Hasil penelitian menyatakan bahwa penerapan pendekatan religi sebagai solusi penanggulangan kejahatan pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Metro adalah pengobatan dengan melaksanakan program relokasi. Dari hasil wawancara dan observasi yang dilakukan peneliti, hasil penerapan pendekatan religi sebagai solusi menanggulangi kriminalitas pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Metro dapat dinilai baik dan cukup efektif.
Fokus Penelitian
Pertanyaan Penelitian
Manfaat Penelitian
Bagi para guru, penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan informasi mengenai apa saja penyebab kenakalan siswa di sekolah dan bagaimana cara mengatasinya. Bagi pihak sekolah, diharapkan penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam memikirkan metode internal.
Penelitian Relevan
Artikel ini menguraikan upaya pendidik PAI yang berperan sebagai konsultan dalam menangani permasalahan kenakalan siswa. 11 Rina Khairu Sifa, Strategi Guru Aqidah Akhlak dalam Mengatasi Kenakalan Siswa di MTs Nurul Haq Rumbia Lampung Tengah (Institut Keagamaan Islam Negeri (IAIN) Metro, 2019).
Kenakalan Siswa
Secara sederhana kenakalan siswa dapat diartikan sebagai suatu penyimpangan yang dilakukan siswa menurut keinginannya sendiri, tanpa memperhatikan hal-hal atau peraturan yang telah diterima dan disepakati di lingkungan sekolah. Lampu; merupakan suatu bentuk kenakalan siswa yang tidak terlalu merugikan atau membahayakan diri sendiri atau orang lain disekitarnya, kalaupun merugikan maka dampaknya tidak besar.
Implementasi Pendekatan Keagamaan Sebagai Solusi Kenakalan Siswa Siswa
Yang dilakukan pihak sekolah untuk mengatasi kenakalan siswa adalah dengan menerapkan program “Move On”. Hal-hal yang mendasari dibentuknya program Move On untuk mengatasi kenakalan siswa di sekolah dengan pendekatan keagamaan adalah: Namun Move On juga dapat diartikan sebagai semangat tersendiri dari setiap permasalahan yang dialami.
Implementasi program Move On dengan pendekatan religi sebagai solusi penanganan kenakalan siswa di sekolah Sebagai solusi penanganan kenakalan siswa di sekolah. Dalam gerak program yang dilakukan sekolah untuk penanganan kenakalan siswa diterapkan beberapa hal, yang pokok adalah:
Sumber Data Penelitian
Menurut Denzin & Lincoln, penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar belakang fenomena alam yang terjadi dengan tujuan menjelaskannya dengan melakukan penyelesaian dengan menggunakan metode yang ada. Sedangkan menurut Erickson, penelitian kualitatif adalah suatu usaha untuk memperoleh dan juga menjelaskan dalam bentuk kata-kata atau cerita yang bermula dari hal-hal yang dilakukan beserta dampak yang akan timbul dari tindakan yang dilakukan dalam kehidupannya. Dari dua pendapat mengenai pengertian data di atas dapat dipahami bahwa pada umumnya informasi mentah dalam bentuk nominal atau deskriptif berguna sebagai acuan dalam membuat informasi atau laporan penelitian baru.
Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa sumber data primer merupakan sumber data terpenting yang akan diperoleh berdasarkan hasil suatu teknik pengumpulan data. Sumber data sekunder merupakan sumber data yang tidak secara langsung memberikan data yang diperlukan kepada pengumpul data 4 yaitu nasihat kelas 3.
Teknik Pengumpulan Data
Wawancara ini berfungsi untuk mengetahui metode dan implikasi pendekatan keagamaan sebagai solusi terhadap kenakalan siswa kelas XI SMA Negeri 1 Metro. Observasi merupakan suatu teknik pengumpulan data yang dapat dikatakan merupakan teknik yang lebih signifikan dan berbeda dengan teknik lainnya. Islam dan bimbingan guru konseling dalam menangani kenakalan siswa yang terjadi di sekolah dan sasaran utama penelitiannya adalah kelas
Penjelasan lebih sederhananya dapat dipahami bahwa metode dokumentasi merupakan suatu bentuk penelitian data dengan cara mengumpulkan berbagai arsip dari pihak sekolah tentang kenakalan siswa itu sendiri, yang dapat berupa dokumen, catatan dan lain sebagainya. Metode ini digunakan untuk memperoleh data konkrit mengenai bentuk-bentuk kenakalan yang dilakukan siswa SMA Negeri 1 Metro, sejarah singkat awal berdirinya SMA Negeri 1 Metro, letak geografis, struktur sekolah dan keadaan lain SMA Negeri 1 Metro.
Teknik Penjamin Keabsahan Data
Analisis data dalam penelitian kualitatif bersifat induktif, artinya analisis yang didasarkan pada data yang telah diperoleh, yang kemudian dikembangkan menjadi suatu pola tertentu atau biasa disebut hipotesis awal. Dengan cara ini dapat dihasilkan data yang jelas dan juga berguna dalam memudahkan peneliti dalam mengumpulkan data yang diperlukan. Setelah reduksi data, langkah selanjutnya dalam analisis data adalah penyajian data yang diperoleh.
Pada bagian sebelumnya telah dibuat kesimpulan atau hipotesis awal yang masih bersifat sementara dan dapat berubah apabila diperoleh data yang kuat untuk mendukung suatu kebenaran yang menolak hipotesis awal. Namun jika hipotesis awal didukung oleh data yang kuat, maka kesimpulannya pada akhirnya merupakan kesimpulan yang kredibel.
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
- Sejarah Singkat Berdirinya SMA Negeri 1 Metro, Profil SMA Negeri 1 Metro Negeri 1 Metro
- Keadaan Guru dan pegawai SMA Negeri 1 Metro
- Keadaan Siswa SMA Negeri 1 Metro
- Struktur Organisasi SMA Negeri 1 Metro Gambar 1 Gambar 1
- Tata Letak Bangunan SMA Negeri 1 Metro Gambar 2 Gambar 2
SMA Negeri 1 Metro merupakan sekolah yang terakreditasi A dengan dua jurusan yaitu IPA dan IPS. Baru-baru ini SMA Negeri 1 Stasiun Metro ditetapkan sebagai Sekolah Adiwiyata dan Sekolah Ramah Anak. SMA Negeri 1 Metro memiliki sekitar 85 orang guru dan staf, termasuk TU, petugas keamanan dan kebersihan.
SMA Negeri 1 Metro mempunyai siswa aktif sebanyak 907 orang yang terbagi dalam 3 angkatan dan kelas (kelas X, XI dan XII) dengan 2 jurusan yaitu IPA dan IPS. SMA Negeri 1 Metro mempunyai beberapa bangunan utama seperti ruang guru, ruang kepala sekolah, ruang kelas, laboratorium, sarana sholat (masjid).
Deskripsi Hasil Penelitian
Namun hal ini pun tidak membuat siswa menjadi tertib secara umum, pasti ada saja siswa yang melakukan pelanggaran, baik disengaja maupun tidak. Pak Junjung Widagdo mengatakan, “Awalnya saya katakan bahwa poin siswa dikumpulkan secara manual. Bapak Ahmad Kurnia Yuda juga menambahkan beberapa hal mengenai implikasi dari pendekatan keagamaan ini: “Jika seorang siswa mencapai poin tertentu, misalnya 25 anak, maka akan dibawa ke ruang bimbingan dan konseling untuk mendapatkan konseling dan peringatan secara berkala.
Oleh karena itu pihak sekolah menerapkan program “Move On” dengan pendekatan keagamaan sebagai solusi dalam mengatasi kenakalan siswa di sekolah. Dengan harapan setelah siswa menyelesaikan program “Move On” tidak mengulangi kenakalan dan pelanggaran peraturan sekolah.
Faktor Pendukung dan Faktor Penghambat yang Dihadapi Guru Sebagai Konselor dalam Penyelesaian Masalah
Program ini mengajarkan siswa untuk memahami agama lebih dalam melalui bimbingan, dimulai dengan menghafal dan mengamalkan sunnah lainnya. Karena hal ini juga untuk kepentingan para pelajar, padahal bisa dibilang program pendekatan ini sudah lama tidak dilaksanakan dan juga sudah 2 tahun terganjal Corona, sehingga cukup sulit untuk memulihkannya jika keadaan berkembang. .hadiah. dimulai. Dari pernyataan wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa faktor pendukung penerapan pendekatan keagamaan ini berasal dari luar diri siswa itu sendiri, yang mendorong keberhasilan program ini dan mencapai tujuannya yaitu menjamin siswa mentaati peraturan dan ketentuan yang dianut. dalam pendidikan. sekolah.
Sedangkan faktor penghambatnya lebih banyak berasal dari siswa itu sendiri dan juga dari sistem sekolah yang menurut mereka masih manual. Hasil Penerapan Pendekatan Religius Sebagai Solusi Mengatasi Kenakalan Siswa Kelas XI SMA Negeri 1. Menangani Kenakalan Kelas
Hasil Implementasi Pendekatan Keagamaan Sebagai Solusi Penanganan Kenakalan Siswa/Siswi Kelas XI di SMA Negeri 1 Penanganan Kenakalan Siswa/Siswi Kelas XI di SMA Negeri 1
Siswa yang diwawancarai mengenai permasalahan ini pun mengutarakan pendapatnya seperti yang diungkapkan oleh siswa bernama Arya Saputra. Karena akan membuat siswa lebih mengetahui tentang agama yang secara langsung mengajarkan mana yang baik dan apa yang tidak sesuai ajaran agama dan norma yang berlaku di sekolah. Karena selain mengurangi kriminalitas atau pelanggaran tata tertib sekolah juga dapat meningkatkan rasa keagamaan siswa setelah menyelesaikan program wajib “maju”.
Selama ini penerapan pendekatan keagamaan dalam penanganan kenakalan siswa di sekolah merupakan inovasi terbaru yang telah dilaksanakan kurang dari 5 tahun. Untuk metode lainnya, tergantung kebijakan masing-masing guru. Biasanya kalau ada siswa yang sudah menyelesaikan program wajib geraknya, namun tidak berubah, wali kelas dan juga BK memanggil orang tua atau wali untuk membicarakan cara mencari solusi, itulah yang dilakukan Bu.
Pembahasan
Hal yang dilakukan pihak sekolah khususnya guru Pendidikan Agama Islam dan guru Bimbingan Konseling sebagai konselor sekolah dalam rangka penanggulangan kejahatan siswa di sekolah adalah penerapan pendekatan keagamaan. Sebagai langkah awal, perlu dilakukan pengumpulan poin sebagai tolak ukur dan batasan untuk menentukan apa yang perlu dilakukan oleh siswa yang telah mencapai poin tertentu. Berdasarkan kebijakan yang ada, dengan batasan 25 poin pelanggaran, siswa wajib menyelesaikan program perkembangan Level 1 dengan teguran dan teguran awal dari guru Bimbingan Konseling atau guru Pendidikan Agama Islam.
Hal ini bertujuan agar siswa dapat mempelajari lebih dalam tentang ajaran Islam sesuai dengan tuntunan hadis. Namun jika tidak, maka akan terus ada siswa yang sering datang ke ruang konseling untuk menjalani terapi gerak, untuk mendapat pengajaran yang lebih intensif.
Kesimpulan
Hal-hal yang dilakukan mahasiswa dalam program pindahan berbeda-beda tergantung peraturan yang berlaku. Siswa pada program pindahan wajib secara otomatis dilarang untuk belajar mengajar di kelas, kecuali pada saat ujian dan praktek wajib. Faktor pendorong penggunaan pendekatan keagamaan sebagai solusi menanggulangi kenakalan pada golongan/perempuan yang semula nakal menjadi lebih baik.
Selain itu, siswa menjadi lebih berpengetahuan dan memahami hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam hidup sesuai ajaran Islam. Dari beberapa kesimpulan yang dikemukakan di atas, peneliti menekankan bahwa konsekuensi dari pendekatan keagamaan sebagai solusi penanganan kenakalan siswa di sekolah yang menggunakan program atau perlakuan transisi bukanlah hukuman, namun mengarah pada pembelajaran yang lebih efektif, berhasil dan terkendali. , sehingga siswa dapat mengubah perilakunya atas kemauan dan dasar sendiri.
Saran
V/5.4 Setiap kali menerima tamu tanpa izin sekolah 10 V/5.5 Setiap kali keluar masuk kendaraan di depan pintu. VII/7.5 Setiap siswa memakai sepatu di kelas atau memakai sandal di lingkungan sekolah (kecuali untuk sholat. Siswa yang skorsing tidak menyerahkan tugas yang dikeluarkan sekolah lebih dari 7 hari.
Setiap siswa yang diskors tidak menyerahkan tugas yang diberikan sekolah hingga 7 hari. Setiap siswa yang mendapat skorsing tidak menyerahkan tugas yang diberikan sekolah sampai dengan 3 hari.