Menenun Ombak
RANCANGAN PERTUNJUKAN TEATER
IRWAN SYAMSIR
(01)
Presentase Inkubasi Talenta Teater Indonesia Taman Budaya Jambi, 17 Agustus 2024
Mandar, adalah satu etnis mayoritas di Provinsi
Sulawesi Barat yang sebagian besar masyarakatnya mendiami wilayah pesisir.
Semesta Kisah
di Mandar, dikenal konsep sibaliparriq atau
konsep kesetaraan yang menjunjung kerja sama antara laki-laki dan perempuan. Umumnya, para lelaki bekerja sebagai pelaut dan perempuan
adalah penenun sutra.
Semesta Kisah
Nelayan Mandar memiliki perahu bernama
Sandeq. Sandeq dalam bahasa Mandar berarti runcing karena layarnya berbentuk segitiga.
Bentuk perahu ini ramping dan memiliki cadik
untuk keseimbangan perahu. Dikendalikan dengan navigasi angin dan ilmu perbintangan.
Semesta Kisah
Sutra adalah kain tenun yang cukup penting dalam kehidupan masyarakat Mandar.
Umumnya istri-istri nelayan menenun dan
mewariskan ke anak perempuannya. Kain ini hadir sejak kelahiran, pernikahan hingga
kematian. Kain ini disebut Sa’be dari kata Sa’bi yang berarti saksi.
Semesta Kisah
romantisme perempuan mandar
Saat lelaki Mandar berangkat melaut dan dalam waktu yang lama, selain rutinitas
menenun, satu momen penting istri mereka, di waktu tertentu akan melakukan ritual tolak bala dengan menyiapkan makanan. Doa yang diyakini sebagai kontrol
keselamatan suami saat di laut.
romantisme lelaki mandar
Saat istri menunggu di rumah, sang suami akan berlayar dengan rambu-rambu yang
penuh pantangan. Pantangan yang erat dengan etika saat berada di atas laut, saat
mengendalikan perahu, menurunkan pancing, mengucap kalimat dan sebagainya.
IDE KARYA
Rencana karya ini akan berjudul Menenun Ombak, berdasar
dua peristiwa antara melaut dan menenun, menghadirkan
keterhubungan antara laki-laki dan perempuan Mandar
dalam berbagi peran hidup. Ritual berada di tengah ketika
satu sama lain secara fisik terpisahkan. Pertunjukan ini akan
mengeksplor gestur dan bahasa.
MENENUN OMBAK
Akan bercerita tentang sepasang kekasih di pesisir Mandar yang
berbagi peran. Pertunjukan ini akan mengeksplor ketangkasan dan
keberanian pelaut dan juga ketelatenan dan kesabaran perempuan
Mandar. dibawakan secara puitik dengan dialog penuh metafor yang
menjadikan alam sebagai pijakan untuk berkomunikasi.
PENDEKATAN GAGASAN
PERTUNJUKAN
Schener mengungkap bahwa gesture tidak hanya sebagai bentuk ekspresi fisik, tetapi sebagai simbol yang memuat makna kultural Barba menekankan pentingnya pelatihan fisik dan kesadaran tubuh dalam membangun gesture yang efektif. Sementara Bathler, dengan gagasan performativitas akan bahasa yang mengemukakan bahwa bahasa membentuk identitas dan realitas sosial. Gagasan ini akan menjadi spirit dalam latihan rutin, olah tubuh, dan reading.
RICHARD SCHENER, EUGUNIO BARBA DAN JUDUTH BATHLER
METODE
PENCIPTAAN
Data yang akan dieksplor adalah hasil lisan dari masyarakat pesisir
tentang cara hidup dalam melaut atau menenun bagi para perempuan.
Relasi mereka dengan alam semesta dan sosial serta kondisi saat ini akan menjadi bahan dalam penulisan naskah. Wawancara akan
ditranskrip dan akan dipilah poin-poin tertentu yang akan ditransfromasi ke dalam struktur drama pada umumnya.
TRADISI LISAN, TRANSKRIP WAWANCARA, TRANSFORMASI KE NASKAH
SEBUAH SIKAP
mengapa memilih ini?
Saat ini perahu sandeq sudah terancam punah.
Mesin-mesin eskavator datang menimbun tepi
pantai. yang merampas tempat perahu bersandar.
Kesenjangan ekonomi dan kebutuhan baru, membuat nelayan beralih sementara penenun sutra bisa
dihitung jari dan tak berminat lagi.
Generasi kian terputus.
SEBUAH SIKAP
mengapa memilih ini?
Di tengah perubahan zaman yang mengancam tradisi masyarakat Mandar, pertunjukan ini hadir sebagai satu usaha untuk
melestarikan dan menghargai warisan budaya yang semakin
tergerus. Walaupun tentu saja tidak serta merta tradisi tersebut
akan kembali ke semula, namun setidaknya gagasan akan nilai
dari para pewarisnya bisa diperkenalkan, diingat kembali, dan
memantik gagasan-gagasan baru.
September Oktober November
TIMELINE PRODUKSI
Finalisasi naskah dan desain set.
Pengumpulan materi dan penelitian tambahan
Pemilihan aktor
Latihan dengan set lengkap.
Revisi dan penyesuaian berdasarkan latihan.
Promosi dan pemasaran pertunjukan.
Uji coba teknis dan rehearsal umum.
Finalisasi dan persiapan untuk pertunjukan.
Pertunjukan pertama dan evaluasi.
0 10 20 30 40 50 Artistik Panggung
Publikasi
Konsumsi Latihan hingga Produksi
Honor Tim
ANGGARAN
B O R C E L L E 1 1 / 1 1
B O R C E L L E 1 1 / 1 1
SEW AK TU W
AK TU
BIS A D
IRO MB
AK
Akan menghadirkan set perahu di atas
panggung dan juga rumah di pesisir. Bisa secara properti utama atau juga visual
mapping. Pertunjukan akan membangun suasana di lautan, pergantian musim, yang akan dieksplorasi dengan tata cahaya
lampu panggung.
ARTISTIK
PANGGUNG
REFERENSI ARTISTIK
Mitra-mitra akan melibatkan sekian kelompok mulai dari komunitas- komunitas seni dari Mandar yang berproses di rantauan, ikatan
mahasiswa Sulawesi Barat di rantauan, hingga pemerintah Sulawesi Barat sendiri. Selebihnya untuk menunjang diskusi penting terkait isu dan metode pertunjukan yang akan dibawakan dengan puitik, akan dihadirkan, kelompok sastra, kelompok yang konsen akan isu iklim, perempuan dan sebagainya.
MITRA-MITRA
SASARAN
PENONTON
Masyarakat Mandar di Rantauan
Masyarakat Umum
Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta
TEMPAT
PERTUNJUKAN