Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang atas rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan Buku 3 : “Rekomendasi Pengamanan Lingkungan DTA Bati-Bati Kurau DAS Barito Kalimantan Selatan”. Untuk skala Daerah Tangkapan Air, kami akan fokus pada kelompok tutupan lahan dan ekosistem utama di sepanjang daerah tangkapan air Riam Kiwa di wilayah administratif provinsi Kalimantan Selatan. Dalam studi ini, dilakukan pemodelan dan serangkaian analisis berdasarkan data time series selama 20 tahun untuk menangkap dinamika DAS Barito dan hubungannya dengan dampak banjir pada awal Januari 2021.
Kajian ini diharapkan dapat diintegrasikan dengan dokumen perencanaan lainnya seperti Kajian Lingkungan Hidup Strategis, Rencana Pembangunan Menengah Daerah Kalimantan Selatan (RPJMD KLHS) serta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Kalimantan Selatan. Rekomendasi tersebut disertai dengan pedoman integrasi pada bagian-bagian KLHS RPJMD dan RTRW di Provinsi Kalimantan Selatan, sehingga dapat menjadi contoh untuk integrasi kajian serupa yang disiapkan oleh daerah lain. Kepada Tim Pengarah, Tim Ahli, Narasumber, Tim Penyusun dan seluruh pihak yang membantu pelaksanaan Buku 3: “Rekomendasi Pengamanan Lingkungan DTA Bati-Bati Kurau, DAS Barito Kalimantan Selatan” kami ucapkan terima kasih.
BAB I PENDAHULUAN
- Latar Belakang
- Maksud dan Tujuan
- Sasaran
- Ruang Lingkup Wilayah Studi
- Ruang Lingkup Substansi
- Metode Kajian
- Metode Survey
- Metode Analisis
- Sistematika Penulisan
Kajian perlindungan lingkungan hidup berbasis ekoregion pada skala DTA bertujuan untuk meningkatkan ketahanan sistem DTA Bati-Bati Kurau dalam menghadapi dampak perubahan lingkungan, termasuk banjir. Luas wilayah penelitian berada pada wilayah terdampak banjir tahun 2021 yaitu daerah tangkapan air (DTA) Bati-Bati Kurau. Lokasi pengamatan laju infiltrasi dilakukan pada tata guna lahan di empat lokasi tangkapan air yaitu Balangan, Bati-Bati Kurau, Bati-Bati Kurau dan Bati-Bati Kurau.
Pada pengukuran yang dilakukan di daerah tangkapan air Bati-Bati Kurau, Bati-Bati Kurau, Bati-Bati Kurau dan Bati-Bati Kurau, instrumen utamanya adalah infiltrometer cincin ganda. Bab ini menyajikan profil DTA Bati-Bati Kurau dengan mempertimbangkan kondisi morfometrik sungai, kondisi tutupan lahan dan kondisi sosial budaya masyarakat di DTA Bati-Bati Kurau. Bab ini memberikan gambaran mengenai dinamika jasa lingkungan pada DTA Bati-Bati Kurau dengan melihat sisi pemanfaatannya, yang terdiri atas jasa penyediaan, jasa regulasi, jasa sosial budaya, dan jasa penunjang.
BAB II PROFIL DAERAH TANGKAPAN AIR (DTA) BATI-BATI KURAU
- Hidrometri Sungai
- Luasan Banjir
- Tutupan Lahan
- Sosial dan Ekonomi Terdampak
- Formasi Ekoregion
Namun banjir di DTA Bati-Bati Kurau sebenarnya sangat besar dari segi volume dan debit pada banjir Januari 2021. Berdasarkan morfologi DAS Barito Kalimantan Selatan, di DTA Bati-Bati Kurau seluruh banjir terjadi hilir. DTA Bati-Bati Kurau hanya berada di bagian hilir DAS Barito Kalimantan Selatan sehingga pembahasan tutupan lahan tidak didasarkan pada morfologi DAS.
Tutupan lahan di DTA Bati-Bati Kurau didominasi oleh lahan persawahan, yaitu sekitar 46,19% dari total luas wilayah. Secara morfologi, DTA Bati-Bati Kurau hanya terletak di bagian hilir DAS Barito, Kalimantan Selatan. Secara umum, warga DTA Bati-Bati Kurau masih menggantungkan penghidupannya pada sektor primer.
BAB III PERMODELAN ALIRAN BANJIR
Konsep Pengendalian Banjir
Siklus Hidrologi dan Fenomena Banjir
- Neraca Air
- Kuantifikasi Aliran
- Banjir Sebagai Peristiwa Alamiah dan Bencana
- Persiapan Model
- Persiapan Input HEC-RAS
- Persiapan Input GITBoLA
- Proses Running Aplikasi
- Permodelan Genangan Banjir
Peta geologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah peta geologi yang dikeluarkan Kementerian ESDM untuk DTA Bati-Bati Kurau. Batas yang digunakan dalam analisis ini sesuai dengan batas DTA Bati-Bati Kurau. River Shapefile merupakan bentuk digital keadaan saluran sungai di DTA Bati-Bati Kurau.
Aplikasi GITBoLA digunakan untuk memetakan infrastruktur hijau/solusi berbasis alam yang cocok diterapkan di DTA Bati-Bati Kurau. Kedalaman airtanah bebas sebagai salah satu data yang diperlukan untuk memetakan teknologi hijau pada DTA Bati-Bati Kurau harus dimasukkan dalam satuan kaki. Kedalaman airtanah diperoleh dari data kedalaman airtanah yang diperoleh dari pengamatan di DTA Bati-Bati Kurau dari berbagai titik sumber yang akan dihasilkan peta airtanah DTA Bati-Bati Kurau dengan menggunakan QGIS.
Persentase tutupan kedap air merupakan perbandingan antara persentase total luas tutupan lahan kedap air di DTA Bati-Bati Kurau dengan total luas DTA Bati-Bati Kurau. Data jaringan jalan merupakan data poligon yang dihasilkan menggunakan QGIS, yang menggambarkan bentuk dan luas jaringan jalan dalam DTA Bati-Bati Kurau. Arus merupakan data berbentuk polyline yang menggambarkan bentuk dan besaran aliran sungai pada DTA Bati-Bati Kurau.
Aliran data ini akan berguna sebagai pembatas jenis teknologi hijau yang cocok diterapkan pada sempadan sungai di DTA Bati-Bati Kurau. Setelah melakukan langkah-langkah tersebut maka model DTA Bati-Bati Kurau yang digunakan siap untuk digunakan simulasi. Data curah hujan yang dimasukkan ke dalam aplikasi HEC-RAS merupakan data curah hujan granular untuk hujan pada tanggal 11-18 Januari 2021 yang diterima oleh satelit TRMM untuk wilayah DTA Bati-Bati Kurau dan dilakukan pengolahan seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya. .
Pemutakhiran data adalah mengecek kembali data yang digunakan berdasarkan data di lapangan untuk DTA Bati-Bati Kurau. Pada DTA Bati-Bati Kurau dilakukan 3 kali pengukuran hidrometri sungai yaitu pada bagian paling hulu, tengah, dan hilir sungai yang melintasi alun-alun. Selain pengukuran hidrometri sungai, pengukuran laju infiltrasi juga dilakukan sebanyak jumlah tutupan lahan di DAS Bati-Bati Kurau.
Analisis Hasil
- Pemilihan Skenario Intervensi dan Kondisi
- Pengendalian Genangan Banjir
Tiga skenario yang disimulasikan dalam penelitian ini adalah hujan pada tanggal 11 – 18 Januari 2021, kemudian hujan kala ulang 2 tahun dengan probabilitas terjadinya 50%, dan hujan kala ulang 50 tahun dengan probabilitas terjadinya 2%. Dari hasil di atas diketahui bahwa untuk DTA Bati-Bati Kurau didapatkan pada periode kembali hujan 2 tahun pada skenario ketiga tidak terjadi banjir sehingga memberikan hasil terbaik. Sedangkan pada skenario curah hujan ekstrem, meski masih menurun namun tidak sebesar pada skenario curah hujan 2 tahun dan 50 tahun.
Dalam hal ini yang dimaksud dengan waktu banjir adalah waktu yang diperlukan banjir untuk mencapai debit puncaknya, kemudian menurun hingga banjir surut. Berikut tabel hasil perbandingan waktu banjir pada masing-masing skenario di daerah tangkapan air Bati-bati Kurau. Dari hasil simulasi diketahui bahwa untuk periode ulang curah hujan 2 tahun, skenario 2 dan 3 memberikan rentang waktu banjir yang sama, masing-masing sekitar satu hingga dua hari.
Sedangkan pada curah hujan periode ulang 50 tahun ditemukan tidak terjadi perubahan signifikan pada skenario 1, namun terjadi penurunan signifikan pada skenario 2 dan 3. Kemudian pada skenario curah hujan ekstrim ditemukan adanya penurunan curah hujan yang signifikan. tidak ada perubahan waktu banjir, dan total memakan waktu lebih dari 9 hari.
BAB IV REKOMENDASI DAERAH TANGKAPAN AIR (DTA) BATI-BATI KURAU
Tindakan Vegetatif
- Restorasi Hutan
- Penanaman Tanaman Pohon dan Penguatan Infrastruktur Air pada Lahan Pertanian dan
- Penambahan Vegetasi dan Penguatan Infrastruktur Air pada Permukiman
- Reklamasi Paska Tambang dan Dihutankan Kembali
Berdasarkan data izin kawasan, dalam DTA Bati-Bati Kurau yang berperan langsung dalam aksi restorasi hutan adalah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan pembagian lahan mencapai 88,56% dari total luas. Dengan demikian, total aksi restorasi hutan di DTA Bati-Bati Kurau diperkirakan mencapai Rp515,63 miliar. Tindakan vegetatif selanjutnya adalah penanaman pohon dan penguatan prasarana air pada lahan pertanian dan perkebunan.
Selain penghijauan, pengelolaan air juga diperkuat dengan infrastruktur air pada lahan pertanian dan perkebunan, seperti waduk dan irigasi. Berdasarkan hasil analisis, kegiatan penanaman pohon dan prasarana pengairan terbanyak berada di Kecamatan Bati-Bati (36,41%), Tambang Reset (35,18%) dan Bumi Makmur (19,10%) yang merupakan lokasi pertanian dan/atau perkebunan. berukuran besar. Dalam konservasi tanah dan air, penambahan pohon dan penguatan infrastruktur air di bidang pertanian dan perkebunan termasuk dalam prioritas 1 penghijauan intensif.
Jadi total penanaman pohon dan penguatan infrastruktur perairan di DTA Bati-Bati Kurau diperkirakan mencapai Rp46,16 miliar. Upaya vegetatif yang ketiga adalah penambahan vegetasi (mungkin pepohonan) dan penguatan infrastruktur air di permukiman. Dari hasil analisis di DTA Bati-Bati Kurau, terdapat sekitar 1.174,3 ha permukiman yang perlu dilakukan penambahan vegetasi dan penguatan infrastruktur perairan.
Permukiman yang paling luas perlu dilakukan tindakan vegetatif berada di wilayah Kecamatan Bati-Bati dan Bumi Makmur, khususnya di Desa Benua Raya dan Martadah Baru. Jadi, secara keseluruhan penanaman pohon dan penguatan infrastruktur air di DTA Bati-Bati Kurau diperkirakan menelan biaya Rp4,57 miliar. DTA Bati-Bati Kurau telah mengalami perubahan tutupan lahan di pertambangan yang cukup luas selama 20 tahun terakhir.
Dari hasil analisis diperoleh bahwa lahan pertambangan, baik izin sahnya telah habis masa berlakunya maupun masih berlaku, diperoleh bahwa kecamatan dengan luas wilayah terluas yang direkomendasikan untuk dilakukan reklamasi dan penanaman kembali adalah Kecamatan Bati-Bati ( 47,07% ), Re-Tambang (38,55%) dan Untung. Baru (10,11%) tersebar di Desa Liang Anggang, Martadah, Tambak Padi, dll.
Intervensi Sipil Teknis
- Rekomendasi Hasil Permodelan Banjir HEC-RAS
- Rekomendasi Pengendalian Banjir dengan Intervensi Sipil Teknis
- Rekomendasi Hasil Permodelan Potensi Lokasi Nature Based Solution dengan
- Input Kebijakan Peraturan atau Peraturan Daerah
- Dukungan Penguatan Kajian Lingkungan Hidup Strategis Rencana Pembangunan
Selain itu, bendungan juga merupakan prasarana perairan utama yang juga memerlukan lahan dalam jumlah besar. Sebab, hanya sebagian DTA Bati-bati Kurau yang masuk dalam DAS Barito, Kalimantan Selatan, wilayah penilaian dalam pemodelan. Berdasarkan hasil model, wilayah sungai Bati-bati dan Kurau tidak mengalami banjir dengan risiko kerusakan (banjir bandang).
Pada kondisi perencanaan diasumsikan telah dibangun rencana struktur perairan eksisting yaitu Bendungan Riam Kiwa dan kolam pengatur di kawasan Barabai. Air yang masuk bisa berasal dari limpasan jalan, atap, dan bebatuan. Dari hasil analisis, setidaknya terdapat 817,53 ha lahan di DTA Bati-Bati Kurau yang dapat diadaptasi untuk pembuatan Sistem Bioretensi.
Kecamatan Bati-Bati merupakan kecamatan terluas yang lahannya direkomendasikan untuk sistem bioretensi dengan luas 541,0 ha atau sekitar 66,18% dari total luas rekomendasi di DTA Riam Kiwa. Dari hasil analisis, setidaknya terdapat 36.617,23 ha lahan di DTA Bati-Bati Kuru yang dapat diadaptasi menjadi lahan basah buatan. DAS Bati-bati Kurau, yang didominasi oleh dataran tinggi yang relatif datar, menunjukkan potensi besar untuk terciptanya lahan basah buatan.
Dengan begitu, limpasan air yang jatuh di jalan bisa mengalir ke taman hujan atau saluran resapan terdekat hingga meresap ke dalam tanah. Dari hasil analisis, setidaknya terdapat 36.617,2 ha lahan di DTA Bati-Bati Kurau yang dapat diadaptasi untuk pembuatan saluran resapan. Kecamatan Bati-Bati merupakan kecamatan terluas yang lahannya direkomendasikan untuk Saluran Resapan seluas 22.627,3 ha atau sekitar 61,79% dari total luas lahan yang direkomendasikan dalam DTA Bati-Bati Kurau.
Desa-desa yang berada pada wilayah kesesuaian utama yaitu pada DTA Bati-Bati Kurau adalah Desa Martadah, Desa Kait-Kait, Desa Sungai Pinang, Desa Handil Negara, dan lain-lain. Berdasarkan hasil analisis spasial, wilayah yang berpotensi terdampak genangan melalui pemodelan genangan sudah sesuai dengan pola spasial yang ingin dipenuhi yaitu seluas 38.973,25 ha atau sekitar 94,73% dari luas DAS Barito Kalimantan Selatan di DTA Bati-Bati Kurau. Oleh karena itu, lebih banyak lagi program DTA Bati-Bati Kurau yang akan dimasukkan dalam RPJMD KLHS di Provinsi Kalimantan Selatan.