• Tidak ada hasil yang ditemukan

KROMOSOM POLITEN PADA Drosophila Sp

N/A
N/A
Bintang Eri Bagus

Academic year: 2023

Membagikan "KROMOSOM POLITEN PADA Drosophila Sp"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

KROMOSOM POLITEN PADA Drosophila Sp.

Nurul Iffat W ( 10413032 ) , Ismail Aji Pangestu ( 10415013 ) , Reika Jonatan ( 10415015 ) , Agnes Ester Patricia Siregar ( 10415020 ) , Sara Nada Bakri ( 10415032 ) , Fajar Dewantoro ( 10415034 )

Program Studi Mikrobiologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati

Institut Teknologi Bandung

Jalan Ganesha No 10, Bandung 40132, Jawa Barat.

Email : [email protected]

Abstrak:. Lalat buah ( Drosophila sp. ) adalah genus lalat yang dapat bermetamorfosis sempurna . Siklus kehidupan Drosophila sp. terdiri dari 4 Tahapan, yaitu telurm,larva,pupa dan dewasa . Pada salah satu fasa kehidupannya,yaitu pada fasa larva instar ke-3,larva pada fase ini berwana bening,berukuran cukup besar dan telah memiliki organ tubuh yang telah lengkap . Pada tahap ini,terjadi penambahan ukuran diikuti replikasi DNA untuk membentuk kromosom politen.

Kromosom Politen adalah kromosom berukuran raksasa yang ditemukan pada serangga bersayap dua ( Dipthera ). Pada praktikum ini akan diamati keberadaan dan morfologi dari kromosom politen pada Drosophila sp. Metode yang digunakan adalah dengan mengisolasi kelenjar saliva Drosophila sp.dari organ tubuh yang lain dan dilakukan pewarnaan dengan pewarna Aceto-orcein dan dilakukan pengamatan mikroskopis dengan perbesaran 400x. Kesimpulan dari praktikum ini adalah teramatinya kromosom politen yang berukuran raksasa pada kelenjar saliva Drosophila sp dan terdapat pola interband dan band pada kromosom politen.

Kata Kunci : Drosophila sp. , Kromosom Politen , Band , Interband , Kelenjar Saliva

I. Pendahuluan

Drosophila adalah genus dari lalat berukuran kecil yang ditemukan pada buah-buahan. Lalat buah ( Drosophila sp. ) merupakan genus lalat yang dapat bermetamorfosis dengan sempurna. Siklus kehidupan Drosophila sp. terdiri dari 4 tahapan yaitu telur,larva,pupa dan dewasa . Tahap telur dan larva berlangsung selama delapan hari , yaitu sehari pada tahap telur dan pada hari kedua hingga kedelapan telur menetas menjadi larva. Setelah larva keluar dari telur , larva tumbuh sebagai instar yang terdiri dari tiga bagian , yaitu kurva,mulut dan spirakel. Pada tahap larva,terjadi penambahan ukuran diikuti replikasi dari DNA untuk membentuk kromosom politen. Setelah larva instar ketiga, kutikula berubah menjadi puparium yang terus berkembang menjadi dewasa. Pada fase dewasa inilah baru terjadi pembelahan sel [2].

Kromosom politen adalah kromosom besar ( Raksasa ) yang umum dimiliki oleh serangga bersayap dua ( Dipthera ) seperti pada genus Drosophila sp. . Kromosom politen memiliki awal kromosom yang normal, namun kromosom tersebut mengalami pembelahan DNA pada fase S pada Interfase tanpa diimbangi oleh pembelahan sentromer dan pembelahan sel ( Fase Mitotik ) sehingga

(2)

DNA pada kromosom tersebut menjadi berlimpah dan menjadi terlihat berukuran besar [2].

Kromosom politen pada umumnya ditemukan pada fase larva serangga,karena organela pada tahap tersebut sudah sempurna dan kromosom yang terbentuk akibat replikasi DNA yang berulang dapat mendukung pertumbuhan larva menjadi lebih cepat. Kecepatan pertumbuhan ini akibat dari melimpahnya jumlah salinan gen didalam sel sehingga kecepatan kerja enzim menjadi meningkat . [10]. Kromosom politen dapat mencapai ukuran 100 kali lebih besar daripada ukuran kromosom biasa [7].

Pada praktikum ini dilakukan isolasi kelenjar saliva pada larva instar ke-3 Drosophila sp. dan dilakukan pewarnaan dengan reagen pewarna Aseto-orcein untuk mengamati keberadaan kromosom politen dan mengamati morfologi dari kromosom politen. Reagen yang digunakan antara lain adalah 45% Asam asetat yang digunakan sebagai larutan Fiksatif dan untuk peregangan kromosom sehingga lebih mudah untuk diamati [1]. PBS ( Phosphate Buffer Saline ) yang digunakan untuk menjaga pH larutan dan membentuk suasana isotonis bagi sel larva dan kandungan fosfat dalam PBS berperan dalam penghambat reaksi enzimatis dalam sel. Reagen Aseto-orcein digunakan untuk mewarnai benang-benang kromatin agar kromosom dapat diamati keberadaannya dan morfologi kromosom politen dapat teramati dengan lebih mudah [3].

Organisme yang digunakan sebagai model untuk mengamati keberadaan kromosom politen adalah Drosophila sp. karena ukurannya kecil , mudah untuk diperbanyak pada skala laboratorium , memiliki siklus hidup yang singkat , hanya memiliki empat pasang kromom dan memiliki kromosom politen. Bagian yang di isolasi dari Drosophila sp. adalah kelenjar saliva karena proses replikasi terjadi lebih banyak terjadi didalam kelenjar saliva [7]. Praktikum ini penting untuk dilakukan untuk menentukan pengaruh kromosom politen terhadap struktur,morfologi dan fisiologis sel pada Drosophila sp. . Aplikasi dari kromosom politen pada Drosophila sp. adalah sebagai model untuk mempelajari siklus interfase sel [10].

Tujuan dari praktikum ini adalah mengisolasi kromosom politen pada kelenjar saliva instar ketiga Drosophila sp. dan mengamati morfologi dari kromosom politen tersebut. Hipotesis yang diajukan untuk menjawab tujuan tersebut adalah teramati adanya kromosom politen pada kelenjar saliva instar ketiga pada Drosophila sp dan teramati adanya pola interband dan band pada kromosom politen tersebut.

II. Metode Percobaan

Metode penelitian yang dilakukan pada praktikum ini antara lain :

(3)

Tahap Isolasi Drosophila Sp. : Larva Instar ketiga dari Drosophila Sp. diambil dengan kuas dibawah mikroskop stereo dan diletakan pada kaca objek yang telah diberi 1 tetes larutan Phosphate Buffer Saline ( PBS ). Diambil kelenjar saliva dengan ditarik bagian mulut dari tubuh larva dengan menggunakan jarum pentul. Dibersihkan debris sisa-sisa tubuh dari larva instar yang masih tersisa dengan jarum pentul.

Tahap Persiapan pengamatan Mikroskopis : Dipindahkan kelenjar saliva ke kaca objek yang ditetesi 45% Asam Asetat dan dibiarkan selama 2-5 menit.

Tahap Staining dan Pengamatan : Dipindahkan kelenjar ke kaca objek yang ditetesi dengan 1 tetes perwarna Aseto-orcein dan dibiarkan selama 5 menit ( jangan sampai Aseto-orcein menguap ).

Ditutup kelenjar saliva dengan cover glass. Ditaruh kertas isap yang sudah dilipat diantara jempol dan cover glass. Ditekan sampai membentuk satu lapisan tipis ( Monolayer ). Diamati dengan mikroskop cahaya dengan perbesaran sampai 400x.

III. Hasil dan Pembahasan

Kromosom adalah untai kromatin yang terkondensasi, sehingga membentuk struktur materi genetik yang lebih pendek dan tebal. Kromosom pada eukariotik terdiri dari untaian molekul DNA yang bergabung menjadi helaian kompleks kromatin. Kromosom terdiri dari berjuta juta gen. Gen ini terdapat didalam DNA. DNA memiliki struktur yang sangat panjang dan tipis yang dapat setiap saat rusak dan kusut. Setiap molekul DNA mengandung dua rantai polinukleotida yang bersusun melingkar menjadi double helix atau dua untai benang . DNA kemudian akan dikemas mengelilingi protein histon dan memadat. Gabungan antara DNA dan protein histon disebut dengan nukleosom . Protein histon adalah susunan dari asam amino (arginin dan lisin) yang menempel pada sisi negatif DNA. Selanjutnya nukleosom akan bergabung menjadi kromatin. Lalu kromatin akan memadat dan bergulung membentuk kromosom . Suatu kromosom terdiri dari beberapa bagian yaitu telomer, sentromer, dan lengan kromosom [11].

Gambar1. Kromosom. [11]

(4)

Kromosom dapat diamati pada saat pembelahan mitosis. Struktur kromosom terlihat berpola gelap-terang, pola tersebut bergantung pada kepadatan kromatin penyusun kromosom yang disebut dengan eukromatin dan heterokromatin [7]. Eukromatin adalah pola terang pada kromosom, yang mengandung konsentrasi gen yang padat. Eukromatin mengandung paling banyak jumlah genom dalam sel hingga 92%. Heterokromatin adalah segmen dari kromosom yang sangat padat sehingga membentuk warna hitam pada lengan kromosom . Eukromatin mengandung satu salinan DNA yang aktif secara genetik, sedangkan heterokromatin mengandung sekuens repetitif yang tidak aktif secara genetik karena daerah tersebut mengandung gen non-koding yang tidak bisa diterjemahkan menjadi protein [6].

Struktur kromatin dapat mengalami modifikasi atau perubahan secara alami dalam segi bentuk, seperti contohnya adalah kromosom politen. Kromosom politen adalah kromosom besar ( Raksasa ) yang umum dimiliki oleh serangga bersayap dua ( Dipthera ) seperti pada genus Drosophila sp. . Kromosom politen memiliki awal kromosom yang normal, namun kromosom tersebut mengalami pembelahan DNA pada fase S pada Interfase tanpa diimbangi oleh pembelahan sentromer dan pembelahan sel ( Fase Mitotik ) sehingga DNA pada kromosom tersebut menjadi berlimpah dan menjadi terlihat berukuran besar [2]. Kromosom politen dapat mencapai ukuran 100 kali lebih besar daripada ukuran kromosom biasa [7].

Kromosom politen ini terjadi akibat pengulangan berulang dari replikasi DNA namun tidak melalui tahap pembelahan sel yang disebut dengan peristiwa endoreduplikasi, sehingga menyebabkan banyak terdapat DNA berganda yang saling bersinapsis [8]. Kromosom politen memiliki fungsi untuk mengontrol perubahan fisiologi suatu organisme karena mengandung gen dalam kromosomnya, pertukaran antara heterokromatin dan eukromatin disebut dengan position effects yang dapat menyebabkan mutasi pada organisme [5].

Peran penting kromosom politen adalah untuk mengakumulasi mRNA dalam jumlah besar yang nantinya akan diperlukan pada tahap embrionik [10]. Kromosom politen memproduksi banyak protein dikarenakan Kromosom politen memiliki lebih banyak DNA berganda pada lengannya

Gambar2. KromosomPoliten. [5]

(5)

dibandingkan kromosom pada umumnya. Protein sangat diperlukan oleh tubuh untuk proses pertumbuhan dan perkembangan. Kromosom politen ditemukan di jaringan seperti esofagus, kelenjar saliva, usus, gastric ceca, tubulus malphigi, jaringan lemak, sel dinding trakea, otot, dan beberapa tipe sel pada saraf ganglia. Kromosom politen lebih sering ditemukan di salivary gland dari larva, karena kelenjar saliva lebih mudah untuk dibelah dan kromosom politen yang ditemukan berukuran cukup besar [5].

Praktikum kali ini merupakan pengamatan kromosom politen larva instar III Drosophila sp.

atau lalat buah sebagai model penelitian genetika. Drosophila adalah genus dari lalat berukuran kecil yang ditemukan pada buah-buahan. Lalat buah ( Drosophila sp. ) merupakan genus lalat yang dapat bermetamorfosis dengan sempurna. Siklus kehidupan Drosophila sp. terdiri dari 4 tahapan yaitu telur,larva,pupa dan dewasa . Tahap telur dan larva berlangsung selama delapan hari , yaitu sehari pada tahap telur dan pada hari kedua hingga kedelapan telur menetas menjadi larva. Setelah larva keluar dari telur , larva tumbuh sebagai instar yang terdiri dari tiga bagian , yaitu kurva,mulut dan spirakel. Pada tahap larva,terjadi penambahan ukuran diikuti replikasi dari DNA untuk membentuk kromosom politen. Setelah larva instar ketiga, kutikula berubah menjadi puparium yang terus berkembang menjadi dewasa. Pada fase dewasa inilah baru terjadi pembelahan sel [2].

Praktikum menggunakan sampel Drosophila sp. tahap larva instar III karena pada tahap tersebut Drosophila sp. memiliki 1024 (210) kromatid yang identik dan saling bersinapsis. Ada 80% DNA di kromosom politen yang berlokasi di band dan 15% nya berada di interband. Satu band mengandung 3000-300.000 pasangan basa nukleotida. Drosophila sp. memiliki 5000 bands dan 5000 interbands [7]. Pada tahap ini, larva mengalami pertumbuhan dan perkembangan sampai dengan 200 kali lipat

Gambar3.Siklus Hidup Drosophila sp.. [2]

(6)

berat awalnya karena disebabkan proses endoreplikasi [13]. Kelenjar saliva larva instar III Drosophila sp. digunakan karena kromosom politen yang ditemukan berukuran besar sehingga memudahkan pengamatan. Kelenjar saliva larva instar III ini, kromosom mengalami replikasi hingga mencapai 1000 copy. Kelenjar saliva juga mengandung banyak enzim untuk proses pencernaan makanan, karena mempersiapkan memasuki tahap pupa. Hal ini menyebabkan massa dan volume sel bertambah, sehingga ukuran jaringan menjadi besar [3].

Praktikum pengamatan kromosom politen Drosophila sp. menggunakan larva instar III Drosophila sp., karena tubuhnya transparan sehingga kelanjar saliva mudah untuk diisolasi, organ tubuh telah lengkap, dan telah memiliki banyak kromosom politen Praktikum pengamatan kromosom politen Drosophila sp. menggunakan kelenjar saliva karena selain mudah untuk diisolasi, organ ini memiliki sejumlah sel yang aktif melakukan metabolisme. Sel pada organ kelenjar saliva aktif melakukan metabolisme dibuktikan dengan terdapatnya hingga paling tidak 1024 untai kromatin, atau 512 pada tiap homolognya [3]. Selain pada kelenjar saliva, kromosom politen dapat ditemukan pada pertengahan lambung , tubulus malphigi , rektum dan proventrikulus dari Drosophila sp. [7].

Struktur kromosom politen dibagi menjadi empat bagian, yaitu band, interband, puff, dan chromocenter. Band adalah bagian dari struktur kromosom politen yang terkondensasi dan mengandung banyak heterochromatin. Interband adalah bagian dari struktur kromosom politen yang kurang terkondensasi relatif dari band dan mengandung banyak euchromatin. Puff adalah bagian dari struktur kromosom politen yang menggembung karena benang kromatin yang terelaksasi. Puff berperan sebagai tempat terjadinya transkripsi materi genetik . Chromocenter adalah bagian struktur kromosom yang menjadi tempat melekatnya centromere kromosom yang bergabung. Chromocenter

Gambar4.Isolasi kelenjar saliva Drosophila sp.. [3]

(7)

hampir seluruhnya terdiri dari heterochromatin [8]. Band dan interband adalah pola pita gelap dan terang yang berselang-seling atau disebut dengan kromomer. Band adalah pola gelap yang mengandung 80% dari DNA pda kromosom sedangkan interband adalah pola terang dan hanya mengandung sisa 15% dari daerah band . Kromatin yang berada pada pita gelap atau band, terkondensasi lebih besar daripada kromatin di daerah interband. Hal ini yang menyebabkan lebih banyak kromosom yang berlipat-lipat di daerah band, sehingga terlihat gelap jika diamati [7]. Pola pita ini dapat terlihat jika kromosom diberi pewarna. Dalam beberapa situasi, kromosom mengalami kondisi puff atau disebut dengan pembengkakan atau penonjolan beberapa daerah pada lengan kromosom. Puffing terjadi ketika beberapa bagian dari kromatin mengalami relaksasi sehingga lengan kromosom sedikit terbuka. Puffing mengindikasikan bahwa ada beberapa daerah pada lengan kromosom yang sedang aktif mentranskripsikan DNAnya [8].

Proses terjadinya kromosom politen terbentuk dari proses endoreduplikasi. Proses endoreduplikasi tersebut hampir sama dengan proses pembelahan sel secara normal. Namun, yang membedakan ialah saat proses endoreduplikasi sel tidak melewati fase mitosis setelah fase S. Hal tersebut mengakibatkan kromosom mengalami replikasi kembali yang berupa replikasi DNA pada pasangan kromosom homolognya tanpa pemisahan dari replikasi rantai kromatin. Oleh sebab itu, kromosom menjadi menebal dan memiliki ukuran yang besar karena saat proses replikasi tersebut berlangsung berulang kali . Kromosom politen dalam kelenjar ludah larva Drosophila sp. merupakan hasil dari sepuluh siklus replikasi tanpa pembagian ke kromosom anakannya . Struktur kromosom politen terdiri dari lima lengan kromosom. dua kromosom nomor 2, dua kromosom 3, dan kromosom X. Kromosom politen juga memiliki kromosom nomor 4, namun sangat pendek dan sulit dibedakan dari kromosenter [7]. Pada proses terbentuknya kromosom politen,terjadi proses post-translational modifications (PTMs). Perubahan post-translational modifications (PTM) dari histon inti memainkan peran penting dalam mengubah pemadatan kromatin, terutama N-terminal 20-25 asam amino dari histon inti, dan untuk yang lebih rendah rantai samping sejauh di daerah C-terminal dan internal, memberikan total lebih dari 60 target, di mana lebih dari 10 jenis PTM dapat berlangsung . Inti PTM histone mengubah interaksi dalam dan di antara nukleosom dan menyediakan situs mengikat untuk berbagai efektor, yang selanjutnya mengubah interaksi yang mengarah ke perubahan struktural dan fungsional pada sel [4]. Proses replikasi DNA dalam kromosom polytene mengkodekan

Gambar5.kromosom politen Drosophila sp.. [8]

(8)

histonemethyltransferase SU (VAR) 3-9. Pada bagian heterochromatin,terdapat modifikasi pada histon, seperti fosforilasi dan metilasi H3 sehingga kromosom mengalami kondensasi. Modifikasi ini merupakan kode epigenetik dari histon. Metilasi pada histon memiliki peran dalam aktivasi dan represi gen tergantung dari residu lisin yang termetilasi . Proses ini menyebabkan regulasi pengikatan antar histon sehingga kromosom menjadi lebih kompak dan RNA polymerase tidak dapat berikatan pada sisi tersebut. Proses tersebut dikode oleh gen SuUR. Metilasi DNA dikatalisis oleh enzim yang disebut methyltransferases DNA. Bagian interband diperkaya oleh satu set protein tertentu yang umumnya merupakan karakteristik dari "open" chromatin (RNA polimerase II, Chriz (CHRO), BEAF-32, BRE1, DMI-2, GAF, NURF301, WDS dan TRX). Bagian ini juga ini juga menunjukkan penurunan kepadatan nukleosom. Pada bagian euchromatin terdapat RNA polymerase II yang berperan dalam inisiasi proses transkripsi dan merupakan protein kompleks yang terlibat dalam proses elongasi pada transkipsi. Selain RNA pol II , terdapat modifikasi protein histon (CHD1 JIL-1, BRM ,cohesin , TRX, WDS, enzim H2B monoubiquitinating BRE1 dan NURF ) yang meningkatkan aksesibilitas kromatin template dan terdapat protein isolator berupa BEAF-32 dan GAF serta pra- replikasi ORC6 protein kompleks yang banyak ditemukan pada bagian yang kurang kompak dari kromosom politen. Sisa dari protein - WDS, DMI-2, NURF301, BRE1, H3K4me2 / 3 dan H4K16ac dikenal untuk berkontribusi perbaikan pada kromatin dan regulasi pada proses transkripsi [9].

Praktikum pengamatan kromosom politen Drosophila sp. menggunakan alat berupa mikroskop stereo, mikroskop cahaya, object glass, cover glass, jarum pentul dan pipet.. Praktikum ini menggunakan dua macam mikroskop yaitu mikroskop stereo dan mikroskop cahaya. Mikroskop stereo digunakan untuk meneliti objek yang relatif besar seperti larva instar III Drosophila sp., sedangkan mikroskop cahaya digunakan untuk mengamati kromosom politen pada kelenjar saliva yang sudah diisolasi dan dibersihkan. Object glass dan cover glass adalah alat bantu pengamatan yang berperan sebagai tempat subjek pengamatan. Jarum pentul adalah alat bantu pengamatan yang memiliki fungsi untuk isolasi kelenjar saliva larva instar III. Pipet alat bantu pengamatan yang berfungsi sebagai penyalur larutan. Beberapa larutan digunakan untuk membuat preparat kromosom Drosophila sp. yang antara lain adalah larutan Phosphate Buffer Saline ( PBS ), Larutan Asam Asetat 45% dan larutan pewarna Aseto-orcein [6]. PBS merupakan sebuah larutan penyangga yang biasa digunakan dalam penelitian biologi. Buffer membantu untuk mempertahankan konstan pH . Garam mengandung ion, yang menyeimbangkan jumlah ion garam di dalam sel. Phosphate dapat mengehentikan reaksi-reaksi enzimatis didalam sel . Larutan Asam Asetat 45% digunakan sebagai larutan fiksatif dan mengakomodasi peregangan dari kromosom sehingga memberikan resolusi yang tinggi terhadap bagian pita gelap kromosom politen yang mengandung heterokromatin. Reagen Aseto-orcein digunakan untuk mewarnai benang-benang kromatin agar kromosom dapat diamati keberadaannya dan morfologi kromosom politen dapat teramati dengan lebih mudah [3]. Pewarna Aseto-orcein dapat berinteraksi pada pH asam dengan kelompok bermuatan negatif atau mungkin berinteraksi hidrofobik dengan kromatin [11].

(9)

Berdasarkan hasil pengamatan,teramati adanya kromosom politen dari kelenjar saliva yang telah diisolasi dari bagian tubuh larva instar ketiga Drosophila sp.. Teramati kromosom tersebut berukuran lebih besar ( raksasa ) dibandingkan dengan kromosom normal lain. Hal tersebut sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa didalam kelenjar saliva larva instar ketiga Drosophila sp.

mengandung kromosom politen yang berukuran raksasa akibat kromosom yang mengalami endoreduplikasi atau replikasi secara berulang pada fase S yang tidak diikuti oleh pembelahan sel sehingga terjadi penggandaan kromosom homolog yang saling bersinaps tanpa mengalami pemisahan sel [7].

Pada pengamatan morfologi,teramati adanya interband ( euchromatin ) dan band ( heterochromatin ) yang membentuk pola gelap dan terang pada kromosom politen. Bagian band pada kromosom politen teramati berwarna lebih gelap dan terwarnai dengan jelas oleh Aseto-orcein sedangkan bagian interband teramati berwarna putih.

Kromosom politen terbentuk akibat adanya proses endoreduplikasi, yaitu proses replikasi genom inti yang tidak diikuti dengan pembelahan sel, yang mengarah ke konten gen inti i dan

Gambar6.kromosom politen Drosophila sp.

Kromosom politen pada kelenjar saliva larva instar ketiga Drosophila sp. pada perbesaran 1000x dengan menggunakan

minyak imersi

Interband Band

(10)

poliploidi. Endoreduplikasi dapat dipahami hanya sebagai bentuk varian dari siklus mitosis sel (G1-S- G2-M) di mana mitosis dibatalkan sebelum sitokinesis terjadi, sebagian karena aktivitas modulasi cyclin-dependent kinase (CDK). Transisi mitosis-to-endocycle terjadi pada sel-sel folikel Drosophila dan diaktivasi oleh Notch signaling. Proses menuju faase endocycles melibatkan aktivitas modulasi mitosis dan S-fase cyclin-dependent kinase (CDK). Penghambatan aktivitas M-fase CDK melalui aktivasi transkripsi dari CDH / fzr dan represi dari G2-M regulator string / cdc25. CDH / fzr berperan untuk aktivasi anafase-promotion complex (APC) dan proteolisis selanjutnya di siklin mitosis. String / cdc25 adalah fosfatase yang merangsang aktivitas mitosis kompleks cyclin-CDK. Upregulation S- fase aktivitas CDK dicapai melalui represi transkripsi dari penghambatan kinase . Perubahan ini memungkinkan sel untuk tidak memasuki tahap mitosis, namun perkembangan sel akan dilanjutkan melalui fase G1, dan masuk kembali ke S-fase [13].

Dalam hal ini,kromosom politen terbentuk karena aktivitas dari S-phase Cyclin-CDK complexes dan penghambatan aktivitas dari mitotic cyclin-CDK yang menyebabkan sel tidak memasuki tahap mitotis dan sel mengalami proses endoreduplikasi kromosom [13].

IV.

Simpulan dan Saran

Berdasarkan hasil pengamatan,teramati adanya kromosom politen dari kelenjar saliva yang telah diisolasi dari bagian tubuh larva instar ketiga Drosophila sp. yang berukuran lebih besar daripada kromosom normal lainnya.

Pada pengamatan morfologi,teramati adanya interband ( euchromatin ) dan band ( heterochromatin ) yang membentuk pola gelap dan terang pada kromosom politen dengan metode

Gambar7.Notch Regulation. [13]

(11)

perwarnaan Aseto-orcein . Bagian band pada kromosom politen teramati berwarna lebih gelap dan terwarnai dengan jelas oleh Aseto-orcein sedangkan bagian interband teramati berwarna putih.

Saran untuk praktikum ini kedepannya adalah untuk memperpanjang durasi perendaman kelenjar saliva oleh reagen pewarna Aseto-orcein sekitar 15 menit ( sesuai literatur ) agar pola interband dan band pada kromosom politen dapat teramati dengan jelas.

V. Daftar Pustaka

[1] Bell, S.P. and Dutta, A. 2002. DNA replication in eukaryotic cells. Annu.Rev.Biochem.

6 ( 2 ) : 134 – 144.

[2] Hall, J. K. dan Wagy, E. L. 2009. Toxic and Teratogenic Effects of Sevaflurane in Drosophila melanogaster. United States Code : UMI. Hal: 9

[3] Henderson, D.S. 2004. Drosophila cytogenetics protocols. Humana Press. United States: 468 hlm. 78-90

[4] Imre M. Boros; Histone modification in Drosophila. Brief Funct Genomics 2012; 11 (4): 319-331.

[5] Jain, Kritika. 2013. Kinds of chromosomes: lampbrush, polytene, and supernumery.

http://www.biologydiscussion.com/chromosomes/ kinds-of-chromosomes-lampbrush- polytene-and-supernumery/569. Diakses pada tanggal 24 Februari 2017 pukul 22.00 WIB

[6] King, R. C., P. K. Mulligan, w. D. Stansfield. 2013. A Dictionary of Genetics, Eight Edition. Oxford University Press, New York. hlm. 641

[7] Passarge, E. 2007. Color Atlas of Genentics . New York : George Thieme Verlag KG.

Hal 178-202.

[8] Pierce, B. A. 2002. Genetics a conceptual approach. W.H.Freeman Publishing, New York. hlm 709.

[9] Sergey A Demakov.2011. Protein composition of interband regions in polytene and cell line chromosomes of Drosophila melanogaster . BMC Genomics.12:566

[10] Singh, B. N., Singh, S., dan Banerjee,P. 2010. A Comparison Between Polytene Chromosome of wo Sibling Species of Drosophila : D. ananassae and D. pallidosa.

Dros. Inf. Serv. 95 (1) : 50-54.

(12)

[11] Solomon, E. P., D. W. Martin, & L. R. Berg. 2005. Biology. 8th ed. Thomson Corporation, Belmont, USA.hlm. 137-150.

[12] Tonzetich J. 2004. Orcein staining and the identification of polytene chromosomes.Methods Mol Biol. 247:249-56.

[13] Zhang Y; Wang Z; Ravid K 2000. The cell cycle in polyploid megakaryocytes is

associated with reduced activity of cyclin B1-dependent cdc2 kinase. Journal of

Biological Chemistry. 271 (8): 4266–72

Referensi

Dokumen terkait

penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi parasitoid yang ada pada Drosophila.. sp., sehingga nantinya dapat digunakan sebagai pengendali alami

Siklus hidup Trissolcus sp. Telur parasitoid Trissolcus sp. bertipe stalked, larva instar pertama bertipe teleaform, dan larva instar ketiga bertipe

penelitian eksperimen digunakan untuk melihat pengaruh dari variabel bebas penelitian, yaitu persilangan Drosophila sp strain wild type (N) dengan white (W) terhadap

Pada serangga, yeast banyak ditemukan dalam saluran pencernaan (Suh, 2005). Salah satu serangga yang dikenal memiliki hubungan simbiosis dengan yeast adalah Drosophila

Saat dilakukan pengamatan menggunakan mikroskop pada preparat tersebut tidak ditemukan kromosom politen pada jaringan kelenjar ludah Drosophila melanogaster, hal ini bertentangan

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini ialah bahwa minimal terdapat satu metode pewarnaan kromosom, jenis eksplan, dan akar yang sesuai untuk mempelajari keragaman

Siklus hidup Trissolcus sp. Telur parasitoid Trissolcus sp. bertipe stalked, larva instar pertama bertipe teleaform, dan larva instar ketiga bertipe