KONDISI KESEJAHTERAAN MASYARAKAT DESA
Dosen Pengampu : Isna Rahmawati, SPd, M.Ling
Disusun Oleh :
1. Qorry Sabaiti 11200540000014
2. Ananda Diva Hermansyah 11200540000008 3. Muhammad Abidzar Sa’dilah 11200540000051
PROGRAM STUDI PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2023
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Kesejahteraan masyarakat adalah tujuan utama dalam pembangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Cara perwujudan tujuan tersebut yaitu dengan membentuk program yang berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat desa. Bangsa Indonesia yang sebagian besar penduduknya hidup di daerah pedesaan. Oleh karena itu titik sentral pembangunan adalah daerah pedesaan.
Arti penting pembangunan pedesaan adalah bahwa dengan menempatkan desa sebagai sasaran pembangunan, usaha untuk mengurangi berbagai kesenjangan dapat diwujudkan. Pada kenyataannya pembangunan pedesaan masih kurang sehingga masih banyak pedesaan yang tertinggal.
Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia, desa juga bertanggung jawab untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya sesuai dengan Undang-undang Nomor 6 tahun 2014 Pasal 1 angka 1 (Teguh, 2017).
Pemerintah sampai saat ini terus melakukan pengukuran atau penilaian dengan menggunakan tolok ukur Indeks Desa Membangun (IDM).
IDM merupakan Indeks Komposit yang dibentuk berdasarkan tiga indeks, yaitu Indeks Ketahanan Sosial, Indeks Ketahanan Ekonomi dan Indeks Ketahanan Ekologi/Lingkungan. Indikator yang dikembangkan dalam Indeks Desa Membangun dikembangkan berdasarkan konsepsi bahwa untuk menuju desa maju dan mandiri perlu kerangka kerja pembangunan berkelanjutan di mana aspek sosial, ekonomi, dan ekologi menjadi kekuatan yang saling mengisi dan menjaga potensi serta kemampuan desa untuk mensejahterakan kehidupan desa (Suseno Aji, 2017).
Menurut Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2014 menunjukkan bahwa penduduk miskin di Indonesia mencapai angka 11,25 % atau 28,28 juta
jiwa. Sedangkan pada tahun 2015 terdapat tambahan penduduk miskin sejumlah 1,9 juta jiwa (BPS, 2015). Tingkat kemiskinan yang tinggi merupakan indikasi tendahnya kesejahteraan masyarakat. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan kesejahteraan adalah dengan melakukan pembangunan ekonomi yang dapat dilakukan dengan mengembangkan kegiatan industri. Pembangunan ekonomi, dalam jangka panjang bertujuan untuk mencapai kenaikan pendapatan nyata perkapita, kesempatan kerja yang lebih luas, mengurangi perbedaan perkembangan pembangunan dan kemakmuran antar daerah, serta merubah struktur perekonomian dengan mengembangkan industri berbasis kompetensi lokal sehingga terjadi pemerataan tingkat pendapatan dan kesejahteraan masyarakat (Danil, 2013).
Kesejahteraan masyarakat merupakan hal yang ingin diwujudkan oleh setiap negara. Untuk itu, melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang 7 Kesejahteraan Sosial, Pemerintah Indonesia telah berupaya mengatur dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat diantaranya dengan memberikan fasilitas melalui berbagai bentuk pelayanan sosial untuk memenuhi kebutuhan dasar setiap warga Negara. Hal ini sangat tergantung kepada perekonomian di pedesaan.
Kesejahteraan merupakan titik ukur bagi masyarakat yang berarti bahwa telah berada pada kondisi yang sejahtera. Pengertian sejahtera itu sendiri adalah kondisi manusia dimana orang-orangnya dalam keadaan makmur, dalam keadaan sehat, dan damai, sehingga untuk mencapai kondisi itu orang tersebut memerlukan suatu usaha sesuai kemampuan yang dimilikinya. Para ahli ekonomi melihat kesejahteraan sebagai indikasi dari pendapatan individu (flow of income) dan daya beli (purchashing of power) masyarakat. Berdasarkan pemahaman ini, konsep kesejahteraan memiliki pengertian yang sempit karena dengan hanya melihat pendapatan sebagai indikator kemakmuran ekonomi berarti kesejahteraan dilihat sebagai lawan dari kondisi kemiskinan” (Dwi 2008 diacu oleh Widyastuti 2012).
Sugiharto (2007) menerangkan bahwa indikator yang digunakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) untuk mengetahui tingkat kesejahteraan ada 8, yaitu sabagai berikut:
1. Pendapatan
2. Konsumsi atau pengeluaran rumah tangga 3. Kelayakan tempat tinggal
4. Fasilitas tempat tinggal
5. Kesehatan tiap-tiap anggota keluarga
6. Kemudahan dalam mendapatkan pelayanan kesehatan
7. Kemudahan menyekolahkan anak kejenjang pendidikan yang lebih tinggi 8. Kemudahan menggunakan fasilitas transportasi
B. Tujuan Kegiatan
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Menggali Informasi terkait pola perkembangan di Kawasan Perumahan Desa Padurenan.
2. Mengidentifikasi Kemudahan Masyarakat Desa dalam mendapatkan Pendidikan, Kesehatan, Alat Transportasi dan Pekerjaan di Desa Padurenan.
3. Keterjangkauan pelayanan perumahan yang ditentukan dengan mengacu kepada pelayanan Pendidikan, Kesehatan dan Pekerjaan di Desa Padurenan
C. Tempat dan Waktu Kegiatan
Penelitian ini dilaksanakan di Kantor Desa Padurenan, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor. Waktu terlaksana kegiatan ini pada hari Selasa, 12 Desember 2023.
D. Gambaran Umum Desa
Desa Padurenan merupakan sebuah Desa yang terletak di Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Indonesia. Desa Padurenan ini
dibentuk pada tahun 2014, Desa ini adalah Kawasan Industri dan mayoritas mata pencaharian penduduknya yaitu buruh pabrik (karyawan) dan ada juga penduduk yang memilih untuk berdagang. Desa Padurenan memiliki populasi sekitar 8.769 penduduk, Luas wilayah Desa Padurenan yaitu 289 Hektar. Desa Padurenan, kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor ini memiliki 4 dusun yaitu ( Dusun Padurenan, Dusun Kampung Bulak, Dusun Taman Sari Bukit Damai dan Dusun Padurenan), memiliki 7 RW, Dan 31 RT.
Untuk penunjang Pendidikan di Desa ini terdapat 3 (Sekolah Dasar), 1 (SMP) dan terdapat 1 (Pesantren). Untuk fasilitas Kesehatan terdapat 1 PUSTU (Puskesmas Pembantu), 2 Praktik Dokter, 1 Toko Obat / Apotek dan 8 Posyandu yang mudah di jangkau oleh penduduk Desa Padurenan. Untuk Fasilitas Ibadah di Desa Padurenan ini terdapat 17 Mushola dan 7 Masjid, kondisi Rumah tinggal permanen Masyarakat desa Padurenan memiliki persentase yang sangat besar sebanyak 80% dan sisanya 20% rumah tinggal semi permanen, yang artinya dalam hal tempat tinggal desa padurenan dapat dikategorikan tinggi. dan berikut ini adalah batas - batas wilayah dari Desa Padurenan, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, yaitu;
a. Desa/Kelurahan Sebelah Utara: Curug b. Desa/Kelurahan Sebelah Selatan: Cibinong c. Desa/Kelurahan Sebelah Timur: Cidokom d. Desa/Kelurahan Sebelah Barat: Padurenan
E. Pembahasan
1. Tingkat Pendidikan Masyarakat Desa Padurenan
Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan suatu masyarakat. Tingkat pendidikan masyarakat desa menjadi indikator utama untuk mengukur kemajuan dan kualitas hidup di suatu wilayah.
Desa Padurenan terletak di Kabupaten Bogor, dengan populasi sekitar 8.769 penduduk. Desa ini merupakan Kawasan industri dan mayoritas
mata pencaharian penduduknya adalah buruh pabrik (karyawan) dan ada juga yang berdagang. Selain itu, infrastruktur pendidikan di desa ini melibatkan beberapa sekolah dasar dan menengah diantaranya ada 3 SD (Sekolah Dasar), 1 SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan 1 Pesantren.
Adapun tingkat Pendidikan rata rata masyarakat Desa Padurenan sebagai berikut :
Tamat SD : 19%
Tamat SMP : 35%
Tamat SMA : 45%
Sarjana : 1%
Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa tingkat Pendidikan masyarakat Desa Padurenan cukup baik dengan rata – rata menamatkan Pendidikan tangka SMA.
2. Kemudahan Melanjutkan Jenjang Pendidikan
Kemudahan melanjutkan pendidikan menjadi faktor kunci dalam meningkatkan taraf hidup dan memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mengembangkan potensi mereka. Kemudahan dalam melanjutkan jenjang Pendidikan bagi masyarakat Desa Padurenan dikategorikan tinggi, karena tidak memiliki kendala seperti pembiayaan, proses penerimaan dan jarak kesekolah. Aksesibilitas masyarakat dalam menjangkau Lembaga Pendidikan sudah sangat mudah karena ada sarana transportasi umum seperti angkutan umum dan ojek online, jarak SMA pun tidak terlalu jauh karena letaknya masih berada di Kecamatan Gunung Sindur.
3. Jumlah Pendapatan Masyarakat Desa Padurenan
Pendapatan masyarakat desa merupakan indikator vital dalam mengukur kesejahteraan dan perkembangan suatu wilayah. Desa Padurenan terletak di Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor dan memiliki populasi sekitar 8.769 penduduk. Mayoritas mata pencaharian
penduduk adalah buruh pabrik (karyawan) dan pedagang karena Desa Padurenan merupakan Kawasan industry.
Karena merupakan kawasan industri, jumlah pendapatan masyarakat Desa Padurenan dikategorikan sedang karena tidak melebihi UMR. Sumber pendapatan utama tentunya di industry sebagai buruh pabrik masyarakat mendapat pendapatan harian mereka kurang lebih Rp.
150.000rb/hari jika dihitung bulanan mereka mempunyai pendapatan Rp.4.500.000/bulan dengan UMK Kabupaten Bogor sebesar Rp.4.520.212.
4. Jumlah Pengeluaran Masyarakat Desa Padurenan
Jumlah yang dibelanjakan penduduk desa bergantung pada tingkat pendapatan, kebutuhan hidup, dan preferensi masing-masing rumah tangga. Biaya tersebut meliputi kebutuhan pokok seperti pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, transportasi, dan kebutuhan sehari-hari lainnya.
Mayoritas penduduk desa bekerja sebagai buruh pabrik atau berdagang, dan sebagian besar pengeluaran mereka cenderung digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti perlengkapan dagang dan modal usaha. Biaya pendidikan dan kesehatan juga mungkin menjadi pendorong penting dalam pengeluaran, mengingat pentingnya investasi ini dalam meningkatkan kualitas hidup dan peluang ekonomi.
Dan berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh kelompok kami, kami mendapatkan informasi bahwa jumlah pengeluaran masyarakat desa terkadang lebih besar dari pada jumlah pendapatan mereka, karena ada cicilan yang harus dibayarkan setiap bulan nya seperti kredit motor.
5. Kondisi Rumah Tinggal
Kondisi rumah tinggal memiliki dampak signifikan terhadap kualitas hidup masyarakat dan mencerminkan tingkat perkembangan suatu
wilayah. Hasil wawancara kelompok dengan pihak desa membahas kondisi rumah tinggal rata-rata di desa Padurenan, dengan fokus pada rumah permanen sebagai indikator kemajuan pembangunan.
Kondisi rumah tinggal permanen masyarakat desa Padurenan memiliki presentase yang sangat besar sebanyak 80% dan sisanya 20% rumah tinggal semi permanen, berarti dalam hal tempat tinggal desa Padurenan dapat dikategorikan tinggi.
6. Kemudahan Mendapatkan Transportasi
Aksesibilitas Desa merujuk pada tingkat kemudahan akses yang diberikan kepada penduduk desa dalam mencapai berbagai fasilitas dan pelayanan. Aksesibilitas Desa memiliki peran yang sangat penting dalam pembangunan masyarakat di pedesaan. Ketika penduduk desa memiliki akses yang mudah dan terjangkau ke berbagai fasilitas dan pelayanan, mereka dapat meningkatkan kualitas hidup mereka secara keseluruhan.
Angkot merupakan kendaraan umum yang tersedia di desa Padurenan yang dapat dijangkau dan mempermudah masyarakat dalam menjangkau berbagai fasilitas seperti sekolah, pasar, rumah sakit dan berbagai fasilitas lainnya, selain angkutan umum mayoritas masyarakat juga sudah mempunyai kendaraan pribadi yang hampir tiap rumah mempunyai satu motor.
7. Kemudahan Mendapatkan Pelayanan Kesehatan
Desa Padurenan memiliki fasilitas dan layanan kesehatan yang cukup lengkap berupa :
Puskesmas Pembantu (PUSTU) : 1
Posyandu : 8
Praktik Dokter : 2
Apotek : 1
Adapula fasilitas kesehatan yang berada diluar desa padurenan akan tetapi jaraknya lumayan dekat dan mudah diakses, yaitu :
Rumah Sakit : berjarak 1,5 KM dari desa padurenan
Puskesmas : berjarak 1 KM dari desa padurenan
Apotek : 2 toko terdekat diluar desa padurenan
Dari berbagai fasilitas layanan diatas masyarakat desa dalam mendapatkan fasilitas dan layanan kesehatan dapat dikategorikan tinggi, hal ini karena letak geografis desa padurenan yang berbatasan dengan wilayah Tangerang Selatan. Adopsi alat kontrasepsi sesuai anjuran pemerintah juga menunjukkan kesadaran masyarakat desa terhadap kesehatan reproduksi.
Hal ini dapat membantu mengendalikan pertumbuhan populasi dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
KESIMPULAN
Desa Padurenan merupakan sebuah Desa yang terletak di Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Indonesia. Desa Padurenan ini dibentuk pada tahun 2014, Desa ini adalah Kawasan Industri dan mayoritas mata pencaharian penduduknya yaitu buruh pabrik (karyawan) dan ada juga penduduk yang memilih untuk berdagang. Desa Padurenan memiliki populasi sekitar 8.769 penduduk, Luas wilayah Desa Padurenan yaitu 289 Hektar. Desa Padurenan, kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor ini memiliki 4 dusun yaitu ( Dusun Padurenan, Dusun Kampung Bulak, Dusun Taman Sari Bukit Damai dan Dusun Padurenan), memiliki 7 RW, Dan 31 RT.
Mayoritas penduduk desa bekerja sebagai buruh pabrik atau berdagang, dan sebagian besar pengeluaran mereka cenderung digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti perlengkapan dagang dan modal usaha. Biaya pendidikan dan kesehatan juga mungkin menjadi pendorong penting dalam pengeluaran, mengingat pentingnya investasi ini dalam meningkatkan kualitas hidup dan peluang ekonomi.
Hasil wawancara kelompok dengan pihak desa membahas kondisi rumah tinggal rata-rata di desa Padurenan, dengan fokus pada rumah permanen sebagai
indikator kemajuan pembangunan. Kondisi rumah tinggal permanen masyarakat desa Padurenan memiliki presentase yang sangat besar sebanyak 80% dan sisanya 20% rumah tinggal semi permanen, berarti dalam hal tempat tinggal desa Padurenan dapat dikategorikan tinggi.
Kemudian Angkot merupakan kendaraan umum yang tersedia di desa Padurenan yang dapat dijangkau dan mempermudah masyarakat dalam menjangkau berbagai fasilitas seperti sekolah, pasar, rumah sakit dan berbagai fasilitas lainnya, selain angkutan umum mayoritas masyarakat juga sudah mempunyai kendaraan pribadi yang hampir tiap rumah mempunyai satu motor.
DOKUMENTASI