Nama : Wiwid Diniati
NIM : 24/547357/PTK/16149 Mata Kuliah : Teori Pembangunan
Materi 1
Setelah Perang Dunia II, dunia menghadapi tantangan besar untuk memulihkan dan membangun kembali ekonomi global yang telah hancur akibat konflik. Untuk menghindari kekacauan ekonomi yang pernah terjadi antara dua perang dunia, para pemimpin sekutu mengadakan Konferensi Bretton Woods pada tahun 1944. Konferensi ini bertujuan untuk menciptakan sistem ekonomi global yang lebih stabil dan terkendali. Uni Soviet tidak hadir dalam pertemuan ini, yang kemudian menandai perpecahan ekonomi dunia menjadi dua blok besar: blok Barat yang kapitalis dan blok Timur yang sosialis.
Pembentukan Lembaga Bretton Woods
Konferensi Bretton Woods menghasilkan pembentukan tiga lembaga utama yang dirancang untuk mengelola ekonomi global: Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, dan Perjanjian Umum tentang Tarif dan Perdagangan (GATT). Masing-masing lembaga memiliki peran yang berbeda namun saling melengkapi.
1. Dana Moneter Internasional (IMF): IMF didirikan untuk memberikan bantuan keuangan jangka pendek kepada negara-negara yang mengalami kesulitan neraca pembayaran.
2. Bank Dunia: Awalnya didirikan untuk membantu rekonstruksi negara-negara Eropa pasca perang, Bank Dunia kemudian mengalihkan fokusnya ke pembangunan ekonomi negara- negara dunia ketiga.
3. Perjanjian Umum tentang Tarif dan Perdagangan (GATT): GATT adalah perjanjian internasional yang bertujuan mengurangi tarif dan hambatan perdagangan lainnya untuk mendorong perdagangan bebas.
Selain pembentukan lembaga-lembaga ini, Konferensi Bretton Woods juga menetapkan dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia, yang berarti dolar digunakan dalam perdagangan internasional. Hal ini memberikan stabilitas karena dolar dapat ditukar dengan emas, yang dianggap setara dengan emas dalam konteks perdagangan internasional pada masa itu.
Pengaruh Pemikiran Keynes
Salah satu tokoh paling berpengaruh dalam pemikiran ekonomi pasca Perang Dunia II adalah John Maynard Keynes. Keynes menolak gagasan kapitalisme laissez-faire yang dominan sebelum Perang Dunia I. Menurut Keynes, pasar bebas tidak selalu mampu mengatur dirinya sendiri, terutama dalam kondisi krisis ekonomi. Depresi Besar tahun 1930-an menjadi bukti kegagalan teori ekonomi klasik ini. Pendekatan Keynesian ini diterima luas di negara-negara Barat dan menjadi landasan bagi kebijakan ekonomi mereka. Keynes meyakini bahwa pengeluaran pemerintah dapat menciptakan efek berantai yang positif di mana peningkatan lapangan kerja akan meningkatkan permintaan barang dan jasa, yang pada gilirannya merangsang produksi dan investasi oleh sektor swasta.
Kebangkitan Dunia Ketiga dan Teori Pembangunan
Pasca Perang Dunia II, dekolonisasi menyebabkan banyak negara di Asia, Afrika, dan Karibia meraih kemerdekaan dari kekuatan kolonial seperti Inggris, Prancis, dan Belanda. Negara- negara yang baru merdeka ini sering disebut sebagai Dunia Ketiga, terpisah dari blok kapitalis Barat (Dunia Pertama) dan blok komunis Soviet (Dunia Kedua). Negara-negara Dunia Ketiga ini biasanya ditandai dengan tingkat pendapatan per kapita yang rendah, tingginya angka kematian bayi, dan harapan hidup yang pendek. Mereka bergantung pada ekspor komoditas primer seperti hasil pertanian atau tambang, sementara sektor industri mereka relatif kecil. Pertumbuhan penduduk yang cepat juga menjadi tantangan dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial.
Para pemimpin negara-negara Dunia Ketiga fokus pada pembangunan dan kemerdekaan.
Mereka melihat industrialisasi sebagai kunci untuk mencapai modernitas dan memutuskan ketergantungan ekonomi pada bekas penjajah. Salah satu teori yang muncul dalam konteks ini adalah teori strukturalisme, yang dipelopori oleh ekonom seperti Raul Prebisch dan Hans Singer.
Menurut tesis Prebisch-Singer, negara-negara Dunia Ketiga harus mengekspor lebih banyak komoditas primer hanya untuk mempertahankan tingkat impor dari negara-negara maju. Ini menyebabkan memburuknya nilai tukar perdagangan, yang membuat negara-negara berkembang semakin terperosok dalam kemiskinan. Oleh karena itu, mereka menekankan perlunya mengubah struktur ekonomi dengan lebih fokus pada industrialisasi dan mengurangi ketergantungan pada ekspor komoditas primer.
Teori Modernisasi
Teori modernisasi muncul di Barat, terutama di Amerika Serikat, sebagai respon terhadap pertumbuhan negara-negara Dunia Ketiga yang baru merdeka. Teori ini berpendapat bahwa semua masyarakat dapat mencapai pembangunan ekonomi dan sosial yang serupa dengan negara-negara Dunia Pertama melalui proses linear. Menurut teori ini, ada sejumlah faktor yang penting untuk pembangunan, seperti tingkat investasi modal, pendidikan, dan nilai-nilai sosial tertentu yang dianggap masih kurang di negara-negara Dunia Ketiga. Teori ini menganggap keterbelakangan sebagai kondisi awal yang bisa diatasi dengan bantuan modal dan pengetahuan dari negara-negara maju.
Teori Ketergantungan dan Sistem Dunia
Sebagai reaksi terhadap teori modernisasi, teori ketergantungan muncul pada 1950-an dan 1960-an, terutama di Amerika Latin. Teori ini, yang diajukan oleh pemikir seperti Paul Baran dan André Gunder Frank, berpendapat bahwa keterbelakangan bukanlah kondisi awal, melainkan hasil dari eksploitasi ekonomi oleh negara-negara maju. Teori ini menekankan bahwa ketergantungan ekonomi Dunia Ketiga pada negara-negara industri adalah produk dari kapitalisme global yang eksploitatif. Mereka mengusulkan bahwa negara-negara Dunia Ketiga harus memutuskan hubungan ekonomi mereka dengan sistem kapitalis global dan mengembangkan strategi pembangunan yang mandiri, termasuk menasionalisasi industri kunci dan melindungi pasar domestik dari persaingan internasional. Teori sistem dunia, yang diperkenalkan oleh Immanuel Wallerstein, melihat kapitalisme global sebagai satu sistem yang saling terhubung. Dalam sistem
ini, ada pembagian antara negara pusat (core), semi-pinggiran (semi-periphery), dan pinggiran (periphery). Negara-negara pusat, yang sebagian besar merupakan negara maju, mendominasi ekonomi global dan mengeksploitasi negara-negara pinggiran, yang kebanyakan adalah negara- negara berkembang. Wallerstein berpendapat bahwa negara-negara pinggiran sulit untuk lepas dari eksploitasi ini tanpa keluar dari sistem kapitalis dunia, yang sangat sulit dilakukan.
Kesimpulan
Dalam periode pasca perang, berbagai teori pembangunan mulai muncul dan memengaruhi kebijakan ekonomi global. Pemikiran Keynesianisme menjadi panduan bagi kebijakan ekonomi di negara-negara maju, di mana pemerintah memainkan peran aktif dalam mengelola ekonomi untuk mencapai pertumbuhan yang stabil dan kesejahteraan sosial. Di sisi lain, di negara-negara Dunia Ketiga, teori modernisasi dan teori ketergantungan bersaing dalam menjelaskan bagaimana negara-negara ini dapat mencapai pembangunan ekonomi. Perdebatan ini mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh negara-negara berkembang dalam upaya mereka untuk mencapai kemerdekaan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyatnya di tengah dinamika sistem ekonomi global.
Materi 2
Artikel berfokus pada perkembangan intelektual pemikiran pasca-Perang Dunia. buku ini menekankan pentingnya memahami berbagai teori pembangunan dan bagaimana teori-teori tersebut berinteraksi, sering kali melalui proses dialektis di mana ide-ide arus utama menggabungkan perspektif alternatif.
Artikel ini membahas konsep pembangunan masyarakat, membedakannya dari pembangunan biologis dan psikologis,. Artikel ini menunjukkan bahwa pemikiran pembangunan modern sejalan dengan yang terakhir, menekankan bahwa perbaikan masyarakat dapat dicapai melalui pemecahan masalah. Terlepas dari interkoneksi mereka, Pendekatannya bersifat epistemik, berfokus pada pemikiran pembangunan daripada pembangunan dunia nyata, meneliti teori, strategi, dan ideologi yang terkait dengan perubahan masyarakat.
Pertimbangan teoretis dan metodologis
Teori Hettne tentang dialektika arus utama-tandingan . Menurut Hettne, setiap konteks historis dicirikan oleh wacana pembangunan tertentu. Dalam wacana tersebut terdapat ketegangan dialektika antara pendapat hegemonik tentang pembangunan yang dilabeli sebagai arus utama dan tandingan kritis yang pada dasarnya mempertanyakan nilai-nilai yang mendominasi dan tujuan- tujuan sosial dari arus utama. pembangunan tidak dianggap sebagai sesuatu yang netral secara sosial. Pertarungan intelektual antara arus utama dan tandingan akan mempengaruhi bagaimana pembangunan dipahami.
Teori Gramscian oleh Abrahamsson tentang totalitas hubungan yang kompleks antara berbagai aktor dalam masyarakat, misalnya negara, pasar, masyarakat sipil, dapat disebut sebagai blok historis. Di dalam blok historis terdapat perang posisi yang sedang berlangsung. Istilah perang posisi mengacu pada pertempuran yang berkepanjangan dan 'mengakar' di dalam suprastruktur di mana pengetahuan, makna, dan nilai-nilai menjadi objek perjuangan. Secara historis, para aktor
memiliki perhatian yang berbeda. Perhatian utama negara adalah keamanan. Perhatian utama pasar adalah lingkungan yang kondusif untuk bisnis.
Penemuan kembali pemikiran pembangunan: Perang Dunia II – 1960
Pada era pasca-Perang Dunia II, pemikiran pembangunan sangat dipengaruhi oleh kepentingan keamanan, ekonomi, dan politik dari kekuatan-kekuatan besar. Paradigma modernisasi mendominasi, tetapi ada kontra-narasi yang mencoba menantang pendekatan ini.
Pemahaman tentang dialektika antara arus utama dan kontra-arus dalam pemikiran pembangunan penting untuk memahami dinamika sejarah pembangunan global dan berbagai pendekatan yang diadopsi oleh negara-negara berkembang dalam mengejar kemajuan sosial dan ekonomi.
Singkatnya, seperti yang dikemukakan oleh P. W. Preston, pemikiran pembangunan pasca-Perang Dunia II didasarkan pada tiga pilar utama: pertumbuhan ekonomi, perencanaan negara, dan bantuan internasional.
AS dan Uni Soviet mempromosikan disintegrasi sistem kolonial Eropa.
Teori Modernisasi
Perang dingin pada tahun 1960-an dan 1970-an, didominasi teori modernisasi menyatakan bahwa semua masyarakat berkembang melalui tahap-tahap pembangunan yang serupa. Kritik:
Teori modernisasi menghadapi kritik karena bersifat etnosentris dan gagal memperhitungkan keragaman konteks sosial, budaya, dan sejarah di berbagai wilayah. Teori ini juga dikritik karena asumsinya bahwa pembangunan kapitalis Barat adalah model yang ideal untuk semua masyarakat.
Pemikir utama seperti Walt Rostow mengusulkan agar negara-negara bergerak melalui tahapan-tahapan, dari masyarakat tradisional ke masyarakat konsumsi massal, mirip dengan negara-negara Barat. Contohnya pada tahun 1960-an, kerja sama pembangunan Swedia dilembagakan melalui pengesahan dua Rancangan Undang-Undang Pemerintah dan pembentukan otoritas kerja sama pembangunan nasional. konsepsi pembangunan pada periode ini, kekhawatiran Malthusian tentang ledakan populasi.
Era Optimisme Tahun 1960-an ditandai dengan optimisme yang meluas terhadap modernisasi dan pembangunan. Era ini sering dipandang sebagai puncak semangat modernisasi.
Dekolonisasi dan Konteks Perang Dingin. Dekade ini menyaksikan dekolonisasi besar-besaran, khususnya di Afrika, dimana 31 negara merdeka baru muncul. Perang Dingin sangat mempengaruhi hubungan internasional, dan bantuan pembangunan sering kali digunakan sebagai alat strategi geopolitik oleh negara adidaya.
Perluasan Donor dan Bantuan. Pada tahun 1960an terjadi peningkatan yang signifikan dalam jumlah donor pembangunan. Donor tradisional seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis bergabung dengan organisasi multilateral seperti PBB dan Bank Dunia, serta negara-negara Eropa non-kolonial seperti Swedia.
Kerjasama Pembangunan Swedia. Swedia meresmikan upaya pembangunannya melalui RUU Pemerintah 1962:100 dan membentuk Badan Bantuan Internasional Nasional pada tahun 1962,
diikuti oleh Otoritas Pembangunan Internasional Swedia pada tahun 1965. Awalnya berfokus pada enam negara dan tiga bidang , bantuan Swedia dengan cepat meluas.
Iklim Intelektual dan Kritik yang Muncul. Akhir tahun 1960-an ditandai dengan pemberontakan mahasiswa tahun 1968, yang mempengaruhi ilmu-ilmu sosial dan menyebabkan munculnya studi pembangunan sebagai bidang yang lebih kritis dan interdisipliner
Kritik terhadap Teori Arus Utama. Karya Rostow dikritik karena didasarkan pada tradisi Barat yang mempromosikan pemikiran pembangunan linier sambil mengabaikan pengaruh eksternal seperti kolonialisme dan politik Perang Dingin.
Perspektif Populasi dan Strukturalis. Kekhawatiran Malthus mengenai kelebihan populasi cukup signifikan namun mulai berkurang menjelang akhir dekade ini. Masalah kependudukan terus mempengaruhi bantuan pembangunan Swedia.
Transisi ke Pemikiran Pembangunan Baru. Meskipun didominasi oleh teori modernisasi, tahun 1960an membuka peluang bagi wacana pembangunan yang lebih luas.
Kesimpulan
Akhir tahun 1960an menandai transisi dari paradigma modernisasi yang dominan ke munculnya perspektif kritis terhadap pembangunan. Periode ini memulai pemahaman yang lebih luas dan lebih bernuansa mengenai isu-isu pembangunan, meletakkan dasar bagi perdebatan yang terus berkembang pada tahun 1970an dan seterusnya.
Ketergantungan dan gagasan tentang perkembangan lain: 1970-1980
Teori dan Perdebatan Pembangunan: Tahun 1970-an menyaksikan bentrokan antara optimisme pembangunan arus utama, sebagaimana diwakili oleh proklamasi PBB tentang 'dekade pembangunan kedua,' dan perspektif kritis, termasuk teori ketergantungan dan paradigma pembangunan alternatif. Fokus bergeser dari pertumbuhan ekonomi ke isu-isu yang lebih luas seperti pengentasan kemiskinan, keberlanjutan lingkungan, dan keadilan sosial.
Perang Dingin dan Peristiwa Global: Periode ini ditandai oleh detente dalam Perang Dingin, penarikan AS dari Vietnam, dan dekolonisasi Afrika, kecuali untuk beberapa rezim minoritas kulit putih. Saling ketergantungan ekonomi meningkat, dipengaruhi oleh peristiwa- peristiwa seperti krisis minyak yang dipicu oleh OPEC, yang menyebabkan stagflasi di Barat dan pergeseran dalam dinamika kekuatan ekonomi global.
Ketergantungan Ekonomi dan Krisis: Runtuhnya sistem Bretton Woods dan munculnya pasar keuangan yang dideregulasi mengubah ekonomi global. Era tersebut juga mengalami peningkatan kesadaran akan kerentanan ekonomi nasional terhadap tren internasional, yang menjadi panggung bagi pergeseran neoliberal pada tahun 1980-an.
Kebangkitan Dunia Ketiga: Tahun 1970-an menyaksikan pertumbuhan pengaruh Dunia Ketiga melalui gerakan-gerakan seperti Gerakan Non-Blok dan tuntutan untuk Tatanan Ekonomi Internasional Baru .
Bangkitnya Neoliberalisme
Pemilihan pemimpin seperti Ronald Reagan di AS, Margaret Thatcher di Inggris, dan Helmut Kohl di Jerman Barat melambangkan pergeseran ideologis ke kanan. Hal ini menyebabkan kemunduran ekonomi Keynesian dan bangkitnya neoliberalisme dan moneterisme. Neoliberalisme menekankan intervensi negara yang minimal, pasar bebas, dan kewirausahaan individu, menolak kebijakan intervensionis yang sebelumnya menjadi ciri ekonomi pembangunan.
Stabilitas Makroekonomi dan Penyesuaian Struktural
Tahun 1980-an berfokus pada stabilitas makroekonomi, dengan memprioritaskan isu-isu seperti keseimbangan anggaran, neraca pembayaran, dan inflasi rendah. Periode yang kompleks dan transisi yang ditandai oleh berbagai peristiwa dan tren global. Akhir Perang Dingin dan Transisi: Pembubaran Uni Soviet menyebabkan pergeseran dalam tata kelola global, yang berosilasi antara multilateralisme dan unilateralisme. Konsep Fukuyama tentang «akhir sejarah»
menunjukkan bahwa demokrasi liberal Barat telah menang, meskipun gagasan ini ditentang oleh peristiwa dan konflik berikutnya.
Munculnya 'Perang Baru': Konflik pada tahun 1990-an, yang dicirikan oleh perpaduan perang, kejahatan terorganisasi, dan pelanggaran hak asasi manusia, dikaitkan dengan globalisasi dan politik identitas. Konflik-konflik ini meningkatkan peran perusahaan militer swasta dan mempertanyakan monopoli negara atas kekerasan yang sah. Globalisasi dan Ketimpangan Ekonomi: Globalisasi ekonomi melonjak, membawa pertumbuhan yang signifikan dan ketimpangan yang nyata.
Kekhawatiran Lingkungan dan Keberlanjutan Global: Tahun 1990-an menyaksikan lahirnya inisiatif lingkungan global seperti rencana aksi Agenda 21 dan Protokol Kyoto, yang menyoroti sifat tidak berkelanjutan dari praktik ekonomi saat ini dan perlunya perubahan gaya hidup yang mendalam. Integrasi Regional dan Uni Eropa: Dekade ini ditandai dengan pembentukan resmi UE, yang mencerminkan campuran agenda neoliberal dan neomerkantilis.
Kerja sama regional menjadi lebih menonjol secara global, yang memengaruhi kebijakan ekonomi dan keamanan.
Bantuan dan Kebijakan Pembangunan: Artikel tersebut membahas bagaimana dukungan donor harus selaras dengan strategi pembangunan nasional negara-negara penerima, dengan menekankan harmonisasi, transparansi, dan pengelolaan untuk hasil. General Budget Support , di mana donor memberikan dukungan langsung ke anggaran nasional, disorot sebagai modalitas bantuan yang lebih disukai, meskipun masih kontroversial. Koherensi Kebijakan: Pentingnya koherensi kebijakan ditegaskan, yang berarti bahwa tindakan dalam satu bidang kebijakan harus mempertimbangkan dampaknya pada bidang lain untuk menghindari kontradiksi. Gagasan ini menyarankan pendekatan holistik terhadap pembuatan kebijakan, dengan mengakui sifat saling terkait dari isu-isu pembangunan.
Kebijakan Swedia untuk Pembangunan Global : Respons Swedia terhadap tantangan pembangunan global mencakup Kebijakan yang koheren untuk Pembangunan Global, yang mengintegrasikan semua bidang kebijakan untuk mencapai pembangunan global yang berkelanjutan dan adil. Kebijakan ini menekankan hak asasi manusia, demokrasi, kesetaraan gender, keberlanjutan lingkungan, dan banyak lagi.
Munculnya Wacana Pembangunan Global: Konsep pembangunan global digambarkan sebagai wacana yang muncul yang berfokus pada peningkatan hubungan internasional dan pembentukan komunitas politik global. Perspektif ini menunjukkan perlunya kerja sama global, dialog antarbudaya, dan nilai-nilai kemanusiaan bersama.
Dampak Bagi Pembangunan di Indonesia
Pendekatan Pembangunan yang Lebih Komprehensif: Dengan belajar dari evolusi teori pembangunan global, Indonesia dapat mengadopsi pendekatan yang lebih holistik dalam kebijakan pembangunan. Ini berarti tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek sosial seperti kesetaraan, demokrasi, dan keberlanjutan lingkungan. Contoh nyata adalah integrasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ke dalam rencana pembangunan nasional. Pengembangan industri berteknologi tinggi dan inovasi menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan pada bahan mentah dan meningkatkan nilai tambah.
Keseimbangan Antara Negara dan Pasar: Indonesia perlu menemukan keseimbangan yang tepat antara peran pemerintah dan mekanisme pasar. Ini termasuk pengelolaan sumber daya alam yang bijaksana, pengembangan energi terbarukan, dan mitigasi dampak lingkungan dari pembangunan ekonomi.
Kerja Sama Internasional: Dalam konteks globalisasi, Indonesia harus terus aktif berpartisipasi dalam kerja sama internasional dan regional.