• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN BBDM KELOMPOK SKENARIO 1 MODUL 7.3

N/A
N/A
Nia Damayanti

Academic year: 2023

Membagikan "LAPORAN BBDM KELOMPOK SKENARIO 1 MODUL 7.3"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN BBDM KELOMPOK SKENARIO 1 MODUL 7.3

Disusun oleh:

Kelompok 3

Elly Fatmawati 22010218120017 R.A Nida Zhafarina S. 22010218120018 Fandy Gunawan W. 22010218120019 Noni Anggraeni P. D. 22010218120020 Emeralda Nur M. J 22010218120021 Annasya Namillania 22010218120022 Raden Roro Syafitrina W. 22010218120023 Indryasari 22010218130027 Dimas Muhtadi M. 22010218130028 Aldila Surya A. D. 22010218130029 Elisha Aftalacha 22010218130030

Dosen Pembimbing:

drg. Gunawan Wibisono, M.Si.Med

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS DIPONEGORO 2021

(2)

Kasus Skenario 1

Seorang pasien An. N, perempuan, berusia 9 tahun datang bersama ibunya dengan keluhan tumbuhnya gigi yang double pada gigi depan bagian bawahnya. Riwayat penyakit dan pemeriksaan subyektif lain dapat ditanyakan pada pasien (081390248148). Pemeriksaan obyektif selengkapnya dapat diliat pada dokumentasi kasus.

Foto kasus klinis :

Sasaran belajar

1. Mahasiswa melakukan pemeriksaan subjektif dan obyektif untuk menentukan diagnosis 2. Mampu menentukan diagnosis, DD, dan diagnosis banding.

3. Mampu menentukan pengelolaan kasus 4. Mampu menyusun rekam medis sesuai kasus Belajar Mandiri

1. Pemeriksaan subjektif dan obyektif untuk menentukan diagnosis a. Subjektif1,2

1) Identitas

Berisikan nama, umur, jenis kelamin, alamat, Pendidikan, status pernikahan, anak, dan nomer telepon.

2) Keluhan utama

Alasan utama pasien mencari bantuan pengobatan. Keluhan utama dapat dianalisis dalam bentuk tujuh dimensi yang biasa disebut dengan the scared seven yang berisi:

1) Location (Lokasi)

Tanyakan lokasi keluhannya dan tanyakan pula penyebaran keluhan tersebut ke tempat lain.

2) Quality (Kualitas)

Tanyakan bagaimana bentuk keluhannya dan sifat khasnya.

(3)

3) Chronology/timing (Kronologi)

Tanyakan perjalanan penyakit sejak timbul keluhan pertama kali sampai saat wawancara dilakukan.

4) Severity (Kuantitas) Tanyakan beratnya keluhan.

5) Setting/onset

Tanyakan kapan mulai timbul keluhan tersebut untuk pertama kali.

6) Modifyng factors

Tanyakan faktor-faktor yang memperberat atau memperingan keluhan tersebut.

7) Assosiated symptoms

Tanyakan keluhan yang berkaitan atau menyertai.

3) Riwayat medis

Hal yang perlu ditanyakan pada pasien mengenai riwayat medis yaitu:

1) Kondisi pasien yang dapat mempengaruhi metode perawatan;

2) Kondisi pasien yang dapat mempengaruhi rencana perawatan;

3) Kondisi sistemik pasien yang bermanifestasi pada oral;

4) Kondisi pasien yang memungkinkan adanya faktor resiko untuk dokter gigi maupun tenaga kesehatan lain.

4) Riwayat dental

Hal yang perlu ditanyakan pada pasien mengenai riwayat dental yaitu:

1) Riwayat periodontal dan kebersihan mulut;

2) Riwayat restoratif: tambalan;

3) Riwayat endodontic;

4) Riwayat ortodontik;

5) Riwayat Prostodontik;

6) Riwayat operasi mulut;

7) Riwayat radiografi;

8) Riwayat disfungsi T.M.J.

Selain dua riwayat tadi terdapat dua riwayat lagi agar hasil anamnesis baik yaitu:

5) Riwayat kesehatan keluarga.

(4)

6) Riwayat pribadi dan sosial pasien.

b. Pemeriksaan Objektif :3

a) Ekstra oral : (Tidak ada keterangan yang jelas)

1) Inspeksi : melihat muka pasien simetris / asimetris 2) Kelainan dentofacial.

3) Palpasi kelenjar limfe kiri dan kanan. kiri : lunak/keras, sakit/tidak sakit/

bergerak /tidak bergerak . kanan : lunak/keras, sakit/tidak sakit/ bergerak /tidak bergerak

4) Suhu: panas/ normal.

b) Intra oral :

1) Jaringan mukosa rongga mulut antara lain : bibir, pipi, lidah, palatum , tonsil, gingiva.

2) Jaringan keras gigi/ pulpa dengan beberapa cara sebagai berikut :

 Inspeksi

Suatu pemeriksaan inspeksi pada jaringan keras dan lunak yang cermat mengandalkan pada pemeriksaan “three Cs” : colour, contour dan consistency (warna, kontur dan konsistensi). Pada jaringan lunak, seperti gusi, penyimpangan dari warna merah muda dapat dengan mudah dikenal bila terdapat inflamasi. Suatu perubahan kontur yang timbul dengan pembengkakan, dan konsistensi jaringan yang lunak, fluktuan atau seperti bunga karang yang berbeda dengan jaringan normal, sehat dan kuat adalah indikasi dari keadaan patologik.

Berdasarkan kasus :

71,72,81,82 : belum tanggal dan mengalami atrisi

31,31,41,42 : sudah erupsi sempurna pada bagian lingual gigi 71,72,81,82

 Probing / Sondasi

Guna pemeriksaan dengan sonde untuk mengetahui :

a. Ada karies atau tidak Bila akan memeriksa adanya karies, sonde digoreskan pada gigi, bila sonde tersangkut berarti ada karies.

(5)

b. Kedalaman karies Karies superfisialis (karies email) yaitu karies yang belum sampai dentin baru sampai dentino enamel junction. Karies superfisialis tidak memberi keluhan, kecuali bila sudah sampai dentino enamel junction, karena di situ terdapat serat Tomes. Karies media (karies dentin) yaitu karies sudah di dalam dentin tetapi masih jauh dari pulpa, kira-kira ½ tebal dentin. Karies profunda yaitu karies yang sudah dekat pulpa, atap pulpanya sudah tipis sekali atau malahan pulpa sudah terbuka.

c. Ada reaksi dari pulpa atau tidak Sonde digoreskan pada dasar kavita tanpa tekanan, harus hati-hati jangan sampai terjadi perforasi. Bila ada keluhan sakit berarti gigi vital. Bila tidak ada keluhan sama sekali berarti non vital.

d. Ada perforasi atau tidak Bila dilakukan sondasi dan sonde masuk ke dalam ruang pulpa berarti sudah perforasi.

 Termis

Tes ini meliputi aplikasi dingin dan panas pada gigi, untuk rnenentukan sensitivitas terhadap perubahan termal. Meskipun keduanya merupakan tes sensitivitas, tetapi tidak sama dan digunakan untuk alasan diagnostik yang berbeda. Suatu respon terhadap dingin menunjukkan pulpa vital, tanpa memperhatikan apakah pulpa itu normal atau abnormal. Suatu respon abnormal terhadap panas biasanya menunjukkan adanya gangguan pulpa atau periapikal yang memerlukan perawatan endodontik.

 Perkusi

Uji ini dapat digunakan untuk menentukan adanya peradangan pada jaringan penyangga gigi. Gigi diberi ketukan cepat dan tidak keras, mula-mula dengan jari dengan intensitas rendah, kemudian intensitas ditingkatkan dengan menggunakan tangkai instrument, untuk menentukan apakah gigi terasa sakit.

Suatu respon sensitif yang berbeda dari gigi di sebelahnya, biasanya menunjukkan adanya periodontitis.

 Tekanan

Prosedur pemeriksaan dengan tekanan : menyiapkan alat (tangkai instrumen) yang dibungkus isolator karet, kain kasa atau kapas. Pegang tangkai instrumen, ditekankan pada gigi yang memberikan keluhan. Bila memberikan reaksi berarti sudah terjadi periodontitis. Kegunaan pemeriksaan dengan tekanan

(6)

selain untuk mengetahui kelainan pada jaringan penyangga gigi juga untuk mengetahui adanya keretakan gigi.

 Tes Mobilitas

Tes mobilitas ialah pemeriksaan dengan menggerakkan gigi ke arah lateral (menggoyangkan gigi). Tujuan tes ini adalah untuk menentukan apakah gigi terikat kuat atau longgar pada alveolusnya. Jumlah gerakan menunjukkan kondisi periodontium; makin besar gerakannya, makin jelek status periodontalnya.

Indeks Glickman/Carranza4

1. Grade 0 - normal

2. Grade 1- sedikit lebih dari normal 3. Grade 2 - cukup lebih dari biasanya

4. Grade 3 – Mobilitas yang parah secara fasiolingual &

mesiodistal dikombinasikan dengan perpindahan vertikal

 Membau

 Palpasi

Guna pemeriksaan dengan palpasi:

a. Mengetahui yang akut dan kronis, misalnya infeksi pada kelenjar submandibula. Pada yang akut, saat palpasi akan terasa sakit, sedang yang kronis tidak terasa sakit tetapi terasa seperti ada biji.

b. Mengetahui suhu di daerah yang sakit Misalnya : pada abses, suhu jaringan setempat terasa panas.

c. Mengetahui keras lunaknya suatu pembengkakan Misalnya : pada abses yang sudah matang, pada palpasi terasa lunak.

d. Mengetahui lokasi pembengkakan

e. Mengetahui adanya fraktur, misalnya : fraktur tulang alveolar

 Tes Vitalitas

Tujuannya adalah untuk merangsang respon pulpa dengan menggunakan arus listrik yang makin meningkat pada gigi. Suatu respon positif merupakan suatu indikasi vitalitas dan membantu dalam menentukan normal atau tidak normalnya pulpa tersebut. Tidak adanya respon terhadap stimulus listrik dapat merupakan indikasi adanya nekrosis pulpa.

 Rontgen Foto

 Tes Anesthesi

(7)

Tujuannya adalah untuk menganestesi gigi tunggal berturut-turut sampai rasa sakitnya hilang dan terbatas pada gigi tertentu

 Tes Kavitas

2. Mampu menentukan diagnosis dan diagnosis banding.

Diagnosis

Pada anak-anak yang berumur 7 tahun 11 bln ini merupakan usia dengan memiliki periode gigi bercampur (mixed dentition). Apa bila dilihat dari kasus bahwa yang terjadi adanya atau diduganya gigi permanen yang tumbuh dibelakang gigi primer yaitu gigi permanen incisivus sentral dan lateral rahang bawah, yang dimana seharusnya gigi incisivus sentral primer sudah tanggal pada umur 6 tahun sedangkan incisivus lateral rahang bawah sudah tanggal pada umur 7 tahun. Akan tetapi jika belum tanggal gigi primernya dan gigi sekunder sudah tumbuh dibelakang gigi primer yang belum tanggal hal ini disebut dengan “Persistence primary tooth/Shark tooth”.4-6

ICD 10 :

K00.63 = Gigi sulung tidak tanggal (persistensi) atau retained (persistent) primary tooth Differential diagnose atau diagnosis banding

Diagnosis banding yang memungkinkan kasus ini adalah supernumerary teeth yang dimana ini merupakan kelainan adanya gigi tambahan yang tumbuh lebih dari jumlah normalnya dapat berbentuk sendiri atau beberapa bentuk, dapat unilateral atau bilateral, dan hal ini dapat terjadi di kedua rahang.5

ICD 10:

K00.1 : Supernumerary teeth

3. Mampu menentukan pengelolaan kasus

Diagnosa persistensi gigi sulung menurut ICD DA 3rd EDITION/ICD Version for 2010/ICD 10 CM 2013 yaitu:

K00.63 : Gigi sulung tidak tanggal (persistensi) atau Retained (persistent) primary tooth.

(8)

Menurut Protocol for Clinical Pediatric Dentistry (1996), persistensi gigi sulung memiliki klasifikasi terapi ICD 9 CM yang terdiri dari:

1. 89.31 Dental examination

2. 23.01 Extraction of deciduous tooth 3. 23.11 Removal of residual root

Setelah dilakukan pemeriksaan, apabila masih ragu-ragu dengan diagnosisnya, maka dilakukan radiografi panoramik. Radiografi panoramik dapat membantu menegakkan diagnosis final.

Setelah mendapatkan diagnosis final, maka dapat dilakukan tindakan yaitu berupa ekstraksi gigi. Setelah ekstraksi pada gigi sulung dilakukan observasi terhadap susunan gigi permanen pada lengkung gigi selama 3 bulan pasca ekstraksi. Apabila terlihat adanya gejala maloklusi, prosedur dilanjutkan dengan melakukan perawatan interseptif ortodontik untuk mencegah maloklusi bertambah parah.

Perlunya penilaian mobilitas gigi sulung dilakukan, jika gigi sulung sangat goyang, anak didorong untuk menggoyangkan gigi sulung sendiri, jika tidak goyang atau sedikit goyang.

maka di perlukan bantuan dokter gigi untuk dilakukan ekstraksi. Setelah pencabutan gigi sulung, lidah secara alami akan mendorong gigi permanen ke depan ke posisi yang benar.5 TATALAKSANA EKSTRAKSI GIGI SULUNG7

Pada kasus : Ekstraksi gigi 71,72,81, dan 82

Alasan dilakukan ekstraksi karena gigi permanennya sudah tumbuh untuk menggantikan gigi susu, sehingga apabila tidak dilakukan ekstraksi pada gigi susunya akan menyebabkan terjadinya maloklusi pada pasien tersebut dan tidak bisa dilakukan perawatan orthodontik untuk merapikan giginya

Alat dan Bahan :

Anestesi :9,10

Alat : Syringe dan Jarum Pemilihan syringe dan jarum :

Dalam pelaksanaan anastesi lokal pada gigi, dokter gigi harus menggunakan syringe sesuai standar ADA (American Dental Association)

(9)

Jarum suntik pada kedokteran gigi tersedia dalam 3 ukuran (sesuai standar American Dental Association = ADA) ; panjang (32 mm), pendek (20 mm, dan superpendek (10 mm). Jarum pendek dapat digunakan untuk beberapa injeksi pada jaringan lunak yang tipis, jarum panjang digunakan untuk injeksi yang lebih dalam. Jarum yang digunakan untuk anak-anak yaitu jarum yang dengan ukuran kecil dan pendek dengan panjang 10 mm.

Jarum yang digunakan harus tajam dan lurus dengan bevel yang relatif pendek, dipasangkan pada syringe. Gunakan jarum sekali pakai (disposable) untuk menjamin ketajaman dan sterilisasinya. Penggunaan jarum berulang dapat sebagai transfer penyakit.

Bahan :

1. Lidocaine (Xylocaine) HCl 2 % dengan epinephrine 1 : 100.000

2. Mepicaine (Carbocaine) HCl 2 % dengan levanordefrin (Neo-cobefrin) 1 : 20.000.

3. Prilocaine (Citanest Forte) HCl 4 % dengan epinephrine 1 : 200.000

Teknik Anestesi yang digunakan adalah Unilateral Insisive Nerve Block/ Mental Nerve Block

Alasan pemilihan teknik anestesi Unilateral dilakukan karena pada setiap kunjungannya dilakukan 2 gigi terlebih dahulu pada satu kuadran karena mempertimbangkan kekooperatifan pasien yang masih berumur anak.

(10)

Saraf yang teranestesi : Mental Nerve Dan Incisive Nerve

Syaraf yang dianestesi adalah saraf alveolaris inferior cabang insisivus (dari saraf mandibula (V3)) dan cabang mentalis. Gigi bagian bawah seluruhnya dipersarafi oleh cabang dari saraf alveolar inferior, yang berasal dari saraf mandibular (V3). Saraf ini dibagi menjadi cabang insisivus dan mentalis. Cabang insisivus mempersarafi gigi premolar pertama, gigi seri, dan gigi kaninus. Cabang mentalis mempersarafi dagu dan bibir bawah.

Area yang teranestesi

1. Membran mukus bukal anterior ke foramen mental, biasanya dari premolar kedua ke garis tengah

2. Bibir bawah dan kulit dagu

3. Serabut saraf pulpa ke gigi premolar, kaninus, dan gigi seri

(11)

Ekstrasi Gigi Sulung :8 a. Tang Pencabutan

Menggunakan tang ekstraksi gigi sulung anterior rahang bawah

Figure 1 Tang ekstraksi gigi sulung anterior rahang bawah

(12)

b. Elevator untuk mengungkit gigi dari soket

c. Kuret untuk mengambil jaringan yang tertinggal dan membersihkan soket gigi.

Prosedur Tatalaksana Kasus11

1. Melakukan izin tertulis dari orang tua (Informed Consent) sebelum melakukan tindakan 2. Kunjungan untuk pencabutan sebaiknya dilakukan pagi hari dan dijadwalkan, sehingga

anak tidak menunggu terlalu lama karena anak cenderung menjadi lelah menyebabkan anak tidak koperatif. Anak bertoleransi lebih baik terhadap anastesi lokal setelah diberi makan ± 2 jam sebelum pencabutan.

3. Menyiapkan instrumen yang akan digunakan, sebaiknya jangan diletakkan di atas meja.

Letakkan pada tempat yang tidak terlihat oleh anak dan diambil saat akan digunakan.

Jangan mengisi jarum suntik di depan pasien, dapat menyebabkan rasa takut dan cemas.

4. Penjelasan lokal anastesi tergantung usia pasien anak, teknik penanganan tingkah laku anak yang dapat dilakukan. Seperti akan timubulnya bengkak, mati rasa, kesemutan.

Sebaiknya dikatakan kepada anak yang sebenarnya bahwa akan ditusuk dengan jarum (disuntik) dan terasa sakit sedikit, tidak boleh dibohongi.

5. Persiapan pasien yaitu atur posisi pasien, untuk pencabutan gigi rahang bawah penempatan pasien relatif lebih rendah (dibawah dataran siku) dan posisi kursi tegak.

6. Persiapan operator yaitu menggunakan handscoon dan masker, kemudian menyalakan lampu dengan punggung tangan dan mengarahkan ke daerah kerja. Kemudian posisi operator untuk pengerjaan rahang bawah anteror adalah pada bagian depan atau bagian samping kanan pasien dengan arah jam 7 – 9.

(13)

7. Lakukan prosedur anestesi lokal dengan teknik mental nerve block. Prosedur anestesi infiltrasi sebagai berikut :

Asumsikan posisi yang benar:

o Untuk blok saraf insisivus kanan atau kiri dan administrator tangan kanan, duduklah dengan nyaman di depan pasien sehingga spuit dapat dimasukkan ke dalam mulut di bawah garis pandang pasien

Posisikan pasien:

o Supine(terlentang) dianjurkan, tetapi semi supine dapat diterima.

o Meminta pasien menutup secara parsial (sebagian) mulutnya; sehingga memungkinkan akses yang lebih mudah ke tempat suntikan.

Temukan foramen mental:

o Tempatkan ibu jari atau jari telunjuk pada lipatan mukobukal pada badan mandibula pada daerah molar pertama.

o Gerakkan perlahan ke depan sampai merasakan tulang menjadi tidak beraturan dan agak cekung.

Tulang posterior dan anterior foramen mentale terasa halus; namun, tulang di sekitar foramen terasa lebih kasar.

Foramen mentalis biasanya ditemukan di apeks gigi premolar kedua; Namun, dapat ditemukan anterior atau posterior dari site tersebut

Pasien mungkin berkomentar bahwa tekanan jari di daerah ini menghasilkan rasa sakit karena saraf mental ditekan ke tulang.

o Jika radiografi tersedia, foramen mentalis dapat ditemukan dengan mudah

o pada anak letak foramen mental dapat terletak di antara gigi molar 1 dan 2 sulung

(14)

Mempersiapkan jaringan untuk penetrasi:

o Keringkan dengan kasa steril.

o Oleskan antiseptik topikal (opsional).

o Oleskan anestesi topikal selama minimal 1 menit.

Dengan jari telunjuk kiri Anda, tarik bibir bawah dan jaringan lunak bukal secara lateral.

Jika memungkinkan, gunakan kaca mulut untuk meminimalkan risiko cedera tertusuk jarum yang tidak disengaja pada administrator.

o Visibilitas ditingkatkan.

o Jaringan yang kencang memungkinkan penetrasi atraumatik.

Arahkan spuit dengan bevel ke arah tulang.

Menembus membran mukosa pada kaninus atau premolar pertama, mengarahkan jarum ke foramen mental.

Arahkan jarum perlahan sampai foramen mentalis tercapai. Kedalaman penetrasi adalah 5 hingga 6 mm. Ujung jarum harus terletak tepat di luar foramen mentale. Tidak perlu masuk ke dalam foramen mentale agar blok saraf insisivus berhasil.

o . Aspirasi dalam dua bidang.

Jika negatif, masukkan perlahan 0,6 mL (kira-kira sepertiga kartrid) selama 20 detik.

o Selama penyuntikan, pertahankan tekanan jari lembut langsung di atas tempat penyuntikan untuk meningkatkan volume larutan yang memasuki foramen mental. Hal ini dapat dicapai dengan tekanan intraoral atau ekstraoral.

o Jaringan di tempat suntikan harus menggelembung, tetapi sangat sedikit.

Tarik jarum suntik dan segera buat jarum aman.

Lanjutkan untuk memberikan tekanan di tempat suntikan, baik intraoral atau ekstraoral, selama 2 menit.

Tunggu 3 hingga 5 menit sebelum memulai prosedur perawatan gigi.

(15)

o Anestesi saraf mental (bibir bawah, jaringan lunak bukal) diamati dalam beberapa detik setelah deposisi.

o Anestesi saraf insisivus membutuhkan waktu tambahan.

8. Teknik ekstraksi yang digunakan pada skenario adalah teknik intra alveolar. Berikut prosedur ekstraksi, tekesktraksi dilakukan dalam dua kunjungan, pada kunjungan pertama di lakukan pada satu kuadran kemudian di kunjungan selanjutnya dilakukan di kuadran lainnya, misalnya : pada gigi 71 dan 72 dan di kunjungan pertama dan di kunjungan selanjutnya dilakukan pada gigi 81 dan 82:

Instruksikan pasien untuk membuka mulut dan posisi telapak tangan operator yaitu tang dipegang dengan telapak tangan menghadap ke bawah untuk pencabutan gigi rahang bawah.

Jumlah gigi yang akan dicabut dalam satu kali kunjungan tergantung pada keadaan umum pasien, sukarnya kasus kestraksi, keadaan jaringan sekitar, posisi gigi dan keinginan pasien. Pertimbangan dalam pencabutan lebih dari satu gigi lebih baik dahulukan yang lebih posterior atau dahulukan yang mudah untuk dicabut.

Pencabutan gigi insisivus bawah dicabut dari posisi kanan belakang dengan menggunakan tang ekstraksi gigi sulung anterior rahang bawah dan teknik sling grasp.

Teknik sling grasp diperoleh dengan memegang mandibula di antara ibu jari dan jari telunjuk tangan yang bebas. Sehingga TMJ terlindungi dari tekanan tang yang berlebihan.

Tang cabut kita pegang pada handlenya dengan tangan kanan dan beaksnya dimasukkan dalam soket gusi sedalam mungkin. Untuk gigi yang berakar satu, ujung beaksnya harus sampai dibawah cervico cemento enamel juntion.

Gerakan ekstraksi gigi incisivus sulung berakar tunggal :

a. Gerakan rotasi dengan satu jurusan yaitu gigi diputar mesio-distal.

Tujuannya adalah untuk terputusnya membran periodontal dan melepaskan akar gigi dari tulang alveolar

b. Gerakan ekstraksi (penarikan).

(16)

Instruksikan pasien untuk menggigit cotton roll yang sudah diberi betadine sekitar 30 menit. hal ini akan mencegah terjadinya pendarahan saat pasien kembali ke rumah dan memungkinkan terbentuknya bekuan darah.

Lakukan KIE kepada pasien, sebagai berikut :

a. Pasien dilarang makan dan minum yang panas karena akan menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah sehingga nantinya akan menyebabkan pendarahan.

b. Pada saat pasien sikat gigi, instruksikan pada pasien untuk daerah yang diekstraksi jangan disikat terlebih dahulu karena takutnya akan menyebabkan pendarahan c. Pasien dapat makan seperti biasa tapi dianjurkan untuk mengunyah satu sisi di

tempat yang dilakukan ekstraksi jangan diberikan tekanan terlalu besar takutnya menyebabkan trauma dan pendarahan

d. Pasien diperingatkan untuk tidak mengisap luka, mengganggu luka dengan lidah atau berkumur selama hari pertama karena dapat mengganggu pembentukkan bekuan darah/ blood clot yang dapat menyebabkan dry socket

e. Pasien dapat menyikat giginya seperti biasa dengan pelan satu hari setelah pencabutan. Selain itu, pasien dapat diinstruksikan untuk berkumur dengan air saline hangat atau obat kumur antiseptik untuk membersihkan gigi

f. Beberapa derajat sakit postoperative dapat muncul setelah efek anestesi yan diberikan hilang. Sebaiknya pasien diberikan anelgesik sebelum efek anestesinya menghilang.

g. Orang tua diinstruksikan untuk terus memeriksa kapas sehingga anak tidak menelannya secara tidak sengaja.

h. Untuk mengurangi derajat pembengkakan pasca pencabutan dapat diberikan kompres dingin di daerah pembengkakan

(17)
(18)

MEDIKASI 11-14

Ekstraksi simpel termasuk dalam kategori mild postprocedural pain management yang dimana pilihan analgesik peroral yang disarankan ADA adalah Ibuprofen 200-400 mg setiap 4 - 6 jam

(19)

Berdasarkan Textbook of Pediatric Dentistry dapat diberikan:11

NSAIDs (Ibuprofen) 400–600 mg/dosis setiap 6–8 jam dosis maksimum 2400 mg/hari.

Anak-anak < 12 tahun: 4–10 mg/kg/dosis setiap 6–8 jam sesuai kebutuhan (maksimum 40 mg/kg/24 hours)

*Karena sebagian besar kasus nyeri pasca operasi termasuk komponen inflamasi, NSAID dianggap sebagai agen lini pertama dalam pengobatan nyeri akut pasca operasi ringan sampai sedang.

Paracetamol (Acetominophen) 0,5-1 mg setiap 4-6 jam. Dosis maksimum 4 g/hari

Anak < 12 tahun: 10-15 mg/kg/dosis setiap 4-6 jam sesuai kebutuhan (maksimum 90 mg/kg/24 jam tetapi tidak melebihi 2,6 g/24 jam)

Figure 2 Rumus perhitungan dosis Ibuprofen pada anak sesuai kasus

(20)

Prinsip pemberian obat pada pasien pediatrik

 Kenali dan kaji nyeri, dokumentasikan dalam bagan pasien;

Untuk pasien anak >8 tahun dan dewasa digunakan VAS (Visual Analog Scale). Visual analog scale (VAS) adalah cara yang paling banyak digunakan untuk menilai nyeri. Skala linier ini menggambarkan secara visual gradasi tingkat nyeri yang mungkin dialami seorang pasien. Rentang nyeri diwakili sebagai garis sepanjang 10 cm, dengan atau tanpa tanda pada tiap sentimeter. Tanda pada kedua ujung garis ini dapat berupa angka atau pernyataan deskriptif.

 Gunakan strategi nonfarmakologis dan farmakologis untuk mengurangi pengalaman nyeri sebelum operasi;

 Kenali riwayat medis pasien untuk menghindari meresepkan obat yang akan dikontraindikasikan;

 Memahami konsekuensi, morbiditas, dan toksisitas yang terkait dengan penggunaan terapi tertentu;

 Pertimbangkan analgesik nonopioid sebagai agen lini pertama untuk manajemen nyeri pascaoperasi;

 Memanfaatkan formularium obat untuk meresepkan obat secara akurat untuk pengelolaan nyeri pasca operasi;

 Pertimbangkan untuk menggabungkan NSAID dengan asetaminofen untuk memberikan efek analgesik yang lebih besar daripada agen tunggal sendiri.

KOMPLIKASI ANASTESI LOKAL DAN PENCABUTAN

(21)

Komplikasi Anastesi Lokal

1. Kegagalan untuk mendapatkan efek anastesi 2. Sakit selama dan setelah penyuntikan

3. Suntikan intravascular 4. Kepucatan

5. Gangguan sensasi berlangsung lama/Paraestesia 6. Patahnya jarum

7. Trauma bibir 8. Edema

Komplikasi Pencabutan 1. Fraktur akar

2. Perdarahan dan hematom 3. Trauma gigi permanen 4. Infeksi

5. Pembengkakan 6. Dry socket

7. Cedera pada gigi yang berdekatan 8. Fraktur tulang alveolar

9. Laserasi gingiva dan mukosa 10. Pencabutan gigi yang salah

(22)

LEMBAR IDENTITAS PASIEN

1. Nama pasien : An. N

2. Jenis Kelamin : L / P Umur : 7 th 11 bulan Gol.Darah : O

3. Tanggal lahir : 2013

4. Alamat Domisili : ...

Kecamatan/Kabupaten/Provinsi : Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah

Telepon / HP : 0813902484148

5. Pekerjaan : Belum bekerja

6. Tanggal pemeriksaan : 18 November 2021

7. Waktu pemeriksaan : 17.00

RIWAYAT KESEHATAN

1. Medical History : Hipertensi Ya / Tidak

Penyakit Gula Ya / Tidak Penyakit Ginjal Ya / Tidak

Hepatitis Ya / Tidak

Alergi Ya / Tidak, ………

2. Tanda-tanda Vital :

●Tensi : 120/75 mmHg

●Temperatur : 36,5 oC

●Pulsus : 100 bpm

●Tinggi/Berat Badan : 135 cm / 35 kg

●Riwayat didapatkan dari : □ Anamnesis ✓ Alloanamnesis

Nama : drg. Gunawan Wibisono, M.Si.Med Hubungan dengan Pasien : Orang tua

(23)

Nomor rekam medis

ANAMNESIS

Nama : An. N

Tgl Lahir: ...Umur: 7 th

Alamat : Tembalang Jenis Kelamin : L/P

● Keluhan Utama : Gigi depan bagian bawah tumbuh

double

● Keadaan Sakit Sekarang : Gigi depan bagian bawah

yang tumbuh double ini terjadi sejak 6 bulan yang lalu. Tidak terasa sakit, hanya saja sedikit mengganggu karena 2 gigi yang lama sedikit goyang. Selain itu terdapat keluhan lainnya yakni gigi kanan bawah alurnya terasa dalam, namun tidak berlubang, menyebabkan makanan terkadang tersangkut pada area tersebut.

● R

iwayat Kesehatan Keluarga

Ayah : Tidak ada

Ibu : Tidak ada

Saudara : Tidak ada

● Riwayat Kesehatan Umum : Tidak ada

● Riwayat Kesehatan Dental : Belum pernah mengalami infeksi pada gigi susu.

Pernah mengikuti pemeriksaan dan kegiatan promotif kesehatan gigi di sekolah. Tidak pernah melakukan pemeriksaan radiografi. Pasien sesekali melakukan kebiasaan buruk seperti menggigit kuku, menyedot ibu jari, dan menggertakkan gigi.

● Riwayat Trauma Dental : Pasien belum pernah mengalami infeksi pada gigi susunya

Waktu kejadian : Tidak ada riwayat trauma

Gigi yang mengalami trauma : Tidak ada riwayat trauma Perawatan yang sudah diberikan : Tidak ada riwayat trauma Keadaan Trauma Dental Sekarang : Tidak ada riwayat trauma

● Pencegahan Penyakit Gigi

a. Menyikat Gigi : 1x, 2x, 3x sehari

Keterangan (kapan dilakukan) : ...

b. Topikal fluor : Ya/Tidak

Keterangan : ...

c. Kumur-kumur : Ya/Tidak

Keterangan : ...

(24)

Nomor rekam medis

PEMERIKSAA N

OBJEKTIF

Nama : An. N

Tgl Lahir: ...Umur: 7 th

Alamat : Tembalang Jenis Kelamin : L/P

□ Endokrin : Tidak dilakukan pemeriksaan

□ Gastrointestinal : Tidak dilakukan pemeriksaan

□ Hemetopoetik : Tidak dilakukan pemeriksaan

□ Kardiovaskuler : Tekanan darah 105/70 mmHg dan denyut nadi 80 kali/menit

□ Muskuloskeletal : Tidak dilakukan pemeriksaan

□ Neurologik : Tidak dilakukan pemeriksaan

□ Respirasi : Tidak dilakukan pemeriksaan

□ Urologik : Tidak dilakukan pemeriksaan A. Pemeriksaan Ekstra Oral

1. Status General

Keadaan Umum : Baik □ Tampak Sakit □ Sesak □ Pucat □ Lemah □ Kejang

2. Pemeriksaan Kepala dan Leher

Fasial Neur

o- Muskular

Kel.Luda h

Kel Limfe

Tl.

Rahan g

TMJ

Deformit as

tidak ada

tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada

tidak ada

Nyeri tidak

ada

tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada

tidak ada

Tumor tidak

ada

tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada

tidak ada Ganggua

n fungsi

tidak ada

tidak ada tidak ada tidak ada tidak ada

tidak ada B. Pemeriksaan Intra Oral

●Jaringan Lunak : normal, dalam keadaan baik, tidak ada ulser atau pembengkakan

●Mukosa : normal, permukaan terlihat mengkilap

●Lidah : baik, tidak ada hambatan pergerakan

●Gusi : baik, berwarna merah muda

●Langit-langit : normal, tidak terdapat celah

●Jaringan keras : normal, tidak ada fraktur

●Oklusi : gigi anterior rahang bawah crowding

●Fraktur dental

Jika ya, tipe dan lokasi ... Ya / Tidak

●Fraktur pada alveolar

(25)

Jika ya, tipe dan lokasi ... Ya / Tidak

(26)

●Keterangan tambahan : Gigi 81 dan 71 goyah derajat 2

●Odontogram

Keterangan : : Gigi belum erupsi Σ : Gigi goyah Ο : Karies X : Gigi sudah dicabut / tanggal V : Gigi tinggal akar ● : Tumpatan

(27)

●Peta Mukosa Jaringan Lunak

a. Lokasi lesi : Tidak ada kelainan b. Bentuk lesi : Tidak ada kelainan c. Ukuran : Tidak ada kelainan d. Batas lesi : Tidak ada kelainan e. Warna lesi : Tidak ada kelainan f. Jumlah lesi : Tidak ada kelainan

•Kondisi umum gigi-geligi

a. Karies………...Buruk / Sedang / Baik b. Status periodontal……….Buruk / Sedang / Baik

c. Hubungan oklusi horizontal……….Edge to edge/ Overjet / Normal d. Hubungan oklusi vertikal………….Deep / Open / Normal

(28)

Nomor rekam medis

PEMERIKSAA N

PENUNJANG

Nama : An. N

Tgl Lahir: ...Umur: 7 th

Alamat : Tembalang Jenis Kelamin : L/P

● PEMERIKSAAN PENUNJANG DIAGNOSTIK / LABORATORIUM

Tidak dilakukan pemeriksaan

● PEMERIKSAAN RADIOGRAFI

Tidak dilakukan pemeriksaan

(29)

Nomor rekam medis

LEMBAR TINDAKA N

Nama : An. N

Tgl Lahir: ...Umur: 7 th

Alamat : Tembalang Jenis Kelamin : L/P

Tang gal &

Pukul

PPA

(Profesio nal Pemberi Asuhan)

HASIL ASESMEN PASIEN DAN PEMBERIAN PELAYANAN

(Tulis dengan format SOAP)

Instruksi PPA

(Instruksi ditulis dengan rinci dan jelas)

Review

&

Verifik asi DPJP 18/11/20

21 17.00 WIB

S : gigi depan bagian bawah tumbuh double, tidak terasa sakit hanya saja agak mengganggu karena 2 gigi lama sedikit goyang. Pasien juga

merasakan gigi kanan bawah alurnya terasa dalam, namun tidak berlubang, hal ini menyebabkan makanan terkadang tersangkut pada area tersebut.

O : gigi 71 dan 81 luksasi derajat 2, keadaan umum pasien baik, gigi anterior rahang bawah crowding A : diagnosis →

ICD 10 :

K00.63 : Gigi sulung tidak tanggal (persistensi) atau retained (persistent) primary tooth

diagnosis banding → ICD 10

K00.1 : supernumerary teeth P : Melakukan foto rontgen (panoramik) dan photograph, analisis, dan menetapkan diagnosis

Instruksi pasca tindakan : - pasien dilarang makan dan minum yang panas - pasien diinstruksikan untuk tidak menyikat gigi pada daerah yang diekstraksi - pasien

dianjurkan tidak memberikan tekanan berlebih pada daerah ekstraksi

- pasien dilarang mengisap luka, mengganggu luka dengan lidah atau berkumur di hari pertama pasca ekstraksi - disarankan menyikat gigi dengan pelan pada satu hari pasca ekstrasi dan berkumur dengan air salin hangat atau obat kumur

- diinstruksikan untuk selalu memeriksa kapas - kompres pada daerah

(30)

pembengkakan (jika ada pembengkakan) Untuk

medikamentosa, pasien dapat diberi sebagai berikut : b. NSAIDs

(ibuprofen) dengan dosis 4-10 mg/kg setiap 6-8 jam sesuai kebutuhan (maksimum 40 mg/kg/24 jam)

c. Paracetamol (Acetominop hen) dengan dosis:

- Berdasarkan perhitungan usia (Dilling) 160 mg/kg BB

- Berdasarkan perhitungan BB (Clark’s rule) 200 mg/kgBB

- Pa

(31)

Nomor rekam medis

LEMBAR KONSULTA SI

Nama : An. N

Tgl Lahir: ...Umur: 7 th

Alamat : Tembalang Jenis Kelamin : L/P

Semarang, Jam :

Kepada TS ...

...

...

...

...

●Ikhtisar Klinik & Laboratorium Singkat :

● Konsultasi yang diminta :

Dokter Penanggung Jawab Pasien,

………..

(32)

Nomor rekam medis

PERSETUJUAN TINDAKAN MEDIS

Saya, yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : drg. Gunawan Wibisono, M.Si, Med.

Umur / jenis kelamin : ... tahun. Laki-laki / Perempuan

Alamat : Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah

Bukti diri / KTP : ...

Menyatakan dengan sesungguhnya telah memberikan PERSETUJUAN untuk dilakukan tindakan medis berupa Pencabutan / ekstraksi gigi

Terhadap / Anak /Istri / Suami / Ayah / Ibu saya dengan :

Nama : An. N

Usia / Jenis Kelamin : 7 tahun 11 bulan / Perempuan

Alamat : Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah

Dirawat di : Rumah Sakit Nasional Diponegoro

Yang tujuan, sifat, dan perlunya tindakan medis tersebut di atas, serta resiko yang dapat ditimbulkan dan upaya mengatasinya telah cukup dijelaskan dokter dan telah saya mengerti sepenuhnya. Demikian persetujuan ini saya buat dengan penuh kesadaran dan tanpa paksaan.

Semarang, 18 November 2021

Dokter Yang membuat pernyataan

... ...

drg. drg. Gunawan Wibisono, M.Si.Med

Saksi dari Rumah Sakit, Perawat Bangsal/ Saksi dari Keluarga Rawat Jalan

... ...

Nama Lengkap Nama Lengkap

(33)

Nomor rekam medis

PENOLAKAN TINDAKAN MEDIS

Saya, yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : drg. Gunawan Wibisono, M.Si, Med.

Umur / Jenis Kelamin : ... tahun. Laki-laki / Perempuan

Alamat : Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah

Bukti diri / KTP : ...

Dengan ini telah menyatakan PENOLAKAN

Untuk dilakukan tindakan medis berupa Pencabutan / ekstraksi gigi Terhadap diri saya sendiri / Anak /Istri / Suami / Ayah / Ibu saya dengan :

Nama : An. N

Usia / Jenis Kelamin : 7 tahun 11 bulan / Perempuan

Alamat : Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah

Saya juga telah menyatakan dengan sesungguhnya dengan tanpa paksaan bahwa saya :

a. Telah diberikan informasi dan penjelasan serta peringatan akan bahaya, resiko serta kemungkinan-kemungkinan yang timbuk apabila tidak dilakukan tindakan medis berupa ...

b. Telah saya pahami spenuhnya informasi dan penjelassan yang diberikan dokter

c. Akan tanggung jawab dan resiko saya sendiri dan tetap menolak untuk dilakukan tindakan medis yang dianjurkan dokter.

Semarang, 18 November 2021

Dokter Yang membuat pernyataan

... ...

Nama Lengkap drg. Gunawan Wibisono, M.Si.Med

Saksi dari Rumah Sakit, Perawat Bangsal/ Saksi dari Keluarga Rawat Jalan

... ...

Nama Lengkap Nama Lengkap

(34)

DAFTAR PUSTAKA

1. Abdelfattah A. Oral Health, Diseases, Examination, Diagnosis, Treatment Plan & Mouth Preparation. Adv Dent Oral Heal. 2016;3(5):13.

2. Setyawan FEB. Komunikasi Medis: Hubungan Dokter-Pasien. MAGNA MEDICA Berk Ilm Kedokt dan Kesehat. 2018;1(4):51.

3. Kristiani A, Koswara N, K HA, Wijaya I, Nafarin M, Nurhayati, et al. Buku Ajar Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut. Politek Kesehat Tasikmalaya. 2010;10–20.

4. Ip, Osaghae & Azodo, Clement. (2018). “Shark Tooth” Like Appearance among Paediatric Dental Patients.

5. Ata-Ali, F., Ata-Ali, J., Peñarrocha-Oltra, D., & Peñarrocha-Diago, M. (2014). Prevalence, etiology, diagnosis, treatment and complications of supernumerary teeth. Journal of clinical and experimental dentistry, 6(4), e414–e418. https://doi.org/10.4317/jced.51499

6. Ata-Ali, F., Ata-Ali, J., Peñarrocha-Oltra, D., & Peñarrocha-Diago, M. (2014). Prevalence, etiology, diagnosis, treatment and complications of supernumerary teeth. Journal of clinical and experimental dentistry, 6(4), e414–e418. https://doi.org/10.4317/jced.51499

7. Andlaw RJ dan Rock WP. 1995. Perawatan Gigi Anak. Alih bahasa: Lilian Yuwono. Edisi2.

Jakarta: Widya Medika.

8. Geoffrey L. Howe. 1989. Pencabutan Gigi Geligi Ed. 2. Jakarta: EGC.

9. Geoffrey L. Howe. F. Ivor H. Whitehead. 1992. Anastesi Lokal Edisi 3. Jakarta: EGC.

10. Nurdin, Sjaril. 2000. Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, Penatalaksanaan Pemberian Anastesi Lokal pada Gigi Anak. Jakarta: Universitas Indonesia.

11. Marwah N, Ravi GR, Asokan S. Textbook of Pediatric Dentistry. 2013;53(9):1689–99.

12. Malamed SF. HandBook of Local Anasthesia. Malamed, HandBook of Local anasthesia.

2020. 308–329 p.

13. ADA. Oral Analgesics for Acute Dental Pain [Internet]. 2020 [cited 2021 Nov 18]. Available from: https://www.ada.org/resources/research/science-and-research-institute/oral-health- topics/oral-analgesics-for-acute-dental-pain

14. Ali N, Lewis M. (2015). Understanding Pain, An Introduction for Patients and Caregivers.

Rowman & Littlefield.

Gambar

Foto kasus klinis :
Figure 1 Tang ekstraksi gigi sulung anterior rahang bawah
Figure 2 Rumus perhitungan dosis Ibuprofen pada anak sesuai kasus

Referensi

Dokumen terkait