bersikap sosial, kesehatan maupun pendidikan, semunya mengusung misi dakwah. Untuk mempertegas misi dakwah itu Muhammadiyah mendirikan suatu bagian/majelis yang khusus untuk mengerjakan kegiatan dakwah yakni majelis tablig. Majelis tablig adalah lembaga atau bagaian yang ada di dalam organisasi Muhammadiyah yang bertugas sebagai operator sekaligus regulator gerakan dakwah di Muhammadiyah.
Keberadaananya menjadi penting karena mercusuar suara Muhammadiyah dan pemikiran-pemikiran serta solusi praktis kegamaan dan keumatan ada di dalam tanggung jawab majelis tabligh.
Fungsinya menjadi sentral ketika Muhammadiyah dihadapkan pada tugas utama untuk memberikan risalah dakwahnya. Idealnya majelis tabligh memiliki peran ganda di Muhamamdiyah, yakni sebagai poros para mubaligh dan juga sebagai humas Muhamamdiyah dalam menyampaikan risalah dakwahnya.
Muhamamdiyah dikenal memiliki pemikiran-pemikiran yang solutif untuk bangsa ini. Penyataan sikap hingga fatwa resmi dari Muhammadiyah tak sedikit dibutuhkan oleh anggotanya. Bahkan bukan hanya anggota aktif Muhammadiyah yang memerlukan pencerahan tersebut, terkadang masyarakat luas pun ingin mengetahui pernyataan sikap, pemikiran smart dan solutif dari Muhammadiyah, hingga fatwa resmi. Sebagai contoh penetapan awal Ramadan dan Syawal, sikap Muhammadiyah tentang gerakan radikalis dan deradikalis, masyarakat luas sangat mengharapkan sikap resmi Muhammadiyah. Di sinilah peranan penting Muhammadiyah dalam menjalankan misi tablighnya, dan itulah ranah sentral yang seharusnya dapat dimaikan oleh majelis tabligh.
Bila dicermati secara mendalam kondisi tabligh di kalangan Muhammadiyah masih menggunakan pendekatan kovensional.
Kekuarangan dari rencana tabligh yang ada di Muhammadiyah yakni belum menyentuh aspek pada komunikasi massa. Padahal di era digitalisasi seperti sekarang ini komunikasi massa dengan melibatkan banyak aspek media komunikasi penting dilaksanakan. Bagaimana media berperan menguasai isu khalayak secara umum, dapat dilihat dari contoh kasus penistaan agama yang dilakukan oleh salah satu gubernur di Indonesia belum lama ini, menunjukkan lemahnya komunikasi dakwah yang ada di tataran umat muslim.
Media dengan serta merta menghakimi umat Islam melalui isu NKRI, Demokrasi, kebhinekaan, dan lain-lain. Padahal bila Muhammadiyah mampu memainkan perannya dalam melakukan komunikasi di media massa dengan baik, Muhammadiyah akan mampu menangkal isu yang dikeluarkan oleh media massa kenamaan di negeri ini. Inilah yang menjadi titik penting bagi pergerakan Muhamamdiyah agar mereka mampu menggerakan majelis tabligh menuju dakwah konvergen. Sehinga dari dakwah yang bersifat ceramah biasa, bisa diarahkan pada pembuatan isu-isu dakwah yang strategis di media massa. Kompetensi komunikasi massa inilah yang perlu ditingkatkan oleh Muhammadiyah melalaui majelis tablighnya.
Penelitian ini akan mengarahkan pada kompetensi mubaligh Muhammadiyah dalam penggunaan media sebagai alat dakwah. Hal ini penting untuk dipetakan mengingat di Abad kedua, seharusnya Muhammadiyah sudah mulai memainkan media massa sebagai alat untuk menyebarkan nilai-nilai kemakrufan. Sehingga pergerakan dakwah Muhammadiyah selain berada di grass root melalui pengajian- pengajian, akan bersinergi di era digitalisasi melalui penggunaan media massa sebagai alat untuk dakwahnya.
Oleh karena itulah kompetensi mubaligh – mubaligh Muhammadiyah akan penguasaan media massa ini menjadi penting.
Bahkan ke depan diharapkan Muhammadiyah mampu mewarnai corak dakwah yang ada di media massa. Sehingga penelitian ini lebih memfokuskan pada kompetensi para mubaligh Muhammadiyah dalam menggunakan media massa sebagai alat untuk dakwah. Lingkup penelitian ini yakni para mubaligh Muhammadiyah yang terhimpun di majlis tabligh Muhammadiyah Kota Bandung.
Tinjauan Pustaka
Mubaligh Sebagai Komunikator
Dalam proses dakwah mubaligh dikenal dengan istilah da`i, di mana ia berperan aktif dalam proses dakwah. Dalam perspektif ilmu komunikasi seorang mubaligh adalah komunikator. Pendapat ini tidaklah begitu berlebihan mengingat seorang komunikator berperan untk menyampaikan ide, gagasan dan kabar bagi khalayaknya.
Maka peran utama seorang mubaligh ialah mengomunikasikan gagasan, ide dan berita tentang agama. Komunkasi secara etimologi
berasal dari kata latin, communication, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama yang berarti sama makna Malik, 1993:144). Artinya peran komunikator yakni memberikan pemahaman pada komunikan akan makna yang hendak dipahami.
Komunikasi pun diartikan sebagai proses pertukaran informasi yang disampaikan tidak hanya secara lisan, tetapi juga dengan bahasa tubuh, gaya maupun penampilan diri ( Liliweri, 2009:3). Di antara ahli komunikasi ada yang menyebutkan bahwa komunikasi antar individu, dinilai paling efektif. Bagi yang setuju dengan pemahaman tersebut, mereka menyebutkan bahwa ketika komunikasi antar individu berlangsung, komunikator dapat melihat seketika taggapan komunikan, baik secara verbal, dalam bentuk gerak gerik sehingga kadang-kadang mengulagi penyampaian pesannya untuk meyakinkan bahwa komunikan mengerti apa yang disampaikan (Rousydiy, 1995:87).
Dakwah dan komunikasi sebagai aktifitas manusia, sama-sama tua, setua manusia itu sendiri. Komunikasi ada sejak kelahiran manusia, demikian juga dakwah sebagai kegiatan dan proses sudah ada sejak kelahirannya. Bahkan secara ektrim dapat dikatakan keduanya ada sejak ada dalam kandungan. Dakwah dan ilmu komunikkasi memang akan saling mendukung, dakwah dikembangkan dengan ilmu komunikasi dan ilmu komunikasi mengalami perluasan area melalui intensitas dakwah ( Anas, 2002:66-67).
Dakwah dan komunikasi merupakan aktifitas yang hampir sama, walaupun terdapat juga perbedaannya. Jika diperhatikan secara seksama dan mendalam, pengertian dakwah tidak jauh berbeda dengan komunikasi. Hanya yang dibedakan dengan komunikasi pada acara dan tujuan yang akan dicapai (Amin, 2009:145). Dalam hal ini, komunikasi dan sebagian dari ilmu komunikasi memiliki peran agar dengan proses dakwah yang melibatkan komunikasi tersebut, dapat terjadi penjabaran penerjemahan dan pelaksanaan ajaran Islam dalam kehidupan dan penghidupan manusia, termasuk didalamnya bidang politik, ekonomi, sosial dan kesenian (Anas, 2002:68).
Sebagai mahluk sosial tentunya tidak bisa lepas dari kegiatan berkomunikasi. Komunikasi sendiri merupakan suatu hubunga interaksi yang kita lakukan baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Hal tersebut kita lakukan guna mempertahankan kelangsungan
hidup, karena sebagai mahluk sosial kita tidak dapat berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain.
Seorang mubaligh adalah komunikator. Oleh karena itu kepiawan mubaligh dalam menyampakan pesan dakwahnya tergantung dari seberapa kuat ia mampu melakukan komunikasi dua arah aatara mubaligh dengan jamaahnya. Dari sini lah dapat dipahami bahwa peran utama seorang mubaligh ialah komunikator. Keberhasilaanya tergantung dari seberapa kuat pengaruh yang dapat ia tanamkan dari hasil komunkasi antara jamaah dengan mubalighnya.
Komunikasi Persuasif sebagai Metode Dakwah
Dakwah dalam tataran praktisnya tidak akan lepas dari proses komunikasi dua arah, antara mubaligh dengan jamaahnya. Keduanya ada keterkaitan. Bila dipandang lebih ekstrim lagi, dakwah ialah komunikasi yang khas dalam besaran lmu komunikasi. Maka kedepan dakwah akan menemukan polanya sendiri untuk merumuskan diri menjadi sebuah kajian baru dalam ilmu komunikasi, yakni komunikasi dakwah.
Dalam hal ini komunkaksi yang persuasif antara mubaligh dengan jamaahnya akan menentukan kualitas dakwah itu sendiri.
Metode secara etimologi berasal dari Bahasa Yunani yakni metodos artinya cara atau jalan. Jadi meode diarikan sebagai cara atau jalan untuk mencapai tujuan yang dimaksud ( Muhyidin, 2002:138).
Tanpa menggunkan metode yang tepat dalam melakukan dakwah, dapat dipastikan dakwah akan sulit untuk diwujudkan. Keberhasilan menggunakan metode dapat dikatan sebagai setengah keberhasilan dari proses dakwah itu sendiri.
Islam sebagai pesan dakwah tidak akan sampai kepada mad`u tanpa adanya metode. Dengan demikian metode merupakan sesuatu yang menghubungkan pesan anatara da’i dengan mad`u. Wujud sesuatu itu pada hakikatnya adalah gerak dari instrument yang ada dalam diri da’i berupa aktifitas, yaitu aktifitas lisan dan badan. Bagi yang pertama berupa simbol bahasa, dan kedua berupa perilaku. Al quran menyeutkan ahsanu qoula dan ahsanu amalan (Qs. 41:44). Aktivitas lisan dalam menyapaikan pesan bisa berupa ceramah,, diskusi, debat, dan dialog serta yang lain. Aktifitas lisan ini bisa juga berupa tulisan.
Aktifitas badan dalam menyampaikan pesan bisa berupa ta`awun
memberi materi, pengobatan, dan pemberdayaan manusia ( Sambas dalam Aef Kusnawan, 2004:52-53).
Komunikasi persuasif dipahami sebagai bentuk komunikasi yang menekankan pada pendekatan personal sorang mubaligh untuk mempengaruhi jamaahnya. Pendekatan personal ini penting dilakukan agar mendapat perhatian dan penerimaan bagi komunikannya.
Komunikan disini tentunnya jamaah dakwah itu sendiri. Hal yang paling urgen dalam komunikasi persuasif ini yakni menentukan perubahan sikap sebagai timbal balik dari proses komunikasi.
Pendekatan fungsional Kant menyebutkan bahwa sebuah pesan persuasif harus disesuaikan terkait dengan dasar motivasional suatu sikap. Tetapi beberapa riset menyebutkan bahwa pemakaian pendekatan persuasif yang tidak sesuai dengan sikap yang dipegang bisa saja efektif (Severin, 2014:199).
Menurut Larry A. Samover manusia tidak dapat menghindar dari komunikasi dalam interaksi sesamanya. Pada hakikatnya ketika manusia berkomunikasi pada dasarnya memindahklan pikiran dalam bentuk lambang. Agar lambang itu bermakna maka diperlukan penyampaian yang tepat ( Suparta, 2009:155). Maka dari itu penyampaian pesan dakwah harus dengan menggunakan bahasa persuasif.
Dakwah dengan pendekatan persuasif perlu dilakukan untuk menggugah naluri dan jiwa mad`u sebagai komunikan dari kegiatan dakwah tersebut. Dakwah persuasif dipahami sebagai proses mempengaruhi komunikan dengan pendekatan psikologis, sehingga mad`u mengikuti ajaran da`i tetapi merasa senang melakukan sesuatu atas kehendak sendiri ( Suparta, 2009:155). Sehingga dakwah yang sejatinya adalah sebuah tugas mulia, memang harus dikemas dengan bahasa yang santun dan mengena pada sasaran dakwah aitu sendiri.
Satu hal yanbg perlu diingat oleh seorang da`I (komunikator) bahwa nilai-nilai universalitas quran sebagai wahyu perlu disampaikan dengan strateghi yang tepat. Komunikasi persuatif sebagai metode dakwah memang perlu dilakukan untuk mencapaia tujuan dakwah yang dimaksud.
Seperti yang dikutif oleh Dulwahab (Jurnal Ilmu Dakwah, 2010:17) bahwa maraknya dakwah di media massa belum menunjukan keseriusan dakwah itu sendiri. Dakwah yang dilakukan di media massa
lebih banyak unsur entertain dari pada menyampaikan pesan-pesan quran yang seharusnya itru perlu disamapaikan. Para juru dakwah yang tampil di media massa belum benar-benar menggunkan strategi komuinikasi persuatif untuk menyampiakan pesan dakwah secara benar. Dakwah dilakukan hanya sebatas unruk memenuhi rating saja.
Pesan dakwah yang secara psikologis menyentuh hati mad`u adalah jika materi (pesan) yang disamapaikan itu benar dan tepat, baik dari segi Bahasa maupun logika mad`u, dan disampaikan oleh da`i yang memiliki kualitas pribadi yang integral yakni takwa. Ketakwaan bagi pribadi dai adalah adalah salah satu sifat da`i ( Suparta, 2009:158).
Oleh Karena itu pendekatan komunikasi persuasif perlu dilakukan dalam proses dakwah. Karena pada sejatinya dakwah itu adalah proses komunikasi itu sendiri. Bila kita melihat unsur-unsur yang ada dalam dakwah sangat relevan dengan unsur yang ada didalam komunikasi itu sendiri yakni:
a. Mubaligh/da`I adalah komunikator b. Mad`u/jamaah adalah komunikan c. Pesan dakwah adalah message d. Sarana dakwah adalah media
Oleh karena itu sangatlah penting menggunakan pendekatan komunikasi persuasif sebagai salah satu metode dakwah itu sendiri, terlebih lagi jika dakwah di media massa.
Media Massa Sebagai Sarana Dakwah
Konsep komunikasi massa disatu sisi mengandung pengertian bahwa suatu proses komunikasi di mana organisasi media memproduksi dan menyebarkan pesan pada khalayak pada sisi lain pesan tersebut merupakan proses dimana pesan tersebut dikonsumsi oleh audience (Rohim, 2009:160). Komunkasi massa memiliki proses yang berbeda dengan komunikasi tatap muka. Karena sifat komunikasi yang melibatkan banyak orang maka proses komunikasi sangat kompleks dan rumit.
Maka dari itu, komunikasi masa dapat diartikan dalam du acara yakni komunikasi oleh media dan kedua yakni komunikasi untuk massa. Namun tidak berarti komunikasi massa adalah komunikasii untuk semua orang. Media tetap memilih khalayak dan kahalayak
pun memilih media (River, 2005:18). Dalam hal ini, kita harus mampu membedakan mana massa dalam pengerian masyarakat umum dan massa dalam pengertian komunikasi massa (Nurrudin, 2014:4).
Massa dalam arti komunikasi massa adalah penerimaan pesan yag berkaiatan dengan media massa(Nurrudin, 2014:4). Maka dari itu dapat dipahami bahwa massa dalam hal ini yaki penerimaan kahalayak atas pesan-pesan yang disamapakan dalam media massa. Baik itu media massa cetak, elektronik, televsi maupun media massa convergen.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yakni metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis. Metode ini sengaja digunakan mengingat tujuan dan kegunaan dari penelitian ini yakni untuk mengetahui sejauh mana kompetensi mubaligh Muhamamdiyah dalam penggunaan media massa dalam penerapan dakwahnya. Sehigga luaran dari peelitian ini akan menjelaskan kondisi objektif dan real tentang penguasaan media dakwah dalam proses dakwahnya. Luaran penelitian menjelaskan secara analitik kompetensi mubaligh Muhammadiyah dalam peggunaan teknik dan metode komunikasai Massa.
Adapuan alat analisis dalam penelitian ini terbagi dalam beberapa diagram yakni
1. Display Data, dalam tahapan ini seluruh data yang menjai tujuan penelitian dirangkum dalam data verbatim
2. Koding Data, pada tahapan ini hanya data-data yang berkaiatan dengan tujuan penelitian yag akan di adopsi menjadi bahan dasar kaajian
3. Penafsiran data, pada tahapan ini data yang telah dikoding akan ditafsirkan, diinterpretasi, dan dimaknai sesuai dengan kondisi objektif yang ada. Sehingga hasil penelitian berupa observasi, wawancara, dan Book Report menjadi salah satu elemen penting dalam tahapan penafsiaran data.
4. Penarikan kesimpulan, pada tahapan terakhir ini lah data berupa hasil simpulan akan diterbitkan ke dalam laporan penelitian.
Pembahasan
Bila kita kaitkan dengan fenomena dakwah hari ini, keberadaan media masa tidak dapat lagi dielakkan. Dakwah pada situasi sekarang memang benar-benar telah berubah wujud dari media biasa menjadi media konvergen. Begitupun aktifitas dawah di kalangan warga Muhammadiyah.
Komunitas dakwah di Muhammadiyah kota Bandung sedang melakukan konvergensi dakwah dengan pendekatan komunikasi massa. Entah disadari atau tidak Muhammadiyah Kota Bandung sedang membangun komunikasi yang melibatkan banyak khalayak di luar pengajian yang dilaksanakan di mesjid-mesjid Muhamamdiyah.
Pada kuartal bulan Ramadhan kemarin, mereka mulai melakukan konvergensi dakwah dengan meranah salah satu saluran media massa yakni youtube. Dalam hal ini terjadi sebuh pergesera dari komunikasi publik menjadi komunikasi massa yang melibatkan banyak unsur media disana.
Jika Muhammadiyah Kota Bandung menggunakan media internet khususnya youtube sebagai saranan dakwah mereka, dalam hal ini penulis sepakat dengan pendapar Nurrudin (2015:5) bahwa definisi yang tidak menyebutkan internet sebagai media massa dapat dipastikan bahwa definisi tersebut dibuat sejak jaman dahulu ketika internet belum mewabah seperti sekarang ini. Maka sah saja jika kita memasukan internet sebagai bagian dari komunikasi massa.
Oleh karena itu, penggunaan internet khususnya youtube sebagai sarana dakwah adalah pilihan yang tepat bagi sttategi dakwah yang dilakukan oleh Muhammadiyah Kota Bandung. Dengan penggunan media massa sebagai sarana dakwah , jangkauan dakwah menjadi lebih luas lagi. Hal ini sejalan dengan pendapat Effendi yang menyatakan bahwa fungsi komunikasi massa yakni salah satunya sebagai fungsi informasi. Fungsi ini memberikan informasi bahwa media massa adalah penyebar informasi bagi pembaca,, pendengar ataupun pemirsa.
Khalayak sebagai pemirsa akan senantiasa haus akan informasi yang didapatkan (Ardianto, 2015:18).
Selain dari itu, komunikasi massa pun memiliki peranan untuk meyakinkan, menciptakan rasa kebersatuan, privatisasi dan hubungan para social (Devito, 2002:136). Rumusna-rumusan ini lah yang
akan dicoba dijawab oleh Muhammadiyah, jika mereka mampu memerankan komunikasi massa dengan baik maka tidak menutup kemungkinan akan ada pengaruh yang signifikan dari proses dakwah yang telah dilakukan oleh Muhammadiyah itu sendiri.
Sebagai organisasi yang besar dan kuat perlu diapresiasi keberanian Muhammadiyah Kota Bandung untuk melakukan konvergeni media dari media lokal menuju media konvergen. Salah satu salurannya yakni penggunaan media sosial youtube sebagai sarana komunikasi massa.
Dapat dikatakan bahwa pemilihan sarana youtube sebagai alat dakwah adalah salah satu terobosan baik yang dilakukan oleh Muhammadiyah Kota Bandung.
Mengingat betapa hebatnya tren media massa merubah tatanan kehidupan masyarakat dengan mudah dan cepat, tidak sedikit masyarakat yang tadinya tidak melek informasi sekarang menjadi melek akan informasi , bahkan begitu banjir di belantara media. Peluang seperti itu dakwah pun harus dapat dilakukan di berbagai media massa.
Namun para pembuat pesannya inilah yang harus berubah seiring dengan perkembangan teknologi komunikasi yang terus berkaselarasi memenuhi kebutuhan manusia ( Dulwahab, 2010:20).
Islam sejatinya adalah agama dakwah, yakni agama yang memeiliki peran untuk memberikan informasi pada umatnya. Informasi yang dimaksud ialah tentang kebaikan (amal makruf) dan perbuatan mencegah pada kemungkaran (nahyi mungkar). Seperti yang tertuang dalam Al Quran surat Saba (34) ayat 38 yang artiya dan tidaklah kamu mengutus engkau muhamad melainkan menjadi rasul untuk membawa kabar gembira dan peringatan-peringatan kepada selruh manusia akan tetapi kebanyakan unmat tidak mengetahui.
Dalam praksisnya dakwah itu bukan hanya sebatas kegiatan menyeru dan mengajak pada kebaikan saja. Tapi lebih dalam dari itu, kegiatan dakwah pada dasaranya yakni bertujuan untuk mengubah perilaku umat dari keburukan menuju kebaikan. Transformasi kesalehan inilah yang diharapkan dari dakwah yag dimaksud. Salah satu upaya yang dilakukan yakni menyampaikan pesan-pesan Quran dalam Bahasa yang difahami oleh umatnya.
Penggunaan strategi komunikasi yang tepat kiranya dapat mempermudah usaha dakwah ini menuju hasil yang diharapkan.
Seorang dai pun bukan hanya pandai beretorika di dalam berkomunikasi, melainkan ia pun harus pandai dalam memilih pesan- pesan dakwah yang akan disampaikan pada komunikan.
Persepsi Dakwah di Media Massa
Muhammadiyah adalah organisasi dakwah yang telah berkiprah cukup lama di Kota Bandung. Muhammadiyah berdiri di kota Bandung sekitar tahun 1936, tepatnya saya kurang tahu (H.Suryanto wawancara dengan ketua majls tabligh Muhammadiyah Kota Bandung pada tanggal 13 Juli 2017) . Dakwah bagi muhamamdiyah adalah suatu aktifitas yang menyatu dengan berdirinya organisasi ini.
Pada prinsipnya Muhammadiyah lahir dan bergerak karena ada dakwah di dalamnya. Tanpa ada dakwah yang menjadi ruh pergerakan muhammadiyah, organisasi ini bagai jasad tanpa ruh, akan terjadi kehampaan di ruang publik (H.Suryanto, wawacara tgl 13 Juli 2017).
Kegiatan dakwah di Muhammadiyah kota Bandung telah megalami perubahan dari masa ke masa. Dari era Orde Baru kegiatan dakwah Muhammadiyah Kota Bandung tak luput dari sorotan pemerintah.
Acap kali para mubaigh Muhammadiyah henda berdakwah di sana ada intel atau polisi yang mengawasi.
Tak sedikit beberapa agenda dakwah Muhammadiyah harus disesuaikan dengan misi pemerintah yang berkuasa pada saat itu. Akan tetapi pengawasan tersebut tidak meyurutkan semagat dakwah, justru semakin mempertebal keimanan untuk terus bergerak mendakwahkan agama Allah ini.
Perubahan terus berlangsung hingga pada zaman sekarang, Muhammadiyah tetap konsisten pada jalurnya sebagai organisasi dakwah yang senantiasa menyerukan kebaikan pada umatnya serta menyebarkan Islam damai. Karena teknologi terus berkembang, terutama penggunaan internet, hampir seluruh orang mengakses internet dengan cepat di telepon pintarnya masing-masing, maka hasil musyawarah Muhammadiyah kota Bandung memutuskan bahwa melalui majelis tablignya dakwah sekarang bukan hanya dilakukan secara konvensional di atas panggung atau di majelis taklim melainkan harus mulai memberanikan diri melakukan dakwah di media sosial khususnya youtube.
Usulan bahwa majlis tabligh harus berani mencoba membuat video shoot kegiatan dakwah ini muncul dari kalangan muda Muhammadiyah yaitu mereka yang aktif di organisasi otonom seperti IMM dan IPM, serta Pemuda Muhamamdiyah. Tujuannya adalah untuk mensyiarkan ke kahalayak yang lebih luas lagi, dakwah Islam perlu disebarluaskan melalui saluran media yang gampang diakses oleh mayarakat. Oleh karena itu diawal Ramadhan 1438 H majelis tabligh mulai membuat video-video dakwah yang diviralkan di youtube (Cepi Aunilah, wawancara).
Bila mengacu pada pendapat yang diutarakan oleh Nurudin (2015:15), apa yang telah dilakukan oleh Maejlis Tabligh Muhammadyah Kota Bandung, pada dasarnya ialah telah melakukan konvergensi betuk dakwah. Dari era konvensional menuju dakwah dalam bentuk digital yang disebarluaskan melalui saluran media massa. Memang dakwah ini disalurkan melalui internet bukan melalui media massa elektronik maupun cetak, tetapi ia telah melalakukan bentuk komunikasi massa dengan melibatkan banyak khalayak. Maka dari itu Muhammadiyah Kota Bandung pada dasarnya telah melakukan komunikasi massa dalam kegiatan dakwhanya. Konvergensi media dakwah inlah yang menjadi focus dakwah di kalangan aktifis dakwah Muhammadiyah Kota Bandung
Penggunan saluran media social sebagai sarana dakwah menjadikan dakwah di Muhammadiyah Kota Bandung memiliki warna baru. Jika pada tahun tahun sebelumnya dakwah itu senantiasa dilakanakan secara langsung face to face, saat sekarang Muhammadiyah mencoba warna baru dalam bentuk dakwahnya yakni melalui media social khususnya youtube.
Bila dilihat perkembangan dakwah Muhammadiyah Kota Bandung dari masa ke masa, kali ini terjadi pergeseran makna dakwah. Telah timbul kesadaran akan pentingnya saluran komunikasi massa untuk menyebarluaskan pesan-pesan dakwah, sehingga pesan dakwah yang disampaikan oleh mubaligh Muhammadiyah Kota Bandung bukan hanya dinikmati oleh jamaah masjid melainkan siapa pun dapat mengaakses pesan dakwah tersebut.
Satu hal yang perlu dipahami yakni pemilihan startegi dan setting dalam berkomunikasi massa melalui saluran internet menjadi PR bagi corp mubaligh Muhammadiyah Kota Bandung karena berkomunikasi tatap muka langsung dengan audiens itu berbeda dengan komunikasi di depan layar dengan teknik dan pendekatan komunikasi massa. Oleh karena itu kompetensi komunikasi massa para mubaligh perlu ditingkatkan lagi.