• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAMPIRAN-LAMPIRAN

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "LAMPIRAN-LAMPIRAN "

Copied!
106
0
0

Teks penuh

Reaksi Masyarakat Lingkungan Majeluk Terhadap Keberadaan Jamaah Ahmadiyah (Studi Transit Jemaat Ahmadiyah Lingkungan Majeluk Kecamatan Pejanggik Kota Mataram)” memenuhi persyaratan dan disetujui untuk diuji. Judul : “Reaksi Masyarakat Daerah Majeluk Terhadap Keberadaan Jamaah Ahmadiyah (Kajian Transito Jemaat Ahmadiyah Daerah Majeluk Kecamatan Pejanggik Kota Mataram). Jamaah Ahmadiyah (kajian di Jemaat Ahmadiyah daerah Transito Majeluk, Kecamatan Pejanggik, Kota Mataram)”, dipertahankan dihadapan dewan penguji program manajemen dakwah, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Mataram up to date.

13Erni Budiwati, "Komunitas Ahmadiyah dan Ketahanan Sosial di Lombok" (Jakarta: Jurnal Harmoni Multikultural dan Multireligius, 2007). Jamaah Transito di Lingkungan Majeluk, Kecamatan Pejanggik, Kota Mataram ) 30 Angket dalam penelitian ini ditujukan kepada masyarakat majemuk yang hidup berdampingan dengan Jemaat Ahmadiyah di shelter Transito.

Tabel 1.2 Struktur Kepengurusan Jemaat Ahmadiyah
Tabel 1.2 Struktur Kepengurusan Jemaat Ahmadiyah

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Tujuan Dan Manfaat Penelitian

Ruang Lingkup dan Setting Penelitian

Telaah Pustaka

Kerangka Teori

Metode penelitian

Sistematika Pembahasan

PAPARAN DATA DAN TEMUAN

Sejarah Ahmadiyah Transito

Jamaah Ahmadiyah di Lombok sudah sangat sering mendapat tindakan buruk dari masyarakat dimana tindakan dan penyerangan masyarakat yang menjadi sasaran mereka adalah mesjid tempat jemaah ibadah ahmadiyah berada di Selong, masyarakat berusaha untuk membakar mesjid tersebut setelah melakukan perusakan, namun polisi berhasil mencegahnya. Warga tidak senang dengan hal itu karena tidak berhasil membakar masjid dan mengalihkan sasarannya ke jamaah Ahmadiyah di Pancor. Seorang guru di sebuah Masjid di Ketapang tempat pengajian Tuan Guru menimbulkan reaksi dari masyarakat untuk menyerang Jemaat Ahmadiyah, namun karena kejadian tersebut Jemaat Ahmadiyah tidak kunjung keluar dari tempat tinggalnya.

Penyerangan yang terjadi di Ketapang ini merupakan kali pertama Jemaat Ahmadiyah tiba di shelter Transito yang dimulai pada tanggal 4 Februari 2006 ketika terjadi kerusuhan di kediaman Jemaat di Ketapang dimana pada saat itu terjadi penyerangan yang mengakibatkan mereka kehilangan tempat mereka. tinggal Sebelum pemerintah membawa Jemaat Ahmadiyah ke penampungan Transito, mereka dibawa ke dinas sosial provinsi dan disekap di sana beberapa saat sebelum dikirim ke Transito. Pada malam hari, Jemaat Ahmadiyah diberangkatkan dengan kendaraan pemerintah ke tempat tersebut dan sesampainya di sana banyak warga yang memprotes kedatangannya, banyak juga warga yang tidak senang dan tidak menerima Jemaat Ahmadiyah di lingkungannya.

Kebanyakan orang tidak bertanya langsung dari sumbernya dan hanya mendapatkan informasi yang salah. Ujung-ujungnya kita sebagai Jemaat Ahmadiyah harus siap kehilangan apa yang menjadi hak kita,” kata Pak Sahidin yang merupakan Ketua Koordinator Jemaat Ahmadiyah Transito. Yang membedakannya dari yang lain hanyalah keyakinan tentang Imam Mahdi dimana Transito Ahmadiyah Jemaat percaya bahwa Imam Mahdi telah datang. Dalam struktur organisasinya, Jemaat Transito Ahmadiyah tidak memiliki pengurus, hanya memiliki satu ketua yang diketuai oleh Bapak Sahidin, yang merupakan koordinator di Transito.

Oleh karena itu, dalam hal ini struktur kepengurusan Jemaat Ahmadiyah disahkan pada tanggal 4 Juni 2022 Kota Mataram. Siapapun bisa mengikuti kegiatan ini, tidak hanya dari Jemaat Ahmadiyah. Kegiatan ini rutin dilakukan setiap 3 bulan sekali, yang bertempat di Transito, rumah singgah jamaah Ahmadiyah.

Eksistensi Jemaat Ahmadiyah di Lingkungan Majeluk Kota

Pada tahun 2006, bangunan seluas setengah hektar ini difungsikan sebagai tempat penampungan sementara bagi sekitar 600 jemaah Ahmadiyah yang terdiri dari 57 KK. Jamaah Ahmadiyah di kawasan Transito umumnya adalah kelompok JAI yang berpusat di Bogor, Jawa Barat. Selain sebagai tempat singgah Jemaat Ahmadiyah di Lombok, Transito juga menjadi pusat berbagai kegiatan Jemaat Ahmadiyah dimana setiap kegiatan keagamaan dan kegiatan sosial yang merupakan bagian dari program Jemaat Ahmadiyah dipusatkan di kawasan Transito.

Perjuangan Jemaat Ahmadiyah untuk mengatasi diskriminasi yang mereka hadapi selama ini agar tetap bertahan dan eksis tidak terlepas dari motto yang mereka miliki, dimana motto hidup Jemaat Ahmadiyah adalah 'Love for All Hate for Nobody', dimana motto ini adalah prinsip atau makna yang berarti love for all, hate none. Inilah prinsip dasar dalam pengurusan Jemaat Ahmadiyah yang menganut nilai-nilai kemanusiaan, meskipun di sisi lain mereka tidak menerimanya dari orang-orang yang menentang keyakinannya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Ahmadiyah terutama berkaitan dengan bidang sosial-keagamaan yang terkait dengan moto organisasi, Jamaah Ahmadiyah adalah organisasi masyarakat yang kelompoknya adalah donor mata di Indonesia.

Sehingga peneliti dapat menyimpulkan beberapa hal yang membuat Jemaat Ahmadiyah tetap eksis dan mempertahankan eksistensinya di tengah banyaknya masyarakat yang tidak setuju bahkan mengucilkannya, karena hal tersebut. Seperti yang telah dijelaskan di atas, Jemaat Ahmadiyah memiliki berbagai program kemanusiaan dimana mereka merasa telah berkontribusi terhadap Islam sehingga mereka merasa dapat memberikan manfaat bagi mereka. Pada pembahasan sebelumnya, peneliti menjelaskan kegiatan Jemaat Ahmadiyah di kawasan Transit, salah satunya adalah kegiatan Pra Madrasah dimana anak-anak Jemaat Ahmadiyah diajarkan tata cara sholat, membaca Al Quran, fikih, akhlak, dan hadits. .

Ada beberapa hal yang menjadi perhatian khusus peneliti dalam mengamati keberadaan Jamaah Ahmadiyah di Transito, antara lain: Selain itu, peneliti juga menemukan hal-hal yang membedakan antara Jamaah Ahmadiyah dengan Jamaah non-Ahmadiyah.

Respon Masyarakat terhadap gerakan Jemaat Ahamdiyah

Selanjutnya informasi yang diterima dari Sdri. Buyung selaku Ketua Rt.01 wilayah Majeluk mengatakan, tanggapannya terkait dengan jamaah Ahmadiyah di shelter Transito. Keberadaan jemaah Ahmadiyah di kawasan Transito adalah tanggapan saya karena itu adalah urusan kenegaraan yang diberikan oleh pemerintah di Transito sebuah tempat yang kebetulan berada di Majeluk, jadi mau tidak mau, terutama warga yang berkumpul harus memberikan izin. kepada para pejabat lingkungan kami untuk keberadaan Jemaat Ahmadiyah dipersilakan karena negara mengatur, dan sampai saat ini Jemaat Ahmadiyah khususnya untuk kegiatan yang berkaitan dengan keimanan tidak pernah melibatkan kami, tetapi kami tetap mengikutsertakan mereka dalam kegiatan atau program gabungan lingkungan untuk mengikuti kegiatan tersebut untuk kegiatan umum yang bersifat nasional. Jadi untuk keberadaan Jemaat Ahmadiyah sampai saat ini aman, namun selama berada di lingkungan komplek tetap harus mengikuti apa saja aturan yang ada di komplek tersebut, misalnya ada anggota Jemaat Ahmadiyah yang meninggal dunia atau menikah mereka harus terlebih dahulu kepada ketua lingkungan kemudian menginformasikan kepada ketua RT agar informasi tentang masyarakat tetap diketahui.

Saya kira keberadaan Jemaat Ahmadiyah di Transito, selama tidak mengganggu keyakinan kita, tidak masalah bagi Jemaat Ahmadiyah di sini.”52. Adapun keterangan yang diberikan Mamiq Agus selaku petugas keamanan Lingkungan Majeluk, jawabannya terkait keberadaan Jemaat Ahmadiyah hampir sama dengan jawaban informan. Dari beberapa pernyataan yang diperoleh peneliti di atas, dapat dipahami bahwa para pengurus atau pejabat lingkungan di Majeluk selama ini menerima keberadaan Jemaat Ahmadiyah di shelter Transito karena rasa kemanusiaan mereka melampaui apa yang menjadi aliran atau makna. mereka miliki selama tidak mencampuri atau mencoba mempengaruhi masyarakat Majeluk dengan keyakinan dan keyakinan mereka.

Padahal sampai saat ini masih banyak yang beranggapan dan beranggapan bahwa masyarakat majemuk memberikan naungan dan akses kepada Jemaat Ahmadiyah sehingga citra lingkungan Majeluk di kalangan masyarakat yang tidak tahu apa-apa tetap buruk. Selain melakukan wawancara dengan pengurus wilayah Majeluk, peneliti juga melakukan wawancara dengan para remaja di Majeluk tentang reaksi dan pandangan mereka terhadap jamaah Ahmadiyah di shelter Transito. Adapun pernyataan Gani selaku Sekretaris Muda Masjid Lingkungan Majeluk yang mengatakan, “Terkait keberadaan Jemaat Ahmadiyah di lingkungan komplek saya sendiri.

Jamaah Ahmadiyah juga tidak diakui oleh negara, ini juga yang membuat saya tidak setuju dengan keberadaannya, tapi mau bagaimana lagi mereka tinggal di Transito yang diberikan pemerintah? Mengenai jumlah masyarakat yang tidak setuju dengan keberadaan Jemaat Ahmadiyah di lingkungannya, sebanyak 7 dari 10 orang yang tidak setuju dan tidak menginginkan Ahmadiyah secara Transitoly.

PEMBAHASN

Respon Masyarakat terhadap gerakan Jemaat Ahmadiyah di

PENUTUP

Saran

Rekomendasi

Ketika jemaah Ahmadiyah tiba di Transito, semua kebutuhan mereka, mulai dari kebutuhan pokok seperti sembako, air, hingga listrik, sudah mereka penuhi. Kasus tersebut membuat Jemaat Ahmadiyah banyak melakukan kegiatan pembelajaran di luar sekolah bagi anak-anak Ahmadiyah, yang mana. Kemudian peneliti menemukan beberapa hal yang membedakan Jemaat Ahmadiyah dengan Jemaat non Ahmadiyah yaitu.

Respon masyarakat terhadap gerakan Jemaat Ahmadiyah di masyarakat Majeluk kota Mataram.. Masyarakat Majeluk kota Mataram. Masyarakat majemuk yang setuju dengan keberadaan Jemaat Ahmadiyah di lingkungannya tidak setuju dengan paham yang mereka miliki, tetapi mereka yang menerima dan tidak mau mengganggu keimanan Jemaat Ahmadiyah karena rasa kemanusiaan mereka memposisikan diri. sama halnya dengan Jemaat Ahmadiyah yang menerima diskriminasi dan tidak mendapatkan hak asasi manusia, maka orang-orang yang kontradiktif dan tidak memiliki rasa empati terhadap Jemaat Ahmadiyah melakukan apa yang diinginkannya dan merebut apa yang menjadi miliknya dan menjadi haknya. Masyarakat majemuk yang tidak setuju dan juga menolak keberadaan komunitas Ahmadiyah di lingkungan yang majemuk karena meyakini bahwa komunitas Ahmadiyah bukan dari agama Islam, mereka telah jauh melampaui keyakinan Islam yang sebenarnya, dimana komunitas Ahmadiyah adalah agama baru. atau iman yang memiliki nabi dan cara ibadah tersendiri yang berbeda dengan masyarakat muslim pada umumnya.

Yang membuat eksistensi Ahmadiyah tetap eksis dan bisa berkembang adalah karena kuatnya keimanan yang dimiliki Jemaat dan prinsip menjalankan apa yang diyakininya, sehingga inilah yang membuat Jemaat Ahmadiyah tetap eksis di tengah banyaknya penolakan terhadap mereka. . Selain itu, keberadaan Jemaat Ahmadiyah di shelter Transito membawa serta hal-hal yang tidak baik bagi pandangan masyarakat luar terhadap masyarakat majemuk dimana masyarakat luar menduga bahwa masyarakat majemuk memberikan kemudahan dan perlindungan kepada Jemaat Ahmadiyah, namun masyarakat majemuk tidak bisa berbuat apa-apa untuk melindungi Jemaat Ahmadiyah karena Jemaat Ahmadiyah berada di bawah perlindungan pemerintah. Erni Budiwati, “Jemaat Ahmadiyah dan Ketahanan Sosial di Lombok”, Jakarta: Majalah Harmoni Multikultural dan Multiagama, 2007.

Gambar

Tabel 1.2 Struktur Kepengurusan Jemaat Ahmadiyah

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini disebabkan karena viskositas dari suatu fluida newtonian tidak berubah ketika terdapat gaya yang bekerja pada fluida.. Viskositas dari suatu fluida newtonian hanya