• Tidak ada hasil yang ditemukan

“LAPIS TALAS KANG RANDI”

N/A
N/A
Siska Rohmayatun

Academic year: 2023

Membagikan "“LAPIS TALAS KANG RANDI”"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Indikator yang digunakan untuk mengukur status kesehatan dan keberhasilan upaya kesehatan ibu adalah Angka Kematian Ibu (MMR). Salah satu indikator tingkat kesehatan masyarakat adalah Angka Kematian Ibu (MMR) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Semakin tinggi angka kematian ibu dan bayi di suatu negara, maka semakin dipastikan status kesehatan negara tersebut buruk (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2018).

Secara global, angka kematian ibu (MMR) di Indonesia tercatat sebesar 177 kematian per tahun. 100 ribu kelahiran hidup pada tahun 2017. Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk menilai tingkat kesehatan dan kesejahteraan perempuan. Indikator yang sensitif terhadap kualitas dan ketersediaan fasilitas kesehatan adalah Angka Kematian Ibu (AKI) (Kemenkes RI 2020).

Kematian ibu pada tahun 2022 sebanyak 2 orang yaitu di Kecamatan Bubulak sebanyak 1 orang dan di Kecamatan Balumbang Jaya sebanyak 1 orang. Angka kematian ibu ini sangat signifikan mengingat antara tahun 2018 hingga tahun 2022 tidak terjadi kematian ibu di wilayah Puskesmas Sindang Barang.

RUMUSAN MASALAH

TUJUAN

TINJAUAN PUSTAKA

  • KEHAMILAN
  • ANTENATAL CARE
  • KEHAMILAN RESIKO TINGGI
  • KEMATIAN MATERNAL
  • PENANGANAN KOMPLIKASI MATERNAL
  • KRANGKA TEORI
  • KERANGKA KONSEP
  • KERANGKA PIKIR

Semua ini diberikan oleh tenaga kesehatan profesional yang kompeten secara klinis dan memiliki keterampilan interpersonal yang baik untuk ibu hamil normal. Pelayanan prenatal dilakukan minimal 8 kali. Indonesia melakukan pemeriksaan kehamilan minimal 6 kali dengan minimal kontak dengan dokter sebanyak 2 kali untuk skrining faktor risiko komplikasi kehamilan pada trimester 1 dan skrining faktor risiko sebelum persalinan 1 1 kali pada trimester 3. Oleh karena itu dapat diartikan bahwa Kematian ibu dapat disebabkan oleh faktor langsung maupun tidak langsung, baik pada masa kehamilan, proses persalinan maupun masa nifas. Selain itu, perlu dicurigai adanya penyakit menular seksual yang dapat berdampak pada kelahiran prematur dibandingkan kehamilan pada kelompok wanita usia 20-35 tahun.

Sebaliknya, wanita dengan berat badan berlebih berisiko mengalami subfertilitas, keguguran, hipertensi saat hamil dan preeklampsia, diabetes gestasional, tromboemboli, infeksi, penyakit jantung, persalinan terbantu, perdarahan postpartum, dan yang paling serius adalah kematian ibu. Seorang ibu hamil dikatakan anemia jika kadar Hbnya berada di bawah persentil ke-5, yaitu 11 g/dL pada trimester pertama dan ketiga serta 10,5 g/dL pada trimester kedua. Infeksi akibat obat-obatan tertentu pada ibu hamil dapat berdampak buruk bagi ibu hamil itu sendiri dan janin yang dikandungnya.

Kematian ibu atau kematian ibu adalah kematian seorang ibu selama kehamilan atau dalam waktu 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, tanpa memandang tempat atau usia kehamilan. Definisi tersebut secara tegas memperjelas bahwa kematian ibu mempunyai cakupan yang luas, tidak hanya berkaitan dengan kematian yang terjadi pada saat proses persalinan saja, namun mencakup kematian ibu yang sedang hamil dan nifas. Kematian ibu secara langsung merupakan akibat dari komplikasi kehamilan, persalinan atau masa nifas dan adanya intervensi atau pengobatan yang tidak tepat terhadap komplikasi tersebut.

Kematian ibu tidak langsung disebabkan oleh penyakit yang sudah ada sebelumnya atau penyakit yang terjadi selama kehamilan dan mempengaruhi kehamilan, seperti malaria, anemia, HIV/AIDS dan penyakit kardiovaskular. Pengertian kematian ibu menyatakan bahwa kematian ibu tidak hanya mencakup kematian akibat persalinan saja, tetapi juga kematian yang disebabkan oleh sebab-sebab non obstetrik. Misalnya ibu hamil yang meninggal karena TBC, anemia, malaria, penyakit jantung, dan lain-lain.

Faktor risiko yang mempengaruhi kematian ibu dan diklasifikasikan berdasarkan kerangka (McCarthy dan Maine) yang masih digunakan sampai sekarang adalah sebagai berikut: . a) Hampir determinan. Komplikasi yang terjadi pada kehamilan ini berisiko tinggi jika terjadi pada ibu hamil. Komplikasi pada persalinan seringkali terjadi akibat keterlambatan persalinan dan dianggap sebagai salah satu penyebab kematian ibu.

Infeksi pasca melahirkan: beberapa bakteri dapat menyebabkan infeksi pasca melahirkan, infeksi pasca melahirkan masih menjadi penyebab kematian ibu (MMR) tertinggi. Capaian pelayanan kesehatan ibu yang tidak dibarengi dengan perbaikan angka kematian ibu menunjukkan belum optimalnya kualitas pelayanan tersebut.

Gambar 2.1 Kerangka Teori Mc Garty dan Maine
Gambar 2.1 Kerangka Teori Mc Garty dan Maine

KEGIATAN

KONSEP KEGIATAN

PERENCANAAN

Dari permasalahan tersebut terlihat masih belum optimalnya pelayanan ibu, dengan adanya kegiatan inovasi ini diharapkan pelayanan ibu semakin berkualitas dan Cakupan Pelayanan Kesehatan diharapkan dapat mencapai tujuan yaitu 100% pada tahun 2017. kota bogor. Hal ini diimbangi dengan menurunnya komplikasi obstetrik dan tidak terulangnya kematian di Kecamatan Balumbang Jaya.

PELAKSANAAN KEGIATAN PEMBERDAYAAN

Lapis Talas “Pastikan Resiko Tinggi Mendampingi Ibu Hamil Sampai Selesai” merupakan program inovasi KIA Puskesmas Sindang Barang yang dilaksanakan di wilayah kerja Kecamatan Balumbang Jaya. Pengumpulan data ibu hamil dari laporan bulanan bidan praktik mandiri dan klinik swasta di wilayah kerja Puskesmas Sindang Barang. Penyelenggaraan LAPIS TALAS - Melengkapi data ibu hamil risiko tinggi beserta faktor penyulitnya berdasarkan hasil pendataan dan skrining.

Koordinasi dengan lintas sektor mengenai administrasi lengkap ibu hamil dan pendanaan jaminan kesehatan - Dokumen hasil. Ada aplikasi hasil kegiatan LAPIS TALAS yang diisi lengkap di setiap posyandu - Ibu hamil risiko tinggi bisa. Dengan program inovasi Lapis Tala, diharapkan pemantauan kondisi ibu hamil berisiko di wilayah tersebut dapat terpantau setiap bulannya dengan bantuan bantuan lintas sektor baik dari keluarga alarm, kader posyandu, dan keluarga ibu hamil.

Melalui hasil pemantauan tersebut akan terlihat posyandu mana saja yang memiliki ibu hamil risiko tinggi yang telah terdaftar dan dikelola secara menyeluruh. Selain itu juga dapat menjadi bahan referensi bagi bidan daerah untuk meningkatkan hasil deteksi ibu hamil risiko tinggi di kemudian hari. Screening Ibu hamil yang pertama kali kontak dengan bidan akan dimasukkan dalam aplikasi DAFTAR KAK.

Bidan mengisi aplikasi KANG RANDI, bila kader pertama kali kontak dengan ibu hamil maka kader mengisinya. Bidan dan kader saling melaporkan ibu hamil Resti yang saat itu terlacak ke WAG kader posyandu. Sementara itu, hasil ibu hamil Risti yang mengalami komplikasi dan tertangani dengan baik setiap bulannya mengalami peningkatan.

Hasil ibu hamil Risti yang melahirkan dengan selamat setelah dilakukan intervensi program inovasi Lapis talas adalah kelahiran aman 100%. Program inovasi berupa Lapis Talas Kang Randi telah membuahkan hasil yang baik: cakupan ibu hamil, ibu hamil risiko tinggi, dan pengobatan komplikasi semakin meningkat. Program inovasi Lapis Talas Kang Randi terus dilaksanakan sebagai bagian dari upaya meningkatkan deteksi risiko tinggi pada ibu hamil di wilayah tersebut.

PEMBAHASAN

LAPIS TALAS

Inovasi ini merupakan kegiatan pertolongan ibu hamil risiko tinggi yang dilakukan oleh bidan, kader, tim desa Siaga, suami atau keluarga, hingga ibu hamil tersebut dapat melahirkan ibu dan bayinya dengan selamat. Terlaksananya kegiatan lapisan talas ini didukung oleh inovasi Kak Listi & Setiti' Kurma Kang Randi. Registrasi data ibu hamil risiko tinggi pada aplikasi LAPIS TALAS didasarkan pada pemeringkatan poin yang diperoleh pada klasifikasi faktor risiko bersamaan dengan registrasi pada Kartu Kendali Ibu Hamil Risiko Tinggi (DAFTAR KAK) yang nantinya akan akan diperiksa oleh bidan dan kurma. bingkai.

Setelah bidan selesai melakukan pencatatan dan klasifikasi, laporkan dan cocokkan kembali data ibu hamil tersebut kepada kader agar kader mengisi Aplikasi KANG RANDI sebagai alat bantunya. Bidan mendokumentasikan hasil pendataan di Aplikasi LAPIS TALAS, dan mengisi Aplikasi KAK LISTI sedangkan Kader Posyandu mengisi Rencana Persalinan di Aplikasi KANG RANDI. Pemantauan terhadap program inovasi LAPIS TALAS dilakukan secara bertahap mulai dari tingkat kecamatan, puskesmas hingga tingkat Dinas Kesehatan Kota Bogor.

Pemantauan di tingkat kecamatan dilakukan oleh bidan daerah melalui program LAPIS TALAS kecamatan yang dibuat oleh bidan daerah setiap bulannya.

KAK LISTI

Program Inovasi LAPIS TALAS didukung oleh beberapa inovasi lainnya, termasuk KANG RANDI. Singkatan dari KANG RANDI adalah Tas Kelahiran Digital. Di era yang serba otomatis dan digital ini, kami membuat tas bersalin dengan menggunakan aplikasi. Agar bidan saat itu juga mengetahui dan segera memantau ibu hamil selama pengaplikasian dan segera mengklasifikasikan ibu hamil tersebut.

Program inovasi lain yang mendukung LAPIS TALIS adalah W-IBU “Apa yang Terjadi pada Ibu Hamil” yang menyempurnakan inovasi tersebut dan membuka layanan konseling online. Capaian deteksi dini pada ibu hamil bulan Oktober 2022 sampai dengan Maret 2023 di Kelurahan Balumbang Jaya wilayah kerja PKM Sindang Barang. Hasilnya, kegiatan Inovasi Lapis Talas diluncurkan pada bulan Oktober. Terlihat adanya penurunan jumlah ibu hamil yang terdeteksi pada bulan November, kemungkinan besar kadernya tidak melapor dan tidak melakukan sapuan dengan baik. Hal ini dapat berhasil karena dukungan kader posyandu, khususnya kader kurma, semakin meningkatkan efektivitas pemantauan ibu hamil di wilayah tersebut.

Tidak ada lagi ibu hamil yang tidak terdeteksi, tidak dilaporkan atau tidak berhubungan dengan kader atau tenaga kesehatan di wilayah Balumbangjaya. Dapat mencegah komplikasi yang tidak diobati serta menurunkan dan mencegah angka kematian ibu di wilayah Kecamatan Balumbang Jaya.

KANG RANDI

W-IBU

HASIL PENELITIAN

KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN

Dan registrasi administrasi data orang tua dan hasil penelitian yang lebih lengkap untuk menunjang pelaporan bulanan. Gambaran risiko kehamilan dan persalinan pada ibu diatas 35 tahun di ruang bersalin RSUD Solok Tahun 2017.

SARAN

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Teori Mc Garty dan Maine
Gambar 2.2. Kerangka Konsep
Gambar 3.1 Konsep Kegiatan

Referensi

Dokumen terkait

Berbagai upaya yang aman dan efektif untuk mencegah dan mengatasi penyebab utama kematian bayi baru lahir (BBL) adalah pelayanan antenatal.. yang berkualitas,

(1) Persalinan Aman dimaksudkan guna menurunkan kesakitan dan kematian ibu dan bayi serta meningkatkan derajat kesehatan ibu dan anak dengan peningkatan cakupan dan

Kematian Ibu menurut WHO adalah kematian yang terjadi saat hamil, bersalin atau dalam 42 hari pasca persalinan dengan penyebab yang berhubungan langsung atau tidak langsung

Nadi dalam keadaan normal selama masa nifas kecuali karena pengaruh partus lama, persalinan sulit dan kehilangan darah yang berlebihan. Setiap denyut nadi di atas 100 x/menit

Pada penelitian ini, ibu pre-eklampsia berat dengan tekanan darah sistolik lebih dari 170 mmHg atau lebih memiliki risiko kematian ibu yang lebih tinggi7. dibandingkan dengan

Dalam konteks menetapkan kepastian hukum mengenai tingginya angka kematian ibu akibat aborsi tak aman yang merupakan dua kondisi yang sama-sama membahayakan, dapat dianalisa

Hasil analisis didapatkan nilai Odds Ratio (Exp. B) dari variable tekanan darah adalah 0,688 yang berarti bahwa penderita cedera kepala berat akan mengalami

Hipertensi merupakan penyebab utama kematian urutan kelima setelah tuberkolosis. Hipertensi merupakan sebagian peningkatan tekanan darah sistolik sedikitnya 140 mmHg