• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGIC MARET 2021 FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI PROGRAM STUDI ADMINISTRASI PENDIDIKAN KOMUNIKASI ORGANISASI KELAS C MALANG 2021

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "STRATEGIC MARET 2021 FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI PROGRAM STUDI ADMINISTRASI PENDIDIKAN KOMUNIKASI ORGANISASI KELAS C MALANG 2021"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

STRATEGIC

COMMUNICATION

FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI

PROGRAM STUDI ADMINISTRASI PENDIDIKAN

KOMUNIKASI ORGANISASI KELAS C

MALANG

2021

ISSUE MANAGEMENT, RISK COMMUNICATION

AND CRISIS COMMMUNICATION

MARET 2021

“ C O M M U N I C A T I O N W O R K S F O R T H O S E W H O W O R K A T I T . ”

(2)

KELOMPOK 11

MUHAMMAD ADIP FANANI

195030900111029

SILMI KUMALA DEWI

195030900111030

PUTRI EKA NANDA

195030901111014

(3)

" L I S T E N W I T H C U R I O S I T Y . S P E A K W I T H

H O N E S T Y . A C T W I T H I N T E G R I T Y . T H E

G R E A T E S T P R O B L E M W I T H

C O M M U N I C A T I O N I S W E D O N ’ T L I S T E N

T O U N D E R S T A N D . W E L I S T E N T O R E P L Y .

W H E N W E L I S T E N W I T H C U R I O S I T Y , W E

D O N ’ T L I S T E N W I T H T H E I N T E N T T O

R E P L Y . W E L I S T E N F O R W H A T ’ S B E H I N D

T H E W O R D S . "

— R O Y T . B E N N E T

M O T T O :

(4)

1

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Strategic Communication : Issue Management, Risk

Communication, Crisis Communication” ini tepat pada waktunya.

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Komunikasi Organisasi. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang Komunikasi Strategi bagi para pembaca dan juga bagi penulis.

Kami mengucapkan terima kasih kepada bapak Dr.Drs. Muhammad Shobaruddin, MA., selaku dosen mata kuliah Komunikasi Organisasi yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang kami tekuni.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Kami menyadari, makalah yang kami tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan akan nantikan demi kesempurnaan makalah ini.

Malang, 8 Maret 2021

Penulis

(5)

2

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... 1

BAB I PENDAHULUAN ... 3

A. Arti Penting Tulisan ... 3

B. Tujuan ... 4 C. Metode ... 4 BAB II PEMBAHASAN ... 5 A. Manajemen Isu ... 5 B. Komunikasi Risiko ... 7 C. Komunikasi Krisis ... 8

D. Perbedaan Komunikasi Risiko dan Krisis ... 11

BAB III PENUTUP ... 13

Kesimpulan ... 13

Saran ... 13

(6)

3

BAB I PENDAHULUAN A. Arti Penting Tulisan

Komunikasi merupakan bagian terpenting dalam setiap kegiatan kehumasan untuk menjaga citra atau nama baik suatu organisasi di mata masyarakat. Komunikasi yang berjalan tidak baik antara masyarakat dengan organisasi akan membawa dampak buruk antara humas organisasi dengan masyarakat. Sehingga pada saat adanya permasalahan mengenai kebijakan yang ditentang oleh masyarakat dan humas tidak bisa menangani dengan cepat maka bisa berkembang menjadi suatu isu , risiko-risiko, dan krisis di masyarakat. Krisis merupakan suatu masa yang kritis berkaitan dengan suatu peristiwa yang kemungkinan pengaruhnya negatif terhadap organisasi. Karena itu, keputusan cepat dan tepat perlu dilakukan agar tidak memengaruhi keseluruhan operasional orgaisasi. Pengambilan keputusan pasti memerlukan pemrosesan informasi langgkah berani untuk meminimalkan akibat yang tidak diinginkan. Sebuah krisis cenderung menjadi sebuah situasi yang menghasilkan efek negatif yang memengaruhi organisasi dan publiknya, produknya, dan reputasinya . Krisis tidak dapat dihindari, tapi kemungkinan masih bisa dicegah. Untuk mengantisipasi dan menghindari dari dampak negatif dari krisis diperlukan manajemen krisis untuk mempersiapkan berbagai strategi dan taktik apa yang akan dilakukan untuk menangani suatu krisis tersebut. Jika yang berkembang dimasyarakat adalah sebuah isu maka juga diperlukanya strategi komunikasi yang perlu disiapkan agar isu tersebut tidak menyebar luas dan menjadi masalah sehingga berdampak buruk bagi organisasi maka diperlukan ialah manajemen isu.

Di dalam pengelolaan organisasi pendidikan seperti lembaga sekolah seorang administrator/pengelola pendidikan juga sangat memerlukan skill/keahlian dalam berkomunikasi dalam rangka mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien, hal tersebut dikarenakan komunikasi memiliki beberapa arti penting tersendiri bagi administrator pendidikan diantaranya sebagaiamana berikut (1) Komunikasi Menghubungkan Arus Informasi (2) Komunikasi Membantu Pengelola Pendidikan Mencapai Tujuan Sekolahnya (3) Membantu Menyelesaikan Masalah Akademik (4) Memuat Informasi Pendidikan Terbaru Dalam Sekolah (5) Menyusun Strategi Pembelajaran Bermutu (6) Memberikan Kebebasan Berekspresi (7) Menjembatani Hubungan Sekolah Dan Orang Tua Siswa (8) Menciptakan Iklim Edukatif Yang Baik.

Artikel ini akan memaparkan berkaitan dengan strategi-satrategi komunikasi untuk menyelesaikan isu, krisis dan masalah komunikasi di organisasi. Adapun strategi yang akan dibahas ialah manajemen isu, risiko komunikasi, dan komunikasi krisis. Strategi-strategi komunikasi ini bersifat sangat penting dan dapat menjadi alternatif pilihan ketika didalam organisasi muncul berbagai macam permasalahan seperti isu, krisis

(7)

4

bahkan dengan strategi yang akan dibahas pada artikel ini dapat mendeteksi risiko-risiko yang terjadi di dalam organisasi sehingga memudahkan dalam pengambilan keputusan

B. Tujuan

1. Untuk mengetahui tentang Manajemen Isu 2. Untuk mengetahui tentang Komunikasi Risiko 3. Untuk mengetahui tentang Komunikasi Krisis

4. Untuk mengetahui perbedaan tentang Komunikasi Krisis dengan komunikasi Risiko

C. Metode

Pada penelitian ini penelitian ini penulis menggunakan metode kepustakaan (library research), metode kepustakaaan adalah teknik pengumpulan data dengan melakukan penelaahan terhadap buku, literatur, catatan, serta berbagai laporan yang berkaitan dengan masalah yang ingin dipecahkan (Nazir: 1988). Sedangkan menurut Sarwono (2006) Penelitian kepustakaan adalah studi yang mempelajari berbagai buku referensi serta hasil penelitian sebelumnya yang sejenis yang berguna untuk mendapatkan landasan teori mengenai masalah yang akan diteliti.

Mirshad (2014) menjelaskan empat kegiatan pada penelitian kepustakaan adalah (1) Mencatat semua temuan mengenai “masalah penelitian” pada setiap pembahasan penelitian yang didapatkan dalam literatur-literatur dan sumber-sumber, dan atau penemuan terbaru mengenai “masalah penelitian tersebut; (2) Memadukan segala temuan, baik teori atau temuan baru; (3) Menganalisis segala temuan dari berbagai bacaan, berkaitan dengan kekurangan tiap sumber, kelebihan atau hubungan masing-masing tentang wacana yang dibahas di dalamnya; (4) Mengkritisi, memberikan gagasan kritis dalam hasil penelitian terhadap wacana-wacana sebelumnya dengan menghadirkan temuan baru dalam mengkolaborasikan pemikiranpemikiran yang berbeda terhadap“masalah penelitian”

(8)

5

BAB II PEMBAHASAN A. Manajemen Isu (Issue Management)

Isu merupakan situasi yang menunjukan dan menyajikan terkait hal-hal yang menjadi sebuah perhatian di dalam oerganisasi. Isu dapat didefinisikan sebagai tren, peristiwa, pengembangan atau masalah dalam perselisihan yang dapat mempengaruhi organisasi. Isu ada dalam lingkungan yang berubah dan seringkali merupakan hasil dari nilai-nilai yang bertentangan

Manajemen isu adalah masalah yang belum terselesaikan yang siap untuk diambil keputusan. Artinya manajemen isu dilakukan untuk mengambil keputusan berupa strategi aksi yang efektif untuk menjawab masalah tersebut, yang bukan hanya menghadirkan organisasi dari dampak negatif (kerusakan ekonomi dan reputasi) akibat masalah itu, tetapi partisipasi yang penuh makna (meaningful participation) juga memiliki arti menjadikan isu itu sebagai sarana mewujudkan kebijakan publik yang positif pada tujuan organisasi, termasuk tujuan tanggung jawab sosial. (Nova, 2011:248-250) Manajemen isu adalah alat yang digunakan oleh perusahaan untuk mengidentifikasi, menganalisa dan mengelola berbagai isu yang muncul dalam suatu masyarakat, serta bereaksi terhadap berbagai isu tersebut sebelum diketahui oleh masyarakat luas (Chase dalam Regester & Larkin, 2002, p.202).

.Menurut Kriyantono (2015, pp.181-189) manajemen isu dapat dibagi menjadi lima tahap, meliputi: Identifikasi Isu (issue identification); Analisis Isu (issue analysis); Strategi Perencanaan Aksi (action

planning strategy; Program Aksi Isu (issue action program) dan Evaluasi atau Proses Lingkaran yang

Berkelanjutan (evaluation atau continuing Circle Process)

1. Identifikasi Isu (Issue Identification)

Tahap ini dilakukan melalui riset mengenai penyebab isu yang muncul. Proses identifikasi isu dapat dilakukan dengan berbagai cara diantaranya ialah polling opini, FGD (Focus Group Discussion), monitoring berita, dan komunikasi blusukan (management by walking around) serta menjalin relasi di dunia maya.

2. Ananlisis Isu (Issue Analysis)

Pada tahap ini yang dilakukan ialah mencari permasalahan mengapa isu terjadi, serta penyebab dari isu tersebut. Pedoman penilaian dalam menganalisis isu antara lain logis atau kevalidan peristiwa, dorongan emosional, momentum isu, keterkaitan dengan isu lainnya, kekuatan koalisi dari pembela atau pendukung isu, kemampuan dari pendukung, kemampuan mobilisasi dalam membentuk opini publik, kepentingan media, tingkatan isolasi suatu isu, luas terpaan, potensi negatif dan positif, dan kemungkinan jumlah korban.

(9)

6

3. Strategi Perencanaan Aksi (Action Planning Strategy)

Tahap ini merupakan pelaksanaan kegiatan dalam penanganan isu dengan tiga bentuk strategi:

a. Strategi Perubahan Adaptif (Adaptive Change Strategy) merupakan strategi yang memiliki sifat terbuka dan menjadi sarana untuk melakukan perubahan serta menawarkan dialog konstruktif dalam mencapai kompromi.

b. Strategi Perubahan Reaktif (Reactive Change Strategy) ialah strategi yang memiliki sifat berdasarkan suatu organisasi yang tidak ingin melakukan perubahan dan bersikukuh menekankan perilaku sebelumnya.

c. Strategi Tanggapan Dinamis (Dynamic Response Strategy) merupakan kegiatan oranisasi atau perusahaan dalam melakukan perubahan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik didasari oleh keinginan publik.

4. Program Aksi Isu (Issue Action Program)

Tindakan dalam penanganan isu dalam merealisasikan program yang telah dirumuskan pada perumusan sebelumnya dengan tujuan untuk meminimalkan jeda yang diharapkan (expectation gap).

5. Evaluasi atau Proses Lingkaran yang Berkelanjutan (Evaluation Or Continuing Circle Process)

Setelah dilakukannya penanganan isu, evaluasi atau hasil dari program-program yang telah ada dapat dilakukan. Namun, dalam menangani isu tidak hanya sekedar scan lingkungan melainkan semua elemen organisasi terlibat dan metode tersebut karena merupakan suatu proses yang akan terus berlanjut dan berjalan (continuing circle process).

` Manajemen isu sebagai instrumen vital bagi masa depan organisasi berkaitan dengan strategi komunikasi yang digunakan. Organisasi dapat mengubah pandangan publik dan kebijakan pemangku kepentingan karena memberikan berbagai alasan yang masuk akal dalam menjustifikasi posisi yang mereka sarankan (Heath & Coombs, 2006, p.269). Dalam penerapan strategi komunikasi dalam penanganan suatu isu, cakupan liputan media dalam hal jumlah, konten, bahasa, serta penempatan halaman dalam suatu artikel akan berkorelasi dengan persepsi publik (Cockerill, 2002). Oleh karena itu, manajemen puncak harus menciptakan keunggulan kompetitif berkelanjutan bagiperusahaan dengan penyesuaian dan revisi strategi perusahaan secara tepat waktu. Perusahaan harus memperluas pengetahuan tentang alokasi perhatian dengan menunjukkan bagaimana struktur perhatianpada berbagai tingkat organisasi. Manajemen isu perlu menjadi bagian dari kebijakan manajemen strategis dalam peningkatan kinerja perusahaan karena kemampuannya memindai, mengidentifikasi dan memonitor isu yang muncul, serta menentukan pemangku kepentingan yang terlibat dalam isu tersebut. Data yang terkumpul dapat membantu penyusunan strategi

(10)

7

yang dikembangkan oleh perusahaan sehingga lebih tepat sasaran.

B. Komunikasi Risiko (Risk Communication)

Komunikasi risiko adalah pertukaran informasi dan pendapat interaktif selama proses analisis risiko mengenai risiko, faktor terkait risiko dan persepsi risiko, antara penilai risiko, manajer risiko, konsumen, industri, komunitas akademik dan pihak berkepentingan lainnya, termasuk penjelasan temuan penilaian risiko dan dasar keputusan manajemen risiko. Komunikasi risiko merupakan salah satu dari tiga komponen analisis risiko. Ini sekarang ditampilkan secara mencolok di sebagian besar model analisis risiko. Di sini ketiga tugas tersebut sama, dengan sedikit tumpang tindih tetapi integritas secara fungsional. Ada banyak alasan untuk mengkomunikasikan tentang risiko, termasuk tujuan mencapai pemahaman konsensus tentang besarnya risiko dan mengembangkan tanggapan manajemen risiko yang kredibel dan dapat diterima. Komunikasi risiko meningkatkan pemahaman tentang risiko dan pilihan manajemen risiko. Itu meningkatkan kepercayaan dan kepercayaan dalam proses pengambilan keputusan dan mempromosikan partisipasi dan keterlibatan pihak yang berkepentingan. Jika dilakukan dengan baik, dapat mempererat hubungan kerja antar pemangku kepentingan.

Komunikasi risiko dapat dibagi menjadi tugas internal dan eksternal. Komunikasi risiko internal terjadi dalam tim analisis risiko. Aspek komunikasi risiko ini bisa dibilang sedikit berbeda dari jenis komunikasi organisasi yang baik yang merupakan bagian dari filosofi manajemen organisasi yang efektif

1) Komunikasi Risko Internal

Komunikasi Risiko Internal diawali dengan Identifikasi masalah, di dalam identifikasi masalah hal-hal yang dilakukan meliputi Pengenalan masalah dengan melakukan interaksi sederhana, masalah penerimaan dilakukan tidak ada interaksi, mendefinisi masalah dengan menggunakan interaksi maksimal. Langkah kedua yaitu melakukan estimasi risiko, adapun hal-hal yang dilakukan ada tahap ini ialah menetapkan proses analisis risiko dengan interaksi minimal, mengembangkan profil risiko dengan interaksi maksimal, menetapkan tujuan manajemen risiko dengan interaksi yang moderat, menentukan perlunya penilaian risiko dilakukan dengan tidak ada interaksi, meminta informasi dengan interaksi sedang, memulai penilaian risiko dengan interaksi sedang, mengkoordinasikan pelaksanaan penilaian menggunakan interaksi sedang, mempertimbangkan hasil penilaian menggunakan interaksi maksimal. Langkah ketiga yaitu Evaluasi resiko, hal-hal yang dilakukan ialah membuat petanyaan Apakah risikonya dapat diterima, menetapkan tingkat risiko yang dapat ditoleransi mnggunakan interaksi sedang, membuat strategi manajemen risiko mengunakan interaksi maksimal. Langkah keempat yaitu melakukan pengendalian resiko, yaitu dengan melakukan hal-hal berikut ini : merumuskan opsi manajemen risiko (RMO),

(11)

8

mengevaluasi RMO, membandingkan RMO, membuat keputusan.mengidentifikasi hasil keputusan, menerapkan keputusan. Langkah kelima yaitu Pemantauan dengan melakukan monitoring, evaluasi, dan perubahan (change)

2) Komunikasi Risiko Eksternal

Tugas komunikasi eksternal umumnya menggambarkan bagaimana tim analisis risiko (manajer, penilai, dan komunikator) berinteraksi dengan berbagai publik dan pemangku kepentingan eksternal mereka. Interaksi ini dapat tumpang tindih dengan tugas internal, seperti halnya untuk mengidentifikasi masalah dan tujuan serta menyiapkan profil risiko dan daftar pertanyaan awal, ketika masukan eksternal mungkin penting. Sejauh mana hal ini dapat terjadi akan tergantung pada seberapa terlibat masyarakat dalam aktivitas manajemen risiko. Empat tugas besar telah diidentifikasi sebagai bagian dari proses komunikasi risiko eksternal . Ini adalah komunikasi risiko, komunikasi krisis, keterlibatan publik dan Resolusi konflik

C. Komunikasi Krisis (Crisis Communication)

Menurut G. Harisson (2005), aktivitas public relations dalam menyediakan pesan-pesan yang relavan dengan situasi krisis dan membuka saluran komunikasi terbuka, disebut komunikasi krisis (communication crisis) (Kriyantono,2015:202). Komunikasi merupakan sebuah hubungan yang berasal dari tanggapan atau interaksi yang terjadi kepada sebuah makhluk hidup dan makhluk hidup tersebut menanggapi hal tersebut dengan melakukan sesuatu atau tindakan, sehingga terjadi interaksi dan mengakibatkan terciptanya komunikasi. Krisis adalah sebuah situasi atau keadaan ketika individu atau kelompok disebutkan melakukan sebuah tindakan yang menyimpang dan tidak menyenangkan tanpa tahu kebenaran situasi sebenarnya. Dalam sebuah organisasi, krisis akan menyebabkan reputasi organisasi tersebut menjadi rusak dan untuk memperbaiki kerusakan tersebut dibutuhkan komunikasi. Pada teori atribusi menjelaskan tentang apa penyebab dan siapa yang dapat disalahkan jika terjadi krisis komunikasi di dalam sebuah organisasi. Presepsi-presepi yang akan muncul pada pendapat dan pandangan orang lain di luar organisasi tersebut akan menghasilkan pandangan dan reputasi yang buruk dan hal ini akan menyebabkan akibat negatif dari organisasi tersebut yang berkepanjangan. Contohnya adalah hilangnya kepercayaan, ketidakinginan untuk bekerja sama dengan organisasi itu lagi, sehingga menyebabkan kerugian organisasi tersebut. Hal ini harus segera dapat cara untuk mengatasi dan mencegah krisis komunikasi agar tidak ada pihak yang dirugikan.

Manajer krisis adalah pelaku utama yang memiliki tanggungjawab dan wewenang untuk membuat dan menentukan strategi krisis komunikasi. Strategi yang muncul oleh manajer krisis yaitu Teori

(12)

9

komunikasi krisis situasional (Situational crisis communication theory) yang disingkan dengan “SCCT”. Manajer krisis berpendapat bahwa SCCT dapat menjawab keresahan tentang ancaman dari situasi krisis dan dapat mempertahankan serta memperbaiki reputasi organisasi dan menghilangkan hal negatifnya. Di dalam SCCT juga dapat dimanfaatkan untuk mengetahui tentang jenis dan sejarah krisis serta reputasi yang ada sebelumnya. Jenis krisis digunakan untuk menampilkan bagaimana sebaiknya setiap individu membaca peristiwa dari krisis tersebut. Sejarah krisis dan reputasi memiliki fungsi untuk memfokuskan pada kejadian sebuah organisasi di masa lalu yang mengalami krisis atau tidak dan mengacu kepada penilaian baik dan buruk organisasi tersebut. Namun, terkadang sebuah manajer krisis lebih berfokus kepada improvisasi dan menciptakan hubungan yang berasal dari situasi. Hal ini harus dihindari oleh manajer krisis dalam keterlambatan organisasi dan praktik komunikasi organisasi. Terjadinya krisis komunikasi dalam memberikan pelatihan bukan hanya untuk mencegah dan mengatasi, namun juga untuk membiasakan diri dari kekacauan dan hal-hal yang tidak terduga yang akan terjadi dan menjadi kebiasaan yang dapat diambil hal positifnya.

Komunikasi menjadi salah satu penyelamat atau pencegahan krisis komunikasi. Kesadaran situasional merupakan kemampuan dalam melihat dan menganalisa akibat dari krisis dan menetapkan tindakan yang perlu dilakukan dalam mengatasinya. Informasi yang didapat oleh sebuah tim krisis harus diambil dan diolah sehingga menjadi pengetahuan. Dalam pengambilan keputusan, tim krisis didasarkan pada sikap yang berisiko, tekanan waktu, stres, dan ambiguitas. Teknologi atau internet yang berjalan pada informasi dan komunikasi dapat dimanfaatkan dengan baik untuk mengetahui tentang komunikasi krisis dan bagaimana sikap yang baik untuk meresponnya.

Konsep tahapan komunikasi krisis bertujuan untuk tidak mengambil keputusan yang salah, maka harus bisa memahami tahapan krisis, menerapkan model manajemen krisis dan komunikasi krisis.

Tahap Krisis Model Manajemen Krisis Model Komunikasi Krisis

Pra-Krisis Signal detection, prevention, preparation Membentuj pengetahuan tentang krisis (lebih bersifat internal), menyamakan persepsi di antara anggota.

Krisis Mengetahui peristiwa pemicu dan respons, damage containment

Mempengaruhi pandangan publik tentang krisis, organisasi dan segala upaya organisasi dalam mengatasi krisis.

Pasca-Krisis Recovery, learning, follow up informasi dengan publik, kerja sama untuk investigasi dan berupaya kembali normal

Memulihkan reputasi dan mengembalikan reputasi yang hilang akibat krisis.

(13)

10

Strategi manajemen krisis disebut dengan komunikasi krisis dimana public relations ataupun humas juga harus mementingkan / memprioritaskan keselamatan masyarakatnya(publik). Karena itu, berikut prinsip-prinsip dalam strategi komunikasi krisis. (Kriyantono,2015:246)

1. Punya Tim Komunikasi, Adanya tim komunikasi merupakan salah satu tindakan awal yang harus dipersiapkan dalam membangun manajemen krisis. Perencanaan dalam komunikasi krisis harus adanya koordinasi yang sejalan dan sesuai dengan pembagian kerja masing-masing

2. Kontak Media Massa, Segera kontak dengan media massa untuk memberikan informasi awal. Tujuannya mengurangi spekulasi khususnya di awal-awal krisis.

3. Fakta-fakta, Mengumpulkan fakta-fakta dan mempersiapkan penyataan kepada pubik. Tujuannya untuk mengurangi resiko muncul shock, kepanikan dan kehawatiran public;

4. Konferensi Pers Berkala, Tujuannya untuk update informasi sehingga tidak muncul kekurangan informasi serta mengonter berita-berita atau publisitas negative di media

5. Tidak Menutup Informasi, Terkait dengan meng-update informasi secara regular, organisasi jangan memilih-milih informasi, informasi positif disampaikan dan yang negative disembunyikan, meskipun negative, perlu di sampaikan dan jangan ditutup-tutupi

6. Hati-hati Menyampaikan Informasi, Jangan terburu-buru dalam memberikan informasi. Dalam situasi krisis, desakan media sangat besar. Namun demikian, jangan memberikan informasi sampai semua fakta atau setidaknya kita benar-benar mempunyai fakta yang valid

7. Komunikasi Reputasi, Melindungi perusahaaan dari kritik-kritik spekulasi, yang biasanya muncul dari diskursus public media massa. Bersifat dapat dipercaya, keterbukaan dan komunikasi berbasis keseimbangan kepentingan

8. Satu Suara, Memiliki sistem “one gate communication” melalui sebuah media center dengan satu orang juru bicara

9. Komunikasi Empati, Wujud dari rasa empati : jangan menyebut nama korban sebelum mengkonfirmasi/ mengontak anggota keluarganya. Hal ini juga untuk mencegah kesalahan identifikasi korban.

10. Banyak Saluran Komunikasi, Membuka saluran-saluran komunikasi dengan semua pihak yang terdampak oleh krisis. Sering kali terjadi kebersinggungan antara aspek komunikiasi dan hukum. Komunikasi krisis mesti menggunakan pendekatan kominikasi bukan pendekatan hukum, meskipun tetap

(14)

11

harus berkonsultasi tentang dampak hukum dari suatu peristiwa. Artinya, jangan sampai prinsip hukum mengebiri prinsip komunikasi untuk memberikan informasi kepada public

Pengelolaan komunikasi krisis dilakukan oleh manajemen krisis dan efektivitas tim dengan :

1. Interaksi awal. Anggota tim komunikasi krisis harus memiliki sence of crisis yang peka sehingga mampu mendeteksi sejak dini timbulnya krisis. Semakin cepat dideteksi, semakin tinggi pula tingkat keberhasilan

2. Komposisi Tim. Kinerja tim komunikasi krisis sanagt memepengaruhi pengelolaan krisis. Dengan komposisi personil yang kapabel dengan tugasnya, kerja sama tim akan berjalan efektif dan tujuan yang hendak dicapai dapat terwujud

3. Penguasaan Krisis. Semua anggota wajib mempelajari seluruh aspek krisis yang terkait dengan isntansi pemerintahnya sehingga dapat diambil putusan-putusan yang tepat

4. Kepemimpinan. Situasi krisis membutuhkan kepemimpinan yang kuat. Kepemimpinan membantu proses pengelolaan krisis berjalan seduai dengan koridor dan ketentuan yang telah ditetapkan.

5. Budaya Organisasi. Budaya organisasi yang positif mendorong percepatan penyelesaian krisis. Segala aktivitas pengelolaan krisis oleh tim komunikasi berjalan efektif dan hasilnya dapat terukur

D. Perbeedaan Komunikasi Risiko Dan Krisis

Bagian ini mencakup dua elemen pertama dari tugas komunikasi risiko eksternal. Diskusi dimulai dengan beberapa informasi latar belakang penting yang membahas dimensi dan persepsi risiko sebelum beralih ke pentingnya mengetahui dan melibatkan audiens seseorang. Nilai informasi psikografik dianggap sebagai petunjuk pertimbangan risiko, stres, dan model komunikasi. Tiga M komunikasi risiko kemudian dibahas. Komunikasi risiko dan krisis disandingkan untuk membedakan, dan kemudian diskusi beralih ke tantangan untuk menjelaskan risiko dan ketidakpastian kepada yang bukan ahli.

Apakah dua istilah tersebut memang memiliki arti dan/atau fungsi yang sama, atau sebenarnya memiliki perbedaan mendasar? Ada beberapa hal mendasar sebagai karakteristik pembeda antara keduanya, yaitu:

1) Konteks dan tujuan komunikasi risiko dan komunikasi krisis sangat berbeda.

Tujuan Komunikasi Risiko umumnya terkait dengan penyampaian informasi mengenai perkembangan risiko yang dilakukan secara rutin, berkala, dan jangka panjang. Sedangkan tujuan dari Komunikasi Krisis umumnya terkait dengan penyampaian informasi yang bersifat darurat(emergency) dan berisi komponen yang sangat dinamis, perlu ditangani sesegera mungkin.

(15)

12

2) Sifat dari kejadian yang dihadapi.

Komunikasi Risiko menangangi suatu kejadian atau kondisi yang diperkirakan dapat terjadi, sehingga masih bersifat potensi dan memiliki tingkat probabilitas tertentu. Sebaliknya, Komunikasi Krisis menangani hal yang saat ini sedang terjadi atau bersifat aktual dan mendesak.

3) Waktu yang tersedia untuk mencari solusi.

Solusi terkait dengan Komunikasi Krisis harus dilakukan sesegera mungkin karena waktu yang tersedia sangat sempit. Juga pengambil keputusan tidak akan sempat untuk menjalankan model pemecahan yang bersifat harus membangun konsensus terlebih dahulu, yang bersifat kolaboratif serta interaktif, terutama dengan komunitas yang terkena pengaruh krisis.

(16)

13

BAB III PENUTUP Kesimpulan

Manajemen isu adalah alat yang digunakan oleh perusahaan untuk mengidentifikasi, menganalisa dan mengelola berbagai isu yang muncul dalam suatu masyarakat, serta bereaksi terhadap berbagai isu tersebut sebelum diketahui oleh masyarakat luas. .Menurut Kriyantono (2015, pp.181-189) manajemen isu dapat dibagi menjadi lima tahap, meliputi: Identifikasi Isu (issue identification); Analisis Isu (issue

analysis); Strategi Perencanaan Aksi (action planning strategy; Program Aksi Isu (issue action program)

dan Evaluasi atau Proses Lingkaran yang Berkelanjutan (evaluation atau continuing Circle Process)

Komunikasi risiko adalah pertukaran informasi dan pendapat interaktif selama proses analisis risiko mengenai risiko, faktor terkait risiko dan persepsi risiko, antara penilai risiko, manajer risiko, konsumen, industri, komunitas akademik dan pihak berkepentingan lainnya, termasuk penjelasan temuan penilaian risiko dan dasar keputusan manajemen risiko. Komunikasi risiko merupakan salah satu dari tiga komponen analisis risiko. Ini sekarang ditampilkan secara mencolok di sebagian besar model analisis risiko. Komunikasi risiko dapat dibagi menjadi tugas internal dan eksternal. Komunikasi risiko internal terjadi dalam tim analisis risiko. Aspek komunikasi risiko ini bisa dibilang sedikit berbeda dari jenis komunikasi organisasi yang baik yang merupakan bagian dari filosofi manajemen organisasi yang efektif

Komunikasi merupakan sebuah hubungan yang berasal dari tanggapan atau interaksi yang terjadi kepada sebuah makhluk hidup dan makhluk hidup tersebut menanggapi hal tersebut dengan melakukan sesuatu atau tindakan, sehingga terjadi interaksi dan mengakibatkan terciptanya komunikasi. Krisis adalah sebuah situasi atau keadaan ketika individu atau kelompok disebutkan melakukan sebuah tindakan yang menyimpang dan tidak menyenangkan tanpa tahu kebenaran situasi sebenarnya. Dalam sebuah organisasi, krisis akan menyebabkan reputasi organisasi tersebut menjadi rusak dan untuk memperbaiki kerusakan tersebut dibutuhkan komunikasi.

Perbedaan mendasar antara Komunikasi Risiko Dan Komunikasi Krisis ada tiga hal yaitu (1) Konteks dan tujuan Komunikasi Risiko dan Komunikasi Krisis sangat berbeda, (2) sifat dari kejadian yang dihadapi. (3) Waktu yang tersedia untuk mencari solusi.

Saran

Penulis menyadari bahwa makalah “Strategic Communication” ini masih banyak kekuarangan dan jauh dari kesempurnaan. Untuk kedepannya penulis akan menjelaskan makalah secara lebih fokus dan detail dengan sumber yang lebih banyak dan dapat dipertanggungjawabkan. Kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sangat dibutuhkan penulis.

(17)

14

Daftar Pustaka

Cockerill, K. 2002. Context Is Key: The Media Role in Shaping Public fortunate Perceptions about

Environmental Issues. Journal of Environmental Practice 4(2): 107-113

Heath, R. L. and Coombs, W. T. 2006. Today’s Public Relations: An Introduction. California: Sage Publications.

Kriyantono, R. 2015. Public Relations, Issue & Crisis Management: Pendekatan Critical Public Relations,

Etnografi Kritis & Kualitatif. Jakarta: Prenadamedia Group

Mirshad, Z. 2014. Persamaan Model Pemikiran Al-Ghaza Dan Abraham Maslow Tentang Model Motivasi Konsumsi. Surabaya: Tesis. UIN Sunan Ampel Surabaya

Regester, M. and Larkin, J. (2002). Risk Issues and Crisis Management: A Case Book of Best Practice Third

Edition. London: Chartered Institute of Public Relations.

Referensi

Dokumen terkait

Mendiskusikan faktor fisis yang meliputi kebisingan, radiasi, getaran mekanis, iklim (cuaca) kerja, tekanan udara tinggi dan rendah, penerangan dan bau- bauan di

Adapun kaitannya dengan makna dari simbol pesan hidup sehat yang ada di dalamnya yaitu pelajaran tentang pentingnya menjaga kesehatan tubuh bagi diri sendiri dan

Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui bagaimana proses pembentukan identitas diri dan apa faktor pendorong terbentuknya identitas diri cowok penggemar

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat perbedaan prestasi belajar aspek pengetahuan siswa pada penggunaan media Peta Konsep dan Multimedia Interaktif

Faktor-faktor psikologis yang terdiri dari faktor sikap, faktor pembelajaran, faktor persepsi, faktor keyakinan, faktor motivasi, dan faktor kebutuhan komunikasi baik

100’ Mahasiswa mendiskusikan mengenai, hakikat, fungsi, tujuan, dan manfaat menyimak kritis; dan pengidentifikasian proses dan tahapan dalam menyimak kritis, melalui

Keempat faktor tersebut merupakan faktor pengembangan dari motivasi intrinsik dan ekstrinsik yang telah dilakukan pengolahan data dengan analisis faktor; (2) faktor yang

Intensitas konflik politik R2 Ceramah, diskusi Melihat contoh kasus di link youtube sesuai dengan arahan pengampu TM : 3x 50’ PT: 3x60’ BM: 3x 60’ Mendengarkan dan diskusi terkait