KOMUNIKASI RISIKO KESEHATAN
Djoko Rahardjo
Fakultas Bioteknologi UKDW Yogyakarta
KOMUNIKASI RISIKO
Komunikasi risiko adalah pertukaran informasi dan pendapat dua arah tentang bahaya dan manfaat dengan tujuan meningkatkan pemahaman risiko dan mempromosikan keputusan yang lebih baik tentang menejemen klinis
❑ Peluang terjadinya risiko
❑ Pentingnya kejadian terburuk dapat dijelaskan
❑ Efek dari kejadian terhadap masyarakat/pasien
Komunikasi Risiko harus mencakup :
Komunikasi Risiko dapat
didefinisikan sebagai "proses
interaktif pertukaran informasi dan
pendapat di antara individu,
kelompok, dan lembaga mengenai
risiko atau risiko potensial
terhadap kesehatan manusia atau
lingkungan
KOMUNIKASI RISIKO
Tujuan komunikasi risiko adalah untuk memungkinkan orang yang berisiko membuat keputusan yang tepat untuk mengurangi dampak ancaman
KOMUNIKASI RISIKO
2. Memecahkan masalah dengan cara yang paling dapat diterima ...Perluasan TPA dan Sanitari Landfill, Remidiasi pencemar toksik dll
3. Memberi informasi tentang risiko dan dampak kesehatan sehingga
masyarakat dapat mengambil
keputusan dan tindakan yang sesuai
5. Berusaha mengubah perilaku orang seperti berhenti merokok, pakai pelindung diri, dll.
TUJUAN
1. Menginformasikan atau
mendidik masyarakat tentang risiko
4. Membangun, memperkuat atau memperbaiki kepercayaan
6. Memberi tahu masyarakat tentang kebijakan dan rencana respons 7. Memberikan informasi dan instruksi
tepat waktu untuk mengurangi potensi cedera, penyakit, kerugian ekonomi, dan gangguan social
8. Mencegah stigmatisasi (lingkungan, orang)
9. Meningkatka kohesi sosial dan ketahanan
Tujuan komunikasi Risiko (Corvello, 1998) membuat masyarakat
memperoleh informasi sehingga :
Berkembang, Tertarik, Rasional,
Berorientasi solusi , dan Kolaborative
Lundgren and McMakin, 1998
Jenis Fungsional Komunikasi Risiko
• Informasikan kepada publik tentang risiko kesehatan seperti AIDS
• Menginformasikan pekerja
tentang risiko potensial di tempat kerja
• Berfokus pada risiko kesehatan dan keselamatan dan apa yang harus dilakukan
• Partisipasi pemangku kepentingan
• Partisipasi masyarakat
• Upaya persuasi
• Komunikator harus memahami dan dapat menguasai audien
• Metode pengiriman pesan menjadi sangat penting.
Craig Waddell, TCQ, 1995
TYPES OF RISK COMMUNICATION
7
TRUST FACTORS IN
LOW STRESS SITUATIONS
All other factors 15 - 20%
Competence
& Expertise 80 - 85%
SOURCE: Source: International Food Information Council (IFIC) Foundation, (2010).National Centre for Food Protection and Defense Risk Communicator Training Module 3 and Vincent Covello
8
All other factors 15-20%
Honesty &
Openness 15-20%
Competence
& Expertise 15-20%
Listening, Caring &
Empathy 50%
SOURCE: Source: International Food Information Council (IFIC) Foundation, (2010).National Centre for Food protection and Defense Risk Communicator Training Module 3 and Vincent Covello
TRUST FACTORS IN
HIGH STRESS SITUATIONS
STRATEGI
KOMUNIKASI RISIKO
Strategi komunikasi risiko adalah rencana untuk berbagi informasi tentang potensi risiko dengan para pemangku kepentingan, yang bertujuan untuk menumbuhkan pemahaman, mendorong pengambilan keputusan yang terinformasi, dan membangun kepercayaan
Strategi ini melibatkan pesan yang jelas dan konsisten, yang disesuaikan dengan audiens, dan umpan balik yang berkelanjutan.
Tujuannya adalah untuk memastikan
setiap orang memahami risiko, bagaimana risiko tersebut dapat terpengaruh, dan tindakan apa yang dapat mereka ambil.
Elemen dan pertimbangan utama dalam Komunikasi Risiko:
1. Memahami Audiens
2.
Menentukan Tujuan 3. Menyusun Pesan 4. Memilih Saluran Komunikasi
5. Menerapkan Strategi 6. Membangun Kepercayaan
#1: STAKEHOLDER SEMUANYA BERBICARA DENGAN “BAHASA” YANG BERBEDA
Government
Scientists/engineers and subject- matter experts
Environmental or worker-safety groups
Geographical neighbors
Community and civic organizations Educational organizations
Business and professional associations
• Teknisi berbicara bahasa teknis:
"Risiko meninggal akibat kanker adalah 10
• Regulator berbicara dalam bahasa standar:
"Situs ini dianggap aman untuk kesehatan manusia dan lingkungan."
• Masyarakat berbicara dalam bahasa yang menjadi perhatian pribadi / sosial:
"Apakah situs ini aman untuk anak-anak saya main ?"
PERMASALAHAN DALAM KOMUNIKASI RISIKO
JENIS STAKEHOLDER
#2: RISIKO BERSIFAT
SUBYEKTIF (KUALITATIF)
▪ Perkiraan risiko para ahli
"berdasarkan model teoritis, yang strukturnya subyektif dan sarat asumsi dan yang inputnya
bergantung pada penilaian."
▪ Penilaian risiko tergantung pada penilaian “pada setiap tahap
proses, mulai dari penataan awal masalah risiko hingga menentukan titik akhir atau konsekuensi mana yang akan dimasukkan dalam analisis.
Paul Slovic 1999 SETIAP ORANG (AHLI) DAPAT
MELAKUKAN KESALAHAN
• Analisis tergantung pada data yang terbatas
• Kecenderungan untuk
memaksakan membuat pola pada peristiwa acak
• Kecenderungan untuk menyesuaikan bukti yang ambigu ke dalam melakukan prediksi
• Terlalu percaya diri dalam keandalan analisis ilmiah
#3:RISIKO YANG MENAKUTKAN ORANG
BUKANLAH RISIKO YANG SAMA DENGAN YANG MEMBUNUH MEREKA.
Naik motor (controllable) VS
Naik pesawat terbang
Merokok (voluntary) VS
Menhirup radon
Ada dikotomi antara peringkat ahli dan masyarakat tentang risiko.
• Masyarakat sampai saat ini menempatkan limbah berbahaya sebagai ancaman # 1.
• para ahli menilai merokok dan diet sebagai # 1.
Orang lebih cenderung menerima risiko yang mereka
anggap dapat dikendalikan dan sukarela.
❑ Perbandingan risiko membantu orang memahami info kuantitatif, tetapi mereka dapat menyebabkan kebencian jika dilihat sebagai sesuatu yang menyarankan bahwa sesuatu harus menjadi "risiko yang dapat diterima.“
❑ Berhati-hatilah untuk tidak membandingkan apel dan jeruk:
- risiko sukarela vs tidak sukarela
- konsekuensi yang berbeda dari suatu bahaya
- risiko kuantitatif vs. kualitatif
❑ Bandingkan risiko dari bahaya yang sama di waktu yang berbeda atau risiko dari opsi yang berbeda untuk mencapai tujuan yang sama.
#4: RISIKO SULIT UNTUK DIBANDINGKAN
SECARA KESELURUHAN
HAMBATAN DALAM KOMUNIKASI RISIKO
Difficulty of handling uncertainty Failure to consider qualitative
factors Failure to elicit information on
social and cultural values Difficulty of communicating
quantitative info to public Disagreement about terms Many others . . .
Difficulty of understanding uncertainty
Difficulty of understanding complex information (physical, chemical, biological mechanisms)
Difficulty communicating social and other values
Little training in quantitative methods and information Disagreement about terms
Engineers and Scientists Non-technical Public
TAHAPAN DAN ATURAN
1. Setiap orang memiliki hak untuk bersuara dan
berpartisipasi dalam keputusan yang
mempengaruhi kehidupan mereka.
2. Merencanakan dan menyesuaikan strategi komunikasi risiko.
3. Mendengarkan audien 4. Jujur dan transparan 5. Berkoordinasi dan
berkolaborasi dengan sumber informasi yang kredibel dan suara tepercaya.
6. Rencanakan pengaruh media.
7. Berbicaralah dengan jelas dan penuh kasih sayang. (US EPA, Ovello and Allen)