• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONTRAK ASURANSI YANG DILAKUKAN PENANGGUNG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "KONTRAK ASURANSI YANG DILAKUKAN PENANGGUNG "

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

59 DOI: https://doi org/10 21776/ub arenahukum 2022 01501 4

KONTRAK ASURANSI YANG DILAKUKAN PENANGGUNG

Mulhadi, Dedi Harianto

Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Jalan Dr. Mansyur No. 58 Kota Medan Email: [email protected], [email protected] Disubmit: 15-07-2021 | Diterima: 19-04-2022 Abstract

Insurance companies in Indonesia are currently trapped in the stigma of seeking the highest premiums. Many agents do not work according to standards and do not explain in detail the insured party’s rights and obligations. This study aims to determine the meaning of misrepresentation and forms of misrepresentation made by the insurer in an insurance contract case based on court decisions. This normative juridical approach uses content analysis method. The results showed that the insurer failed to provide correct information about the importance of medical check-ups about life insurance, failed to explain the relationship between honesty in disclosing material circumstances with the risk of cancellation of the policy or the consequences of an insurance claim being rejected, failed to present the correct information to policyholders and gives the impression that insurance claims can be made easily, only with a photocopy of the receipt for payment of hospital fees, and the failed to present correct information that the policy can only be closed to other people if the prospective insured has a birth certificate and cannot be replaced by a statement only.

Key words: misrepresentation, fraud, insurer, insurance contract

Abstrak

Perusahaan asuransi di Indonesia saat ini terjebak dalam stigma mencari premi setinggi- tingginya. Banyak agen tidak bekerja sesuai standar dan tidak menjelaskan secara rinci hak dan kewajiban pihak tertanggung. Penelitian ini bertujuan mengetahui misrepresentasi dan bentuk-bentuk misrepresentasi yang dilakukan oleh penanggung dalam perkara kontrak asuransi berdasarkan putusan-putusan pengadilan. Penelitian yuridis normatif ini menggunakan metode content analysis. Hasil menunjukkan bahwa penanggung gagal memberikan informasi mengenai pentingnya pemeriksaan kesehatan dalam kaitannya dengan asuransi jiwa, gagal menjelaskan hubungan antara kejujuran dalam mengungkapkan keadaan materil secara lengkap dengan risiko batalnya polis atau konsekuensi penolakan klaim asuransi ditolak, penanggung memberikan informasi keliru kepada pemegang polis dengan mengesankan selah-olah klaim bisa dilakukan dengan mudah hanya dengan photocopy bukti pengeluaran biaya rumah sakit, dan gagal menyajikan informasi bahwa polis hanya dapat ditutup untuk orang lain, jika calon tertanggungnya memiliki akta kelahiran dan tidak bisa digantikan dengan sebuah surat pernyataan.

Kata kunci: misrepresentasi, penanggung, kontrak asuransi

(2)

Pendahuluan

Asuransi adalah salah satu sarana efektif untuk mengendalikan risiko dengan membagi dan mengalihkan risiko itu pada pihak lain, karena asuransi bertujuan membagi risiko kerugian secara adil,1sehingga wajar disebut sarana manajemen risiko.2Bagi perusahaan asuransi, tujuan asuransi tidak semata-mata pengalihan risiko, yang lebih penting adalah dalam rangka mengumpulkan premi sebanyak- banyaknya.3

Demi upaya mengumpulkan premi sebanyak-banyaknya, perusahaan asuransi melalui agen-agennya, melakukan berbagai cara untuk menarik minat konsumen demi tercapainya target pengumpulan premi.

Menurut Kepala Badan Mediasi dan Arbitrase Asuransi Indonesia (BMAI) Frans Lamury, saat ini perusahaan asuransi di Indonesia terjebak dalam stigma mencari premi setinggi- tingginya. Banyak agen perusahaan asuransi yang tidak bekerja sesuai standar, tidak menjelaskan secara rinci hak dan kewajiban pihak tertanggung (misrepresentasi). Ketua Umum Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengkritik sistem marketing asuransi. Menurutnya, perusahaan asuransi tidak hanya menonjolkan sisi kelebihan produknya, tapi juga mesti

1 Terungwa Azende, “Risk Management and Insurance of Small and Medium Scale Enterprises (SMEs) in Nigeria.” International Journal of finance and Accounting 1, no. 1, (2012) : 8-17

2 D. Suresh Kumar, et al. “An Analysis of Farmers’ Perception and Awareness Towards Crop Insurance as a Tool for Risk Management in Tamil Nadu,” Agricultural Economics Research Review 24, no. 1, (2011): 37-46.

3 Man Suparman Sastrawidjaja, Aspek-aspek Hukum Asuransi, dan Surat Berharga. (Bandung : PT Alumni, 1997), hlm.146.

4 Gabriela Jessica, “Perusahaan Asuransi Harus Ditertibkan”, https://mediaindonesia.com/read/

detail/124954-perusahaan-asuransi-harus-ditertibkan, Diakses 04 November 2020.

5 S. W. Thomas, “Utmost Good Faith in Reinsurance: a Tradition in Need of Adjustment”, Duke LJ, 41, 1991 : 1548.

menunjukkan hal-hal yang harus diketahui konsumennya. Apalagi kalau marketingnya lewat telepon, konsumen seharusnya mendapatkan kesempatan membaca polisnya, tidak bisa asal dibacakan. Banyak cara marketing asuransi yang merugikan konsumen.

Di sisi lain, konsumen banyak yang belum paham dengan dunia perasuransian.4

Memberikan penjelasan terperinci kepada calon tertanggung mengenai produk asuransi merupakan kewajiban perusahaan asuransi, demikian juga dengan institusi perantara lainnya seperti agen asuransi dan underwriter.

Namun kewajiban ini terkadang diabaikan demi mengejar target pengumpulan premi yang dihasilkan. Kewajiban ini sangat berkaitan dengan prinsip dasar dalam perjanjian pada umumnya, yakni prinsip itikad baik. Selain itu, saat ini dikenal asas khusus dalam kontrak asuransi, bahwa penanggung juga wajib tunduk patuh pada aturan hukum asuransi yang berkembang secara global yaitu prinsip utmost good faith.

Prinsip utmost good faith berati “the most abundant good trust; absolute and perfect candor or openness and honesty; the absence of any concealment or deception, however slight5 (kepercayaan baik yang paling berlimpah; keterusterangan dan keterbukaan

(3)

dan kejujuran yang mutlak dan sempurna;

tidak adanya penyembunyian atau penipuan, betapapun kecilnya). Prinsip utmost good faith sebagai suatu “kewajiban afirmatif untuk mengungkapkan secara sukarela, akurat dan menyeluruh, semua fakta material, baik yang diminta atau tidak.6Walaupun KUHD belum mewajibkan prinsip ini pada penanggung, bukan berarti penanggung bebas melakukan tindakan misrepresentasi atau memanfaatkan prinsip ini untuk melindungi kepentingannya dengan sengaja memberikan informasi sesat kepada tertanggung. Prinsip utmost good faith pada penanggung sudah diwajibkan dalam ketentuan di luar KUHD, yakni dalam Pasal 27 ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 1992 bahwa agen Asuransi dalam menjalankan kegiatannya harus memberikan keterangan yang benar dan jelas kepada calon tertanggung tentang program asuransi yang dipasarkan dan ketentuan isi polis, termasuk mengenai hak dan kewajiban calon tertanggung. Demikian juga dalam Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor: 152/PMK.010/2012 tentang Tata Kelola Perusahaan yang Baik Bagi Perusahaan Perasuransi, khususnya dalam ketentuan Pasal 64 ayat (2) huruf c dan d, bahwa “Perusahaan Asuransi, Perusahaan Reasuransi, perusahaan pialang asuransi, perusahaan pialang reasuransi, dan perusahaan Agen Asuransi, wajib mengungkapkan informasi yang material dan relevan bagi pemegang polis, tertanggung, peserta, dan/atau pihak yang

6 Basic Insurance Concept and Principles, Singapore: Singapore College of Insurance Limited, 2002, hlm. 41

berhak memperoleh manfaat; dan bertindak dengan integritas, kompetensi, serta utmost good faith”. Terakhir dalam Pasal 31 ayat 2 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014 tentang Perasuransian, bahwa “Agen Asuransi, Pialang Asuransi, Pialang Reasuransi, dan Perusahaan Perasuransian wajib memberikan informasi yang benar, tidak palsu, dan/atau tidak menyesatkan kepada Pemegang Polis, Tertanggung, atau Peserta mengenai risiko, manfaat, kewajiban dan pembebanan biaya terkait dengan produk asuransi atau produk asuransi syariah yang ditawarkan”. Namun dalam praktiknya, prinsip utmost good faith ini seolah-olah hanya dibebankan kepada tertanggung.

Mangacu pada beberapa putusan pengadilan dalam perkara asuransi, misrepresentasi sudah menjadi senjata ampuh bagi penanggung untuk menolak klaim asuransi. Kepercayaan diri perusahaan asuransi menggunakan pasal misrepresentation atau pun non-disclosure untuk melemahkan klaim tertanggung bukan tanpa alasan, karena aturan hukum memberikan perlindungan kepada penanggung. Walaupun demikian, pada banyak kasus hukum, penanggung sering gagal membuktikan tuduhannya, seperti dalam Putusan Pengadilan Negeri Surabaya No. 216/

Pdt.G/2011/PN.Sby, Putusan MA No.241 PK/

Pdt /2011, Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan No.738/Pdt G/2012/PN.Jkt.Sel., dan Putusan MA No.560 K/Pdt.Sus/2012.

Jarang ditemukan kasus hukum dengan

(4)

pokok perkara misrepresentasi yang dialamatkan kepada penanggung. Selain karena aturan hukumnya masih baru dengan sanksi bersifat administratif, tertanggung sebagai penggugat merasa lebih nyaman dan diuntungkan bila menggunakan pasal wanprestasi atau perbuatan melawan hukum sebagai dasar hukum untuk mempertahankan haknya dengan mengajukan gugatannya ke pengadilan.

Pada beberapa kasus yang dimenangkan tertanggung, walaupun hakim tidak menegaskan penanggung melakukan misrepresentasi atau kecurangan asuransi (insurance fraud), namun melalui kasus hukum tersebut, ditemukan adanya fakta hukum dalam posita gugatan yang diajukan pemegang polis atau tertanggung bahwa penanggung dalam memasarkan polis asuransi miliknya cenderung memberikan janji-janji palsu, bohong dan menyesatkan (misrepresentation), dengan tujuan menarik minat calon tertanggung, dan hal ini juga menjadi salah satu pemicu munculnya sengketa di kemudian hari.

Selama ini tertanggung selalu disudutkan dan diposisikan sebagai pelaku kecurangan asuransi (insurance fraud), misrepresentation, atau pun non-disclosure, padahal dengan posisinya yang kuat ditambah dengan regulasi hukum asuransi yang memihak pada penanggung, seperti diatur dalam Pasal 251 KUHD, penanggung punya banyak

7 Henry T. Kramer, The Nature of Reinsurance, in REINSURANCE 1, 9 (Robert W. Strain ed., 1980), dalam Thomas, S. W. “Utmost Good Faith in Reinsurance: a Tradition in Need of Adjustment”. Duke LJ, 41, 1991, hlm. 1551.

8 Zahry Vandawati Chumaida, “Menciptakan Itikad Baik Yang Berkeadilan Dalam Kontrak Asuransi

kesempatan dan tidak ada yang membantah bahwa prinsip utmost good faith dalam pasal dimaksud selalu digunakan sebagai tameng untuk melakukan tindakan serupa (insurance fraud, misrepresentation, non-disclosure), atau pun dalam rangka menolak berprestasi, seperti dalam Putusan No.147 K/PDT/2009, Putusan Nomor 1499/Pdt.G/2009/PN.Jkt.Sel., Putusan No. 2506 K/Pdt/2011, dan Putusan No. 424 K/Pdt/ antara Erna Dwiningsih vs Asuransi Jiwa Central Asia Raya.

Kontrak asuransi sebagai kontrak utmost good faith digambarkan sebagai sangat rumit dalam karakter dan sangat rentan terhadap penyalahgunaannya oleh penanggung.7 Apalagi alat ukurnya tidak jelas diatur dalam KUHD dan semuanya diserahkan pada penilaian majelis hakim pengadilan.

Penelitian ini penting dilakukan untuk memberi bukti bahwa perilaku misrepresentasi atau pernyataan keliru yang dikhawatirkan dilakukan oleh tertanggung justru lebih banyak dilakukan oleh penanggung dengan memanfaatkan ketentuan Pasal 251 KUHD atau prinsip utmost good faith.

Chumaidah, melalui penelitian yang dilakukannya menyatakan bahwa itikad baik dalam perjanjian asuransi seharusnya bukan hanya dibebankan kepada pihak tertanggung, namun penanggung juga harus beritikad baik dalam melaksakan perjanjian, sehingga terjadi keseimbangan.8

Berdasarkan latar belakang tersebut di

(5)

atas, mendorong penulis untuk mengetahui mengenai pengertian misrepresentasi dan bentuk-bentuk misrepresentasi yang dilakukan oleh penanggung dalam perkara kontrak asuransi.

Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dengan mengandalkan bahan hukum sekunder dengan sampel berupa empat putusan pengadilan. Penelitian ini dimulai dengan membaca ketentuan peraturan perundangan dan putusan-putusan pengadilan berkenaan dengan perkara kontrak asuransi.

Setelah kedua tindakan itu dilakukan, maka akan teridentifikasi bentuk-bentuk misrepresentasi yang cenderung dilakukan oleh penanggung. Data disajikan secara deskriptif dengan analisa kualitatif.

Pembahasan

A. Misrepresentation sebagai fraud dalam Kontrak Asuransi

Kontrak asuransi telah didefinisikan sebagai perjanjian antara dua pihak atau lebih di mana satu pihak, tertanggung (the insured) membayar jumlah tertentu kepada perusahaan asuransi (the insurer), sebagai imbalan ganti rugi atas kerugian yang terjadi sebagai akibat dari risiko-risiko, kontinjensi (segala kemungkinan) atau kejadian-kejadian tertentu yang ditentukan dalam kontrak.9 Selain berfungsi sebagai sarana untuk menghadapi

Jiwa.” Yuridika 29, no. 2 (2014) : 257

9 Emeric Fischer, “The Rule of Insurable Interest and the Principle of Indemnity: Are They Measures of Damages in Property Insurance,” Ind. LJ 56, (1980): 445

10 Johannes Spinnewijn, “Unemployed but Optimistic: Optimal Insurance Design with Biased Beliefs,” Journal of the European Economic Association 13, no. 1, (2015): 130-167.

11 R.L. Carter, Reinsurance, (London : Kluwer Publishing Limited,1979), p.123.

risiko, asuransi juga bisa digunakan sebagai insentif untuk menghindari risiko.10

Asuransi itu sendiri diciptakan untuk melindungi orang, kelompok, atau aktivitas usaha terhadap risiko kerugian finansial dengan cara membagi atau menyebarkan risiko melalui pembayaran sejumlah premi.

Namun demikian, janji penanggung berupa imbalan ganti rugi atau sejumlah uang hanya akan jadi mimpi bila pada awal kontrak calon pemegang polis tidak memenuhi prinsip utmost good faith. Carter menyatakan kewajiban untuk beritikad baik sempurna itu lebih utama dibebankan kepada tertanggung, karena penanggung memiliki posisi yang relatif lebih pasif, dan pada kenyataannya Pasal 251 KUHD menganut konsep bahwa hanya tertanggung yang wajib beritikad baik sempurna,11 sedangkan perusahaan asuransi dibebaskan untuk hal demikian. Prinsip utmost good faith meliputi dua hal, yakni kewajiban untuk mengungkapkan fakta atau keadaan materil (duty of disclosure) dan larangan memberikan informasi keliru (misrepresentation). Dalam Hukum Asuransi Indonesia, Pasal 251 KUHD, dengan tegas mengatur prinsip ini, sebagai berikut:

“Setiap keterangan yang keliru atau tidak benar (misrepresentation), atau setiap tidak memberitahukan hal-hal yang diketahui oleh tertanggung (non-disclosure), betapapun itikad

(6)

baik ada padanya, yang demikian sifatnya, sehingga seandainya penanggung telah mengetahui keadaan yang sebenarnya, perjanjian itu tidak akan ditutup, atau bila sudah ditutup dengan syarat yang sama, mengakibatkan batalnya perjanjian pertanggungan”.

Bila penerapan prinsip utmost good faith secara tidak adil ini (duty of disclosure dan larangan misrepresentation) hanya kepada tertanggung, bukan tidak mungkin penanggung menjadikan prinsip ini sebagai sarana spekulasi untuk menguntungkan diri sendiri dan merugikan pihak tertanggung atau pemegang polis. Pada tahap pra-kontrak misalnya, kesempatan penanggung untuk melakukan misrepresentasi terbuka lebar dalam rangka menarik minat calon tertanggung, sehingga calon tertanggung atau pemegang polis tidak mendapatkan informasi lengkap (materil) mengenai produk asuransi yang ditawarkan kepadanya, dan jika ini dilakukan menjadi sebuah tindakan kecurangan (fraud), dan misrepresentasi merupakan salah satu unsur dari fraud itu sendiri.

Misrepresentasi adalah pernyataan tentang sesuatu sebagai fakta yang sebenarnya tidak benar, dan tertanggung/penanggung yang menyatakan, mengetahui bahwa itu tidak benar, dengan maksud untuk menipu penjamin emisi (underwriter)12atau tindakan membuat pernyataan salah atau menyesatkan, pernyataan yang tidak sesuai dengan fakta

12 Salzman Gary I, “Misrepresentation and Concealment in Insurance,” Am. Bus. LJ 8, (1970) : 119 13 Bryan A. Garner, (Editor), Black’s Law Dictionary, 8th ed., (U.S.A: Thomson West, 2004), p.3169 14 Ibid., p.3170

15 Ibid., p.1950

tentang sesuatu dengan maksud untuk menipu (with the intent to deceive), biasanya berbentuk lisan atau kata-kata tertulis, disebut juga representasi palsu (false representation).

Penyembunyian (concealment) atau bahkan non-disclosure mungkin memiliki efek sama sebagai misrepresentasi.13

Garner mengatakan misrepresentation sebagai kecurangan (fraudulent) memiliki ciri- ciri bahwa pembuatnya (a) tahu atau percaya bahwa pernyataan atau keterangan yang disampaikannya tersebut tidak sesuai dengan fakta, atau (b) tidak memiliki keyakinan bahwa ia menyatakan atau menyiratkan kebenaran dari pernyataan tersebut, atau (c) mengetahui bahwa dia tidak memiliki dasar (pengetahuan) tentang apa yang dia nyatakan atau implikasi atas pernyataan tersebut“).14

Pernyataan keliru (misrepresentation) tidak bisa dipisahkan dari fraud (kecurangan), bahkan misrepresentasi ini diakui sebagai bagian dari fraud. Hal ini bisa dipahami dari penjelasan Garner dalam bukunya “Black’s Law Dictionary”, sebagai berikut:

“Fraud is (1) A knowing misrepresentation of the truth or concealment of a material fact to induce another to act to his or her detriment; is usual a tort, but in some cases (esp. when the conduct is willful) it may be a crime, (2) A misrepresentation made recklessly without belief in its truth to induce another person to act”.15

(7)

Misrepresentasi juga memiliki kesamaan dengan penyalahgunaan, yakni terjadi dalam tahap pra kontrak dan bertujuan merugikan calon pemegang polis atau tertanggung, keduanya merupakan satu rangkaian tindakan yang saling mendukung satu sama lain.

Misrepresentasi oleh perusahaan asuransi biasanya memanfaatkan kelemahan calon pemegang polis atau tertanggung dari berbagai sisi, dengan memberikan informasi keliru atau menyesatkan yang menyebabkan calon tertanggung menjadi tidak bebas dalam memberikan kesepakatannya, dan ini disebut penyalahgunaan keadaan (misbruik van omstandigheden; undue influence).

Kedua hal ini bisa terjadi secara bersama- sama atau sendiri-sendiri pada tahap pra-kontrak dengan akibat hukum yang sama, yaitu kontrak bisa dibatalkan. Persoalannya, apakah tertanggung atau pemegang polis memahami kedua doktrin atau prinsip hukum ini sehingga saat terjadi sengketa tidak lupa mencantumkannya dalam gugatan, baik pada bagian posita atau pun petitum gugatan.

B. Bentuk-bentuk Misrepresentasi yang Dilakukan Penanggung

Upaya kehati-hatian para pihak dalam mengadakan kontrak harus dilakukan pada tahap pra-kontrak, karena kemungkinan tindakan “misrepresentasi” (keterangan keliru atau kurang lengkap/kabur) atau pun tindakan

“panyalahgunaan keadaan” oleh salah satu pihak, bisa terjadi pada tahap pra-kontrak, sehingga merugikan pihak lainnya.

Dalam kontrak asuransi, sebagaimana diatur dalam Section 17 Marine Insurance Act (MIA) 1906 Inggris, kewajiban untuk beritikad terbaik (utmost good faith), meliputi duty of disclosure dan larangan misrepresentation, sesungguhnya menjadi isu sentral dalam bisnis asuransi, yang ditekankan pada pihak tertanggung. Saat ini, kewajiban untuk jujur, menyajikan informasi apa adanya yang diketahui atau pantas diketahui oleh para pihak dalam hubungan kotrak asuransi wajib juga dilakukan oleh perusahaan asuransi, bahkan wajib juga bagi agent dan underwriter, dan hal itu sudah dimulai jauh sebelum lahirnya Marine Insurance Act (MIA) 1906 sebagaimana dikenal dalam perkara Carter vs.

Boehm (1766).

Sayangnya, Pasal 251 KUHD Indonesia tidak membebankan kewajiban kepada penanggung untuk beritikad baik dalam kontrak asuransi, juga tidak ada larangan dan sanksi bagi perusahaan asuransi jika ketahuan melakukan tindakan misrepresentasi. Sehingga sangatlah pantas jika dikatakan prinsip utmost good faith dalam Pasal 251 KUHD sebagai ketentuan tidak adil dan diskriminatif, padahal dasar dan konstitusi negara Republik Indonesia sangat menjunjung tinggi keadilan sebagai tujuan ideal negara dan anti terhadap tindakan diskriminatif.

Kehadiran prinsip utmost good faith bukan tanpa alasan, selain sebagai sarana kontrol untuk membatasi tindakan kecurangan dan menjamin keberlangsungan itikad baik itu

(8)

sendiri,16juga dalam rangka melindungi kepentingan para pihak yang terikat dalam kontrak, namun pada prakteknya, penerapan prinsip ini justru lebih banyak merugikan pihak tertanggung, menimbulkan ketidakseimbangan dalam kontrak, salah satunya membuka celah bagi pihak penanggung untuk melakukan misrepresentasi dengan maksud merugikan tertanggung.

Mengacu pada pendapat Godfrey,17 pada tahap pra-kontrak, beberapa tindakan pelanggaran duty of utmost good faith, baik dalam bentuk misrepresentation atau pun non-disclosure bisa dilakukan oleh penanggung, antara lain sebagai berikut:

1. Penanggung gagal menjelaskan ketentuan penting polis kepada tertanggung;

2. Penanggung gagal memberi tahu tertanggung tentang konsekuensi serius pelanggaran syarat suatu polis;

3. Penanggung gagal memberi tahu tertanggung tentang segala kondisi yang mendahului kewajiban perusahaan asuransi untuk membayar klaim;

4. Penanggung gagal memberi tahu tertanggung bahwa polis yang mereka peroleh tidak memberikan perlindungan yang mereka minta secara eksplisit;

5. Penanggung gagal memberi tahu tertanggung tentang hak yang mereka miliki berdasarkan polis yang tidak diketahui oleh tertanggung;

6. Penanggung gagal menyusun polis asuransi dalam bahasa jelas dan tidak ambigu, sehingga tertanggung memahami dengan jelas polis tersebut.

16 Joh Lowry, “Whither the duty of good faith in UK insurance contracts,” Conn. Ins. LJ 16, (2009): 104

17 Kelly Godfrey, “The Duty of Utmost Good Faith - The Great Unknown of Modern Insurance Law,” Insurance Law Journal 14, (2002): 56.

Akibat pelanggaran principle of utmost good faith oleh perusahaan asuransi, tertanggung pada akhirnya mendapatkan informasi atau pemahaman yang salah mengenai polis dan segala ketentuannya.

Saat tertanggung mengajukan klaim asuransi, tertanggung malah dituduh melakukan misrepresentasi atau bahkan non-disclosure, sehingga tidak bisa mendapatkan haknya berupa ganti kerugian atau pembayaran sejumlah uang. Padahal penyebab awalnya adalah akibat kegagalan perusahaan dalam menyajikan informasi yang benar kepada tertanggung.

1. Perkara No.147 K/PDT/2009 antara Vincent Salim Saragi vs Asuransi Jiwa Bersama Bumi Putera 1912 (AJBBP)

Pada perkara No.147 K/PDT/2009 antara Vincent Salim Saragi vs Asuransi Jiwa Bersama Bumi Putera 1912 (AJBBP), pada halaman 16 putusan hakim Kasasi dalam perkara ini memberikan pertimbangan bahwa Judex Facti (Pengadilan Tinggi) telah salah dalam menerapkan hukum atau setidaknya tidak memberikan pertimbangan yang cukup.

Merupakan kelaziman pihak asuransi dikala hendak menarik calon nasabah asuransi, perusahaan tidak memperhatikan syarat kemungkinan yang akan terjadi seperti pemeriksaan kesehatan. Ternyata dalam pengisian formulir mengenai kesehatan tidak diisi oleh Tertanggung padahal tidak diadakan

(9)

cek up kesehatan. Baru setelah Tertanggung meninggal, pihak asuransi mencari alasan melakukan investigasi atas kesehatan Tertanggung, hal ini sekedar akal-akalan dari pihak asuransi untuk tidak memenuhi kewajibannya, apalagi dengan keluarnya polis asuransi atas nama Tertanggung, berarti semua persyaratan telah terpenuhi. Hal ini dipandang sebagai kecerobohan pihak asuransi, sehingga penanggung tidak dapat melepaskan diri dari tanggung jawab untuk memenuhi kewajibannya.

Menurut penulis, walaupun hakim dalam perkara ini tidak menyinggung dasar hukum misrepresentasi dalam putusannya, namun dalam pertimbangannya, terlihat bahwa sesungguhnya pihak penanggung sudah melanggar ketentuan misrepresentasi dan bahkan doktrin penyalahgunaan keadaan pada saat bersamaan. AJBBP dalam persyaratan polis tidak mewajibkan adanya pemeriksaan kesehatan, padahal polis ini menanggung jiwa seseorang yang salah satu persyaratannya menghendaki adanya informasi atau fakta materil mengenai kesehatan calon tertanggung.

Kelaziman dalam praktik asuransi jiwa telah dengan sengaja dibaikan oleh AJBBP dengan berlindung pada asas kebebasan berkontrak.

Padahal asas kebebasan berkontrak pada intinya tidak boleh dilakukan sebebas- bebasnya sehingga merugikan salah satu pihak dalam kontrak.

Dalam perkara ini, tindakan misrepresentasi pertama yang dilakukan AJBBP adalah tidak memberikan informasi

yang benar mengenai pentingnya pemeriksaan kesehatan dalam kaitannya dengan asuransi jiwa, padahal pemeriksaan kesehatan merupakan bagian penting dan tidak bisa dipisahkan dalam pembukaan polis asuransi jiwa, tetapi perusahaan malah membebaskan calon tertanggung untuk tidak melakukan medical check-up. Kedua, karena tidak ada kewajiban pemeriksaaan kesehatan, AJBBP sebagai penanggung kemudian memberikan informasi mengenai tidak pentingnya mengisi kolom khusus dalam formulir SPAJ (halaman 2 putusan), sehingga tertanggung mengabaikan dengan membiarkan kolom informasi kesehatan dalam keadaan kosong, padahal informasi kesehatan sangat diperlukan untuk menentukan besarnya premi dan penting bagi penanggung apakah akan mengambil alih risiko atau tidak sesuai dengan informasi kesehatan yang diperolehnya dari tertanggung. Ketiga, penanggung gagal dalam menjelaskan hubungan antara kejujuran dalam mengungkapkan informasi kesehatan secara lengkap dengan risiko batalnya polis atau klaim asuransi ditolak sesuai dengan ketentuan Pasal 251 KUHD. Penanggung memberikan kesan pada tertanggung seolah-olah polis asuransi jiwa tetap berlaku, tidak akan dibatalkan atau manfaatnya tetap bisa diklaim / dinikmati tertanggung (ahli waris) walaupun tidak ada medical check-up. Bahwa informasi kesehatan yang tidak dijelaskan tertanggung dengan cara membiarkan kolom formulir dalam keadaan kosong (karena tidak ada medical check-up) seolah-olah tidak berdampak hukum dan tidak

(10)

menyebabkan asuransi dapat dibatalkan.

Bila mengacu pada pendapat Godfrey di atas, maka dalam Perkara No: No.147 K/

PDT/2009 antara Vincent Salim Saragi vs Asuransi Jiwa Bersama Bumi Putera 1912 (AJBBP), dapat disimpulkan adanya 3 (tiga) tindakan misrepresentasi yang dilakukan penanggung, yaitu

a. penanggung gagal (failed;

unsuccessful) menjelaskan ketentuan penting polis kepada tertanggung;

b. penanggung gagal (failed; unsuccessful) memberi tahu tertanggung tentang konsekuensi serius pelanggaran syarat suatu polis;

c. penanggung gagal (failed; unsuccessful) memberi tahu tertanggung tentang segala kondisi yang mendahului kewajiban perusahaan asuransi untuk membayar klaim.

Disisi lain, penanggung juga melakukan tindakan penyalahgunaan keadaan (undue influence). Pertama, menyalahgunakan keadaan mengenai lemahnya pengetahuan calon tertanggung tentang asuransi jiwa, baik persyaratannya, ketentuan hukum atau pun prinsip-prinsip yang berlaku dalam asuransi jiwa. Kedua, perusahaan menyalahgunaan kepolosan tertanggung yang dengan begitu saja percaya atas segala informasi menarik dan manfaat yang dijanjikan penanggung pada masa akhir kontrak. Ketiga, karena sukses melakukan tindakan penyalahgunaan pada poin pertama dan poin kedua, maka tindakan berikutnya adalah memanfaatkan keadaan

tersebut untuk kemudian melakukan kegiatan investigasi kesehatan tertanggung sebagai dasar untuk menolak pembayaran klaim atau manfaat asuransi. Padahal saat pra-kontrak, kolom kesehatan dalam formulir SPAJ diperintahkan oleh penanggung untuk tidak diisi, namun belakangan, setelah Penggugat mengurus klaim kepada Penanggung/

Tergugat, Penggugat baru mengetahui bahwa kolom keterangan kesehatan yang tidak boleh diisi oleh Tertanggung itu kemudian sengaja diisi sendiri oleh Penanggung/Tergugat dengan data yang merugikan Tertanggung dan/atau ahli warisnya.

Mengacu pada tindakan penyalahgunaan keadaan tersebut, dan dikaitkan dengan ketentuan Pasal 1321 KUHPerdata, Penanggung telah melakukan penipuan dengan maksud menguntungkan diri sendiri, sehingga pihak Tertanggung dipandang tidak bebas dalam menyatakan kehendaknya saat kesepakatan terjadi, hal inilah yang disebut cacat kehendak (wilsgebreken). Namun yang menjadi masalah, baik dalam posita maupun dalam petitum gugatan, Penggugat tidak mengemukakan telah terjadi cacat kehendak atau adanya tindakan penyalahgunaan keadaan yang dilakukan Penanggung/Tergugat, sehingga hakim pengadilan tidak memberikan pertimbangan hukum berkenaan dengan penyalahgunaan keadaan atau cacat kehendak, hal ini dalam upaya menghindari terjadinya putusan di luar gugatan (ultra petita).

Prinsip ultra petita yang dikenal dalam Hukum Acara Perdata telah diatur dalam Pasal

(11)

178 (3) HIR dan Pasal 189 (3) Rbg, dimana Hakim dilarang menjatuhkan putusan atas perkara yang tidak dituntut atau mengabulkan lebih daripada yang dituntut.18Hakim hanya menimbang hal-hal yang diajukan para pihak dan tuntutan hukum yang didasarkan kepadanya (iudex non ultra petita atau ultra petita non cognoscitur).19Prinsip hukum ini juga berkaitan dengan salah satu asas dalam hukum acara perdata yakni asas “hakim bersifat pasif,” artinya hakim dalam memeriksa perkara perdata bersikap pasif dalam arti kata ruang lingkup atau luas pokok sengketa yang diajukan kepada hakim untuk diperiksa pada asasnya ditentukan oleh para pihak bukan oleh hakim,20 sehingga sangat rasional bila hakim tidak akan memutus perkara yang tidak dituntut oleh penggugat. Bila hakim memutus melebihi apa yang dituntut oleh penggugat, hakim dipandang telah melampaui batas wewenangnya (ultra vires), dan putusan hakim seperti ini berakibat dibatalkan oleh hakim pada tingkat kasasi Mahkamah Agung Republik Indonesia,21seperti dalam Perkara Nomor 530/PK/Pdt/2017, dalam perkara antara Pimpinan Cabang PT. Asuransi

18 B. S. A. Subagyono, et al, Kajian Penerapan Asas Ultra Petita Pada Petitum Ex Aequo Et Bono, Yuridika, 29 (1), (2014) : 103.

19 Ibid., hlm.104

20 Hazar Kusmayanti, Eidy Sandra, dan Ria Novianti. “Sidang Keliling dan Prinsip-Prinsip Hukum Acara Perdata: Studi Pengamatan Sidang Keliling di Pengadilan Agama Tasikmalaya.” ADHAPER: Jurnal Hukum Acara Perdata 1, no. 2, (2015): 103.

21 Pasal 30 (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung, menyatakan bahwa Mahkamah Agung dalam tingkat kasasi membatalkan putusan atau penetapan pengadilan-pengadilan dari semua lingkungan peradilan karena: a. tidak berwenang atau melampaui batas wewenang; b. salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku; c. lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang bersangkutan.

22 Bandingkan dengan: Yurisprudensi Putusan Mahkamah Agung No: 1321 K/Sip/1973 tanggal 13 Mei 1975, menyatakan bahwa tuntutan mengenai bunga uang, karena tidak diperjanjikan dengan tegas, tidak dapat dikabulkan.

Jasa Indonesia (Persero) Tarakan dan PT.

Asuransi Jasa Indonesia (Persero) vs. Yosep dan Pimpinan Cabang PT. BNI (Persero) Tbk Tarakan, dimana Majelis Hakim PK MA dalam pertimbangan hukum III dan IV hlm.

27-32, sebagai berikut:

“Putusan Kasasi Mahkamah Agung juncto Putusan Pengadilan Tinggi Samarinda juncto Putusan Pengadilan Negeri Tarakan harus dibatalkan karena mengabulkan bunga yang tidak dituntut oleh termohon Peninjauan Kembali atau mengabulkan lebih dari yang dituntut (ultra Petitum)”.22

Pada Perkara No.147 K/PDT/2009 ini, hakim menyatakan bahwa tindakan yang dilakukan Tergugat (AJBBP) tersebut bukanlah penyalahgunaan keadaan atau cacat kehendak, melainkan sebagai kecerobohan pihak asuransi, dan oleh karenanya tidak dapat melepaskan diri dari tanggung jawab untuk memenuhi kewajibannya, sehingga pada akhirnya hakim memenangkan tertanggung dan membebani perusahaan untuk membayar ganti kerugian kepada tertanggung secara tunai dan sekaligus berupa ganti rugi atas bunga bank.

(12)

2. Perkara Nomor 1499/Pdt.G/2009/

PN.Jkt.Sel., antara Cecil David Camil (Penggugat) vs PT.

Prudential Life Insurance

Perkara Nomor 1499/Pdt.G/2009/PN.Jkt.

Sel., antara Cecil David Camil (Penggugat) vs PT. Prudential Life Insurance (Tergugat) juga mengandung unsur misrepresentasi.

PT. Prudential Life Insurance (disingkat PT.PLI) diduga melakukan misrepresentasi yang menyatakan klaim bisa dilakukan dengan mudah hanya dengan potocopy bukti pengeluaran biaya rumah sakit, dan tidak menjadi soal bila sebelumnya tertanggung sudah dicover oleh perusahaan tempat bekerja. Pada saat sebelum kontrak berjalan.

Tertanggung tidak mendapatkan penjelasan dari perusahaan bahwa klaim asuransi akan ditolak jika Tertanggung sudah dicover oleh perusahaan lain, dan pada kenyataannya kalim asuransi harus diajukan dengan menunjukkan kwitansi asli bukti pengeluaran biaya rumah sakit.

Pada perkara ini, Penggugat telah menjelaskan dalam positanya mengenai adanya keterangan keliru yang dilakukan Tergugat walaupun tanpa menyebut terminologi misrepresentasi, apalagi dasar hukumnya, bahkan juga tidak disebut dalam petitum. Dalam petitum ke-3 halaman 8 putusan, Penggugat hanya menyatakan bahwa Tergugat melakukan “tipu muslihat’

atau setidaknya oleh sebab “kelalaian yang disengaja” yang dimaksudkan untuk

“menghindar dari kewajiban membayar

klaim”, tidak menyatakan Tergugat sudah melakukan wanprestasi. Namun dalam pandangan penulis, frasa “kelalaian yang disengaja” atau frasa “menghindar dari kewajiban membayar klaim” memiliki makna yang sama dengan wanprestasi.

Penanggung kemudian berdalih bahwa penolakan klaim didasarkan pada ketentuan polis yang menyatakan “jika tertanggung juga mempunyai asuransi kesehatan dari perusahaan lainnya, yang memberikan pertanggungan sejenis bagi penyakit, cidera atau ketidakmampuan, yang juga dipertanggungkan dibawah polis ini, maka setelah dikurangi jumlah total semua manfaat asuransi yang telah dibayarkan oleh perusahaan lainnya,…Penanggung hanya akan membayarkan biaya yang tersisa sampai maksimum jumlah yang dipertanggungkan dalam Polis”. Denga kata lain, klaim ditolak dengan alasan karena tagihan atas perawatan tersebut sebesar Rp 10.201.947, telah dibayarkan oleh PT. Global Asistensi Manajemen Indonesia (Global Assistance &

Healthcare). Berdasarkan isis polis tersebut, Penanggung (Tergugat) punya alasan menolak membayar klaim asuransi yang diajukan Tertanggung karena sudah dibayarkan oleh perusahaan lain, walaupun kenyataannya PT.

GAMI bukanlah perusahaan asuransi.

Hakim Pengadilan yang memeriksa perkara ini dalam pertimbangan putusannya pada halaman 18 berpendapat bahwa

“fotocopi kuitansi yang dilegalisir oleh yang berwenang (bukti P2, dan P3) nilainya sama

(13)

dengan kuitansi aslinya”, sehingga ketentuan dalam polis asuransi butir 9.1 khususnya butir 9.1.1 terpenuhi, dengan demikian penggugat akan mendapatkan keadilan.

Akhirnya, Hakim mengabulkan gugatan penggugat untuk sebagian dan menetapkan polis tersebut adalah sah dan masih berlaku.

Menurut hakim, sudah seharusnya Tergugat bertanggung jawab terhadap pengajuan klaim tersebut, oleh karena itu menghukum tergugat untuk membayar 2 (dua) kali pengajuan klaim Penggugat.

Berkenaan dengan petitum ketiga Penggugat mengenai adanya “tipu muslihat”

yang dilakukan Tergugat / Persuahaan Asuransi, Hakim Pengadilan dalam pertimbangan hukumnya halaman 18 menyatakan:

“Menimbang, terhadap petitum ke 3 penggugat, karena berdasarkan keterangan saksi Roni Parmanto Sitanggang dipersidangan petugas asuransi yang memprospek penggugat saat itu, tidak pernah mengatakan kuitansi fotocopi bisa untuk persyaratan klaim, dan tidak ada bukti penggugat lainnya tentang hal ini, maka “tidak terjadi tipu muslihat” atau setidaknya karena

“kelalaian yang disengaja dari tergugat untuk menghindar dari kewajibannya membayar klaim”, sehingga tidak ada alasan menurut hukum untuk menetapkan hubungan perjanjian penanggungan antara penggugat dengan tergugat putus demi hukum, karenanya petitum ke 3 tersebut harus ditolak”.

Tipu muslihat yang dimaksud oleh Penggugat adalah tipu muslihat yang terjadi pada awal kontrak, yakni mengenai adanya

keterangan menyesatkan yang disampaikan oleh Perusahaan Asuransi atau Agennya, yang menyatakan klaim asuransi bisa dilakukan dengan mudah hanya dengan potocopy bukti pengeluaran biaya rumah sakit, dan tidak menjadi soal bila sebelumnya tertanggung sudah dicover oleh perusahaan tempat bekerja.

Namun pada kenyataannya klaim dengan potocopy bukti pengeluaran saja tidak cukup sehingga klaim yang diajukan Penggugat ditolak.

Tipu muslihat dalam perjanjian sebenarnya termasuk salah satu unsur yang dapat membatalkan perjanjian, diatur dalam Pasal 1321 jo 1328 KUHPerdata. Menurut penulis, walaupun hakim memiliki pandangan tidak ada tipu muslihat dalam perkara Cecil David Camil vs PT. Prudential Life Insurance, namun keterangan yang menyesatkan (misrepresentasi) yang disampaikan oleh Perusahaan Asuransi atau Agennya, dengan menyatakan klaim asuransi bisa dilakukan menunjukkan potocopy bukti pengeluaran biaya rumah sakit sudah mengandung unsur penipuan, dan hal ini bisa dikategorikan sebagai cacat kehendak atau penyalahgunaan keadaan. Penanggung memanfaatkan keadaan akan terbatasnya pengetahuan calon tertanggung yang secara psikologis menjadi titik lemah calon tertanggung sehingga mendorong dirinya menerima informasi itu seolah-olah benar.

Baik misrepresentasi atau pun penyalahgunaan keadaan memiliki kemiripan, yakni sama-sama merupakan penipuan

(14)

(fraud). Misrepresentasi merupakan bagian atau pre-determinan bagi munculnya tindakan penyalahgunaan keadaan. Dengan informasi menyesatkan tersebut, secara sadar atau tidak, karena posisinya yang kuat, penanggung telah menyalahgunakan posisinya atau memanfaatkan keadaan tertanggung yang lemah dari segala aspek, sehingga menyebabkan tertanggung terdorong mengambil asuransi.

Sumriyah menyebut penyesatan (misrepresentation) sebagai salah satu jenis cacat kehendak atau penyalahgunaan keadaan. Dalam sistem hukum Indonesia, misrepresentation ini dapat dipadankan dengan kesesatan dalam Pasal 1322 BW, yaitu gambaran keliru yang berasal dari faktor internal terhadap sifat-sifat maupun keadaan- keadaan benda.23

Kehadiran prinsip ini dengan segala konsekuensi hukumnya dengan dukungan peraturan perundang-undangan asuransi yang diskriminatif dan pro penanggung, memberikan kedudukan semakin kuat bagi perusahaan asuransi untuk mencengkram dan memaksakan kehendaknya pada tertanggung dengan pengaturan isi polis yang cendrung memberatkan tertanggung. Pencantuman isi polis yang sifatnya memberatkan tertanggung dalam wujud adhesion contracts juga merupakan bagian dari penyalahgunaan keadaan, dalam hukum anglo disebut

23 Sumriyah, “Cacat Kehendak (Wilsgebreken) sebagai Upaya Pembatalan Perjanjian dalam Perspektif Hukum Perdata,” Simposium Hukum Indonesia 1, no. 1, 2019, hlm. 666

24 Ibid., hlm. 667

25 Arthur C. Schreiber, “Lord Mansfield - The Father of Insurance Law,” Ins. LJ, 1960, hlm. 766.

unconscionability. Kontrak adhesi atau perjanjian baku ini praktiknya memuat banyak syarat baku yang tidak dirundingkan dan disusun sendiri oleh salah satu pihak serta menguntungkan bagi pihak yang menyusunnya.24

Menurut Schreiber, filosofi utama pentingnya kehadiran prinsip utmost good faith (salah satunya larangan misrepresentation) adalah dalam rangka mengurangi kekhawatiran terjadinya cacat kehendak atau penyalahgunaan keadaan dan mendorong itikad baik dalam perjanjian asuransi.25Dengan demikian, sulit memisahkan hubungan antara misrepresentasi (sebagai bagian dari prinsip utmost good faith) dengan doktrin penyalahgunaan keadaan atau cacat kehendak (undue influence), karena memiliki tujuan yang sama, yakni mendorong itikad baik dalam perjanjian asuransi. Jika tugas misrepresentation dan duty of disclosure dibebankan kepada tertanggung agar beritikad baik, maka kehadiran doktrin penyalahgunaan keadaan bertujuan untuk membatasi kewenangan penanggung agar tindakannya tidak semena-mena dan senantiasa bertindak dalam bingkai itikad baik.

3. Perkara No. 2506 K/Pdt/2011, antara Ny. Milo Herlina vs Asuransi Jiwa Mega Life (AJML) Jkt c.q. AJML

Berkaitan dengan Perkara No. 2506 K/

Pdt/2011, antara Ny. Milo Herlina vs Asuransi

(15)

Jiwa Mega Life (AJML) Jkt c.q. AJML Pontianak, tindakan misrepresentasi itu dilakukan oleh penanggung melalui informasi keliru yang disampaikan oleh agen dan kepala cabang AJML, bahwa “polis AJML dapat ditutup untuk orang lain, walaupun calon tertanggung (keponakan) tersebut tidak memiliki akta kelahiran, dan bisa digantikan dengan sebuah surat pernyataan saja”. Dengan informasi keliru itu mendorong pemegang polis terperdaya dan akhirnya menutup polis dengan nilai pertanggungan 300 juta dengan kwitansi premi pertama 16 September 2009.

Pada tanggal 30 September 2009, tertanggung (bernama Sisilia) meninggal dunia karena demam berdarah. Pada tanggal 17 Oktober 2009, penggugat/pemegang polis mengajukan permohonan klaim asuransi.

Baru pada tanggal 30 Oktober 2009 tergugat/

penanggung memberikan jawaban jika klaim asuransi tetapi ditolak dengan alasan dengan alasan bahwa SPAJ yang dimohonkan Penggugat tidak dapat dikabulkan karena kurang persyaratan, dan tertanggung (bernama Sisilia) bukan anak kandung penggugat/

pemegang polis. Karena tergugat/penanggung menolak klaim yang diajukan oleh penggugat/

pemegang polis, pada tanggal 15 Januari 2010, tergugat/penanggung melalui suratnya, berjanji akan mengembalikan uang premi yang sudah terlanjur diterima oleh tergugat/

penanggung.

Melalui putusan dengan perkara No. 20/

Pdt.G/2010/PN.PTK, 26 Juli 2010, hakim memberikan keputusan dan menyatakan

tergugat/penanggung telah melakukan perbuatan ingkar janji/ wanprestasi, dan wajib untuk membayar kerugian kepada penggugat/pemegang polis sebesar Rp.300 juta secara tunai, seketika dan sekaligus.

Namun sayangnya, pada tingkat banding, melalui putusan No. 59/PDT/2010/PT.PTK, putusan Pengadilan Negeri Pontianak tanggal 26 Juli 2010 dibatalkan dan menyatakan menolak gugatan pemegang polis/terbanding seluruhnya. Hakim Pengadilan Tinggi Pontianak dalam pertimbangannya memberi alasan bahwa “Penggugat/Terbanding tidak dapat membuktikan dipersidangan bahwa polis sudah terbit, dan kenyataannya memang polis belum diterima oleh pemegang polis/

penggugat. Dengan alasan itu, Hakim menyatakan perjanjian pertanggungan dalam perkara ini belum sempurna dan dianggap belum ada”.

Perkara ini kemudian dilanjutkan pada tingkat kasasi MA dengan register perkara No.2506 K/Pdt/2011. Dalam pertimbangannya, Hakim kasasi menyatakan hahwa persyaratan/dokumen pendukung pengajuan asuransi telah diterima oleh pihak Tergugat, dan pembayaran premi semesteran sebesar Rp. 6.525.000,- juga telah masuk ke rekening Tergugat pada tanggal 16 September 2009, sehingga telah lahir hubungan hukum perjanjian pertanggungan antara Penggugat dan Tergugat sekalipun polis belum ditanda tangani oleh Tergugat.

4. Perkara No. 424 K/Pdt/2012 antara Erna Dwiningsih vs Asuransi Jiwa

(16)

Central Asia Raya.

Lazimnya, penutupan asuransi jiwa selalu mensyaratkan adanya pemeriksaan kesehatan dari calon tertanggung. Dalam perkara ini, kewajiban pemeriksaan kesehatan tidak menjadi salah satu syarat bagi penutupan asuransi jiwa kredit oleh PT. Asuransi Jiwa Central Asia Raya (AJCAR). Hal ini tentu saja menjadi tanda tanya besar bagi peneliti dan akademisi di bidang asuransi. Adakah regulasi yang membolehkan hal ini dan dimana itu diatur atau merupakan kebijakan internal dari perusahaan asuransi sebagai wujud penerapan asas kebebasan berkontrak?

Perjanjian kredit yang dilakukan antara PT. Bank Bumi Putra (BBP) dengan Drs.

Soehermanto (almarhum) sebagai perjanjian utama yang melahirkan kewajiban ditutupnya asuransi jiwa kredit, mewajibkan adanya medical check-up terhadap calon debitur.

Namun, informasi kesehatan yang sudah diketahui oleh BBP selaku kreditur mengenai riwayat penyakit kronis calon nasabah tidak disampaikan kepada AJCAR. Jika BBP selaku kreditur sudah mengetahui adanya penyakit kronis yang diderita oleh calon debitur, sepantasnya perjanjian kredit tidak dilanjutkan, karena tidak memenuhi syarat sebagai debitur.

Namun kenyataannya, perjanjian kredit tetap dilanjutkan dan diproses oleh BPP, sehingga melahirkan kewajiban baru bagi debitur untuk menutup asuransi jiwa kredit sebagai syarat jaminan bagi pelunasan kredit di masa mendatang. Informasi kesehatan debitur yang tidak diberikan kepada AJCAR

ditengarai sebagai bentuk itikad tidak baik dari BBP dan melanggar prinsip kehati-hatian bank (prudential banking) dalam penyaluran kredit. Selain itu, kebijakan perusahaan asuransi AJCAR yang membebaskan calon tertanggung untuk tidak melakukan medical check-up juga dipandang sebagai bentuk itikad tidak baik, melanggar prinsip kehati-hatian dan penyalahgunaan keadaan, serta dipandang sebagai tindakan kecerobohan yang disengaja.

AJCAR wajib menerapkan prinsip kehati- hatian dalam menerima pengalihan risiko, dengan tetap mewajibkan calon tertanggung yang terikat perjanjian kredit dengan bank untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.

AJCAR seharusnya memberikan informasi tentang arti penting medical check-up, sebagai bagian tidak terpisahkan dengan syarat penutupan polis dan hubungannya dengan klaim asuransi. Sebgaimana sudah dijelaskan pada paragraph sebelumnya, bahwa tindakan penanggung membebaskan calon tertanggung tidak melakukan medical check-up dipandang sebagai bentuk itikad tidak baik, dan penyalahgunaan keadaan.

Selain tidak memberikan informasi yang wajar tentang hubungan kesehatan dan klaim asuransi dalam perjanjian asuransi jiwa kredit, dengan motif menangguk keuntungan, penanggung sudah bisa memastikan bahwa tertanggung nantinya tidak akan mendapatkan ganti kerugian karena tidak mengungkapkan segala keadaan materil berkenaan dengan kesehatannya pada saat mengisi formulir permohonan asuransi. Tindakan penanggung

(17)

melalui agennya tentunya merupakan strategi marketing untuk meraup keuntungan dengan mengabaikan prinsip itikad baik agar mampu mengumpulkan premi sebanyak-banyaknya, namun mengabaikan kepentingan tertanggung untuk bisa menikmati haknya dalam bentuk klaim asuransi.

Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Samarinda dalam Putusannya atas perkara No. 130/Pdt/2009/PT.KT.Smda, tanggal 18 Januari 2010 telah memberikan pertimbangan yang cukup adil, menyatakan bahwa

“Seharusnya hasil medical ceck-up dari Laboratorium Klinik Khatulistiwa tertanggal 06 Januari 2007 diserahkan kepada Pemohon Kasasi (AJCAR), karena secara hukum Penanggunglah yang mempunyai kepentingan untuk meneliti riwayat kesehatan Tertanggung (suami Termohon Kasasi), guna menentukan besaran resiko di dalam penutupan asuransi”.

Kemudian pada pertimbangan hukum berikutnya, Majelis Hakim menyatakan bahwa “dalam proses Perjanjian asuransi bukan hanya Tertanggung yang harus jujur, Penanggung juga harus jujur”.

Menurut pandangan Hakim Kasasi MA, pertimbangan Majelis Hakim PT Samarinda dianggap keliru, dan menyatakan bahwa

“Judex Facti/Pengadilan Tinggi Kalimantan Timur tidak memberikan pertimbangan yang cukup terhadap fakta persidangan yang menunjukkan bahwa ketika mengisi formulir permintaan asuransi jiwa kredit Kepada Tergugat II (AJCAR) untuk hutangnya pada Tergugat I (BBP). Hakim Kasasi lebuh lanjut

menyatakan bahwa suami Penggugat telah memberikan keterangan yang tidak benar, yakni menyatakan tidak menderita suatu penyakit, sedangkan fakta dipersidangan menunjukkan bahwa 7 (tujuh) bulan atau dalam periode 2 (dua) tahun sebelum tanggal pengisian formulir tersebut, suami Penggugat telah mengidap penyakit tumor buli-buli, sehingga suami Penggugat telah melakukan fraud sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 251 KUHD, dan Hakim Kasasi menyimpulkan perjanjian penutupan asuransi jiwa kredit antara suami Penggugat dengan Tergugat II (AJCAR) adalah tidak sah.

Misrepresentasi dalam asuransi semestinya tidak akan terjadi bila prinsip utmost good faith diterapkan secara seimbang, baik kepada tertanggung maupun kepada penanggung.

Dalam penegakan hukum asuransi di pengadilan, prinsip utmost good faith bagi penanggung yang sudah diatur dalam ketentuan di luar KUHD (sebagaimana sudah dijelaskan dalam paragraph 4) harus benar- benar diterapkan oleh hakim sehingga tercipta kepastian dan keseimbangan hukum, terutama dalam upaya melindungi pihak tertanggung.

Simpulan

Dalam perkara-perkara asuransi yang menjadi obyek penelitian ini, diidentifikasi beberapa tindakan misrepresentasi yang diakukan penanggung, Pertama, penanggung gagal memberikan informasi yang benar mengenai pentingnya pemeriksaan kesehatan dalam kaitannya dengan asuransi jiwa. Sebagai

(18)

konsekuensi membebaskan calon tertanggung melakukan medical check-up, perusahaan asuransi kemudian gagal memberikan informasi yang benar mengenai pentingnya mengisi kolom khusus dalam formulir SPAJ, sehingga tertanggung mengabaikannya dengan membiarkan kolom informasi kesehatan dalam keadaan kosong. Kedua, penanggung gagal menjelaskan hubungan antara kejujuran dalam mengungkapkan informasi kesehatan secara lengkap dengan risiko batalnya polis atau konsekuensi klaim asuransi ditolak sesuai dengan ketentuan Pasal 251 KUHD. Penanggung memberikan kesan pada tertanggung seolah-olah polis asuransi jiwa tetap berlaku, atau manfaatnya tetap bisa dinikmati tertanggung (ahli waris) walaupun tidak ada medical check-up. Ketiga, perusahaan memberikan informasi keliru kepada pemegang polis atau tertanggung

dengan mengesankan selah-olah klaim bisa dilakukan dengan mudah hanya dengan foto copy bukti pengeluaran biaya rumah sakit, dan tidak menjadi soal bila sebelumnya tertanggung sudah di-cover oleh perusahaan tempat bekerja. Keempat, perusahaan asuransi gagal menyajikan informasi yang benar bahwa polis hanya dapat ditutup untuk orang lain, jika calon tertanggungnya memiliki akta kelahiran dan tidak bisa digantikan dengan sebuah surat pernyataan saja. Melihat betapa besarnya dampak misrepresentasi yang dipandang sebagai fraud yang lebih banyak merugikan tertanggung, pemerintah diharapkan menghapus ketentuan prinsip utmost good faith dalam Pasal 251 KUHD dan memperbaharuinya dengan cara megantur ulang prinsip ini dalam UU Perasuransian Baru selaras dengan nilai-nilai keadilan dalam falsafah negara Pancasila.

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Basic Insurance Concept and Principles, Singapore : Singapore College of Insurance Limited, 2002

Carter, R.L. Reinsurance. London : Kluwer Publishing Limited,1979.

Garner, Bryan A. (Editor). Black’s Law Dictionary. 8th ed. U.S.A : Thomson West, 2004.

Man Suparman Sastrawidjaja. Aspek-aspek Hukum Asuransi, dan Surat Berharga.

Bandung : PT Alumni, 1997.

Jurnal

Azende, Terungwa. “Risk management and insurance of small and medium scale enterprises (SMEs) in Nigeria.” International Journal of finance and Accounting 1, no. 1, (2012) :

8-17

Chumaida, Zahry Vandawati. “Menciptakan Itikad Baik Yang Berkeadilan Dalam Kontrak Asuransi Jiwa.” Yuridika 29, no. 2 (2014) : 257

Fischer, Emeric. “The Rule of Insurable

(19)

Interest and the Principle of Indemnity:

Are They Measures of Damages in Property Insurance.” Ind. LJ 56, (1980):

445

Gary I. Salzman. “Misrepresentation and Concealment in Insurance.” Am. Bus.

LJ 8. 1970.

Godfrey, Kelly. “The Duty of Utmost Good Faith - The Great Unknown of Modern Insurance Law.” Insurance Law Journal 14, (2002) : 56.

Kramer, Henry T. The Nature of Reinsurance, in REINSURANCE 1, 9 (Robert W.

Strain ed., 1980), dalam Thomas, S. W.

“Utmost Good Faith in Reinsurance: a Tradition in Need of Adjustment”. Duke LJ, 41, 1991, hlm. 1551.

Kumar, D. Suresh, et al. “An Analysis of Farmers’ Perception and Awareness Towards Crop Insurance as a Tool for Risk Management in Tamil Nadu,” Agricultural Economics Research Review 24, no. 1, (2011) : 37-46 Kusmayanti, Hazar, dkk. “Sidang Keliling

dan Prinsip-Prinsip Hukum Acara Perdata: Studi Pengamatan Sidang Keliling di Pengadilan Agama Tasikmalaya.” ADHAPER: Jurnal Hukum Acara Perdata 1, no. 2, (2015) : 103.

Lowry, John. “Whither the duty of good faith in UK insurance contracts.” Conn. Ins.

LJ 16, 2009.

Schreiber, Arthur C. “Lord Mansfield-The Father of Insurance Law,” Ins. LJ,

(1960) : 766.

Spinnewijn, Johannes. “Unemployed but Optimistic: Optimal Insurance Design with Biased Beliefs.” Journal of the European Economic Association 13, no.

1, (2015) : 130-167.

Subagyono, B. S. A. et al. “Kajian Penerapan Asas Ultra Petita Pada Petitum Ex Aequo Et Bono.” Yuridika 29, No.1, (2014) : 103.

Sumriyah. “Cacat Kehendak (Wilsgebreken) Sebagai Upaya Pembatalan Perjanjian dalam Perspektif Hukum Perdata,”

Simposium Hukum Indonesia 1, no. 1, (2019) : 666.

Thomas, S. W. “Utmost Good Faith in Reinsurance: a Tradition in Need of Adjustment”, Duke LJ, 41, 1991 : 1548.

Naskah Internet

Gabriela Jessica. “Perusahaan Asuransi Harus Ditertibkan”,

https://mediaindonesia.com/read/

detail/124954-perusahaan-asuransi- harus-ditertibkan. Diakses 04 November 2020

Peraturan Perundang-undangan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Kitab Undang-Undang Hukum Dagang

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2014

(20)

tentang Perasuransian

Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 23 /POJK.05/2015 tentang Produk Asuransi dan Pemasaran Produk Asuransi.

Referensi

Dokumen terkait

LAPORAN KERJA PRAKTEK FLASHCOM PEMBUATAN WEBSITE ORGANISASI GERAKAN RELAWAN PENGGIAT WISATA DAN LITERASI Oleh : MUHAMMAD RIDHO ALFANI 6304171073 PROGRAM STUDI REKAYASA

Осы орайда төмендегідей ұсыныстарды алға тартамыз: Біріншіден, азаматтарға әлеуметтік желіде белсенділік таныту кезінде көптеген жауапкершіліктердің талап етілетіндігін түсіндіру, бұл