PENDAHULUAN
Latar Belakang
Rumusan masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Diharapkan dapat memberikan sumbangan penafsiran ayat-ayat Al-Qur'an yang bermanfaat sehingga dapat menyumbang khazanah ilmu keislaman khususnya bagi Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora Jurusan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, yang nantinya dapat digunakan sebagai acuan atau dasar penelitian. Dengan demikian, dapat memberikan motivasi kepada para akademisi untuk mengedepankan ilmu keilmuan Islam dengan memahami kandungan Islam.
Definisi Istilah
Tafsir menurut Abu Hayyan adalah ilmu yang membahas tentang cara mengucapkan ucapan-ucapan Al-Qur'an, petunjuk-petunjuknya, hukum-hukum mufrad dan murakkab, serta menjelaskan makna ucapan-ucapan tersebut sesuai dengan struktur redaksional kalimat yang berada. . , dan penjelasan komentarnya, review yang melengkapi keseluruhan. Suatu gaya penafsiran yang menitikberatkan pada penjelasan ayat-ayat Al-Qur'an dari segi keakuratan editorial, kemudian menyusun isi ayat-ayat tersebut menjadi editorial yang indah dengan penekanan pada tujuan utama diturunkannya Al-Qur'an, yaitu memberikan petunjuk bagi kehidupan manusia, dan memadukan makna ayat ini dengan hukum alam yang mengatur masyarakat dan kemajuan peradaban manusia.27.
Penelitian Terdahulu
Quraish Shihab, Yang Halus dan Tak Terlihat: Jin dalam Al-Qur'an (Jakarta: Lentera Hati, 2010). 31 Hakim Muda Harahap, Rahasia Al-Qur'an; Mengungkap Alam Semesta Manusia, Malaikat dan Keruntuhan Alam (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007).
Kerangka Teori
Dalam proses pemahaman, 'pra-pemahaman' selalu berperan; Pra-pemahaman ini diwarnai oleh tradisi berpengaruh di mana seorang penafsir berada, dan juga diwarnai oleh prasangka [Vorurtele; perkiraan awal] yang dibentuk dalam tradisi itu.” Seorang penafsir harus mengenali adanya cakrawala (teks) lain yang mungkin berbeda atau bahkan bertentangan dengan cakrawalanya.
Metodologi Penelitian
- Sistematika Penulisan
Ketika Muhammad Abduh menafsirkan Surat-Naziat ayat 5 tentang hukum alam yang berlaku dalam kehidupan ini. Selama kuliah di al-Azhar, Muhammad Abduh banyak mengenal dosen-dosen yang ia kagumi, antara lain: a. Pertemuan Muhammad Abduh dengan al-Afghani meninggalkan kesan baik bagi Muhammad Abduh.
Muhammad Abduh menilai cara ini akan memakan waktu lebih lama dan rumit. Ketika Muhammad Abduh berada di pengasingan di Beirut, Rasyid Ridha mempunyai kesempatan yang baik untuk bertemu dan berdialog dengan para santri. Hal ini secara tidak langsung memang merupakan pengaruh dari pemikiran Al-Afghani dan Muhammad Abduh.
Terakhir, Muhammad Abduh merestui dan memilih nama Al-Manar dari sekian banyak nama yang diajukan Rasyid Ridha. Sepeninggal gurunya, Rasyid Ridha terus berkarya dengan semangat dan gagasan Muhammad Abduh. Dalam catatan atau literatur masa kini, Rasyid Ridha digambarkan sebagai pejuang muslim yang tidak berbeda jauh dengan Muhammad Abduh.
Di kawasan ini, Rasyid Ridha sangat antusias mendukung program Muhammad Abduh untuk memperkenalkan ilmu-ilmu umum di lembaga pendidikan milik umat Islam (sekolah Islam tradisional atau madrasah). Quraish Shihab, dalam bukunya yang berjudul Kajian Kritis Tafsir Al-Manar karya Muhammad Abduh dan M. Gerakan reformasi yang dicanangkan oleh Muhammad Abduh bersifat konservatif, hal ini terlihat dari sikap Muhammad Abduh yang tidak konservatif.
WAWASAN MALAIKAT DALAM AL-QUR’AN
Pengertian Malaikat
Penciptaan Malaikat
Kalau kita berbicara tentang malaikat, di dalam Al-Qur'an tidak dijelaskan secara gamblang bagaimana proses terciptanya malaikat, namun hal ini sangat mendalam. 57 Jalaluddin Ahmad, Tafsir bil Ma'tsur pesan moral Al-Qur'an, (Bandung: Ros Dakarya 1993) hal. Quraish Shihab, Halus dan Gaib: Jin dalam Al-Qur'an (Jakarta: Lentera Hati, 2010) hal.
Malaikat yang tercatat dalam Al-Qur'an mempunyai derajat kemampuan yang berbeda-beda. Misalnya malaikat Jibril yang mendapat puji-pujian dari Allah 60. Kita berbicara tentang malaikat Jibril di mata Allah yang mempunyai kekuasaan 61. Kaum musyrik percaya bahwa malaikat adalah perempuan 65. Al-Qur'an menolak kepercayaan pada malaikat dan menolak keyakinan mereka bahwa Allah untuk malaikat tidak memilih malaikat laki-laki atau perempuan Menurut Fakhruddin ar-Razi. Jibril sebagai Rasulullah juga disebutkan dalam Al-Qur'an untuk memuji akhlaknya. 80 Jibril disebut Ruhul Qudus, Ruhul Amin, Malakul Wahyu yang tugasnya menyampaikan wahyu Allah kepada rasul-rasul-Nya. 81.
Mikail atau nama asli Mikal adalah Ubaidillah82, namanya disebutkan satu kali dalam Al-Quran yaitu bersamaan dengan nama Jibril.83 Mikail merupakan salah satu malaikat yang tugasnya mengatur dan mengendalikan tetesan air hujan dan hal-hal yang diakibatkan oleh tetesan air tersebut. , seperti tumbuhan, hewan, manusia, dan ekosistem lainnya. Israfil bertugas meniup terompet Tuhan. Tiga pukulan ditimpakan kepadanya, yaitu pukulan hidup, pukulan maut, dan pukulan kebangkitan terhadap Allah.86 Al-Quran hampir tidak menyebut nama Israfil secara eksplisit.
Biografi Muhammad Abduh
- Pendidikan dan Pengalaman Muhammad Abduh
- Pemikiran Pembaharuan Islam Muhammad Abduh
Syekh Al-Azhar", Muhammad Abduh lulus pada tahun 1877 M dan mendapat gelar alim di al-Azhar pada usia 28 tahun. 120. Selain itu, Muhammad Abduh juga mendirikan di Beirut sebuah organisasi yang bertujuan untuk memajukan kerukunan antar umat beragama Abduh pernah menjadi hakim di Pengadilan Negeri Banha, padahal saat itu Muhammad Abduh sangat berminat mengajar.
Pembaharuan pemikiran yang telah dilaksanakan oleh Muhammad Abduh bukan sekadar penolakan individu atau global. Rashid Ridha melihat keperluan tafsiran moden terhadap al-Quran, yang kemudiannya disesuaikan dengan idea Muhammad Abduh. Muhammad Abduh sempat memberi tafsiran sehingga ayat 125 Surat An-Nisa' (Tafsir Al-Manar Bahagian III) dan berikut adalah tafsiran Rasyid Ridha sendiri.
Tarikh Al-Ustadz Al-Imam, memuatkan biografi Muhammad Abduh dan perkembangan masyarakat Mesir ketika itu. Muhammad Abduh memilih pendapat tersebut, walaupun beliau tidak menolak atau mempersoalkan pendapat yang dipegang oleh jumhur ulama.
Biografi Rasyid Ridha
- Riwayat Hidup Rasyid Ridha
- Pendidikan dan Pengalaman Rayid Ridha
- Pemikiran Pembaharuan Rasyid Ridha
KONSEP MALAIKAT DALAM TAFSIR AL-MANAR
Konsep Malaikat menurut Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha
Muhammad Abduh mengemukakan dua pendapat tentang malaikat: Pertama, malaikat adalah makhluk gaib yang sifat aslinya tidak dapat diketahui, namun harus diyakini keberadaannya. Muhammad Abduh menambahkan: “Orang yang mengamati atau membandingkan pikiran (keinginannya) akan merasakan dua aspek, yaitu sisi baik dan sisi buruk. Padahal Muhammad Rasyid Ridho dalam pembelaannya menjelaskan bahwa tujuan Syekh Muhammad Abduh menjelaskan pengertian malaikat adalah untuk meyakinkan orang-orang yang mengingkari keberadaan malaikat dengan menggunakan istilah-istilah yang dapat diterima oleh akalnya. Namun Abduh secara prinsip tidak setuju dengan definisi yang dikemukakan para ulama. “Ulama lain mengenai malaikat ada definisi yang mengatakan bahwa malaikat adalah makhluk cahaya (benda, Jism).” Yang bisa dibentuk menjadi berbagai bentuk.
Berangkat dari sudut pandang para malaikat yang berbeda dengan ulama kebanyakan, Syekh Muhammad Abduh menafsirkan kisah penciptaan Adam, dialog Tuhan dengan para malaikat, keengganan setan sujud, dan lain sebagainya. Muhammad Abduh menjelaskan kisah Adam sebagai berikut: “Jika ada orang yang jiwanya cenderung menerima makna tersebut, maka dia tidak akan menemukan dalam ajaran agama apapun yang menghalanginya.”177. Ketika Muhammad Abduh membahas tentang dosa yang dilakukan Adam, beliau menyampaikan, setelah memaparkan beberapa pendapat para ulama mengenai hubungan dosa tersebut dengan kenabian Adam.
Muhammad Abduh tidak menyamakan semua malaikat, karena di satu sisi ia menyebut “hukum alam” atau kekuatan alam malaikat, sedangkan di sisi lain ia menyebutnya “bisikan hati nurani”. Muhammad Abduh menafsirkan bahwa Allah menyebutkan tiga pernyataan yang berkaitan dengan malaikat, yang kesemuanya merupakan puncak kekafiran dan kebohongan.
Latar Belakang Pemikiran Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha
Namun Muhammad Abduh jelas mulai merasakan tumbuhnya benih tersebut ketika memasuki gerbang Al-Azhar. Pemikiran Muhammad Abduh memberikan dua landasan penting mengenai pemahaman atau penafsirannya terhadap ayat-ayat Al-Qur'an, yaitu peran akal dan peran kondisi sosial. Selain itu, pemikiran Muhammad Abduh dipengaruhi oleh modernisasi, reformisme, dan konservatisme. Muhammad Abduh dalam karyanya ini berupaya menegaskan kembali potret diri Islam yang telah mencapai finalitas dan keunggulan.197.
Mengatakan bahwa malaikat dalam pandangan Muhammad Abduh diartikan sesuai dengan ilmu pengetahuan yang berkembang pada saat itu, dan pengertian malaikat selalu berkembang sesuai dengan perkembangan ilmu tersebut. Muhammad Abduh memahami malaikat menurut ilmu pengetahuan, dan tidak hanya memaknai malaikat sebagai makhluk yang berpribadi, tetapi juga memaknai malaikat sebagai makhluk yang impersonal. Misalnya saja keberadaan malaikat dalam kehidupan sehari-hari tidak tergantung pada kehidupan manusia, misalnya dalam diri manusia terdapat dua kekuatan yang berlawanan. Pandangan Muhammad Abduh tentang pentingnya malaikat sebagai hukum alam (kekuatan alam) sangat relevan dalam kehidupan saat ini bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Misalnya dulu kalau mengartikan petir dalam Al-Qur'an adalah cambuk malaikat. Namun saat ini ilmu pengetahuan telah berkembang, tidak lagi diartikan sebagai cambuk, melainkan ada energi listrik yang menggerakkannya, sebagai kekuatan alam dan dapat dipelajari misalnya dengan mempelajari keberadaan petir.
Berikut ini dapat ditarik kesimpulan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan penulis sebelumnya mengenai konsep malaikat menurut Muhammad Abduh dalam tafsir Al-Manar. Latar belakang pemikiran Muhammad Abduh terungkap ketika pengaruh Eropa memunculkan masyarakat yang mendewakan akal dan dorongan dari Syekh Darwisy untuk selalu mempelajari berbagai bidang ilmu yang diterimanya di masa mudanya, sehingga naluri Abduh yang mendukung Syekh, itulah yang menjadikan Abduh semakin cenderung berpihak pada kelompok minoritas yang saat itu dipimpin oleh Syekh Hasan Al-Thawil yang mengajarkan filsafat dan logika jauh sebelum Al-Azhar mengetahuinya.
Relevasi Malaikat terhadap Kehidupan Sekarang
PENUTUP
Kesimpulan
Muhammad Abduh mengemukakan dua pendapat mengenai Malaikat termasuk Kekuatan Alam atau hukum alam karena Muhammad Abduh tidak mengetahui apapun dalam hidup ini kecuali dunia nyata atau apa yang terlihat di dunia nyata. Di sisi lain, pertemuan Abduh dengan Al-Afgani membuat Abduh aktif di berbagai bidang sosial dan politik, kemudian membawanya untuk tinggal dan memerintah di Paris. Misalnya, ketika malaikat diartikan sebagai hukum alam, maka relevansi malaikat tersebut adalah untuk merangsang malaikat mempelajari fenomena alam.
Pada zaman dahulu, ketika ada petir, orang memahami petir sebagai cambuk malaikat yang akan meledak. Pemahaman tersebut berasal dari pemahaman manusia yang tidak berdasarkan ilmu pengetahuan, melainkan menurut pemahaman.Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi menjelaskan bahwa proses petir diawali dengan terpisahnya muatan positif dan negatif pada awan atau udara akibat adanya gerakan vertikal di udara. . .
Saran
Bagi mereka yang ingin mengkaji lebih lanjut tentang tafsir Al-Manar, kajian lanjutan boleh dilakukan dalam bentuk kajian kitab-kitab rujukan tentang tafsir Al-Manar. Beirut: Al-Mu'assasah Al-Arabiyah lid-Dirasah wan-Nasyr Hidayat, A. Nilai-Nilai Ketakwaan Ritual dan Sosial dalam Tafsir al-Manar. Yang Tersembunyi: Jin, Syaitan, Syaitan, dan Malaikat dalam Al-Quran As-Sunnah, dan Wacana Pemikiran Ulama Dahulu dan Sekarang.