1
LAPORAN AKHIR PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Peningkatan Omset Penjualan Melalui Penerapan Teknologi Pengeringan Ramah Lingkungan dan Pemasaran On Line Bagi Usaha Mikro Agroindustri Emping Melinjo Di Kelurahan Way Tataan, Kecamatan Teluk Betung,
Kota Bandar Lampung
Oleh:
Kemas Muhammat Abdul Fatah S.T. M.T. NIDN : 0217067203
Nelson, S.E., M.Si NIDN : 0214037001
Ruslan Dalimunthe, S.T., M.M. NIDN : 0219075801
Dibiayai dengan Biaya
Pengabdian Kepada Masyarakat Internal Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai No Kontrak : 144/021003/34/pm/2021
2021
Skema PkM : Program Kemitraan Masyarakat (PKM)
iii RINGKASAN
Agroindustri emping Melinjo di Provinsi Lampung mempunyai potensi untuk dikembangkan mengingat pasokan bahan baku Melinjo yang berlimpah dan didukung dengan keberadaan agroindustri emping Melinjo yang tersebar di banyak tempat. Salah satu klaster agroindustri emping Melinjo yang tersebar di Provinsi Lampung berada di Kelurahan Way Tataan kecamatan Teluk Betung Timur. Di Kelurahan Way Tataan kecamatan Teluk Betung Timur ini terdapat 50 kepala keluarga produsen emping Melinjo skala rumah tangga (mikro). Desa Way Tataan memiliki potensi agroindustri emping Melinjo yang dapat dikembangkan, dimana berlimpahnya buah Melinjo dapat terserap oleh agroindustri sehingga dapat meningkatkan nilai tambah dan meningkatkan hasil produksi. Namun demikian, berdasarkan pengamatan di lapangan, eksistensi agroindustri emping Melinjo di desa Way Tataan belum bisa menjadi sumber ekonomi yang utama, seperti yang dialami oleh ibu Dewi yang menjadi mitra, permasalahan yang dihadapi pemilik usaha mikro agribisnis emping Melinjo adalah terkait dengan belum adanya penerapan teknologi yang sesuai, khususnya teknologi penjemuran yang dapat mengatasi kendala cuaca dan kemampuan di dalam menghasilkan produk yang bermutu.
Kedua kendala ini berdampak pada ketidakmampuan pemilik usaha mikro untuk memperluas pasar, baik pemasaran melalui media online atau masuk ke pasar modern. Ketidakmampuan ini berdampak juga pada tidak optimalnya serapan pasokan buah Melinjo, dimana pada akhirnya petani Melinjo menjual buah Melinjo pada tengkulak.
Berdasarkan hasil pengamatan dari permasalahan yang dihadapi oleh Mitra pada PKM dan sesuai hasil diskusi dengan Mitra, permasalahan prioritas yang akan dicarikan solusi adalah terkait dengan proses penjemuran dan perluasan pasar. Pada proses penjemuran akan diterapkan mesin pengering ramah lingkungan dimana energi panas matahari sebagai sumber panas, sehingga dengan penerapan teknologi ini kapasitas produksi dapat ditingkatan mencapai 40%. Sementara itu, terkait dengan perluasan pasar, mitra akan diberikan pelatihan dan pendampingan terkait dengan pemasalahan online, diharapkan 50% dari hasil produksi dipasarkan secara online.
Program ini dimulai dari kegiatan survey, untuk mengindentifikasi permasalahan dan kebutuhan Mitra, berikutnya adalah pembuatan dan uji coba mesin dan secara paralel akan dilakukan pelatihan dan pendampingan pemassaran online. Adapun luaran dari penelitian ini selain 40% peningkatan kapasitas produksi dan 50% hasil produksi dijual secara online seperti yang telah disinggung diatas, luaran yang lain adalah hasil PKM didesiminasikan di Seminar nasional dan dipublikasikan di proceeding Seminar Nasional.
Kata kunci: Agroindustri; Emping; Melinjo; Pasar online
iv
PRAKATA
Dengan memanjatkan Puji syukur ke hadirat Allah SWT, dimana atas Rahmat dan KaruniaNya, Kami dapat menyelesaikan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) skema program kemitraan masyarakat, dalam hal ini kami melakukan PkM melalui Peningkatan Omset Penjualan Melalui Penerapan Teknologi Pengeringan Ramah Lingkungan dan Pemasaran On Line Bagi Usaha Mikro Agroindustri Emping Melinjo Di Kelurahan Way Tataan, Kecamatan Teluk Betung, Kota Bandar Lampung,
Kegiatan ini telah dilaksanakan pada periode September – Desember 2021, dimana secara ringkas PkM ini dimulai dari survey lapangan, dilanjutkan dengan rancang bangun mesin mongering emping melinjo sampai dengan pelatihan pemasaran melalui media online (marketplace).
Dalam kesempatan ini, kami mengucapkan terimakasih kepada Yayasan Pendidikan Saburai (YPS) yang telah mendanai kegiatan ini, kepada LPPM Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai yang telah menyelenggarakan program hibah internal untuk aktifitas penelitian dan pengabdian, dan kepada semua pihak yang secara langsung atau tidak langsung telah membantu kegiatan ini.
Akhir kata semoga kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dapat bermanfaat, khususnya kepada kami dari tim pelaksana di dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Bandar Lampung, 10 Desember 2021
Ketua Pelaksana
Kemas Muhammat Abdul Fatah, S.T., M.T
NIDN : 0217067203
v
DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN ... i
RINGKASAN ... ii
PRAKATA ... iii
DAFTAR ISI ... iv
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GAMBAR ... vi
DAFTAR LAMPIRAN... vii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Analisis Situasi ... 1
1.2 Permasalahan Mitra ... 3
BAB II SOLUSI DAN TARGET LUARAN 2.1 Solusi yang Ditawarkan ... 6
2.2 Target Luaran ... 6
BAB III METODE PELAKSANAAN BAB IV HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI 4.1 Hasil ... 9
4.2 Luaran yang Dicapai. ... 11
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 12
5.2 Saran ... 12
DAFTAR PUSTAKA ... viii
LAMPIRAN ... ix
vi
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Standar Proses dan Hasil Obeservasi ... 4
vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Aliran Proses Produksi Ibu Dewi ... 2
Gambar 2. Skema Permasalahan dan Solusi ... 6
Gambar 3. Penandatanganan Kesepakatan Dengan Mitra... 6
Gambar 4. Skema Metode Pelaksanaan ... 7
Gambar 5. Beberapa Pilihan Marketplace di Pasar Online ... 8
Gambar 6. Area Produksi Mitra ... 9
Gambar 7. Pembuatan Mesin Mengering ... 10
Gambar 8. Mesin Pengering Ramah Lingkungan ... 11
Gambar 9. Hasil Diversifikasi Produk ... 12
viii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Laporan Keuangan ... 15 Lampiran 2. Kontrak Pengabdian ... 16
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1. ANALISIS SITUASI
Pulau Sumatera merupakan salah satu penghasil tanaman Melinjo. Melinjo Sumatera ini lebih dikenal dengan Melinjo Lampung karena pintu keluar Melinjo Sumatera berada di Provinsi Lampung. Sebagai sentra produksi Melinjo, total produksi Melinjo Provinsi Lampung pada tahun 2019 sebesar 14.076 kwintal1.Agroindustri emping Melinjo di Provinsi Lampung mempunyai potensi untuk dikembangkan mengingat pasokan bahan baku Melinjo berlimpah dan didukung dengan keberadaan agroindustri emping Melinjo yang tersebar di banyak tempat. Salah satu klaster agroindustri emping Melinjo yang tersebar di Provinsi Lampung berada di Kelurahan Way Tataan kecamatan Teluk Betung Timur. Di Kelurahan Way Tataan kecamatan Teluk Betung Timur ini terdapat 50 kepala keluarga produsen emping Melinjo skala rumah tangga (mikro).
Berdasarkan sebaran penduduk menurut mata pencaharian, agroindustri emping Melinjo menempati posisi ke empat yang mendominasi mata pencaharian di Kelurahan Way Tataan kecamatan Teluk Betung Timur. Setiap produsen emping Melinjo bisa mempekerjakan 25 orang tenaga kerja yang berasal dari masyarakat yang tinggal di sekitar agroindustri emping Melinjo tersebut. Oleh karena itu, eksistensi pengusaha emping Melinjo terhadap lingkungan sangat mendukung pemberdayaan khususnya kaum wanita yang umumnya tamat SD untuk dilibatkan dalam pengembangan usaha emping Melinjo ini, serta merupakan salah satu upaya untuk mengurangi penggangguran.
Agrobisnis emping Melinjo di Desa Way Tataan memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan sebagai sumber perekonomian masyarakat yang dapat meningkatkan kesejahteraan masysrakat, hal ini terlihat dari berlimpahnya bahan baku emping Melinjo yang berupa buah Melinjo. Dikarenakan buah Melinjo tidak terserap oleh agroindustri emping Melinjo, sebagian petani Melinjo menjual hasil panen dalam bentuk klatak dengan alasan ingin cepat memperoleh uang untuk membiayai kebutuhan hidupnya. Keadaan seperti ini sering dimanfaatkan oleh pedagang tengkulak untuk memperoleh keuntungan, mereka akan memborong biji klatak secara murah pada saat panen raya kemudian menjualnya di luar musim panen, tentunya dengan harga yang berlipat ganda.
2
Sedemikian penting agroindustri emping Melinjo bagi perekonomian masyarakat, namun tata kelola agroindustri ini belum dilakukan dengan baik sehingga hasil produksi masih kecil sementara pasokan bahan baku berlimpah, omset penjualan masih terlalu kecil dibandingkan dengan bahan baku yang tersedia. Hal ini terlihat dari sisi pemasaran, hasil produksi hanya dijual kepada pengumpul atau menunggu pembeli yang datang tanpa diberi kemasan.
Salah satu produsen emping Melinjo yang ada di Kelurahan Way Tataan adalah ibu Dewi, mitra dalam program PKM ini. Ibu Dewi telah menjalankan usaha agrobisinis ini sudah cukup lama dengan dibantu oleh keluarga terdekat dan tetangga, dan usaha ini menjadi sumber penghasilan utama bagi keluarga. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh Tim Pengadian Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai, ibu Dewi di dalam menjalankan usahanya dilakukan dengan sangat sederhana, tanpa sentuhan manajemen dan teknologi.
Gambar 1. Aliran Proses Produksi Ibu Dewi
Ibu Dewi mendapatkan bahan baku yang sudah berupa klatak, yang dibeli dari pengepul atau biasa mereka sebut dok. Sementara untuk proses produksinya sendiri adalah sangat sederhana seperti yang tampak pada Gambar 1. Proses sangrai hanya menggunakan wajan kecil berisi pasir yang diletakkan pada tungku kayu bakar. Proses pemecahan kulit dalam biji Melinjo menggunakan palu kecil dalam keadaan biji Melinjo masih panas.
2 1
3 4
1. Proses Sangrai 2. Proses Pemecahan Kulit
3. Proses Pemipihan 4. Proses Pengeringan
3
Setelah kulit terlepas, juga masih dalam keadaan panas, biji Melinjo dipipihkan dengan cara dipukul. Selanjutnya biji Melinjo yang sudah berbentuk bulat pipih akan dikeringkan, diletakkan diatas jaring kawat yang dibawahnya bara arang.
1.2. PERMASALAHAN MITRA
Dari uraian analisis situasi di atas, diketahui bahwa Desa Way Tataan memiliki potensi agroindustri emping Melinjo yang dapat dikembangkan, dimana berlimpahnya buah Melinjo dapat terserap oleh agroindustri sehingga dapat meningkatkan nilai tambah dan meningkatkan hasil produksi. Peningkatan hasil produksi harus diimbangi dengan perluasan pasar, penjualan emping Melinjo harus dapat menembus pasar modern atau bahkan pasar ekspor, bahkan dapat dipasarkan secara online. Untuk masuk ke pasar modern atau pasar ekspor, paling tidak ada 2 kesiapan yang harus dimilliki yaitu kontinyuitas dan kualitas. Kontinyuitas adalah terkait kemampuan pasokan pemasok secara rutin dan kualitas terkait dengan jaminan pemenuhan kualitas produk. Kedua kesiapan ini belum dimiliki oleh produsen emping Melinjo di Kelurahan Way Tataan, termasuk juga bagi ibu Dewi.
Berdasarkan hasil diskusi Tim Pengabdian Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai dengan Sekretaris Kelurahan, diakui bahwa potensi agroindustri emping Melinjo cukup besar dan bisa masuk ke pasar modern atau pasar ekspor, namun masih terkendala pada beberapa kondisi yang perlu dibenahi. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan bagaimana permasalahan tata kelola agrobisnis emping Melinjo, mulai dari pemanenan sampai dengan pemasaran, dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini.
4
Tabel 1. Standar Proses dan Hasil Obeservasi
No Proses Standar Hasil Pengamatan di
Lapangan
Permasalahan pada Agribisnis 1 Pemanenan Buah melinjo untuk
emping harus di panen apabila sudah cukup umur. Biji yang muda akan mengurangi mutu emping. Buah tua berwarna merah dan berbiji keras. Buah muda berwarna hijau dan biji lunak
Pemanenan buah Melinjo mengabaikan umur Melinjo. Buah melinjo yang muda juga dapat dijual untuk mendapatkan uang lebih cepat.
Pasokan untuk bahan baku emping Melinjo tidak semuanya berupa buah Melinjo yang cukup umur
2 Pengupasan kulit buah
Kulit buah disayat dengan pisau kemudian dikelupas dan dilepaskan dengan tangan, sehingga diperoleh binji melinjo tanpa kulit. Biji yang telah dikupas atau klatak dikeringkan, kemudian disimpan beberapa hari.
Klatak dijual untuk mendapatkan uang lebih cepat.
Kekurangan pasokan klatak
3 Penimbangan Penimbangan dilakukan untuk proses sortasi
berdasarkan besar biji Melinjo. Penimbangan dapat menjamin keseragaman besar emping.
Tidak dilakukan penimbangan terhadap buah melinjo
Besar dan
ketebalan emping Melinjo tidak seragam dapat mengurangi mutu.
4 Penyangraian Proses sangrai klatak dengan menggunakan pasir supaya pada saat disangrai tidak gosong dan sesuai dengan yang diinginkan, suhu rangrai antara 45º- 50ºC dan lama penyagrai selama ±15 menit.
Proses sangrai klatak dengan menggunakan pasir namun tidak memperhatikan suhu dan lamanya secara
pasti, hanya
berdasarkan perkiraan.
Proses yang tidak tepat akan
menurunkan mutu produk.
5 5 Pengupasan
kulit tempuruh
Pengupasan kulit tempuruh dalam keadaan masih panas dengan suhu ±45ºC dan pengupasan kulit harus benar-benar bersih.
Pengupasan kulit tidak memperhatikan panas dan kebersihan.
Lama proses pengupasan tidak dapat ditetapkan secara pasti dan
terkadang hasil pengupasan kurang bersih yang akan menurunkan mutu produk.
6 Penumbukan daging
Penumbukan daging biji melinjo dilakukan selama ±5 menit dalam keadaan masih panas dengan suhu ± 45º C dengan ketebalan dan ukuran emping yang seragam dan rapih.
Penumbukan daging tidak memperhatikan ukuran. Walaupun
emping yang
diproduksi berupa emping biji 2-3, yaitu emping yang terbuat dari 2 – 3 biji Melinjo, tetapi ketebalannya beragam.
Ketebalan
emping yang beragam akan menurunkan mutu produk.
7 Penjemuran Penjemuran dilakukan selama ±7 jam dengan cuaca cerah
Lama penjemuran tidak menentu, tergantung keadaan cuaca.
Kapasitas produksi fluktuatif 8 Pengemasan Kemasan menarik
meningkatkan brand awareness
Produk dikemas seadanya.
Produk hanya dijual secara terbatas
6 BAB II
SOLUSI DAN TARGET LUARAN
2.1. SOLUSI YANG DITAWARKAN
Berdasarkan informasi permasalahan yang terangkum pada Tabel 1 di atas, tim PKM lalu melakukan diskusinya dengan Mitra untuk ditetapkan masalah prioritas yang akan dicarikan solusinya, dan hasilnya dapat dilihat pada Gambar 2 berikut ini.
Gambar 2. Skema Permasalahan dan Solusi
Gambar 3. Penandatanganan Kesepakatan Dengan Mitra
2.2. TARGET LUARAN
Adapun luaran dari penelitian ini adalah 40% peningkatan kapasitas produksi dan 50% hasil produksi dijual secara online, luaran yang lain adalah hasil PKM diseminasi di Seminar Nasional dan dipublikasikan di proceeding Seminar Nasional
Kapasitas produksi
fluktuatif Penerapan mesin penjemur Peningkatan 40 % kapasitas produksi
MASALAH SOLUSI LUARAN
Produk dijual secara terbatas
Menjual produk secara online
Perluasan target pasar (50%
produk dijual secara online)
7 BAB III
METODE PELAKSANAAN
Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan PKM ini adalah berdasarkan input, proses dan output, seperti yang tampak pada Gambar 3 di bawah ini.
Gambar 4. Skema Metode Pelaksanaan
Berdasar Gambar 3 di atas, tahapan pelaksanaan PKM dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Survey dan Studi Literatur
a. Tim PKM dari Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai melakukan observasi dan wawancara dengan petani Melinjo dan pelaku usaha mikro agroindustri emping, serta dengan Sekretaris Kelurahan;
b. Observasi dan wawancara dilakukan untuk mengetahui bagaimana tata kelola usaha mikro agroindustry dan permasalahan yang dihadapi;
c. Survey untuk mengindentifikasi teknologi tepat guna yang bisa meningkatkan produktifitas dan peluang perluasan pasar;
d. Survey juga untuk membuat kesepakatan program PKM.
2. Pembuatan mesin penjemur dan uji coba
a. Tim PKM merancang mesin dan akan difabrikasi atas persetujuan mitra;
Input Proses Output
1. Survey dan Studi Literatur
1. Pembuatan mesin penjemur dan uji coba 2. Diversifikasi produk 3. Pendampingan perluasan
pasar online
1. Kapasitas produksi meningkat 40 % 2. Peningkatan omset
penjualan 50% di pasar online melalui
diversifikasi produk 3. Desiminasi di Seminar
Nasional
4. Dipublikasikan di prosiding Seminar Nasional
8
b. Fabrikasi komponen dilakukan di Universitas Sang Bumi Ruwai.
3. Diversifikasi produk
Dengan adanya peningkatan kapasitas produksi perlu diimbangi dengan serapan pasar sehingga peningkatan produksi dapat meningkatkan omset penjualan. Mitra akan didorong untuk diversifikasi produk sebagai alternatif penyerapan kapasitas produksi, dimana emping melinjo tidak hanya dijual dalam kemasan emping melinjo siap santap, tetapi juga dalam bentuk kemasan emping mentah.
4. Pendampingan perluasan pasar
Untuk meningkatkan omset penjualan tentu harus dilakukan perluasan pasar, produk dalam kemasan emping melinjo mentah dapat dijual secara online dimana dapat dijual melalui marketplace. Mitra akan diberi pelatihan bagaimana menjual produk melalui marketplace dan diberikan pendampingan.
Gambar 5. Beberapa Pilihan Marketplace di Pasar Online
9 BAB IV
HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI
4.1. HASIL
4.1.1. Survey Lapangan
Pelaksanaan survey lapangan bertujuan untuk mengumpulkan data terkait dengan permasalahan Mitra. Tim pelaksana turun ke lapangan bertemu langsung dengan mitra, kemudian dilakukan diskusi, termasuk juga mengamati proses produksi.
Gambar 6. Area Produksi Mitra
4.2.2. Pembuatan Mesin Pengering
Mesin pengering ini berdimensi 80x60x80 cm. Bahan–bahan yang digunakan dalam pembuatan mesin pengering ini mempunyai beberapa karakteristik khusus. Pertama, dipilih bahan yang harganya terjangkau dengan harapan dalam aplikasinya menghemat dari sisi harga. Kedua, mesin pengering dapat dipindahkan atau digerakkan sehingga dapat diarahkan ke arah matahari untuk mendapatkan kekuatan panas matahari yang maksimal.
Ketiga, Bahan yang dipilih memiliki sifat kolektor panas, yaitu porous absorber sehingga
10
panas akan terakumulasi di dalam alat sehingga dapat mempercepat proses pengeringan.
Terakhir, prototipe alat ini juga dibuat dari bahan yang tidak mudah pecah, patah atau keropos sehingga dapat mengurangi resiko kerusakan dan kerugian. Besi hollow ukuran 10 x 20 terbuat logam yang digunakan sebagai rangka merupakan bahan konduktor panas yang baik, ringan dan terjangkau. Acrylic transparan yang berfungsi sebagai sisi atas digunakan dengan tujuan optimalisasi penyerapan sinar matahari sebagai sumber energi utama. Untuk kolektor panas digunakan bahan dari seng yang dicat dengan warna hitam.
Seng hitam ini merupakan konduktor (penghantar) panas yang baik.
Gambar 7. Pembuatan Mesin Mengering
Bentuk mesin mongering didibuat dalam bentuk rak-rak dengan tujuan agar memiliki daya tampung pengeringan yang banyak, dilengkapi dengan cerobong (chimney) yang berbentuk melengkung sehingga uap air hasil pengeringan dapat dengan mudah mengalir dan terhindar dari tetesan uap air yang mengembun. Mesin pengering berbentuk seperti sebuah ruangan tertutup dengan dinding yang terbuat dari seng dicat hitam dan glass wool sebagai insulator. Dengan tertutupnya alat ini maka dapat menghindari adanya kehilangan panas kontaminasi yang berasal dari lingkungan di sekitarnya. Pada bagian bawah alat akan ditempatkan sebuah kolektor panas berbentuk persegi panjang yang dicat dengan warna hitam.
11 4.2. LUARAN YANG DICAPAI
4.2.1 Mesin Pengering Ramah Lingkungan
Gambar 8. Mesin Pengering Ramah Lingkungan Spesifikasi teknis :
a. Berukuran 80 x 60 x 80 cm;
b. Panas matahari sebagai sumber energi;
c. Ruang pengering dengan insulator dan porous material sehingga pengeringan lebih cepat;
d. Dilengakapi dengan roda sehingga dapat diputar mengikuti arah matahari
4.2.2 Diversifikasi Produk
Dengan diimplementasikannya mesin pengering ramah lingkungan yang dapat meningkatkan kapasistas produksi, diperlukan diversifikasi produk untuk meningkatkan penjualan, dimana produk tidak dijual hanya dalam kemasan siap santap tetapi juga dalam kemasan emping melinjo mentah.
Gambar 9. Hasil Diversifikasi Produk
a. Emping melinjo siap santap b. Emping melinjo mentah (ilustrasi)
12 4.2.3 Perluasan Pasar
Usaha untuk peningkatan penjualan tidak cukup dengan diversifikasi produk, diperlukan usaha perluasan pasar sehingga hasil produksi yang meningkat dapat terserap yang dapat meningkatkan omset penjualan. Pada PKM ini, diberi pelatihan dan pendampingan penjualan online melalui marketplace untuk perluasan pasar.
4.2.4 Desiminasi dan Publikasi
Hasil PKM ini telah dipresentasikan secara oral pada Seminar Nasional II pada tanggal 14 Desember 2021, yang diselengarakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Sang Bumi Ruwa dan akan dimuat dalam prosiding yang dipublikasikan.
13 BAB V
KESIMPULAN SARAN
5.1. KESIMPULAN
1. Mesin pengering emping melinjo ramah lingkungan yang diperkenalkan dalam program ini mampu memperbaiki proses produksi, dimana dapat meningkatkan kapasitas produksi sebesar 40%;
2. Kenaikkan kapasitas produksi sebesar 40%, mendorong Mitra melakukan diversitifikasi produk, dimana pada awalnya memproduksi emping melinjo siap konsumsi, produknya bertambah dengan menjual emping melinjo setengah jadi;
3. Peningkatan kapasitas produksi juga diiringi dengan peningkatan omset penjualan dimana pemasaran juga melalui marketplace setelah diberi pelatihan.
5.2. SARAN
1. Kapasitas pengeringan dari mesin pengering dalam program PkM kali ini masih relatif kecil sehingga perlu diperbesar.
2. Mesin pengering ini perlu diperkenalkan kepada UKM lain, sehingga UKM lain juga bisa meingkatkan kapasitas produksi.
14
DAFTAR PUSTAKA
[1] Badan Pusat Statistik, Kota Bandar Lampung Dalam Angka 2020. Badan Pusat Statistik Kota Bandar Lampung, 2020.
[2] E. Istiyanti and D. Rina Kamardiani, “Performa Supply Chain Emping Melinjo di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta,” Agrar. J. Agribus. Rural Dev.
Res., vol. 3, no. 1, 2017, doi: 10.18196/agr.3141.
[3] A. R. Hudaya, “Analisis usahatani biji melinjo dan emping melinjo (Gnetum gnemon L),” J. AGRIJATI, vol. 3, no. 1, pp. 51–59, 2006.
[4] A. Y. Prasetya, P. Studi, T. Industri, F. Teknik, and U. M. Surakarta, “Perancangan alat sangrai dalam pembuatan emping melinjo menggunakan pendekatan benchmarking,” 2019.
[5] A. Arkha, T. Atmodjo, and E. Noviyanto, “Perancangan Mesin Pengupas Kulit Luar Buah Melinjo Model Roll Gerigi Kapasitas 120 Kg / Jam,” vol. 1, 2017.
[6] M. Sari, S. Yanto, and M. Yahya, “Pembuatan Alat Pengepres Biji Melinjo Sebagai Teknologi Tepat Guna Untuk Mengolah Biji Melinjo Menjadi Emping,” J.
Pendidik. Teknol. Pertan., vol. 2, p. 22, 2018, doi: 10.26858/jptp.v2i0.5182.
15 Lampiran 1. Laporan Keuangan
KEGIATAN KUANTITAS HARGA JUMLAH
A. PENGUMPULAN DATA 1 250.000 250.000
B. ANALISIS DATA 1 250.000 250.000
C. BAHAN 1 2.000.000 2.000.000
D. PELAPORAN 1 500.000 500.000
TOTAL 3.000.000
16 Lampiran 2. Kontrak Pengabdian
17
18
19