan sarana yang dibutuhkan dalam media komunitas ini adalah kelompok dengan jumlah minimal per kabupaten dan disebar ke seluruh kabupaten yang ada di Yogyakarta. Sebagai salah satu contoh, setiap orang Yogyakarta pasti mengetahui Malioboro, sebuah destinasi wisata jantungnya kota Yogyakarta, namun tidak banyak warga yang tau asal usul nama Malioboro. Dengan adanya media komunikasi berbasis cyber khsusus budaya Islam, maka budaya Islam akan menjadi terkini dan terselamatkan dari kepunahan.
Bentuk-bentuk budaya Islam yang perlu diselamatkan melalui pembentukan media komunitas adalah :
1. Tulisan
Peninggalan sejarah yang termasuk dalam kategori tulisan adalah sebagai berikut Prasasti. Prasasti adalah peninggalan sejarah yang berupa tulisan atau gambar pada batu. Sehingga prasasti disebut juga batu tulis. Prasasti berisi tentang suatu peristiwa penting yang dialami oleh suatu kerajaan atau seorang raja.
2. Bangunan
Candi merupakan bangunan yang terbuat dari batu yang kebanyakan digunakan untuk beribadah bagi pemeluk agama Hindu dan Budha.
Benteng adalah bangunan yang digunakan sebagai tempat pertahanan terhadap serangan musuh. Benteng merupakan peninggalan jaman penjajahan. Benteng dibangun oleh bangsa penjajah maupun oleh kerajaan-kerajaan di Nusantara. Sebagai contoh adalah benteng Keraton di Yogyakarta.
Masjid adalah tempat ibadah umat Islam. Masjid mulai dikenal pada saat ajaran Islam masuk ke Indonesia. Adanya Masjid-masjid peninggalan sejarah membuktikan pengaruh Islam sudah ada sejak dulu. Banyak warga Jogja yang tidak pernah tau dimana Masjid pertama kali di Jogja.
Istana atau Keraton adalah tempat tinggal raja. Pada zaman dahulu, wilayah Indonesia terdapat banyak kerajaan. Sehingga peninggalan Istana atau Keraton masih ada.
3. Fosil.
Fosil adalah bagian atau sisa mahkluk hidup yang sudah membatu.
Fosil merupakan sisa makhluk hidup yang mati berjuta-juta tahun yang lalu. Fosil dapat berupa tengkorak atau tulang belulang.
4. Artefak.
Artefak adalah perkakas atau peralatan yang digunakan oleh manusia zaman dahulu. Artefak dapat berupa alat-alat pertanian, peralatan makan dan memasak, senjata, serta perhiasan. Artepak ada yang terbuat dari batu, ada juga yang terbuat dari logam.
5. Karya Seni Lain
Yang dimaksud karya seni lain di sini adalah karya seni yang tidak bersifat kebendaan. Yakni karya seni yang hidup atau menjadi tradisi di masyarakat. Contohnya antara lain sebagai berikut, wayang, hadrah dan salawat Nabi, kasidah, suluk, makam raja dan seni kaligrafi.
Tinjauan Pustaka
Kajian tentang transit transformasi sejarah Islam terkini peran media komunitas dalam mentransformasikan budaya Islam di Yogyakarta merupakan hal yang menarik untuk ditelaah. Ada beberapa sebab yang mendasari penulis untuk mengambil judul tersebut. Yang pertama, minimnya pengetahuan tentang sejarah budaya Islam di Yogyakarta. Kedua, mengkhawatirkannya jika budaya Islam ini tidak
ditransformasikan dan yang ketiga, Indonesia sebagai salah satu negara dengan mayoritas penduduknya Islam, jadi akan sangat malu jika warganya tidak paham tentang sejarah Islam di kotanya sendiri.
Beberapa kajian, baik berupa buku, artikel, jurnal atau hasil penelitian lain akan membantu menyempurnakan peenelitian ini.
Diantaranya adalah : penelitian yang ditulis oleh Dian Aniurahmanindya dengan judul “Sejarah Islam Aceh cermin Nasionalisme Indonesia”
dalam penelitian ini dibeberkan pemahaman dan cara untuk menjadi warga negara Indonesia namun masih selalu menghargai nilai-nilai Islam yang terkandung disetiap budaya. Tentu saja yang dibahas adalah budaya Aceh yang merupakan gabungan dari suku Arab, Cina, Eropa dan Hindustan. Sehingga budaya Islam nya sangat kental.
Referensi pustaka yang kedua adalah penelitian atau karya ilmiah dengan judul “Komunikasi Kontemporer dalam Balutan Historikal Sejarah Islam Kasultanan Yogyakarta” karya Fredi Anggarman menjelaskan studi tentang bentuk komunikasi yang harus dilakukan untuk memperkokoh dua periode zaman yang berbeda, kalau penulis baca, penelitian ini lebih menitikberatkan pada bentuk penerapan komunikasi untuk melihat keefektifan metode dan pendekatan penelitian. Dari penelitian ini minimal penulis mempunyai pandangan tentang apa saja dan bagaimana dampak jika sejarah Islam tidak dilestarikan di Yogyakarta.
Dua sajian ilmiah diatas cukup memberikan penulis ide untuk memperkaya dan menyempurnakan penelitian yang berjudul Transit Transformasi Sejarah Islam Terkini Peran Media Komunitas Dalam Mentransformasikan Budaya Islam Di Yogyakarta.
Metode Penelitian
Pada dasarnya, penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif. Penulis menggunakan metode bercerita untuk menggambarkan kondisi dan situasi di lapangan dengan beberapa cara, diantaranya adalah. (1) Observasi, Observasi adalah pengamatan secara langsung dan pencatatan secara cermat serta sistematis terhadap fenomena-fenomena yang terjadi dilapangan. Pengumpulan data dengan menggunakan metode ini untuk melihat secara langsung kondisi dilapangan tentang apa yang terjadi dan akan ditemukan temuan baru dalam peneltian untuk menambah ketajaman data (2) Wawancara, Wawancara adalah bentuk
komunikasi verbal yang bertujuan untuk memperoleh informasi yang jelas dan diinginkan. Dalam wawancara ini, peneliti langsung melakukan wawancara kepada beberapa komunitas di Yogyakarta berkaitan dengan transformasi sejarah budaya Islam.
Hasil dan Pembahasan
Dari hasil observasi selama 2 hari, penulis menemukan data untuk mendukung penelitian ini, diantaranya adalah : Yang pertama, sulitnya mentransformasikan sejarah Islam di Yogyakarta dikarenakan minimnya pengetahuan tentang pentingnya mentransformasikan budaya Islam yang ada di Yogyakarta ke dalam ranah budaya saat ini. Kedua, kurang komunikasi kelompok antara warga yang diwakili oleh pemuda dengan pemerintah dalam hal ini adalah pemangku kepentingan. Ketiga, minimnya pengetahuan tentang manfaat adanya media komunitas dalam jangkauan pendek atau panjang untuk memberikan effek penting berkomunikasi dalam mewujudkan hasil yang maksimal.
1. Peran Media Sosial
Media Sosial adalah media yang saat ini digandrungi banyak orang. Biasanya isi dari media sosial adalah teknologi informasi sampai kepada hal-hal yang baru, namun dari pengamatan saya mendatangi berbagai komunitas dan pelaku sejarah, belum ada satupun media sosial yang mengkhususkan tentang budaya Islam di Yogyakarta. Dengan memanfaatkan dasyatnya media sosial ini akan semakin menajamkan pentingnya budaya Islam untuk ditransformasikan ke dalam bentuk- bentuk yang lebih modern.
Media sosial juga bisa dikontrol secara kolektif maupun individu yang memungkinkan untuk menyampaikan segala bentuk informasi yang terjadi di lapangan. Ini mengenai budaya Islam, sehingga langkah yang pertama harus dilakukan ialah mencari tau atau membuat budaya Islam yang terlihat “kusut” kemudian ditransformasikan ke dalam bentuk yang lebih modern sehingga bisa di terima oleh masyarakat Yogyakarta.
Salah satunya misalnya dengan mengadakan penggabungan antara musik modern dengan Suluk yang isinya tentang dikir.
2. Bentuk Transformasi
Bentuk pentranformasian budaya Islam agar menjadi budaya yang diminati adalah dengan cara menggabungkan bentuk lama dengan
bentuk baru sehingga memunculkan bentuk baru lagi atau yang disebut dengan akulturasi budaya. Orang sering meninggalkan atau tidak tau tentang budaya Islam yang ada di Yogyakarta hanya karena mengganggp sejarah Islam merupakan barang antik yang tidak perlu dilestarikan. Namun dibalik ketidaktahuan mereka itu mengancam sisi kehancuran bagi wisata Yogyakarta.
Media komunitas yang dibentuk bisa berupa sosial media, bisa juga kelompok peduli sejarah yang nantinya akan melaporkan setiap temuan yang ada di lapangan sehingga bisa ditindaklanjuti segera. Atau komunitas radio panggil yang ada di desa, dengan adanya komunitas radio panggil di pelosok desa maka akan memudahkan untuk menemukan temuan-temuan yang baru di setiap wilayah terpencil, sebab Yogyakarta terdiri dari begitu banyak desa yang didalamnya diyakini masih menyimpan sejarah Islam yang belum terungkap.
3. Bentuk dan Konsep
Komunitas dan penggiat sejarah budaya Islam masih sangat minim di Jogja, mereka kebanyakan melakukan atau membentuk komunitas yang sesuai dengan hobi dan profesinya, sehingga nasib budaya Islam yang ada di Jogja terbengkalai. Warisan ini harus di selamatkan dari gerusan budaya Barat yang semakin lama semakin menggerogoti budaya pibumi.
Konsep dan bentuk yang ditawarkan dalam penelitian ini adalah konsep baru, dalam hal bentuk dan nilai serta dimensi kepemilikannya, artinya kalau media komunitas yang biasanya dikelola oleh perseorangan, yang ini akan dijadikan sebagai rujukan, sehingga pemerintah akan menjadi
“produser” di dalamnya. Danais atau dana keistimewaan akan dijadikan sebagai sumber dana terbesar untuk membiayai komunitas ini. Tujuannya jelas untuk menyelamatkan sejarah dan peninggalan Islam dari kepunahan.
Sebagai sebuah contoh, Transit akan menjadikan landasan budaya Islam untuk “mempropaganda” masyarakat Jogja khususnya, dan wisatawan asing secara luas agar jauh lebih memahami budaya Islam yang ada di Jogjakarta.
Spanduk dan berbagai kalimat propaganda lainnya akan semakin sering menghiasi langit Jogjakarta dan media sosial serta komunitas di Jogjakarta.
Acara seperti “nguri-nguri” budaya Jogja yang berkaitan dengan Islam juga akan diadakan dan “Transit” dijadikan sebagai alat promosi untuk melenggangkan media komunitas ini.
Daftar Pustaka
Abdullah, P. D. (2015). Konstruksi danReproduksi Kebudayaan.
Yogyakarta, Pustaka Pelajar Dr. H. Anang Ridwan, M. (2016).
Komunikasi Antarbudaya. Bandung: CVPustaka Setia Endraswara, P. D. (2015). Etnologi Jawa. Jakarta: PT Buku Seru
Kebudayaan, D. (2015). Ilmu Kawruh Jiwa “SuryoMentaram, Riwayat dan Jalan Menuju Bahagia”. Yogyakarta: Dinas Kebudayaan . Lombard, D. (2008). Nusa Jawa : Silang Budaya Jilid 3. Jakarta, Gramedia
Pustaka.
Muhammad Alfan, M. (2013). Filsafat Kebudayaan. Bandung, CV Pustaka Setia.
Mulyana, D. D. (2011). Komunikasi Antarbudaya. Bandung : PT REMAJA ROSDAKARYA.
Nurudin (2008). Komunikasi Propaganda . Bandung, PT Remaja Rosdakarya
Rahyono, F. (2015). Kearifan Budaya Dalam Kata “Edisi Revisi”.
Yogyakarta, Wedatama Widya Sastra.
Soebachman, A. (2015). Hikayat Bumi Jawa. Yogyakarta, Syura Media Utama.
Sulaeman, D. M. (2012). Ilmu Budaya Dasar. Bandung, PT Refika Aditama.
Wirosardjono, S. (2007). Simbol Budaya dan Teladan Pemimpin.
Jakarta, PT. Kompas Media Nusantara.