• Tidak ada hasil yang ditemukan

KTI ICIE UIN Gusdur 2023 (revisi)

N/A
N/A
Fadilah Putri Yasmin Dila

Academic year: 2025

Membagikan "KTI ICIE UIN Gusdur 2023 (revisi)"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Memperkuat Industri Halal Indonesia Melalui Program Sertifikasi Halal Produk Perspektif Kementerian Agama Republik Indonesia

Fadilah Putri Yasmin 1 , Pingkan Meilani 2

1,2) Faculty of Islamic Religion , Muhammadiyah University Surakarta (UMS), Surakarta,

Indonesia

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Kementerian Agama Republik Indonesia dalam memperkuat industri halal di Indonesia melalui program sertifikasi halal produk.

Industri halal telah menjadi salah satu sektor ekonomi yang berkembang pesat di Indonesia, dengan potensi kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Sertifikasi halal adalah komponen penting dalam menjaga kepercayaan konsumen terhadap produk halal. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara dengan pihak terkait di Kementerian Agama, perusahaan, dan organisasi terkait, serta analisis dokumen terkait kebijakan dan regulasi sertifikasi halal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kementerian Agama Republik Indonesia memiliki peran yang signifikan dalam pengaturan dan pengawasan sertifikasi halal produk di Indonesia. Program sertifikasi halal yang dilaksanakan oleh Kementerian Agama telah berkontribusi positif dalam meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk halal, sehingga mendorong pertumbuhan industri halal di Indonesia. Namun, penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa kendala dan tantangan dalam pelaksanaan program sertifikasi halal, termasuk kompleksitas proses sertifikasi dan harmonisasi regulasi dengan standar internasional. Oleh karena itu, penelitian ini mengusulkan beberapa rekomendasi untuk memperkuat peran Kementerian Agama dalam mendukung industri halal di Indonesia, termasuk upaya untuk mempermudah proses sertifikasi dan peningkatan kerja sama dengan berbagai pihak terkait. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pemahaman lebih lanjut tentang peran Kementerian Agama dalam memperkuat industri halal di Indonesia dan memberikan panduan bagi perbaikan kebijakan serta pelaksanaan program sertifikasi halal di masa mendatang.

Keywords: ekonomi islam, industri halal, sertifikasi halal produk, kementerian agama RI

Pendahuluan

Dalam rangka membangun sektor-sektor industri halal yang diharapkan dapat bersaing dengan industri halal negara yang lain, Kementerian Agama telah mendirikan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Pendirian BPJPH bertujuan memberikan kenyamanan, keamanan, keselamatan, dan kepastian ketersediaan produk halal, juga untuk meningkatkan nilai tambah bagi pelaku usaha untuk memproduksi dan menjual produk halal. Dikarenakan rantai halal menjadi

(2)

sterategi utama dalam membangun industri halal. Di sinilah kontribusi signifikan Kementerian Agama dalam mewujudkan industri halal di Indonesia. Industri halal adalah suatu bisnis atau usaha yang menghasilkan suatu (barang atau jasa) yang dalam pengoperasiannya berprinsip pada syariat islam. Beberapa sektor yang menjadi ruang lingkup dari industri halal diantaranya, makanan, fashion, farmasi dan kosmetik, keuangan atau pembiayaan, hingga layanan pariwisata. Sektor-sektor tersebut sudah memberikan dampak yang positif terhadap perkembangan industri halal di Indonesia (Fauzi, 2023).

Industri halal di indonesia terus mengalami perkembangan di setiap tahunnya, hal ini didukung dengan aset kekayaan alam Indonesia yang bisa diolah dan di produksi dalam bentuk bisnis. Berdasarkan State of the Global Islamic Economy Report 2022, Indonesia menempati posisi ke-4 negara dengan penerapan industri halal, hal ini didukung dengan masyarakat yang mayoritas beragama islam.

Yang masih menjadi permasalahan hingga saat ini ialah banyaknya produk UMKM yang belum tersertifikasi halal, oleh karena itu pemerintah melalui BPJPH mengadakan program Sertifikasi Halal Gratis untuk UMKM selama kurun waktu 2022-2024. Melalui program Sertifikasi Halal Gratis (SEHATI) diharapkan pemerintah Indonesia mampu mewujudkan cita-citanya untuk menjadi pusat halal dunia di tahun 2024 mendatang. Masyarakat muslim dalam memilih produk yang akan digunakan atau dikonsumsi, pertama yang dicari adalah apakah terdapat label halal dalam kemasan produk tersebut. Jika sudah terdapat label halal maka konsumen tidak akan ragu dalam mengambilnya, namun sebaliknya, jika produk tersebut belum terdapat label halal, konsumen akan ragu dalam mengambilnya sekalipun dengan harga murah. Bagi masyarakat muslim, mengkonsumsi makanan halal adalah suatu kewajiban sebagai salah satu wujud taat terhadap perintah Allah swt. disisi lain sebagai bentuk taat, mengkonsumsi makanan halal juga akan memberikan dampak yang baik bagi tubuh, karena suatu sebab yang halal sudah pasti akan berakibat pada hal baik.

Berdasarkan uraian di atas maka, penelitian ini dapat bermanfaat sebagai bahan kajian lembaga pemerintah, para pelaku usaha,para stakeholders, serta seluruh masyarakat untuk dapat ikut serta mewujudkan Indonesia sebagai pusat industri halal dunia, dengan salah satu upayanya melalui sertifikasi halal produk.

(3)

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menggambarkan secara komprehensif terkait posisi Indonesia disektor industri halal, sehingga hasil penelitian dapat dijadikan sebagai acuan dalam menetapkan kebijakan bagi pemerintah maupun pemangku kepentingan dalam mengembangkan industri halal di Indonesia.

Mengingat Indonesia sebagai negara muslim terbesar dunia namun belum mampu memanfaatkan momentum tersebut, maka penting dilakukannya berbagai kajian mendalam terkait industri halal menuju Indonesia yang maju khususnya di sektor halal

Penelitian terdahulu

Negara dengan mayoritas muslim terbesar didunia hingga menempati posisi pertama adalah Indonesia yang sebagian besar beragama islam, sehingga tidak mengherankan bahwa pemerintah sangat ketat terhadap jaminan halal terhadap produk makanan, obat, dan juga kosmetik yang ada di Indonesia karena sertifikasi halal merupakan jaminan untuk perlindungan konsumen (Ramlan et al., 2014).

Tidak hanya produk makanan, minuman, obat – obatan, dan fashion tetapi wisata halal juga perlu untuk meningkatkan minat masyarakat terhadap jaminan halal (Waluyo et al., 2022). (Prabowo et al., 2016) dalam penelitiannya yang dilakukan pada tahun 2016 mengungkapkan bahwa sistem jaminan halal mempersyaratkan proses produksi harus menerapkan cara produksi yang halal dan thayyib, artinya benar dan baik sejak dari penyediaan bahan baku sampai siap dikonsumsi oleh konsumen. Kemudian islam mengenal konsep halal itu dilihat dari apa yang dimakan, darimana sumbernya, apakah baik untuk kesehatan atau justru menimbulkan hal yang tidak baik. Anjuran untuk mengkonsumsi makanan halal telah dijelaskan dan diatur di dalam al qur’an dan as sunah, kemudian hingga saat ini tidak hanya agama islam saja yang memperhatikan kehalalan akan tetapi agama lain juga telah memiliki prinsip sendiri akan makanan yang halal. Akan tetapi dalam konsep halal tersebut agama islam lebih dominan dalam penerapannya. Sementara itu mengutip dari penelitian (Prabowo et al., 2016) prinsip halal dalam islam yaitu pada dasarnya segala sesuatu itu halal hukumnya kecuali ada larangan yang mengharamkan, kemudian segala sesuatu baik yang halal ataupun yang haram itu hanya diatur oleh Allah Swt dalam firmannya, larangan untuk tidak memakan makanan haram pada dasarnya tujuannya adalah untuk menghindari hal yang buruk

(4)

dan berbahaya. Sehingga dalam islam mengenal konsep halalan thayyiban dalam menetapkan standar kualitas untuk makanan. Industri halal merupakan sebuah industri dengan tata kelola berdasarkan Syariah yang menghasilkan produk yang halal baik dari cara pengolahan maupun bahan bakunya. Perkembangan industri halal Indonesia dari tahun ke tahun telah mengalami perkembangan yang lebih baik yang mampu meningkatkan penawaran dan permintaan hingga tingkat global, hal itu disebabkan karena kebijakan pemerintah yang mengesahkan Undang – Undang nomor 33 tahun 2014 tentang jaminan produk halal. Sertifikasi halal merupakan jaminan halal atas produk yang dibuat, sehingga mendapat label halal. Sertifikasi halal berperan penting dalam memperkuat industri halal Indonesia yakni dilihat dari berbagai sektor industri halal yang telah tersertifikasi halal yang telah masuk dan bersaing dalam dunia bisnis internasional, hal itu disebabkan karena mendapat kepercayaan dari konsumen akan kehalalan produk. Proses untuk memperoleh sertifikasi halal dilakukan oleh BPJH dengan persyaratan dan ketentuan. Untuk syarat sertifikasi halal kriterianya dapat dilihat dari bahan baku yang dipastikan halal, tata cara pembuatan produknya, memiliki outle sendiri dan memiliki merek.

Dalam islam halal itu sangatlah penting karena sebagai umat islam harus mengikuti perintah dan menjauhi larangan Allah Swt. Dalam jurnal penelitian yang dilakukan oleh (Prabowo et al., 2016) pada tahun 2016 ini mengkaji tentang bagaimana sistem kerja jaminan halal, manfaat dari sertifikasi halal akan tetapi dalam jurnal ini berfokus pada sektor industri pertanian. Pada jurnal ini beliau mengungkapkan bahwa kualitas produksi dan distribusi sudah cukup baik akan tetapi dapat lebih baik lagi apabila bisa bersaing dalam pasar internasional, untuk itu maka produksi hasil pertanian harus bersertifikasi halal sehingga dengan mudah untuk masuk di pasar internasional karena telah terjamin kehalalannya, dan untuk saat ini industri pertanian masih sangat sedikit yang berlabel halal. Kemudian (Aisyah et al., 2021) dalam jurnal penelitiannya menyatakan bahwa sertifikasi halal dapat meningkatkan preferensi pelaku usaha atau produsen dengan mengfokuskan jaminan halal terhadap produknya. Dengan demikian tujuan dari sertifikasi halal produk yaitu untuk mendapat kepercayaan dari konsumen agar dapat memenuhi hak konsumen dalam mendapatkan jaminan halal secara baik dan dalam kondisi yang telah terjamin, kualitas produk halal yang baik menjadi peluang yang besar untuk

(5)

bersaing di pasar muslim maupun non muslim (Kusjuniati, 2020). Dalam sebuah penelitiannya (Hartati, 2019) yang dilakukan pada tahun 2019 mengungkapkan bahwa negara berperan aktif dan ikut serta dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan jaminan halal di indonesia yang terdapat dalam UU.No.33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal melalui Badan Pengawas Jaminan Produk Halal (BPJPH).

Kemudian untuk menjamin penegakan hukum terhadap pelanggaran Undang- Undang. Pemerintah Indonesia menetapkan sanksi administratif dan sanksi pidana bagi yang melanggar undang undang tersebut, akan tetapi (Hartati, 2019) menegaskan bahwa saat ini belum ada sanksi hukum yang ditetapkan kepada pelaku usaha yang tidak mendaftarkan atau mengajukan sertifikasi halal. Kementrian agama berperan penting dalam mengatur dan mengawasi sertifikasi halal melalui kebijakan yang diterapkan seperti sertifikasi halal gratis, kemenag juga mendukung agar industri halal dapat bersaing dengan negara lain hingga menjadi pusat halal dunia.

Metode Penelitian

Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dengan mempertimbangkan bahwa tujuan dilakukannnya penelitian ini guna untuk mengetahui perkembangan industri halal Indonesia yang dipengaruhi oleh adanya sertifikasi halal produk. Dengan menggunakan data yang bersumber dari data sekunder yang diperoleh dari buku, jurnal, artikel, serta daata laporan tahunan, yang kemudian penulis melakukan analisis data yang berkaitan dengan permasalahan penelitian maupun sumber ilmiah yang relevan. Teknik pengolahan data pada penelitian ini dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, verifikasi data, lalu setelahnya untuk ditarik kesimpulan. Kerangka teoritis yang akan disajikan dalam penelitian ini yakni perkembangan industri halal indonesia serta lembaga pemerintah Kementerian Agama Republik Indonesia.

Hasil Penelitian

Industri Halal di Indonesia

Industri halal di Indonesia mampu bertahan dengan berprinsip pada produk halal yang mampu untuk memberikan perubahan dan juga dorongan untuk

(6)

perekonomian agar lebih maju dan berkembang, dari tahun ke tahun industri halal di Indonesia mengalami perubahan yang signifikan sehingga berdampak baik terhadap sistem perekonomian. Yang menjadikan Indonesia negara yang memiliki jaminan halal yaitu karna Indonesia merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Industri halal yang berkembang lebih cepat yaitu pada sektor makanan, minuman, dan kosmetik, sedangkan sektor farmasi, travel atau destinasi wisata, fashion tidak terlalu dominan dalam perkembangannya akan tetapi memiliki peluang yang banyak untuk dikembangkan. Produk dari sektor makanan dapat lebih mudah untuk diikuti oleh berbagai pihak karena mudahnya mencari konsumen atas produk makanan dan juga mudahnya dalam inovasi produk, dan pengolahan produk makanan cepat saji. Di negara berkembang makanan cepat saji sangat banyak peminatnya diberbagai belahan dunia, apalagi dengan adanya teknologi digital sehingga memudahkan produsen untuk mencari konsumen. Kemudian mengapa sektor makanan menjadi yang paling utama dalam sertifikasi halal karena makanan yang halal itu wajib bagi umat muslim dan juga baik untuk kesehatan. Apabila orang muslim berkunjung ke negara lain maka kunci agar halal apa yang akan dimakan yaitu dengan adanya label halal atau produk makanan yang sudah tersertifikasi halal.

Pada tahun 2018, pertumbuhan sektor industri makanan mencapai 5,66 persen atau lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional (Hasan et al., 2022). Pada sektor farmasi obat – obatan dan kosmetik sangat memiliki peluang untuk berkembang akan tetapi disisi lain terdapat tantangan yang menghambat produksi. Industri obat herbal menjadi peluang yang berbeda bagi pelaku usaha dikarenakan obat herbal menggunakan bahan tradisional yang diambil dari sumber daya alam Indonesia yang melimpah, sehingga bahan bakunya pasti terjamin halal. Tantangan besar pada sektor farmasi dan kosmetik yakni adanya produk obat yang memerluhkan bahan baku impor atau dari luar negri dikarenakan Indonesia tidak ada, sehingga untuk menjamin kehalalan bahan baku impor sangat sulit dikarenakan tidak semua negara memilki label bersertifikasi halal. Jadi untuk mendapat bahan baku yang halal maka perusahaan harus jeli dalam membeli dan juga harus melakukan pengawasan terhadap produksi dengan memperhatikan bahan baku yang dipakai. Sebesar 80% bahan baku kosmetik di Indonesia masih

(7)

diimpor dari luar negeri sehingga tampak bahwa salah satu tantangan Indonesia dalam mengembangkan industri farmasi dan kosmetik halal adalah penguasaan teknologi pengolahan bahan mentah menjadi bahan baku kosmetik (Hutagaluh et al., 2023). Hingga dapat disimpulkan bahwa Indonesia dapat mampu berkembang dalam sektor farmasi obat – obatan dan komestik akan tetapi Indonesia juga memiliki tantangan yang besar dalam meningkatkan kualitas produknya. Kosmetik dan juga obat herbal atau tradisional akan berkembang seiring dengan permintaan pasar. Halal fashion Indonesia mengalami perkembangan yang baik seiring dengan trend saat ini, bukan hanya dilihat dari faktor Indonesia yang mayoritas muslim akan tetapi semakin adanya trend yang dimana banyak perempuan berhijab meskipun tidak muslim. Kemudian yang menjadikan fashion itu halal dapat dilihat dari segi bahan baku, desainer, pendistribusian. Seiring dengan berkembangnya halal fashion terdapat tantangan yang dihadapi oleh industry yakni ketergantungan terhadap bahan baku yang impor dari luar negri, hal itu dapat diatasi dengan memanfaatkan sumber daya alam Indonesia dengan cara meningkatkan produksi bahan baku tekstil yang diproduksi oleh penduduk lokal. Dan apabila dirasa bahan baku dalam negri kurang memadai atau belum cukup bagus maka dalan menjalin kerjasama dengan negara lain harus memiliki jaminan halal terhadap bahan baku tekstil. Banyaknya masyarakat yang memiliki hobby travel akan tetapi juga memperhatinkan kehalalannya maka Indonesia juga terdapat sektor destinasi wisata halal. Walaupun perkembangannya belum cukup pesat akan tetapi wisata halal sangat banyak peminatnya. Contoh dari destinasi wisata halal yakni wisata religi seperti makam tokoh agama, masjid agung, kolam renang Syariah, hotel Syariah dan sebagainya. Kemudian yang perlu diperhatikan dalam pembuatan wisata halal yang menarik banyak konsumen yakni harus terdapat tempat ibadah, halal food court, ATM Syariah, hotel Syariah. Berdasarkan rilis oleh State of the Global Islamic Economy (SGIE), untuk makanan dan minuman halal, Indonesia menempati posisi kedua setelah Malaysia. Adapun untuk fashion halal, Indonesia menempati peringkat ketiga sedangkan untuk farmasi, peringkat Indonesia berada di urutan kesembilan (Hutagaluh et al., 2023). Dengan adanya penguatan inovasi yaitu untuk memberikan nilai tambah yang lebih tinggi bagi konsumen, dalam pengembangan industry halal agar tidak ketertinggalan oleh negara lain maka harus

(8)

memiliki komitmen yang kuat dan tidak hanya berfokus pada sertifikasi saja namun juga memikirkan pada penguatan peran industri halal untuk perekonomian yang lebih baik dan inovatif pada masa depan yang dapat bersaing dikancah inrternasional.

Proses Sertifikasi Halal

Tata cara untuk memperoleh sertifikasi halal telah diatur dalam peraturan UU No.33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. Proses sertifikasi halal produk halal ini dilakukan oleh BPJPH, adapun persyaratan yang harus dipenuhi diantaranya:

1. Dokumen legalitas perusahaan (SK/NPWP/AKTA), 2. Identitas pemohon (email, no hp, e-ktp),

3. Status Sertifikasi (Baru/Pengembangan/Perpanjangan) 4. Data Sertifikat Halal (jika ada),

5. Status Sistem Jaminan Halal (Jika Ada), 6. Tipe Produk (Retail/Non-Retail).

Setelah dilakukan pemeriksaan kelengkapan dokumen oeh BPJPH, selanjutnya akan dilakukan pengujian kehalalan produk oleh auditor halal (LPH). Langkah selanjutnya, akan dikembalikan ke BPJPH uintuk mendapatkan akreditasi produk, namun dalam akreditasi produk BPJPH harus bekerjasama dengan MUI.

Pemutusan akreditasi produk oleh MUI dilakukan sidang fatwa dalam bentuk keputusan Penetapan Halal Produk yang sudah tertandatangani oleh MUI. Setelah beberarapa langkah diawal telah dilakukan, BPJPH dapat menerbitkan sertifikat halal berdasarkan keputusan dari MUI tersebut.

Berbeda dengan langkah proses sertifikasi halal produk perusahaan, untuk produk UMKM BPJPH mempermudah dalam proses pengajuan sertifikat halal mengingat jumlah UMKM yang sangat banyak. Melalui program Sertifikasi Halal Gratis (SEHATI), BPJPH membantu mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai pusat halal dunia di tahun 2024. Sertifikasi halal produk UMKM dapat dilakukan dengan skema self declare secara online. Adapun persyaratan yang harus dipenuhi untuk mendaftar sertifikasi halal gratis diantaranya:

(9)

1. Bahan produk tidak beresiko

2. Proses produksi yang dipastikan kehalalannya dan sederhana 3. Memiliki hasil penjualan tahunan (omset) maksimal Rp 500 4. Memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB)

5. Memiliki lokasi, tempat, dan alat proses produk halal (PPH) yang terpisah dengan lokasi, tempat, dan alat proses produk tidak halal;

6. Memiliki atau tidak memiliki surat izin edar (PIRT/MD/UMOT/UKOT), Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) untuk produk makanan/minuman dengan daya simpan kurang dari tujuh hari atau izin industri lainnya atas produk yang dihasilkan dari dinas/instansi terkait

7. Memiliki outlet dan/atau fasilitas produksi paling banyak 1 (satu) lokasi 8. Secara aktif telah berproduksi satu tahun sebelum permohonan

sertifikasi halal

9. Produk yang dihasilkan berupa barang (bukan jasa atau usaha restoran, kantin, catering, dan kedai/rumah/warung makan)

10. Bahan yang digunakan sudah dipastikan kehalalannya.

11. Telah diverifikasi kehalalannya oleh pendamping proses produk halal;

12. Jenis produk/kelompok produk yang disertifikasi halal tidak mengandung unsur hewan hasil sembelihan, kecuali berasal dari produsen atau rumah potong hewan/rumah potong unggas yang sudah bersertifikasi halal

13. Menggunakan peralatan produksi dengan teknologi sederhana atau dilakukan secara manual dan/atau semi otomatis.

14. Proses pengawetan produk yang dihasilkan tidak menggunakan teknik radiasi, rekayasa genetika, penggunaan ozon (ozonisasi), dan kombinasi beberapa metode pengawetan

15. Melengkapi dokumen pengajuan sertifikasi halal dengan mekanisme pernyataan pelaku usaha secara online melalui SIHALAL.

Setelah membuat akun di laman SiHALAL, pelaku usaha melalukan permohonan sertifikat halal dengan memilih alur self declare serta memasukkan kode fasititasi di akunnya. Selanjutnya akun akan terverivikasi dan divalidasi oleh pendamping

(10)

PPH, lalu verifikasi dokumen akan dilanjutkan oleh BPJPH. Kemudian BPJPH akan menerbitkan surat tanda terima dokumen. Dokumen yang sudah diterima BPJPH akan diserahkan MUI untuk selanjutnya dilakukan sidang fatwa. Setelah keputusan sidang fatwa MUI sudah keluar, maka BPJPH akan menerbitkan sertifikat halal di akun pendaftar, yang kemudian akan dapat diunduh dari laman SiHALAL.

Peran Kemenag dalam Pengembangan Industri Halal

Industri halal di Indonesia hingga saat ini terus dikembangkan oleh berbagai lembaga pemerintah, mulai dari KNEKS hingga Kementerian Agama. Dalam rangka membangun sektor-sektor industri halal yang diharapkan dapat bersaing dengan industri halal negara yang lain, Kementerian Agama telah mendirikan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Pendirian BPJPH bertujuan memberikan kenyamanan, keamanan, keselamatan, dan kepastian ketersediaan produk halal, juga untuk meningkatkan nilai tambah bagi pelaku usaha untuk memproduksi dan menjual produk halal. Dikarenakan rantai halal menjadi sterategi utama dalam membangun industri halal. Di sinilah kontribusi signifikan Kementerian Agama dalam mewujudkan industri halal di Indonesia.

Sekjen Kementerian Agama Nizar Ali, menjelaskan bahwa perkembangan industri halal memiliki peran penting dalam mendukung pelaksanaan pembangunan nasional. Industri halal yang dikembangkan dengan baik, dapat berkontribusi pada nilai tambah perekonomian melalui pemenuhan permintaan pasar halal domestik yang saat ini didominasi oleh pemain global. Produksi domestik atas produk halal juga dapat berkontribusi pada penguatan neraca pembayaran, terutama jika mampu memenuhi permintaan global terhadap produk-produk halal. selain sudah berkontribusi dalam mewujudkan pilar industri halal, Kemenag juga mendukung dalam kebutuhan SDM industri halal dengan menyediakan auditor halal, penyelia halal, serta juru sembelih halal.

Tren Terkini Industri Halal

Pada saat ini, trend halal lifestyle tengah ramai diperbincangkan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Indonesia yang menjadi negara nomer 1 dengan

(11)

mayoritas warganya memeluk agama islam, sehingga trend industri halal bisa ramai di negara Indonesia. Sebuah kehalalan produk bagi umat islam bukan hanya pemenuhan kewajiban serta kebutuhan saja, melainkan sudah menjadi standar yang diakui oleh dunia. Menurut menteri pariwisata dan ekonomi kreatif Sandiaga Salahuddin Uno, dengan trend halal yang sudah berjalan saat ini, dapat mendorong ekonomi islam dan industri halal di Indonesia. Salah satunya pada sektor makanan halal yang semakin diminati, bahkan dari masyarakat non-muslim, mereka tertarik akan makanan halal dikarenakan sudah dipastikan sehat dan higienis. Pemerintah Indonesia telah menanggapi serius dengan adanya trend halal lifestyle akan dapat mewujudkan Indonesia sebagai pusat halal dunia, seperti yang sudah di cita- citakan. Pada tahun 2021, Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) berkoilaborasi dengan Mastercard Cresent Rating untuk mempromosikan gaya hidup halal secara nasional maupun global. Dalam kolaborasi itu juga disajikan wawasan dan metrik-metrik yang mencerminkan industri halal dari sektor pariwisata. Melalui sektor pariwisata diharapkan dapat mengembangkan sektor industri halal yang lainnya.

Pembahasan

Dampak Sertifikasi Halal terhadap Industri Halal Indonesia

Dampak yang akan diperoleh Industri Halal Indonesia dengan adanya sertifikasi halal produk adalah perkembangan industri halal indonesia yang akan semakin meningkat bahkan lebih dari 50%. Direktur Industri Produk Halal Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Afdhal Aliasar mengatakan bahwa, jika dalam produksi halal dalam negeri diperbesar dan meminimkan belanja impor, maka konsumsi masyarakat akan ditopang dari produk halal dalam negeri tersebut, dengan begitu akan meningkatkan angka persentase dari pertumbuhan industri halal Indonesia. Produk pasar yang telah tersertifikasi halal akan membuka potensi pasar ekonomi baik domestik maupun global, sehingga akan membuka peluang bagi para pelaku industri halal untuk mendorong pertumbuhan produksi dan menjadi pemain kunci dalam industri halal global. Produk yang sudah tersertifikasi halal sudah menjadi produk yang memenuhi standar konsumen, dan

(12)

meningkatnya permintaan konsumen akan dipengaruhi oleh standar kehalalan produk.

Dampak lain yang ditimbulkan, saat ini Indonesia berada di posisi keempat setelah Malaysia, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab yang menempati peringkat tiga besar. Dan jika sertifikasi halal akan terus dilakukan, maka bukan tidak mungkin Indonesia akan menempati urutan pertama. Pemerintah melalui KNEKS telah menyusun 13 program prioritas termasuk untuk pengembangan industri produk halal. Di antaranya berupa kodifikasi produk halal dan penyusunan masterplan industri produk halal. Serta pembentukan task force percepatan implementasi sertifikasi halal usaha mikro dan kecil, juga riset dan inovasi produk halal berbasis teknologi. Kodifikasi produk halal merupakan upaya sinkronisasi sertifikasi halal atau data produk halal dengan data transaksi perdagangan dan data perekonomian.

Para eksportir yang mengekspor produk bersertifikasi halal ke negara manapun akan diminta untuk juga melaporkan sertifikat halal dari produknya pada dokumen pemberitahuan ekspor barang (PEB) melalui kode 952.

Tantangan dalam Sertifikasi Halal

Meskipun terbilang sukses dan berhasil, proses sertifikasi halal produk di Indonesia juga memiliki beberapa tantangan di dalamnya. Target pemerintah yang ingin mensertifikasi halal produk UMKM di 2024 adalah program pemerintah demi mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai pusat halal dunia, namun jika target besar tersebut tidak dibarengi dengan sanksi hukum, maka program ini akan kurang maksimal dalam penerapannya. Disinilah letak tantangan bagi BPJPH dalam menjalankan programnya. BPJPH mempunyai tantangan untuk terus menggenjot minat para pelaku usaha untuk mengejar targetnya di tahun 2024. Selain itu, dari sisi pemenuhan kriteria halal dari segi bahan baku, masih juga menjadi tantangan.

Untuk mendapatkan sertifikasi halal, bahan yang digunakan dalam pembuatan produk tersebut harus terjamin kehalalannya, baik bahan mentah, setengah jadi, maupun bahan jadi. Jika bahan yang digunakan tersebut adalah hewan yang harus disembelih, maka yang menyembelih haruslah seorang yang ahli dalam bidang tersebut.

(13)

Tantangan lainnya bagi pemerintah ialah, dalam program layanan Sertifikasi Halal Gratis (SEHATI) semua beban dianggarkan negara, sedangkan pelaku UMKM setiap tahunnya akan bertambah, sehingga perlu dikaji lebih dalam lagi bagi pemerintah dalam memperhitungkan anggaran untuk program tersebut.

Derasnya arus globalisasi menjadi tantangan tersendiri bagi BPJPH untuk terus mensertifikasi produk-produk yang baru muncul seiring dengan arus globalisasi dunia. Risiko yang dimungkinkan muncul adalah kualitas mengenai produk yang dihasilkan melalui jalur penyataan halal yang masih bisa diragukan kehalalannya.

Hal ini disebabkan, pelaku UMK tidak melakukan proses pemeriksaan secara langsung oleh LPH dan hanya mengandalkan pemeriksaan yang dilakukan oleh pendamping PPH. Sedangkan pendamping PPH menurut kriteria, harus berasal dari organisasi masyarakat atau lembaga keagamaan Islam, dan bukan merupakan dari anggota MUI/ LPPOM MUI.

Upaya Peningkatan Sertifikasi Halal

Kementerian Agama Republik Indonesia sebelumnya menyerahkan kewenangan atas sertifikasi halal produk secara penuh kepada Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI).

Namun, karena banyaknya kebutuhan konsumen hingga meningkatnya kegiatan ekspor impor di Indonesia, pemerintah Indonesia telah menetapkan aturan kehalalan suatu produk pada Undang-Undang No.33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. Di dalam peraturan tersebut, terdapat tiga lembaga yang bertanggungjawab pada sertifikasi halal produk, diantaranya adalah Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta Lembaga Produk Halal (LPH). Masing-masing dari lembaga tersebut mempunyai tugas yang berbeda dalam sertifikasi halal produk, (1) BPJPH, bertugas untuk menetapkan aturan, menerima pengajuan produk, serta menerbitkan sertifikat halal, (2) JPH, bertugas untuk memeriksa dan menguji kehalalan produk ya ng dilakukan oleh seorang auditor halal, (3) MUI, melalui sidang fatwanya menetapkan standar kehalalan produk. Dengan demikian BPJPH tidak bisa begitu saja mengeluarkan sertifikat halal tanpa MUI mengadakan sidang fatwa untuk ketetapan kehalalan. Dapat dikatakan pula, peran MUI dalam sertifikasi halal

(14)

produk adalah lembaga pemerintah yang menetapkan ketetapan halal produk yang disesuaikan dengan syariah islam, sedangkan BPJPH berperan sebagai pengadministrasian hukum agama ke hukum negara.

Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) didirikan pada tahun 2017, dengan tujuan untuk memperkuat ekosistem halal serta sebagai salah satu cara untuk mencapai cita-cita Indonesia sebagai pusat halal dunia di tahun 2024.

Berdasarkan data yang diolah Sistem Informasi Halal (SiHALAL), BPJPH dalam 5 tahun berdirinya sudah memberi dampak yang baik bagi industri halal Indonesia, dengan rata-rata 250 ribu produk sudah tersertifikasi halal di setiap tahunnya, sehingga tercatat sebanyak 749.971 produk telah tersertifikasi halal per tahun 2019- 2022. Upaya BPJPH yang lain dalam memperbarui pelayannanya diantaranya menetapkan logo halal yang baru dan dipakai hingga saat ini, menyediakan pelayanan secara digitalisasi, menyediakan program Sertifikasi Halal Gratis (SEHATI), serta mengajukan akreditasi 99 Lembaga Halal Luar Negeri (LHLN).

Pelayanan digitalisasi dari BPJPH adalah fasilitas pendaftaran online sertifikasi halal UMK secara self declare (pernyataan mandiri).

Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa, Kementerian Agama Republik Indonesia melalui lembaga dibawahnya yaitu BPJPH, akan mendukung terwujudnya cita-cita Indonesia sebagai pusat halal dunia di tahun 2024 dengan cara adanya Jaminan Produk Halal. produk yang sudah terjamin halal akan dibuktikan oleh surat resmi, sertifikat halal yang diterbitkan oleh BPJPH, sertifikat halal tersebut dapat terbit setelah dilakukannya beberapa langkah pemeriksaan produk yang dilakukan oleh auditor halal, jika mulai dari bahan, proses pembuatan, hingga pengemasannya tidak mengandung unsur haram, maka produk tersebut dapat dinyatakan kehalalannya. Peran sertifikasi halal dalam memperkuat industri halal Indonesia yakni, dapat dilihat dari produk olahan pangan maupun sektor industri halal lainnya, dimana jika produk tersebut sudah tersertifikas halal, maka produk tersebut akan mampu berdaya saing dalam dunia bisnis. Di samping hal itu, masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama islam,

(15)

akan lebih memilih produk yang halal, karena kehalalan bagi seorang muslim adalah hal yang wajib, sudah dipastikan baik dan sehat. Dengan adanya sertifikat halal pula, beberapa sektor industri mengalami pertumbuhan yang signifikan, salah satunya adalah sektor pangan, hingga sektor pariwisata halal yang akan menarik banyak konsumen sehingga dapat mendukung pertumbuhan perekonomian di Indonesia. Untuk mewujudkan industri halal Indonesia Kementrian Agama melalui BPJH mendukung berbagai sektor – sektor yang ada agar mampu bersaing dengan negara lain dengan harapan dapat meningkatkan nilai tambah bagi pelaku usaha untuk memproduksi produk halal untuk meningkatkan permintaan pasar sehingga perekonomian Indonesia menjadi lebih baik. Maraknya trend halal lifestyle dikalangan anak muda, dan ketertarikan akan makanan halal dan juga destinasi wisata halal maka Indonesia akan lebih cepat dalam mewujudkan cita citanya yakni sebagai pusat halal dunia. Dampak adanya sertifikasi halal akan menjadikan produk lokal yang berlabel halal dapat memiliki peluang yang besar untuk memproduksi produk halal yang nantinya akan dinikmati warga lokal maupun turis dan diharapkan dapat mengeskpor ke luar negri. Memiliki dampak yang cukup baik akan tetapi industr halal juga memiliki tantangan tersendiri dalam sertifikasi halal yakni pelaku usaha yang minim pengetahuan sehingga tidak mengerti mengenai sertifikasi halal, kemudian pemerintah juga memiliki tantangan yang harus dikaji lebih mendalam yakni adanya program sertifikasi halal gratis sehingga memunculkan antusias pelaku UMKM yang semakin bertambah setiap tahunnya maka dana yang dikeluarkan pastinya juga meningkat. Upaya untuk meningkatkan sertifikasi halal yaitu memalui program sertifikasi halal gratis (SEHATI) yang dilakukan pemerintah melalui BPJH. Diharapkan untuk penelitian selanjutnya dapat mengkaji lebih dalam lagi mengenai srategi yang dilakukan pemerintah dalam mewujudkan Indonesia sebagai pusat halal dunia, dengan memperbaiki peraturan – peraturan pelaksanaan dan kebijakan yang telah ada sehingga dapat membuat peraturan yang jelas akan sanksi bagi pelaku usaha yang tidak melakukan sertifikasi halal produk.

(16)

Daftar Pustaka

Aisyah, S. E., & Hidayat, N. W. (2021). Prosedur dan Problematika Sertifikasi Halal Di Indonesia. Masyrif : Jurnal Ekonomi, Bisnis Dan Manajemen, 2(1), 118–

132.

Amita Fayzia Handyani, N. W. (2023). Peranan Dan Kedudukan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal Dalam Kelembagaan Negara. 5(1), 182–190.

Gayatri, M., & Sukmana, P. (2022). Pentingnya Sertifikasi Halal bagi Pangan Olahan oleh UKM untuk Tingkatkan Ekspor Peluang. 00039.

Hartati, R. (2019). Peran Negara Dalam Pelaksanaan Jaminan Produk Halal. Jurnal Kajian Pendidikan Ekonomi Dan Ilmu Ekonomi, 2(1), 1–19.

Hasan, K. N. S., & Pasyah, T. (2022). Tantangan Industri Halal Indonesia di Era Ekonomi Digital. Sriwijaya Law Review, 6(2), 319–335.

Hutagaluh, O., & Hamzah, N. (2023). Tantangan Sektor Industri Halal Prioritas di Indonesia. Jurnal Alwatzikhoebillah, 9(2), 550–557.

Kamsari, D. H. A. (2020). Mekanisme Pengajuan Sertifikasi Halal dan Fasilitasi Halal Bagi UMKM. May, 1–28.

Khairuddin, K., & Zaki, M. (2021). Progres Sertifikasi Halal Di Indonesia Studi pada Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama dan Lembaga Pengkajian, Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) MUI Pusat. 13(1), 101–121.

Kusjuniati. (2020). Strategi dan Peran Penting Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) dalam Mendukung Ketahanan Ekonomi Nasional. Jurnal Widya Balina, 5(1), 112–123. doi: 10.53958/wb.v5i1.55

(17)

Lia Amaliya, J. M. (2023). Urgensi Sertifikasi Halal Pada Produk Pangan UMKM dihubungkan dengan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 Tentang Jaminan Produk Halal. 505–517.

Maulana, M. F. (2023). Tinjauan Maslahah Terhadap Mandatory Sertifikasi Halal Dalam Undang-Undang No . 33 Tahun 2014 Tentang Jaminan Produk Halal Di Indonesia. Jurnal Penelitian Mahasiswa Kreatif, 1(4).

Muhamad, M. (2020). Tantangan Dan Peluang Penerapan Kebijakan Mandatory Sertifikasi Halal ( Studi Implementasi Uu No . 33 Th . 2014 dan PP No.31 Th.

2019). Jurnal Ilmu Ekonomi Dan Bisnis, 2(1).

Muhammad, Y. (2016). Industri Halal di Indonesia. In Jurnal Studi Internasional (Vols. 4–7, Issues 2580–6866).

Murtius, W. S., Fithri, P., & Refdi, C. W. (2021). Pendampingan Sertifikasi Halal Meningkatkan Daya Saing Produk UMKM. Jurnal Pengabdian Masyarakat, 28(2), 137–144.

Prabowo, S., & Rahman, A. A. (2016). Sertifikasi Halal Sektor Industri Pengolahan Hasil Pertanian. Forum Penelitian Agro Ekonomi, 34(1), 57.

Ramlan, R., & Nahrowi, N. (2014). Sertifikasi Halal Sebagai Penerapan Etika Bisnis Islami Dalam Upaya Perlindungan Bagi Konsumen Muslim. Jurnal Ilmu Syariah, 17(1), 145–154.

Riyanto, F. D., Maksum, I., & Dzakwana, N. (2022). Penentu Pemilihan Produk Industri Halal. Jurnal Ekonomi Dan Bisnis, 13–21.

Rumawi, R., & Munawiroh, A. (2021). Ekonomi Digital Dam Sistem Keuangan Islam. May.

Sukoso, Al Huda, P. T., Muyasyaroh, H., Susanti, Y. A. D., & Adila, L. H. (2022).

Sertifikasi Mutu dan Halal Produk Perikanan Usaha Mikro Kecil di Sidoarjo,

(18)

Jawa Timur, Indonesia. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 1036(1).

Triyanto, W. A. (2017). Sertifikasi Jaminan Produk Halal Menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 (Perspektif Hukum Perlindungan Konsumen). Lex Administratum, V(1), 1–14.

Waluyo, W., Nurohman, Y. A., Safitri, L. A., & Qurniawati, R. S. (2022). Potensi Pengembangan Wisata Halal di Wisata Religi Desa Menggoro Untuk Menunjang Ekonomi Kerakyatan. Khasanah Ilmu - Jurnal Pariwisata Dan Budaya, 13(2), 171–179.

Warto, S. (2020). Sertifikasi Halal dan Implikasinya Bagi Bisnis Produk Halal di Indonesia. Jurnal Ekonomi Dan Perbankan Islam, 2(July).

Yustati, H. (2017). Strategi Perbankan Syariah Dalam Menyokong Indonesia Menjadi Trend Setter Industrial Halal. Jurnal Ekonomi Dan Perbankan Syariah, 2(1), 16–35.

Referensi

Dokumen terkait