• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kristologi Modern dalam Konteks Asia

N/A
N/A
petrus habeahan

Academic year: 2024

Membagikan "Kristologi Modern dalam Konteks Asia"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Petrus Habeahan (210510063) Kelas : 3-B/Semester 6

M. Kuliah : Kristologi Kontemporer

Dosen : Bertolomeus N. A. P. Ngita Lic. S. Th.

RINGKASAN

KRISTOLOGI MODERN DALAM KONTEKS ASIA

Walaupun perkembangan semula agama Kristiani, agama Yahudi sebelumnya, dan agama Islam sesudahnya tidak terjadi di Eropa, tapi di Asia. Pada zaman patristik dan sepanjang abad pertengahan, agama Kristiani berkembang pesat di wilayah Laut Tengah dan di seluruh benua Eropa. Saat ini gereja berkembang di Amerika Latin, Asia, dan Afrika, dan perkembangan teologi, yaitu teologi pembebasan yang semula berkembang di Amerika Latin.

Sedangkan di Asia dan Afrika berkembang inkulturasi teologi dan teologi kontekstual. Salah satu cara berkristologi konteks Asia aialah karangan Vitus Rubianto yang menguraikan teologi India, Aloysius Pieris.

1. Keriligiusan dan Kemiskinan sebagai Matriks Teologi Asia

Amerika dan Eropa secara ekonomi telah maju, sedangkan Asia tergolong negara berkembang. Artinya, mayoritas masyarakat Asia belum keluar dari kemiskinan ekonomi.

Akan tetapi, berbeda dengan negara berkembang lainnya, di mana suara Kristiani terdengar kuat seperti di Amerika Latin karena warisan spiritual. Dan Afrika karena pesatnya pertumbuhan orang Kristen, maka negara-negara Asia kecuali Filipina minoritas kecil: lebih kurang 3%, setengahnya di Filipina. Di benua ini lahir semua agama yakni Hindu, Budha, Yahudi, Kristen, Islam. Untuk menegaskan realitas Asia, sebagai konteks teologi Asia, Pieris merumuskan kerangka metodologis dan mengulas kedua dimensianya: agama dan kemiskinan.

2. Rumus Dimensi Religius-Kultural

Deminsi religius-kultural benua Asia disrumuskan Pieris sebagai berikut: “Setiap pebicaraan tentang teologi Asia harus bergerak antara dua kutub, yaitu sifat ke-Dunia Ketiga- an benua kita dan sifat ke-Asia-annya yang khas. Kesamaan umumnya ialah kemiskinan yang bertumpah ruah, sedangkan sifat khas yang membedakan Asia dengan negara-negara miskin

(2)

ialah kereligiusannya yang majemuk. Pieris mencatat bahwa kenyataan kemiskinan Asia, walaupun bersifat ekonomis, tidak dapat direduksikan pada kategori ekonomis semata. Begitu pula keberagaman Asia.

3. Popularitas Agama dan Kemiskinan

Dalam realitas Asia, kemiskinan dan keagamaan bersifat kompleks sehingga kata

“kemiskinan” dan “agama” memang dwiarti yang bersifat ganda. Berkutub ganda artinya positif dan negatif baik “kemiskinan” maupun “agama” mempunyai wajah yang memperbudak tapi wajah yang membebaskan. Berdimensi ganda, yaitu psikologis (individual) dan sosiologi (politis).

4. Menuju Suatu Kristologi Asia

Pieris menguraikan dua pendekatan terhadap masalah Kristologi konteks agama dan kemiskinan Asia. Masing-masing mengandung gambaran Kristus yang bertentangan. Kritik atas kedua perspektif Kristologi yang terdapat di Asia memungkinkan membuka perspektif baru untuk Kristologi Asia.

5. Kristik Terhadap Dua Perspektif Kristologi di Asia

Pendekatan pertama masalah kristologi di Asia yaitu pendekatan pemenuhan yang memusatkan perhatian pada agama-agama di Asia. Pendekatan ini dianggap bahwa Kristus sebaga pemenuhan terakhir kerinduan manusia akan penebusan yang berkarya pada semua agama. Namun menjadi bumerang bagi Gereja Asia, sebab agama non-Kristiani dapat beranggapan pendiri mereka memperkenalkan pemenuhan terakhir tadi.

Pendekatan kedua, yaitu pendekatan semi-kontekstual, memusatkan perhatian pada kemiskinan Asia. Konteks ini diabaikan oleh pendekatan pemenuhan tadi. Walaupun menghormati Yesus sebagai “Allah yang menjadi miskin”, dan memuja-Nya sebagai “Guru Ilahi” memberi kebebasan batin dari keserakahan yang mengumpulkan kaum miskin yang saleh di sekitar diri-Nya, namun pendekatan ini tidak memperhatikan masalah struktural yang perlu di atasi.

6. Perspektif Baru untuk Suatu Kristologi Asia

Mewartakan Kristus di Asia mengharapkan dimengerti dalam konteks budaya Asia, maka Gereja berani masuk dalam ungkapan-ungkapan soteriologis agama-agama non-

(3)

Kristiani dan menemukan intisarinya yang memerdekakan. Dalam Yesus tidak harus ditemukan dalam gelar-gelar seperti “Kristus” atau “Putra Allah” tapi dalam misteri keselamatan yang oleh Yesus disalurkan dalam amanat dan pribadi-Nya yang dapat diterima oleh agama-agama lain. Yang dimaksud di sini tidak termasuk ajaran Kristen Anonim yang dikembangkan oleh Karl Rahner. Ajaran Rahner tentang agama-agama non-Kristiani bercirikan Kristologi kripto-kolonialis, walaupun dalam bentuk halus, karena ia sebenarnya memindahkan teologi Kristiani ke agama-agama dari posisi eksklusif. Teori inklusif

“Kekristenan Anonim dapat dengan mudah direlatifkan oleh claim inklusif dari agama-agama lain.

7. Babtisan dalam Yordan Agama Asia

Dengan perendahan di Yordan sebagai sikap kenabian pertama-Nya, Yesus mengidentifikasi diri dengan kaum miskin yang saleh dan melakukan inisiasi di bawah seorang “guru Asia, Yohanes Pembabtis. Peristiwa ini mengandung 4 implikasi bagi Gereja:

a. Tidak memilih gerakan idiologis kaum Zelot, atau puritarisme kaum Eseni, atapuan semangat kaum Farisi dan para Saduki yang aristokrat, tapi memilih tradisi sekte kenabian Yohanes Pembabtis.

b. Seperti Yesus mempertemukan dalam diri-Nya spiritualitas Yohanes Pembaptis, yaitu semangat pengingkaran dunia yang radikal dengan spiritualitas para pengkut Yohanes Pembaptis yaitu semangat kesalehan untuk sederhana dari kaum miskin, kaum anawi. Begitu pula Gereja-Gereja Asia harus menjadi titik temu antara spiritualitas metakosmis dari agama-agama monastik dan spiritaualitas kosmis dari kereligiusan kaum sederhana di Asia.

c. Seperti Yesus merendahkan diri dijamin kredibilitas dan wibawa-Nya oleh Allah sendiri di hadapan kaum miskin: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat 3:17).

d. Seperti Yesus, menceburkan diri seolah-olah lenyap dalam arus spiritualitas nenek moyang di anatar kaum sederhana, tampil keluar dengan perutusan-Nya yang kontras dengan Yohanes Pembabtis dalam sikap, gaya hidup, pewartaan, dan menerima kaum miskin dan pendosa justru mendapati identitas-Nya yang autentik sebagai: 1) Anak Domba Allah yang memerdekakan kita dari dosa; 2) Anak Allah yang harus didengarkan; 3) Mesias yang membawa perutusan dan babtisan baru, begitu pula Gereja-Gereja di Asia tidak akan kehilangan identitas Kristiani bila

(4)

membenamkan diri dalam Yordan agama Asia dalam kehidupan dan inspirasi kaum miskin religius (anawim).

8. Baptisan dalam Kalvari Kemiskinan Asia

Yordan hanyalah permulaan Kalvari. YHWH membawa Yesus kepada sikap kenabiannya yang terakhir yakni mengosongkan diri-Nya di Golgota dalam kemiskinan yang menyedihkan. Dari kemiskinan dan dari Yordan dan Kalvari, Pieris menarik paradigma ekklesiologis yang patut direfleksikan oleh Gereja-Gereja di Asia. Mereka yang miskin seara radikal memenuhi syarat untuk mewartakan Kerajaan Allah dan hanya mereka yang miskin ditentukan untuk menerimannya. Kemiskinan Yesus dalam hal ini bukan hanya suatu protes negative terhadap nilai-nilai mamon, juga tidak hanya solidaritas pasif dengan kaum miskin pada zaman-Nya.

Pengarang Injil memakai kata “babtisan” untuk melukiskan sikap kenabian Yesus baik di Yordan maupun di Kalvari. Masing-masing sikap ini meruakan tindakan perendahan diri yang mewahyukan otoritas kenabian Yesus. Bila di Yordan Ia dinyatakan oleh Allah Bapa sebagai “Anak yang Kukasihi”, pada babtisan di Kalvari ia diproklamasikan sebagai

“Anak Allah”. Maka, baptisan di salib harus dibayar karena pewartaan kabar gembira-Nya, melainkan juga dasar kemuridan umat Kristiani.

Referensi

Dokumen terkait

Di samping itu, pengalaman kami bertahun-tahun dalam mengekspor sepeda motor dan suku cadang ke negara-negara di Eropa, Amerika Latin, Afrika dan negara Asia

Para pelajar sejarah perubahan agraria Indonesia, lebih-lebih mereka yang mempelajari sejarah agraria negera-negara kolonial dan paska-kolonial di Asia, Amerika Latin hingga

Wilayah jajahannya tersebar luas di Benua Afrika, Asia, Amerika, Australia, dan Oceania. Pengaruhnya yang besar dan daerah jajahannya yang sangat luas mengantarkan bahasa

Dalam perkuliahan ini dibahas materi-materi mengenai Ekspansi Islam ke Eropa , Penjajahan Erofa di Dunia Islam, Dakwah Islam di Afrika dan Asia, Pemikiran Modern di Dunia Islam ,

Mata kuliah Sejarah Asia Tenggara Baru membahas dinamika perkembangan bangsa-bangsa di kawasan Asia Tenggara sejak zaman kuno sampai zaman modern.. Di

Se$ara umum terdapat enam benua besar di dunia, yaitu benua Asia, Amerika, /ropa, Afrika, Australia dan benua Antartika alias &utub Selatan" &eenam

Industri pengolahan cokelat di Belgia sebagian besar menggunakan bahan baku biji kakao campuran (bulk) yang diimpor dari berbagai negara di Afrika, Amerika Latin dan

Penelitian yang dilakukan di Afrika, Asia Selatan dan Amerika Latin menunjukkan belum tersedianya panduan, kurangnya pengetahuan tentang GDM baik pada petugas kesehatan maupun pasien,