MODUL 1 .
KONSEP DASAR DAN PROSES KEWIRAUSAHAAN PENDAHULUAN.
Istilah kewirausahaan sudah lama menjadi wacana di Indonesia baik pada tingkat formal di perguruan tinggi dan pemerintahan ataupun pada tingkat nonformal pada kehidupan ekonomi di masyarakat. Dilihat dari terminilogi, dulu dikenal adanya istilah wiraswasta dan kewirausahaan. Sekarang tampaknya sudah ada semacam konvensi sehingga istilah tersebut menjadi wirausaha (entrepreneur) dan kewirausahaan (entrepreneurship).
Dahulu orang beranggapan bahwa kewirausahaan adalah bakat bawaan sejak lahir (entrepreneurship are born nat made) dan hanya diperoleh dari hasil praktek ditingkat lapangan dan tidak dapat dipelajari dan diajari, tetapi sekarang kewirausahaan merupakan suatu disiplin ilmu yang dapat dipelajari dan diajarkan.
Ilmu kewirausahaan adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang nilai, kemampuan (ability) dan perilaku seseorang dalam menghadapi tantangan hidup untuk memperoleh peluang dengan berbagai resiko yang mungkin dihadapinya (Suryana, 2001).
Dalam konteks bisnis, menurut Zimmerer (1996) dalam Suryana (2001), kewirausahaan adalah hasil dari suatu disiplin,proses sistematis penerapan kreativitas dan keinovasian dalam memenuhi kebutuhan dan peluang di pasar. Wirausaha secara histories sudah dikenal sejak diperkenalkan oleh Richard Castillon pada tahun 1755.
Di Indonesia, kewirausahaan dipelajari baru terbatas pada beberapa sekolah atau perguruan tinggi tertentu saja. Sejalan dengan perkembangan dan tantangan seperti adanya krisis ekonomi, pemahaman kewirausahaan baik melalui pendidikan formal maupun pelatihan-pelatihan disegala lapisan masyarakat kewirausahaan menjadi berkembang. Dalam bidang pemerintahan seperti dikemukakan oleh Osborne dan Gaebler (1992), pemerintahan saat ini dituntut untuk bercorak kewirausahaan (entrepreunerial governmemt). Dengan memiliki jiwa/corak kewirausahaan, maka birokrasi dan institusi akan memiliki motivasi, optimisme, dan berlomba untuk menciptakan cara-cara baru yang lebil efisien, efektif, fleksible sdan adaptif. Tedapat
banyak definisi kewirausahaan yang pada intinya relatif sama seperti dikemukakan oleh Drucker (1994), Zimemerer (1996) Suryana (2001), Longenecker dkk (2001), Syis dalam Wijandi (1988), Say (1800) dalam Osborne & Gaebler (1992), Sumahawijaya (1980) dalam Wijandi (1988) dan Siagian.
KEGIATAN BELAJAR 1.1 KONSEP DASAR KEWIRAUSAHAAN 1.1.1. SEJARAH KEWIRAUSAHAAN
Menurut perkembangannya mulai dari periode awal sampai sekarang sejarah kewirausahaan dapat dibagi dalam beberapa periode :
1. Periode awal
Sejarah kewirausahaan dimulai dari periode awal yang dimotori oleh Marcopolo.
Dalam masanya, terdapat dua pihak yakni pihak pasif dan pihak aktif. Pihak pasif bertindak sebagai pemilik modal dan mereka mengambil keuntungan yang sangat banyak terhadap pihak aktif. Sedangkan pihak aktif adalah pihak yang menggunakan modal tersebut untuk berdagang antara lain dengan mengelilingi lautan. Mereka menghadapi banyak resiko baik fisik maupun sosial akan tetapi keuntungan yang diperoleh sebesar 25%.
2. Abad pertengahan
Kewirausahaan berkembang di periode pertengahan, pada masa ini wirausahawan dilekatkan pada aktor dan seorang yang mengatur proyek besar. Mereka tidak lagi berhadapan dengan resiko namun mereka menggunakan sumber daya yang diberikan, yang biasanya yang diberikan oleh pemerintah. Tipe wirausahaawan yang menonjol antara lain orang yang bekerja dalam bidang arsitektural.
3. Abad 17
Di abad 17, seorang ekonom, Richard Cantillon, menegaskan bahwa seorang wirausahawan adalah seorang pengambil resiko, dengan melihat perilaku mereka yakni membeli pada harga yang tetap namun menjual dengan harga yang tidak pasti. Ketidakpastian inilah yang disebut dengan menghadapi resiko.
4. Abad 18
Berlanjut di abad ke 18, seorang wirausahawan tidak dilekatkan pada pemilik modal, tetapi dilekatkan pada orang-orang yang membutuhkan modal.
Wirausahawan akan membutuhkan dana untuk memajukan dan mewujudkan inovasinya. Pada masa itu dibedakan antara pemilik modal dan wirausahawan sebagai seorang penemu.
5. Abad 19
Sedangkan di abad ke 19 dan 20, wirausahawan didefinisikan sebagai seseorang yang mengorganisasikan dan mengatur perusahaan untuk meningkatkan pertambahan nilai personal.
6. Abad 10
Pada abad 20, inovasi melekat erat pada wirausahawan di masa sekarang.
1.1.2. DISIPLIN ILMU KEWIRAUSAHAAN
Ilmu Kewirausahaan adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang nilai, kemampuan (ability) dan perilaku seseorang dalam menghadapi tantangan hidup untuk memperoleh peluang dengan berbagai resiko yang mungkin dihadapi.
Dalam konteks bisnis, menurut Thomas W.Zimmerer (dalam Suryana) Entrepreneurship is the result of a disciplined, systematic proses of applying creativity and innovations to need and opportunities in the marketplace; yang artinya, Kewirausahaan adalah hasil dari suatu disiplin, proses sistematis penerapan kreativitas dan keinovasian dalam memenuhi kebutuhan dan peluang di pasar.
Seseorang yang memiliki bakat Kewirausahaan dapat mengembangkan bakatnya melalui pendidikan. Namun bakat saja tidak cukup, tetapi harus memiliki pengetahuan dari segala aspek usaha yang akan ditekuni. Seseorang Wirausaha harus belajar banyak tentang diri sendiri, kekuatan, dan kelemahan yang datang dari tindakan-tindakan yang dilakukan sendiri, dan kegagalan harus diterima sebagai pengalaman belajar.
Menurut Soeharto Prawirokusumo, Kewirausahaan sebagai ilmu yang independen karena :
1. Kewirausahaan berisi “body of knowledge” yang utuh dan nyata (distinctive), yaitu ada teori, konsep, dan metode ilmiah yang lengkap.
2. Kewirausahaan memiliki dua konsep, yaitu posisi “venture start-up” dan
“venture growth”, ini jelas tidak masuk dalam “framework general
management courses” yang memisahkan antara management dan “business ownership”.
3. Kewirausahaan meruipakan disiplin ilmu yang memiliki objek tersendiri, yaitu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (ability to create new and different).
4. Kewirausahaan merupakan alat untuk menciptakan pemerataan berusaha dan pemerataan pendapatan (wealth creation process an entrepreneurial endeavor bay its own night, nation’s prosperity, individual self-reliance) atau kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur.
Dalam bidang-bidang tertentu, Kewirausahaan dijadikan sebagai kompetensi inti (core competency) dalam menciptakan perubahan, pembaharuan, dan kemajuan. Kewirausahaan tidak hanya dapat digunakan sebagai kiat-kiat bisnis jangka pendek tetapi juga sebagai kiat kehidupan secara umum yang berjangka panjang untuk menciptakan peluang. Dibidang bisnis, banyak perusahaan yang sukses dan berpeluang besar dalam persaingan karena memiliki kreativitas dan keinovasian. Melalui proses kreatif dan inovatif, wirausaha menciptakan nilai tambah barang dan jasa dengan berbagai keunggulannya.
1.1.3. PENGERTIAN KEWIRAUSAHAAN
Istilah Kewirausahaan berasal dari terjemahan “entrepreneurship”, yang dapat diartikan sebagai “the backbone of economy” atau “tailbone of economy”, yaitu pengendali perekonomian suatu bangsa (Soeharto Wirakusumo, dalam Suryana).
Secara Epistimologi, Kewirausahaan merupakan suatu nilai yang diperlukan untuk memulai sesuatu usaha (start up phase) atau suatu proses dalam mengerjakan suatu yang baru (creative) dan sesuatu yang berbeda (innovative).
Ada kerancuan istilah antara entrepreneurship, intrapreneurship, dan entrepreneurial, dan entrepreneur.
1. Entrepreneurship adalah jiwa kewirausahaan yang dibangun untuk menjembatani antara ilmu dengan kemampuan pasar. Entrepreneurship meliputi
pembentukan perusahaan baru, aktivitas kewirausahaan juga kemampuan managerial yang dibutuhkan seorang entrepreneur.
2. Intrapreneurship didefinisikan sebagai kewirausahaan yang terjadi di dalam organisasi yang merupakan jembatan kesenjangan antara ilmu dengan keinginan pasar.
3. Entrepreneur didefinisikan sebagai seseorang yang membawa sumber daya berupa tenaga kerja, material, dan asset lainnya pada suatu kombinasi yang menambahkan nilai yang lebih besar daripada sebelumnya, dan juga dilekatkan pada orang yang membawa perubahan, inovasi, dan aturan baru.
4. Entrepreneurial adalah kegiatan dalam menjalankan usaha atau berwirausaha.
Inventor dan Entrepreneur
Berikut ini beberapa perbedaan antara inventor dan entrepreneur. Inventor didefinisikan sebagai seseorang yang bekerja untuk mengkreasikan sesuatu yang baru untuk pertama kalinya, ia termotivasi dengan ide dan pekerjaannya. Inventor pada umumnya memiliki pendidikan dan motivasi berprestasi yang tinggi.
Menurutnya, standar kesuksesan bukanlah dari moneter semata tetapi dari hak paten yang didapatnya. Sedangkan wirausaha atau entrepreneur lebih menyukai berorganisasi daripada menemukan sesuatu. Ia mengatur dan memastikan agar organisasinya berkembang dan bertahan. Entrepreneur berupaya mengimplementasikan penemuannya sehingga disukai publik namun inventor lebih menyukai menemukan atau menciptakan sesuatu.
Kewirausahaan mengacu pada perilaku yang meliputi:
1. Pengambilan inisiatif,
2. Mengorganisasi dan mengorganisasi kembali mekanisme sosial dan ekonomi untuk mengubah sumber daya dan situasi pada perhitungan praktis
3. Penerimaan terhadap resiko dan kegagalan.
Sebagian wirausaha adalah pengusaha, namun hanya sebagian kecil pengusaha yang dapat disebut sebagai wirausaha. Wirausaha sebagai pejuang pelopor atau teladan dalam bidang usaha karena mempunyai dan mengamalkan
kewirausahaan. Pengertian wirausaha dapat dibedakan dengan pekerja bebas dan pengusaha sebagai berikut :
1. Semua orang yang bekerja bebas dalam arti bukan buruh atau pegawai pada suatu majikan dapat disebut sebagai pekerja bebas.
2. Seseorang atau sekelompok orang yang berusaha memperoleh keuntungan, tanpa melihat besar kecilnya modal yang dipergunakan disebut sebagai pengusaha.
Melalui pengertian tersebut, terdapat empat hal yang dimiliki oleh seorang wirausahawan yakni :
1. Proses berkreasi yakni mengkreasikan sesuatu yang baru dengan menambahkan nilainya. Pertambahan nilai ini tidak hanya diakui oleh wirausahawan semata namun juga audiens yang akan menggunakan hasil kreasi tersebut.
2. Komitmen yang tinggi terhadap penggunaan waktu dan usaha yang diberikan.
Semakin besar fokus dan perhatian yang diberikan dalam usaha ini maka akan mendukung proses kreasi yang akan timbul dalam kewirausahaan.
3. Memperkirakan resiko yang mungkin timbul. Dalam hal ini resiko yang mungkin terjadi berkisar pada resiko keuangan, fisik dan resiko social.
4. Memperoleh reward. Dalam hal ini reward yang terpenting adalah independensi atau kebebasan yang diikuti dengan kepuasan pribadi.
Sedangkan reward berupa uang biasanya dianggap sebagai suatu bentuk derajat kesuksesan usahanya.
1.1.4. HAKIKAT KEWIRAUSAHAAN
Hingga saat ini masih belum ada terminology yang sama tentang Kewirausahaan (entrepreneurship). Pada umumnya Kewirausahaan memiliki hakekat yang hampir sama yaitu merujuk pada sifat, watak, dan ciri-ciri yang melekat pada seseorang yang mempunyai kemauan keras untuk mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia usaha yang nyata dan dapat mengembangkannya dengan tangguh.
Ada 5 (lima) esensi pokok kewirausahaan yaitu:
1. Kemauan kuat untuk berkarya dengan semangat kemandirian (terutama dalam bidang ekonomi).
2. Kemauan memecahkan masalah dan membuat keputusan secara sistematis, termasuk keberanian mengambil resiko usaha.
3. Kemauan berpikir dan bertindak secara kreatif dan inovatif.
4. Kemauan bekerja secara teliti, tekun, dan produktif.
5. Kemauan berkarya dalam kebersamaan berlandaskan etika bisnis yang sehat.
Kewirausahaan menyangkut tiga dimensi penting : yakni inovatif, pengambilan resiko, dan proaktif.
Inovatif. Keinovasian mengacu pada pengembangan produk, jasa, atau proses yang unik. Ia memfokuskan perubahan pada potensi sosial ekonomi perusahaan yang berdasarkan pada kreativitas dan intuisi individu.
Pengambilan Resiko. Pengambilan resiko mengacu pada kemauan aktif untuk mengejar peluang. Resiko perlu diperhitungkan dan wirausaha secara objektif harus mengidentifikasikan factor-faktor resiko dan sumber daya yang ada serta secara sistematis mengelola factor-faktor ini.
Proaktif. Operasionalisasi dari sifat ini adalah:
1. Memutuskan apakah dalam hal inovasi, organisasi mengikuti pesing atau tidak.
2. Menyukai apa yang telah lalu atau melakukan pertumbuhan, inovasi dan pengembangan.
3. Mencoba bekerjasama dengan pesaing atau tidak.
Proaktif juga berkaitan dengan implementasi, melakukan apapun yang dilakukan untuk membawa konsep kewirausahaan pada pelaksanaan.
Kewirausahaan muncul apabila seseorang individu berani mengembangkan usaha- usaha atau ide-ide barunya. Proses kewirausahaan meliputi semua fungsi, aktivitas, dan tindakan yang berhubungan dengan perolehan peluang dan penciptan organisasi usaha. Oleh sebab itu, wirausaha adalah orang yang memperoleh peluang dan menciptakan suatu organisasi untuk mengejar peluang itu.
Esensi dari kewirausahaan adalah menciptakan nilai tambah di pasar melalui proses pengkombinasian sumber daya dengan cara-cara baru dan berbeda agar dapat bersaing. Nilai tambah tersebut diciptakan melalui cara-cara sebagai berikut:
1. Pengembangan teknologi baru (developing new technology) 2. Penemuan pengetahuan baru (discovering new knowledge)
3. Perbaikan produk dan jasa yang sudah ada (improving existing products or services)
4. Penemuan cara-cara yang berbeda untuk menghasilkan barang dan jasa yang lebih banyak dengan sumber daya yang lebih sedikit (finding different ways of providing more goods and services with fewer resources)
Dari beberapa konsep kewirausahaan yang telah dikemukakan tadi, ada enam hakikat penting kewirausahaan, yaitu :
1. Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diwujudkan dalam perilaku yang dijadikan dasar sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat, proses, dan hasil bisnis ( Ahmad Sanusi dalam Suryana).
2. Kewirausahaan adalah suatu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda (ability to create the new and different).
3. Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kreativitas dan keinovasian dalam memechkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan (usaha).
4. Kewirausahaan adalah suatu nilai yang diperlukan untuk memulai suatu usaha (start up-phase) dan perkembangan usaha (venture growth).
5. Kewirausahaan adalah suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru (creative) dan sesuatu yang berbeda (innovative) yang bermanfaat memberikan nilai lebih.
6. Kewirausahaan adalah usaha menciptakan nilai tambah dengan jalan mengkombinasikan sumber-sumber melalui cara baru dan berbeda untuk memenangkan persaingan.
KEGIATAN BELAJAR 1.2 PROSES KEWIRAUSAHAAN
Apabila seseorang mempunyai ide untuk membuka suatu usaha baru, maka dia akan memasuki suatu kondisi dimana berbagai faktor akan mempengaruhi dan mendorongnya untuk berwirausaha. Menurut David Mc. Clelland; kewirausahaan ditentukan oleh motif berprestasi (achievement), optimisme (optimism), sikap-sikap nilai (value attitudes), dan status kewirausahaan (entrepreneurial status) atau keberhasilan.
Perilaku kewirausahaan dipengaruhi oleh factor internal dan eksternal. Factor- faktor tersebut antara lain hal kepemilikan, kompetensi / kemampuan, insentif dan lingkungan. Menurut Ibnoe Soedjono, kemampuan afektif yang mencakup sikap, nilai-nilai, aspirasi, perasaan, dan emosi sangat bergantung kepada lingkungan yang ada. Factor lainnya yang berpengaruh terhadap suatu aktivitas bisnis ialah pertimbangan antara pengalaman dengan spirit, energi, dan rasa optimis. Jadi kemampuan berwirausaha merupakan fungsi dari perlaku kewirausahaan dalam mengkombinasikan kreativitas, keinovasian, kerja keras, dan keberanian menghadapi resiko untuk memperoleh peluang.
1.2.1. MODEL PROSES KEWIRAUSAHAAN
Model proses perintisan dan pengembangan kewirausahaan digambarkan sebagai suatu urutan yang berjenjang atau melalui langkah-langkah yang berurutan.
Menurut Carol Noore yang dikutip oleh Bygrave (dalam Suryana), bahwa proses kewirausahaan diawali dengan adanya inovasi. Inovasi tersebut dipengaruhi oleh berbagai factor baik yang berasal dari pribadi maupun di luar pribadi seperti pendidikan, sosiologi, organisasi, kebudayaan, dan lingkungan. Factor-faktor tersebut membentuk locus of control, kreativitas, keinovasian, implementasi, dan pertumbuhan yang kemudian berkembang menjadi wirausaha yang besar.
Selanjutnya, dikatakan oleh Carol Noore bahwa factor individu yang memicu kewirausahaan adalah pencapaian locus of control, toleransi, pengambilan resiko, pengalaman, usia, komitmen, dan ketidakpuasan. Sedangkan factor pemicu yang berasal dari lingkungan sosial meliputi peluang, model peran, aktivitas, pesaing,
incubator, sumber daya, dan kebijaksanaan pemerintah. Sedangkan factor pemicu yang berasal dari lingkungan sosial meliputi keluarga, orang tua dan jaringan kelompok.
Gambar 1.1 Model Proses Perintisan dan Pengembangan Kewirausahaan Bygrave:
1. Proses Inovasi
Beberapa factor personal yang mendorong inovasi adalah: keinginan berprestasi, adanya sifat penasaran, keinginan menanggung resiko, factor pendidikan, factor pengalaman. Adanya inovasi yang berasal dari diri seseorang akan mendorongnya mencari pemicu ke arah memulai usaha.
Sedangkan factor-faktor environment mendorong inovasi adalah: adanya peluang, pengalaman dan kreativitas. Tidakl diragukan lagi pengalaman sebagai guru yang berharga memicu perintisan usaha, apalagi ditunjang oleh adanya peluang dan kreativitas.
2. Proses Pemicu
Beberapa factor personal yang mendorong Triggering Event artinya yang memicu atau memaksa seseorang untuk terjun ke dunia bisnis adalah:
Adanya ketidakpuasan terhadap pekerjaan yang sekarang
Adanya pemutusan hubungan kerja (PHK), tidak ada pekerjaan lain
Dorongan karena factor usia
Keberanian menanggung resiko
Dan komitmen atau minat yang tinggi terhadap bisnis
Factor-faktor Environment yang mendorong menjadi pemicu bisnis adalah:
1. Innovation (Inovasi) 2. Triggering (Pemicu)
3. Implementation (Pelaksanaan) 4. Growth (Pertumbuhan)
Adanya persaingan dalam dunia kehidupan
Adanya sumber-sumber yang bias dimanfaatkan, misalnya adanya tabungan, modal, warisan, memiliki bangunan di lokasi strategis, dll
Mengikuti latihan-latihan atau incubator bisnis
Kebijaksanaan pemerintah, misalnya fasilitas kredit dan bimbingan usaha
Sedangkan factor Sociological yang menjadi pemicu serta pelaksanaan bisnis adalah:
Adanya hubungan atau relasi dengan orang lain
Adanya tim yang dapat diajak kerjasama dalam berusaha
Adanya dorongan dari orang tua untuk membuka usaha
Adanya bantuan family dalam berbagai kemudahan
Adanya pengalaman-pengalaman dalam dunia bisnis sebelumnya 3. Proses Pelaksanaan
Beberapa factor personal yang mendorong pelaksanaan dari sebuah bisnis adalah sebagai berikut:
Adanya seorang wirausaha yang sudah siap mental secara total
Adanya manajer pelaksana sebagai tangan kanan, pembantu utama
Adanya komitmen yang tinggi terhadap bisnis
Dan adanya visi, pandangan yang jauh ke depan guna mencapai keberhasilan
4. Proses Pertumbuhan
Proses Pertumbuhan ini di dorong oleh factor organisasi antara lain:
Adanya tim yang kompak dalam menjalankan usaha
Adanya strategi yang mantap sebagai produk dari tim yang kompak
Adanya struktur dan budaya organisasi yang mantap
Adanya produk yang dibanggakan atau keistimewaan yang dimiliki
Sedangkan factor Environment yang mendorong implementasi dan pertumbuhan bisnis adalah sebagai berikut:
Adanya unsur persaingan yang cukup menguntungkan
Adanya konsumen dan pemasok barang yang kontinyu
Adanya bantuan dari pihak investor bank yang memberikan fasilitas keuangan
Adanya sumber-sumber yang tersedia, yang masih bisa dimanfaatkan
Adanya kebijaksanaan pemerintah yang menunjang berupa peraturan bidang ekonomi yang menguntungkan
1.2.2.CIRI-CIRI PROSES PERTUMBUHAN KEWIRAUSAHAAN
Suryana memberikan suatu kesimpulan dari hasil penelitiannya terhadap 115 usaha kecil unggulan di Kabupaten Bandung, bahwa pada umumnya proses pertumbuhan kewirausahaan pada usaha kecil memiliki tiga cirri penting, yaitu;
1. Tahap Imitasi dan Duplikasi (Imitating and Duplicating)
2. Tahap Duplikasi dan Pengembangan (Duplicating and Developing)
3. Tahap menciptakan sendiri barang dan jasa baru yang berbeda (Create New and Different)
Dilihat dari prosesnya, Zimmerer (dalam Suryana) membagi fase perkembangan kewirausahaan menjadi dua, yaitu;
1. fase awal (perintisan) 2. fase pertumbuhan
Tabel 1.2. Ciri-ciri Pertumbuhan Kewirausahaan
Fase Awal (Start Up) Fase Pertumbuhan (Growth) A. Tujuan dan Perencanaan
Kesinambungan tujuan dan rencana Pokok
Tumbuh sederhana, efisien, orientasi laba, dan rencana langsung untuk mencapainya
B. Sifat atau Ciri-ciri Kunci Personal
Memfokuskan pada masa yang akan datang daripada masa sekarang usaha-usaha menengah diarahkan untuk masa yang akan datang
Pengambilan resiko yang moderat dengan tingkat toleransi yang tinggi terhadap perubahan dan kegagalan.
Kapasitas untuk menemukan ide-id inovatif yang memberi kepuasan kepada konsumen.
Pengetahuan teknik dan pengalaman inovasi pada bidangnya.
C. Sifat untuk Desain
Struktur pola yang sederhana dan luas dengan jaringan kerja komunikasi yang luas secara horizontal.
Otoritas pengambilan keputusan dimiliki oleh wirausaha
Informal dan system kontrol personal
Sama seperti pada fase awal.
Sama seperti pada fase awal.
Kapasitas untuk menempa selama pertumbuhan cepat, kemurnian organisasi dan kemampuan berhitung
Pengetahuan manajerial dan pengalaman dengan menggunakan orang lain dan sumber daya yang ada.
Struktur yang fungsional atau vertical akan tetapi saluran komunikasi informal sering digunakan.
Mendelegasikan otoritas pengambilan keputusan kepada manajer level kedua.
Kuasi formal (yaitu tidak terlalu kompleks atau bekerjasama) dalam beroperasi Sumber: Thomas W. Zimmerer (dikutip dari Suryana, 2001)
1.2.3. JENIS WIRAUSAHA
Pada dasarnya hakekat kewirausahaan adalah perwujudan sikap, perilaku, kemampuan serta semangat yang sangat mendasar untuk mendukung kehandalan, ketangguhan dan keunggulan wirausaha, yang memiliki cirri-cirinya sebagai berikut (Irfan, dalam Pandji Anoraga):
1.Wirausaha Handal
2. Wirausaha Tangguh 3. Wirausaha Unggul
Seorang entrepreneur adalah orang yang mengkombinasikan resources, tenaga kerja, material dan peralatan lainnya untuk meningkatkan nilai yang lebih tinggi dari sebelumnya, dan juga orang yang memperkenalkan perubahan-perubahan, inovasi, dan perbaikan produksi lainnya (menurut ahli ekonomi). Selanjutnya, kewirausahaan adalah juga proses dinamik untuk menciptakan tambahan kemakmuran yang diciptakan oleh individu wirausaha yang menanggung resiko, menghabiskan waktu, dan menyediakan berbagai produk barang dan jasa. Barang dan jasa yang dihasilkannya tidak selalu baru namun harus mempunyai nilai baru dan berguna dengan memanfaatkan skills dan resources yang ada.
Resiko Kewirausahaan
Saat memulai bisnis, seorang wirausaha biasanya menghadapi resiko bisnis, yang besar. Rata-rata kegagalan diantara bisnis baru ini mencapai 25–33 persen usaha kecil mengalami kegagalan selama dua tahun pertama masa operasinya (Pandji Anoraga, 2002 : 151).
Zimmerer (dalam Suryana) mengemukakan beberapa factor yang menyebabkan wirausaha gagal dalam menjalankan usaha barunya, adalah:
a. Tidak kompeten dalam manajerial. Tidak kompeten atau tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan mengelola usaha merupakan factor utama yang membuat perusahaan kurang berhasil.
b. Kurang berpengalaman dalam kemampuan teknik, kemampuan memvisualisasikan usaha, kemampuan mengkoordinasikan, ketrampilan mengelola sumber daya manusia, dan kemampuan mengintegrasikan operasi perusahaan.
c. Kurang dapat mengendalikan keuangan. Kekeliruan dalam memelihara aliran kas akan menghambat operasional perusahaan dan mengakibatkan perusahaan tidak lancar.
d. Gagal dalam perencanaan. Perencanaan merupakan titik awal dari suatu kegiatan, apabila gagal dalam perencanaan maka akan mengalami kesulitan dalam pelaksanaan.
e. Lokasi yang kurang memadai. Lokasi yang tidak strategis dapat mengakibatkan perusahaan sukar beroperasi karena kurang efisien.
f. Kurangnya pengawasan peralatan. Pengawasan erat kaitannya dengan efisiensi dan efektifitas. Kurang pengawasan dapat mengakibatkan penggunaan alat tidak efisien dan tidak efektif.
g. Sikap yang kurang sungguh-sungguh dalam berusaha. Sikap yang setengah- setengah terhadap usaha akan mengakibatkan usaha yang dilakukan menjadi labil dan gagal.
h. Ketidakmampuan dalam melakukan peralihan / transisi kewirausahaan.
Wirausaha yang kurang siap menghadapi dan melakukan perubahan, maka tidak ada jaminan untuk menjadi wirausaha yang berhasil. Keberhasilan dalam berwirausaha hanya bisa diperoleh apabila berani mengadakan perubahan dan mampu membuat peralihan setiap waktu.
SENERAI
Entrepreneurship : jiwa kewirausahaan yang dibangun untuk menjembatani antara ilmu dengan kemampuan pasar.
Intrapreneurship : kewirausahaan yang terjadi di dalam organisasi yang merupakan jembatan kesenjangan antara ilmu dengan keinginan pasar.
Entrepreneur : seseorang yang membawa sumber daya berupa tenaga kerja, material, dan asset lainnya pada suatu kombinasi yang menambahkan nilai yang lebih besar daripada sebelumnya, dan juga dilekatkan pada orang yang membawa perubahan, inovasi, dan aturan baru.
Entrepreneurial : kegiatan dalam menjalankan usaha venture start-up: permulaan usaha
venture growth : pertumbuhan usaha DAFTAR PUSTAKA
Alma Buchari, 2009, Kewirausahaan, Edisi Revisi, Alfabeta, Bandung
Hisrich,Peters, Shepherd, 2008, Entrepreneurship, Edisi 7, Salemba Empat, Jakarta.
Machfoedz Mas’ud dan Machfoedz Mahmud, 2004, Kewirausahaan; Suatu Pendekatan Kontemporer, UPP AMP YKPM, Yogyakarta
Nitisusastro Mulyadi, 2009, Kewirausahaan dan Manajemen Usaha Kecil, Alfabeta Bandung.
Suryana, 2003, Kewirausahaan; Pedoman Praktis, Kiat dan Proses Menuju Sukses, Salemba Empat, Jakarta
Susanto Adi, 2000, Kewiraswastaan, Ghalia Indonesia, Jakarta
Wahid Mudjiarto Aliaras, 2006, Membangun Karakter Kepribadian Kewirausahaan, Graha Ilmu, Yogyakarta.
Zimmerer, Scarborough, 1998, Pengantar Kewirausahaan dan Manajemen Bisnis Kecil, Edisi Bahasa Indonesia, Prenhallindo, Jakarta.