STRUKTUR KAYU
2 SKS
MATERI KULIAH
I. PENDAHULUAN
II. SISTEM PEMBEBANAN III. DIMENSI BALOK
IV. PERKUATAN BALOK V. SISTEM ATAP
VI. BATANG TARIK VII. BATANG TEKAN VIII. TEKUK
IX. TEGANGAN KOMBINASI
X. ALAT PENYAMBUNG
DAFTAR PUSTAKA
1. Yap, Felix, Ir., (1984),
Konstruksi Kayu, Penerbit Bina Cipta Bandung.
2. Konstruksi Kayu, lecture Notes, Institut Teknologi Bandung.
3. Peraturan Konstruksi Kayu
Indonesia, (1961), Departemen
Pekerjaan Umum.
NILAI AKHIR
1. TUGAS : 20%
2. UTS : 40%
3. UAS : 40%
I. PENDAHULUAN
◆ Kayu adalah bahan konstruksi yang diperoleh dari tumbuhan alam.
◆ Penggunaan kayu sebagai bahan konstruksi :
- Pengetahuan sifat jenis-jenis kayu.
- Sambungan dan alat penyambung.
- Pengawetan.
SIFAT MEKANIS KAYU
Sifat mekanis kayu sebagai bahan konstruksi :
◆ Kayu adalah produk alam, sehingga sifatnya berbeda.
◆ kayu tua lebih keras dibandingkan kayu muda.
◆ keadaan kayu tidak sama dalam segala arah :
Arah longitudinal, makin keatas makin tidak kuat.
Arah radial, makin kedalam makin lunak.
◆ Dari kedua faktor tsb timbul kesulitan, namun hal ini dapat diatasi dengan cara (asumsi) :
Dalam arah longitudinal, kekuatannya dianggap sama, dengan alternatif menebang pohon yang cukup umur.
Dalam arah radial, kekuatannya dianggap sama, dengan
alternatif menebang pohon yang diameternya cukup.
◆ Panjang balok yang dibuat dibatasi.
alasan :
Kekuatannya tidak merata Transportasi.
Ukuran panjang maksimum 4 m.
◆ Asumsi yang diambil dalam perhitungan konstruksi :
1. Homogen
2. Hukum Hooke 3. Elastisitas
4. Modulus kenyal dalam tarikan dan tekanan
5. Hipotesa Bernoulli dalam balok terlentur
6. Orthotropi
1. Homogen
Kayu terdiri dari serat yang tidak dapat disebut homogen seperti baja, namun dalam praktek dianggap sebagai bahan yang homogen.
Akan tetapi cacat kayu seperti mata kayu perlu diperhatikan dan menyebabkan perbedaan
dengan dasar perhitungan yang umum.
2. Hukum Hooke / Hubungan σ – є
Dalam hubungan antara σ dan є ada 2 (dua) percobaan yaitu : percobaan tarik dan tekan
Reduksi tampang
Lo
∆L
P
Tekan
Pertambahan tampang
∆L
Sehingga dapat digambarkan hubungan σ – ε
σ
Pp UltimatePE = titik proporsional Pp = titik patah
Titik proporsional berimpit dengan titik elastis
dianggap linear PE
El astis
\1
o ε
Hukum Hooke
dimana : ∆: ∆L = perpanjangan / perpendekan Lo = panjang semula
P = gaya
σ = tegangan
є = regangan
E = elastisitas
3. Elastisitas
Dalam hubungan tegangan dan regangan biasanya kayu bersifat elastis sampai batas proporsional.
Dalam perhitungan perubahan bentuk elastis, maka modulus kenyal kayu sejajar serat
disepanjang kayu dianggap sama.
4. Modulus kenyal dalam tarik dan tekan
Meskipun ada perbedaan dalam modulus kenyal antara tarik dan tekan adalah penting untuk
penggunaan pada teori elastisitas.
Dari hasil penelitian, adanya pertentangan yang
satu menyebutkan angka modulus kenyal 4.5 %
lebih tinggi untuk tarik dan tekan, sedang yang
lain angka modulus kenyal 10 % lebih rendah
untuk tarik daripada tekan.
5. Hipotesa Bernoulli
Untuk mempermudah perhitungan balok
terlentur, anggapan bahwa dalam balok lentur,
tampang tetap rata.
6. Ortotropis
Seperti telah diterangkan bahwa kayu adalah bahan yang tidak isotropis, tetapi untuk
keperluan praktis, kayu dapat dianggap
ortotropis artinya mempunyai 3(tiga) bidang
dimetris elastis yang tegak lurus satu sama
lain yaitu arah longitudinal, tangensial dan
radial.
KADAR AIR KAYU
◆ Kadar air yang ada pada kayu, akan memberikan efek pada kekuatan kayu.
◆ Kayu yang basah lebih lemah dibandingkan kayu yang kering.
◆ kayu kering adalah kayu yang mengandung kadar air yang minimum.
◆ Pada perencanaan konstruksi kayu hendaknya tetap dipertahankan kadar air kayu, karena
hal ini penting pada waktu perhitungan
◆ Bila kadar air tidak diperhatikan maka akan menyebabkan efek lendutan yang lebih besar dibandingkan kayu yang kadar airnya
dipertahankan.
◆ Karena sifat diatas maka konstruksi
diklasifikasikan :
SERAT KAYU
Ada dua macam serat kayu : a. Serat kayu ideal
Adalah serat kayu yang sejajar dengan arah tepi kayu.
b. Serat kayu tak ideal
Adalah serat kayu yang membentuk sudut dengan tepi kayu.
Apabila α kecil, maka dapat kita anggap serat ideal (harga α dapat dilihat pada tabel)
Semua rumus mengenai kayu hanya berlaku untuk
kayu yang seratnya ideal
KEKUATAN KAYU
◆ Dalam menentukan kekuatan kayu, segi yang diukur :
Terhadap lentur Terhadap tekan Terhadap tarik Terhadap geser
◆ Karena kayu merupakan produk alam, maka perlu diadakan pembagian kelas kekuatan kayu :
Kelas I, Kelas II, Kelas III, Kelas IV dan kelas V.
◆ Dalam perencanaan konstruksi kayu perlu
Kelas Berat Jenis
Kekuatan
lengkung Kekuatan tekan kuat absolut (kg/cm2) absolut (kg/cm2)
I ≥ 0,90 ≥1100 ≥ 650
II 0,90 - 0,60 1100 - 725 650 - 425 III 0,60 - 0,40 725 - 500 425 - 300 IV 0,40 - 0,30 500 - 360 300 - 215
Tabel Kelas Kuat Kayu
II. SISTEM PEMBEBANAN
Tegangan Lentur ( ) Tegangan Tarik
a. Tegangan tarik sejajar serat ( )
b. Tegangan tarik tegak lurus serat ( )
lt
"
tr
⊥
tr
Tegangan Tekan
a. Tegangan tekan sejajar serat ( )
b. Tegangan tekan tegak lurus serat ( )
c. Tegangan Geser ( )
I
"
tk
⊥
tk
"
I Y
= M
Pengertian Cukup Kuat
Semua tegangan < tegangan izin.
Contoh :
Tegangan izin ( ) = 100 kg/cm2
Tegangan yang terjadi ( ) = 99 kg/cm2 Jadi bila dikatakan cukup kuat bila :
Tegangan yang terjadi < tegangan izin Gaya geser yang terjadi < gaya geser izin
Pengertian Cukup Kaku
Lendutan yang timbul < lendutan izin.
Ada dua macam lendutan : 1. Lendutan akibat momen 2. Lendutan akibat lintang
Dimana
D M
T
= +
lt
lt
Lendutan akibat momen
Lendutan akibat lintang P
Contoh
= GF dx D
D 2
2
= EI dx M
M 2
2
PL 3 PL
Kestabilan Konstruksi
Perbandingan h/b dibatasi oleh bahaya KIP (lateral bukcling), dimana bila h/b ≤ 2.0 menurut peraturan, bahan kayu aman terhadap bahaya KIP.
Perjanjian Penamaan
Ukuran dituliskan b/h atau b x h
dengan catatan bahwa ukuran dinyatakan dalam satuan cm.
h b Contoh ditulis 8/12
atau 8 cm x 12 cm
12 cm
Contoh 1
Contoh 2
Konstruksi kayu dengan beban sbb
P = 150 kg
4 m
Mutu kayu kelas II
Konstruksi Terlindung 12
Pembebanan Tetap Pertanyaan :
a. Apakan balok cukup kuat 8
b. Apakah balok cukup kaku
Contoh 3
QUIZ
Konstruksi kayu dengan beban sbb P=150 kg
q=100kg/m
3 m Mutu kayu kelas II
Konstruksi terlindung
Pertanyaan :
PERENCANAAN ATAP
Kuda-Kuda Atap
Kuda-kuda atap adalah konstruksi yang terdiri dari balok melintang (menerima gaya tarik), balok sebagai penopang atau tiang (menerima gaya tekan) guna menyangga dari gording dan kaso serta pelapis atap.
Pada konstruksi atap terdapat struktur kuda-kuda atap. sedangkan sebagai bahan penutup adalah genting pres, sirap, seng gelombang, serta genting atau pelat semen berserat.
Untuk perhitungan perencanaan kuda-kuda diperlukan data:
- Panjang bentang
- Jarak kuda-kuda
Perencanaan Gording
Pada perhitungan gording, diperhitungkan beban-beban sbb:
a. Beban mati (q) : - Berat atap
- Berat sendiri gording
b. Beban hidup (P) : P = 100 kg
Akibat beban-beban yang bekerja, timbul momen-momen sebagai berikut : Akibat beban mati :
M
x= 1/8 . q sin α . L
2M
y= 1/8 . q cos α . L
2Akibat beban hidup.
M
x= 1/4 . P sin α . L
2M
y= 1/4 . P cos α . L
2Dimana
Perencanaan Kuda-Kuda
Pada perhitungan batang kuda-kuda, diperhitungkan beban-beban sbb:
a. Beban mati (q) - Berat atap - Berat gording
- Berat sendiri kuda-kuda (dapat ditaksir)
Total beban mati dijadikan sebagai beban terpusat bekerja vertikal pada tiap titik buhul.
c. Beban angin (W)
Tekanan angin, p besarnya tergantung jarak letak tempat dari pantai. Pada
Gaya-gaya batang akibat beban mati dan beban hidup (P), serta akibat beban angin (W) dihitung dengan menggunakan cara mekanika teknik cara analitis atau grafis.
Dalam menghitung perencanaan dimensi batang pada konstruksi kuda-kuda, jika konstruksi
tersebut simetris, maka cukup dihitung separoh saja. Untuk perhitungan perencanaan batang tarik
dan batang tekan, juga dapat digunakan gaya batang terbesar berdasarkan persyaratan tarik dan
tekan.
LENTURAN
Lenturan Tunggal.
y
x disini x,y adalah simetri,
maka x dan y merupakan sb. utama
• Karena sb. x,y adalah sumbu simetri dan saling berpotongan tegak lurus, maka akan terjadi lenturan tunggal.
• Besarnya tegangan lentur dapat dicari dari :
Jadi dapat disimpulkan :
• Bila yang diinginkan adalah lenturan tunggal, maka beban yang bekerja harus
I Y M
X lt
=
Lenturan Ganda
y
x
• Contoh kasus : Masalah gording.
X dan y merupakan sb.utama karena simetri terhadap penampang. Apabila pada balok dibebani oleh beban vertikal maka beban tsb tidak bekerja pada bidang sb. utama, sehingga balok mengalami lenturan ganda.
• Perhitungan lenturan ganda
Rumus tegangan untuk lenturan ganda adalah :
Mx = momen lenturan tunggal terhadap sb. x My = momen lenturan tunggal terhadap sb. y
Y Y X
X Y
X
W
M W
M +
= +
=
• Lendutan pada Lenturan Ganda
y
x
• Lendutan adalah besaran vektor. Arah menurut
X
Y
Y
X
• Contoh
Suatu atap menerima beban sebesar q = 75 kg/m’.
4 m q
30ᵒ
Mutu kayu : Kelas II
Dimensi kayu 8/12
Hitung:
TUGAS BESAR KONSTRUKSI KAYU
Konstruksi Rangka Atap Kayu dengan spesifikasi sbb :
Penutup atap : Genteng
Bentang kuda-kuda : 5.0 m ; 6.0 m Jarak kuda-kuda : 3.0 m ; 4.0 m Mutu kayu : kelas I; kelas II Ketentuan lain tentukan sendiri
Rencanakan : Dimensi Gording
Dimensi Rangka Kuda-kuda
BALOK DENGAN PERKUATAN
1. TUJUAN PERKULIAHAN
A. TUJUAN UMUM PERKULIAHAN (TUP)
Setelah mempelajari materi tentang balok dengan perkuatan, secara umum anda diharapkan :
1. Mampu menjelaskan pengertian sistem dan analisa balok dengan perkuatan 2. Mampu menghitung balok dengan perkuatan
3. Mampu menggambar hasil perhitungan balok dengan perkuatan B. TUJUAN KHUSUS PERKULIAHAN (TKP)
Setelah mempelajari materi balok dengan perkuatan, secara khusus anda diharapkan :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
dapat menjelaskan kembali pengertian balok dengan perkuatan
dapat menjelaskan kembali analisa balok dengan metode penampang ekivalen dapat menjelaskan kembali analisa balok dengan metode pembagian beban dapat menghitung momen inersia (I)
dapat menghitung tegangan lentur dapat menghitung tegangan geser
dapat menghitung kekuatan kayu terhadap lentur dapat menghitung kekuatan kayu terhadap geser dapat menghitung kekuatan baja terhadap lentur 10. dapat menghitung kekuatan baja terhadap geser
11. dapat menggambar hasil perhitungan balok dengan perkuatan
C. PRASYARAT
Untuk mempermudah pencapaian tujuan perkuliahan di atas, paling sedikit anda dituntut :
1. sudah mengetahui materi Teori Kekuatan Bahan 2. sudah menguasai Mekanika Teknik I dan II
BALOK DENGAN PERKUATAN
1.Pendahuluan
Penampang kayu yang kita desain dalam konstruksi sebaiknya mempunyai dimensi yang tersedia di lapangan. Setiap dimensi hendaknya cukup dengan persedian di lapangan.
Namun kondisi ini tidak selalu terpenuhi. Sering sekali terjadi dimensi yang dibutuhkan justru tidak tersedia. Konsekwensinya dari tidak tersedianya dimensi tersebut di lapangan ini adalah harus menyediakan sendiri dimensi tersebut. Pilihan ini tentunya bukan pilihan yang ekonomis
Perkuatan yang sering digunakan dalam konstruksi kayu ini adalah baja. Seperti kita ketahui bahwa baja mempunyai kekuatan dan modulus elastis yang jauh lebih tinggi dari kayu
Bahasan ini dibatasi hanya pada perkuatan dengan menggunakan pelat baja saja.
Perkuatan dengan profil baja tidak termasuk dalam bahasan ini.
2. Sistem perkuatan
Perkuatan yang cukup sering dijumpai adalah menggunakan pelat baja. Pelat baja tersebut dipasang karena dimensi penampang kayu ternyata tidak cukup untuk memikul beban yang bekerja. Pertimbangan lain yang lebih terutama sekali karena tidak mungkin lagi untuk mengganti/ memperbesar penampang kayu yang ada
Pertimbangan diatas cukup rasionel, mengingat bahwa dalam dimensi yang sama pelat baja akan mempunyai kemampuan memikul beban yang lebih jauh besar dari pada kayu. Dengan menggunakan perkuatan baja ini penambahan dimensi menjadi tidak begitu besar sehingga lebih praktis
Pemasangan perkuatan baja hendaknya tidak menambah rumit analisa perhitungan.
Penempatan pelat baja tidak bisa dalam sembarang tempat, karena harus mengoptimalkan kemampuan dalam memikul beban
Analisa penampang ini akan lebih mudah bila garis netral kayu maupun baja tetap berimpit. Untuk biasanya perkuatan baja yang digunakan akan dipasang simetri terhadap garis netral penampang kayu
Ditinjau dari letaknya dalam penampang, pelat baja yang digunakan dapat dipasang pada sisi horizontal atau pada sisivertikal
Ditinjau dari letaknya dalam bentang gelagar, pelat baja yang digunakan dapat dipasang pada sepanjang bentang atau sebagian panjang bentang
Pada perkuatan sepanjang bentang, struktur tetap prismatis, dimana harga EI konstan sepanjang bentang. E adalah modulus elastis, dan I adalah momen Inersia penampang Hanya saja perlu diingat, bila perkuatan dipasang pada sebagian panjang bentang, struktur menjadi nonprismatis sebab harga EI tidak lagi konstan di sepanjang bentang Analisa balok perkuatan
Analisa balok perkuatan sekurang-kurangnya dapat dilakukan dalam 2 cara yaitu : metode penampang ekivalen dan metode pembagian beban
3. Metode Penampang Ekivalen
Disebut juga metode transformasi, baja yang kita gunakan sebagai perkuatan haris ditransformasi, atau ditukar sehingga menjadi kayu
Karena sifat baja yang berbeda dengan kayu inilah maka tidaklah tepat bila nilai tukar yang digunakan adalah 1. Jelasnya, tidak logis bila baja hanya ditukar dengan kayu dengan luas yang sama
Yang benar adalah bila baja akan ditransformasikan menjadi kayu, maka luas penampang kayu hasil transformasi ini harus lebih besar dari luas baja, sehingga nilai tukarnya lebih dari 1.
2EI 2EI EI
Nilai tukar yang dimaksud adalah n yang menunjukan perbandinga relatif antara modulus elastis baja dengan modulus elastis kayu.
n = Es Ek dimana :
Es = 2,1 . 106 kg/ cm2(dianggap konstan, sehingga tidak tergantung dari kelas kuat kayu )
Ek =…… kg/ cm2(tergantung kelas kuat)
Nilai n berbanding terbalik dengan Ek. Semakin besar harga Ek, nilai n akan semakin kecil. Demikian sebaliknya. Nilai n akan selalu lebih besar dari 1.
Artinya bila baja seluas (As) akan ditransformasikan menjadi kayu, maka kayu hasil transformasi ini akan mempunyai luas sebesar (n . As)
Transformasi ini harus tetap memperhitungkan besaran statika penampangnya, dalam hal ini adalah garis netral dalam momen inersianya.
Pada gambar diatas terlihat bahwa kondisi penampang yang terdiri dari kayu dan baja akan mempunyai momen inersia yang sama dengan kondisi dimana seluruh penampang baja ditransformasikan menjadi kayu
Momen Inersia kayu, Ik= 1/12 b . t3 Momen Inersia baja, Is= 2 (1/12 b1 . t13)
Penampang keseluruhan mempunyai momen inersia b
t t1
b1 nb1 b nb1
3
1 1
3
3
1 1
3
12 1 1
12 1
12
b t +n2 (b )
t12
b t +
2 1 (n b )
t I==
Sebelum ditransformasikan Ik= 1/12 b t3
I =s
12
21
+ (b
1 1. t )(0,5 t + 0,5 t )
3
(b
1).t
12 1
1
12
=
1
b t3 +
(n) 2 12
I = Ik + n Is
1
12
2 3
1 1 1 1
(b ).t
+(b .t ) (0,5
t +0,5
t)
2 3
1 1 1 1
(n .
b).t
+(n.b .
t) (0,5
t +0,5
t) 12
Setelah ditransformasikan :
I =
1
b t3 +
2
dari gambar diatas terlihat bahwa bila disebelah kiri terdiri kayu dan baja, maka disebelah kanan hanya ada kayu saja.
Hal ini disebabkan karena baja disebelah kiri yang luasnya As = 2 (b1t1) itu kini ditransformasikan menjadi kayu seluas Ak dimana:
b
Subsituasi harga (Ik dan Is) ke harga I didapat I = Ik+ n Is
Pada kondisi dimana baja perkuatan dipasang pada sisi horizontal, maka hasil transformasi penampangnya menjadi sebagai berikut :
b1 nb1
t1 t t
b
Ak =
2 (n b
1t1)
= n
2 (b
1t1)
= n As
Baik dari perkuatan sisi vertikal maupun horizontal, momen inersia pengganti akibat penampang baja ditransformasikan menjadi kayu dapat dinyatakan sebagai :
I = Ik + n Is
Diagram tegangan lentur kayu dan baja
Pengaruh transformasi yang menghasilkan penampang pengganti tersebut diatas, tetap akan menghasilkan 1 diagram tegangan lentur. Dalam hal ini seakan-akan terjadi sebuah kesatuan penampang yang monolit.
Tegangan lentur yang terjadi adalah :
I I
= M
y =k
.
y, dim
ana k = Msedangkan perpanjangan/perpendekan serat kayu maupun baja adalah sama besar, sehingga : dk = ds
Bila regangan dinyatakan dalam dan panjang elemen dinyatakan dalam L, maka perpanjangan atau perpendekan kayu dan baja ini masing-masing
dk =k
.
Lk =(
k/
Ek)
Lkds =s
.
Ls =(
s/
Es)
LsDengan menyatakan dk= dsdan Lk= Lsdidapat :
=
s
k Ek Es
,atau
s = Es E
.
k kkarena n = Es
E , maka : = n
.
s k
k
Ini menunjukan bahwa tegangan baja yang sebenarnyta terjadi adalah (n) kali tegangan kayunya. Ini karena diagram diatas bukan diagram tegangan baja, melainkan diagram tegangan kayu.
Contoh 1
Kayu kelas II, mutu A. Berat sendiri diabaikan. Perkuatan baja dipasang sepanjang pada sisi vertikal.
8 12
0,3
6 300 cm
A B
q = 1,5 kg/cm Contoh 1
Kayu kelas II, mutu A. Berat sendiri diabaikan. Perkuatan baja dipasang sepanjang pada sisi vertikal.
a) Berapakah momen Inersia I, bila baja di transformasikan ke kayu ? Jawab
Kayu kelas II, Ek = 100000 Kg/cm2 Baja Es = 2,1 . 106kg/cm2.
n = Es = 21 Ek I = 1
.8.12
3+ 2 1
(6,3) . 6
3 = 1378,8 cm
412 12
check :
I = Ik +
21 (Is)
=1378,8 cm4
→okb) Gambar diagram tegangan lentur ditengah bentang !
k
12
Is=
2
1
(0,3) 6
3 =10,8 cm4
I =12 1
. 8.12
3 =1152 cm4
Jawab
Momen ditengah bentang, M=
1 8
1,5 . 300
2 =16875
kg cm1378,8
=12,2389 y
...linear
y =6 ,
1 =73,43
y =
3 ,
2 =36,72
y =16875
.
y = MI
8
12 6
0.3 21(0,3) 8 21(0,3)
73.43 36.72
c) Cukup kuatkah kayu terhadap lentur ? ( k = 100 kg/cm2 ): Jawab :
max
=1 =73,43
kg/
cm2 100 k g / c m 2
→Ok!d) Cukup kuatkah Baja terhadap lentur ? ( s = 1600 kg/cm2 ): Jawab :
max
= n.2 =21 (36,72)
=771,05
kg/
cm2 1600 kg/cm2→Ok!
e) Gambar diagram tegangan geser di tumpuan Jawab :
Gaya lintang di tumpuan D = 0,5.(1,5). 300 = 225 kg
b I =
1378,8 .
b =0,16319 (s /
b) ...(parabola)
= D S
225 .
STitik 1 : b = 8
S = (8 . 3 ) 4,5 = 108
1 = 0,16139 (108/8) = 2,20 kg/cm2 b = 8 + 2 (21 . 0,3 ) = 20,6
S = (8 . 3 ) 4,5 = 108 Titik 2 :
6
6,3 8 6,3
0,86 2,20
1,59
1 2
3
Titik 3 : b = 8 + 2 (21 . 0,3 ) = 20,6
S = (8 . 6 ) 3 + 2(21 . 0,3 . 3) . 1,5 = 200,7
3 = 0,16139 (200,7/20,6) = 1,59 kg/cm2
f) Cukup kuatkah kayu terhadap geser ? ( =
12
kg/
cm2 ) Jawab :kmax = 2,20 12 → Ok
Contoh 2
Kayu kelas II, Mutu A. Berat sendiri diabaikan.
Perekuatan baja dipasang sepanjang bentang pada sisis vertikal
P = 200 kg
a) Berapakah momen Inersia I, bila baja ditransformasikan kepada kayu ? Jawab :
Kayu kelas II , Ek = 100000 kg/cm2 Baja Es = 2,1 . 106 kg/ cm2
n = Es=
21
Ek
12
12
I =
1
.8.12
3 +2
1
(126) (0,3)
3 +126 (0,3) (6
+0,15)
2 =4011,948
cm4 A150
6 0,3
12 0,3
8 150
Dmax = 100 kg Tegangan geser :
=
0,0249 (s /
b) ...(parabola)
b I4011,95 .
b = D S =
100 .
SVB=100 kg Bid D
b) Gambar diaram tegangan geser pada saat Dmax Jawab :
Harus dihitung lebih dahulu harga Dmax
Dari kesetimbangan momen dapat dihitung reaksi-reaksi perletakan.
MB =0
, didapat vA = 100 kg
MA =0
, didapat vB = 100 kgVA=100 kg
Titik 1 : b = 21 . 6 = 126 cm S = 0
1 = 0,0249 (0/126) = 0 kg/cm2 b = 21 . 6 = 126 cm
S = 126 (0,3 ) 6 . 15 = 232,47
2 = 0,0249(232,47/126) = 0,05 kg/cm2 b = 8 cm
S =126 (0,3 ) 6 . 15 = 232,47
3 = 0,0249 (232,47/8) = 0,72 kg/cm2 Titik 2 :
Titik 3 :
6 Garis netral : b = 8 cm
S = 232,47 (8 . 6 ) 3 = 376,47
netral = 0,0249 (376,47/8) = 1,17 kg/cm2
c) Gambar diagram tegangan lentur saat momen maksimum ! Jawab :
0.3
771,06 6
0,3
0,3 12
8
21 . 6 =126
8
1 2 3
0,05 0,72
0,72 1,17
0,05
M = ¼ P L = 15000kg cm
4011,948
=
3,74
y...
linear y =6,3 ,
1 =23,55 kg/cm2
y =6 ,
2 =22,44 kg/cm2
y =
15000
.
y = MI
d) Cukup kuatkah kayu ? ( k= 100 kg/cm2dan =
12
kg/
cm2):Jawab :
- Kekuatan terhadap lentur
k
max
=23,55 kg/cm2
100 kg/cm2
→Ok - Kekuatan terhadap geserk
max
=1,17 kg/cm2
12 kg/cm2
→Oke) Cukup kuatkah Baja terhadap lentur ? ( s= 1600 kg/cm2):
Jawab :
s
max
=n .
2 =21 . 23,55
=494,55 kg/cm2 1600 kg/cm2
60,3
12 0,3
8
126
8
1 2
23,55 22,44
A
6 0,3
12
0,3
8 300
TUGAS
Kayu kelas II, mutu A. Berat sendiri diabaikan. Perkuatan baja dipasang sepanjang pada sisi vertikal. Rencanakan balok dengan perkuatan
q = 1,5 kg/cm
METODE PEMBAGIAN BEBAN
Dalam metode ini, penampang yang terdiri dari kayu dan baja seakan-akan dipisah sedemikian hingga menjadi kayu dan baja.
Beban yang dipikul oleh kayu maupun baja merupakan sebagian dari beban yang sebenarnya. Dengan kata lain, setiap beban yang bekerja pada struktur aklan dibagi- bagi, sebagian dipikul kayu dan sebagian dipikul oleh baja.
Pada gambar diatas, beban P (yang dipikul oleh kayu dan baja ) dibagi menjadi : Pk yang dipikul oleh kayu dan
Psyang dipikul oleh baja
Permasalahan yang timbul adalah, berapakah Pk dan Ps ?
Pada kasus diatas, terdapat 2 buah variable yaitu Pk dan Ps. Secara matematik, untuk menentukan 2 variable (Pk dan Ps) ini memerlukan 2 buah persamaan
Dua persamaan yang dimaksud dihasilkan melalui : Kekekalan Pembebanan
Pada suatu sistem pembebanan tertentu, jumlah beban selalu tetap (kekal). Artinya, jumlah dari seluruh beban yang dipikul oleh setiap elemen (baik Pk maupun Ps )
P PK PS
= +
Pk+Ps = P………a
Kekekalan Garis Elastis
Pada suatu sistem pembebanan tertentu, meskipun penampangnya terdiri dri lebih satu jenis material), maka jumlah garis elastis selalu kekal yaitu hanya 1 buah saja. Artinya, garis elastis struktur kayu akibat Pk akan selalu sama dengan garis elastis struktur baja akibat Ps, dan akan selalu sama dengan garis elastis struktur semula (kayu dan baja) akibat P
Kartena garis elastisnya sama, maka lendutan suatu titik yang sama pun akan sama yaitu : k+s =
Sebagaimana diketahui bahwa lendutan akan selalu sebanding dengan beban dan terbalik dengan EI-nya. E adalah moduluselastisitas dan I adalah momen
inersia. Apabila kita ambil k=s, maka :
Ek Ik Es Is Pk Ps
= ………b
Dengan subsitusi dari persamaan (a) dan (b) tersebut maka Pk dan Ps dapat diperoleh .
Contoh 1
a) Dengan metode pembagian beban, berapakah qk dan qs ? Jawab :
Kayu kelas II , Ek = 100000 kg/cm2 Baja Es = 2,1 . 106 kg/ cm2
Momen Inersia kayu, Ik =
12 1
8.12
3 =1152 cm4
Momen Inersia baja, Is =
2
1
0,3 . 6
3 =10,8 cm4
12
Dari kekekalan pembebanan, didapatqk + qs = 1,5………..(a) dari kekekalan garis elastis, didapat
Es
.
IsEk
.
Ikqk qs
Ek
.
Ik =s s
s
k E
.
Iq =q
.
8 12
0,3
6 300 cm
A B
q = 1,5 kg/cm
= 5,07937 (qs) ……….(b) Subsitusikan persamaan (a) dan (b), didapat
qs = 0,25 kg/cm qk = 1,25 kg/cm
b) Periksalah apakah struktur kayu cukup kuat terhadap lentur ? ( k= 100 kg/cm2 ):
Momen ditengah bentang, Mk max=
1 8
1,25 . 300
2=14099,18
kg cmy =
6 ,
kmax
=73,43
→OkIk
1152
=12,2389 y
...linear
= Mk
y =
14099,18 .
yk
A B
c) Periksalah apakah struktur baja cukup kuat terhadap lentur ? ( s = 1600 kg/cm2 ):
q = 0,25 kg/cm
300 cm
8 300 cm 12
A B
q = 1,25 kg/cm 73,43
s s
M
max
=8 1
q
300
2 =2775,83
kg cm tegangan lentur=
2775,83
y
...(linear ) 10,8
untuk y = 3,smax = 771,06 kg/cm2 1600 kg/cm2 → Ok I y
= Ms s
s
Jawab :
Dk = 0,5 . qk . 300 = 187,99 kg
=
2,94 kg/cm2 12 kg/cm2
→ok=
3
Dk =3 . 187,99 2
Ak2 . (8 . 12)
k
8 2,94
300 cm 12
A B
d) Periksalah apakah struktur kayu kuat terhadap geser ? ( =
12
kg/
cm2) q k = 1,25 kg/cm300 cm
A B
e) Periksalah apakah struktur baja kuat terhadap geser ? ( =
960
kg/
cm2 ) 0.3q s = 0,25 kg/cm
8
6 15,42
Jawab :
Contoh 2
a) Gunakan metode pembagian beban, berapakah pk dan ps ? Kayu kelas I , Ek = 125000 kg/cm2 Baja Es = 2,1 . 106kg/ cm2 b) Apakah struktur kayu kuat terhadap lentur ?
c) A pakah struktur baja kuat terhadap lentur ? d) Apakah struktur kayu kuat terhadap geser ? e) Apakah struktur baja kuat terhadap geser ?
8 12
0,3
6 400 cm
A B
P = 150 kg
VI. BATANG TARIK
Ada 2 macam batang : 1. Batang Tarik
2. Batang Tekan
◼ Batang Tarik
r t n
r
t F
S
=
/ 2
25 kg cm F
S
tr ⊥ =
BATANG TARIK
◼ Menghitung Fnetto pada Batang Tarik Untuk menghitung Fnetto pada konstruksi
kayu, yang dipakai adalah Baut dan Paku yang selalu menunjukan perlemahan.
Fn = Fb – perlemahan
= Fb - ∆F Dimana :
Fn = Fnetto Fb = F bruto
◼ Bila digunakan Baut
b
h perlemahan
d = Ø lubang (± 1,0 mm > Ø baut)
∆F = perlemahan
= 2 x (b x d)
Sehingga : Fnetto = b x h – 2 b x d
= b(h-2d)
r t n
r
t F
S
=
Contoh
Suatu kayu dimensi 12 x 25 cm, dikunci dengan 2 buah baut dengan diameter baut 1”. besarnya lubang diambil 2.60 cm.
a. Berapa luas penampang bruto b. Berapa luas penampang netto c. Berapa pengali alat penyambung Penyelesaian :
a. F.bruto = b x h = 12 cm x 25 cm = 300 cm2 b. F. netto = b(h - 2d)
= 12(25 – 2 x 2.60)
= 237.6 cm2
c. Faktor pengali = F. bruto/F. netto
= 300 cm2/237.6 cm2
= 1.26
Latihan Soal
Suatu balok kayu mempunyai
dimensi (8 x 12) cm2, mutu kayu kelas 2. Balok menerima beban tarik 3 ton. Asumsi tidak ada
keterangan sambungan.
Pertanyaan:
a. Berapa tegangan tarik balok
b. Apakah balok dapat digunakan.
Contoh 2
P
P P
P P
P/2 P/2
S.2 S.1
10 m
Struktur kayu rangka kuda-kuda mempunyai dimensi 8/12,
Lateral Buckling (KIP)
▪ Pada balok, umumnya lateral buckling (kip) tidak bisa kita hindarkan, sehingga perlu diperhatikan dimensi balok.
▪ Menurut peraturan, lateral
buckling tidak ada bila proporsi dimensi balok adalah h/b ≤ 2,0.
▪ Bila h/b ≥ 2,0 maka bahaya lateral buckling harus
dinetralisir dengan konstruksi : a. Lateral support.
b. Kondisi ujung balok (jepit).
◼ Untuk balok
◼ Untuk papan
◼ Untuk gording, lateral buckling hanya dapat
dinetralisir dengan cara lateral support (jadi tidak bisa dengan cara dijepit)
h/2b
V h
LENTURAN
Lenturan Tunggal.
y
x disini x,y adalah simetri, maka x dan y merupakan sb. Utama.
◼ Karena sb. x,y adalah sumbu simetri dan saling berpotongan tegak lurus, maka akan terjadi lenturan tunggal apabila beban yang bekerja pada bidang y.
◼ Besarnya tegangan lentur dapat dicari dari :
Jadi dapat disimpulkan :
◼ Bila yang diinginkan adalah lenturan tunggal, maka beban yang bekerja harus pada bidang sb. Utama
I Y M
X lt
=
Lenturan Ganda
y
x
◼ Contoh kasus : Masalah gording.
X dan y merupakan sb.utama karena simetri terhadap penampang. Apabila pada balok dibebani oleh beban
vertikal maka beban tsb tidak bekerja pada bidang sb. utama, sehingga
balok mengalami lenturan ganda.
◼ Perhitungan lenturan ganda
Rumus tegangan untuk lenturan ganda adalah :
Mx = momen lenturan tunggal terhadap sb. x
Y Y X
X Y
X
W
M W
M +
= +
=
◼ Lendutan pada Lenturan Ganda
y
x
◼ Lendutan adalah besaran vektor. Arah menurut Castigliano searah dengan arah penyebabnya, sedangkan besarnya dapat dihitung dengan rumus lendutan.
X
Y
Y
X
◼ Contoh
Suatu atap menerima beban sebesar q = 150 kg/m’.
4.00 m
30°
Mutu kayu : Kelas II
Ditanyakan : Dimensi Gording?
VIII. TEKUK
• Bila sebatang kayu yang kedua
ujungnya pendel, kemudian diganggu oleh gaya horisontal H, maka akan terjadi tekuk.
Pk
h l
Pk
• Pada suatu harga gaya tertentu kayu tidak kembali pada kedudukan semula
`
Memperpendek Panjang Tekuk
• Tekuk terjadi pada sumbu terlemah.
X
Y
• Jika Ltk besar, maka daya pikul batang tekan sangat merosot, oleh sebab itu maka batang tekan diusahakan sependek mungkin.
• Untuk itu maka dibuat konstruksi yang
memperpendek tekuk yang disebut Skor/Klos Masalahnya :
Dimana Klos tsb dipasang?
Berapa gaya yang mampu dipikul?
3
12 1 bh I X =
F i X = I X
3
12 1 hb I Y =
F
i Y = I Y
Ltk Ltk
`
Penampang ekonomis thp tekuk
• Penampang yang ekonomis apabila tekuk terjadi thp sb yang mana saja.
• Syarat penampang ekonomis :
• Untuk free standing :
0,289 h = 0,289 b atau h = b
• Dalam perdagangan kayu, sulit didapat ukuran kayu h = b.
• Jika diinginkan
Maka dipasang Klos
Y
X
=
X X
X
X i
l i
l =
=
Y Y
Y
Y i
l i
l =
=
Y
X
=
Y
X
=
Klos
• Klos berbentuk sepotong kayu yang solid.
• Pemasangan klos dilakukan sedemikian rupa sehingga arah serat sejajar sumbu batang.
• Pemasangan klos dengan batang dapat dilakukan dengan :
Paku Baut
• Syarat pemasangan klos yaitu jarak kosong ≤ 3b
• Jika jarak kosong > 3b, maka tidak boleh
pakai klos tetapi pakai sistem kopel.
• Misalkan :
L1
L2
Jika : →
`
X X
X X
Y Y
i l i
l i
l l l
=
=
=
1
2 1
Y
X
=
i l l i
i l i
l
X Y X Y
=
=
1
1
• Contoh : h = 2b
Jadi Klos dipasang di tengah-tengah
• Gaya max yang diizinkan :
l b l
l b h l b
i l i
X Y
2 1 2
289 ,
0
289 ,
0
1 = = = =
tk b k
tk b
k
tk b
k tk
p F F
p
P
"
"
"
"
=
=
=
Contoh 1. Menghitung kekuatan batang tunggal
X
8cm
16cm
Sebuah batang tekan (tunggal) pada konstruksi kuda-kuda mempunyai ukuran penampang 8 cm x 16 cm. Panjang bentang L = 3 m, terbuat dari kayu kelas II. Berapa besarnya gaya Pk yang dapat ditahan bila bersifat permanen dan angka keamanan n = 4.
Penyelesaian:
Untuk Konstruksi kuda-kuda (rangka batang) tumpuan dianggap sendi- sendi, jadi Lk = L = 3 m.
Konstruksi terlindung → β = 1; beban permanen →∂ = 1 Kayu kelas II, maka σ
tk= 85 kg/cm
2.
σ̃
tk= 85 . β . ∂ = 85 . 1 . 1 = 85 kg/cm
2Y
Ix = 1/12 . b . h
3= 1/12 . 8 . 16
3= 2730,7 cm
4Iy = 1/12 . b
3. h = 1/12 . 8
3. 16 = 682,6 cm
4Batang akan melentur ke arah yang momen Inersianya kecil, dalam kasus ini yang kecil adalah Iy, jadi yang dipakai dalam perhitungan adalah Iy.
I
min682,6
i
min= √ --- = √ --- = 2,31 cm.
F
br8 x 16
L
k300
λ = --- = --- = 129 i
min2,31
Menurut daftar, untuk λ = 129 --→ didapat ω = 5,38 σ
tk. F
brP
k. ω 85 (8 x 16)
σ
tk= --- atau P
k= --- = --- = 2022 kg.
F
brω 5,38
P
k2022
P̃ = --- = --- = 505,5 kg
n 4
Contoh 2
Suatu batang tekan mengalami beban tekan seperti tergambar
P
Ltk
P
Panjang batang 4 m, beban 10 ton. Untuk design, lambda maks. = 150.
Tentukan penambang batang tsb, sehingga mampu menahan beban.
`
VI. BATANG TARIK
Ada 2 macam batang : 1. Batang Tarik
2. Batang Tekan
◼ Batang Tarik
r t n
r
t F
S
=
/ 2
25 kg cm F
S
tr ⊥ =
BATANG TARIK
◼ Menghitung Fnetto pada Batang Tarik Untuk menghitung Fnetto pada konstruksi
kayu, yang dipakai adalah Baut dan Paku yang selalu menunjukan perlemahan.
Fn = Fb – perlemahan
= Fb - ∆F Dimana :
Fn = Fnetto Fb = F bruto
◼ Bila digunakan Baut
b
h perlemahan
d = Ø lubang (± 1,0 mm > Ø baut)
∆F = perlemahan
= 2 x (b x d)
Sehingga : Fnetto = b x h – 2 b x d
= b(h-2d)
r t n
r
t F
S
=
Contoh
Suatu kayu dimensi 12 x 25 cm, dikunci dengan 2 buah baut dengan diameter baut 1”. besarnya lubang diambil 2.60 cm.
a. Berapa luas penampang bruto b. Berapa luas penampang netto c. Berapa pengali alat penyambung Penyelesaian :
a. F.bruto = b x h = 12 cm x 25 cm = 300 cm2 b. F. netto = b(h - 2d)
= 12(25 – 2 x 2.60)
= 237.6 cm2
c. Faktor pengali = F. bruto/F. netto
= 300 cm2/237.6 cm2
= 1.26
Latihan Soal
Suatu balok kayu mempunyai
dimensi (8 x 12) cm2, mutu kayu kelas 2. Balok menerima beban tarik 3 ton. Asumsi tidak ada
keterangan sambungan.
Pertanyaan:
a. Berapa tegangan tarik balok
b. Apakah balok dapat digunakan.
Contoh 2
P
P P
P P
P/2 P/2
S.2 S.1
10 m
Struktur kayu rangka kuda-kuda mempunyai dimensi 8/12,
LAMPIRAN III
Faktor Tekuk dan Tegangan Tekuk Ijin Untuk Batang Desak
Faktor Tegangan Tekuk Ijin Kayu Dengan
l Tekuk Kelas Kuat
w I (kg/cm2) II (kg/cm2) III (kg/cm2) IV (kg/cm2)
0 1,00 130 85 60 45
1 1,01 129 84 60 45
2 1,01 128 84 59 45
3 1,02 127 83 59 44
4 1,03 126 83 58 44
5 1,03 126 82 58 44
6 1,04 125 82 58 43
7 1,05 124 81 57 43
8 1,06 123 80 57 43
9 1,06 122 80 57 43
10 1,07 121 79 56 42
11 1,08 120 79 56 42
12 1,09 119 78 55 41
13 1,09 119 78 55 41
14 1,10 118 77 55 41
15 1,11 117 77 54 41
16 1,12 116 76 54 40
17 1,13 115 75 53 40
18 1,14 114 75 53 40
19 1,15 113 74 52 39
20 1,15 113 74 52 39
21 1,16 112 73 52 39
22 1,17 111 73 51 38
23 1,18 110 72 51 38
24 1,19 109 71 50 38
25 1,20 108 71 50 38
26 1,21 107 70 50 37
27 1,22 107 70 49 37
28 1,23 106 69 49 37
29 1,24 105 69 48 36
30 1,25 104 68 48 36
31 1,26 103 67 48 36
32 1,27 102 67 47 35
33 1,28 102 66 47 35
34 1,29 101 66 47 35
35 1,30 100 65 46 35
36 1,32 99 64 46 34
37 1,33 98 64 45 34
Faktor Tegangan Tekuk Ijin Kayu Dengan
l Tekuk Kelas Kuat
w I (kg/cm2) II (kg/cm2) III (kg/cm2) IV (kg/cm2)
38 1,34 97 63 45 34
39 1,35 96 63 44 33
40 1,36 95 62 44 33
41 1,38 94 62 44 33
42 1,39 94 61 43 32
43 1,40 93 61 43 32
44 1,41 92 60 42 32
45 1,42 91 59 42 31
46 1,44 90 59 42 31
47 1,46 89 58 41 31
48 1,47 88 58 41 31
49 1,49 87 57 40 30
50 1,50 86 57 40 30
51 1,51 85 56 39 30
52 1,52 85 56 39 29
53 1,55 84 55 39 29
54 1,56 83 55 38 29
55 1,57 82 54 38 28
56 1,60 81 53 38 28
57 1,61 81 53 37 28
58 1,63 80 52 37 28
59 1,65 79 52 36 27
60 1,67 78 51 36 27
61 1,69 77 50 36 27
62 1,70 77 50 35 26
63 1,72 76 49 35 26
64 1,74 75 49 35 26
65 1,76 74 48 34 26
66 1,79 73 48 34 25
67 1,81 72 47 33 25
68 1,83 71 46 33 25
69 1,85 70 46 32 24
70 1,87 70 45 32 24
71 1,89 69 45 32 24
72 1,92 68 44 31 23
73 1,95 67 44 31 23
74 1,98 66 43 30 23
75 2,00 65 43 30 23
76 2,03 64 42 30 22
Faktor Tegangan Tekuk Ijin Kayu Dengan
l Tekuk Kelas Kuat
w I (kg/cm2) II (kg/cm2) III (kg/cm2) IV (kg/cm2)
77 2,05 63 42 29 22
78 2,08 63 41 29 22
79 2,11 62 40 28 21
80 2,14 61 40 28 21
81 2,17 60 39 28 20
82 2,21 59 39 27 20
83 2,24 58 38 27 20
84 2,27 57 37 26 20
85 2,31 56 37 26 20
86 2,34 56 36 26 19
87 2,38 55 36 25 19
88 2,42 54 35 25 19
89 2,46 53 35 24 18
90 2,50 52 34 24 18
91 2,54 51 33 24 18
92 2,58 50 33 23 17
93 2,63 49 32 22 17
94 2,68 49 32 22 17
95 2,73 48 31 22 17
96 2,78 47 31 22 16
97 2,83 46 30 21 16
98 2,88 45 30 21 16
99 2,94 44 29 20 15
100 3,00 43 28 20 15
101 3,07 42 28 20 15
102 3,14 41 27 19 14
103 3,21 41 26 19 14
104 3,28 40 26 19 14
105 3,33 39 25 18 13
106 3,43 38 25 18 13
107 3,50 37 24 18 13
108 3,57 36 24 17 13
109 3,65 36 23 17 12
110 3,73 35 23 16 12
111 3,81 34 22 16 12
112 3,89 33 22 16 12
113 3,97 33 21 15 11
114 4,05 32 21 15 11
115 4,13 32 21 15 11
Faktor Tegangan Tekuk Ijin Kayu Dengan
l Tekuk Kelas Kuat
w I (kg/cm2) II (kg/cm2) III (kg/cm2) IV (kg/cm2)
116 4,21 31 20 14 11
117 4,29 30 20 14 11
118 4,38 30 19 14 10
119 4,46 29 19 13 10
120 4,55 29 19 13 10
121 4,64 28 18 13 10
122 4,73 28 18 13 10
123 4,82 27 18 12 9
124 4,91 27 17 12 9
125 5,00 26 17 12 9
126 5,09 26 17 12 9
127 5,19 25 16 12 9
128 5,28 25 16 11 9
129 5,38 24 16 11 8
130 5,48 24 16 11 8
131 5,57 23 15 11 8
132 5,67 23 15 11 8
133 5,77 23 15 10 8
134 5,88 22 15 10 8
135 5,98 22 14 10 8
136 6,08 21 14 10 7
137 6,19 21 14 10 7
138 6,29 21 14 10 7
139 6,40 20 13 9 7
140 6,51 20 13 9 7
141 6,61 20 13 9 7
142 6,73 19 13 9 7
143 6,84 19 12 9 7
144 6,95 19 12 9 7
145 7,07 18 12 8 6
146 7,18 18 12 8 6
147 7,30 18 11 8 6
148 7,41 18 11 8 6
149 7,53 17 11 8 6
150 7,65 17 11 8 6
PERENCANAAN BATANG
MENAHAN TEGANGAN TEKAN
TUJUAN:
1. Dapat menerapkan rumus tegangan tekan untuk perhitungan batang tekan.
2. Dapat merencanakan dimensi batang tekan.
PENDAHULUAN
Perencanaan batang tekan dapat ditempuh:
Pertama: menghitung beban dan segala faktor yang mempengaruhi tegangan, kemudian
dihitung besarnya dimensi batang yang kuat menahan tegangan tersebut.
Kedua : Menafsir ukuran penampang batang, kemudian dikontrol kekuatannya
Saat ini yang akan dibicarakan hanya yang pertama.
a. Panjang Lekuk (L k )
• Panjang lekuk dipengaruhi oleh panjang awal (L) dan jenis tumpuan pada kedua ujungnya.
P L
P
krסּ sendi
סּ sendi
P
krL
jepit jepit
L
P
krסּ sendi
jepit
L
jepit
P
krbebas
1. Faktor yang Perlu Diperhatikan
b. Angka kelangsingan (λ)
L
k= Panjang lekuk
F
br= Luas penampang bruto Imin= Momen Inersia minimum i
min= jari-jari inersia minimum
Dalam suatu konstruksi setiap batang tertekan harus mempunyai λ ≤ 150.
I min Sedangkan i min = √ ---
F br
λ = Lk
i min
c. Faktor tekuk (ω)
Pada batang tekan, untuk menghindari bahaya tekuk gaya batang yang ditahan harus digandakan dengan faktor tekuk (ω), sehingga:
S. ω
σ tk //= --- ≤ σ̃ tk //
F br
σ = tegangan yang timbul S = gaya yang timbul
ω = faktor tekuk Fbr= luas penampang
- Besarnya ω harus diambil dari daftar III PKKI, ang sesuai dengan nilai λ dari batang tersebut.
- Besarnya σ ̃ tk// harus diambil dari daftar 2 PKKI.
- Untuk kayu-kayu yang sudah diketahui kelas kekuatannya, tegangan
- Pada batang berganda, dalam menghitung momen Inersia
terhadap sumbu-sumbu bahan (sumbu X) kita dapat menganggap sebagai batang tunggal dengan lebar sama dengan jumlah lebar masing-masing bagian-bagian sehingga terdapat: ix = 0,289 h.
b X
Y (a) Y
a a a a
X
b b b b b b b
a
X
(b) Y (c)
a
Untuk menghitung momen Inersia terhadap sumbu bebas bahan (sumbu X dalam gbr (c) dan sumbu Y dalam gambar (a) dan (b), harus dipakai rumus:
Iy = ¼ (I t + 3 I g )
dimana: Iy = Momen Inersia reduksi (yang diperhitungkan)
Daftar faktor tekuk dan tegangan tekuk yang diperkenankan untuk batang tertekan dilihat pada daftar III PKKI.
2. Rumus – Rumus yang Dipergunakan
Ada dua rumus yang dipergunakan pada perhitngan batang tekan, yaitu:
EULER, bila λ ≥ 100 Euler memberikan rumus:
π
2. E.I
minPk = ---
n . L
k2atau
n . Pk . L
k2Imin = ---
π . E TETMAYER, bila λ ≤ 100
Tetmayer dari hasil percobaannya memberikan rumus:
σ
tk= (293 – 1,94 λ) kg/cm
2• Untuk kayu kelas I dengan E = 125.000 kg/cm 2 , dan n = 5, rumus menjadi: I min = 40 P k . L k 2
• Untuk kayu kelas II dengan E = 100.000 kg/cm 2 , dan n = 5, rumus menjadi: I min = 50 P k . L k 2
• Untuk kayu kelas III dengan E = 80.000 kg/cm2, dan n = 5, rumus menjadi: I min = 60 Pk . Lk 2
Catatan: P dalam ton
L
kdalam meter, dan
I
mindalam cm
4Dalam merencanakan ukuran batang tekan, kita belum tahu rumus mana yang akan dipakai, karena belum tahu berapa besarnya λ.
Umumnya kita hitung terlebih dahulu dengan rumus Euler, kemudian bila diperlukan dapat diubah.
Kita tidak bisa menentukan lebar balok (b)
dan tinggi balok (h) secara bersama-sama,
melainkan salah satu harus kita tentukan
terlebih dahulu. Lebar (b) biasanya yang
di tentukan terlebih dahulu, diserasikan
dengan lebar batang yang lain dengan
Contoh perhitungan:
Contoh 1. Perencanaan ukuran penampang
Suatu batang dari kuda-kuda rangka batang, mendapat beban tekan S
= 7 ton.
Panjang batang L = 2,5 m. Dipergunakan kayu kelas II. Berapa ukuran tinggi penampang balok h, bila tebal b = 10 cm. Angka keamanan n = 5.
Penyelesaian:
Konstruksi kuda-kuda, tumpuan dianggap sendi-sendi.
Panjang lekuk (Lk) = L = 2,5 m.
Dianggap mengikuti rumus Euler: I min = 50 P k . L k 2 (kayu kelas II) Untuk balok persegi I min = 1/12 b 3 h,
Rumus menjadi:
--- = 50 P 1 k . L k 2 --- → 12.b 3 h
--- h = 50 . 7 . (2,5) 1000 2
12
Kontrol terhadap tegangan tekan
σ tk kayu kelas II = 85 kg/cm 2
i min = 0,289 b = 0,289 . 10 = 2,89 cm L k 250
λ = --- = --- = 86,50 -- → daftar didapat faktor tekuk ω = 2,36 i min 2,89
Tegangan yang timbul:
Pk . ω 7000 . 2,36
σ tk = --- = --- = 63.54 kg/cm2 < σ t k ̃ = 85 kg/cm 2 F br 10 . 26
Jadi h = 26cm dapat dipergunakan, dan ukuran kayu menjadi
Contoh 2. Batang berpenampang ganda
6 6
6
X
Y
16
Sebuah batang berpenampang ganda seperti terlihat dalam gambar samping, dipergunakan pada konstruksi kuda-kuda, menerima beban tekan sebesar S bersifat permanen.
Panjang batang = 3 m.
Berapa S
max, bila dipakai kayu jati kelas 2 Penyelesaian:
Konstruksi terlindung → β = 1; beban permanen → ∂ = 1 Kayu jati, σ̃
tk= σ
tk. β . ∂ =
Konstruksi kuda-kuda, maka tumpuan dianggap sendi-sendi, jadi Lk = 3 m Ix = ……
Ix
ix = √ --- = ………..
F
bratau dapat langsung ix = 0,289 . h
Momen Inersia geser (anggapan batang menjadi satu) Ig = …
Momen Inersia reduksi: Ir = …..
iy = ……..
i min = …….
L k
λ = --- = i min
Dalam daftar untuk λ = → ω = …..
σ̃
tk= ……. Kg/cm2
Besarnya Smaks = σ̃
tk. Fbr
ω
Soal Latihan:
1. Sebuah tiang pada bangunan terlindung, menahan beban P = 4 ton, terdiri beban tetap dan angin. Tumpuan bawah jepit dan atas bebas.
Rencanakan penampang batang tersebut jika:
- kayu yang digunakan kayu kelas 1
- penampang batang berbentuk bujur sangkar - panjang batang L = 3 m; angka keamanan n = 4
2. Batang tekan pada konstruksi kuda-kuda berukuran 8/12 cm, Panjang L = 3 m dan terbuat dari kayu jati kelas 2.
Besarnya gaya S = 2 ton bersifat permanen. Angka keamanan ditentukan n = 4.
Apakah konstruksi tersebut cukup aman?
3. Sebuah balok kayu dengan BJ = 0,6 ujung-ujungnya ditumpu sendi. Panjang batang L = 3m. Konstruksi tidak terlindung, dan beban S bersifat permanen.
Ukuran penampang seperti gambar berikut.
a. Hitung tegangan tekan yang terjadi
BATANG TEKAN
• Apabila suatu batang ditekan, maka suatu saat batang tsb akan mengalami gejala
Tekuk.
• Gejala Tekuk pada batang tekan bukan merupakan gejala kekuatan, melainkan
.
⊥ = tk ⊥
tk F
S
t k
b k
t F
S
=
Perhitungan Angka Kelangsingan
• Perhitungan dilakukan dengan menggunakan rumus Engesser :
λw=√ λy^2 + f m/2 λ1^2 λx = Lx/ix
(dari λw dan λx ambil nilai yang terbesar) Dimana :
λw : angka kelangsingan thp sb bebas bahan λy : angka kelangsingan terhadap sb y
λ1 : angka kelangsingan antara jarak klos m : jumlah batang
f : faktor koreksi alat penyambung yang digunakan (paku & baut, f = 3)
λx : angka kelangsingan terhadap sb bahan
Klos
• Klos berbentuk sepotong kayu yang solid.
• Pemasangan klos dilakukan sedemikian rupa sehingga arah serat sejajar sumbu batang.
• Pemasangan klos dengan batang dapat dilakukan dengan :
Paku Baut
• Syarat pemasangan klos yaitu jarak kosong ≤ 3b
• Jika jarak kosong > 3b, maka tidak boleh pakai klos
tetapi pakai sistem kopel.
Menurut peraturan Jerman : 30 ≤ λ1 ≤ 60
• Bila λ1 > 60 → design diubah, yaitu jarak klos dikurangi.
• Bila λ1 < 30 → design tidak perlu diubah, tapi dalam perhitungan tetap digunakan λ1 = 30
λ1 = L1/i1 L1 : jarak antara klos
y i1 : inersia thp 1 batang (√ Ix/F) (ambil yang paling kecil)
x
Contoh 1
Batang tekan ganda dipasang klos seperti tergambar. Menerima beban tekan 5 ton. Mutu kayu kelas II.
1 m
y 1 m
4 m x 12 cm
1 m 1 m
8 10 8
Ditanyakan :