1. KONSEP WALI DAN MAHAR SEBELUM DAN SESUDAH ISLAM
Menurut jumhur ulama, wali nikah merupakan salah satu rukun pernikahan. Wali dikatakan sebagai rukun pernikahan artinya harus ada dalam pernikahan, tanpa danya wali pernikahan dianggap tidak sah (Alapisa, 2017). Wali adalah orang yang memegang sah tidaknya pernikahan, oleh karena itu tidak sah pernikahan tanpa adanya wali.
Menurut adat Arab jahiliyah atau masa pra Islam, seorang wali (pria) berkuasa penuh atas perempuan yang berada dalam asuhannya serta harta yang dimilikinya. Jika perempuan itu cantik, maka akan dinikahi dan diambil hartanya, jika buruk rupa, maka dihalangi nikahnya dengan laki-laki lain. Tujuannya agar walinya dapat menguasai seluruh hartanya. Hal seperti ini ditentang oleh Al-Quran seperti tercantum dalam surah An-Nisaa' ayat 127. Di masa itu wanita tidak mempunyai hak untuk menolak atau sekedar memberi saran dalam urusan pernikahannya. Segala urusannya diserahkan kepada walinya.Di zaman Jahiliyah, hak-hak perempuan dihilangkan. Demikian pula dengan mahar, pemberian mahar pada masa pra Islam dianggap sebagai harga beli seorang perempuan dari walinya sehingga wanita merupakan milik suami sepenuhnya (Kohar, 2016 ). Ia berhak memperlakukan istrinya dalam bentuk apapun.
Dalam Islam, konsep wali dan mahar berbeda dengan masa pra Islam. Wali dianggap berkuasa penuh terhadap perempuan yang diasuhnya karena pada masa itu perempuan Arab kebanyakan tidak berpendidikan tinggi, masih bodoh, dan tertinggal dalam segala bidang. Sedangkan mahar dalam Al Quran dikenal dengan istilah shadaqah atau nihlah. Mahar menurut ajaran islam, bukanlah dimaksudkan sebagai harga, pengganti atau nilai tukar bagi wanita (calon istri) yang akan dinikahi. Mahar sebagai bagian dari lambang atau tanda bukti bahwa calon suami menaruh cinta terhadap calon istri yang akan dinikahi.
2. PRAKTIK PERNIKAHAN SEBELUM DAN SESUDAH ISLAM
Dalam bangsa Arab pra Islam, budaya patriarki mendominasi sehingga perkawinan lebih identik dengan sebuah kontrak jual-beli di mana perempuan dianggap tidak lebih dari pada sebuah objek yang dijual. Banyak jenis pernikahan dalam budaya bangsa Arab masa pra Islam yang kebanyakan sangat merugikan dan menindas kaum perempuan. Kaum perempuan tidak dihargai, dalam pernikahan hanya dijadikan sebagai barang komoditi yang bisa diwariskan atau dipertukarkan tanpa ada kesepakatan terlebih dahulu dari pihak perempuan. Bentuk perkawinan yang dominan pada masa Arabia pra Islam adalah konstektual. Sebagai sebuah kontrak, perkawinan dapat diputuskan baik karena kehendak bersama atau karena kemauan salah satu pihak. Beberapa contoh praktik perkawinan pada masa itu seperti berikut.
Perkawinan al-daizan ini berarti bahwa apabila suami dari perempuan meninggal, anak laki-laki yang tertua berhak mengawininya. Bahwkan anak tersebut punya hak mengawinkannya dengan orang lain atau melarang menikah sampai meninggal dunia.
Zawaj al-badal artinya di mana lelaki dapat saling bertukar istri tanpa maskawin. Zawaj al-sighar di mana laki-laki menikahi perempuan tanpa maskawin karena ia menikahkan
anak atau kerabat perempuannya dengan kerabat laki-laki calon istrinya. Zawaj al- istibda’, suami meminta istrinya berhubungan seksual dengan lelaki lain supaya hamil.
Zawaj al-zainah, lelaki berhak menikahi perempiuan yang ditangkapnya dalam peperangan (Rofiah, 2010).
Masih banyak lagi bentuk perkawinan lain yang dirasa merendahkan perempuan.
Setelah Islam datang, Islam menghapus segala bentuk perkawinan yang bertentangan dengan syariat Islam, segala kezaliman dihapuskan. Pernikahan dianggap sesuatu yang agung, tidak hanya sekadar hubungan kontraktual antara keluarga lelaki dan keluarga perempuan tapi pernikahan mengandung unsur ibadah. Islam juga mengembalikan kedudukan perempuan dengan memuliakan perempuan.
Kohar, A. (2016). Kedudukan Dan Hikmah Mahar Dalam Perkawinan. ASAS, 8(2).
Doi: https://doi.org/10.24042/asas.v8i2.1245
Alapisa, H. (2017). Kedudukan Akad Nikah Wanita Tanpa Wali (Analisis Terhadap Metode Istinbat Mazhab Hanafi). (Doctoral dissertation, UIN Ar-Raniry Banda Aceh).
Rofiah, N. (2010). Memecah Kebisuan-Respon NU: Agama Mendengar Suara Perempuan Korban Kekerasan Demi Keadilan. Komnas Perempuan.