• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep Gender dalam Kesehatan ReproduksiPerempuan

N/A
N/A
SiIvia Nova

Academic year: 2023

Membagikan "Konsep Gender dalam Kesehatan ReproduksiPerempuan"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

Konsep Gender dalam Kesehatan ReproduksiPerempuan

A. Gender dalam Kesehatan Reproduksi perempuan A.1 Pengertian Gender dalam Kesehatan Reproduksi perempuan

Kesehatan reproduksi digambarkan sebagai feminis dengan cara neoliberal yang hanya berfokus pada individu. Asumsi yang berfokus pada berpasangan, cisgender dan heteroseksual dimana secara umum, tidak dianggap reproduksi. Kesehatan reproduksi juga memiliki hubungan dengan infrastruktur kesehatan, ikatan sosial serta masyarakat luas. Identitas gender bukanlah fitur yang melekat pada tubuh tetapi muncul dan berubah sebagai respons terhadap lingkungan. (Evaluation, 2021)

Gender adalah suatu persepsi atau cara pandang manusia terhadap laki-laki atau perempuan yang tidak berdasarkan pada perbedaan jenis kelamin secara

(2)

dalam hal akses, peran, kontrol terhadap kontrol sumber- sumber kehidupan, tanggung jawab, manfaat, hak-hak dan lain-lain (Fatmawati, 2020).

Gender memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan laiki-laki maupun perempuan. Hal ini dapat dirasakan pada ruang lingkup kesehatan reproduksi yaitu sebagai berikut:

1. Masalah kesehatan reproduksi yang terjadi sepanjang siklus hidup manusia seperti pergaulan bebas dan kehamilan pada remaja

2. Rentannya perempuan dalam menghadapi risiko kesehatan reproduksi seperti kehamilan, melahirkan aborsi dan pemakaian alat kontrasepsi dikarenakan struktur alat reproduksi yang rentan secara sosial ataupun biologis terhadap penyakit infeksi menular seksual termasuk HIV/ AIDS

3. Kesehatan reproduksi yang tidak terpisahkan dari hubungan laki-laki dan perempuan. Sangat kurangnya keterlibatan dan motivasi laki-laki dalam keikutsertaan memperhatikan masalah kesehatan reproduksi perempuan.

4. Masalah kesehatan reproduksi pentingnya laki-laki juga memiliki peran dalam menyusun strategi untuk memperbaiki kesehatan reproduksi khususnya yang berkaitan dengan IMS, HIV dan AIDS sesuai dengan pertimbangan kebutuhan, kepedulian dan tanggung jawab.

(3)

5. Lebih banyak dikaitkan kesehatan reproduksi dengan urusan perempuan seperti pada progran keluarga berencana (E Mulyani, D Octaviyanti, 2020)

Kesehatan reproduksi juga dipengaruhi oleh gender, pria dan wanita sama-sama terpengaruh berdasarkan pada penilaian atau anggapan sesuai karakteristik perilaku gender masing-masing. Isu gender yang dianalisis meliputi empat aspek, yaitu: 1) akses; 2) partisipasi; 3) kontrol terhadap sumber daya; dan 4) manfaat(Fithriyah, 2017). Dalam isu gender mencakup siklus kehidupan diantaranya Kesehatan Reproduksi Peka Gender. Pelayanan Kesehatan Reproduksi yang bersikap

“Peka Gender” yaitu:

1. Memberikan pelayanan berkualiatas dan memiliki berbagai jenis pelayananan yang disesuaikan dengan kebutuhan berlaku secara adil tanpa membedakan jenis kelamin dan status sosial.

2. Memberikan pelayanan kesehatan berdasarkan kebutuhan antara laki-laki dan perempuan sesuai dengan kodratnya.

(4)

3. Masyarakat memahami dan menentukan sikap yang baik, antara laki-laki dan perempuan dalam menghadapi penyakit.

4. Memahami tentang perbedaan penyakit yang diderita antara laki- laki dan perempuan

5. Menyesusaikan pelayananan sehingga dapat mengatasi hambatan yang dihadapi baik laki-laki maupun perempuan(Farchiyah et al., 2021)

B. Proses Sosialisasi Gender

Sosiologi gender merupakan bagian dari kajian sosiologi. Dari tahun 1950 banyak literatur dan naskah akademik maupun jurnal yang membahas term gender dan mengidentifikasi maskulinitas dan feminitas. Term ini dikenalkan oleh Money (1955). Di Indonesia kajian tentang gender diawali dengan pembahasan perbedaan gender, ketidakadilan gender, kekerasan gender serta upaya-upaya penyadaran kesetaraan gender dan

(5)

pengarus- utamaan gender. Dalam perspektif sosiologi kajian tentang perbedaan perempuan dan laki-laki dalam konteks sosial telah berkembang sejak kurang lebih seabad lamanya.

Sosiologi gender adalah merupakan kajian tentang gender melalui pertanyaan-pertanyaan berdasarkan perspektif sosiolog, misalnya bagaimana identitas gender dikonstruksi secara sosial, interseksi gender dengan ras, etnisitas, kelas, seksualitas dan dimensi identitas. Juga bagaimana realitas gender dalam keluarga, pendidikan, politik dan ekonomi(Salviana &

Soedarwo, 2016).

Agen sosialisasi gender, termasuk keluarga, teman sebaya, sekolah, media massa, dan agama. Dampak agen- agen ini terhadap sosialisasi secara umum terhadap

(6)

gender sebagai struktur sosial yang sama sebagaimana kita memandang ras.

Keluarga merupakan sebagai salah satu agen sosialisasi seputar gender mulai dari dalam kandungan berdasarkan jenis kelamin. Perbedaan dari perlakuan dan bersikap terhadap anak laki-laki dan perempuan juga dilakukan didalam keluarga. Latar belakang budaya dan agama juga mempengaruhi gender dalam keluarga.

Teman sebaya juga pendukung sosialisasi gender ketika usia sekolah, anak-anak memainkan permainan yang berbeda berdasarkan jenis kelamin mereka. Anak laki-laki cenderung bermain olahraga dan permainan tim kompetitif lainnya yang diatur oleh aturan yang tidak fleksibel. sementara anak perempuan cenderung memainkan permainan kooperatif yang lebih kecil seperti

(7)

permainan jingkat dan lompat tali dengan aturan yang lebih sedikit dan lebih fleksibel.

Sekolah adalah agen sosialisasi gender lainnya, Pertama taman bermain sekolah menyediakan lokasi untuk kegiatan bermain terkait gender. Kedua guru memperlakukan siswa perempuan dan laki-laki secara berbeda, pengaruh sosial pada perilaku guru yang menandakan perbedaan kompetensi untuk anak perempuan dan laki-laki di sekolah.

Media Massa juga merupakan sosialisasi gender dimana untuk karakter dominan adalah laki-laki. Adanya perbedaan dari setiap pemaparan dan menggambarkan karakter untuk laki-laki dan perempuan sesuai dengan maskulin dan feminim. yang menunjukkan bahwa tujuan utama wanita untuk terlihat baik dan menyenangkan,

(8)

sedangkan laki-laki harus memiliki keberhasilan dan kehidupan yang mapan.

Peran gender dimasyarakat mengacu pada perilaku dan sikap serta sifat orang berdasarkan jenis kelamin, namun diharapkan memahami gender dan ras sesuai dengan kontruksi sosial dalam mengembangkan identitas gender. Menjelaskan dan belajar bentuk peran gender mereka sendiri berdasarkan gender, berpendapat bahwa pembelajar aktif pada dasarnya mensosialisasikan diri.

Melalui penguatan, hukuman, dan pemodelan (DeJohnette et al., 2022).

C. Kesehatan Reproduksi Perempuan sebagai Hak azasi Manusia

Konsep Kesehatan Reproduksi Salah satu tujuan dari program penelitian PBB adalah untuk

(9)

mendefinisikan bidang tindakan untuk kerjasama internasional (Benagiano et al., 2012). Sentralitas gender dalam menentukan perilaku mencari kesehatan terutama perempuan sering tidak memprioritaskan kesehatan mereka sendiri demi kesehatan keluarga (Zivot et al., 2020).

Hak-hak reproduksi perempuan merupakan perkembangan dari konsep hak-hak asasi manusia, Masalah reproduksi juga tidak terlepas dari seksualitas dan tubuh manusia. Seksualitas tidak semata-mata dorongan naluri, atau kebutuhan biologis, tetapi merupakan bentuk interaksi sosial atau bersifat relasional. Banyak perempuan yang tidak mengetahui haknya, karena dalam kehidupan perempuan masalah hak sangat langka dibicarakan (Naimah, 2015)

(10)

Menurut Igede Manuaba Masalah kesehatan reproduksi menjadi perhatian bersama dan bukan hanya individu yang bersangkutan, karena dampaknya luas menyangkut berbagai aspek kehidupan dan menjadi parameter kemampuan negara dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat (Amiruddin, 2003).

Hak kesehatan reproduksi adalah perkembangan dari konsep hak asasi manusia. Konsep Hak Asasi Manusia (HAM) menjamin hak wanita atas kedaulatan mental dan fisiknya, untuk bebas dari diskriminasi serta memperoleh tingkat kesehatan yang baik. Indonesia sebagai Negara hukum menjamin hak bagi setiap warga negarana termasuk perempuan.

Hak warga negara Indonesia atas pelayanan kesehatan dijamin dalam Undang- undang Dasar Tahun

(11)

1945 pasal 28 bahwa setiap orang berhak mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan (Suratmin, 1945). Hak atas kesehatan reproduksi juga dijamin dalam Pasal 49 ayat (2) dan (3) Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asazi Manusia (HAM) yang menyebutkan bahwa:

“ (2) Wanita berhak untuk mendapatkan perlindungan khusus dalam pelaksanaan pekerjaan atau profesinya terhadap hal-hal yang dapat mengancam keselamatan dan atau kesehatannya berkenaan dengan fungsi reproduksi wanita.”

“ (3) Hak khusus yang melekat pada diri wanita dikarenakan fungsi reproduksinya, dijamin dan dilindungi oleh hukum.”

(12)

Hak atas pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuan fisik, mental, spiritual, dan sosial dijamin dalam Pasal 8 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlinduang Anak.

Pasal 5 Undang-undamg Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT) yang menyebutkan bahwa: Setiap orang dilarang melakukan kekerasan dalam rumah tangga terhadap orang dalam lingkup rumah tangganya, dengan cara:

a. Kekerasan fisik;

b. Kekerasan Psikis;

c. Kekerasan seksual; atau d. Penelantaran Rumah Tangga.

Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan Pasal 4 menyebutkan “setiap orang berhak

(13)

atas Kesehatan” selanjutnya dalam Pasal 5 menyebutkan

“Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya di bidang kesehatan” Setiap orang berarti tidak memperhatikan jenis kelamin oleh karena itu tidak boleh ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan secara umum.

Peraturan khusus dan terinci tentang kesehatan reproduksi memang belum diatur di Indonesia tetapi Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, (UU Nomor 25 Tahun 2009, 2009). Undang- undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asazi Manusia (HAM) dan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlinduang Anak serta Undang-undamg Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT)dalam pasal-pasalnya

(14)

telah mengatur masalah kesehatan reproduksi secara umum.(Tina Marlina et al., 2022)

Meskipun belum diatur secara khusus dan terperinci namun Pemenuhan hak pelayanan kesehatan reproduksi perempuan telah dijamin dalam konvensi penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan tahun 1979, yang diratifikasi oleh Indonesia, dengan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1984 Tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita (Convention On The Elimination Of All Forms Of Discrimination Against Women (CEDAW)).

Dalam pasal 12 dari CEDAW (Convention On The Elimination Of All Forms Of Discrimination Against Women) 1979 disebutkan:

(15)

1) Negara-negara peserta wajib membuat peraturan- peraturan yang tepat untuk menghapus diskriminasi terhadap wanita dibidang pemeliharaan kesehatan dan supaya menjamin diperolehnya pelayanan kesehatan termasuk pelayanan yang berhubungan dengan keluarga berencana, atas dasar persamaan antara pria dan wanita.

2) Negara-negra peserta wajib menjamin kepada wanita pelayanan yang layak untuk perempuan dalam hubungannya dengan kehamilan, persalinan dan periode pasca persalinan, Apabila perlu menyediakan pelayanan gratis, serta pemberian makanan bergizi yang cukup selama kehamilan dan masa menyusui.

Ketentuan diratifikasinya CEDAW 1979 dengan

(16)

menjamin hak bagi wanita di negara Indonesia untuk mendapatkan pelayanan kesehatan khususnya pelayanan kesehatan reproduksi tanpa adanya diskriminasi. Ketentuan ini menjamin hak perempuan atas kesehatan reproduksinya, agar terlindungi dari berbagai bentuk pelanggaran termasuk kekerasan berbasis gender.(Burrows, 1985)

Kesepakatan dalam konferensi internasional kependudukan dan pembangunan di Cairo tahun 1994, menyebutkan hak-hak reproduksi meliputi:

1. Hak mendapat informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi;

2. Hak mendapat pelayanan dan perlindungan kesehatan reproduksi;

(17)

3. Hak untuk kebebasan berpikir dan membuat keputusan tentang kesehatan reproduksinya;

4. Hak untuk memutuskan jumlah dan jarak kelahiran anak;

5. Hak untuk hidup dan terbebas dari resiko kematian karena kehamilan, kelahiran atau masalah jender 6. Hak atas kebebasan dan keamanan dalam pelayanan

kesehatan reproduksi;

7. Hak untuk bebas dari penganiayaan dan perlakuan buruk yang menyangkut kesehatan reproduksi;

8. Hak mendapatkan manfaat dari hasil kemajuan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan reproduksi;

9. Hak atas kerahasiaan pribadi dalam menjalankan kehidupan reproduksinya;

(18)

10. Hak untuk membangun dan merencanakan keluarga,

11. Hak atas kebebasan berkumpul dan berpartisipasi dalam politik yang bernuansa kesehatan reproduksi,

12. Hak atas kebebasan dari segala bentuk diskriminasi dalam kesehatan reproduksi(Wilopo, 2006).

Hak berkaitan erat dengan kewajiban, maka membahas hak kesehatan reproduksi perempuan akan lebih lengkap apabila juga membahas kewajiban memenuhinya. Berdasarkan Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan, yang mempunyai kewajiban untuk menjaga dan memelihara kesehatan reproduksi perempuan sebagai berikut:

1. Perempuan itu sendiri 2. Keluarga

(19)

3. Masyarakat, dalam Pasal 9 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009

4. Pemerintah, berdasarkan Pasal 14” Pemerintah bertanggung jawab merencanakan, mengatur, menyelenggarakan, membina, dan mengawasi penyelenggaraan upaya kesehatan yang merata dan terjangkau oleh masyarakat” Upaya kesehatan dalam pasal ini tentunya termasuk upaya kesehatan reproduksi bagi perempuan. Sebagaimana disebutkan dalam pasal 48 ayat 1 poin (e) Undang- undang Kesehatan bahwa Penyelenggaraan upaya kesehatan salah satunya adalah kesehatan reproduksi.

D. Upaya Mewujudkan Kesetaraan dan Keadilan Gender

(20)

Memprioritaskan pertimbangan gender terkait kesehatan perlu adanya kebijakan dan program kesehatan masyarakat serta perawatan kesehatan yang berbasis masyarakat (Zivot et al., 2020). Kewajiban pemerintah juga terdapat dalam hasil Konferensi International tentang kependudukan dan pembangunan (International Conference on Population and Development- ICPD) di kairo tahun 1994, yang terdiri atas sepuluh program kesehatan reproduksi, berupa kesehatan primer yang harus diperhatikan oleh semua negara, termasuk Indonesia, yaitu :

1. Pelayanan sebelum, semasa kehamilan dan pasca kehamilan;

2. Pelayanan kemandulan;

3. Pelayanan Keluarga Berencana (KB) yang optimal;

4. Pelayanan dan penyuluhan HIV/AIDS;

(21)

5. Pelayanan Aborsi;

6. Pelayanan dan pemberian Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi;

7. Pelayanan kesehatan seksual dan reproduksi remaja;

8. Tanggung jawab keluarga;

9. Peniadaan sunat dan mutilasi anak perempuan dan 10. Pelayanan kesehatan lansia.

7 Aksi Dalam Millenium Project Task Force in Education and Gender Equility:

1. Memperkuat akses anak perempuan untuk mendapat pendidikan dasar sembilan tahun;

2. Menjamin hak-hak dasar reproduksi dan seksual perempuan;

3. Membangun infrastruktur untuk mengurangi beban

(22)

4. Menjamin hak waris dan hak kepemilikan properti perempuan dan anak perempuan;

5. Menjamin tak ada diskriminasi terhadap perempuan dalam pekerjaan;

6. Menjamin keterwakilan perempuan dalam parlemen dan pemerintah daerah;

7. Meningkatkan upaya penghapusan kekerasann terhadap perempuan dan anak perempuan(Grown, 2005).

(23)

E. Daftar Pustaka

Amiruddin, M. (2003). Kesehatan dan hak reproduksi perempuan: panduan untuk jurnalis (1st ed.). Yayasan Jurnal Perempuan dan Japan Foundation Indonesia.

Benagiano, G., D’Arcangues, C., Harris Requejo, J., Schafer, A., Say, L., & Merialdi, M. (2012). The special programme of research in human reproduction: Forty years of activities to achieve reproductive health for all.

Gynecologic and Obstetric Investigation, 74(3), 190–217.

https://doi.org/10.1159/000343067

Burrows, N. (1985). The 1979 Convention on the Elimination of all Forms of Discrimination Against Women.

Netherlands International Law Review.

https://doi.org/10.1017/S0165070X00011074

DeJohnette, Mi., Harper, M., Porter, N., Romero, L., Ledford, T., & Stephens, C. (2022). CHILDHOOD Child Family

(24)

od_Education/Child_Family_Community

%3A_The_Socialization_of_Diverse_Children/08%3A_Cont emporary_Issues_for_Children_and_Families/8.05%3A_Ge nder_Socialization

E Mulyani, D Octaviyanti, R. E. S. (2020). Buku Ajar Kesehatan Reproduksi Wanita (M. AqliRosiful, Ed.; I).

literasi Nusantara.

Evaluation, R. (2021). Skills building seminar : How to operationalise ‘ masculinities ’ in gender-transformative reproductive healthcare ? 8 . M . Round table : The Why , the How , and the Tensions in the response of European SPHs to the 2020 COVID-19 pandemic. 1, 223–224.

Farchiyah, F., Sukmawan, R. F., Septika, T., Purba, K., Studi, P., Industri, T., Teknik, F., Jakarta, U. S., Dalam, M., &

Selatan, J. (2021). KESEHATAN REPRODUKSI PEREMPUAN DI INDONESIA. 73–83.

Fatmawati, B. S. (Ed.). (2020). Sosiologi Gender. Sinar Grafika Offset.

Fithriyah, F. (2017). Indonesia’s Experience: Implementing Gender Responsive Planning and Budgeting. Jurnal Perencanaan Pembangunan: The Indonesian Journal of

Development Planning, 1(1), 59–75.

https://doi.org/10.36574/jpp.v1i1.9

Gender, K., Lingkup, D., Dan, P., & Ponorogo, I. (2020).

SOSIAL Yuni Sulistyowati PENDAHULUAN Berbicara soal gender tentunya bukan momok yang asing lagi . Maraknya gerakan dan tuntukan terkait keadilan dan kesetaraan gender antara laki-laki dan perempun telah divokalkan diseluruh belahan dunia . Di Indonesia 2 . 1(2), 1–14.

Grown, C. (2005). Answering the skeptics: Achieving gender equality and the Millennium Development Goals.

(25)

Development, 48(3), 82–86.

https://doi.org/10.1057/palgrave.development.1100170 Naimah, N. (2015). Perlindungan Hukum Terhadap Hak

Kesehatan Reproduksi Perempuan Dari Kekerasan Berbasis Gender. Egalita, 10(1), 1–10.

https://doi.org/10.18860/egalita.v10i1.4538

Salviana, V., & Soedarwo, D. (2016). Pengertian Gender dan

Sosialisasi Gender. Sosiologi.

http://repository.ut.ac.id/4666/1/SOSI4418-M1.pdf

Suratmin. (1945). Undang- undang Dasar Tahun 1945 pasal 28. 105(3), 129–133.

Tina Marlina, Montisa Mariana, & Irma Maulida. (2022).

Sosialisasi Undang-Undang Nomer 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

Abdimas Awang Long, 5(2), 67–73.

https://doi.org/10.56301/awal.v5i1.442

UU Nomor 25 Tahun 2009. (2009). وةقاطلا رداصم No Titleةئيبلا ثولت. UU Nomor 25 Tahun 2009, 57, 3.

Wilopo, S. A. (2006). Hasil Konferensi Kependudukan Di Kairo: Implikasinya Pada Program Kesehatan Reproduksi Di Indonesia. Populasi, 5(2), 1–29.

https://doi.org/10.22146/jp.12183

Zivot, C., Dewey, C., Heasley, C., Srinivasan, S., & Little, M.

(2020). Exploring the state of gender-centered health research in the context of refugee resettlement in Canada: A scoping review. International Journal of Environmental Research and Public Health, 17(20), 1–19.

https://doi.org/10.3390/ijerph17207511

(26)

Tentang Penulis

B. Silvia Nova, lahir di Duri, 21 Maret 1985.

Jenjang Pendidikan D3 Kebidanan ditempuh di Akademi Kebidanan Deli Husada Deli Tua Medan lulus tahun 2006. Pendidikan DIV Bidan Pendidik, lulus tahun 2011 di STIKES Helvetia Medan, S2 Kesehatan Masyarakat Peminatan Kesehatan Reproduksi di Institut Helvetia Medan lulus tahun 2015, S1 Profesi Bidan di Institut Helvetia Medan lulus tahun 2021 dan sedang melanjutkan kuliah di S3 Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga.

Saat ini sebagai Dosen Tetap dengan Tugas Belajar di Akademi Kebidanan Helvetia Pekanbaru. Beberapa buku yang sudah di terbitkan dengan judul Latihan Soal Uji Kopetensi DIII dan Profesi Bidan Edisi I, Farmakologi Dasar, Email: [email protected], No.Hp 0813656820015

Referensi

Dokumen terkait

Faktor penghambat, seperti; kurangnya fasilitas dan wadah bagi pemenuhan hak siswa atas informasi pendidikan seksulitas dan kesehatan reproduksi, pendidikan seks yang

Penelitian hukum dengan judul “Peranan Dinas Pendidikan Kota Semarang Dalam Menjamin Pemenuhan Hak Anak Atas Informasi Pendidikan Seksual dan Kesehatan Reproduksi

Informasi yang benar dan tepat mengenai kesehatan reproduksi bagi remaja merupakan suatu hak yang diatur dan dilindungi oleh hukum, karena berkaitan erat

Pengaruh Program Promosi Kesehatan Reproduksi Berbasis Sekolah terhadap Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Kesehatan Reproduksi Remaja Awal (12-14 tahun) pada Siswa

Langkah- langkah kebijakan yang ditempuh adalah: (1) mengintegrasikan program KB dalam kerangka pemenuhan hak-hak reproduksi dan kesehatan reproduksi, serta kesetaraan

Menurut Depkes RI, 2000 kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan sehat secara menyeluruh mencakup fisik, mental dan kehidupan sosial yang berkaitan dengan alat, fungsi serta

AS-SIYASI: Journal of Constitutional Law, Vol 1, No 2 2022 17 Kewajiban Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan swasta dalam pemenuhan hak penyandang disabilitas di bidang kesehatan

Undang-undang ini mengatur tentang kesehatan di Indonesia, termasuk hak-hak dan kewajiban masyarakat dalam menjaga