PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Insomnia pada lansia dipengaruhi oleh berbagai faktor perancu yaitu: jenis kelamin, kognitif, depresi, kecemasan, perhatian, risiko terjatuh. Hal ini dapat dicegah dengan intervensi olahraga lansia yang mungkin dapat memberikan efek menurunkan insomnia pada lansia berusia ≥60 tahun ke atas.
Tujuan Penelitian
Di Desa Barengkok, Kecamatan Lewisiliang, Kabupaten Bogor, belum ada data atau informasi mengenai insomnia pada lansia di atas 60 tahun ke atas tanpa diagnosis. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan di Desa Barengkok, Kecamatan Lewisiliang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. . 60 tahun dengan melakukan intervensi olahraga pada lansia yang akan diuji dengan pertanyaan “Apakah terdapat perubahan keadaan insomnia pada lansia setelah 5 minggu dilakukan intervensi olahraga pada lansia tanpa diagnosis dengan 10 intervensi menggunakan Pittsburg Insomnia Kuesioner Skala Penilaian di Desa Barengkok Kecamatan Lewiliang Kabupaten Bogor Jawa Barat Tahun 2017?”.
Manfaat penelitian
Hipotesis penelitian: Terdapat perubahan kondisi insomnia dengan intervensi senam lansia pada lansia di desa Barengkok tahun 2017. Dengan demikian peneliti berhipotesis bahwa intervensi senam lansia berpengaruh terhadap penurunan skor insomnia pada lansia.
KAJIAN PUSTAKA
Insomnia
Fakultas Fisioterapi Universitas Binawan yang dilakukan oleh Townsend-Roccichelli, Sandford, VandeWaa, 2010, insomnia merupakan gangguan tidur nomor satu pada lansia. Fakultas Fisioterapi Universitas Binawan berkontribusi terhadap tingginya prevalensi insomnia pada lansia.
Senam Lansia
Senam Fakultas Fisioterapi Universitas Binawan merupakan suatu kegiatan jasmani yang dilakukan baik sebagai olahraga tersendiri maupun sebagai latihan olahraga lainnya. Secara umum latihan fisik berperan penting dalam pencegahan penyakit pada anak-anak, dewasa, dan lanjut usia. Variasi yang besar dalam berbagai penelitian pada lansia menunjukkan hasil dengan efek positif terhadap kepadatan tulang, osteoartritis, kualitas tidur, nyeri pinggang. , risiko terjatuh, gangguan tidur, resistensi insulin atau glukosa masih dalam batas normal, lemak darah, komposisi tubuh dan lemak perut. Fakultas Fisioterapi Universitas Binawan mempunyai perbedaan yang besar dalam komponen latihannya, misalnya intervensi latihan yang menunjukkan kekuatan otot biasanya menggunakan tekanan mekanis yang intens dengan tingkat intensitas dan/atau ketegangan yang tinggi tetapi jumlah dan durasi pengulangan yang rendah hingga sedang.
Oleh karena itu untuk mencegah atau memperbaiki permasalahan yang ada pada lansia sesuai dengan prinsip diatas dapat dilakukan intervensi dalam 3 bentuk yaitu aktivitas fisik, aktivitas mental dan pengetahuan lokal. Fakultas Fisioterapi Universitas Binawan Dalam sebuah penelitian, satu temuan dikaitkan dengan karakteristik program untuk mendukung gagasan bahwa olahraga intensitas rendah bermanfaat untuk mengurangi gejala sisa terkait usia pada populasi penelitian (Benavent-Caballer et al, 2014). Manfaat fleksibilitas pada lansia akan berdampak pada peningkatan daya pompa otot pernafasan dan peningkatan kekuatan otot penyangga struktur tubuh pada lansia.
Latihan dan peregangan membantu menurunkan kelenturan otot pernafasan pada lansia yang mendengkur pada malam hari sehingga menyebabkan kualitas tidur menjadi buruk (Kaur, Sharma, 2011). Fakultas Fisioterapi Universitas Binawan seiring berjalannya waktu sebagai respons terhadap kebutuhan yang lebih rendah, dan hal ini akan terjadi pada lansia dengan aktivitas fisik yang rendah dan jika tidak menjaga kapasitas paru-paru maka pada akhirnya akan mencapai tingkat dimana kapasitas penuh kita normal untuk bernapas bahkan bernapas normal. terpaksa dan sulit.
Pengaruh Senam Lansia Terhadap Insomnia
Terdapat perubahan status insomnia pada lansia setelah diberikan intervensi senam pada lansia di Desa Barengkok Kecamatan Leuwiliang Kabupaten Bogor Jawa Barat pada tahun 2017. Penelitian ini merupakan analisis lebih lanjut mengenai “Pengaruh Pemberian Intervensi Senam”. untuk lansia dan Terapi komplementer untuk kesehatan fisik dan mental pada lansia” pada kelompok intervensi senam lansia. Meneliti dan menganalisis perubahan skor PIRS sebelum dan sesudah pemberian intervensi senam pada lansia di Desa Barengkok Kecamatan Lewiliang Kabupaten Bogor Tahun 2017.
Analisis ini bertujuan untuk mengetahui perubahan keadaan insomnia sebelum dan sesudah intervensi olahraga pada lansia. Sehingga persetujuan etik penelitian ini diberi judul “Kondisi Insomnia Pada Lansia Setelah Intervensi Senam Lansia Di Desa Barengkok Kecamatan Leuwiliang Kabupaten Bogor Jawa Barat Tahun 2017 (Analisis Lebih Lanjut)”. Berdasarkan hasil penelitian di Desa Barengkok dapat disimpulkan sebagai berikut: terdapat perubahan keadaan insomnia sebelum dan sesudah intervensi fisik pada lansia.
Pengaruh intervensi senam lansia terhadap tingkat kecemasan di Desa Barengkok Kecamatan Lewiliang Kabupaten Bogor Jawa Barat 2017. Senam lansia dan terapi komplementer terhadap kesehatan fisik dan mental lansia di Desa Puraseda Kecamatan Leuwiliang.
KERANGKA KONSEP. DEFINISI OPERASIONAL, HIPOTESA
Definisi Operasional
Senam lansia merupakan rangkaian gerakan tonal yang teratur, terarah dan terencana yang diikuti oleh lansia dan dilakukan dengan tujuan. Latihan lansia dilakukan dengan dosis sebagai berikut: intensitas 60-70% DNM (denyut jantung maksimal) dengan durasi 30-45 menit dalam sesi latihan dua kali seminggu selama 5 minggu.
Hipotesa Penelitian
Desain Penelitian
Praktek Lama dengan kode 1 pada blok B ciri-ciri individu (Responden) dengan rincian pada point “C”. Apabila pada variabel insomnia pada intervensi senam lansia didapatkan data normal dan normal (sebelum dan sesudah), maka uji yang digunakan adalah uji t berpasangan. Apabila pada variabel insomnia pada intervensi olahraga lansia ditemukan data yang tidak normal dan tidak normal (sebelum dan sesudahnya), maka uji yang digunakan adalah uji Wilcoxon.
Dalam penelitian ini dilakukan wawancara dan intervensi karena penelitian ini merupakan bagian dari penelitian utama “Pengaruh intervensi senam lansia dan terapi komplementer terhadap kesehatan fisik dan mental pada lansia di Desa Puraseda dan Barengkok Kecamatan Leuwiliang Kabupaten Bogor”. Dari tabel tabel diatas terlihat 16 subjek mengalami insomnia sebelum melakukan senam lansia (94,1%). Dari grafik diatas juga terlihat bahwa untuk hasil komponen PIRS yang pertama yaitu distress terdapat 4 orang subjek yang distressnya sangat terganggu sebelum melakukan senam lansia yaitu sebanyak 4 orang (23,5%).
Dari grafik diatas juga terlihat bahwa untuk hasil komponen PIRS yang kedua yaitu parameter tidur, subjek yang parameter tidurnya terganggu sebelum melakukan senam lansia sebanyak 11 orang (23,5%). Dari grafik diatas juga terlihat bahwa untuk hasil komponen PIRS yang ketiga yaitu kualitas hidup terdapat 12 subjek yang kualitas hidupnya rendah sebelum melakukan senam lansia yaitu sebanyak 12 orang (70,6%) . Dengan hal tersebut peneliti juga menerima bahwa intervensi olahraga lansia dapat memberikan efek penurunan skor insomnia pada lansia, berdasarkan bukti ilmiah yang ditemukan, dimana olahraga lansia juga terbukti mempengaruhi kecemasan pada lansia.
Sebelum dilakukan intervensi rerata skor insomnia lansia sebesar 1152,41 dan setelah diberikan intervensi olahraga lansia rerata skor insomnia lansia menurun menjadi 984,43. Hasil pengukuran skor insomnia berdasarkan hasil uji T berpasangan menunjukkan terdapat pengaruh intervensi senam lansia terhadap skor insomnia dan terdapat perubahan skor insomnia namun tidak signifikan secara statistik. Selamat pagi bapak/ibu, sehubungan dengan dilaksanakannya penelitian yang berjudul Senam Lansia dan Terapi Komplementer untuk Kesehatan Jasmani dan Jiwa Lansia di Desa Puraseda Kecamatan Leuwiliang Kab.
Sumber Data (Data Induk)
Analisis Lanjut
Mendeskripsikan skor PIRS sebelum terapi senam lansia di Desa Barengkok Kecamatan Lewiliang Kabupaten Bogor tahun 2017. Mendeskripsikan skor PIRS setelah terapi senam lansia di Desa Barengkok Kecamatan Lewiliang Kabupaten Bogor tahun 2017. Sampelnya adalah populasi yang memenuhi kriteria inklusi, dimana jumlah sampel sasaran diperoleh dengan rumus sebagai berikut: a.
Dari hasil perhitungan sampel di atas didapatkan jumlah sampel minimal untuk insomnia hanya 4 subjek, namun data yang ada pada proposal utama kelompok senam lansia dengan jumlah sampel sebanyak 20 subjek, sehingga rumus datanya akan dilakukan analisa lebih lanjut. Analisis ini bertujuan untuk melihat sebaran variabel insomnia berdasarkan variabel-variabel yang akan disajikan dalam tabel yang berisi nilai mean ± standar deviasi, minimum, maksimum dan CI 95%. Uji normalitas bertujuan untuk memilih jenis uji statistik yang digunakan (parametrik atau non parametrik) terhadap data.
Etika Penelitian
Fakultas Fisioterapi Universitas Binawan, nilai kualitatif dan kuantitatif penurunan skor kognitif dapat menurunkan skor insomnia pada lansia. Fakultas Fisioterapi Universitas Binawan Fragoso, C. Keluhan tidur pada lansia yang tinggal di komunitas: sindrom geriatri multifaktorial,".
HASIL PENELITIAN
Deskrisi Subjek Penelitian
Analisis Hasil Intervensi Senam Lansia
Fakultas Fisioterapi Universitas Binawan Komponen insomnia yang pertama yaitu gelisah dapat dikategorikan menjadi tidak gelisah dan sangat gelisah. Intervensi Fakultas Fisioterapi Universitas Binawan sebesar 1152,41 dan rerata skor insomnia setelah intervensi sebesar 984,43 dengan p value = 0,54. Fakultas Fisioterapi Universitas Binawan (http://www.pusdatin.kemkes.go.id/folder/view/01/structure-publikasi-pusdatin-info-datin.html).
PEMBAHASAN
Analisis Perbedaan Hasil Intervensi Senam Lansia Terhadap Skor Insomnia
Hasil analisis intervensi olah raga sebelum dan sesudah lansia terhadap skor insomnia lansia selama 5 minggu menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh intervensi olah raga pada lansia, walaupun berdasarkan distribusi frekuensi (Tabel 5.5) terdapat pengaruh intervensi olah raga pada lansia. Terdapat perubahan sebelum dan sesudah, namun berdasarkan komponen PIRS sendiri tidak terdapat pengaruh olahraga yang dilakukan lansia terhadap komponen PIRS (Tabel 5.5). Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh NASA, dkk., 2014 yang menemukan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara olahraga dengan insomnia pada lansia (p=0,000). Merujuk pada frekuensi latihan olah raga, ditemukan pula hubungan yang signifikan antara latihan olah raga dengan insomnia pada lansia (p=0,040).
Asumsi peneliti didukung oleh penelitian Walsh, 2004; Roth, Roehrs, 2003 yang menyatakan bahwa kecemasan merupakan salah satu penyebab terjadinya insomnia pada lansia. Berdasarkan asumsi peneliti dapat disimpulkan bahwa penurunan skor kecemasan berkorelasi dengan penurunan insomnia pada lansia. Dilihat dari nilai kualitatif dan kuantitatif, penurunan skor kecemasan dapat menurunkan skor insomnia pada lansia.
Dengan hal tersebut peneliti juga menerima bahwa intervensi senam lansia dapat memberikan efek terhadap penurunan skor kognisi pada lansia, berdasarkan bukti ilmiah yang ditemukan, dimana senam lansia juga terbukti mempengaruhi skor kognitif pada lansia. Berdasarkan asumsi peneliti dapat disimpulkan bahwa penurunan skor kognitif berkorelasi dengan penurunan insomnia pada lansia.
Keterbatasan Penelitian
Dalam penelitian ini kami melibatkan 80 laki-laki/ibu yang akan berpartisipasi dalam penelitian ini dan kami mengelompokkan mereka menjadi 4 kelompok yang masing-masing kelompok berjumlah 20 orang. Riwayat merokok pasif yang meliputi dimana, oleh siapa dan berapa lama Anda terpapar asap rokok. Keadaan ketidakmampuan ayah/ibu dalam melakukan aktivitas sehari-hari dalam 1 bulan terakhir baik karena gangguan kesehatan maupun fisik.
Masalah kesehatan mental meliputi kondisi emosional dan hal-hal yang mengganggu aktivitas Anda. Dan sebagai apresiasi atas kesediaan anda, anda yang ikut serta dalam penelitian ini akan mendapatkan cinderamata yang berguna bagi anda di akhir penelitian ini. Kegiatan ini bersifat sukarela dan tanpa paksaan apapun. Anda berhak menolak partisipasi Anda.
KESIMPULAN DAN SARAN
Saran
Jika Anda telah memutuskan untuk berpartisipasi, Anda juga berhak untuk mengundurkan diri kapan saja.