TUGAS 3
ANALISIS LAPORAN KEUANGAN
Oleh:
SINDI SRI UTAMI NIM 223209024
PROGRAM STUDI AKUNTANSI JURUSAN AKUNTANSI POLITEKNIK NEGERI MADIUN
Oktober 2024
RESUME BAB 2
PELAPORAN DAN ANALISIS LAPORAN KEUANGAN KONSEP LABA
Laba, (income – disebut juga earnings atau profit) dalam istilah keuangan ringkasan hasil neto dari dari operasi bisnis selama periode waktu tertentu. Memiliki tujuan untuk menjelaskan laba bisnis suatu periode dari laporan laba rugi.
Secara konseptual, laba bertujuan memberikan pengukuran pada perubahan kekayaan pemegang saham (stakeholder) selama suatu periode dan estimasi profitabilitas bisnis saat ini, yaitu sampai sejauh mana bisnis mampu menutupi biaya operasinya dan memperoleh pengembalian bagi para pemegang sahamnya.
a) Konsep Laba Ekonomi 1. Laba Ekonomi
Laba ekonomi (economic income) ditentukan dengan arus kas selama periode yang bersangkutan ditambah perubahan nilai sekarang dari arus kas masa depan yang diharapkan, biasanya ditunjukka oleh perubahan nilai aset neto bisnis.
2. Laba Permanen
Laba permanen (permanent income) – disebut juga dengan laba berkelanjutan (sustainable) atau laba yang berulang (recurring) merupakan rata – rata laba stabil yang ditaksir dapat diperoleh perusahaan sepanjang umurnya.
3. Laba Operasi
Laba operasi (operating income) yang merujuk pada laba yang timbul dari kegiatan operasi perusahaan.
Laba ekonomi adalah indikator bottom – line dari kinerja perusahaan mengukur pengaruh keuangan dari semua kejadian selama periode tertentu secara komprehensif.
Laba permanen mencerminkan fokus masa jangka panjang. Karena secara konseptual mirip dengan kemampuan laba yang berkelanjutan (sustainable earning power) yang merupakan konsep penting bagi analisis penilaian ekuitas dan analisis kredit.
Laba operasi tidak tidak termasuk semua beban (atau laba) yang timbul dari kegiatan keuangan perusahaan (fungsi treasury) seperti beban bunga dan laba investasi
Laba akuntansi atau laba dilaporkan (accounting income or reported income) ditentuan berdasarkan berdasarkan konsep akuntansi akrual. Meskipun laba akuntansi sangat merefleksikan aspek laba ekonomi maupun laba permanen, namun laba ini bukan merupakan pengukuran laba secara langsung. Laba akuntansi juga mengalami masalah pengukuran, sehingga mengurangi kemampuannya dalam mencerminkan realitas ekonomi.
1. Pengakuan Pendapatan dan Pengaitan
Pengakuan pendapatan adalah titik awal pengukuran laba. Dua kondisi wajib untuk dapat diakui adalah bahwa pendapatan
Telah dapat direalisasikan (realiazed atau realizable)
Telah dihasilkan (earned)
Ketika pendapatan telah diakui, biaya-biaya yang bersangkutan dikaitkan dengan pendapatan yang diakui untuk mendapatkan laba.
2. Laba Akuntansi dan Laba Ekonomi
Laba akuntansi tidak dimaksudkan untuk mengukur laba ekonomi atau permanen, melainkan didasarkan pada seperangkat peraturan yang telah berulang selama beberapa periode untuk memfasilitasi beberapa tujuan bahkan tujuan yang saling bertentangan sekalipun. Beberapa penyebeb perbedaan laba akuntansi dengan laba ekonomi adalah sebagai berikut:
Konsep laba alternatif
Biaya historis
Basis transaksi
Konsevatisme
Manajemen laba
3. Komponen Permanen, Sementara, dan Tidak Relevan dengan Nilai Laba akuntansi terdiri atas tiga komponen
Laba permanen
Komponen sementara
Komponen yang tidak relevan dengan nilai c) Implikasi Analisis
1. Penyesuaian Laba Permanen
Misalnya, seorang analis bisa mengeluarkan keuntungan dari hasil penjualan segmen bisnis utama ketika menentukan komponen permanen dari laba. Penyesuaian laba seperti itu disebut dengan laba inti (core earnings) oleh analis yang bertugas.
2. Penyesuaian Laba Ekonomi
Salah satu cara untuk mendapatkan laba ekonomi adalah dengan menghitung perubahan kekayaan pemegang saham yang berasal dari sumber bukan pemilik.
3. Penyesuaian Laba Operasi
Laba operasi termasuk dalam semua komponen pendapatan dan beban yang relevan dengan usaha operasi perusahaan tanpa menghiraukan apakah komponen tersebut berulan atau tak berulang.
AKUNTANSI PENILAIAN WAJAR a) Pengertian Penilaian Akuntansi Wajar
Perbandingan Model Biaya Historis dan Penilaian Wajar (Perbedaan)
1. Penilaian transaksi versus penilaian sekarang. Dengan akuntansi biaya historis, nilai aset dan kewajiban sangat bergantung pada transaksi aktual perusahaandi masa lalu, model penilaian tidak menecerminkan kondisi ekonomi sekarang. Sebaliknya, dengan model penilaian wajarm jmlah aset dan kewajiban ditentukan dengan harga pasar paling akhir, dengan asumsi pasar, penilaian tidak didasarkan pada transaksi aktual.
2. Biaya historis versus harga pasar. Penilaian biaya historis terutama ditentukan dengan biaya yang dikeluarkan perusahaan, sementara dengan model penilaian wajar didasarkan atas harga pasar (asumsi nilai pasar).
3. Pendekatan laba alternatif. Pendekatan alternatif dalam penentuan laba dari dua model ini sangat penting untuk analisis. Laba dengan akuntansi biaya historis merupakan bentuk yang jelas yang berusaha mengukur profitabilitas periode berjalan, yaitu kemampuan perusahaan untuk menghasilkan pendapatan yang lebih besar daripada biaya.
b) Pertimbangan dalam Mengukur Nilai Wajar
Terminologi nilai wajar dipakai apabila pasar aset dan kewajiban yang bersangkutan tidak menemukan harga pasarnya kita dapat mengestimasi nilai wajarnya dengan mengambil rujukan pasar turunan (secondary market) atau menggunakan teknik penilaian. Terdapat lima aspek:
1. Tanggal Pengukuran 2. Transaksi Hipotesis 3. Transaksi berurutan 4. Pengukuran dengan pasar
5. Harga keluaran
Hierarki Input Nilai Wajar
1. Input yang dapat diobsevasi (observable inputs) yaitu ketika harga pasar dapat diperoleh dari sumber yang independen terhadap perusahaan yang membuat laporan.
2. Input yang tidak dapat diobservasi (unobservable inputs), yaitu ketika harga pasar diperoleh berdasarkan asumsi perusahaan karena aset atau kewajibannya tidak diperdagangkan.
Tiga level hierarki input:
1. Input tingkat 1 dikutip dari harga dalam pasar aktif untuk aset atau kewajiban tertentu yang sedang dinilai, lebih disukai pada saat tanggal harga.
2. Input tingkat 2 diperoleh dari kutipan harga dalam pasar aktif untuk aset atau kewajiban yang mirip, tetapi tidak identik, serta identik tetapi tidak dalam pasar aktif.
3. Input tingkat 3 merupakan input yang tak dapat di observasi (unobservable inputs) dan digunakan ketia aset atau kewajiban tidak diperdagangkan atau ketika subtitusi perdagangannya tidak dapat diidentifikasi.
Teknik Valuasi
Teknik valuasi yang cocok tergantung pada ketersediaan data input.
Apabila suatu teknik dapat dipilih, maka harus digunakan secara konsisten, kecuali jika terjadi perubahan keadaan yang mengakibatkan penentuan yang lebih akurat atas nilai wajar. Tiga pendekatan dasar yaitu pendekatan pasar, pendekatan laba, dan pendekatan biaya.
c) Implikasi Analisis
1. Kelebihan dan Kekurangan Akuntansi Penilaian Wajar
Kelebihan Kekurangan
Merefleksikan informasi sekarang
Kriteria pengukuran yang konsisten
Komparabilitas (Comparability)
Objektivitas lebih rendah
Rentan terhadap manipulasi
Penggunaan input tingkat 3
Tidak ada bias konservatif
Lebih bermanfaat dalam analisis ekuitas
Tidak adanya unsur konservatif
Fluktuasi yang berlebihan
2. Implikasi Analisis
Terdapat beberapa masalah penting yang perlu dipertimbangkan dalam menganalisis laporan keuangan yang disiapkan dengan model penilaian wajar:
Fokus pada neraca
Menyatakan kembali laba
Menganalisis kegunaan input
Menganalisis kewajiban finansial 3. Status Terkini Penerapan Nilai Wajar
Akuntansi penilaian wajar diadopsi untuk seluruh aset dan kewajiban dalam laporan keuangan. Perlu diperhatikan bahwa akuntansi penilaian wajar tidak dapat diaplikasikan pada aset dan kewajiban untuk masa sekarang. Pada saat sekarang, akuntansi penilaian wajar dapat diterapkan terutama pada aset dan kewajiban yang bersifat keuangan dalam artian luas.
PENGANTAR ANALISIS AKUNTANSI a) Kebutukan akan Analisis Akuntansi
Kebutuhan akan analisis keuangan disebabkan 2 alasan yaitu, akuntansi akrual memperbaiki akuntansi kas dengan mencerminkan aktivitas usaha pada waktu yang lebih tepat dan laporan keuangan dibuat untuk berbagai jenis pemakaian dan kebutuhan informasi.
Berikut adalah alasan mengapa periu adanya analisis laporan keuangan.
Distorsi Akuntansi
Distorsi akuntansi merupakan penyimpangan dari informasi yang dilaporkan pada laporan keuangan terhadap realitas usaha sebenarnya. Berikut adalah alasan mengapa distorsi bisa terjadi:
Standar Akuntansi. Standar akuntansi merupakan hasil proses politik. Berbagai kelompok pemakai melakukan lobi untuk melindungi kepentingan mereka, adanya prinsip-prinsip akuntansi dalam standar akuntansi, dan konservatisme.
Kesalahan Estimasi
Keseimbangan Andal dan Relevan. Penekanan terhadap keandalan sering kali menunda pengakuan dampak dari transaksi dan kewajiban tertentu pada laporan keuangan.
Manajemen Laba. Penggunaan penilaian dan estimasi dalam akuntansi akrual mengizinkan manajer untuk menggunakan informasi untuk menambah kegunaan angka akuntansi. Namun beberapa manajer menggunakan kebebasan ini untuk mengubah angka akuntansi, terutama laba untuk keuntungan pribadi.
b) Manajemen Laba
Manajemen laba dapat didefinisikan sebagai “intervensi manajemen dengan sengaja dalam proses penentuan laba, biasanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi” (Schipper, 1989).
Strategi Manajemen Laba
Manajer meningkatkan laba (increasing income) periode kini.
Manajer melakukan “mandi besar” (big bath) melalui pengurangan laba periode ini.
Manajer mengurangi fluktuasi laba dengan perataan laba (income smoothing).
Motivasi Melakukan Manajemen Laba
Insentif perjanjian.
Dampak harga saham.
Insentif lain: Laba sering kali diturunkan untuk menghindari biaya politik dan penelitian yang dilakukan badan pemerintah, misalnya untuk ketaatan undang – undang antimonopoli dan IRS.
Mekanisme Manajemen Laba
Perpindahan Laba. Pemindahan laba merupakan manajemen laba dengan memindahkan laba dari satu periode ke periode lainnya. Pemindahan laba dapat dilakukan dengan mempercepat atau menunda pengakuan pendapatan atau beban.
Contoh pemindahan laba:
1. Mempercepat pengakuan pendapat dengan membujuk distributor atau pedagang untuk membeli kelebihan produksi pada akhir tahun fiskal.
2. Menunda pengakuan beban dengan mengapitalisasi beban dan mengamortisasi sepanjang periode masa depan.
3. Memindahkan beban pada periode berikut dengan mengadopsi metode akuntansi tertentu.
4. Membebankan biaya yang cukup besar sekaligus pada satu waktu tertentu misalnya penurunan nilai aset dan biaya restrukturisasi pada periode antara.
Manajemen Laba melalui Klasifikasi. Laba juga dapat ditentukan dengan secara khusus mengklasifikasi beban (dan pendapatan) pada bagian tertentu laporan laba rugi. Bentuk umum dari manajemen laba melalui klasifikasi adalah memindahkan beban di bawah garis, atau melaporkan beban pada pos luar biasa dan tidak berulang, sehingga tidak dianggap penting oleh analis.
Implikasi Manajemen Laba terhadap Analisis Laporan Keuangan
Karena manajemen laba mendistorsi laporan keuangan, identifikasi dan membuat penyesuaian manajemen laba menjadi tugas penting dalam analisis laporan keuangan. Sebelum menentukan apakah sebuah perusahaan melakukan manajemen laba, seorang analis harus memeriksa hal berikut:
Insentif melakukan manajemen laba.
Reputasi dan masa lalu manajemen.
Pola yang konsisten.
Kesempatan melakukan manajemen laba.
c) Proses Analisis Akuntansi Evaluasi Kualitas Laba
Evaluasi kualitas laba mencakup tahapan berikut:
Mengidentifikasi dan menilai kebijakan akuntansi utama
Mengevaluasi tingkat fleksibilitas akuntansi
Menentukan strategi pelaporan
Mengidentifikasi dan menilai red flags (tanda bahaya) misalnya kinerja keuangan yang buruk.
Penyesuaian Laporan Keuangan
Beberapa penyesuaian umum laporan keuangan mencakup:
Kapitalisasi sewa guna operasi jangka panjang, dengan penyesuaian atas neraca dan laporan laba rugi.
Pengakuan beban kompensasi berbasis saham untuk penentuan laba.
Penyesuaian beban tidak rutin seperti penurunan nilai aset dan biaya restrukturisasi.
Pengakuan status (dana) ekonomis untuk program pensiun dan program imbalan pascakerja lainnya dalam neraca.
Menghilangkan dampak pajak penghasilan tertentu yang ditangguhkan atas kewajiban dan aset dari neraca.