BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN
C. Respon Masyarakat terhadap gerakan Jemaat Ahamdiyah
48
trauma bagi Jemaat masih ada hingga saat ini terutama bagi anak-anak Ahamdiyah yang pada saat itu melihat, menyaksikan, dan merasakan secara langsung bagaimana masyarakat merebut dan melakukan kekersan terhadap mereka dan keluarga mereka sehingga hak-hak mereka hilang, dan anak-anak Ahmadiyah juga selalu merasa takut di setiap harinya karena penyerangan yang terajdi tanpa melihat waktu.
Ada beberapa hal yang menjadi perhatian khusus bagi peneliti dalam melihat eksistensi Jemaat Ahmadiyah di Transito diantaranya :
a. Kondisi Penampungan Transito b. Kondisi Anak-Anak Ahmadiyah
c. Keadaan Jemaat Ahmadiyah Setelah Menikah
Selain itu juga peneliti menemukan hal yang menajdi pembeda antara Jemaat Ahmadiyah dan non Ahmadiyah yaitu :
1) Sudut Pandang Mengenai Imam Mahdi 2) Tata Cara dalam Beribadah
C. Respon Masyarakat terhadap gerakan Jemaat Ahamdiyah
49
pemerintah untuk Jemaat Ahmadiyah jadi kita sebagai masyarakat tidak bisa menolak karena memang ini dibawah pemerintah langusng, saya berharap masyarakat dapat menerima dengan baik Jemaat Ahamdiyah ini tanpa harus mendeskriminasi mereka dengan cara berlebihan dan semoga juga Jemaat Ahamdiyah memliki tempat pengungsian atau penampungan yang lebih layak lagi dari pada Transito ini karena kita bisa lihat sendiri kondisi dari Transito ini seperti apa ditambah lagi dengan Jemaat Ahmadiyah yang jumlah anggota keluarganya nya banyak dan tempat yang diberikan tidak begitu luas”.51
Lebih lanjut lagi keterangan yang diterima dari pak Buyung selaku Ketua Rt.01 Lingkungan Majeluk yang menyatakan respon nya terkait dengan Jemaat Ahmadiyah yang ada di penampungan Transito
“Keberadaan Jemaat Ahmadiyah dikawasan Transito ini tanggapan saya karena ini merupakan urusan negara yang diberikan tempat oleh pemerintah di Transito yang kebetulan lokasinya ada di Majeluk sehingga mau tidak mau terutama warga majeluk harus memberi izin kepada apparat lingkungan kita ini untuk keberdaan Jemaat Ahamdiyah dipersilahkan karena Negara yang mengatur, dan sampai saat ini Jemaat Ahmadiyah khususnya untuk kegiatan yang menyangkut keyakinan belum pernah melibatkan kita, namun kegiatan atau program lingkungan majeluk kita tetap libatkan mereka untuk mengikuti kegiatan tersebut untuk kegiatan umum yang bersifat Nasional. Jadi untuk keberadaan Jemat Ahmadiyah sampai saat ini aman-aman saja, akan tetapi selama mereka tinggal dikawasan majeluk mereka tetap harus mengikuti apa yang menjadi aturan yang ada di majeluk seperti misalnya jika ada dari Jemaat Ahmadiyah yang meninggal ataupun menikah mereka harus memberitahu kepala lingkungan terlebih dahulu kemudian ketua RT sehingga informasi mengenai masyarakat tetap diketahui. Keberadaan Jemaat Ahmadiyah di Transito ini saya rasa selama mereka tidak mengganggu keyakinan kita tidak masalah dengan keberadaan Jemaat Ahmadiyah itu disini”.52
Adapun keterangan yang disampaikan oleh Mamiq Agus sebagai keamanan Lingkungkan Majeluk yang dimana respon nya terkait keberadaan Jemaat Ahmadiyah hampir sama dengan informan
51Lalu Ari Badriansyah, Wawancara, Mataram, 25 September 2022.
52Buyung, Wawancara, Mataram, 25 September 2022.
50
sebelumnya, dimana Mamiq Agus berpendapat bahwa : “Dari keberadaan Jemaat Ahmadiyah itu sendiri saya pribadi menentang akan tetapi karena Negara yang melindungi mereka jadi kitab isa berbuat apa, dalam hati kecil saya jika ditanya saya tidak pernah mau menerima Jemaat Ahmadiyah di lingkungan ini karena pada saat awal kedatangan mereka kita masyrakat majeluk juga mendaptkan Tindakan yang kurang baik dari masyarakat yang diluar sana, karena mereka beranggapan bahwa masyarakat majeluklah yang menampung dan memberikan tempat kepada Jemaat Ahmadiyah tersebut, padahal jika dilihat dari sebenarnya pemerintah yang memberikan tempat kepada mereka bahkan sampai sekarang persepsi msyarakat luar terhadap keberadaan Jemaat di majeluk masih sama yang mengira bahwa masyarakat majeluk itu sendiri yang memberikan akses kepada mereka. Hal seperti ini yang membuat kita resah akan tetapi karena kemanusiaan kita menerima mereka, banyak anak kecil yang tidak memiliki tempat tinggal apa iya kita sebagai masyarakat tega untuk tidak membantu mereka walaupun dalam satu sisi kita menentang keyakinan mereka, semua kita kembalikan lagi ke HAM”.53
Dari bebreapa pernyataan yang di dapatkan oleh peneliti diatas dapat dpahami bahwa para pengurus atau apparat lingkungan yang ada di Majeluk sampai dengan saat ini telah menerima keberadaan Jemaat Ahmadiyah di penampungan Transito karena rasa kemanusiaan diluar dari apa yang menjadi aliran atau pemahaman yang mereka miliki selama itu tidak mencampuri atau berusaha untuk mempengaruhi masyarakat Majeluk dengan keyakinan dan kepercayaan mereka. Walaupun sampai saat ini masih banyak yang menganggap dan mengira bahwa masyarakat majeluk yang memberi tampungan dan memberi akses bagi Jemaat Ahmadiyah sehingga citra lingkungan Majeluk di masyarakat yang tidak mengetahui masih dapat dikatakan buruk.
Selain melakukan wawancara dengan pengurus lingkungan Majeluk, peneliti juga melakukan wawancara dengan remaja yang ada di Majeluk mengenai tanggapan dan pandangan mereka terhadap Jemaat Ahmadiyah yang ada di penampungan Transito
Adapun keterangan yang di dapatkan peneliti bersama dengan Bintang selaku Ketua Muda Mudi Lingkungan Majeluk yang berpendapat
53Lalu Agus Hartono , Wawancara, Mataram, 25 Semptember 2022.
51
: “Saya berpendapat bahwa Ahmadiyah adalah agama baru dari survey yang telah saya lakukan, Kenapa saya bisa mengatakan seperti itu karena melihat bahwa Jemaat Ahmadiyah tidak pernah melaksanakan sholat Jum’at seperti Muslim lain nya dan saya ingin sekali menanyakan dimana letak Masjid yang digunakan Jemaat Ahmadiyah untuk beribadah akan tetapi karena rasa tidak berani jadi saya mengurungkan niat untuk menanyakan hal tersebut. Saya juga kurang setuju atas sikap diskriminatif yang di dapatkan oleh Jemaat Ahamdiyah, dengan catatan mereka bisa serta berani berbaur dengan masyarakat sekitar tanpa membawa paham mereka kepada masyarakat kultural, Jika bersaudara dalam hal setanah air saya setuju akan tetapi jika bersaudara dalam hal agama saya kurang setuju karena menurut saya ini bukan organisasi melainkan agama baru.
Saya berpendapat mengapa jemaah Ahamdiyah mendapatkan perilaku yang tidak baik dimasyarakat karena mereka memiliki misionaris dan mereka menghasut ummat muslim lain nya untuk masuk dan mempercayai ajaran mereka sehingga membuat sebagian ummat muslim merasa tidak nyaman dan resah”.54
Kemudian keterangan yang di dapatkan bersama Ilham Selaku Ketua Remaja Masjid Lingkungan Majeluk, dari wawancara ini ilham menyatakan respon nya terakit dengan keberadaan Jemaat Ahmadiyah Transito itu sendiri, ia menyampaikan bahwa : “Ini pendapat saya ya mengenai Ahmadiyah bukan bermaksud untuk menjatuhkan atau menyinggung siapapun, Agama itu tidak pernah berubah cuman yang berubah itu hanya manusia nya saja dan juga penafsiran nya, Ahmadiyah menurut saya melenceng dari ajaran Islam karena meyakini bahwa ada nabi setelah nabi Muhammad SAW dan masih banyak lagi ajarannya yang melenceng dari Islam. Menurut saya Ahmadiyah kesestan yang merusak, kenapa saya katakana seperti itu kembali lagi kemelencengnya ajaran mereka MUI juga sudah mengeluarkan fatwa nya bahwa Ahmadiyah adalah ajaran diluar agama Islam, saya juga tidak berani mengatakan seperti itu kalua tidak dari ulama-ulama kita yang dulu dimana mereka lebih tahu soal itu. Dab untuk tidak diberikan kebebasan saya tidak bisa bilang seperti itu karena saya pribadi juga tidak pernah mengucilakn atau ngekang apa itulah namanya, ini cuma sudut pandang saya saja itu aja sih
54Bintang, Wawancara, Mataram, 21 September 2022.
52
ya saya ngerasa tidak setuju dengan ajaran mereka maaf kalau ada salah ucapan dan saya juga sebenarnya takut bahas hal beginian karena saya tahu diri juga ngaji saya belum bener”.55
Berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan peneliti kepada ketua remaja masjid dan juga ketua muda-mudi Majeluk menunjkkan bahwa remaja Majeluk memiliki pandangan yang masih buruk dengan Ahmadiyah, dimana pandangan dan pendapat tersebut mereka dapatkan dari google dan juga survei sendiri, tetapi juga sebagian dari mereka takut untuk membahas soal Ahmadiyah karena menurut mereka ini adalah hal yang sensitif.
Lebih lanjut lagi mengenai bagaimana respon terhadap Ahmadiyah yang ada di Transito, peneliti mewawancarai Selsa selaku masyarakat Majeluk yang tempat tinggal nya paling dekat atau dapat dikatakan bersebelahan dengan penampungan Jemaat Ahamdiyah yang mengatakan bahwa : “Disini saya menyampaikan hal yang sesuai dengan apa yang saya lihat dan alami karena kebetulan saya memiliki teman dekat yang merupakan Jemaat Ahamadiyah tapi saya tidak tahu banyak dan kurang paham dengan Ahamadiyah itu sendiri sebenarnya seperti apa.
Keberadaan Jemaat Ahamadiyah disekitaran kami saya rasa itu sah-sah saja selama mereka tidak berbuat hal yang merugikan bagi masyarakat Majeluk. Ada kejadian yang aneh yang pernah saya temukan selama saya berteman dengan Jemaat Ahamdiyah, kebetulan saya sering juga main di pengungsian mereka, saya melihat gerakan sholat mereka berbeda dengan kita ummat muslim biasanya jadi ketika kita berkunjung kerumahnya dan masuk waktu sholat maka kita akan diminta untuk sholat di dalam kamar nya saja, suatu waktu saya pernah sholat di tempat Jemaat Ahmadiyah dan saya mereasa kaget karena melihat gerakan nya yang berbeda tapi saya lupa gerakan mereka seperti apa yang jelas berbeda dengan cara muslim lain nya. Intinya kita tetap toleransi saja selama kita tidak mengikuti dan mempercayai keyakinan dan kepercayaan mereka”.56
Adapun keterangan dari Gani selaku sebagai Sekertaris Remaja Masjid Lingkungan Majeluk yang mengatakan bahwa : “Terkait dengan keberadaan Jemaat Ahmadiyah di lingkungan majeluk sendiri saya sendiri
55Ilham, Wawancara, Mataram, 21 September 2022.
56 Selsa, Wawancara, Mataram, 21 September 2022.
53
kurang setuju, karena menurut saya keyakinan ataupun kepercayaan yang mereka miliki sudah berbeda dengan kita, takutnya nanti ada beberapa masyarakat yang disekitar terpengaruh oleh keyakinan mereka. Jemaat Ahmadiyah juga tidak diakui oleh Negara hal ini yang membuat saya kurang setuju dengan keberadaannya juga, tapi mau seperti apa lagi mereka tinggal di Transito diberikan oleh Pemerintah juga jadi selama mereka tidak berbuat kegaduhan dengan masyarakat majeluk saya rasa masih aman-aman saja”.57
Kemudian keterangan yang di dapatkan peneliti dengan Dinda yang merupakan masyarakat Majeluk yang jarak rumah nya tidak terlalu dekat dengan Jemaat Ahamdiyah Transito, ia mengatakan bahwa : “Jika boleh mengatakan yang sebenarnya saya adalah orang yang tidak tahu atau kurang paham dengan Jemaat Ahamdiyah itu apa dan bingung juga kenapa dia bisa tidak di terima dengan baik oleh banyak orang, inti nya saja kita tidak bisa memaksakan orang untuk keluat dari lingkungkan kita terutama bagi Jemaat Ahamdiyah kemana lagi mereka bakalan tinggal jika bukan di Transito karena itu tempat yang aman bagi mereka dari amukan massa yang tidak suka terhadap pemahaman mereka, kita disini hidup berdampingan jadi sebaiknya kalau menurut saya segala sesuatu yang menjadi perbedaan harus dapat diterima dengan baik tanpa harus menghakimi seseorang yang berbeda keyakinannya dengan kita apalagi berbuat hal yang dapat merugikan banyak orang”.58
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Ani sebagai berikut : “Selama ini kita sudah hidup berdampingan dengan Jemaat Ahamdiyah jadi saya tidak terlalu ambil hal yang negatif dari Jemaat Ahamdiyah karena juga saya banyak memiliki teman yang merupakan Jemaat, Selagi mereka tidak berbuat kekacauan dan tidak merugikan kita sebagai warga Majeluk saya rasa tidak ada masalah jika mereka tetap tinggal di Transito yang menjadi tempat penampungan mereka. Akan tetapi jika Jemaat Ahamdiyah membawa pengaruh buruk terhadap keyakinan warga Majeluk itu baru saya berharap mereka keluar dan pindah dari kawasan Transito itupun jika Pemerintah menyediakan tempat penampungan yang baru bagi Jemaat Ahamdiyah. Saya kurang paham dan hanya tahu sedikit mengenai Jemaat
57Gani, Wawancara, Mataram 21 September 2022.
58Dinda, Wawancara, Mataram 23 September 2022.
54
Ahamdiyah ini seperti apa dan bagaimana selagi kita hidupnya berdampingan tanpa ada yang merasa dirugikan saya rasa kita masih aman-aman saja dan tidak perlu berbuat hal yang merugikan banyak orang”.59
Berdasarkan dari hasil wawancara oleh beberapa masyarakat yang ada di lingkungkan majeluk mulai dari yang jarak rumahnya terdekat hingga yang jauh dari kawasan Transito tersebut peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwasanya masyarakat majeluk terbagi menjadi 2 bagian mengenai sudut pandang ataupun respon mereka terhadap Ahmadiyah yang ada di Transito, dimana bagian tersebut tergolong dalam kategori :
1. Setuju
Dari hasil wawancara sebanyak 3 dari 10 masyarakat yang setuju dengan keberadaan Ahmadiyah di lingkungan mereka dan hidup berdampingan bersama masyarakat majeluk.
2. Tidak Setuju
Mengenai jumlah dari masyarakat yang tidak setuju dengan keberadaan Jemaat Ahmadiyah di lingkungan mereka, ada sebanyak 7 dari 10 masyarakat yang tidak setuju dan tidak menginginkan Ahmadiyah di penampungan Transito.
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dilapangan berdasarkan respon dari beberapa masyarakat lingkungan meajeluk terhadap Jemaat Ahamdiyah sampai saat ini masih menjadi problematika oleh beberapa masyarakat yang ada di majeluk, akan tetapi karena Jemaat Ahamadiyah berada dalam lingkup pemerintah yang menyebabkan kebanyakan masyarakat mau tidak mau menerima mereka untuk tinggal dan menetap di penampungan Transito.
59Ani, Wawancara, Mataram, 23 September 2022.
55 BAB III