BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang
Riam Kiwa DTA berada di Kabupaten Banjar dengan luas wilayah 203.313 ha dengan letak geografis di sisi atas Pegunungan Meratus Provinsi Kalimantan Selatan yang melewati Sungai Martapura, Sungai Riam Kiwa dan beberapa sungai lain yang beraliran hilir. kawasannya berada di kawasan Martapura. Secara geografis DAS Riam Kiwa berada pada daerah yang landai dengan titik tertinggi pada ketinggian 1300 meter di atas permukaan laut (berdasarkan data kontur) kemudian turun ke wilayah perkotaan di Riam Kiwa pada ketinggian 25 meter di atas permukaan laut. Dari hasil wawancara dengan warga di beberapa desa seperti Paya Besar, Desa Hantakan, Desa Baru, disebutkan terjadi hujan sekitar 2 hari berturut-turut dengan intensitas cukup tinggi, terutama pada sore hari mulai tanggal 14-15 Januari. 2021.
Maksud dan Tujuan
Sasaran
Ruang Lingkup Wilayah Studi
Ruang Lingkup Substansi
Metode Kajian
- Metode Analisis
Penampang melintang ini dibuat dengan menggunakan grafik (XY Scatter), dimana sumbu horizontal (sumbu X) adalah lebar sungai dan sumbu vertikal (sumbu Y) adalah kedalaman sungai dan tinggi dasar sungai. . 18 3) Metode pengukuran laju infiltrasi. Lokasi pengamatan laju infiltrasi dilakukan pada tata guna lahan di empat lokasi daerah tangkapan air Riam Kiwa. Data waktu dan curah hujan dihitung menjadi laju infiltrasi dengan menggunakan metode Horton.
Sistematika Penulisan
Misalnya saja dilakukan koreksi pada demnas sehingga pemodelan menghasilkan model banjir yang lebih rasional karena lebih banyak segmen demnas yang mengalami piksel tidak sinkron.
Bab 2 PROFIL DAERAH TANGKAPAN AIR (DTA) RIAM KIWA
- Hidrometri Sungai
- Luasan Banjir
- Tutupan Lahan
- Sosial dan Ekonomi Terdampak
- Formasi Ekoregion
Dari hasil survei lapangan diperoleh rata-rata debit Sungai Riam Kiwa di DAS Riam Kiwa seperti terlihat pada tabel berikut. Namun banjir di DTA Riam Kiwa sebenarnya sangat besar dari segi volume dan debit pada banjir Januari 2021. Melihat dampak banjir terhadap lahan pertanian, maka kerugian ekonomi akibat banjir di DTA Riam Kiwa cukup besar. .
BAB 3 PERMODELAN ALIRAN BANJIR
Konsep Pengendalian Banjir
Siklus Hidrologi dan Fenomena Banjir
- Neraca Air
- Kuantifikasi Aliran
- Banjir Sebagai Peristiwa Alamiah dan Bencana
Neraca air merupakan analisis yang menggambarkan pemanfaatan sumber daya air di suatu wilayah studi berdasarkan perbandingan antara kebutuhan dan ketersediaan air. Dalam neraca air, jumlah air yang masuk ke sistem hidrologi sama dengan jumlah air yang keluar, dan jumlah air yang disimpan berubah dalam selang waktu tertentu. Menurut teorema transpor Reynolds, perubahan total sifat B sepanjang waktu sama dengan perubahan total sifat B yang disimpan dalam volume kendali dan total sifat B yang meninggalkan sistem melalui permukaan kendali.
Menerapkan hukum kekekalan massa pada persamaan di atas (B = m, β = dB/dm = 1), terlihat bahwa dalam sistem hidrologi tidak ada perubahan massa terhadap waktu (dm/dt = 0). . Dalam hidrologi, neraca air dapat dinyatakan dalam persamaan yang menggambarkan aliran air masuk dan keluar suatu sistem. Untuk mendefinisikan fluida yang bergerak, kita perlu memperhatikan perubahan sifat fisik fluida seperti massa jenis, kecepatan, tekanan, suhu, dll. ken sebagai fungsi waktu di semua titik dalam ruang.
Kantor Pengurangan Risiko Bencana Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNISDR) membedakan antara bencana dan peristiwa alam yang menyebabkannya. Meningkatnya debit sungai dapat menyebabkan banjir pada suatu wilayah, apalagi jika terjadi perubahan tutupan lahan yang memperparah banjir dan dampaknya.
Mitigasi Bencana Banjir
- Siklus Bencana
- Manajemen Bencana Banjir
Pada fase ini bentuk pencegahan yang dilaksanakan adalah pencegahan jangka panjang (pendekatan struktural dan nonstruktural) dan pencegahan jangka pendek (persiapan prabencana, kesiapsiagaan darurat, analisis risiko). Selain itu, manajemen bencana juga melibatkan pendekatan sistematis dalam mengelola tanggung jawab pencegahan bencana. Pada bagian ini dibahas kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rangka penanggulangan bencana banjir, berdasarkan tahapan siklus bencana.
Kegiatan preventif yang dapat dilakukan dapat dibedakan berdasarkan jangka waktu pencegahannya, yaitu pencegahan jangka panjang dan pencegahan jangka pendek. Pencegahan banjir jangka pendek mencakup 3 hal seperti pada tabel di atas, yaitu persiapan prabencana, persiapan tanggap darurat, dan analisis risiko. Kegiatan pemulihan dilakukan dengan bantuan dan perbaikan, penilaian dampak banjir dan asuransi, serta studi penyebab banjir.
Kajian banjir dilakukan dalam bentuk kajian pada daerah rawan banjir, evaluasi program mitigasi, dan kajian alternatif dan masukan dalam mitigasi bencana banjir. Bangunan pencegah banjir yang dapat dibangun di sepanjang aliran sungai antara lain modifikasi saluran atau pagar, dan tanggul. Beberapa bangunan yang dapat dibangun sebagai upaya pencegahan banjir yang memerlukan ruang lebih antara lain fasilitas penahanan/retensi dan sistem pengendalian sedimentasi.
Struktur lokal yang dapat dibangun untuk mencegah banjir antara lain jembatan dan perubahan atau penggantian gorong-gorong.
Permodelan Aliran Banjir
- Persiapan Model
- Persiapan Input HEC-RAS
- Persiapan Input GITBoLA
- Proses Running Aplikasi
- Permodelan Genangan Banjir
Peta geologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah peta geologi yang dikeluarkan Kementerian ESDM untuk DTA Riam Kiwa. River Shapefile merupakan shapefile yang mendigitalkan kondisi saluran sungai di DAS Riam Kiwa. Aplikasi GITBoLA digunakan untuk memetakan infrastruktur hijau/solusi berbasis alam yang cocok untuk diterapkan di DTA Riam Kiwa.
Kedalaman air tanah yang tidak terkekang sebagai salah satu data yang diperlukan untuk memetakan teknologi hijau di daerah tangkapan air Riam Kiwa harus dimasukkan dalam satuan kaki. Data golongan tanah pada DTA Riam Kiwa diperlukan untuk menentukan kriteria hidrologi golongan tanah A-D. Aliran merupakan data berbentuk polyline yang menggambarkan bentuk dan luas aliran sungai di DAS Riam Kiwa.
Aliran data ini akan berguna sebagai pembatas jenis teknologi hijau yang cocok diterapkan di pinggiran sungai di daerah tangkapan air Riam Kiwa. Setelah melakukan langkah-langkah tersebut maka model DTA Riam Kiwa bekas siap digunakan untuk simulasi. Pemutakhiran Data merupakan pengecekan kembali data yang digunakan berdasarkan data lapangan untuk DTA Riam Kiwa.
Selain pengukuran hidrometri sungai, dilakukan juga pengukuran laju infiltrasi dan luas tutupan lahan di daerah tangkapan air Riam Kiwa.
Analisis Hasil
- Pemilihan Skenario Intervensi dan Kondisi
- Pengendalian Genangan Banjir
Tiga skenario yang disimulasikan dalam penelitian ini adalah hujan pada tanggal 11 - 18 Januari 2021, kemudian hujan kala ulang 2 tahun dengan probabilitas terjadinya 50%, dan juga hujan kala ulang 50 tahun dengan probabilitas terjadinya 2%. Dari hasil simulasi diketahui bahwa penurunan paling signifikan dihasilkan oleh skenario ketiga untuk curah hujan kala ulang 2 tahun. Hal serupa juga terjadi pada skenario curah hujan 50 tahun yang menyebabkan berkurangnya luas wilayah banjir yang terjadi sebesar 27%.
Sementara pada kasus hujan ekstrem, pada skenario pertama terjadi peningkatan sebesar 1%, sedangkan pada skenario 2 dan 3 terjadi pengurangan luas banjir masing-masing sebesar 11% dan 12%. Dalam hal ini yang dimaksud dengan waktu banjir adalah waktu yang diperlukan banjir untuk mencapai debit puncaknya kemudian menurun hingga banjir surut. Berikut tabel hasil perbandingan waktu banjir pada masing-masing skenario di setiap DTA.
Dari hasil simulasi diperoleh bahwa pada periode ulang hujan 2 tahun skenario ketiga menghasilkan waktu banjir terpendek, sedangkan pada periode ulang hujan 50 tahun tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara skenario 2 dan 3. Hal serupa juga terjadi pada kasus hujan ekstrem yakni terjadi penurunan durasi banjir dari 2 – 3 hari menjadi 1 – 2 hari.
BAB 4 REKOMENDASI DAERAH TANGKAPAN AIR (DTA) RIAM KIWA
Tindakan Vegetatif
- Restorasi Hutan
- Penanaman Tanaman Pohon dan Penguatan Infrastruktur Air pada Lahan Pertanian
- Penambahan Vegetasi dan Penguatan Infrastruktur Air pada Permukiman
- Reklamasi Pasca Tambang dan Dihutankan Kembali
Berdasarkan data izin kawasan, pemerintah pusat di DTA Riam Kiwa mempunyai peran langsung dalam upaya restorasi hutan, yang dalam hal ini adalah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan pembagian lahan mencapai 59,13% dari total luas kawasan. Upaya restorasi hutan di DTA Riam Kiwa diperkirakan menelan biaya keseluruhan sebesar Rp 1,51 triliun. Tindakan vegetatif selanjutnya adalah penanaman pohon dan penguatan infrastruktur air pada lahan pertanian dan perkebunan.
Setidaknya terdapat 10.006,09 hektar lahan di DTA Riam Kiwa yang memerlukan penanaman pohon dan penguatan infrastruktur air pada lahan pertanian dan perkebunan. Jadi berdasarkan data izin daerah, hampir semuanya dilaksanakan oleh pemerintah daerah (DLH, Dinas Pertanian, DPU, dll) dan mencapai 9.812,57 atau 98% dari total luas rekomendasi ini di DTA Riam Kiwa. Jadi total penanaman pohon dan penguatan infrastruktur air di DTA Riam Kiwa diperkirakan mencapai Rp64,35 miliar.
Tindakan vegetatif yang ketiga adalah penambahan vegetasi (bisa berupa pohon) dan penguatan infrastruktur air di permukiman. Hasil analisis DTA Riam Kiwa menunjukkan permukiman yang perlu ditambah vegetasi dan penguatan infrastruktur perairan kurang lebih seluas 928,64 ha. Secara keseluruhan, penanaman pohon dan penguatan infrastruktur air di DTA Riam Kiwa akan menelan biaya sekitar Rp 5,97 miliar.
Setidaknya terdapat 25.394,83 ha lahan di DTA Riam Kiwa yang memerlukan reklamasi dan reboisasi pascatambang.
Intervensi Sipil Teknis
- Rekomendasi Hasil Permodelan Banjir HEC-RAS
- Rekomendasi Hasil Permodelan Potensi Lokasi Nature Based Solution dengan
Di antara kondisi perencanaan tersebut, diasumsikan bahwa rencana struktur perairan yang ada yaitu Bendungan Riam Kiwa dan Cekungan Pengatur Kawasan Barabai diasumsikan telah dibangun. Rekomendasi cekungan/cekungan tahanan/lahan basah buatan terletak di hulu DAS Barito Kalimantan Selatan di DTA Riam Kiwa. Skenario 1 mengasumsikan pembangunan Bendungan Riam Kiwa telah selesai dan terdapat kolam kendali di wilayah Barabai.
Rekomendasi Gully Plug/DAM Penahan berada di hulu DAS Barito Kalimantan Selatan di DTA Riam Kiwa. Dari hasil analisis, setidaknya terdapat 1.669,2 ha lahan di DTA Riam Kiwa yang dapat diadaptasi untuk menciptakan sistem bioretensi. Dari hasil analisis, setidaknya terdapat 80.713,1 ha lahan di DTA Riam Kiwa yang dapat diadaptasi untuk pembuatan lahan basah buatan.
Kecamatan Sungai Pinang merupakan kecamatan terluas dengan rekomendasi lahan basah terbangun seluas 22.947,5 ha atau sekitar 28,43% dari total luas rekomendasi di DTA Riam Kiwa. Desa yang menjadi prioritas lahan basah terbangun di DTA Riam Kiwa adalah Desa Kahelaan, Desa Belimbing Lama, Desa Hakim Makmur, Desa Maniapun dll. Dengan begitu, limpasan air yang jatuh di jalan bisa mengalir ke taman hujan atau saluran resapan terdekat untuk diserap ke dalam tanah.
Berdasarkan hasil analisis, setidaknya terdapat 80.713,2 ha lahan di DAS Riam Kiwa yang dapat diadaptasi untuk dibuat lubang rembesan.
Implementasi Kebijakan dan Peraturan-Peraturan dan RPJMDes
- Input Kebijakan Peraturan atau Peraturan Daerah
- Dukungan Penguatan Kajian Lingkungan Hidup Strategis Rencana Pembangunan
Penguatan dan adaptasi pola tata ruang RTRW di wilayah Kabupaten Tapin akan sangat dinamis akibat terjadinya banjir yang cukup besar pada tahun 2021. Berdasarkan hasil analisis spasial, luas potensi banjir melalui pemodelan banjir menurut pola spasial yang mempunyai ukuran yang akan dilaksanakan adalah seluas 367,16 ha atau sekitar 0,18% dari luas wilayah Cekungan Barito Selatan. Kalimantan di DTA Riam Kiwa. Jika dikaitkan dengan Rencana Tata Ruang RTRW Kabupaten Tapin, sebanyak 0,18% wilayah terdampak memerlukan penguatan instrumen tata ruang berbasis risiko banjir.
Penguatan dan penyesuaian pola spasial RTRW wilayah Banjar akan sangat dinamis akibat terjadinya banjir yang cukup besar pada tahun 2021. Berdasarkan hasil analisis spasial, potensi wilayah banjir dengan bantuan pemodelan banjir sudah sesuai dengan pola spasial. yang mempunyai langkah-langkah yang akan dilaksanakan yaitu seluas 121.737,5 ha atau sekitar 59,9% dari luas DTA Barito Kalimantan Selatan di DTA Riam Kiwa. Jika kita kaitkan dengan Rencana Tata Ruang RTRW Kabupaten Banjar, maka sebanyak 59,9% wilayah terdampak memerlukan penguatan instrumen penataan ruang berbasis risiko banjir.
Dalam konteks RPJMD KLHS, permasalahan bencana banjir dan ciri-ciri spesifik lanskap DAS hulu dan hilir, serta karakter unik lingkungan, ekosistem, dan keanekaragaman hayati Kalimantan Selatan, harus diintegrasikan ke dalam program pembangunan berturut-turut. . Penerapan teknik sipil dengan pembangunan kolam retensi di Barabai dan waduk di Riam Kiwa Kawasan Prioritas : Banjar, Hulu Sungai Tengah. Dalam konteks RPJMD KLHS Provinsi Kalimantan Selatan, wilayah DAS Barito Kalimantan Selatan yang bersangkutan juga mencakup seluruh sub DAS dan DTA yang berada di dalamnya.
Oleh karena itu, beberapa program dalam DTA Riam Kiwa akan masuk dalam RPJMD KLHS Provinsi Kalimantan Selatan.