BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN
1. Sejarah Ahmadiyah Transito
Jemaat Ahmadiyah masuk ke wilayah Indonesia sebelum terjadinya kemerdekaan, yang dimana Ahmadiyah masuk pertama kali melalui mubaligh yang bernama Maulana Rahmat Ali yang pada sat itu secara khusus telah diutus oleh pimpinan Ahmadiyah Internasional untuk ke wilayah Indonesia. Mubaligh Maulana Rahmat Ali HAOT membawa Ahmadiyah masuk kewilayah Indonesia melalui kota Tapaktuan,Aceh pada tanggal 2 Oktober tahun 1925 dan dari sana dimulai Jemaat Ahmadiyah berkembang ke wilayah Sumatera Barat dan masuk juga ke wilayah Jakarta dan terus berkembang di wilayah Bogor34, dengan semakin banyak dan luasnya perkembangan Ahmadiyah di Indonesia sampailah organisasi Ahmadiyah tersebut di wilayah NTB khususnya di Lombok.
Masuknya dakwah Islam Ahmadiyah di Lombok dimulai pada tahun 1957 yang dimana pada tahun itu dimulai di kota Mataram, ajaran ini dibawa oleh Jafar Ahmad seorang tokoh yang merupakan asli suku Sasak yang dimana beliau memperoleh pengetahuan tentang Ahmadiyah dari Surabaya, pada saat itu Ahmadiyah sudah memiliki pengikut yang dimana mereka merupakan Jemaat Ahmadiyah yang datang dari luar pulau Lombok, dan pada saat itulah Jemaat Ahmadiyah di kota Mataram semakin berkembang sehingga membuat bebrapa dari Jemaat meminta kepada Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesi (PBJAI) agar di kota Mataram ditempatkan seorang utusan atau mubaligh agar dapat memperkuat dakwah Ahmadiyah. Pada tahun 1970 dikirimlah di kota Mataram seorang mubaligh asal Sumatera Barat dan dengan adanya mubaligh membuat Ahmadiyah semakin berkembang dan banyak yang di baiat sebagai Jemaat Ahmadiyah, dengan perkembangan tersebut riak-riak kecil mulai dirasakan oleh Jemaat mulai dari adanya intimidasi, gangguan
34Munasir Sidik, “Dasar-Dasar Hukum & Legalitas Jemaat Ahmadiyah Indonesia”, Neratja Press , Hlm.20.
34
dari keluarga sendiri bahkan hingga masyarakat, dan bahkan juga ada yang melarang pemakaman jenazah seorang Jemaat Ahmadiyah. Jemaat Ahmadiyah yang ada di Lombok sudah sangat sering mendapatkan tindakan yang tidak baik dari masyarakat, dimana tindakan dan serangan dari masyarakat tersebut yang menjadi sasaran mereka adalah masjid tempat ibadah Jemaat Ahmadiyah yang berada di Selong, masyarakat berusaha membakar masjid setelah melakukan kerusakan, akan tetapi pihak kepolisian berhasil mencegah hal tersebut. Masyarakat merasa tidak puas dengan itu karena gagal membakar masjid mengaliohkan target mereka ke Jemaat Ahmadiyah yang ada di Pancor, Perusakan maupun pembakarang masjid, sekolah, bahkan rumah warga Ahmadiyah dilakukan masyarakat secara bertahap. Karena hal tersebut untuk mecegah resiko yang lebih parah karena kerusakan yang terjadi selama 4 hari masyarakat merusak sebanyak 81 rumah, 8 toko, 1 masjid dan musholla, Sehingga pihak kepolisian mengevakuasi 383 Jemaat Ahmadiyah ke kantor kepolisian. Situasi yang tidak kunjung membaik dan tidak memungkinkan untuk Jemaat kembali kerumah mereka, Pemerintah daerah mengungsikan Jemaat Ahmadiyah ke asrama Transito yang ada di Mataram dan sebagian diantara mereka ada yang mencoba membeli rumah di Ketapang Narmada tetapi Jemaat Ahmadiyah lagi-lagi mengalami penolakan dan di serang kembali pada tahun 2005-2006.35
Kasus paling besar dan beruntun yang dialami oleh Jemaat Ahmadiyah terjadi sejak Jemaat Ahmadiyah memutuskan untuk menetap tinggal di perumahan Bank Tabungan Negara (BTN) yang ada di Dusun Ketapang, Desa Gegerung, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat, dimana Jemaat yang tinggal disana merupakan Jemaat Ahmadiyah dari Lombok Timur yang pada saat itu mengalami kerusakan oleh masyarakat dan harus meninggalkan kampung halamannya saat kejadian Pancor berlangsung.
Dimana Jemaat kemudian memiliki inisiatif bersama-sama untuk mengumpulkan uang untuk membeli sebuah komplek perumahan BTN tersebut yang dijual dengan harga murah. Penyerangan terjadi pada 19 Oktober 2005 dimana pada saat itu bertepatan dengan bulan suci Ramadhan peristiwa ini berawal dari pengajian yang digelar oleh Tuan
35Muhamad Irsyadul ‘Ibad, “Konflik Ahmadiyah Dengan Masyarakat Di Lombok Tahun 1957-2008”, (Skripsi, Ushuluddin Adab dan Humaniora IAIN Salatiga, 2019), Hal.26-28.
35
Guru di Masjid yang ada di Ketapang, dimana ceramah dari Tuan Guru tersebut telah menimbulkan reaksi dari masyarakat untuk melakukan penyerangan terhadap Jemaat Ahmadiyah, namun kejadian tersebut tidak membuat Jemaat Ahmadiyah meninggalkan tempat tinggalnya.
Masyarakat marah dengan Jemaat karena tidak mau meninggalkan wilayah mereka sehingga masyarakat kembali melakukan penyerangan pada 4 Februari 2006, kejadian yang cukup parah ini mengulang pengalaman pahit yang dialami oleh warga Ahmadiyah setelah terusir dari Lombok Timur, secara psikologis dari kejadian yang dialami Jemaat di Ketapang ini membuat mereka shock, stress, ketakutan karena mendapat ancaman secara terus-menerus. Jemaat yang mengalami kekerasan di Ketapang ini merupakan Jemaat dari Lombok Timur, mereka tidak dapat kembali ke Lombok Timur lagi, selain karena menghindari penyerangan kembali Jemaat juga sudah tidak memiliki harta benda lagi di Lombok Timur karena mereka sudah menjual semua asset untuk menetap di Ketapang, sejak kejadian pada tahun 2006 hak Jemaat untuk tinggal di Ketapang pun hilang.36
Penyerangan yang terjadi di Ketapang tersebut menjadi awal mula Jemaat Ahmadiyah sampai di penampungan yang ada di Transito yaitu dimulai pada tanggal 4 Februari 2006 dimana pada saat itu terjadi kericuhan di tempat tinggal Jemaat yang berada di Ketapang dimana saat itu mereka mengalami penyerangan yang menyebabkan mereka kehilangan tempat tinggal. Sebelum pemerintah membawa Jemaat Ahmadiyah di penampungan Transito ini, mereka dibawa ke kantor sosial provinsi dan didiamkan disana beberapa saat sebelum dibawa ke Transito.
Waktu Maghrib Jemaat Ahmadiyah dibawa menggunakan mobil pemerintah ke lokasi dan sesampainya disana banyak warga yang protes akan kedatangan mereka, banyak juga warga yang tidak senang dan tidak menerima Jemaat Ahamdiyah ada dilingkungan mereka. Pada hari itu juga banyak tokoh masyarakat majeluk datang ke Transito dan melakukan diskusi terbuka terkait kedatangan Jemaat Ahamdiyah disana, pada saat itu Pak Nuriman selaku RT 03 bersama Pak Lerik melerai keributan yang ada di Transito dan menjadi penengah atas tidak terimanya masyarakat dengan kehadiran mereka, beliau berdua mengatakan “Jemaat Ahamdiyah ini
36Nurhikmah, Satu Dekade…, Hlm.60-62.
36
tanggung jawab dari pemerintah daerah dan gubernur, jika kalian semua yang berada di posisi mereka bagaimana ?” Ujar Pak Sahidin yang masih mengingat betul kejadian malam itu seperti apa. Lantas setelah diskusi panjang masyarakat majeluk menerima Jemaat Ahamdiyah untuk ditampung di Transito dan hidup berdampingan dengan mereka. Pada saat tragedi ini terjadi banyak KK yang dibawa mengungsi di Transito sebanyak 57 KK, akan tetapi semakin lama banyak nya Jemaat Ahamdiyah yang berada di Transito berkurang dan memilih untuk pindah kewilayah yang lain yang dirasa lebih nyaman jika dibandingkan dengan tempat pengungsian ini. Kebanyakan dari mereka memilih untuk pindah dari Transito karena tidak tahan dengan kondisi pengungsian yang dimana mereka hanya diberikan tempat tinggal seluas 3 meter persegi yang bangunannya hanya diskat dengan triplek yang menjadi pembatas. Jemaat Ahamdiyah di Transito pada saat awal kedatangan mereka di tempat pengungsian ini belum memiliki apa apa, mereka datang hanya dengan membawa pakaian yang ada dibadan mereka saja karena semua yang mereka miliki telah dibakar oleh masyarakat, sehingga pada saat kedatangannya pemerintah dinas sosial yang memberikan mereka makan selama 1 tahun dan selama itu juga belum ada kebijakan dari pemerintah yang meminta untuk mereka keluar atau berpindah tempat dari kawasan Transito.37
Jemaat Ahmadiyah memulai semuanya dari 0 dan bersama-sama saling menguatkan dalam segala hal, mereka awal mula datang ke Transito tidak memiliki pekerjaan sehingga mereka memulai dan mencari pekerjaan, dalam hal ini mereka juga dipersulit sehingga kesusahan untuk mencari rezeki akan tetapi tetap mencoba sampai pada waktu itu kebanyakan mata pencaharian dari Jemaat Ahamdiyah menjadi tukang ojek, buruh pasar, sampai dengan menjadi pemulung untuk memenuhi kebutuhan mereka. Terkait dengan isu yang mengatakan bahwa mereka mendaptkan gaji setiap bulan karena mereka menjadi Jemaat Ahmadiyah itu adalah hoax atau sekedar kebohongan jika di pikir lagi dengan akal seandainya Jemaat Ahamdiyah ini digaji tidak akan ada yang menjadi pemulung.38
37Sahidin, Wawancara, Mataram, 5 Oktober 2022.
38Jauzi, Wawancara, Mataram, 5 Oktober 2022.
37
Jemaat Ahmadiyah merasa jika mereka mendapatkan perlakuan seperti itu dari masyarakat karena cerita yang tidak sesuai yang didengarkan sehingga banyak yang terprovokasi dan menimbulkan terjadinya penjarahan akibat isu yang disebarkan. “Kebanyakan Masyrakat tidak menanyakan langsung dari sumber dan hanya mendapatkan informasi yang salah akhirnya kita sebagai Jemaat Ahamdiyah harus ikhlas kehilangan apa yang menjadi hak kita” ujar pak Sahidin yang merupakan ketua koordinator Jemaat Ahmadiyah Transito. Yang menjadi pembeda diantara yang lainnya hanya keyakinan mengenai Imam Mahdi yang dimana Jemaat Ahmadiyah Transito meyakini bahwa Imam Mahdi sudah datang. Pada saat awal mula kedatangan mereka banyak wartawan yang datang akan tetapi tidak berani untuk memasuki wilayah Transito yang menjadi tempat pengungsian mereka sehingga mereka mengendap- ngendap dan membuat informasi sendiri terhadap Jemaat Ahmadiyah, pada waktu itu juga Jemaat Ahamdiyah tidak mendapatkan pelayanan yang baik dari Pemerintah mereka saling menyalahkan antara Pemerintah Lobar dan Mataram terkait penerbitan KTP mereka, yang dimana sebelumnya kebanyakan Jemaat Ahamdiyah yang dikawasan Transito ini merupakan masyarakat di daerah Ketapang Lombok Barat. Dan sampai sekarang semuanya telah terkoordinasi dengan baik Jemaat Ahamdiyah mulai diterima dengan baik dan memiliki akses yang sama seperti masyarakat pada umumnya, bagi Jemaat Ahamdiyah yang tetap memilih untuk tinggal di pengungsian Transito ini karena menurut mereka ini adalah tempat yang nyaman selagi mereka tidak mendaptkan perlakuan yang diskirminatif dari masyarakat dan juga sebelum adanya perintah dari pemerintah untuk mengeluarkan mereka dan memberikan mereka tempat yang lebih baik daripada Transito ini.39
2.Letak Geografis
Adapun letak geografis dari pengungsian Transito ini yaitu sebagai berikut :
a. Jalan : Jalan Transimigrasi b. Kelurahan : Pejanggik
c. Sebelah Utara : Lingkungan Monjok
39Sahidin, Wawancara, Mataram, 5 Oktober 2022.
38
d. Sebelah Selatan : Lingkungan Kr.Kemong e. Sebelah Timur : Lingkungkan Karang Bagu f. Sebelah Barat : Jalan Pariwisata
3.Struktur Organisasi Jemaat Ahmadiyah Transito
Dalam struktur organisasi nya jemaat Ahmadiyah Transito tidak memiliki kepengurusan tetap hanya ada Ketua saja yang mana di ketuai oleh bapak sahidin yang menjadi koordinator di Transito. Oleh sebab itu dalam hal ini struktur kepengurusan Jemaat Ahmadiyah yang di sahkan pada tanggal 04 Juni 2022 Kota Mataram :
TABEL 1.2
Ketua : Udin Sekertaris Wasiyyat : Abdullah
Ziadah
Wakil Ketua : Taufik Hidayat Sekertaris Ta’limul Qur’an Waqf Ardi : Darwis Efendi
Sekertaris Ketua : Udin, Wais Qorni Mubarak
Sekertaris Tahrik Jadid : Mohamad Zuhri
Sekertaris Tabligh : Muhammad Sabri
Sekertaris Waqfi Jadid : Sarim Ahmadi
Sekertaris Tarbiyat : Dikdik Ahmad Sodik
Sekertaris Ja’idad : Khairuddin
Sekertaris Ta’lim : Udin, Mia awasin Ahmad
Sekertaris Waqf Nau : Rukhyat Hilal
Sekertaris Isha’at : Syaiful Anwar Sekertaris Zira’at : Syahidin Sekertaris Audio Video : Sahrudin Sekertaris Sanat Tijarat :
Jumantono Abdulhadiy Sekertaris Rishta Naata : Firman
Sandonis Ahmad
Muhasib : Adoel Ahmad Husein Sekertaris Umur Kharijiya :
Syahidin
Amin : Syamsul Hadi Sekertaris Umur Ammah :
Parmono
Sekertaris Mal Tambahan : Soelaiman Ahmady Damanik
Sekertaris Maal : Zulkarnaen,Drs. Auditor Lokal : Agus Zamroni Sekertaris Diyafat : Pahrudin Additional Waqfi Jadid/PMB :
Abdulloh
39 4.Visi Misi Jemaat Ahmadiyah Transito
Jemaat Ahamdiyah Trandito tidak memiliki Visi Misi yang spesifik, akan tetapi Jemaat Ahamdiyah Sendiri memiliki prinsip dimana prinsip mereka Love for All,hatred for none. Yang memiliki makna mencintai semua orang tanpa membenci siapapun, kalimat tersebut menggambarkan sebagaimana banyak nya hinaan, cacian, perlakuan yang tidak pantas, kerusakan, dikucilkan, dan hal-hal buruk lain nya yang di dapatkan oleh Jemaat Ahmadiyah selama memiliki paham ini, mereka menerima nya dengan ikhlas dan tetap mencintai setiap mereka tanpa ada rasa kebencian di dalam diri mereka sedikit pun. Rasa cinta tersebut dibuktikan dengan tindakan yang dilakukan oleh Jemaat Ahamdiyah dengan melaksanakan kegiatan kemanusiaan.
5.Kegiatan Kegiatan Jemaat Ahmadiyah Transito a. Jalsah Salanah
Jalsah salanah merupakan kegiatan pertemuan kerohanian tahunan Jemaat seluruh Indonesia yang dilaksanakan di daerah masing-masing dimana kegiatan ini dilaksanakan satu tahun sekali dan pada tahun ini ada 32 titik Jalsah Salanah di Indonesia. Kegiatan ini untuk daerah Bali-Nusra yang menjadi tempat pelaksanaan nya yaitu di penampungan Transito, semenjak tahun 2012 Transito menjadi tempat pusat pelaksanaan Jalsah Salanah bagi Bali-Nusra karena pada tahun sebelumnya Bali sampai saat ini masih mengalami penyerangan sehingga kondisi Jemaat belum kondusif dan kegiatan ini dialihkan ke Transito, kegiatan ini berlangsung selama 3 hari dan dihadiri oleh Jemaat yang ada di Bali,Sumbawa,Bima, dan Lombok.
b. KPA (Kursus Pendidikan Agama)
Kursus Pendidikan Agama ini sama halnya dengan pesantren kilat, dimana dilaksankan satu tahun sekali dan dilakukan kepada warga Jemaat dari SD hingga SMA atau usia 6-17 tahun, kegiatan ini dilakukan pada saat libur semester untuk mengisi kekosongan waktu para Jemaat Ahmadiyah.
40 c. Muawannah
Kegiatan ini merupakan pengajian bagi ibu-ibu dan anak-anak perempuan Jemaat Ahmadiyah.
d. Pra Madrasah
Pra Madrasah ini merupakan kegiatan rutin dari Jemaat Ahamdiyah yang ada di Transito, dimana target mereka adalah anak- anak yang belum masuk sekolah sampai dengan yang sudah duduk dibangku SMP. Pra Madrasah ini diisi oleh anggota Jemaat Ahmadiyah yang telah lulus sekolah antara S1 dan S2, banyak materi yang di bawakan pada pra madrasah ini seperti hadist, tafsiran al- qur’an, mengaji, dan lain lain. Kegiatan ini dilakukan sebanyak 3 kali dalam satu minggu.
e. Donor Darah
Kegiatan ini boleh di ikuti oleh siapa saja bukan hanya dari kalangan Jemaat Ahmadiyah, kegiatan ini dilakukan rutin selama 3 bulan sekali yang dimana lokasi nya ada di Transito tempat penampungan Jemaat Ahmadiyah.
f. Aksi Kebersihan
Jemaat Ahmadiyah setiap ada acara atau kegiatan yang melibatkan orang banyak di kota Mataram sudah pasti mereka turun kelapangan untuk melakukan bersih-bersih kota setelah acara tersebut. Hal ini biasa dilakukan setelah masyarakat kota Mataram melaksanakan kegiatan tahun baru yang dimana dapat menyebabkan banyak nya sampah berserakan.
g. Kelas Tatar (Ta’lim Tarbiyat)
Merupakan kegiatan bagi anak-anak Ahmadiyah dari SMP ke atas yang dilaksanakan satu kali dalam seminggu dan dilakukan pada hari sabtu malam.
h. Pengajian Al Wasiyat
Pengajian al-wasiyat merupakan pengajian gabungan yang dilaksanakan satu bulan sekali.
41 i. Kegiatan Hari Besar Nasional
Jemaat Ahmadiyah selalu terlibat dan tetap memeriahkan kegiatan hari besar Nasional dan dalam kegiatan ini mereka tetap mengundang atau mengajak masyarakat majeluk untuk tetap berpatisipasi dalam hal ini, seperti halnya mereka memberi undangan yang ditunjukkan kepada kepala lingkungan Majeluk dan ketua RT setempat.
j. Ijtima’
Ijtima’ merupakan kegiatan ajang silahturahim atau interaksi antara Jemaat Ahmadiyah dengan masyarakat sekitar Majeluk, disini biasanya Jemaat Ahamdiyah mengajak Kepala Lingkungan dan Ketua RT setempat untuk berdiskusi sembari mengobrol dan bertukar pikiran bukan mengenai keyakinan akan tetapi ada hal yang dibahas agar hubungan tetap terjalin dan silahturahim tetap berjalan dengan baik.
Kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan yang dilakukan oleh setiap badan yang ada di Ahmadiyah, LI merupakan sebtan badan bagi ibu- ibu, Khuddam untuk sebutan badan laki-laki yang berusia masih muda, dan juga Anshor untuk sebutan badan bagi bapak-bapak.40
B. Eksistensi Jemaat Ahmadiyah di Lingkungan Majeluk Kota