• Tidak ada hasil yang ditemukan

konseling individu dan implikasi dzikir untuk

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "konseling individu dan implikasi dzikir untuk"

Copied!
89
0
0

Teks penuh

(1)

KONSELING INDIVIDU DAN IMPLIKASI DZIKIR UNTUK MENINGKATKAN KEDISIPLINAN SISWA

Studi Kasus di SMPN 1 Wanasaba Lombok Timur

oleh Amrullah NIM : 160303070

JURUSAN BIMBINGAN KONSELING ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM

MATARAM 2021

(2)

KONSELING INDIVIDU DAN IMPLIKASI DZIKIR UNTUK MENINGKATKAN KEDISIPLINAN

Studi Kasus di SMPN 1 Wanasaba Lombok Timur

Skripsi

diajukan kepada Universitas Islam Negeri Mataram untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar Sarjana Sosial

oleh Amrullah NIM : 160303070

JURUSAN BIMBINGAN KONSELING ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ( UIN) MATARAM

MATARAM 2021

(3)

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi oleh: Amrullah, NIM. 160303070 yang berjudul, “Konseling individu dan Implikasi dzikir untuk Meningkatkan Kedisiplinan (Studi Kasus di SMPN 1 Wanasaba Lombok Timur)” telah memenuhi syarat dan disetujui untuk diuji.

Disetujui pada tanggal : Juli 2021

Pembimbing I,

Dr. Abdul Malik, M.Pd.

NIP. 197909232011011004

Pembimbing II,

Maliki M.Pd.

(4)

NOTA DINAS PEMBIMBING

Mataram, Juli 2021

Hal : Ujian Skripsi

Yang Terhormat Rektor UIN Mataram di Mataram

Assalamu’alaikum, Wr. Wb

Disampaikan dengan hormat, setelah melakukan bimbingan, arahan, dan koreksi maka kami berpendapat bahwa skripsi saudara:

Nama Mahasiswa : Amrullah

NIM : 160303070

Jurusan/Prodi : Bimbingan Konseling Islam

Judul : Konseling individu dan Implikasi dzikir Untuk Meningkatkan Kedisiplinan (Studi Kasus di SMPN 1 Wanasaba Lombok Timur)

Telah memenuhi syarat untuk diajukan dalam sidang munaqasyah skripsi Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Mataram. Oleh karena itu, kami berharap agar skripsi ini dapat segera dimunaqasyahkan.

Wassalamu’alaikum, Wr. Wb

Pembimbing I,

Dr. Abdul Malik, M.Pd.

NIP. 197909232011011004

Pembimbing II,

Maliki M.Pd.

(5)
(6)

MOTTO

Jika kita menghendaki kebahagiaan dunia dan akhirat, kita harus beriman dan berilmu sekaligus, yang keduanya mewarnai perbuatan kita.

(Nurcholis Madjid)

(7)

PERSEMBAHAN

Dengan penuh rasa syukur skripsi ini kupersembahkan untuk :

1. Kedua orang tuaku tercinta. Ibuku (Siti Fatimah) dan Bapakku (Rafi’un).

Terimakasih atas semua jasa dan pengorbanan kalian selama ini yang tak kan pernah bisa kubalas sampai kapanpun.

2. Almamater kebanggaanku Universitas Islam Negeri Mataram. Saya merasa bangga bisa menjadi bagian dari ladang pendidikan ini, karya ini saya dedikasikan semoga bisa bermanfaat untuk adik-adik mahasiswa selanjutnya.

3. Seluruh keluarga, saudara, kerabat, dan teman yang saya miliki. Ucapan terimakasih tak terhingga karena telah memberiku motivasi dan menjadi alasanku tetap semangat menuntut ilmu di segala tempat.

(8)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah SWT karena berkat Rahmat dan Karunia-Nya peneliti dapat meneliti, menulis dan menyusun skripsi ini hingga selesai. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Baginda Sayyidina Muhammad SAW, kepada keluarganya, para sahabatnya dan kepada umatnya hingga akhir zaman.

Skripsi ini merupakan karya terbesar yang pernah saya lakukan sepanjang tapak dunia pendidikan yang telah saya tempuh, dan tentunya peneliti menyadari bahwa proses penyelesaian skripsi ini tidak akan sukses tanpa bantuan dan keterlibatan berbagai pihak. Oleh karena itu, peneliti memberikan penghargaan setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu, yaitu mereka antara lain adalah:

1. Dr. Abdul Malik, M.Pd. sebagai pembimbing I dan Maliki M.Pd. sebagai pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, motivasi dan koreksi mendetail, terus-menerus, dan tanpa bosan di tengah kesibukannya dalam suasana keakraban menjadikan skripsi ini lebih matang dan cepat selesai;

2. Dr. Mira Mareta selaku ketua jurusan Bimbingan Konseling Islam yang telah membimbing selama proses perkuliahan di UIN Mataram

3. Dr. M. Saleh Ending M.A selaku Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi yang telah memberi fasilitas untuk kelancaran perkuliahan peneliti.

(9)

4. Prof. Dr. Masnun Tahir selaku Rektor UIN Mataram yang telah memberi tempat bagi peneliti untuk menuntut ilmu dan memberi bimbingan serta peringatan untuk tidak berlama-lama di kampus tanpa pernah selesai.

5. Bapak/Ibu Dosen dan Pegawai di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Mataram yang telah membimbing dan melayani peneliti selama masa studi.

6. Teman-teman BKI angkatan 2016 yang sangat aku cintai.

Semoga amal kebaikan dari berbagai pihak tersebut mendapatkan pahala yang berlipat-ganda dari Allah SWT. Dan semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi semesta. Aamiin.

Mataram, Juli 2021 Peneliti,

Amrullah

(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

NOTA DINAS PEMBIMBING ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v

PENGESAHAN DEWAN PENGUJI ... vi

HALAMAN MOTTO ... vii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

ABSTRAK ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian... 5

D. Manfaat Penelitian... 5

E. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian ... 6

F. Telaah Pustaka ... 7

G. Kerangka Teori ... 8

H. Metode Penelitian ... 19

I. Sistematika Pembahasan ... 30

BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN ... 32

A. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 32

B. Deskripsi Konselor dan Konseli ... 32

C. Penyebab Kurangnya Disiplin Konseli ... 36

BAB III PEMBAHASAN ... 43

A. Perilaku Kurang Disiplin Siswa SMPN 1 Wanasaba ... 68 B. Analisis Pelaksanaan Konseling individu untuk

(11)

Meningkatkan Kedisiplinan Siswa ... 44

C. Analisis Pelaksanaan Implikasi dzikir untuk Meningkatkan Kedisiplinan Siswa di SMAN 3 Mataram ... 49

BAB IV PENUTUP ... 58

A. Kesimpulan ... 58

B. Saran ... 59

DAFTAR PUSTAKA ... 60

LAMPIRAN ... 62

(12)

KONSELING INDIVIDU DAN IMPLIKASI DZIKIR UNTUK MENINGKATKAN KEDISIPLINAN SISWA

Studi Kasus di SMPN 1 Wanasaba Lombok Timur

Oleh:

Amrullah NIM : 160303070

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan hal-hal yang berhubungan Konseling individu dan Implikasi dzikir Untuk Meningkatkan Kedisiplinan di SMPN 1 Wanasaba Lombok Timur. Sebelum itu, tulisan ini memaparkan kondisi kedisiplinan siswa di SMPN 1 Wanasaba, selain itu juga memaparkan bagaimana dampak konseling terhadap siswa yang menjadi konseli.

Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif.

Dalam mengumpulkan data yang dibutuhkan, peneliti menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Sedangkan untuk menguji keabsahan data, peneliti menggunakan dua langkah pengujian yaitu perpanjangan pengamatan dan triangulasi.

Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada beberapa siswa yang sering melakukan pelanggaran disiplin. Lalu siswa-siswa tersebut diberikan layanan konseling oleh peneliti. Dalam pelaksanaan konseling berjalan cukup lancar, meskipun terdapat sedikit kendala kecil yang dihadapi. Dalam penerapan meningkatkan disiplin siswa, semua guru harus bersinergi memberikan bimbingan, terutama peran keluarga juga sangat penting.

Kata kunci: Konseling individu, Implikasi dzikir, Kedisiplinan

(13)

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

Pendidikan merupakan aspek penting dalam pembangunan negeri, bangsa yang besar adalah bangsa yang mementingkan mutu pendidikan, tanpa pendidikan yang mumpuni tidak akan mampu menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Dengan sumber daya manusia yang berkualitas tentu akan meningkatkan martabat bangsa, sehingga bersaing di kancah global.

Secara universal setiap manusia diciptakan unik, antara satu dengan yang lainnya memiliki perbedaan jasmani dan rohani, adapun salah satu faktor yang tercermin dari perbedaan jasmani dan rohani yang mampu mempengaruhi pembentukan kepribadian seseorang seperti, kondisi keluarga, lingkungan dan dalam diri sendiri. Selain faktor di atas ini akan berdampak kepada kepribadian diri siswa seperti kurang baik atau kurang disiplin.

Soegeng Prijodarminto, S.H. mengatakan disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian prilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan atau ketertiban.1 Sedangkan Sastrapraja berpendapat bahwa: Disiplin adalah penerapan budinya ke arah perbaikan melalui pengarahan dan paksaan.2

Dalam sebuah Lembaga tentu memiliki aturan yang harus ditaati oleh setiap anggota dalam Lembaga tersebut, baik siswa, guru, tenaga administrasi,

1 Soegeng Prijodarminto, Disiplin Kiat Menuju Sukses, (Pradnya Paramita: Jakarta, 1994), hlm.23.

2 Sastrapraja, Kamus Istilah Pendidikan dan Umum, (Surabaya: Usaha Nasional, 1987) hlm. 117.

(14)

dan yang lainnya. Di sekolah misalnya, seorang siswa harus datang tepat waktu, mengenakan seragam yang sesuai, mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru, dan lain sebagainya.

Setiap siswa dituntut untuk beperilaku disiplin. Disiplin berarti sikap patuh dan taat terhadap setiap aturan yang mengikat dirinya. Adapun bentuk kedisiplinan seorang siswa seperti mematuhi setiap aturan yang di tetapkan oleh pihak sekolah , dan aturan yang di buat harus mengedepankan kemaslahatan atau kebaikan bersama.

Namun realitanya tidak jarang ditemukan siswa yang masih sering melanggar tata tertib sekolah, seperti bolos sekolah, terlambat masuk kelas, tidak mengerjakan PR, dan lain-lain. Seorang tenaga pendidik harus mampu mngidentifikasi faktor-faktor penyebab terjadinya pelanggaran perilaku disiplin tersebut. Dari beberapa bentuk perilaku indisiplin di atas dapat diatasi dengan memberikan layanan konseling individu. Layanan Konseling individu adalah salah satu proses membantu orang untuk belajar untuk memecahkan masalah interpersonal, emosional, dan keputusan tertentu.3

Berkaitan dengan perilaku kurang disiplin yang sudah disebutkan di atas maka, terapi zikir juga dapat membantu seseorang dalam mengatasi perilaku kurang disiplin atau indisiplin. Implikasi dzikir adalah proses mengobati penyakit psikologis dengan mengingat keagungan Allah SWT dengan cara

3 Muhammad, Surya, Dasar-Dasar Konseling Pendidikan, (Yogyakarta: Penerbit Kota kembang, 1988), hlm. 19

(15)

membaca lafadz tertentu dan disertai dengan perenungan terhadap petunjuk yang Allah tampakkan.4

Pada umumnya setiap sekolah memiliki tenaga konselor, yang berguna untuk melakukan aktivitas konseling terhadap siswa, baik secara perorangan maupun kelompok, agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal dalam bidang pengembangan kehidupan pribadi, sosial, belajar dan perencanaan karir, melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdasarkan norma- norma yang berlaku.5

Berdasarkan pengamatan peneliti di SMPN 1 Wanasaba ada sebagian siswa yang mengalami permasalahan, seperti bolos sekolah, datang terlambat, merokok, tidak mengerjakan tugas sekolah, dan lain sebagainya.6

Dari wawancara dengan guru bimbingan konseling di SMPN 1 Wanasaba, peneliti mendapat informasi mengenai tiga nama siswa yang terbilang cukup sering melanggar disiplin sekolah. Mereka adalah Adi Wahyudi, Samsul Hadi, dan Fahri Rahman. Mereka merupakan siswa yang duduk di bangku kelas VIII.7

Adi Wahyudi berasal dari keluarga dengan kemampuan ekonomi rendah.

Bapaknya seorang tukang ojek di pasar tradisional, dan ibunya hanya seorang ibu rumah tangga. Kedua orang tua Adi Wahyudi hanya lulusan sekolah dasar, sehingga wajar jika keterbatasan intelektual membuat mereka tidak memahami

4 Subandi, Psikologi Dzikir: Fenomenologi Dzikir Tawakal Pengalaman Transformasi Religius, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hlm. 22

5 Willis, S., Konseling Individual Teori dan Praktek, (Bandung: Alfabeta, 2004), hlm. 14

6 Hasil wawancara peneliti dengan guru bimbingan konseling SMPN 1 Wanasaba 12 Desember 2020

7 Wawancara dengan Aldi siswa kelas IX SMPN 1 Wanasaba, Senin 2 November 2020

(16)

bagaimana cara mendidik anak dengan baik dan benar. Kesulitan ekonomi membuat orang tua Adi Wahyudi menjadi lebih temperamental.8

Peneliti juga sempat mewawancarai guru Bimbingan Konseling di SMPN 1 Wanasaba Lombok Timur. Ia mengungkapkan bahwa dirinya mempraktekkan beberapa konsep-konsep dalam konseling individu, seperti selalu memberikan penghargaan kepada beberapa siswa yang bermasalah.

Maksudnya penghargaan bukan hanya dalam bentuk meteril melainkan secara moril. Dengan memberikan pujian atau motivasi akan berdampak pada perilaku siswa.9

Selain itu guru BK di SMPN 1 Wanasaba Lombok Timur juga melakukan pendekatan keagamaan dalam melakukan konseling, seperti implikasi dzikir. Beberapa waktu anak-anak yang sedang bermasalah diminta untuk melafadzkan dzikir guna memberikan ketenangan pada diri mereka.10

Berdasarkan pemaparan di atas, peneliti tertarik untuk meneliti tentang konseling individu dan implikasi dzikir untuk meningkatkan kedisiplinan siswa di SMPN 1 Wanasaba Lombok Timur

B. RUMUSAN MASALAH

Menurut latar belakang yang dipaparkan di atas, dapat disampaikan rumusan masalah sebagai berikut:

1. Apa yang melatarbelakangi perilaku siswa kurang disiplin di SMPN 1 Wanasaba Lombok Timur?

8 Hasil observasi di lapangan, Selasa 3 November 2020

9Hasil wawancara peneliti dengan guru bimbingan konseling SMPN 1 Wanasaba 12 Desember 2020

10 Ibid

(17)

2. Bagaimana pelaksanaan konseling individu dan implikasi dzikir dalam mengatasi siswa kurang disiplin di SMPN 1 Wanasaba Lombok Timur ? C. TUJUAN PENELITIAN

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan yang ingin dicapai sebagai dasar acuan dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui bagaimana bentuk-bentuk perilaku kurang disiplin siswa di SMPN 1 Wanasaba Lombok Timur

2. Dampak konseling individu dan implikasi dzikir dalam meningkatkan kedisiplinan siswa d SMPN 1 Wanasaba Lombok Timur

D. MANFAAT PENELITIAN

Adapun manfaat penelitian ini secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu:

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pemikiran dalam rangka menambah khazanah keilmuan dalam ranah bimbingan konseling, khususnya yang berkaitan dengan bimbingan dan konseling Islam

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan koreksi terhadap langkah- langkah yang ditempuh di dalam menghadapi siswa-siswa dengan ketidakpatuhan terhadap disiplin. Dengan penelitian ini diharapkan akan menjadi formula bagi tenaga pendidik dalam meningkatkan disiplin siswa.

Kedisiplinan tentu akan meningkatkan prestasi siswa itu sendiri

(18)

E. RUANG LINGKUP DAN SETTING PENELITIAN 1. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup dalam penelitian ini yakni bagaimana tahap-tahap melakukan konseling individu dan implikasi dzikir. Keduanya akan diterapkan dalam rangka meningkatkan disiplin siswa di sekolah. Peneliti akan mencari tahu faktor-faktor apa saja yang menyebabkan siswa memiliki ketidakpatuhan terhadap disiplin. Lalu peneliti akan memaparkan setiap tahapan dengan jelas bagaimana Teknik konseling tersebut berjalan. Selain itu, peneliti akan meneliti kendala-kendala apa saja yang dapat terjadi selama proses penerapan konseling.

2. Setting Penelitian

Penelitian ini akan terfokus pada komunitas di SMPN 1 Wanasaba Lombok Timur. Peneliti akan mendalami bagaimana kondisi fisik dan sosial di tempat tersebut. Nantinya peneliti akan memfokuskan penelitiannya pada siswa di kelas tertentu. Sebelum melakukan konseling, tentunya peneliti akan mendalami lebih jauh bagaimana aktifitas belajar mengajar yang terjadi dalam kelas tersebut. Peneliti akan melakukan langkah-langkah tertentu untuk menentukan siswa mana yang akan menjadi konseli serta menentukan beberapa informan yang dibutuhkan.

F. TELAAH PUSTAKA

Berikut ini adalah beberapa penelitian yang sudah dilakukan oleh peneliti lain yang mirip dengan penelitian yang peneliti angkat, diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Dewi Sarah Eva Yunita dengan judul “Efektivitas

(19)

Layanan Konseling individu Dengan Teknik Self-Management Untuk Meningkatkan Perilaku Disiplin Peserta Didik Kelas XI Dalam Mematuhi Tata Tertib SMA Al-Azhar 3 Bandar Lampung”11

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Dewi menjelaskan bagaimana konseling individu dapat berpengaruh dalam memberikan motivasi untuk meningkatkan disiplin siswa. Ia menggunakan pendekatan kuantitatif yaitu suatu jenis penelitian ilmiah dimana peneliti memutuskan apa yang akan diteliti dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang spesifik atau sempit, mengumpulkan data-data yang dapat dikuantifikasikan, menganalisis angka- angka tersebut dengan menggunakan statistic dan melakukan penelitian dalam suatu cara yang objektif.

Sedangkan untuk penelitian ini, peneliti akan menggunakan pendekatan kualitatif, dengan menjadikan subjek penelitian sebagai informan atau sumber data, yaitu guru BK, wali kelas, dan siswa kelas VIII sebanyak tiga orang sebagai klien. Perbedaan lain juga antara penelitian ini dengan penelitian Dewi Sarah Eva Yunita, yakni dimana Dewi menjadikan lingkungan SMA sebagai setting penelitiannya, sedangkan penelitian ini akan dilakukan di lingkungan SMP.

Tentu dengan begitu masalah-masalah yang ditemukan antara kedua penelitian ini akan berbeda.

Selain itu juga ada penelitian lain yang mirip dengan penelitian peneliti yang menarik untuk dijadikan refrensi. Penelitian tersebut dibuat oleh Wardania

11 Dewi Sarah Eva Yunita, Efektivitas Layanan Konseling individu Dengan Teknik Self- Management Untuk Meningkatkan Perilaku Disiplin Peserta Didik Kelas XI Dalam Mematuhi Tata Tertib SMA Al-Azhar 3 Bandar Lampung, Skripsi, UIN Raden Intan Lampung

(20)

dengan judul “Bimbingan Konseling Islam Dengan Implikasi dzikir Untuk Mengurangi Stres Seorang Istri Yang Suaminya di LP Surabaya”.12

Dari melihat judulnya saja tergambar jelas perbedaan antara penelitian Wardania dengan penelitian ini. Perbedaan klien yang dihadapi menjadi perbedaan antara penelitian ini dengan milik Wardania. Namun peneliti mencoba menggali refrensi dari penelitian Wardania mengenai bagaimana pengaplikasian implikasi dzikir dalam kegiatan konseling.

Satu lagi, penelitian yang hampir serupa dengan milik peneliti, yakni penelitian Taruma Arfidiana dengan judul “Penerapan Konseling individu Menggunakan Teknik Kontrak Perilaku untuk Meningkatkan Kedisiplinan Siswa Kelas XI TKJ 2 SMK Islam 1 Durenan Trenggalek Tahun Ajaran 2017/2018”

Penelitian milik Taruma hanya menggunakan konseling individu dalam peningkatan disiplin siswa, sedangkan peneliti tidak hanya menggunakan konseling individu melainkan juga Implikasi dzikir. Lokasi penelitian milik Taruma terletak di sekolah berbasis agama Islam, tentu karakter siswanya berbeda dengan lokasi penelitian peneliti yang bertempat di sekolah negeri.

G. KERANGKA TEORITIK 1. Kedisiplinan Siswa

Disiplin merupakah sikap patuh individu terhadap berbagai aturan yang mengikat dirinya. Sebagai makhluk sosial yang akan selalu memiliki keterikatan antara individu dengan individu lainnya, maka sudah tentu

12 Wardania, Bimbingan Konseling Islam Dengan Implikasi dzikir Untuk Mengurangi Stres Seorang Istri Yang Suaminya di LP Surabaya, Skripsi, UIN Sunan Ampel Surabaya

(21)

kebebasan seseorang akan dibatasi dengan kebebasan orang lain. Karena itulah dalam pergaulan sosial manusia membuat aturan-aturan untuk menciptakan kehidupan yang harmonis. Bisa dibayangkan jika hidup ini tanpa aturan yang mengikat, akan terjadi ketidakseimbangan yang menyebabkan kekacauan.

Disiplin juga diartikan sebagai suatu kondisi yang tercipta melalui proses latihan yang dikembangkan menjadi serangkaian prilaku yang di dalamnya terdapat unsur-unsur ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, ketertiban dan semua itu dilakukan sebagai tanggung jawab yang bertujuan untuk mawas diri. Konsep populer dari “Disiplin “ adalah sama dengan “Hukuman”.

Menurut konsep ini disiplin digunakan hanya bila anak melanggar peraturan dan perintah yang diberikan orang tua, guru atau orang dewasa yang berwenang mengatur kehidupan bermasyarakat, tempat anak itu tinggal. Hal ini sesuai dengan Sastrapraja yang berpendapat bahwa: Disiplin adalah penerapan budinya ke arah perbaikan melalui pengarahan dan paksaan.13

Kedisiplinan merupakan salah satu faktor penunjang dalam meningkatkan mutu pendidikan/sekolah. Dalam penerapan disiplin perlu dibuat peraturan dan tata tertib yang benar-benar realistis menuju suatu titik yaitu kualitas. Sekolah yang menegakkan disiplin akan menjadi sekolah yang berkualitas.

13 Sastrapraja, Kamus Istilah Pendidikan dan Umum, (Surabaya: Usaha Nasional, 1987) hlm. 117.

(22)

Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan yang sesuai dengan standar nasional pendidikan, sekolah harus mempunyai program peningkatan mutu pendidikan dengan menetapkan standar kompetensi lulusan sesuai dengan visi dan misi sekolah.

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar bagi seluruh siswa akan dapat berjalan tertib dan lancar apabila dilaksanakan secara disiplin. Disiplin merupakan barometer untuk menentukan berhasil tidaknya tujuan-tujuan yang telah dirumuskan . Dalam dunia pendidikan disiplin merupakan salah satu kunci bagi keberhasilan tujuan-tujuan yang hendak diwujudkan.

Dengan hidup secara disiplin maka individu/seseorang akan dapat meraih tujuan dalam hidupnya dengan sukses. Dengan demikian, pelaksanaan program sekolah dalam pencapaian visi dan misinya untuk mewujudkan mutu lulusan yang mempunyai kompetensi sesuai standar nasional pendidikan akan bisa tercapai apabila didukung dengan kualitas proses pembelajaran yang baik dan semua komponen sekolah yang mempunyai komitmen terhadap kedisiplinan

2. Konseling individu

a. Pengertian Konseling individu

Konseling individu adalah proses terapeutik dengan menggunakan prosedur-prosedur sistematik untuk mengubah perilaku maladaptive (perilaku yang tidak sesuai) menjadi perilaku adaptif (perilaku yang

(23)

sesuai) melalui proses belajar perilaku baru.14 Senada dengan Krumboltz dan Thoresen dalam surya konseling individu adalah salah satu proses membantu orang untuk belajar untuk memecahkan masalah interpersonal, emosional, dan keputusan tertentu.15 Sedangkan menurut Jp. Chaplin pengertian behavioural/behaviorisme adalah suatu pandangan teoritis yang beranggapan bahwa persoalan psikologi adalah tingkah laku, tanpa mengaitkan konsepsi-konsepsi mengenai kesadaran dan mentalitas16

Berdasarkan penjelasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa konseling individu adalah suatu teknik terapi dalam konseling yang berfokus pada tingkah laku individu untuk membantu konseli mempelajari tingkah laku baru dalam memecahkan masalahnya melalui teknik-teknik yang berorientasi tindakan.

Dalam konseling, konseli belajar perilaku baru dan mengeliminasi perilaku yang maladatif, memperkuat serta mempertahankan perilaku yang diinginkan dan membentuk pola tingkah laku dengan memberi ganjaran atau reinforcement yang menyenangkan segera setelah tingkah laku yang diharapkan muncul.

Komalasari berpendapat bahwa asumsi tingkah laku yang bermasalah dalam konseling individu adalah:

14 Skripsi Furqoni Qoriralita, Implementasi Konseling individu dalam Menanggulangi Perilaku Menyimpang Siswa kelas X di SMK PGRI 1 Surabaya

15 Muhammad, Surya, Dasar-Dasar Konseling Pendidikan, (Yogyakarta: Penerbit Kota kembang, 1988), hlm. 19

16 JP. Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, (Jakarta: Raja Grafindo, 2002) hlm. 54

(24)

1) Tingkah laku yang berlebihan (excessive), tingkah laku yang berlebihan misalnya yaitu: merokok, terlalu banyak main games, dan sering memberi komentar di kelas. Tingkah laku excessive dirawat dengan menggunakan teknik konseling untuk menghilangkan atau mengurangi tingkah laku.

2) Tingkah laku yang kurang (deficit), adapun tingkah laku yang deficit adalah terlambat masuk sekolah, tidak mengerjakan tugas dan bolos sekolah. tingkah laku deficit diterapi dengan menggunakan teknik meningkatkan tingkah laku.17

Berdasarkan pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa perilaku rendahnya perilaku disiplin beserta ciri-cirinya maka dapat dikategorikan ke dalam tingkah laku yang kurang (deficit). Oleh karena itu untuk meningkatkan perilaku disiplin peserta didik dalam mematuhi tata tertib di sekolah maupun di rumah, maka peneliti dalam memberikan layanan konseling pendekatan behavioral sangatlah tepat.

b. Teknik Pendekatan Konseling individu

Dalam proses konseling behavioural ada beberapa Teknik pendekatan yang perlu diketahui konselor agar konseling individu berjalan dengan baik. Latipun, mengatakan ada 5 teknik konseling individu sebagai berikut di antaranya:

17 Komalasari, Teori dan Teknik Konseling, (Jakarta: PT. Indeks, 2011), hlm. 157.

(25)

1) Desentiasiasi sistematik, merupakan Teknik konseling behavioural yang memfokuskan bantuan untuk menenangkan klien dari ketegangan yang dialami dengan cara mengajarkan klien untuk rileks

2) Latihan perilaku assertive, Teknik ini digunakan untuk melihat klien yang mengalami kesulitan untuk mengatakan diri bahwa tindakannya adalah layak atau benar

3) Averion theraphy, Teknik ini dapat digunakan untuk menghilangkan kebiasaan buruk.

4) Pembentukan tingkah model, teknik ini dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku baru pada klien, dan memperkuat tingkah laku yang sudah terbentuk

5) Covert Sensitization, teknik dapat digunakan untuk merawat tingkah laku yang menyenangkan klien tapi menyimpang, seperti homosex, alkoholism18

c. Tujuan Teknik Konseling Individu

Tujuan konseling individu adalah membantu klien membuang respon-respon lama yang merusak diri, dan mempelajari respon-respon yang lebih sehat. Tujuan konseling individu juga dapat dikatakan untuk memperoleh perilaku baru, mengeliminasi perilaku yang maladaptif dan memperkuat serta mempertahankan perilaku yang diinginkan. Tujuan konseling individu adalah mencapai kehidupan tanpa mengalami perilaku simptomatik, yaitu kehidupan tanpa mengalami kesulitan atau hambatan

18 Ibid, hlm. 173

(26)

perilaku, yang dapat membuat ketidakpuasan dalam jangka panjang dan mengalami konflik dengan kehidupan sosial.19

Adapun tujuan teknik konseling individu menurut pendapat dari Komalasari dkk sebagai berikut:

1) Menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar 2) Penghapusan hasil belajar yang tidak adaptif

3) Memberi pengalaman belajar yang adaptif namun belum dipelajari 4) Membantu konseli membuang respons-respons yang lama merusak diri

dan mempelajari respons-respons yang baru yang lebih sehat

5) Konseli belajar perilaku dan mengeliminasi perilaku yang diinginkan 6) Penetapan tujuan dan tingkah laku serta upaya pencapaian sasaran

dilakukan bersama antar konseli dan konselor.

d. Teknik-Teknik Konseling Individu

Agar proses konseling individu berjalan dengan baik maka ada beberapa tahapan-tahapan yang harus dilalui, adapun tahapan-tahapn yang harus dilalui ada 4 tahapan yaitu:

1) Melakukan penilaian (assessment), pada tahap ini konselor dituntut untuk memahami permasalahan yang dimiliki konseli yang mencakup aktivitas nyata baik itu perasaan maupun masalah pikiran konseli 2) Tahap menetapkan tujuan (goal setting), konselor dan konseli

menentukan tujuan konseling sesuai kesepakatan bersama berdasarkan informasi yang telah disusun.

19 Latipun, Psikologi Konseling, (Malang: UPTUMN, 2008), hlm. 137

(27)

3) Tahap penetapan teknik (techniques implementation), yaitu menentukan dan melaksanakan teknik konseling yang digunakan untuk mencapai tingkah laku yang diinginkan yang menjadi tujuan konseling 4) Evaluasi dan pengakhiran (evaluation termination), yaitu proses yang berkesinambungan, yang di mana evaluasi dibuat agar konselor mengetahui sejauh mana perubahan yang terjadi pada diri klien sebagai hasil dari proses konseling serta melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan konseling yang telah dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling.20

Tahapan-tahapan tersebut saling berkaitan satu sama lain, sehingga konselor dan konseli diharapkan memperhatikan tahapan-tahapan yang ada, sehingga proses konseling individu berjalan dengan baik.

3. Implikasi dzikir

a. Pengertian Implikasi dzikir

Implikasi adalah upaya pengobatan yang ditunjukan untuk penyembuhan kondisi psikologis. Implikasi juga dapat berarti upaya sistematis dan terencana dalam menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi klien21 dengan tujuan mengembalikan, memelihara, menjaga, dan mengembangkan kondisi klien agar akal dan hatinya berada dalam kondisi dan posisi yang proposional.

20 Komalasari Gantina, Teori dan Teknik Konseling, (Jakarta: PT Indeks, 2011) hlm. 150

21 M. Sholihin, Terapi Sufistik, (Bandung : Pustaka Setia, 2004), hlm. 82-83

(28)

Dzikir secara bahasa berakar dari kata dzakara yang artinya mengingat, mengenang, memperhatikan, mengenal, mengerti dan mengambil pelajaran, dalam Alquran dimaksudkan dzikir Allah yang artinya mengingat Allah. Dzikir biasa dilakukan dengan merenung dan mengucapkan lafadz-lafadz Allah. Dzikir juga dapat dikatakan latihan spiritual untuk menghadirkan Allah dalam hati manusia dengan menyebut- nyebut nama dan sifat Allah.22

Adapun secara literal dzikir berarti mengingat, merupakan amaliah yang terkait dengan ibadah ritual lainnya. Dzikir juga dapat dikatakan sebagai suatu bentuk kesadaran yang dimiliki seseorang dalam menjalin hubungan dengan sang pencipta.23

Dari penjelasan implikasi dan dzikir diatas dapat disimpulkan bahwa implikasi dzikir adalah proses mengobati penyakit psikologis dengan mengingat keagungan Allah SWT dengan cara membaca lafadz tertentu dan disertai dengan perenungan terhadap petunjuk yang Allah tampakkan.

b. Tujuan Implikasi dzikir

Seseorang dikatakan sehat, apabila tidak ada gangguan fisik, psikis maupun sosialnya. Sebagaimana menurut undang-undang pokok kesehatan, bahwa pengertian sehat adalah “keadaan yang meliputi

22 Olivia Dwi Kumala, Efektivitas Pelatihan Dzikir dalam Meningkatkan Ketenangan Jiwa pada Lansia Penderita Hipertensi, PSYMPATHIC : Jurnal Ilmiah Psikologi, Volume 4, Nomor 1, 2017, hlm. 58

23 Subandi, Psikologi Dzikir: Fenomenologi Dzikir Tawakal Pengalaman Transformasi Religius, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hlm. 19.

(29)

kesehatan badan, mental dan sosial dan bukan hanya bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan. Dalam Islam, jiwa yang sehat, terdapat dalam tubuh yang sehat. Stress, kecemasan dan kemarahan apabila terjadi secara terus menerus berdampak langsung pada kesehatan.24

Karena itulah implikasi dzikir bertujuan untuk menyembuhkan keadaan patologis seseorang. Dzikir bertujuan memperbaiki kondisi mental seseorang yang terguncang karena alasan tertentu.

c. Manfaat Implikasi dzikir

Menurut Anshori dzikir bermanfaat mengontrol perilaku.

Pengaruh yang ditimbulkan secara konstan, akan mampu mengontrol prilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang melupakan dzikir atau lupa kepada Tuhan, terkadang tanpa sadar dapat berbuat maksiat, namun mana kala ingat kepada Tuhan kesadaran akan dirinya sebagai hamba Tuhan akan muncul kembali.25

Implikasi dzikir sangatlah bermanfaat untuk mengatasi penyakit psikis ataupun penyakit sosial yang dialami seseorang. Implikasi dzikir bermanfaat mengobati keguncangan jiwa, kecemasan dan gangguan mental. Zikir adalah metode kesehatan mental. Dalam perspektif Islam, tentu dzikir bermanfaat mendekatkan diri kepada sang pencipta. Dengan kedekatan itu akan menghasilkan konsekuensi ketenangan jiwa dan balasan pahala.

24 Tri Niswati Utami, “Tinjauan Literatur Mekanisme Zikir Terhadap Kesehatan Respons Imunitas”, Jurnal Jumantik, NO. 2 Vo. 1 (Mei 2017) hlm. 107

25 Afif Anshori, Dzikir dan Kedamaian Jiwa, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hlm 33.

(30)

d. Pelaksanaan Implikasi dzikir

Terdapat empat macam bentuk dalam pelaksanaan implikasi dzikir, yakni:

1) Dzikir pikir

Memanfaatkan akal dan pikiran untuk berpikir dan memikirkan tentang tanda-tanda keagungan dan kemaha besaran Allah yang ada di alam semesta, memikirkan tentang diri kita sendiri, membaca Al-qur’an dan meresapin dalam hati, adalah salah satu bentuk dari dzikir kepada Allah yakni “Dzikir pikir”

2) Dzikir dengan lisan

Dzikir yang diucapkan dengan lisan dengan mengucapkan sanjungan pujian kepada Allah dan dapat didengarkan oleh telinga.

Baik oleh orang yang bersangkutan maupun orang lain.

3) Dzikir dangan hati

Aktivitas dzikir yang mengingat Allah yang dilakukan dengan hati atau qalbu saja, artinya sebutan itu dilakukan dengan ingatan hati. Dzikir qalbu juga dapat dimaknai dengan melaksanakan dzikir dengan lidah dan hati, maksudnya lidah menyebut lafadz dzikir dengan suara yang pelan dan hati mengingat dengan meresapi maknanya. Dzikir dengan hati adalah dzikir yang baik dan utama, karena dzikir dengan cara ini dapat mengantarkan kita untuk lebih khusyuk, terhindar dari bahaya riya’ dan memberikan kesan yang mendalam.

4) Dzikir dengan amal

(31)

Yang dimaksud dzikir amal adalah setiap perbuatan atau aktivitas seseorang yang baik dan dapat mengantarkannya untuk teringat kepada Allah atau sebagai tindakan yang didasarkan pada aturan dan ketentuan Allah. Dzikir secara amaliah ini terwujud dalam bentuk kesediaan kita untuk menjadikan Allah sebagai sumber utama dan motivasi dari setiap aktivitas dan tindakan yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.

H. METODOLOGI PENELITIAN

Metodologi penelitian adalah proses, prinsip, dan prosedur yang kita gunakan untuk mendekati problem dan mencari jawaban, dengan ungkapan lain, metodologi adalah suatu pendekatan umum untuk mengkaji topik penelitian.26

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Untuk memperoleh data dan temuan, peneliti menggunakan suatu desain atau pendekatan penelitian yang disebut sebagai pendekatan kualitatif.

Pendekatan ini langsung menuju (setting) lingkungan, dan individu- individu dalam setting tersebut. Semua itu tidak dapat dipisahkan menjadi satu variabel, melainkan lebih dipandang sebagai suatu bagian dari satu keseluruhan. Di dalam melakukan kegiatan, maka peneliti dapat memperoleh data yang obyektif dan sistematis, untuk memecahkan dan mengembangkan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh peneliti, dengan demikian peneliti

26 Dedy Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif , (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2004), hlm. 145

(32)

dapat mempertimbangkan bahwa dengan mengadakan penelitian data yang belum diperoleh dapat dilihat dan ditulis dengan mengadakan pendekatan penelitian.

Proses penelitian kualitatif lazimnya menggunakan proses yang berbentuk siklus, bukan linear sebagaimana halnya pendekatan penelitian yang bersifat deduktif-hipotesis, positivistic, empirik-behavioralistik, atomistik, dan universalitik. Dalam penelitian kualitatif, siklus penelitian dimulai dengan memilih projek penelitian. Kemudian diteruskan dengan mengajukan pertanyaanpertanyaan yang berkaitan dengan projek penelitian, seterusnya mengumpulkan data yang menyangkut pertanyaan-pertanyaan dimaksud tadi, menyusun catatan data yang telah dikumpulkan, dan menganalisisnya. Proses ini berlangsung berulang beberapa kali, bergantung pada lingkup dan kedalaman yang diperlukan dari pertanyaan-pertanyaan penelitian itu sendiri.27

Sedangkan jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah jenis penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif bertujuan untuk memperoleh informasi-informasi mengenai keadaan yang ada pada saat ini dan tidak menguji hipotesa atau tidak menggunakan hipotesa melainkan hanya mendeskripsikan informasi apa adanya sesuai dengan variabel-variabel yang diteliti. dalam laporan hasil penelitian diungkapkan secara apa adanya dalam bentuk uraian naratif.

27 Hardani, S.Pd.,M.Si.,dkk., Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif, (Yogyakarta: CV.

Pustaka Ilmu Group, 2020), hlm. 21

(33)

Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan konseling individu dan implikasi dzikir dalam meningkatkan disiplin siswa. Sebelum konseling individu dan implikasi dzikir dilakukan peneliti akan mencari tahu lebih dalam bagaimana praktek konseling yang dilakukan selama ini pada setting penelitian. Untuk mendapatkan hasil yang baik tentu memerlukan data-data yang mampu memberikan jawaban yang memuaskan baik bagi masyarakat maupun peneliti sendiri. Penelitian ini dilakukan secara bertahap, dengan tahapan-tahapan sebagai berikut :

a. Tahap orientasi, yaitu untuk mendapatkan gambaran tentang permasalahan-permasalahan yang akan diteliti, subyek peneliti, serta keadaan lokasi penelitian

b. Tahap eksploitasi fokus, yaitu tahap menyusun petunjuk memperoleh data seperti petunjuk wawancara dan pengamatan terhadap pengumpulan data serta tahap pembuatan laporan hasil penelitian.

c. Tahap pengecekan dan pemeriksaan data, tahap ini dimaksudkan untuk menjamin dan meningkatkan derajat keabsahan dan kredibilitas data.28 2. Jenis dan Sumber Data

Penelitian akan kurang valid jika tidak ditemukan jenis data dan sumber datanya. Adapun jenis data pada penelitian ini yaitu:

a. Jenis Data

28 Dedy Mulyana, Metodologi Penelitian Kualitatif , Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2004, hal. 145

(34)

1) Data Primer adalah data yang langsung diambil dari sumber pertama di lapangan seperti hasil dari wawancara dan observasi kepada konseli.

Dimana data-data yang diambil adalah hasil dari observasi di lapangan, seperti faktor yang menyebabkan konseli kurang disiplin, perilaku konseli sehari-hari, permasalahan terhadap keluarga konseli, dan harapan yang diinginkan konseli untuk kedepannya. Data primer ini akan dideskripsikan dalam bentuk kata-kata (verbal)

2) Data Sekunder, adalah data yang diperoleh dari wawancara dengan orang-orang terdekat klien dan pengamatan peneliti sebagai kelengkapan data primer.Data ini dapat diambil dari gambaran lokasi penelitian, keadaan lingkungan klien, perilaku klien terhadap keluarga maupun teman dan riwayat pendidikan klien.

b. Sumber Data

Untuk mendapatkan keterangan dan informasi penelitian harus mendapatkan informasi dari sumber data. Sumber data merupakan suatu subjek dari mana data diperoleh. Adapaun yang akan dijadikan sumber data adalah:

1) Sumber Data Primer, yaitu sumber data yang diperoleh peneliti langsung dari klien, dimana peneliti memperoleh data tersebut dengan memberikan konseling behavioural dan implikasi dzikir untuk meningkatkan kedisiplinan.

2) Sumber Data Sekunder, yaitu data-data yang diperoleh dari orang lain yang digunakan untuk mendukung dan melengkapi dari data primer.

(35)

Informan tersebut, yakni orangtua, teman klien, keluarga, dan guru- guru klien.

3. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian merupakan tempat dimana penelitian nantinya berlangsung. Tahap menetapkan lokasi penelitian merupakan hal yang sangat penting dalam penelitian kualitatif, karena dengan ditetapkannya lokasi penelitian berarti objek dan tujuan penelitian sudah ditetntukan sehingga mempermudah peneliti melakukan penelitian. Lokasi ini bisa di suatu daerah atau di lembaga tertentu dalam masyarakat. Dalam memperoleh data primer, lokasi penelitian ditetapkan di SMPN 1 Wanasaba Lombok Timur.

Dalam penelitian ini, ada beberapa data sekunder yang berusaha didapatkan oleh peneliti. Lokasi penelitian untuk mendapatkan data sekunder terletak di wilayah desa Wanasaba kecamatan Wanasaba kabupaten Lombok Timur. Peneliti akan menggali informasi dari kondisi lingkungan tempat tinggal konseli. Di lokasi tersebut peneliti akan mewawancarai beberapa orang untuk menggali lebih dalam latar belakang konseli.

4. Prosedur Pengumpulan Data a. Observasi

Observasi merupakan metode pengumpulan data yang menggunakan pengamatan terhadap obyek penelitian baik secara langsung terhadap gejala-gejala subjek, maupun observasi tidak langsung yaitu pengamatan yang dilakukan melalui perantara atau alat, dan pelaksanaannya dapat berlangsung di dalam situasi yang sebenarnya

(36)

ataupun situasi buatan. Observasi adalah alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala- gejala yang diselidiki.29

Pada dasarnya, tujuan dari observasi adalah untuk mendiskripsikan lingkungan yang diamati, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, individu- individu yang terlibat dalam lingkungan tersebut beserta aktivitas dan perilaku yang dimunculkan, serta makna kejadian berdasarkan perspektif individu yang terlibat tersebut.30

Dengan menggunakan metode observasi ini peneliti ingin melihat langsung bagaimana kondisi sekolah, tempat tinggal konseling, dan tempat-tempat pergaulan konseling sehari-hari. Peneliti akan melakukan proses konseling langsung secara tatap muka dengan konseling.

Metode observasi ini digunakan untuk membantu konselor memahami lebih dalam bagaimana kondisi konseling dilihat dari berbagai segi. Dengan begitu proses konseling akan berjalan baik, dan hasilnya pun akan memuaskan.

b. Metode Wawancara

Wawancara atau interview merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara tanya jawab, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan sumber data, dan agar dapat

29 Cholid Narbuko, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004) hlm. 70.

30 Haris Herdiansyah, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Jakarta: PT. Gramedia, 2002), hlm. 116.

(37)

memperoleh data yang optimal hendaknya disusun pedoman wawancara terlebih dahulu sehingga pertanyaan yang diajukan terarah.

Wawancara ialah tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih secara langsung atau percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Maksud mengadakan wawancara, antara lain: mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, kegiatan, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian dan lain- lain.31

Pada penelitian ini peneliti akan menggunakan wawancara tak berstruktur, dalam artian peneliti mengajukan pertanyaan- pertanyaan dengan bebas dan leluasa tanpa terikat oleh suatu susunan pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya dan dapat dengan mudah menggali informasi dan membuat konseling nyaman dalam proses wawancara.

Peneliti akan melakukan wawancara secara langsung terhadap sumber data sekunder seperti orangtua, keluarga, teman, guru klien, dan klien sendiri. Dari hasil wawancara tersebut peneliti mencatat semua hasil pembicaraan. Seperti aktivitas konseli sehari-hari baik di rumah, sekolah, maupun bersama teman-temannya.

31 Hardani, S.Pd.,M.Si.,dkk., Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif, (Yogyakarta: CV.

Pustaka Ilmu Group, 2020), hlm. 137

(38)

Wawancara yang akan ditanyakan sebelum proses pemberian implikasi dzikir untuk meningkatkan disiplin siswa seperti kegiatan sehari- hari klien, jadwal istrahat klien pada malam hari, jadwal belajar klien, minat belajar konseli serta kegiatan konseli yang dilakukan ketika nongkrong bersama teman-teman konseli.

c. Metode Dokumentasi

Dokumentasi berasal dari kata dokumen yang berarti barang- barang tertulis. Jadi, dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, agenda, dan sebagainya.32

Data yang dikumpulkan dengan teknik dokumentasi cenderung merupakan data sekunder, sedangkan data yang dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, angket cenderung merupakan data primer atau data yang langsung didapatkan dari pihak pertama.

Data yang akan dikumpulkan dengan metode dokumentasi ini adalah data-data tentang letak geografis lingkungan yang biasa didapatkan di kantor, struktur kepengurusan organisasi, program konseling yang diterapkan, dan data-data pendukung lainnya yang berkaitan dengan penelitian.

32 Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1997) hlm. 236.

(39)

5. Analisis Data

Setelah data yang diperlukan terkumpul dengan menggunakan Teknik pengumpulan data yang ditetapkan, maka aktivitas selanjutnya adalah melakukan analisis data. Data mentah yang dikumpulkan peneliti di lapangan akan ada gunanya setelah dianalisa, analisa data adalah sangat penting dalam penelitian, karena setelah dianalisalah data yang ada akan nampak manfaatnya terutama dalam memecahkan masalah penelitian dan mencapai akhir tujuan penelitian.

Pada pokoknya pengolahan data atau analisis data ada dua cara, yang tergantung pada datanya, yaitu analisis non statistik, dan analisis statistik.

Analisis non statistic dilakukan terhadap data kualitatif. Dalam hal ini penelitian kualitatif mengajak seseorang untuk mempelajari sesuatu masalah yang ingin diteliti secara mendasar dan mendalam sampai ke akar-akarnya.

Masalah dilihat dari berbagai segi. Data yang dikumpulkan bukanlah secara random atau mekanik, tetapi dikuasai oleh pengembangan hipotesis.33

Pada penelitian bersifat study kasus, untuk itu analisa data yang digunakan adalah tekhnik analisis deskriptif komparatif, yakni setelah data terkumpul dan diolah maka langkah selanjutnya adalah menganalisa data tersebut. Pada analisis data ini dilakukan dengan dua langkah, yaitu:

a. Teknik analisis data dengan menjelaskan hasil dari perbandingan proses implikasi dzikir secara teoritik maupun implikasi dzikir yang dilakukan di

33 Drs. Salim, M.Pd. & Drs. Syahrun, M.Pd., Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung:

Cita Pustaka Media, 2007) hlm. 144

(40)

lapangan. Tekhnik analisis data dalam melihat hasil penelitian dengan cara membandingkan hasil akhir dari pelaksanaan implikasi dzikir untuk meningkatkan kedisiplinan siswa.

b. Apakah terdapat perbedaan kondisi, sikap, dan kepribadian antara sebelum dan sesudah melakukan terapi.

6. Kredibilitas Data

Kredibilitas merupakan konsep penting yang diperbaharui dan konsep kesahihan (validitas) dan keandalan (realibilitas), menurut versi “positifisme”

dan disesuaikan dengan ketentuan pengetahuan kriteria dan paradigma itu sendiri.34

Tekhnik keabsahan data merupakan factor yang menentukan dalam penelitian kualitatif untuk mendapatkan data yang valid. Dalam penelitian ini, peneliti memakai tekhnik keabsahan data sebagai berikut:

a. Perpanjangan Pengamatan

Lamanya waktu keikutsertaan peneliti dalam pengumpulan serta dalam meningkatkan derajat kepercayaan data yang dilakukan dalam waktu yang relatif panjang. Keikutsertaan peneliti sangat menentukan keabsahan dalam pengumpulan data.

Keikutsertaan tersebut tidak hanya dilakukan dalam waktu singkat, tetapi memerlukan perpanjangan keikut sertaan pada penelitian.

34 Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 1988) hlm.

171

(41)

Keikutsertaan dimaksudkan untuk membangun kepercayaan terhadap peneliti dan juga kepercayaan diri peneliti sendiri.

b. Ketekunan Pengamatan

Bermaksud menentukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau isu yang sedang dicari dan kemudian memusatkan pada hal-hal tersebut secara rinci. Ketekunan pengamatan sangat diperlukan dalam sebuah penelitian agar data yang diperoleh bisa dipertanggungjawabkan dan dapat diuji kebenarannya.

c. Triangulasi

Triangulasi ialah Teknik pemeriksaan keabsahan data dapat memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data yang diperoleh dari penggunaan Teknik pengumpulan data.35

Teknik pemeriksaan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pemeriksaan atau sebagai perbandingan terhadap suatu data. Peneliti memeriksa data-data yang diperoleh dengan subjek peneliti, baik melalui wawancara maupun pengamatan, kemudian data tersebut peneliti bandingkan dengan data yang ada di luar yaitu sumber lain, sehingga keabsahan data bisa dipertanggung jawabkan.

Dalam metode triangulasi ini peneliti akan melakukan beberapa hal yang didapatkan dari lapangan dengan membandingkan data-data yang

35 Drs. Salim, M.Pd. & Drs. Syahrun, M.Pd., Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung:

Cita Pustaka Media, 2007) hlm. 166.

(42)

diperoleh melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan cara:

1) Peneliti membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara peniliti dengan sumber data atau informan.

2) Peneliti membandingkan informasi dari orangtua, saudara kandung, dan teman terdekat konseli.

3) Peneliti membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan dan yang sudah didapatkan peneliti di lapangan.

4) Peneliti membandingkan apa yang dikatakan dari orangtua, saudara kandung dan teman terdekat konseli mengenai situasi penelitian dengan apa yang dikatakan secara pribadi.

I. SISTEMATIKA PEMBAHASAN

Sistematika pembahasan ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran isi skripsi. Sisematika pembahasan dalam penyusunan skripsi dengan judul Konseling individu dan Implikasi dzikir dalam Meningkatkan Kedisiplinan Siswa di SMPN 1 Wanasaba dibagi dalam tiga bagian, yaitu bagian awal, bagian inti, dan bagian akhir.

Bagian awal terdiri dari halaman judul, halaman surat pernyataan keaslian, halaman surat keterangan, halaman persetujuan pembimbing, halaman pengesahan, halaman persembahan, halaman kata pengantar, halaman daftar isi, halaman daftar gambar, dan halaman daftar lampiran.

Bagian inti berisi uraian penelitian mulai dari bagian pendahuluan sampai bagian penutup yang tertuang dalam bab-bab sebagai satu kesatuan. Pada

(43)

skripsi ini peneliti menuangkan hasil penelitian dalam empat bab. Pada tiap bab terdapat sub-sub bab yang menjelaskan pokok bahasan dari bab yang bersangkutan.

Bab I pendahuluan skripsi, berisi gambaran umum penelitian skripsi, yang meliputi latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, kajian pustaka, landasan teori, metode penelitian, dan sistematika pembahasan sebagai pedoman untuk penelitian lebih lanjut.

Pada Bab II Penyajian data terdiri dari: Deskriptif Umum Objek Penelitian. Deskripsi Umum Objek Penelitian Membahas Tentang: Gambaran Lokasi Penelitian. Deskripsi obyek penelitian yang meliputi:(Deskripsi konselor, deskripsi konseli, deskripsi masalah dan selanjutnya deskripsi hasil penelitian yang berisi tentang: ciri siswa yang mempunyai kedisiplinan, proses konseling behavioural dan implikasi dzikir untuk meningkatkan kedisiplinan siswa di SMPN 1 Wanasaba Lombok Timur, dan hasil proses konseling behavioural dan implikasi dzikir untuk meningkatkan kedisiplinan siswa di SMPN 1 Wanasaba Lombok Timur

Setelah membahas gambaran umum setting penelitian, pada bab III berisi Analisis data mengenai tentang faktor yang mempengaruhi kurangnya kedisiplinan siswa, proses Penerapan konseling behavioural dan implikasi dzikir dalam Meningkatkan motivasi belajar pada siswa di SMPN 1 Wanasaba Lombok Timur dan Hasil Proses konseling behavioural dan implikasi dzikir dalam Meningkatkan kedisiplinan siswa di SMPN 1 Wanasaba Lombok Timur seperti

(44)

identifikasi masalah, diagnosis, prognosis, treatment, dan follow up. Dan analisis keberhasilan dalam proses konseling.

Adapun bagian terakhir dari bagian inti adalah bab IV yaitu bagian penutup yang memuat kesimpulan, saran dan kata penutup.

Bagian akhir dari skripsi ini terdiri dari daftar pustaka, berbagai lampiran yang berkaitan dengan penelitian, dan riwayat peneliti.

(45)

BAB II

PEMAPARAN DATA DAN TEMUAN

A. DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di SMPN 1 Wanasaba Lombok Timur. Sekolah tersebut beralamat di desa Mamben Daya, kecamatan Wanasaba, kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini berfokus pada siswa yang duduk di kelas 8.

Selain lokasi penelitian utama di sekolah, peneliti juga menjadikan beberapa tempat sebagai lokasi penelitian. Tempat-tempat tersebut merupakan letak kediaman tiga orang siswa yang menjadi konseli. Diantaranya adalah dusun Renga desa Mamben Daya dan dusun Lengkong Embuk desa Mamben Lauq, keduanya berada di kecamatan Wanasaba kabupaten Lombok Timur provinsi NTB.

B. DESKRIPSI KENSELOR DAN KONSELI

Konselor adalah seorang mahasiswa semester sepuluh prodi Bimbingan Konseling Islam.

1. Identitas Konselor a. Biodata Konselor

No. Biodata Konselor

1. Nama Lengkap Amrullah

2. NIM 160303070

3. Tempat, Tanggal Lahir Wanasaba, 20 Juni 1997

(46)

4. Jurusan Bimbingan Konseling Islam 5. Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi 6. Perguruan tinggi UIN Mataram

7. Umur 23 tahun

8. Jenis Kelamin Laki-laki

9. Agama Islam

10. Alamat Keroya, kec. Aikmel, Lombok Timur

2. Identitas Konseli

a. Biodata Konseli Pertama

No. Biodata Konseli

1. Nama Lengkap Adi Wahyudi

2. Tempat, Tanggal Lahir Wanasaba, 12-03-2007

3. Umur 14 tahun

4. Jenis Kelamin Laki-laki

5. Agama Islam

6. Alamat Dusun Renga, desa Mamben Daya, Lombok Timur

Latar Belakang Konseli dan Masalah Kedisiplinan Konseli :

Konseli pertama adalah anak kedua dari tiga bersaudara, konseli memiliki satu kakak dan satu adik, kakak pertama sudah berkeluarga dan memiliki satu anak dan adiknya masih menduduki sekolah dasar kelas

(47)

empat. Semua saudara konseli berjenis kelamin perempuan, konseli tinggal bersama bapak, ibu, nenek dan adiknya. Bapak Konseli bekerja sebagai tukang ojek di pasar tradisional. Kedua orang tua konseli termasuk kurang berpendidikan, keduanya merupakan lulusan sekolah dasar.

Saat ini konseli tinggal dengan orang tuanya di rumah neneknya.

Konseli berasal dari keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah.

Konseli beragama Islam, akan tetapi dari segi ibadah konseli masih dikatakan minim karena masih ada beberapa sholat yang bolong. Orang tua konseli beragama Islam namun dari segi beribadah bapak konseli hampir sama dengan konseli, nenek konseli termasuk orang yang taat beragama.

Konseli pertama sering terlambat datang ke sekolah. Konseli juga seringkali tidak tertib saat pembelajaran di kelas sedang berlangsung.

Konseli juga sering bersikap tidak baik dengan teman sekelasnya.

b. Biodata Konseli Kedua

No. Biodata Konseli

1. Nama Lengkap Samsul Hadi

2. Tempat, Tanggal Lahir Wanasaba, 21-05-2007

3. Umur 14 tahun

4. Jenis Kelamin Laki-laki

5. Agama Islam

6. Alamat Dusun Lengkok Embuk, desa Mamben

Lauq, Lombok Timur

(48)

Latar Belakang Konseli dan Masalah Kedisiplinan Konseli:

Konseli kedua adalah anak ketiga dari tiga bersaudara, konseli memiliki dua kakak, kedua kakak konseli sudah berkeluarga. Kakak pertama berjenis kelamin laki-laki dan kakak kedua berjenis kelamin perempuan. Konseli tinggal bersama bapak dan ibunya. Bapak Konseli bekerja sebagai pedagang sayur di pasar tradisional dan ibunya seorang ibu rumah tangga. Kedua orang tua konseli termasuk kurang berpendidikan, keduanya merupakan lulusan sekolah dasar.

Konseli berasal dari keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah. Konseli beragama Islam, akan tetapi dari segi ibadah konseli masih dikatakan minim karena masih ada beberapa sholat yang bolong.

Konseli kedua sering terlambat datang ke sekolah. Konseli juga seringkali tidak tertib saat pembelajaran di kelas sedang berlangsung.

Konseli juga sering bersikap tidak baik dengan teman sekelasnya. Konseli juga pernah kedapatan merokok.

c. Biodata Konseli Ketiga

No. Biodata Konseli

1. Nama Lengkap Fahri Rahman

2. Tempat, Tanggal Lahir Wanasaba, 07-01-2007

3. Umur 14 tahun

4. Jenis Kelamin Laki-laki

5. Agama Islam

(49)

6. Alamat Dusun Renga, desa Mamben Daya, Lombok Timur

Latar Belakang Konseli dan Masalah Kedisiplinan Konseli:

Konseli ketiga adalah anak tunggal, Bapak Konseli bekerja sebagai pegawai swasta, sedangkan ibunya berjualan nasi di rumah. Bapak konseli merupakan lulusan SMP sedangkan ibunya hanya menamatkan sekolah di bangku SD.

Saat ini konseli tinggal bersama kedua orang tuanya. Kondisi ekonomi keluarga konseli cukup sederhana. Konseli beragama Islam, akan tetapi dari segi ibadah konseli masih dikatakan minim karena masih ada beberapa sholat yang bolong. Orang tua konseli beragama Islam namun jarang memperhatikan intensitas ibadah konseli.

Kondisi lingkungan tempat tinggal konseli terbilang cukup kondusif. Gotong royong warga disana cukup baik ketika ada acara-acara.

Sekitar rumah konseli, mayoritas merupakan keluarga dengan ekonomi menengah kebawah.

Konseli kedua sering terlambat datang ke sekolah. Konseli juga seringkali tidak tertib saat pembelajaran di kelas sedang berlangsung.

Konseli juga sering bersikap tidak baik dengan teman sekelasnya. Konseli juga pernah kedapatan merokok.

(50)

C. Penyebab Perilaku-Perilaku Kurang Disiplin Ketiga Konseli

Dalam menentukan siswa yang akan dikonseling, peneliti hanya menerima tiga orang siswa dari guru BK. Peneliti menentukan konseli berdasarkan laporan nama-nama yang diberikan guru BK.

Dari beberapa orang yang peneliti wawancarai, seperti guru dan teman konseli, peneliti mendapat beberapa informasi mengenai masalah yang sering dilakukan oleh ketiga siswa tersebut. Ketiganya terbilang sering datang terlambat ke sekolah, bahkan ketiganya juga pernah tdak masuk sekolah tanpa keterangan apapun. Selain itu konseli juga dikatakan tidak tertib ketika berada di dalam kelas. Yang parahnya lagi konseli juga sudah terbilang sering merokok.

Konseli pernah ketahuan merokok di sekolah.36

Saat peneliti mewawancarai teman sekelas konseli, siswa tersebut mengatakan bahwa perilaku konseli kepada teman-temannya juga terbilang kurang baik. Konseli kurang menghargai teman-temannya. Konseli juga masih sering berlaku kurang sopan ketika bertutur kata dengan guru. Sudah beberapa kali sanksi yang diberikan konseli karena pelanggaran yang dilakukannya, namun belum ada perubahan yang signfikan.37

Orang tua Adi Wahyudi mengakui bahwa anaknya memang terlalu banyak main. Adi juga bermain dengan anak-anak yang usianya di atas dia. Jadi wajar kalau dia terpengaruh dengan pergaulan yang keliru.38 Orang Tua Samsul Hadi juga menuturkan hal yang sama bahwa anaknya jarang di rumah, sepulang

36 Hartati (wali kelas vii), Wawancara, 20 Mei 2021

37 Herdi (teman kelas konseli), Wawancara, 20 Mei 2021

38 Orang tua Adi Wahyudi, Wawancara, 24 Mei 2021

(51)

sekolah langsung keluyuran entah bermain kemana dan dengan siapa saja dia tidak tahu.39 Sedangkan orang tua Fahri Rahman mengakui bahwa anaknya terbilang pemalas, karena itulah dia sering terlambat sekolah atau dihukum di sekolah karena pelanggaran lainnya.40

Berdasarkan data yang peneliti dapatkan di lapangan, bahwa yang menyebabkan terjadinya kurangnya disiplin pada konseli dipengaruhi oleh beberapa faktor. Dari hasil observasi beserta wawancara peneliti menemukan beberapa faktor yang menyebabkan kurangnya disiplin pada ketiga konseli.

Adapun fakor yang menyebabkan kurangnya disiplin pada konseli tersebut ialah faktor internal dan eksternal hal ini berdasarkan data temuan. Adapun pemaparan dari peneliti tentang faktor internal dan faktor eksternal yang mempengaruhi disiplin konseli sebagai berikut:

1. Faktor Internal

Siswa yang melanggar disiplin SMPN 1 Wanasaba Lombok Timur kadang-kadang bermasalah dengan dirinya sendiri sehingga menyebabkan siswa tersebut melakukan pelanggaran disiplin. Permasalahan kedisiplinan yang disebabkan oleh faktor internal ini dapat dilihat berdasarkan hasil observasi mulai dari masuk datang sekolah sampai bel jam pulang selesai.

Berikut merupakan jawaban ketiga konseli ketika ditanya mengapa kurang disiplin seringnya datang terlambat:

“Biasanya saya datang terlambat ke sekolah itu dikarenakan jarak rumah saya ke sekolah lumayan jauh dan harus ditempuh dengan berjalan kaki menelusuri sawah, angkutan umum tidak ada yang menuju sekolah,

39 Orang tua Samsul Hadi, Wawancara, 26 Mei 2021

40 Orang tua Fahri Rahman, Wawancara, 27 mei 2021

(52)

orang tua tidak memiliki kendaraan untuk mengantar ke sekolah. Sehingga saya datang ke sekolah jadi terlambat”.41

“Saya sering telat bangun pagi, malamnya tidur agak larut karena keasyikan main game di hp. Orang tua juga jarang membangunkan saya waktu subuh”42

“Sama seperti Adi Wahyudi dan Angga, saya sering telat bangun, ditambah lagi pergi ke sekolah dengan berjalan kaki”43

Dari hasil wawancara beberapa informan atau siswa lainnya mereka juga mengatakan hal yang sama. mereka sulit untuk disiplin disebabkan karena jarak tempuh dari rumah ke sekolah lumayan jauh dan alat transportasi umum ke sekolah jarang walaupun ada juga siswa yang diantar oleh orang tuanya. Dari sini memang jelas terlihat bahwa penyebab kurangnya disiplin siswa karena faktor dari dalam diri konseli itu sendiri.

Selama konseli tidak mengubah perilaku maka siswa akan selamanya menjadi tidak disiplin.

Dian, salah seorang teman konseli mengatakan:

“Rumah saya juga jauh, saya juga jalan kaki, tapi saya tidak pernah terlambat sekolah. Sebenarnya itu kan tergantung kemauan kita aja. Kalau tidak ingin terlambat ya berarti harus siap-siap lebih pagi.”44

2. Faktor Eksternal

Karakter kurang disiplin konseli sebenarnya juga dipengaruhi oleh banyak hal seperti lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat sehingga menyebabkan siswa tersebut melakukan pelanggaran disiplin. Adapun penyebab kurangnya disiplin yang disebabkan oleh Faktor Eksternal yang berasal dari luar diri siswa. Beberapa faktor tersebut adalah :

41 Adi Wahyudi, Wawancara, 2 Juni 2021

42 Samsul Hadi, Wawancara, l 2 Juni 2021

43 Fahri Rahman, wawancara 2 Juni 2021

44 Dian (teman kelas konseli), wawancara, 8 Juni 2021

(53)

a. Guru

Faktor yang menyebabkan kurangnya disiplin pada siswa dapat disebabkan faktor yang ditimbulkan oleh aktivitas, perkataan, dan tindakan dari seorang guru atau tenaga pendidik, adapun penyebab dari kurangnya disiplin siswa yang disebabkan oleh guru akan dipaparkan oleh peneliti, berikut hasil wawancara peneliti dengan salah seorang siswa di Kelas VIII SMPN 1 Wanasaba:

“Dalam belajar di kelas Adi, Samsul, dan Fahri tidak begitu aktif dalam pembelajaran, mungkin karena mereka kurang paham apa yang dijelaskan oleh guru, apalagi guru yang suka marah. Ketiganya juga sering lalai mengerjakan pekerjaan rumah (PR) yang diberikan oleh guru. Mereka sering bercanda atau mengajak teman yang lain bercerita saat guru menerangkan.”.45

Peneliti juga mewawancarai siswa yang lain. Di antara mereka mengatakan guru-guru adalah yang paling bertanggung jawab untuk memperbaiki perilaku kurang disiplin konseli. Tugas guru tidak hanya sekedar menjelaskan materi pembelajaran, melainkan juga memperhatikan dan membimbing siswa untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Semua guru harus bersama-sama maksimal memberikan atensi terhadap perubahan perilaku disiplin siswa. Pendekatannya tidak mesti harus dengan hukuman, melainkan bisa menggunakan metode persuasive dengan memberikan nasehat-nasehat. Ia mengakui bahwa walikelas kelas VII sudah cukup maksimal memberikan bimbingan kepada siswa-

45Wawancara Andini Aulia siswi Kelas VII SMPAN 1 Wanasaba, 2 Juni 2021

(54)

siswanya untuk berdisiplin. Tapi wali kelas saja tidak cukup. semua guru harus bersama-sama melakukan hal yang demikian .46

b. Orang Tua

Siswa yang kurang disiplin di sekolah juga dapat ditimbulkan oleh faktor dari orang tua siswa itu sendiri, kondisi orang tua, perilaku orang tua, dan tindakan orang tua dapat mempengaruhi kedisiplinan siswa dalam pembelajaran di sekolah. Dari hasil observasi dan wawancara ke kediaman ketiga konseli, peneliti mendapatkan kesimpulan yang sama tentang ketiga oran

Gambar

Tabel II

Referensi

Dokumen terkait

Bimbingan dan konseling islam adalah suatu usaha pemberian bantuan kepada individu yang mengalami kesulitan rohaniah baik mental dan spiritual agar

Maka, dari pengertian bimbingan, konseling dan Islamdi atas, peneliti menyimpulkan bahwa pengertian Bimbingan dan Konseling Islam adalah proses pemberian layanan bantuan

Bimbingan konseling Islam merupakan proses pemberian bantuan terhadap individu yang memiliki masalah, yang mana masalah-masalah dalam bidang garapan bimbingan

Dari uraian di atas peneliti menyimpulkan bahwa Bimbingan dan Konseling Islam adalah segala bentuk usaha pemberian bantuan kepada orang lain, baik secara individu maupun

Selanjutnya peneliti mengajukan pertanyaan kepada guru bimbingan dan konseling tentang bagaimana metode yang dilakukan dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling terkait

“Strategi Manajemen Bimbingan Konseling di Sekolah dalam Membina Kedisiplinan SMP 18 Bandar lampung”. Skripsi Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. Rumusan Masalah

25 | C o u n s e l i n g M i l e n i a l J o u r n a l INTERNALISASI NILAI-NILAI BUDAYA JAWA DALAM PELAKSANAAN KONSELING INDIVIDU OLEH GURU BIMBINGAN DAN KONSELING Siti Tri

“Intensitas Dzikir Ratib Al-Haddad Dan Kecerdasan Spiritual Santri.” Irsyad : Jurnal Bimbingan, Penyuluhan, Konseling, dan Psikoterapi Islam 7, no.. Martin, Iwan, Sartini Nuryoto, and