BED SIDE TEACHING (BST)
*Kepaniteraan Klinik Senior/G1A222035/Juni 2024
**Pembimbing/ dr. Attiya Istarini, Sp.N
BELL’S PALSY
Oleh:
R.A.Miftah Cahyani * G1A223035
Pembimbing:
dr. Attiya Istarini, Sp.N **
KEPANITERAAN KLINIK SENIOR
BAGIAN NEUROLOGI RSUD RADEN MATTAHER JAMBI FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI 2024
LEMBAR PENGESAHAN CASE REPORT SESSION (CRS)
BELL PALSY
Oleh:
RA Miftah Cahyani G1A222094
Telah diterima dan dipresentasikan
Sebagai salah satu tugas Kepaniteraan Klinik Senior Bagian Neurologi RSUD Raden Mattaher Jambi
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi
2024
Jambi, Juni 2024 Pembimbing
dr. Attiya Istarini, Sp.N
ii
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan berkat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus yang berjudul “Bell Palsy” sebagai kelengkapan persyaratan dalam mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior Bagian Neurologi RSUD Raden Mattaher Jambi.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. Attiya Istarini, Sp.N yang telah bersedia membimbing dalam penyusunan laporan kasus ini. Penulis menyadari bahwa laporan kasus ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak sangat diharapkan guna kesempurnaan laporan kasus ini, sehingga nantinya dapat bermanfaat bagi penulisdan para pembaca.
Jambi, Juni 2024
Penulis
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... iv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
BAB II LAPORAN KASUS ... 2
2.1. Identitas Pasien ... 2
2.2. Anamnesis ... 2
2.3. Pemeriksaan Fisik ... 3
2.4. Pemeriksaan Penunjang ... 11
2.5. Diagnosis ... 11
2.6. Tatalaksana ... 12
2.7. Prognosis ... 12
BAB III TINJAUAN PUSTAKA ... 13
3.1. Nervus Fasialis (CN VII) ... 13
3.1.1. Otot-otot Nervus Fasialis ... 14
3.1.2. Komponen Motorik Nervus Fasialis ... 14
3.1.3. Nervus Intermedius ... 15
3.1.4. Percabangan Nervus Fasialis ... 15
3.1.5. Refleks yang Melibatkan Nervus Fasialis ... 16
3.1.6. Paralisis Facialis... 3.2. Bell’s Palsy ... 17
3.2.1. Definisi ... 17
3.2.2. Epidemiologi ... 17
3.2.3. Etiologi ... 17
3.2.4. Faktor Risiko... 3.2.5. Patofisiologi... 3.2.6. Gambaran Klinis ... 19
3.2.7. Diagnosis ... 21
3.2.8. Diagnosis Banding ... 24
3.2.9. Tatalaksana ... 24
3.2.10. Komplikasi ... 29
3.2.11. Prognosis ... 30
BAB IV ANALISIS KASUS ... 32
BAB V KESIMPULAN ... 34
DAFTAR PUSTAKA ... 35
BAB I PENDAHULUAN
Bell palsy adalah bentuk kelumpuhan saraf wajah yang idiopatik.
Salah satu teori menyebutkan hal ini disebabkan oleh edema akibat infeksi virus. Bell palsy dapat dibedakan dari penyebab kelumpuhan wajah lainnya berdasarkan gejalanya yang cepat dalam beberapa jam dan tidak adanya trauma. Terlebih lagi, kelumpuhan wajah seperti ini sering kali dapat sembuh dengan sendirinya, dan pasien biasanya pulih dalam beberapa hari hingga minggu. Pasien dapat memperoleh manfaat dari pemberian steroid dinikare na hal ini mencegah perkembangan edema, mengurangi kemungkinan kerusakan lebih lanjut, dan mempercepat pemulihan.1
Insiden tahunannya adalah 15 hingga 20 per 100.000, dengan 40.000 kasus baru setiap tahunnya. Risiko seumur hidup adalah 1 dalam 60. Tingkat kekambuhan adalah 8% hingga 12%. Bahkan tanpa pengobatan, 70% pasien akan sembuh total. Tidak ada preferensi gender atau ras, dan kelumpuhan dapat terjadi pada semua usia, namun lebih banyak kasus terjadi pada usia paruh baya dan lanjut usia, dengan median usia timbulnya kelumpuhan adalah 40 tahun. Faktor risikonya antara lain diabetes, kehamilan, preeklampsia, obesitas, dan hipertensi.2
Bell palsy adalah kelumpuhan perifer paling umum pada saraf kranial ketujuh dengan onset yang cepat dan unilateral. Diagnosisnya merupakan diagnosis eksklusi dan paling sering ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik. Saraf wajah memiliki jalur intrakranial, intratemporal, dan ekstratemporal sebagai cabangnya. Saraf wajah mempunyai fungsi motorik dan parasimpatis serta pengecapan pada dua pertiga anterior lidah.
Saraf ini juga mengontrol kelenjar ludah dan lakrimal. Fungsi motorik saraf wajah perifer mengontrol otot-otot wajah atas dan bawah. Oleh karena itu, diagnosis Bell palsy memerlukan perhatian khusus terhadap kekuatan otot dahi. Jika kekuatan dahi tetap terjaga, penyebab utama kelemahan harus dipertimbangkan.1,2
1
BAB II LAPORAN KASUS
2.1. Identitas Pasien Nama Pasien : Tn. S Jenis Kelamin : Laki-Laki Tanggal Lahir : 25 Mei 1955
Umur : 66 tahun
Bangsa : Indonesia
Agama : Islam
Alamat : Kota Jambi
MRS tanggal : 06 Juni 2024 (Poli)
2.2. Anamnesis
Dilakukan autoanamnesis pada pasien Tn. S pada tanggal 06 Juni 2024 di Poli Saraf RSUD Raden Mattaher pukul 10.00
A. Keluhan Utama
Paisen datang ke poliklinik RSUD Raden Mattaher dengan keluhan mencong ke sebelah kanan sejak 1 minggu SMRS
B. Riwayat Penyakit Sekarang
± 3 Hari SMRS os mengeluhkan mulut mencong ke sebelah kanan.
Keluhan muncul secara tiba-tiba mata kanan tidak bisa menutup sempurna. Keluhan awal timbul saat os sedang bangun tidur, os merasa bibir mencong ke arah kanan. Keluhan mendengar suara menjadi lebih keras nyeri disekitar telinga, keluar cairan dari telinga disangkal (-), nyeri pada telinga disangkal. Keluhan lemah anggota gerak satu sisi, pusing berputar, nyeri kepala, demam, batuk, pilek disangkal. Keluhan bicara pelo disangkal.
C. Riwayat Penyakit Dahulu
a. Riwayat keluhan serupa (-) b. Riwayat Trauma (-)
c. Riwayat gigi berlubang (+) sejak 1 tahun yang lalu.
d. Riwayat kelainan tulang (-), namun os tidak melakukan tindakan pembedahan dan hanya mengonsumsi obat metilprednisolon e. Riwayat herpes (-)
f. Riwayat kelainan pendengaran (-) g. Riwayat Kejang (-)
h. Riwayat jantung (-) i. Riwayat DM (-) j. Riwayat TB (-)
k. Riwayat Penyakit Keganasan (+), dengan diagnosa BPH dan sudah dilakukan tindakan pembedahan TUR-P sejak 1 bulan yang lalu D. Riwayat Penyakit Keluarga
a. Riwayat keluhan serupa (-) b. Riwayat Kejang (-)
c. Riwayat TB (-) d. Riwayat DM (-) e. Riwayat hipertensi (-)
f. Riwayat Penyakit Keganasan (-) E. Riwayat Sosial Ekonomi
a. Os merupakan seorang buruh
b. Os tinggal bersama istri dan anaknya c. Sehari-hari os menggunakan kipas angin
2.3. Pemeriksaan Fisik
A. Keadaan Umum dan Tanda-Tanda Vital a. Kesadaran : Compos Mentis
b. GCS : E4M6V5
c. Tekanan Darah : 130/80 mmHg
d. Nadi : 85 x/menit
e. Pernapasan : 20 x/menit
f. Suhu : 36,5°C
g. SpO2 : 99% room air
B. Status Generalisata
Kulit : Sawo Matang Kepala : Normocephal
Mata : Edema palpebra (-/-), Conjungtiva anemis (-/-), Sklera Ikterik (-/-), Pupil Isokor, ± 3 mm/± 3 mm, Refleks cahaya (+/+)
Telinga : Simetris, Sekret (-/-), Serumen minimal (+/+), Nyeri tekan (-/-)
Hidung : Deformitas (-), Sekret (-/-), Epistaksis (-/-)
Mulut : Bibir sianosis (-), mukosa kering (-), lidah hiperemis (-), T1-T1, faring hiperemis (-)
Leher : Pembesaran KGB (-)
Thoraks : Pergerakan dinding dada simetris kanan dan kiri, nyeri tekan (-/-)
Jantung
Inspeksi : Ictus kordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus kordis teraba di ICS V linea midcalvicula sinistra Auskultasi : Suara dasar BJ I dan II regular, Murmur (-), gallop (-) Perkusi : Batas kiri : ICS V linea midklavikularis sinistra
Batas kanan : ICS IV linea parasternalis dekstra Batas atas : ICS II linea parasternalis sinistra Paru
Inspeksi : Pergerakan dinding dada saat inspirasi dan ekspirasi simetris kanan dan kiri, Retraksi (-) Palpasi : Fremitus vocal simetris kiri dan kanan Perkusi : Sonor di kedua lapang paru
Auskultasi : Vesikuler (+/+), Wheezing (-/-), Rhonki (-/-)
Abdomen :
Inspeksi : Dalam batas normal
Auskultasi : Bising usus (+)
Palpasi : Nyeri tekan (-), Turgor cepat kembali Perkusi : Timpani (+)
Hepar : Dalam batas normal Lien : Dalam batas normal Ginjal : Dalam batas normal Ekstremitas :
Genitalia : tidak diperiksa
C. Status Psikiatrikus
Sikap : Kooperatif
Ekspresi muka : Tampak sakit sedang Perhatian : Baik
Kontak Psikis : Baik
D. Status Neurologis 1. Kesadaran
a. Kesadaran Kualitatif : Compos Mentis b. Kesadaran Kuantitatif : 15 ( E4V5 M6) 2. Tanda Rangsang Meningeal
Kaku kuduk : (-) Brudzinsky I : (-/-) Brudzinsky II : (-/-) Brudzinsky III : (-/-) Brudzinsky IV : (-/-)
Kernig : (-/-)
Lasegue : (-/-)
3. Pemeriksaan Rangsang Radikuler Laseque : (-/-)
Kontra laseque : (-/-) Patrick : (-/-)
Kontrapatrick : (-/-) 4. Nervus Kranialis
Nervus Kranialis Kanan Kiri
N I (Olfaktorius)
Penciuman Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Anosmia Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Hyposmia Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Parosmia Tidak dilakukan Tidak dilakukan
N II (Optikus)
Tajam Pengelihatan Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Anopsia (-) (-)
Hemianopsia (-) (-)
Fundus Oculi Tidak dilakukan Tidak dilakukan Papil Edema Tidak dilakukan Tidak dilakukan Papil Atrofi Tidak dilakukan Tidak dilakukan Perdarahan Retina Tidak dilakukan Tidak dilakukan N III (Okulomotorius), N IV ( Trochearis), N VI (Abducens)
Ptosis (-) (-)
Strabismus (-) (-)
Exophtalmus (+) (+)
Enophtalmus - -
Deviation Conjugate - -
Gerakan Bola Mata
Pupil :
Bentuk
Refleks cahaya langsung Refleks cahaya tidak langsung
Bulat, isokor, ± 3 mm
+
+
Bulat, isokor,
± 3 mm +
+
Diplopia (-) (-)
N V (Trigeminus)
Membuka mulut (+)
Mengunyah (+)
Menggigit (+)
Refleks Kornea Tidak dilakukan
Sensibilitas muka
Dahi Normal Normal
Pipi Normal Normal
Dagu Normal Normal
N VII (Fasialis)
Mengerutkan Dahi Berkurang Normal
Mengangkan Alis Tertinggal Normal
Menutup Mata Tidak menutup
sempurna Normal
Memperlihatkan Gigi Sudut bibir tertinggal
Normal
Lipatan Nasolabialis Berkurang Normal
N VII (Fasialis)
Sensasi Lidah 2/3 depan Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Salivasi Normal Normal
Lakrimasi Normal Normal
NVIII (Vestibulocochlearis)
Suara berbisik Normal Normal
Detik Arloji Normal Normal
Rinne Test Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Weber Test Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Swabach Test Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Nistagmus Tidak ada Tidak ada
N IX (Glossofaringeus), N X (Vagus)
Arcus Pharingeus Simetris
Uvula Ditengah
Gangguan Menelan Tidak ada
Suara serak/sengau Tidak ada
Refleks Muntah Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Batuk + +
Okulokardiak Tidak dilakukan Tidak dilakukan Sensasi lidah 1/3 belakang Tidak dilakukan Tidak dilakukan N XI (Assesorius)
Menoleh ke kanan + +
Menoleh ke kiri + +
Mengangkat Bahu + +
N XII (Hipoglosus) Kedudukan lidah
dijulurkan Normal ditengah
Fasikulasi (-)
Atrofi Papil (-)
5. Badan dan anggota gerak Anggota Gerak Atas
Motorik Kanan Kiri
Gerakan Tidak terbatas Tidak terbatas
Kekuatan 5555 5555
Tonus Normal Normal
Refleks Fisiologis
Biceps ++ ++
Triceps ++ ++
Refleks Patologis
Hoffman Tromer - -
Anggota Gerak Bawah
Motorik Kanan Kiri
Gerakan Terbatas Terbatas
Kekuatan 4444 4444
Tonus Normal Normal
Klonus
Paha - -
Kaki - -
Refleks Fisiologis
Patella ++ ++
Achilles ++ ++
Refleks Patologis
(-) Disartria
Babinsky - -
Chaddock - -
Rosolimo - -
Mendel-Bechtrew - -
Scheaefer - -
Oppenheim - -
6. Koordinasi, Gait, Keseimbangan
a. Cara Berjalan : Trendelenberg gait b. Test Romberg : Tidak dilakukan c. Disdiadikinesis : Tidak dilakukan d. Ataksia : Tidak dilakukan e. Rebound Phenomen : Tidak dilakukan f. Dismetria : Tidak dilakukan 7. Gerakan Abnormal
a. Tremor : (-) b. Atetosis : (-) c. Miokloni : (-) d. Khorea : (-) e. Rigiditas : (-) f. Spastisitas : (-) 8. Alat vegetative
a. Miksi : Dalam batas normal b. Defekasi : Dalam batas normal 9. Kolumna Vertebralis
a. Kyphosis : Tidak ada b. Lordosis : Tidak ada c. Gibbus : Tidak ada d. Deformitas : Tidak ada
e. Tumor : Tidak ada f. Meningocele : Tidak ada g. Hematoma : Tidak ada h. Nyeri ketok : Tidak ada 10. Test Tambahan
a. Test Nafziger : Tidak dilakukan b. Test Valsava : Tidak dilakukan
2.4. Pemeriksaan Penunjang Laboratorium (18 Maret 2024)
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan
Hemoglobin 11,5-17,3 g/dL
Hematokrit 34.5-54 %
Eritrosit 3,79-5,78 x106/uL
MCV 84-98 fL
MCH 27,5-32,4 pg
MCHC 31,7-34,2 g/dL
Trombosit 156-342 x103/uL
Leukosit 5-11 x103/uL
Kesan :
2.5. Diagnosis
Diagnosis Klinik : Parese N VII perifer dextra Diagnosis Topis : Foramen Stylomastoideus Diagnosis Etiologi : Bell’s Palsy
Diagnosis Sekunder :
2.6. Tatalaksana Non farmakologi
a. Istirahat dan menjelaskan kepada pasien bahwa penyakit ini bukan stroke
b. Jelaskan kekambuhan bisa terjadi dalam waktu 2-8 minggu sampai 2 tahun.
c. Jaga agar muka tetap hangat dan selanjutnya hindarkan dari udara dingin.
d. Lindungi mata dengan kaca mata apabila keluar rumah.
e. Menerangkan pada keluarga pasien untuk mengajarkan latihan wajah pada pasien di rumah. Dapat dimulai dengan kompres hangat dan pemijatan pada wajah. Dilanjutkan dengan menggerakan otot-otot wajah.
f. Anjurkan fisioterapi.
Farmakologi
a. PO. Prednison 3 x 5 mg selama 3 hari
Dilanjutkan dengan PO. Metilprednisolon 3 x 8 mg selama 3 hari b. PO. Mecobalamin 2 x 500 mg
c. PO. Lansoprazole 1 x 30 mg
2.7. Prognosis
Quo ad fungtionam : Bonam Quo ad vitam : Bonam Quo ad sanationam : Bonam
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1. Nervus Fasialis (CN VII)
Nervus fasialis adalah saraf kranial ketujuh (CN VII). Nervus fasialis memiliki dua komponen. Komponen yang lebih besar adalah motorik murni dan mempersarafi otot-otot ekspresi wajah. Komponen ini hanya terdiri atas nervus fasialis. Komponen lainnya yaitu saraf yang lebih tipis, nervus intermerdius, yang mengandung serabut aferen viseral dan somatik, serta serabut eferen viseral.
Saraf fasialis atau saraf ketujuh mempunyai komponen motorik yang mempersarafi semua otot ekspresi wajah pada salah satu sisi komponen sensorik kecil (nervus intermedius) yang menerima sensasi rasa dari 2/3 depan lidah, dan komponen otonom yang merupakan cabang sekretomotor yang mempersyarafi glandula lakrimalis dan glandula saliva.
Gambar 3.1 Perjalanan perifer nervus fasialis
3.1.1. Otot-otot Nervus Fasialis
Otot-otot mimik terdapat di dalam fascia superfisialis wajah dan muncul dari tulang pada wajah dan masuk pada kulit wajah. Lubang-lubang pada wajah yaitu orbita, hidung dan mulut dilindungi oleh kelopak mata, cuping hidung dan bibir. Fungsi otot-otot mimik adalah untuk menutup (sphincter) dan membuka (dilatator) struktur-struktur ini. Fungsi kedua otot-otot mimik adalah membuat ekspresi wajah. Semua otot ini mendapat suplai darah dari arteri fasialis
Sebagaimana dinyatakan, saraf wajah mempersarafi hal-hal berikut:
1) Otot-otot ekspresi wajah – bertanggung jawab atas ekspresi emosi dengan mengubah ekspresi wajah
2) Otot stylohyoid – menarik tulang hyoid ke belakang, yang memulai tindakan menelan dan mengangkat lidah
3) Perut posterior otot digastrik – bersama dengan perut anterior otot digastrik, mengangkat tulang hyoid dan terlibat dalam gerakan kompleks apa pun yang melibatkan rahang
4) Otot stapedius telinga tengah – menstabilkan stapes, mencegah gerakan berlebihan sebagai respons terhadap suara keras.
Gambar 3.2 Otot Wajah
3.1.2. Komponen Motorik Nervus Fasialis
Nukleus komponen motorik nervus fasialis terletak di bagian ventrolateral tegmentum pontis. Di dalam batang otak, serabut ini berjalan memutari nukleus abdusen membentuk genu internum nervus fasialis, dan membentuk penonjolan kecil di dasar ventrikel keempat yang disebut kolikulus fasialis. Serabut ini kemudian membentuk gelondong yang padat, yang berjalan di ventrolateral menuju ujung kaudal pons dan kemudian dari batang otak, menembus ruang subaraknoid di cerebellopontine angle, dan kemudian memasuki meatus akustikus internus bersama dengan nervus intermedius dan nervus kranialis VIII. Di dalam meatus,
nervus fasialis dan nervus intermedius terpisah dari nervus kranialis VIII dan berjalan ke arah lateral di kanalis fasialis menuju ganglion genikulatum.
3.1.3. Nervus Intermedius A. Serabut Aferen Gustatorik B. Serabut Somatik Aferen C. Serabut Sekretorik Eferen
3.1.4. Percabangan Nervus Fasialis
Saraf fasialis memiliki lima percabangan penting sebagai berikut :3
a. Nervus petrosus superfisialis mayor keluar dari ganglion geniculi. Saraf ini memiliki cabang preganglionic parasimpatetik yang memberi sinaps pada ganglion pterygopalatina. Serat-serat saraf ini memberi percabangan sekromotorik pada kelenjar lakrimalis dan kelenjar pada hidung dan palatum. Saraf ini juga mengandung serat afferen yang didapat dari taste bud dari mukosa palatum.
b. Saraf stapedius, memberi persarafan pada muskulus stapedius di telinga tengah.
c. Korda timpani muncul di kanalis fasialis di dinding posterior kavum timpani. Bagian saraf ini langsung menuju permukaan medial dari bagian atas
membran timpani dan meninggalkan telinga tengah melalui fisura petrotimpanikus dan memasuki fossa infratemporal dan bergabung dengan nervus lingualis. Korda timpani memiliki serat preganglionik parasimpatetik berupa serat sekremotorik yang memberi persarafan pada kelenjar liur submandibular dan sublingual. Korda timpani juga memiliki serat saraf taste bud dari 2/3 anterior lidah dan dasar mulut.
d. Nervus aurikularis posterior memberi persarafan otot aurikel dan muskulus temporalis. Terdapat juga cabang muskularis yang keluar setelah saraf keluar dari foramen stylomastoideus. Cabang ini memberi persarafan pada muskulus stylohyoid dan muskulus digastricus posterior.
e. Lima cabang terminal untuk otot- otot mimik. Cabang-cabang itu adalah cabang temporal, cabang zigomatik, cabang buccal, cabang mandibular dan cabang cervical
3.1.5. Refleks yang Melibatkan Nervus Fasialis 1) Reflek Kornea
Refleks kornea yaitu ketika kornea terangsang, maka mata akan terpejam secara refleks. Impuls somatosensorik dari membran mukosa mata berjalan di nervus oftalmikus ke nukleus prinsipalis sensorius nervus trigeminus (lengkung aferen). Setelah membentuk sinaps di sini, impuls meneruskan perjalanannya ke nuklei nervus fasialis dan kemudian melalui nervus fasialis ke mm. Orbikularis okuli pada kedua sisi (lengkung eferen). Gangguan pada lengkung refleks ini baik pada komponen aferen (nervus trigeminua) dan (nervus fasialis) menghilangkan refleks kornea.4
2) Refleks Kedip
Refleks kediap yaitu ketika sebuah objek tiba-tiba terlihat tapat di dekat mata, terjadi refleks penutupan mata. Stimulus visual yang kuat mencetuskan kolikulus superior untuk mengirimkan impuls visual ke nukleus fasialis di pons melalui traktus tektobulbaris, yang mengakibatkan mata segera tertutup.4 3) Refleks Stapedius
Impuls auditorik dihantarkan dari nuleus dorsalis korpus trapezoideus ke nukleus fasialis dan menimbulkan kontraksi atau relaksasi m. Stapedius, tergantung dari kekuatan stimulus auditoriknya.4
3.2. Bell’s Palsy 3.2.1. Definisi
Bell’s palsy disebut juga paralisis fasial idiopatik didefinisikan sebagai kelemahan wajah bersifat akut, mengenai saraf tunggal, unilateral, dan termasuk kelemahan fasial tipe lower motor neuron (LMN) tanpa penyebab pasti.
Manifestasi klinis dapat muncul dari jaras motorik, sensorik, dan parasimpatik saraf kranial. Diagnosis harus terlebih dahulu mengeliminasi penyebab lain paresis atau paralisis wajah, seperti neoplasma, trauma, kongenital, infeksi spesifik, atau kelemahan post-operasi.5 Bell’s Palsy biasanya terjadi secara mendadak. Penderita setelah bangun pagi mendapati salah satu sisi wajah asimetris. Gejala awal yang ringan seperti kesemutan di sekitar bibir atau mata kering biasanya cepat menjadi berat dalam waktu 48 jam atau kering 6
3.2.2. Epidemiologi
Bell’s palsy ditemukan pada 75% kasus paralisis saraf wajah akut.
Penyakit ini mengenai baik pria maupun wanita dengan persentase relatif sama, insiden sedikit lebih tinggi pada usia lanjut, namun dapat terjadi pada semua usia.
Insiden pada populasi antara 11,5 hingga 40,2 kasus per 100.000 penduduk; 20,2/100.000 penduduk di United Kingdom, 30/100.000 di Jepang, dan 25- 30/100.000 di Amerika Serikat.1 Insiden meningkat saat kehamilan, pada infeksi virus saluran napas bagian atas, imunokompromais, serta pada pasien diabetes melitus dan hipertensi.1 Beberapa data epidemiologi mendapatkan insiden sedikit lebih tinggi saat musim dingin dibandingkan saat musim panas.5
3.2.3. Etiopatogenesis
Bell’s palsy dapat disebabkan berbagai factor seperti imunologi, infeksi, vaskuler, dan paling banyak adalah idiopatik. Walaupun Bell’s palsy diperkirakan
idiopatik, namun kurang tepat karena studi mengaitkannya dengan infeksi herpes simpleks virus (HSV)-1.7
A. Virus
Reaktivasi infeksi virus diduga menjadi salah satu etiologi Bell’s palsy. Virus tersebut antara lain virus varicella zoster, herpes simplex virus type 1 (HSV- 1), human herpes virus 6. Sebagian besar dikaitkan dengan virus herpes yang memiliki target neuron perifer. HSV-1 berperan besar dalam kejadian Bell’s palsy. DNA HSV-1 memasuki tubuh manusia melalui mukokutan dan menginfeksi tubuh, kemudian menjadi dorman di ganglia multipel di neuroaksis sepanjang hidup manusia tersebut. Virus herpes dorman dapat mengalami reaktivasi, yang dapat dipengaruhi oleh imunitas tubuh. Gejala muncul karena terjadi disfungsi neural akibat aktivasi virus herpes melalui jalur apoptosis dan degradasi intra-aksonal karena respons lokal akson terhadap fenotip virus.5
B. Iskemia
Beberapa kasus Bell’s palsy yang tidak mengalami remisi, dipengaruhi oleh adanya iskemia saraf yang menyebabkan penebalan selubung saraf, membentuk jaringan fibrosa yang menyebabkan strangulasi dan kompresi.
Hal ini menghambat proses pemulihan Bell’s palsy.5 C. Autoimun
Hipotesis autoimun pada kasus Bell’s palsy didasarkan pada adanya penurunan sel T supresor dan peningkatan limfosit B yang dibarengi dengan peningkatan interleukin-1, interleukin-6, dan tumor necrosis factor alpha (TNF-α). Keadaan ini menyebabkan kerusakan mielin saraf.5
D. Paparan dingin
Paparan dingin atau keadaan dingin dapat menyebabkan saluran kanal fasialis terjadi fase kontraksi atau fase penyempitan saluran dan akan menyebabkan terjepitnya nervus fasialis sehingga mengakibatkan paralisis.
3.2.4. Gambaran Klinis
Manifestasi klinis Bell’s palsy dapat berbeda tergantung lesi pada perjalanan saraf fasialis. Pada awalnya, penderita merasakan ada kelainan di mulut pada saat bangun tidur, menggosok gigi atau berkumur, minum atau berbicara. Setelah merasakan adanya kelainan di daerah mulut maka penderita biasanya memperhatikannya lebih cermat dengan menggunakan cermin.
a. Lesi di luar foramen stilomastoideus
Mulut tertarik ke arah sisi mulut yang sehat
Makanan berkumpul di antar pipi dan gusi, dan sensasi dalam (deep sensation) di wajah menghilang
Lipatan kulit dahi menghilang
Apabila mata yang terkena tidak tertutup atau tidak dilindungi maka air mata akan keluar terus menerus.
b. Lesi di kanalis fasialis (melibatkan korda timpani)
Gejala dan tanda klinik seperti pada (a)
ditambah dengan hilangnya ketajaman pengecapan lidah (2/3 bagian depan) dan salivasi di sisi yang terkena berkurang. Hilangnya daya pengecapan pada lidah menunjukkan terlibatnya nervus intermedius, sekaligus menunjukkan lesi di daerah antara pons dan titik di mana korda timpani bergabung dengan nervus fasialis di kanalis fasialis.
c. Lesi di kanalis fasialis lebih tinggi lagi (melibatkan muskulus stapedius)
Gejala dan tanda klinik seperti pada (a), (b)
ditambah dengan adanya hiperakusis.
d. Lesi di tempat yang lebih tinggi lagi (melibatkan ganglion genikulatum)
Gejala dan tanda klinik seperti (a), (b), (c)
disertai dengan nyeri di belakang dan di dalam liang telinga. Kasus seperti ini dapat terjadi pasca herpes di membran timpani dan konka.
Ramsay Hunt adalah paralisis fasialis perifer yang berhubungan dengan herpes zoster di ganglion genikulatum. Lesi herpetik terlibat di membran timpani, kanalis auditorius eksterna dan pina.
e. Lesi di daerah meatus akustikus interna
Gejala dan tanda klinik seperti (a), (b), (c), (d)
ditambah dengan tuli sebagi akibat dari terlibatnya nervus akustikus.
f. Lesi di tempat keluarnya nervus fascialis dari pons
Gejala dan tanda klinik sama dengan di atas, disertai gejala dan tanda terlibatnya nervus trigeminus, nervus akustikus, dan kadang-kadang juga
nervus abdusens, nervus aksesorius, dan nervus
hipoglosus
Bila lesi di foramen stylomastoideus, dapat terjadi gangguan komplit yang menyebabkan paralisis semua otot ekspresi wajah. Saat menutup kelopak mata, kedua mata melakukan rotasi ke atas (Bell’s phenomenon). Selain itu,mata dapat terasa berair karena aliran air mata ke sakus lakrimalis yang dibantu muskulus orbikularis okuli terganggu. Manifestasi komplit lainnya ditunjukkan dengan makanan yang tersimpan antara gigi dan pipi akibat gangguan gerakan wajah dan air liur keluar dari sudut mulut.6
Lesi di kanalis fasialis (di atas persimpangan dengan korda timpani tetapi di bawah ganglion genikulatum) akan menunjukkan semua gejala seperti lesi di
foramen stylomastoid ditambah pengecapan menghilang pada dua per tiga anterior lidah pada sisi yang sama.6
Lesi yang terjadi di saraf yang menuju ke muskulus stapedius dapat mengakibatkan hiperakusis (sensitivitas nyeri terhadapsuara keras). Selain itu, lesi pada ganglion genikulatum akan menimbulkan lakrimasi dan berkurangnya salivasi sertadapat melibatkan saraf kedelapan.6
3.2.5. Diagnosis
Diagnosis Bell’s palsy adalah diagnosis klinis. Untuk evaluasi yang komprehensif, dibutuhkan juga anamnesis paparan terhadap berbagai virus (herpes, HIV, dan lain-lain), riwayat paparan stres, serta paparan udara dingin yang diduga dapat memengaruhi kejadian Bell’s palsy.5
Pemeriksaan
Kriteria Diagnosis Bell’s palsy
Gambar 3. Kriteria diagnosis Bell’s palsy Derajat Keparahan
Klasifikasi House-Brackmann dapat digunakan untuk mengukur tingkat keparahan Bell’s palsy. Skala House-Brackmann merupakan alat yang digunakan untuk memprediksi kemungkinan kesembuhan nya. Skala ini menilai gambaran wajah dan kesimetrisannya dalam kondisi istirahat dan bergerak.5
Tabel 3. Klasifikasi House-Brackmann5
Derajat Deskripsi
I Normal Fungsi saraf wajah normal pada semua area
II Disfungsi ringan Kelemahan ringan yang hanya dapat terlihat pada pemeriksaan seksama. Saat istirahat: dahi normal simetris, mampu menutup mata dengan usaha minimal dan asimetris ringan, mampu menggerakkan ujung bibir dengan usaha maksimal dan asimetris ringan. Tidak ada synkinesis, kontraktur, ataupun spasme hemifasial.
III Disfungsi sedang Tampak jelas, namun tidak berbeda jauh antara dua sisi, tidak ada kegagalan fungsi; terdapat synkinesis, kontraktur dan/atau spasme hemifasial, namun tidak berat. Saat istirahat: tampak normal simetris.
Pergerakan sedikit hingga tidak ada pergerakan dahi, mampu menutup mata dengan usaha maksimal dan tampak jelas asimetris, mampu menggerakkan ujung bibir dengan usaha maksimal dan tampak asimetris jelas. Pasien dengan gejala jelas namun tanpa synkinesis yang mengganggu, kontraktur, dan/atau spasme hemifasial
tanpa memandang derajat aktivitas motorik.
IV Disfungsi sedang berat Tampak kelemahan yang jelas dan/atau asimetris yang jelas. Saat istirahat: simetris normal. Pergerakan: tidak ada pergerakan dahi; tidak mampu menutup mata sempurna sekalipun usaha maksimal. Pasien dengan synkinesis dan/atau spasme hemifasial berat yang dapat mengganggu fungsi tanpa memandang aktivitas motorik.
V Disfungsi berat Gerakan nyaris tak terlihat. Saat istirahat: mungkin asimetris dengan ujung bibir jatuh dan penurunan atau tidak adanya lipatan nasolabial. Pergerakan: tidak ada pergerakan dahi, penutupan mata tidak sempurna, dan hanya sedikit pergerakan kelopak mata dengan usaha maksimal, pergerakan sedikit pada ujung bibir.
Synkinesis, kontraktur, dan spasme hemifasial biasanya tidak ada.
VI Disfungsi total Tidak ada tonus; asimetris; tidak ada pergerakan; tidak ada synkinesis, kontraktur, ataupun spasme hemifasial.
Pemeriksaan Penunjang 1. Pencitraan
Pencitraan tidak direkomendasikan untuk evaluasi awal Bell’s palsy, kecuali gejala tidak khas. CT scan dengan kontras atau MRI digunakan untuk menyingkirkan dugaan penyebab tumor jinak ataupun ganas; dapat juga digunakan jika gejala tidak membaik setelah 3 minggu.5 Pada pemeriksaan MRI dengan kontras, didapatkan penyengatan nervus fasialis yang menggambarkan adanya inflamasi.7
Gambar 3. MRI pada pasien kelumpuhan total nervus fasialis kiri dengan onset akut dan tidak nyeri4
2. Cairan serebrospinal
Cairan serebrospinal menunjukkan peningkatan ringan limfosit dan monosit.7
3. Elektrodiagnostik
Pemeriksaan ini tidak rutin, namun dapat dilakukan pada paralisis berat untuk menilai derajat keparahan kerusakan saraf. Pemeriksaan disarankan dilakukan setelah 1 minggu dari onset untuk menghindari hasil negatif palsu.
Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah tes eksitabilitas saraf, elektroneurografi, dan elektromiografi.5 Uji kepekaan saraf (nerve excitability test) membandingkan kontraksi otot-otot wajah kiri & kanan setelah diberi rangsang listrik. Perbedaan rangsang lebih 3,5 mA menunjukkan keadaan patologik dan jika lebih 20 mA menunjukkan kerusakan nervus fasialis ireversibel. Elektromiografi merupakan pemeriksaan yang menggambarkan masih berfungsi atau tidaknya otot-otot wajah. 8
Pemeriksaan elektrofisiologi, yaitu refleks kedip (blink reflex) dapat menentukan topis kerusakan nervus fasialis. Pemeriksaan ini dilakukan setelah onset 14 hari, karena pada < 14 hari pascaonset masih terjadi kerusakan nervus fasialis, sehingga belum dapat diperkirakan derajat kerusakan akhirnya.7
3.2.6. Diagnosis Banding
3.2.7. Tatalaksana Medikamentosa 1. Kortikosteroid
Mekanisme bell’s palsy yaitu adanya inflamasi dan edema yang menyebabkan kompresi saraf fasialis yang berjalan melalui kanalis fallopian (fasialis). Agen antiinflamasi kuat seperti kortikosteroid oral, memiliki target inflamasi yang bisa menurunkan edema dan memfasilitasi kembalinya fungsi saraf fasialis.
Kortikosteroid bekerja sebagai anti inflamasi dengan cara menghambat kerja enzim fosfolipase sehingga pelepasan asam arakhidonat oleh fosfolipid membran sel tidak terjadi. Dengan demikian prostaglandin yang akan menimbulkan vasodilatasi dan edema juga pelepasan leukotrin yang akhirya
akan menyebabkan peningkatan permeabilits kapiler dapat dihambat, sehingga reaksi inflamsi lebih lanjut dapat dicegah.9
Meskipun kortikosteroid tidak dapat mencegah terjadinya denervasi parsial atau kontraktur, tetapi dapat mencegah berkembangnya kondisi mild incomplete paresis ke arah severe complete paralisis atau ke denervasi total, menghilangkan nyeri yang berhubungan dengan paralisis, Sebelum diberikan perlu diingat kontraindikasi kortikosteroid, seperti; diabetes mellitus, ulkus peptikum, disfungsi hepar dan renal, hipertensi berat atau imunosupresi. Dari studi didapatkan efek samping kortikosteroid yang terjadi pada 1- 4%
penderita, berupa; dyspepsia, hiperglikemia, ulkus duodenum, perubahan emosi dan psikosis akut. Semua efek samping tersebut hilang dengan penghentian steroid.9 Sediaan dapat berupa prednisolone oral dengan dosis 60 mg per hari selama 5 hari kemudian diturunkan dosisnya menjadi 10 mg per hari dengan total lama pengobatan selama 10 hari.5 Prednisolon telah digunakan dengan dosis 1 mg/kg/hari hingga maksimum 80 mg dalam beberapa penelitian. Dosis lebih dari 120 mg/hari telah digunakan dengan aman pada pasien diabetes.10 Prednisolon harus digunakan dengan hati-hati pada imunosupresi dan sepsis. Hal ini dapat menyebabkan induksi atau perburukan penyakit ulkus peptikum, hiperglikemia terutama pada penderita diabetes, namun dosis yang lebih tinggi mungkin diperlukan pada diabetes, hipertensi malignansi, disfungsi hati dan ginjal.
2. Anti Virus
Herpes simpleks tipe 1 dan Varicella zoster virus (VZV) merupakan dua virus yang dipercaya bertanggung jawab pada kasus Bell’s palsy.
Reaktivasi dari virus-virus ini dapat menyebabkan inflamasi pada saraf fasialis. Acyclovir dan famciclovir merupakan agen antivirus yang umum digunakan. Sediaan antiviral acyclovir per oral dengan dosis 400 mg 5 kali sehari diberikan selama 5 hari, valacyclovir per oral dengan dosis 1.000 mg per hari selama 5 hari, atau famciclovir 500 mg 3 kali sehari, 5
Efek samping antivirus dapat menyebabkan mual dan muntah, sakit perut, diare, reaksi neurologis, seperti pusing, kejang-kejang (lebih sering terjadi pada dosis yang lebih tinggi), sangat jarang terjadi hepatitis dan penyakit kuning.
3. Metilkobalamin
Metilkobalamin berperan sebagai kofaktor dalam proses remielinisasi, dengan membantu sintesa metionin. Metionin diperlukan untuk mensintesa fosfolipid dan mielin. Dengan demikian metilkobalamin berperan dalam memperbaiki dan meningkatkan metabolisme asam nukleat dan protein dalam jaringan saraf, sehingga mempercepat perbaikan jaringan saraf. 9
Metilkobalamin dengan atau tanpa kortikosteroid secara bermakna mempercepat waktu penyembuhan sempurna paralisis nervus fasialis, dibandingkan yang hanya mendapatkan kortikosteroid saja.9
Gambar 3. Algoritma tatalaksana Bell’s palsy
Non Medikamentosa 1. Fisioterapi
Terapi panas superficial atau dalam dimulai pada hari ke-4. Terapi panas superficial, daerah terapinya adalah muka yang sakit (pemanasan untuk kulit dan otot). Sedangkan terapi panas dalam daerah terapinya adalah tulang mastoid.
Stiumulasi listrik daerah yang distimulasi adalah otot-otot fasial yang terkena. Tujuan dari stimulasi listrik adalah untuk mencegah atau memperlambat terjadinya atrofi sambil menunggu proses regenerasi, dan memperkuat otot yang masih lemah setelah proses regenerasi saraf selesai.
Stimulasi elektrik dapat menyebabkan kontraksi otot yang kehilangan inervasinya dan merangsang regenerasi saraf dan gen yang berpengaruh pada pertumbuhan.5 Efektifitasnya diragukan karena dapat mengganggu proses regenerasi saraf.
Pemberian massage pada kasus Bell’s Palsy bertujuan untuk mengurangi rasa kaku, tebal dan meningkatkan kemampuanfungsional otot- otot yang ada diwajah dan bertujuan untuk meningkatkan kekuatan otot wajah.
2. Pembedahan
Tindakan operatif umunya tidak dianjurkan pada anak-anak karena dapat menimbulkan komplikasi local maupun intracranial. Tindakan operatif dilakukan apabila :8
a) Tidak terdapat penyembuhan spontan
b) Tidak terdapat perbaikan dengan pengobatan prednisone c) Pada pemeriksaan elektrik terdapat denervasi total
Beberapa Tindakan operatif yang dapat dikerjakan pada Bell’s palsy antara lain dekompresi N. Fasialis, yaitu membuka kanalis fasialis pars piramidalis mulai dari foramen stilomastoideuum nerve graft operasi plastic untuk kosmetik.8
3. Perlindungan Mata
Penutupan mata yang tidak sempurna, seiring berjalannya waktu tanpa intervensi yang baik, akan menyebabkan kerusakan kornea, timbulnya jaringan parut, dan penurunan kemampuan penglihatan.
Intervensi pada kasus Bell’s palsy berdasarkan penilaian kondisi fungsi saraf wajah, terutama keluhan lagoftalmus. Pada lagoftalmus ringan, tata laksana berupa air mata buatan, salep mata, penutup mata untuk menjaga kelembapan, atau implan kelopak mata. Air mata buatan merupakan pilihan utama dan dapat dikombinasikan dengan salep mata saat malam hari. Gunakan penutup mata jika perlu, meskipun tidak secara signifikan menurunkan risiko kerusakan kornea yang dapat mengakibatkan penurunan kemampuan penglihatan.5
3.2.8. Komplikasi
Sekitar 5% pasien setelah menderita Bell’s palsy mengalami sekuele berat yang tidak dapat diterima. Beberapa komplikasi yang sering terjadi akibat Bell’s palsy, adalah sebagai berikut :6
a. Regenerasi motor inkomplit yaitu regenerasi suboptimal yang menyebabkan paresis seluruh atau beberapa muskulus fasialis.
b. Regenerasi sensorik inkomplit yang menyebabkandisgeusia (gangguan pengecapan), ageusia (hilangpengecapan), dan disestesia (gangguan sensasi atau sensasi yang tidak sama dengan stimuli normal)
c. Reinervasi yang salah dari saraf fasialis . Reinervasi yang salah dari saraf fasialis dapat menyebabkan beberapa kondisi sebagai berikut :
1) Sinkinesis yaitu gerakan involunter yang mengikutigerakan volunter, contohnya timbul gerakan elevasi involunter dari sudut mata, kontraksi platysma, atau pengerutan dahi saat memejamkan mata
2) Crocodile tearphenomenon, yang timbul beberapa bulan setelah paresisakibat regenerasi yang salah dari serabut otonom, contohnyaair mata pasien keluar pada saat mengkonsumsi makanan,
3) Clonic facial spasm (hemifacial spasm), yaitu timbulkedutan secara tiba- tiba (shock-like) pada wajah yang dapatterjadi pada satu sisi wajah saja pada stadium awal, kemudian mengenai sisi lainnya (lesi bilateral tidak terjadi bersamaan)
3.2.9. Prognosis
Dalam sebuah penelitian pada 1.011 penderita Bell’s palsy, 85%
memperlihatkan tanda-tanda perbaikan pada minggu ketiga setelah onset penyakit.
15% kesembuhan terjadi pada 3-6 bulan kemudian. Pada literatur lain penderita Bell’s palsy bisa sembuh sempurna dalam waktu 2 bulan dan sembuh sempurna antara 1-3 bulan 80%.8
Sepertiga dari penderita Bell’s palsy dapat sembuh seperti sedia kala tanpa gejala sisa. 1/3 lainnya dapat sembuh tetapi dengan elastisitas otot yang tidak berfungsi dengan baik. Penderita seperti ini tidak memiliki kelainan yang nyata.
Penderita Bell’s palsy dapat sembuh total atau meninggalkan gejala sisa. Faktor resiko yang memperburuk prognosis Bell’s palsy adalah :8
1) Usia di atas 60 tahun 2) Paralisis komplit
3) Menurunnya fungsi pengecapan atau aliran saliva pada sisi yang lumpuh, 4) Nyeri pada bagian belakang telinga dan Berkurangnya air mata.
Penderita diabetes 30% lebih sering sembuh secara parsial dibanding penderita nondiabetik dan penderita DM lebih sering kambuh dibanding yang non DM. Hanya 23 % kasus Bells palsy yang mengenai kedua sisi wajah. Bell’s palsy kambuh pada 10-15 % penderita. Sekitar 30 % penderita yang kambuh ipsilateral menderita tumor N. VII atau tumor kelenjar parotis.8
Faktor yang dapat mengarah ke prognosis buruk adalah palsi komplit (risiko sekuele berat), riwayat rekurensi, diabetes,adanya nyeri hebat post- aurikular, gangguan pengecapan,refleks stapedius, wanita hamil dengan Bell’s palsy, bukti denervasi mulai setelah 10 hari (penyembuhan lambat),dan kasus dengan penyengatan kontras yang jelas. Faktor yang dapat mendukung ke prognosis baik adalah paralisis parsial inkomplit pada fase akut (penyembuhan
total), pemberian kortikosteroid dini, penyembuhan awal dan/atau perbaikan fungsi pengecapan dalam minggu pertama.6
BAB IV ANALISIS KASUS
Pasien mengeluhkan gejala berupa sulit menutup mata serta sudut bibir yang tertarik ke satu sisi. Keduanya sesuai dengan gejala paralisis nervus fasialis perifer. Keluhan kelumpuhan sebagian wajah telah dirasakan sejak seminggu sebelumnya, namun tidak segera diperiksakan ke dokter. Hal ini mengindikasikan adanya keterlambatan mendiagnosis serta memulai terapi kasus paralisis nervus fasialis perifer ini. Keterlambatan tersebut dapat menyebabkan kerusakan saraf yang ireversibel dan mempengaruhi prognosis pasien.
Pada pemeriksaan fisik pada pasien dilakukan pemeriksaan nervus kranialis, terutama nervus kranialis VII dari hasil pemeriksaan didapatkan kerutan dahi sebelah kanan berkurang, saat mengangkkat alis, alis kanan tertinggal, mata kanan tidak dapat menutup sempurna, sudut bibir kanan tertinggal saat pasien tersenyum dengan gigi terlihat, dan lipatan nasolabialis berkurang. Sensasi 2/3 anterior lidah tidak ada gangguan mati rasa berdasarkan pengakuan pasien. Hal ini sesuai dengan klinis penderita bell’s balsy, dimana gambaran klinis apabila terdapat lesi N. VII tepatnya di foramen stilomastoideus diantaranya mulut tertarik ke arah sisi mulut yang sehat , makanan berkumpul di antar pipi dan gusi, dan sensasi dalam (deep sensation) di wajah menghilang lipatan kulit dahi menghilang, apabila mata yang terkena tidak tertutup atau tidak dilindungi maka air mata akan keluar terus menerus.
Pasien memiliki riwayat konsumsi steroid selama 1 tahun dan pasien didiagnosis mengalami avaskular nekrosis, namun hingga saat ini pasien belum dilakukan tindakan apapun. Nekrosis avaskular (osteonekrosis, aseptic nekrosis, atau nekrosis iskemik) merupakan kondisi patologi yang mengakibatkan gangguan suplai darah ke tulang tertentu yang mengakibatkan iskemik osteosit Kortikosteroid meningkatkan adipogenesis dan hipertrofi lemak di sum-sum tulang yang menyebabkan peningkatan tekanan intraosseus sehingga terjadi kompresi vaskular dan mengurangi perfusi ke jaringan tulang, yang selanjutnya memicu iskemia tulang dan infark.
Pada pasien diberikan terapi berupa Metilprednisolon 3 x 16 mg selama 3 hari, dilanjutkan dengan Metilprednisolon 3 x 8 mg selama 3 hari dan mecobalamin 2 x 500 mg. Kortikosteroid bekerja sebagai anti inflamasi dengan cara menghambat kerja enzim fosfolipase sehingga pelepasan asam arakhidonat oleh fosfolipid membran sel tidak terjadi. Dengan demikian prostaglandin yang akan menimbulkan vasodilatasi dan edema juga pelepasan leukotrin yang akhirya akan menyebabkan peningkatan permeabilits kapiler dapat dihambat, sehingga reaksi inflamsi lebih lanjut dapat dicegah. Sediaan dapat berupa prednisolone oral dengan dosis 60 mg per hari selama 5 hari kemudian diturunkan dosisnya menjadi 10 mg per hari dengan total lama pengobatan selama 10 hari.5 Prednisolon telah digunakan dengan dosis 1 mg/kg/hari hingga maksimum 80 mg. Metilkobalamin berperan sebagai kofaktor dalam proses remielinisasi, dengan membantu sintesa metionin. Metionin diperlukan untuk mensintesa fosfolipid dan mielin. Dengan demikian metilkobalamin berperan dalam memperbaiki dan meningkatkan metabolisme asam nukleat dan protein dalam jaringan saraf, sehingga mempercepat perbaikan jaringan saraf. Metilkobalamin dengan atau tanpa kortikosteroid secara bermakna mempercepat waktu penyembuhan sempurna paralisis nervus fasialis, dibandingkan yang hanya mendapatkan kortikosteroid saja.
BAB V KESIMPULAN
Bell’s palsy adalah gangguan saraf yang terjadi pada satu sisi wajah tanpa adanya penyebab pasti. Gejala yang nampak bergantung pada cabang saraf wajah yang terkena. Diagnosis dapat ditegakkan melalui anamnesis lengkap terkait onset pada gejala yang timbul dan pemeriksaan fisik, serta bila perlu dapat dilakukan pemeriksaan penunjang untuk menyingkirkan diagnosis lain.
Pengobatan yang diberikan dapat berupa farmakologis dan non-farmakologis agar gejala dapat berkurang dan fungsi pada saraf wajah dapat kembali optimal.
DAFTAR PUSTAKA
1. Warner MJ, Hutchison J, Varacallo M. Bell Palsy. StatPearls [Internet].
2023 Aug 17 [cited 2024 Mar 24]; Available from:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK482290/
2. Singh A, Deshmukh P. Bell’s Palsy: A Review. 2022;
3. Snell RS. Clinical Anatomy By Regions 9th Edition. Philadelphia, Lippincott Williams & Wilkins. 2012.
4. Baehr M, Frotscher M. Diagnosis Topik Neurologi DUUS : Anatomi, Fisiologi, Tanda, Gejala. Edisi 5. Dimanti Al, Setiadi A, Lestari WA, editors. Jakarta: EGC; 2017.
5. Putri ZR. Bell’s Palsy: Diagnosis dan Tata Laksana. CDK-307.
2022;49(8):431–4.
6. Mujaddidah N. Tinjauan Anatomi Klinik Dan Manajemen Bell’s Palsy.
Qanun Medika. 2017 Jul;1(2):1–11.
7. Aninditha T, Harris S, Wiratman W. Buku Ajar Neurologi. 2nd ed. Vol. 2.
Jakarta: Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia;
2022.
8. Moch B. Bell’s Palsy (BP). Saintika Medika [Internet]. 2011 Mar 18 [cited
2024 Mar 25];7(15). Available from:
https://www.researchgate.net/publication/326348292_Bell’s_Palsy_BP 9. Mariva R. Pengaruh Pemberian Kortikosteroid pada Penderita Bell’s Palsy.
[Bandung]: Universitas Padjajaran; 2004.
10. Somasundara D, Sullivan F. Management of bell’s palsy. Aust Prescr.
2017;40(3):94–7.