LAPORAN INDIVIDU BBDM MODUL 5.2 SKENARIO 1
" Epidemiologi Oral”
Disusun Oleh:
Nia Damayanti 22010218130066
Dosen Pembimbing:
drg. Diah Ajeng Purbaningrum, Sp.KGA, MDSc
PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO 2020
Lembar Pengesahan
Laporan : Belajar Bertolak Dari Masalah
Modul : 5.2
Skenario : 1
Kelompok : 6
Judul Skenario : Epidemiologi Oral
Tutor : drg. Diah Ajeng Purbaningrum, Sp.KGA, MDSc
Tanggal pengesahan
Tanda Tangan Tutor/ Dosen Yang Mengesahkan
Jumat, 9 Oktober 2020
Skenario 1 Epidemiologi Oral
Dalam suatu rapat kerja antara dinas kesehatan dan DPRD provinsi X, ditemukan adanya perbedaan status kesehatan gigi dan mulut di perkotaan dan pedesaan. Anggota DPRD menyalahkan pihak Dinas Kesehatan (Dinkes) karena menganggap Dinkes tidak memperhatikan prinsip pemerataan pelayanan kesehatan. Kepala Dinkes menyadari bahwa penyakit gigi dan mulut merupakan akibat dari interaksi multifaktor yang saling berkaitan dan mempengaruhi status kesehatan gigi dan masalah kesehatan masyarakat setempat. Oleh karena itu, kepala Dinkes membentuk tim untuk menelaah masalah ini melalui pendekatan epidemiologi karena meyakini perbedaan tsb bukan semata-mata perbedaan geografis antara kota dan desa, tetapi juga ada variabel lain yang perlu diketahui. Informasi tsb. Sangat dibutuhkan untuk menyusun rancangan penelitian epidemiologi di lapangan yang kelak berguna untuk menyusun program pencegahan dan kontrol penyakit gigi dan mulut yang terbanyak diderita masyarakat.
Kata kunci : multifaktor, status kesehatan gigi, penelitian epidemiologi
Narasumber :
1. drg. Avina Anin Nasia, M.Sc.
2. Tira Hamdillah, SKG, M.Kes.
Referensi :
- R. Bonita, World Health Organization, R. Beaglehole. 2006. Basic Epidemiology. WHO. Ch. 3 - Blanaid, Daly., et.al. 2013. Essential Dental Public Health. Oxford.
- John, Joseph. 2018. Textbook of Preventive and Community Dentistry. CBS. Ch.7-8,12
TERMINOLOGI
1. Dinas Kesehatan : unsur pelaksana otonomi daerah di bidang kesehatan yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah.
2. Epidemiologi : cabang ilmu yang mempelajari distribusi dan penyebab suatu penyakit yang ada dalam suatu masyarakat atau populasi. mempelajari distribusi dan determinan dari peristiwa kesehatan dan peristiwa lainnya yang berhubungan dengan kesehatan yang menimpa sekelompok masyarakat dan menerapkan ilmu tersebut untuk memecahkan masalah- masalah tersebut.
3. Status kesehatan gigi dan mulut. : Status kesehatan gigi dan mulut merupakan tingkat atau derajat kesehatan gigi dan mulut, mengetahui gambaran indeks OHI-S, indeks def-t, dan indeks DMF-T. Berdasarkan teori Blum, status kesehatan gigi dan mulut seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor yaitu keturunan, lingkungan, perilaku dan pelayanan kesehatan. Perilaku mempunyai peran penting untuk mempengaruhi standar kesehatan gigi dan mulut
4. Penelitian epidemiologi : mempelajari tentang sifat, penyebab, pengendalian, dan faktor yang memengaruhi frekuensi dan distribusi penyakit, kecacatan dan kematian dalam poppulasi manusia. Epidemiologi juga meliputi pemberian ciri pada distribusi status kesehatan, penyakit, atau masalah kesehatan masyarakat lainnya berdasarkan usia, jenis kelamin, ras, geografi, agama, pendidikan, pekerjaan, perilaku, dan sebagainya. penelitian epidemiologi berguna dalam pengambilan kebijakan dan tindakan kesehatan masyarakat. penelitian epidemiologi berkaitan dengan sekelompok orang
5. Pelayanan kesehatan : upaya untuk menyelenggarakan perorangan atau bersama-sama dalam organisasi untuk mencegah dan meningkatkan kesehatan, memelihara serta menyembuhkan penyakit dan juga memulihkan kesehatan perorangan, kelompok, keluarga dan ataupun publik masyarakat. pelayanan yang disediakan baik dalam bentuk rawat jalan, rawat inap, kunjungan rumah oleh petugas kesehatan ataupun bentuk kegiatan lain dari pemanfaatan pelayanan tersebut.
6. Interaksi multifactor : Faktor yang mempengaruhi kesehatan dalam hal ini kesehatan gigi dan mulut sebagai berikut: lingkungan, yang mencakup lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan pendidikan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan hereditas atau keturunan
RUMUSAN MASALAH
1. Perbedaan index OHIS, index OHI, dan index DMFT
2. Apa saja yg perlu diperhatikan dalam menyusun rancangan epidemiologi?
3. Apakah faktor yang dapat menjadi perbedaan status kesehatan mulut di perkotaan dan pedesaan?
4. Data kesehatan gigi dan mulut apa saja yang dimiliki sebelum menyusun program pencegahan dan pengkontrolan penyakit gigi mulut?
5. Apa saja penyakit pada gigi dan mulut yang diderita oleh masyarakat?
6. Prinsip etika dalam penelitian epidemiologi apa saja?
7. Apa saja syarat pokok pelayanan kesehatan?
8. Apa saja tujuan dari penelitian epidemiologi?
9. Apa fungsi dari dinas kesehatan di scenario?
10. Apa saja prinsip pemerataan pelayanan kesehatan?
11. Apa saja faktor yang mempengaruhi pelayanan kesehatan?
12. Manfaat dilakukan penelitian epidemiologi?
HIPOTESIS
1. - Indikator status kesehatan gigi untuk menilai karies digunakan indeks DMF-T. Pengalaman karies gigi (DMF-T atau def-t) yaitu dengan memeriksa keadaan gigi geligi seseorang yang pernah mengalami kerusakan, hilang dan penambalan yang disebabkan oleh penyakit jaringan keras gigi
- indikator untuk menilai kebersihan gigi dan mulut yang sering digunakan adalah OHI-S.
2. - Tujuan untuk mengetahui risiko penyakit/manfaat tindakan tertentu/faktor promotif dan preventif
- Faktor-faktor yang mempengaruhi diantaranya adalah : 1. Faktor Internal (Strength dan Weakness)
a. Sumber daya yang dimiliki b. Keuangan atau Finansial
c. Kelebihan atau kelemahan internal organisasi
d. Pengalaman-pengalaman program sebelumnya (baik yang berhasil maupun yang gagal) 2. Faktor Eksternal (Opportunities dan Threats)
a. Tren
b. Budaya, Sosial Politik, Ideologi, perekonomian c. Sumber-sumber permodalan
d. Peraturan Pemerintah
- waktu yang tersedia untuk penelitian, sumber daya yang tersedia, penyakit umum/langka, jenis variabel hasil penelitian dan kualitas data yang akan diperoleh
3. – faktor lingkungan masyarakat
- Tingkat pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut antara desa dan kota yang berbeda. tidak pernah diberikan penyuluhan mengenai cara menjaga kebersihan rongga mulut oleh dokter gigi atau perawat gigi.
- Pendapatan individu yang mempengaruhi komsumsi tiap individu - faktor pelayanan kesehatan gigi dan mulut
- faktor sosial ekonomi - faktor budaya
4. Data tingkat pengetahuan masyarakat tentang cara memelihara kesehatan gigi dan mulut yang harus digali setidaknya adalah:
a. Data pengetahuan tentang cara menyikat gigi yang baik, b. Data pengetahuan tentang waktu menyikat gigi yang tepat,
Data keterampilan, sikap, perilaku atau kebiasaan masyarakat untuk memelihara kesehata gigi dan mulut yang harus digali setidaknya adalah:
a. Data tentang bagaimana cara menyikat giginya selama ini
b. Data tentang waktu menyikat giginya (berapa kali dan kapan saja)
Data status kesehatan gigi dan mulut masyarakat yang harus digali setidaknya adalah:
a. Data indeks kebersihan gigi dan mulut (OHI-S) b. Data pengalaman karies (def-t, DMF-T)
c. Data pengalaman penyakit periodontal (CPITN) d. Data resiko karies (pengukuran pH saliva)
5. Karies, Periodontitis, Xerostomia, Glositis, Sariawan, Ginggivitis, Hipersensitifitas, Oral cancer, Dental fluorosis, halitosis, inflamasi gingiva.
6. PP No. 39/95
-standar profesi penelitian
-mendapatkan ijin dari yang berwenang
-PERSETUJUAN TERTULISsetelah mendapat informasi UU Kesehatan 23/1992 -Menyalahi : dapat didenda Rp.10.000.000
Prinsip Etika dari Praktek Epidemiologi - Informed consent
- Kerahasiaan
- Menghormati hak asasi manusia - integritas ilmiah
7. tersedia berkesinambungan, dapat diterima wajar, mudah dicapai, mudah dijangkau, bermutu 1. Tersedia dan berkesinambungan
Syarat pokok pertama pelayanan kesehatan yang baik adalah pelayanan tersebut harus tersedia di masyarakat (available) serta bersifat berkesinambungan (continuous). Artinya semua jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat dan mudah dicapai oleh masyarakat
2. Dapat diterima dan wajar
Syarat pokok kedua pelayanan kesehatan yang baik adalah apa yang dapat diterima (acceptable) oleh masyarakat serta bersifat wajar (appropriate). Artinya pelayanan kesehatan tersebut tidak bertentangan dengan adat istiadat, kebudayaan, keyakinan, kepercayaan masyarakat dan bersifat wajar
3. Mudah dicapai
Syarat pokok ketiga pelayanan kesehatan yang baik adalah yang mudah dicapai (accessible) oleh masyarakat. Pengertian ketercapaian yang dimaksud disini terutama dari sudut lokasi. Dengan demikian untuk mewujudkan pelayanan kesehatan yang baik, maka pengaturan sarana kesehatan menjadi sangat penting.
4. Mudah dijangkau
Syarat pokok pelayanan kesehatan yang ke empat adalah mudah dijangkau (affordable) oleh masyarakat. Pengertian keterjangkauan di sini terutama dari sudut biaya. Pengertian keterjangkauan di sini terutama dari sudut jarak dan biaya. Untuk mewujudkan keadaan seperti ini harus dapat diupayakan pendekatan sarana pelayanan kesehatan dan biaya kesehatan diharapkan sesuai dengan kemampuan ekonomi masyarakat.
5. Bermutu
Syarat pokok pelayanan kesehatan yang kelima adalah yang bermutu (quality).
Pengertian mutu yang dimaksud adalah yang menunjuk pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan, yang disatu pihak dapat memuaskan para pemakai jasa pelayanan, dan pihak lain tata cara penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik serta standar yang telah ditetapkan.
8. - Mendeskripsikan Distribusi, kecenderungan dan riwayat alamiah suatu penyakit atau keadaan kesehatan populasi.
- Menjelaskan etiologi penyakit.
- Meramalkan kejadian penyakit.
- Mengendalikan distribusi penyakit dan masalah kesehatan populasi.
- Menggambarkan status kesehatan suatu populasi
- Menetapkan jenis/usaha pencegahan dana tau pengobatan untuk mengontrol terjadinya penyakit
- Menentukan efektivitas intervensi atau program kesehatan - Mendeskripsikan fenomena kesehatan masyarakat.
- Mengkaji adanya hubungan sebab-akibat penyakit.
- Merencanakan program preventif penyakit - Menilai intervensi & kebijakan yang terkait
-Pengkajian, evaluasi dan penelitian ketersediaan layanan kesehatan di daerah terpapar penyakit
9. • perumusan kebijakan teknis bidang kesehatan;
• penyelenggaraan pelayanan umum bidang kesehatan;
• pembinaan dan memfasilitasi bidang kesehatan lingkup kabupaten
•promosi kesehatan, pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan, upaya kesehatan masyarakat, rujukan, keluarga dan gizi, dan sumber daya kesehatan;
• pemantauan, evaluasi dan pelaporan bidang kesehatan;
• pelaksanaan kesekretariatan dinas; dan tugas lain yang diberikan oleh Bupati.
•Pengelolaan barang milik daerah yang menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan Daerah;
•Pelaksanaan fungsi lain yang di berikan oleh Kepala Daerah terkait dengan bidang kesehatan.
10. - Pemerataan dalam status kesehatan;
- Pemerataan dalam penyediaan dan penggunaan layanan kesehatan - Pemerataan dalam pembiayaan kesehatan yang berkeadilan
- Dapat diakses dan terjangkau oleh seluruh masyarakat di wilayah kerjanya secara adil tanpa membedakan status sosial, ekonomi, agama, budaya dan kepercayaan.
-Akses yang sama ke pelayanan kesehatan
-Pemanfaatan pelayanan kesehatan yang sama dalam memenuhi kebutuhan yang sama.
-Kualitas pelayanan kesehatan yang sama
- pengangkatan dan penempatan tenaga kesehatan, seperti dokter dan tenaga keperawatan terutama di daerah terpencil, peningkatan proporsi puskesmas yang memiliki tenaga dokter;
-peningkatan proporsi rumah sakit kabupaten/kota yang memiliki tenaga dokter spesialis dasar, dan peningkatan mutu pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan. Pengembangan kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan melalui pengkajian kebijakan serta pengembangan sistem perencanaan dan penganggaran.
11. -Faktor Kesadaran.
-Faktor Aturan.
-Faktor Organisasi.
-Faktor Empati.
-Faktor Kemampuan dan Keterampilan.
-Pemikiran dan Perasaan (Thoughts and Feeling
-Orang Penting sebagai Referensi (Personal Referensi) -Sumber-Sumber Daya (Resources
-Kebudayaan (Culture)
12. Epidemiologi berguna untuk mengkaji dan menjelaskan dampak dari tindakan pengendalian kesehatan masyarakat, program pencegahan, intervensi klinis, dan pelayanan kesehatan terhadap penyakit. pembuatan kebijakan dan mengembangkan intervensi kesehatan masyarakat yang berbasis bukti ilmiah, dengan cara mengidentifikasi kausa dari penyakit, determinan status kesehatan populasi, dan menentukan sasaran intervensi kesehatan masyarakat. Membantu Pekerjaan Administrasi Kesehatan. Epidemiologi membantu pekerjaan dalam Perencanaan ( Planning ) dari pelayanan kesehatan, Pemantauan ( Monitoring ) dan Penilaian ( Evaluation ) suatu upaya kesehatan. Data yang diperoleh dari pekerjaan epidemiologi akan dapat dimanfaatkan untuk melihat apakah upaya yang dilakukan telah sesuai dengan rencana atau tidak (Pemantauan) dan ataukah tujuan yang ditetapkan telah tercapai atau tidak (Penilaian). Menggambarkan pola-pola penyakit untuk penanggulangan dengan cara perencanaan program pelayanan kesehatan gigi dan mulut masyarakat. Membantu dokter gigi untuk menemukan faktor risiko dan penanggulangan penyakit tertentu pada pasien
PETA KONSEP
PENELITIAN EPIDEMIOLOGI DEFINISI
JENIS
TUJUAN
&
MANFAAT
STATUS KESEHATAN
GiMul
SASARAN BELAJAR
Mahasiswa dapat memahami, mengetahui dan menjelaskan:
1. Metode penelitian epidemiologi, deskriptif, analitik, dan eksperimental.
2. Mengidentifikasi indeks untuk mengukur derajat kesehatan gigi dan mulut pada populasi.
(DMF-t/def-t, OHIS, OHI, CPITN, PUFA/pufa)
3. Faktor – faktor yang berhubungan dengan penyakit gigi dan mulut (waktu, tempat dan orang)
4. Faktor - faktor yang berhubungan dengan penyakit gigi dan mulut yang banyak ditemukan di masyarakat berdasarkan segitiga epidemiologi.
BELAJAR MANDIRI
1. Metode penelitian epidemiologi, deskriptif, analitik, dan eksperimental.
Epidemiologi dapat menggunakan berbagai jenis penelitian. Jenis penelitian epidemiologi seacara umum dibagi menjadi dua:
1) Penelitian Observasional
- Pada penelitian observasional, penliti tidak melakukan/memberikan perlakuan pada subyek penelitian.
- Penelitian observasional dibagi menjadi dua:
a. Deskriptif : case report, case series, studi ekologi/korelasi
o Epidemiologi deskriptif merupakan studi epidemiologi yang bertujuan untuk menggambarkan dan mengevaluasi semua keadaan yang berada di sekitar seseorang yang dapat mempengaruhi sebuah kejadian kesehatan. Indikator yang digunakan dalam epidemiologi deskriptif adalah faktor sosial ekonomi, seperti umur, jenis kelamin, ras, status perkawinan, pekerjaan maupun variabel gaya hidup seperti jenis makanan, pemakaian obat dan perilaku seksual.
o Penelitian ini berfokus pada:
- Frekuensi → digunakan untuk menilai tingkat kejadian
- Pola → digunakan untuk membantu epidemiologi analitik dalam menunjukkan faktor resiko
- Who → siapa saja yang terkena/terpemgaruh - When → kapan mereka terpengaruhi
- Where → dimana mereka terpengaruhi o Tujuan epidemiologi deskriptif:
Memberikan informasi tentang distribusi penyakit dan determinannya menurut populasi, letak geografik serta waktu; Memberikan informasi tentang besarnya beban penyakit (disease burden), dan kecenderungan (trend) penyakit pada populasi yang berguna dalam perencanaan dan alokasi sumber daya untuk intervensi kesehatan; Memberikan pengetahuan tentang riwayat alamiah penyakit;
Merumuskan hipotesis tentang paparan sebagai faktor risiko/ kausa penyakit.
o Manfaat studi epidemiologi deskriptif:
- Relatif murah daripada studi epidemiologi analitik
- Memberikan masukan tentang pengalokasian sumber daya dalam rangka perencanaan yang efisien
- Memberikan petunjuk awal untuk merumuskan hipotesis bahwa suatu variabel merupakan faktor resiko penyakit
Macam-macam penelitian epidemiologi observasional deskriptif:
a) Case report (Laporan kasus)
• Case report merupakan rancangan studi yang menggambarkan kejadian satu kasus baru yang menarik yang dilakukan oleh satu
peneliti atau lebih untuk mendapatkan deskripsi manifestasi klinis, perjalanan klinis, dan prognosis kasus. Case report mendeskripsikan cara klinisi mendiagnosis dan memberi terapi kepada kasus, dan hasil klinis yang diperoleh.
• Kelemahan studi ini adalah tidak ada grup kontrol dan tidak dapat dilakukan studi hipotesa.
b) Case series
• Case series merupakan studi epidemiologi deskriptif tentang serangkaian kasus, yang berguna untuk mendeskripsikan spektrum penyakit, manifestasi klinis, perjalanan klinis, dan prognosis kasus.
• Kelemahan dari desain studi ini adalah dalam memberikan bukti kausal, sebab pada case series tidak dilakukan perbandingan kasus dengan non- kasus.
c) Studi ekologi/korelasi
• Studi korelasi merupakan studi epidemiologi yang bertujuan untuk mendeskripsikan hubungan korelatif antara penyakit dengan karakteristik suatu populasi pada waktu yang sama atau pada populasi yang sama pada waktu yang berbeda.
• Kelebihan dari studi korelasi adalah sangat tepat bila digunakan sebagai dasar penelitian untuk melihat hubungan antara faktor paparan dengan penyakit, karena mudah untuk mendapatkan informasi yang tersedia sehingga dapat muncul hipotesis kausal dan selanjutnya dapat diuji dengan rancangan studi epidemiologi analitik.
• Kelemahan dari studi korelasi adalah mengacu pada populasi (kelompok), sehingga tidak dapat mengidentifikasi kondisi per individu dalam kelompok tersebut, kemudian tidak dapat melakukan kontrol faktor perancu yang potensial.
b. Analitik: desain yang sering digunakan antara lain adalah cross sectional, case control, cohort
o Epidemiologi analitik merupakan studi epidemiologi yang ditujukan untuk mencari faktor-faktor penyebab timbulnnya penyakit atau mencari penyebab terjadinya variasi yaitu tinggi atau rendahnya frekuensi penyakit pada kelompok individu.
o Menjawab pertanyaan why/how
o Tujuan epidemiologi analitik: Menentukan faktor risiko/ faktor pencegah/ kausa/
determinan penyakit; Menentukan faktor yang mempengaruhi prognosis kasus;
Menentukan efektivitas intervensi untuk mencegah dan mengendalikan penyakit pada populasi.
Macam-macam penelitian epidemiologi observasional analitik
a) Studi cross-sectional/potong lintang
• Merupakan rancangan studi epidemiologi yang mempelajari hubungan penyakit dengan paparan secara acak terhadap satu individu dimana faktor pencetus dan status penyakit diteliti pada waktu yang sama.
• Ciri khas penelitian ini: peneliti melakukan observasi/pengukuran variabel pada satu waktu tertentu, status seorang individu atas ada atau tidaknya kedua faktor baik eksposur maupun penyakit dinilai pada waktu yang sama, hanya menggambarkan asosiasi bukan sebab akibat, desain ini dapat dilakukan pada deskriptif dan analitik.
• Tujuan: untuk mempelajari angka kejadian suatu penyakit/prevalensi, mempelajari hubungan antara suatu faktor resiko dengan angka kejadian suatu penyakit.
• Keuntungan: mudah, murah, dilakukan pada satu waktu, dapat meneliti banyak variabel, dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya, menggambarkan hubungan dan kondisi satu penyakit dan pemicunya, mrmungkinkan penggunaan populasi dari masyarakat umum.
• Kerugian: tidak tepat untuk meneliti hubungan kausal antara penyakit dengan pemicunya karena penelitian dilakukan pada satu waktu, hanya akurat bila dilaksanakan pada individu yang representative, tidak dapat dilakukan pada semua kasus, diperlukan subjek penelitian yang besar
b) Studi kohort
• Studi kohort adalah penelitian epidemiologi analitik yang bersifat observasi dimana dilakukan perbandingan antara sekelompok orang yang terkena penyebab (terpapar) dengan sekelompok lainnya yang tidak terkena penyebab (tidak terpapar) kemudian dilihat akibat yang ditimbulkan.
• Ciri-ciri: subjek dibagi atas ada atau tidaknya pemajanan faktor tertentu dan diikuti dalam periode waktu tertentu, untuk mempelajari korelasi antara faktor resiko dan efek, sekelompok subjek yang belum mengalami penyakit atau efek diikuti secara prospektif, dapat dilakukan secara prospektif dan retrospektif.
• Kelebihan: desain terbaik dalam menentukan insiden perjalanan penyakit, desain terbaik dalam menerangkan dinamika hubungan antara faktor resiko dengan efek secara temporal, dapat meneliti beberapa efek sekaligus, baik untuk evaluasi pemajan yang jarang, bias kecil, mendapat incidence rate
• Kekurangan: waktu lama, sarana dan biaya mahal, rumit, kurang efisien untuk kasus yang jarang, terancam drop out akan menganggu analisis, menimbulkan masalah etika, hanya dapat mengamati satu faktor penyebab
c) Studi case control
• Penelitian kasus-kontrol adalah suatu penelitian analitik yang menyangkut bagaimana faktor risiko (PAPARAN) dipelajari menggunakan pendekatan retrospektif dengan membandingkan kelompok kasus dan kelompok kontrol berdasarkan status penyebab penyakitnya.
• Dimulai dengan mengidentifikasi pasien dengan efek atau penyakit tertentu (kelompok kasus) dan kelompok tanpa efek (kelompok kontrol), kemudian
diteliti faktor risiko (PAPARAN) yang dapat menerangkan mengapa kelompok kasus terkena efek, sedangkan kelompok kontrol tidak
• Ciri rancangan case control: subjek dipilih atas dasar apakah mereka menderita (kelompok kasus) atau tidak (kelompok kontrol), diketahui variabel terikat dan ingin diketahui variabel bebasnya, observasi dan pengukuran tidak dilakukan pada saat yang sama.
• Kelebihan: satu-satunya cara untuk meneliti kasus jarang atau yang masa latennya panjang, hasil diperoleh dengan cepat, biaya relatif sedikit, subjek penelitian sedikit, dapat melihat hubungan beberapa penyebab terhadap suatu akibat, adnaya pembatasan/pengendalian faktor resiko
• Kekurangan: sulit menentukan kontrol yang tepat, validasi mengenai informasi kadnag sukar diperoleh, tidak dapat dipakai lebih dari satu variabel independent, tidak dapat diketahui efek variabel luar
2) Penelitian Eksperimental : community trial, clinical trial
Pada penelitian eksperimental, peneliti sengaja memberikan perlakuan pada subyek penelitian. Penelitian ini dikembangkan untuk mempelajari fenomena dalam kerangka korelasi sebab akibat.
a) Rancangan eksperimen murni
• Merupakan suatu bentuk rancangan yang memperlakukan dan memanipulasi subjek penelitian dengan kontrol secara ketat
• Ciri: ada pelakuan, ada randomisasi, semua variabel terkontrol b) Quasi eksperimen (Eksperimen semu)
• Merupakan eksperimen yang dalam mengontrol situasi penelitian tidak terlalu ketat atau menggunakan rancangan tertentu dana tau penunjukkan subjek penelitian tidak secara acak untuk mendapatkan salah satu dariberbagai tingkat faktor penelitian
• Ciri: tidak ada randomisasi, tidak semua variabel terkontrol
- Clinical trial: studi eksperimental yang menggunakan pasien/individu sebagai populasi penelitian
- Field trial: studi eksperimental yang menggunakan orang sehat/individu sebagai populasi penelitian
- Community intervention trial: studi eksperimental yang unit analisis terkecilnya adalah kelompok/bukan individu
2. Mengidentifikasi indeks untuk mengukur derajat kesehatan gigi dan mulut pada populasi. (DMF-t/def-t, OHIS, OHI, CPITN, PUFA/pufa)
Tujuan mengidentifikasi indeks kebersihan rongga mulut:
▪ Mempelajari peidemiologi dari penyakitn periodontal dan kalkulus
▪ Menilai efektivitas menyikat gigi
▪ Menilai kegiatan kesehatan gigi dari masyarakat
▪ Menilai efek segera dan jangka panjang dari program pendidikan kesehatan gigi 1) DMF-T
• Studi epidemiologis tentang karies gigi menggunakan indeks angka DMF-T untuk gigi permanen. Indeks DMF-T adalah suatu indeks yang digunakan untuk menunjukkan jumlah/tingkat pengalaman karies gigi permanen pada seseorang/suatu komunitas. Untuk melihat karies gigi dapat digunakan kaca mulut untuk melihat ada atau tidaknya gigi yang berlubang, serta sonde untuk menentukan dan mengukur kedalaman karies.
• Guna indeks DMF-T:
- Untuk melihat status karies gigi
- Untuk perencanaan upaya promotif dan preventif - Untuk merencanakan kebutuhan perawatan
- Untuk membandingkan status pengalaman karies gigi masyarakat dari satu daerah dengan daerah yang lain dana tau membandingkan sebelum dan sesudah program berjalan.
- Untuk memantau perkembangan status pengalaman karies individu.
• DMF-T terdiri dari:
D: Decayed → gigi karies yang masih dapat ditambal termasuk gigi dengan sekunder karies. Decay ini diperiksa dengan menggunakan sonde yang tersangkut pada permukaan gigi. Yang termasuk dalam D:
- Karies pada pit dan fisur maupun permukaan halus gigi - Ada kerusakan lunak pada dasar dan dinding kavitas - Enamel undermined
- Tumpatan sementara - Karies sekunder
- Karies pada permukaan akar gigi
M: Missing → gigi karies yang sudah hilang atau gigi karies yang mempunyai indikasi pencabutan. Yang termasuk dalam missing: gangrene pulpa, pulpitis kronis, nekrosis pulpa yang sudah tidak dapat dirawat lagi, gangren radix
F: Filling → gigi karies yang sudah ditambal/sekunder karies. Yang termasuk dalam F adalah tambalan tanpa sekunder karies dan gigi dengan mahkota palsu.
T: Tooth → gigi permanen
• Indeks DMF-T yang dikeluarkan WHO bertujuan untuk menggambarkan pengalaman karies seseorang atau dalam populasi. Perhitungan DMF-T berdasarkan pada 28 gigi permanen atau semua gigi diperiksa kecuali molar tiga karena biasanya gigi tersebut sudah dicabut dan kadang-kadang tidak berfungsi.
• Nilai DMF-T adalah penjumlahan D+M+F. hal yang perlu diperhatikan pada DMF-T:
- Semua gigi yang mengalami karies dimasukkan dalam kategori D
- Karies sekunder yang terjadi pada gigi depan tumpatan permanen dimasukkan ke dalam kategori D
- Semua gigi yang hilang atau dicabut karena karies dimasukkan kategori M
- Gigi yang hilang akibat penyakit periodontal, dicabut untuk kebutuhan perawatan orthodonti tidak dimasukkan dalam kategori M
- Semua gigi dengan tumpatan permanen dimasukkan dalam kategori F
- Gigi yang sedang dalam perawatan saluran akar dimasukkan dalam kategori F
- Pencabutan normal selama masa pergantian gigi geligi tidak dimasukkan dalam kategori M
• Rumus yang digunakan dalam menghitung DMF-T:
DMF-T : D + M +F
DMF-T rata-rata : jumlah D + M + F / Jumlah orang yang diperiksa
2) def-t
• Studi epidemiologis tentang karies gigi menggunakan indeks angka def-t untuk gigi sulung. Untuk kriteria def-t sama dengan komponen DMF-T, perbedaannya adalah dilakukan pada gigi sulung (WHO, 2006):
d: decayed (gigi karies yang masih dapat ditumpat)
e: extracted (gigi yang telah atau harus dicabut karena karies) f: filling (gigi karies yang sudah ditumoat)
t: tooth (gigi sulung)
• Perhitungan def-t berdasarkan padaa 20 gigi sulung untuk fase gigi sulung, kemudian dicatat banyaknya gigi yang dimasukkan dalam klasifikasi d,e,f.
Kategori DMF-T dan def-t menurut WHO:
0,0 – 1,1 = sangat rendah 1,2 – 2,6 = rendah 2,7 – 4,4 = sedang 4,5 – 6,5 = tinggi
>6,6 = sangat tinggi
Hal-hal lain yang perlu diperhatikan dalam melakukan penilaian menggunakan indeks DMF-T dan def-t menurut WHO:
- Apabila ada gigi yang ditambal sementara, maka gigi tersebut termasuk kriteria D/d - Apabila ada gigi mempunyai 1 atu lebih tambalan, sedangkan permukaan lainny
aberkaries, maka gigi tersebut termasuk dalam kriteria D/d
- Apabila ada gigi yang telah ditambal dan timbul karies sekunder di sekelilingnya, maka gigi tersebut termasuk dalam kriteria D/d
- Apabila ada tambalan preventif, misalnya penutupan pit dan fisur, maka gigi tersebut tidak termasuk kriteria F/f
3) OHI-S (Oral Hygiene Index Simplified)
• OHI-S adalah indeks yang digunakan untuk mengukur daerah permukaan gigi yang tertutup oleh debris dan kalkulus, terdiri dari pengukuran debris index simplified (DI-S) dan calculus index simplified (CI-S). Debris index merupakan nilai (skor) yang diperoleh dari hasil pemeriksaan terhadap endapan lunak di permukaan gigi yang dapat berupa plak, material alba, dan food debris. Sedangkan calculus index merupakan nilai (skor) dari endapan keras yang terjadi akibat pengendapan garam-garam anorganik yang komposisi utamanya adalah kalsium karbonat dan kalsium posfat yang bercampur dengan debris, mikroorganisme, dan sel-sel ephitel deskuamasi.
• Rumus OHI-S = DI-S + CI+S. Skala masing-masing komponen adalah 0 – 3.
• Bagian – bagian permukaan gigi yang diperiksa adalah:
- Gigi 16 pada permukaan bukal - Gigi 11 pada permukaan labial - Gigi 26 pada permukaan bukal - Gigi 36 pada permukaan lingual - Gigi 31 pada permukaan labial - Gigi 46 pada permukaan lingual
• Permukaan yang diperiksa adalah permukaan gigi yang jelas terlihat dalam mulut. Gigi index yang tidak ada pada suatu segmen akan dilakukan penggantian gigi tersebut dengan ketentuan sebagai berikut:
- Jika gigi molar pertama tidak ada, penilaian dilakukan pada molar kedua, jika gigi molar pertama dan kedua tidak ada, penilaian dilakukan pada molar ketiga akan tetapi jika molar pertama, kedua, dan ketiga tidak ada maka tidak ada penilaian untuk segmen tersebut.
- Jika gigi insisif pertama kanan atas tidak ada, dapat diganti dengan gigi insisif kiri dan jika gigi insisif kiri bawah tidak ada, dapat diganti dengan gigi insisif pertama kanan bawah, akan tetapi jika gigi insisif pertama kiri atau kanan tidak ada, maka tidak ada penilaian untuk segmen tersebut.
- Gigi index dianggap tidak ada pada keadaan-keadaan seperti: gigi hilang karena dicabut, gigi yang merupakan sisa akar, gigi yang merupakan mahkota jaket, baik yang terbuat dari akrilik maupun logam, mahkota gigi sudah hilang atau rusak lebih dari 1⁄2 bagiannya pada permukaan index akibat karies maupun fraktur, gigi yang erupsinya belum mencapai 1⁄2 tinggi mahkota klinis.
- Penilaian dapat dilakukan jika minimal dua gigi index yang diperiksa
• Cara pengukuran debris adalah masing-masing permukaan gigi diperiksa dibagi tiga bagian secara horizontal yaitu bagian gingiva, bagian tengah (midline) dan bagian incisal.
Keterangan:
1) Skor 0 : tidak ada debris
2) Skor 1 : debris lunak atau terdapat ekstrinsik stain tanpa debris menutupi tidak lebih dari 1/3 permukaan gigi
3) Skor 2 : debris lunak menutupi lebih dari 1/3 permukaan gigi namun tidak lebih dari 2/3 permukaan gigi yang diperiksa
4) Skor 3 : debris lunak menutupi lebih dari 2/3 permukaan yang diperiksa
• Cara pengukuran indeks kalkulus sama halnya dengan pengukuran indeks debris, masing- masing permukaan gigi diperiksa dibagi tiga bagian secara horizontal yaitu bagian gingiva, bagian tengah (midline) dan bagian incisal.
Keterangan:
1) Skor 0 : tidak ada kalkulus
2) Skor 1 : kalkulus supragingiva menutupi tidak lebih dari 1/3 permukaan gigi 3) Skor 2 : kalkulus supragingiva menutupi lebih dari 1/3 permukaan gigi tetapi
tidak lebih dari 2/3 permukaan gigi yang diperiksa atau adanya bercak kalkulus subgingiva sekeliling bagian servikal gigi
4) Skor 3 : kalkulus supragingiva menutupi lebih dari 2/3 permukaan yang diperiksa atau adanya pita tebal yang tidak terputus dari kalkulus subgingiva sekeliling servikal gigi yang diperiksa.
• Kriteria penilaian debris dan calculus sama, yaitu mengikuti ketentuan sebagai berikut : 1. Baik : jika nilainya antara 0-0,6
2. Sedang : jika nilainya antara 0,7-1,8 3. Buruk : jika nilainya antara 1,9-3,0
• Kriteria tingkat keparahan kebersihan gigi dan mulut (OHI-s menurut standar WHO:
Nilai 0,1 – 0,2 : baik Nilai 1,3 – 3,0 : sedang Nilai 3,1 – 6,0 : buruk 4) OHI
• OHI adalah indeks untuk mengukur daerah permukaan gigi yang tertutup oleh debris dan kalkulus, dengan demikian OHI merupakan penjumlahan dari Debris Index dan Calculus Index. Setiap indeks menggunakan skala nilai 0-3
• Pada penilaian OHI semua gigi diperiksa baik RA maupun RB. Tiap rahang dibagi menjadi 3 segmen:
1. Segmen pertama, mulai dari distal C sampai M3 kanan RA 2. Segmen kedua, diantara C kanan kiri
3. Segmen ketiga, mulai dari mesial C sampai M3 kiri
Setelah semua gigi diperiksa, piluh gigi yang paling kotor dari setiap segmen
• Perhitungan DI dan CI : (total skor bukal RA dan RB + total skor lingual RA dan RB)/jumlah segmen
• OHI = DI + CI
• Kriteria skor OHI:
- 0,0 – 2,4 = baik - 2,5 - 6 = cukup
- 6,1 – 12 = buruk -
5) CPITN (Indeks kebutuhan perawatan periodontal komunitas (Community periodontal Index Treatment needs – CPITN )
• Definisi
CPITN ialah indeks untuk mengukur kebutuhan perawatan penyakit periodontal dan juga merekomendasikan jenis perawatan yang dibutuhkan untuk mencegah penyakit periodontal. CPITN adalah suatu survey akan kebutuhan perawatan periodontal yang memberi informasi tentang prevalensi dan keparahan penyakit periodontal. CPITN mempunyai keuntungan dalam penggunaanya yakni lebih sederhana, cepat dan akurat dibanding dengan Periodontal Index dalam hal mengidentifikasi keparahan penyakit dan kebutuhan perawatan dengan menggunakan periodontal probe sehingga lebih spesifik.
Kelemahannya adalah pencatatan CPITN hanya berdasar pada indeks gigi, dan mungkin over estimate terhadap tingkat keparahan, tidak melibatkan attachment loss yang
menggambarkan periodontitis pada saat dahulu atau sekarang dan kesalahan dalam penomoran sekstan yang akan merubah klasifikasi setelah perawatan.
Terdapat indikator status periodontal yang digunakan dalam penilaian ini, yaitu:
1. Skor 0 tidak ada poket atau perdarahan gingiva pada saat penyondean.
2. Skor 2 perdarahan gingiva pada saat penyondean.
3. Skor 2 kalkulus supra dan subgingiva.
4. Skor 3 poket sedalam 3,5-5,5 mm.
5. Skor 4 poket periodontal dengan kedalaman 6 mm.
• Tujuan
1. Untuk mendapatkan data tentang status periodontal masyarakat.
2. Untuk merencanakan program kegiatan penyuluhan.
3. Untuk menentukan kebutuhan perawatan yang meliputi jenis tindakan, besar, beban kerja dan kebutuhan tenaga
4. Memantau kemajuan kondisi periodontal individu.
• Prinsip kerja CPITN
1. Menggunakan sonde khusus ( WHO Periodontal Examining Probe )
Pada pengukuran CPITN digunakan sonde khusus yang dinamakan sonde WHO probe yang mempunyai sonde khusus, yaitu ujungnya berbentuk bulat dengan diameter 0,5 mm dan mempunyai kode warna dari 3,5 sampai 5,5 mm. Dengan bentuk yang khusus dari probe WHO, probe ini dapat dipakai sebagai alat perasa (sensing instrument) atau explorer, untuk mengetahui ada tidaknya perdarahan, untuk menegetahui ada tidaknya kalkulus, mengetahui ada tidaknya poket dan untuk mengetahui kualitas kedalaman poket.
2. Menggunakan 6 buah sektan
Untuk memperoleh penilaian CPITN dipergunakan sextan yang meliputi 6 region, yaitu :
a. Sextan 1 : gigi 4,5,6,7 ka RA b. Sextan 2 : gigi 1,2,3ki /ka RA c. Sextan 3 : gigi 4,5,6,7 ki RA d. Sextan 4 : gigi 4,5,6,7 ka RB e. Sextan 5 : gigi 4,5,6,7 ka RB f. Sextan 6 : gigi 4,5,6,7 ki RB
Suatu sextan dapat diperiksa jika terdapat paling sedikit 2 gigi dan bukan merupakan indikasi untuk pencabutan. Jika pada sextan tersebut hanya ada satu gigi,gigi tersebut dimasukkan ke sextan sebelahnya. Pada sextan yang tidak bergigi, tidak diberi skor. Penilaian untuk sextan adalah keadaan yang terparah / skor tertinggi
3. Menggunakan gigi indeks
Gigi indeks yang harus diperiksa pada penilaian CPITN bergantung dari umur individu. Ada 3 kelompok untuk pengukuran ini yaitu, kelompok yang berumur 20 tahun atau lebih, kelompok umur 16 sampai 19 tahun, dan kelompok berumur kurang dari 15 tahun.
Berkaitan dengan indeks gigi beserta kemungkinan skor yang diperoleh pada pengukuran CPITN, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
a. Jika salah satu gigi molar maupun gigi insisif tidak ada, tidak perlu dilakukan penggantian gigi tersebut.
b. Jika dalam sextan tidak terdapat gigi indeks, semua gigi yang ada dalam sextan tersebut diperiksa dan dinilai. Diambil yang mempunyai keadaan yang terparah yang mempuyai skor tertinggi yang terdapat di sextan tersebut.
c. Untuk ada muda usia 19 tahun ke bawah, tidak perlu dilakukan pemeriksaan gigi molar dua. Hal ini dilakukan menghindari terjadinya poket palsu.
d. Untuk anak muda 15 tahun dan ke bawah, pencatat hanya dilakukan bila ada perdarahan dan karang gigi saja.
e. Bila tidak ada gigi indeks atau gigi pengganti, sextan tersebut di beri tanda x.
4. Menggunakan skor untuk menilai tingkatan kondisi jaringan periodontal
5. Penentuan relasi skor tertinggi dengan KKP (Kategori kebutuhan perawatan), tenaga dan tipe pelayanan
Semua sistem, termasuk CPITN mempunyai keterbatasan sebagai berikut:
1. Kriteria umum subjektif dan terdapat variasi yang cukup besar pada penilaian oleh pemeriksa dalam derajat inflamsi dan kedalaman poket atau kerusakan perlekatan.
2. Sistem skor pada dasarnya ditentukan secara acak dan masih belum ada standar atau rekomendasi internasional dari data CPITN.
3. Penggunaan gigi indeks dan adanya kalkulus tiap sextan pada setiap individu dapat menimbulkan estimasi yang berlebihan untuk kebutuhan.
6) PUFA
Indeks PUFA adalah indeks yang digunakan untuk mengevaluasi kondisi rongga mulut yang merupakan akibat dari karies yang tidak terawat. Indeks PUFA diberi skor seperti, jika terdapat keterlibatan Pulpa gigi (P), Ulserasi jaringan lunak (U), Fistula (F) dan Abses (A).
Indeks PUFA dapat menilai tingkat keparahan penyakit gigi dan mulut akibat karies yang tidak ditangani dengan baik berdasarkan kriteria indeks PUFA:
1. P: Pulp involvement yaitu gigi berlubang dengan ruang pulpa terbuka serta terlihat atau bagian mahkota gigi telah mengalami kerusakan akibat proses karies gigi.
2. U: Ulserasi, Ulser yaitu bila terdapat ulserasi traumatik di sekitar jaringan lunak (misal lidah atau mukosa bukal) akibat permukaan yang tajam pada gigi yang mengalami dislokasi dengan keterlibatan pulpa atau fragmen akar sebagai sekuel infeksi odontogenik.
3. F: Fistel, yaitu bila terdapat jalan keluar untuk pus pada gigi dengan keterlibatan pulpa.
4. A: Abses, bila terdapat pembengkakan mengandung pus pada gigi dengan keterlibatan pulpa.
Penilaian tingkat keparahan penyakit gigi dan mulut dengan indeks PUFA dengan cara visual.
Skor PUFA dijumlahkan sesuai dengan kriteria diagnostik PUFA yang ditemukan (P + U + F + A). Tiap gigi diberi satu skor, P atau U atau F atau A. Pada seorang individu, skor pufa dapat berkisar 0-20 untuk gigi desidui dan skor PUFA 0-32 untuk gigi permanen.
3. Faktor – faktor yang berhubungan dengan penyakit gigi dan mulut (waktu, tempat dan orang)
1. Orang o Umur
Angka kesakitan atau kematian selalu berhubungan dengan umur:
1. Kondisi seseorang merupakan. fungsi dan proses umur: Misal perkembangan fisiologis,imunitas dengan bertambahnya umur dll.
2. Perubahan kebiasaan dan jenis makanan yang dikonsumsi.
3. Perubahan daya tahan tubuh, misalnya karena pekerjaan. Disebabkan pada waktu muda daya tahan tubuh tinggi, kemudian menurun setelah tua.
4. Adanya alat diagnostik yang lengkap untuk golongan umur tertentu.
o Jenis kelamin
Umumnya angka kematian tinggi pada laki-laki karena mereka tidak merasakan bila penyakitnya masih ringan, memeriksakan pada saat sudah parah. Angka kesakitan tinggi pada wanita. Dugaan:
1. Faktor hormonal
2. Lingkungan bergaul/kerja: mengisap rokok, minuman keras, pekerja berat.
3. Kemungkinan di AS wanita Iebih bebas mencari sarana pengobatan.
o Kelas sosial
Variabel yang menggambarkan kelas sosial adalah pendidikan, pekerjaan, penghasilan, tempat tinggal Faktor-faktor ini mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, misal: pemeliharaan kesehatan, dana untuk berobat, sanitasi lingkungan, gizi dll.
o Jenis pekerjaan
Lingkungan kerja yang khusus misal : Pabrik gas, bahan kimia. Situasi kerja yang penuh dengan stres dan ketegangan. Gerak badan yang kurang. Penularan penyakit karena bekerja pada ruangan yang sempit.
o Penghasilan
Penghasilan seseorang berhubungan dengan pemanfaatan fasilitas kesehatan gigi, maupun kebiasaan untuk menjaga kebersihan gigi.
o Golongan Etnik
a) Berkaitan Gaya hidup b) Kebiasaan makan c) Susunan genetik
d) Sickle sel anemia pada orang negro
e) Ewing’s sarcoma tidak pemah dilaporkan pada negro.
o Status perkawinan
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa angka mortalitas lebih rendah terjadi pada orang-orang yang menikah dibanding dengan orang-orang bujang, karena ada kecenderungan orang yang tidak kawin lebih sering berhadapan dengan penyebab penyakit atau adanya perbedaan gaya hidup (life style). Pendapat ahli mengatakan bahwa seseorang dengan status tidak kawin memiliki pola hidup yang kurang sehat dalam mencari makan, waktu tidur dan hubungan dengan wanita.
o Besar keluarga/struktur keluarga
Berhubungan dengan penghasilan keluarga yang kecil karena harus dibagibagi.
o Paritas
Paritas rendah lebih baik ditinjau dari segi keuangan untuk keluarga maupun kesehatan ibu dan anak.
o Faktor Genetik
Berbagai faktor genetik dapat melatarbelakangi terjadinya penyakit:
- Hemophilia, retmoblastoma, karies.
- Sickle sel memberi ketahanan pada plasmodium falciparum
- Gol darah A meningkatkan resiko terjadinya kanker lambung karena masalah genetik luas Epidemiologi genetik.
2. Tempat/place
Distribusi geografis dari suatu penyakit sangat berguna untuk perencanaan pelayanan kesehatan dan dapat memberikan penjelasan mengenai etiologi penyakit. Perbandingan pola penyakit sering dilakukan sebagai berikut :
▪ Batas-batas daerah pemerintahan
▪ Perkotaan dan pedesaan
▪ Daerah berdasarkan pada batas-batas alam seperti : pegunungan, pantai, sungai, dan lain-lain
▪ Negara-negara
▪ Regional 3. Waktu/time
Perubahan penyakit berdasarkan pekembangan waktu penting dalam upaya mencari etiologi suatu penyakit. Berdasarkan panjangnya waktu dibedakan:
a. Perubahan jangka pendek.
Perubahan angka kesakitan berlangsung beberapa jam, hari, minggu dan bulan, artinya dalam jangka waktu tersebut terjadi peningkatan jumlah penderita penyakit.
Misal, epidemi keracunan makanan (beberapa jam), epidemi influenza (beberapa hari minggu), epidemi cacar (bulanan).
b. Perubahan secara siklis
Perubahan secara siklis adalah keadaan dimana timbulnya dan memuncaknya angka- angka kesakitan atau kematian terjadi berulangulang tiap beberapa bulan, tiap tahun, atau setiap beberapa tahun.
Sebagai contoh, belum dapat diterangkan secara pasti mengapa wabah influensa A bertendensi untuk timbul setiap 2-3 tahun, mengapa influensa B timbul setiap 4-6 tahun, mengapa wabah campak timbul 2-3 tahun (di Amerika Serikat). Sebagai salah satu sebab yang mungkin ialah berkurangnya penduduk yang kebal (meningkatnya kerentanan) dengan asumsi faktor-faktor lain tetap.
c. Perubahan Sekuler
Perubahan sekuler adalah perubahan angka kesakitan atau kematian suatu penyakit didalam jangka waktu yang panjang, berpuluh puluh atau ratusan tahun. Penyelidikan mengenai kecenderungan di negara-negara maju seperti Amerika Serikat telah dilakukan antara lain penyakit-penyakit tb, tipus abdominalis, influensa, pneumonia, difteni, gastritis, duodenitis, entenitis, kolitis, penyakit-penyakit jantung, kanker paru, kanker prostat, kanker usus besar, kanker lambung, hepatitis virus, sirosis hepatis, kolera, leukemia, serta kecelakaan-kecelakaan, dan bahkan umur mulai menstruasi.
Kemungkinan untuk menerangkan perubahan-perubahan ini adalah adanya program intervensi terhadap penyakit-penyakit tersebut.
Faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit gigi dan mulut
Berdasarkan teori Blum, status kesehatan gigi dan mulut seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor penting yaitu keturunan, lingkungan (fisik maupun sosial budaya), perilaku, dan pelayanan kesehatan. Dari keempat faktor tersebut, perilaku memegang peranan yang penting dalam mempengaruhi status kesehatan gigi dan mulut. Di samping mempengaruhi status kesehatan gigi dan mulut secara langsung, perilaku dapat juga mempengaruhi faktor lingkungan dan pelayanan kesehatan. Sehubungan dengan pendapat di atas, maka frekuensi membersihkan gigi dan mulut sebagai bentuk perilaku akan mempengaruhi baik atau buruknya kebersihan gigi dan mulut, di mana akan mempengaruhi juga angka karies. Kemampuan menyikat gigi dengan baik dan benar merupakan faktor yang penting dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut.
Selain faktor dari jenis kelamin, usia, pengetahuan, dan pekerjaan, faktor lain yang berpengaruh adalah faktor sosial masyarakatnya. Dilihat dari kurangnya sarana kesehatan gigi dan mulut yang
ada disekitar pemukiman warga dan kurangnya tenaga medis yang diharapkan dapat melayani masyarakat secara maksimal.
4. Faktor faktor yang berhubungan dengan penyakit gigi dan mulut yang banyak ditemukan di masyarakat berdasarkan segitiga epidemiologi.
Model segitiga epidemiologi
Dari hasil interaksi host, agent dan environment berpeluang untuk terjadi penyakit gigi dan mulut dan kemudian berkembang dan menyebar. Model tradisional epidemiologi atau segitiga epidemiologi menyebutkan bahwa timbul atau tidaknya penyakit pada manusia dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu host, agent, dan environment.
1. Penyakit timbul karena ketidakseimbangan atara agent (penyebab) dan manusia (host).
2. Keadaan keseimbangan bergantung pada sifat alami dan karakteristik agent dan host (baik individu maupun kelompok).
3. Karakteristik agent dan host akan mengadakan interaksi, dalam interaksi tersebut akan berhubungan langsung dengan keadaan alami dari lingkungan (lingkungan sosial, fisik, ekonomi, dan biologis).
- Pejamu (host) adalah semua faktor yang terdapat pada manusia yang dapat mempengaruhi timbulnya perjalanan penyakit. Faktor-faktor yang memegang peranan penting dalam proses kejadian penyakit pada penjamu adalah:
1. Faktor keturunan. Ada beberapa penyakit keturunan yang dapat ditularkan dari kedua orang tua (misalnya penyakit asma, diabetes melitus).
2. Mekanisme kekebalan tubuh/imunitas 3. Imunitas didapat (dengan intervensi)
4. Herd immunity (kekebalan kelompok). Yang berpengaruh dalam timbulnya suatu penyakit pada suatu kelompok di suatu populasi. Orang yang terkena varisela akan mempunyai kekebalan terhadap varisela.
5. Usia. Terdapat penyakit pada usia tertentu (misalnya penyakit difteri atau campak akan menyerang anak-anak balita).
6. Jenis kelamin. Terdapat penyakit yang menyerang jenis kelamin tertentu (misalnya kanker prostat pada pria dan kanker serviks pada wanita).
7. Ras (perbedaan cara, nilai sosial, dan faktor genetika)
8. Sosial ekonomi (cara hidup, tingkat pendidikan, dan ekonomi) 9. Status perkawinan (mortalitas berkaitan dengan status perkawinan) 10. Penyakit terdahulu (penyakit kronis lebih rentan terhadap suatu infeksi)
11. Gaya hidup berkaitan dengan sosial-ekonomi, tingkat pendidikan, ras, dan golongan etnis.
12. Hereditas (berkaitan dengan ras)
13. Nutrisi (sistem pertahanan tubuh secara umum)
- Bibit penyakit (agent) adalah suatu substansi tertentu yang keberadaannya atau ketidakberadannya diikuti kontak efektif pada manusia dapat menimbulkan penyakit atau mempengaruhi perjalanan suatu penyakit. Macamnya berupa golongan biotis (unsur hidup) dan golongan-abiotis (unsur mati). Golongan biotis terdiri dari: Mikroorganisme (virus, bakteri, jamur), Non mikroorganisme (protozoa, metazoa/cacing), Tumbuhan (fungi atau jamur). Penyakit yang ditimbulkan oleh kelompok biotis ini disebut dengan penyakit infeksi yang sifatmya menular dan tidak menular. Golongan a-biotis terdiri dari:
Golongan kimiawi (pestisida, bahan pengawet makanan, obat- obatan, limbah industri) , Golongan fisik (panas, sinar, radiasi, suara, getaran, objek yang bergerak cepat), Golongan mekanik (kecelakaan lalu lintas, pukulan), golongan nutrien (karbohidrat,
protein, lemak) yang bila manusia mengalami kekurangan atau kelebihan akan mengakibatkan penyakit.
- Environment (lingkungan) adalah segala sesuatu yang berada di sekitar manusia yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan manusia. Lingkungan terbagi atas tiga macam:
Model segitiga epidemiologi mutakhir
Model yang baru ini mencakup semua aspek dalam model penyakit menular, dan agar dapat dipakai bersama penyebab kematian, kondisi, gangguan, defek, dan kematian saat ini, model tersebut harus dapat mencerminkan penyebab penyakit dan kondisi saat ini. Dengan demikian, perilaku, faktor-faktor gaya hidup, penyebab di lingkungan, unsur ekologi, faktor fisik dan penyakit-penyakit kronis harus diperhitungkan. Model mutakhir dari segitiga epidemiologi ini, seperti segitiga epidemiologi tradisional, tidak menyeluruh dan lengkap. Namun model mutakhir tersebut memperlihatkan bahwa kondisi dan status penyakit yang mempengaruhi populasi memang kompleks dan bahwa penyebab penyakit terdiri dari banyak faktor. Selain itu, model juga memperlihatkan bahwa banyak faktor dan elemen yang berkontribusi dalam kejadian dan kesakitan di masyarakat. Konsep agents digantikan dengan faktor penyebab, yang menyiratkan perlunya dilakukan identifikasi terhadap faktor penyebab atau faktor etiologi penyakit, ketidakmampuan, cedera, dan kematian.
Contoh pada penyakit gigi dan mulut
Karies gigi adalah suatu penyakit yang merupakan interaksi dari 4 faktor.
- Agen (penyebab) : mikroorganisme yaitu streptococcus mutans - Host (pejamu) : Gigi
WAKTU Faktor penyebab
- Lingkungan - Perilaku - Budaya
- Faktor fisiologis - Unsur ekologi
- Populasi dan
kharakteristiknya
Gigi yang memiliki susunan berjejal/crowded dan sling tumpang tindih/overlapping mendukung timbulnya karies. Permukaan gigi yang sering terpapar adalah permukaan yang berfisur, permukaan halus, permukaan akar dan sekitar tumpatan.
- Enviroment (lingkungan) : saliva, GCF, fluor, substrat (campuran makanan halus dan minuman yang menempel dipermukaan gigi)
- Time (Waktu)
DAFTAR PUSTAKA
1. Murti B. Desain studi. Matrikulasi Progr Stud Doktoral Kedokt - FKUNS. 2012;1–13.
2. Dudiarto, Eko, and Dewi Anggraeni. "Epidemiologi." EGC, 2003.
3. AMALIA, FLORIN, Novita Idayani, and Tyas Hestiningsih. PERBANDINGAN TINGKAT KEPARAHAN KARIES ANAK USIA 12 TAHUN PADA ETNIS ARAB DENGAN ETNIS CINA (STUDI CROSS SECTIONAL DI SD ADABIYAH DAN SD XAVERIUS 4 PALEMBANG). Diss. Sriwijaya University, 2018.
4. Narulita L, Diansari V, Sungkar S. Oral hygiene index simplified (OHI-S) pada murid kelas IV SD Negeri 24 Kuta Alam. Journal Caninus Dentistry. 2016 Nov 9;1(4):6-8.
5. Kokoceva-Ivanovska OR, Sarakinova O, Zabokova-Bilbilova E, Mijoska AN, Stavreva N. Oral Hygiene Index in Early Childhood Caries, Before and After Topical Fluoride Treatment. Open access Macedonian journal of medical sciences. 2018 Feb 15;6(2):378.
6. Wilis RS, Sudirman PL, Sawitri AS. Kebutuhan perawatan periodontal pada remaja usia 15-18 tahun di SMAN Semarapura, Klungkung. Bali Dental Journal. 2017 Jul 9;1(2).
7. Ermawati T, Sari DS, Melok M. STATUS KESEHATAN PERIODONTAL DAN TINGKAT KEBUTUHAN PERAWATAN PASIEN YANG DATANG KE KLINIK
PERIODONSIA RSGM UNIVERSITAS JEMBER TAHUN 2011.
STOMATOGNATIC-Jurnal Kedokteran Gigi. 2015 Dec 15;9(2):86-9.
8. Jain K, Singh B, Dubey A, Avinash A. Clinical assesment of effects of untreated dental caries in school going children using PUFA index. Chettinad Health City Med. J 2005; 3:
105-8.
9. Hameed, Najeeha Binti Mohd Shaul. "Hubungan Antara Status Karies (DMFT dan PUFA) Terhadap Indeks Massa Tubuh pada Anak Usia 12-14 Tahun di Kecamatan Medan Petisah dan Medan Selayang." (2016)
10. Utami SN. Hubungan Perilaku Pemeliharaan Kesehatan Gigi dan Mulut dengan Keparahan Penyakit Pulpa Menggunakan Indeks PUFA pada Siswa MTsS Zending Islam Indonesia Medan Tahun 2020 (Cross-Sectional Study).
11. Julianti R, Dharma M, Erdaliza AD, Fahmi F, Laila A. Gigi dan Mulut. Tutorial.
University of Riau: Riau. 2008.
12. Siagian A. Epidemiologi gizi. Jakarta: Erlangga. 2010:22-31.
13. Jordan RA, Bodechtel C, Hertrampf K, Hoffmann T, Kocher T, Nitschke I, Schiffner U, Stark H, Zimmer S, Micheelis W. The Fifth German Oral Health Study (Fünfte Deutsche Mundgesundheitsstudie, DMS V)–rationale, design, and methods. BMC oral health. 2014 Dec 1;14(1):161.
14. Anitasari S, Rahayu NE. Hubungan frekuensi menyikat gigi dengan tingkat kebersihan gigi dan mulut siswa sekolah dasar negeri di kecamatan Palaran kotamadya Samarinda provinsi Kalimantan Timur. Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi). 2005 Jun 1;38(2):88-90.
15. Priyono B. Buku Ajar Epidemiologi untuk Kesehatan Gigi. Yogyakarta: Bagian Gigi Pencegahan dan Kesehatan Gigi Masyarakat FKG UGM. Sumber: http://elisa. ugm. ac.
id/user/archive/downlo ad/28062 [diakses tanggal 27 Januari 2014].