LAPORAN PERAN UTAMA AKTOR EKONOMI KREATIF DALAM PENGEMBANGAN INDSUTRI KREATIF
Disusun guna memenuhi tugas akhir mata kuliah Ekonomi Kreatif Dosen Pengampu: Dr. Iip Saripah, M. Pd.
Kelompok 13 Disusun oleh:
1. Shomalla Fadilah Anggraini 1201421005 2. Iwah Pakungwati 1201421026 3. Ainnuha Nurul Utami 1201421037
4. Rahmawati 1201421072
JURUSAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN DAN PSIKOLOGI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2023
i
KATA PENGANTAR Assalamualaikum Wr. Wb
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga penulis bisa menyelesaikan tugas karya ilmiah tentang Peran Utama Aktor Ekonomi Kreatif dalam Pengembangan Industri Kreatif
Tidak lupa juga penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah turut memberikan kontribusi dalam penyusunan tugas karya ilmiah ini. Tentunya, tidak akan bisa maksimal jika tidak dapat dukungan dari berbagai pihak.
Sebagai penyusun, penulis menyadari bahwa masih terdapat bahwa masih terdapat kekurangan, baik dari penyusunan maupun tata bahasa penyampaian dalam karya ilmiah ini.
Oleh karena itu, penulis dengan rendah hati menerima saran dan kritik dari pembaca agar penulis dapat memperbaiki karya ilmiah ini.
Penulis berharap semoga karya ilmiah yang penulis susun ini dapat memberikan manfaat dan juga inspirasi untuk pembaca.
Semarang, 13 Desember 2023
Kelompok 13
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 3
1.3 Tujuan ... 3
1.4 Manfaat ... 3
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 4
2.1 Kajian Pustaka ... 4
2.2 Kajian Teori ... 6
BAB III PEMBAHASAN ... 9
3.1 Definisi Ekonomi Kreatif dan Industri Kreatif ... 9
3.1.1 Ekonomi Kreatif ... 9
3.1.2 Industri Kreatif... 9
3.2 Peran Utama Aktor Ekonomi Kreatif dalam Meningkatkan Inovasi dan Kreativitas Pengembangan Industri Kreatif ... 10
3.3 Hambatan yang dihadapi oleh Aktor Ekonomi Kreatif dalam Mendukung Pertumbuhan Industri Kreatif ... 12
BAB IV PENUTUP ... 14
4.1 Kesimpulan ... 14
4.2 Saran ... 14
DAFTAR PUSTAKA ... 16
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Krisis keuangan global memiliki dampak signifikan pada ekonomi negara, sehingga pemerintah berupaya mengatasi ketidakseimbangan ekonomi dengan menciptakan pembentukan lapangan kerja baru dan pertumbuhan ekonomi. Pemanfaatan aspirasi kewirausahaan masyarakat menjadi salah satu kebijakan yang sedang populer. Meskipun Indonesia mengalami krisis global pada tahun 2009, dampaknya tidak seberat krisis moneter tahun 1997-1998. Dalam mendukung perekonomian nasional, pemerintah memandang kewirausahaan sebagai elemen dinamis yang dapat mendukung program- program yang pada intinya bertujuan untuk meningkatkan ekonomi secara keseluruhan, dengan melibatkan pengusaha Indonesia sebagai mitra utama.
Dalam memahami peran wirausaha, kita setuju bahwa pertumbuhan ekonomi dan pembangunan sosial ekonomi sangat dipengaruhi oleh inovasi dan kewirausahaan (Bercovitz dan Feldman, 2006; Cooke, 2006; Etzkowitz dan Kolfsten, 2005). Untuk merinci peran wirausaha, perlu mempertimbangkan beberapa elemen yang berkontribusi pada peningkatan fungsinya. Sejumlah negara telah mengadopsi model triple helix, yang mendorong inovasi melalui pembentukan kebijakan dan konsep pelembagaan, bertindak sebagai penghubung antara universitas, industri, dan pemerintah (Etzkowitz dan Leydesdorf, 2000; O'Shea et al., 2005; Schutte, 1999). Di sisi lain, negara-negara lain menggunakan pendekatan inovasi linear tradisional untuk menciptakan bisnis baru dan nilai ekonomi (Godin, 2006).
Dasar untuk inovasi dapat ditemukan dalam konsep Triple Helix yang dibangun untuk mendukung wirausaha dengan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan wirausaha. Pola interaksi Triple Helix menciptakan ruang interaksi yang dapat dianalisis melalui tiga aspek utama: (1) ruang ilmu pengetahuan, di mana individu dari berbagai disiplin ilmu berkumpul dan berpartisipasi dalam pertukaran informasi, ide, dan gagasan, (2) ruang Konsensus, tempat terbentuknya komitmen yang mengarah pada inisiatif tertentu, didukung oleh sirkulasi informasi yang kredibel dan netral untuk membangun kepercayaan individu, dan (3) ruang inovasi, di mana inovasi terbentuk dan bertransformasi menjadi modal pengetahuan, mendorong munculnya bisnis dan produk baru, serta mendapat dukungan pemerintah melalui insentif dan sejenisnya.
2
Industri kreatif kini menghadapi persaingan pasar yang sangat sengit, di mana setiap hari pelaku usaha menghasilkan produk baru dengan sentuhan kreativitas dan inovasi.
Fenomena pertumbuhan industri kreatif semakin menjadi sorotan dalam ekonomi global.
Industri kreatif tidak hanya mencakup aspek seni dan budaya, tetapi juga terlibat dalam sektor-sektor seperti desain, teknologi informasi, periklanan, dan mode. Keberadaan industri kreatif berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi suatu negara, menciptakan peluang pekerjaan baru, dan meningkatkan daya saing di pasar internasional.
Hal tersebut memicu respons dari setiap pelaku usaha sebagai entrepreneur untuk berupaya agar produk yang mereka ciptakan memberikan kesan kreativitas dan inovasi, karena jika tidak, mereka akan terjebak dalam persaingan dengan kompetitor lainnya. Tidak hanya itu, selain menghadapi tantangan persaingan, pelaku usaha juga harus mengatasi dampak pandemi Covid-19 yang masih terus menghantui industri kreatif, termasuk skala usaha besar, menengah, dan kecil. Para pelaku usaha memegang peran kunci sebagai sumber daya manusia yang vital dalam menggerakkan usaha yang produktif. Dalam dunia industri kreatif, seorang entrepreneur harus memiliki keahlian dalam menciptakan produk dengan strategi-strategi cerdas yang mampu menarik pelanggan secara efektif.
Unsur utama dalam industri kreatif melibatkan kreativitas, keahlian, dan bakat manusia, yang memiliki potensi untuk meningkatkan kesejahteraan melalui penawaran kreasi intelektual. Sementara itu, di kalangan para ahli dalam bidang ini, tidak terlihat perbedaan pengertian yang mendasar antara ekonomi kreatif dengan industri kreatif. Dilihat dari segi kebutuhan praktis, sebenarnya bukan suatu permasalahan yang serius. > r: Secara umum, keduanya dianggap sebagai aktivitas berbasis kreativitas yang berdampak pada perekonomian atau kesejahteraan masyarakat (Haerisma, 2018).
Peranan utama aktor ekonomi kreatif menjadi landasan penting dalam perkembangan industri kreatif. Aktor ekonomi kreatif melibatkan individu, perusahaan, dan lembaga yang terlibat dalam penciptaan, produksi, dan distribusi karya-karya kreatif. Di era digital, peranan mereka terus berkembang, menjadi pendorong inovasi dan pertumbuhan ekonomi di berbagai sektor.
Tantangan dan peluang yang dihadapi oleh aktor ekonomi kreatif juga menjadi komponen penting dalam pengembangan industri kreatif. Globalisasi, teknologi digital, dan perubahan tren konsumen membentuk dinamika baru yang perlu dipahami dan diatasi.
Sementara itu, penerapan teknologi dan kerjasama antar pelaku ekonomi kreatif dapat dianggap sebagai peluang untuk memperluas pangsa pasar, meningkatkan efisiensi, dan memperkaya ekosistem industri kreatif.
3
Dengan pemahaman menyeluruh mengenai peran utama aktor ekonomi kreatif, diharapkan laporan ini mampu memberikan pemikiran strategis dan saran kebijakan, bertujuan untuk memperkuat pertumbuhan berkelanjutan industri kreatif dan meningkatkan dampak positifnya dalam perkembangan ekonomi secara menyeluruh.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan ekonomi kreatif dan industri kreatif?
2. Bagaimana peran utama aktor ekonomi kreatif dalam meningkatkan inovasi dan kreativitas dalam pengembangan industri kreatif?
3. Apa hambatan dan tantangan yang dihadapi oleh aktor ekonomi kreatif dalam mendukung pertumbuhan industri kreatif, dan bagaimana mengatasi kendala tersebut?
1.3 Tujuan
Laporan ini bertujuan untuk menganalisis dan menggambarkan peran utama aktor ekonomi kreatif dalam menggerakkan dan memajukan sektor industri kreatif. Melalui laporan ini, diharapkan dapat memberikan pemahaman mendalam mengenai kontribusi yang mereka berikan dalam pengembangan industri kreatif .
1.4 Manfaat
1. Memberikan wawasan yang mendalam tentang peran penting yang dilakukan oleh aktor ekonomi kreatif
2. Menginsipirasi para pelaku bisnis, pemerintan, dan pihak terkait lainnya untuk lebih mendukung dan berinvestasi dalam ekonomi kreatif, melihat kesuksesan yang telah dicapai oleh aktor-aktor tersebut.
3. Memberikan dasar bagi pembuat kebijakan untuk merancang dan mengimplemntasikan kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif, dengan memperhitungkan kontribusi positif dari aktor-aktor tersebut.
4. Mendorong terbentuknya kemitraan dan kolaborasi antara aktor ekonomi kreatif, pemerintah, dan sektor lainnya guna menciptakan sinergi yang menguntungkan bagi perkembangan industri kreatif secara keseluruhan.
4 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Kajian Pustaka
Dalam jurnal yang ditulis oleh Rosmawaty Sidauruk (Sidauruk, 2013) berjudul
“Peningkatan Peran Pemerintah Daerah dalam Rangka Pengembangan Ekonomi Kreatif di Provinsi Jawa Barat”. Penelitian bertujuan untuk mengetahui program ekonomi kreati di Jawa Barat dengan melihat bentuk kebijakan dan dukungan anggaran APBD dan permasalahannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode evaluasi formatif dengan melihat dan mengkaji pelaksanaan serta program serta mencari umpan balik unmtuk memperbaiki pelaksanaan program. Industri kraeti yang ada di Provinsi Jawa Barat belum digali dan dikembangkan secara optimal sesuai potensi yanga da di wilayah tersebut. Jawa Barat menentukan tiga subsektor terkait ekonomi kreatif yaitu bidang kuliner, fshion, dan kerjainan. Industri kuliner untuk pengembangankannya dengan menetapkan sasaran jangka panjang. Untuk memudahkan kerjasama dan melakukan inovasi makan industri ini harus membentuk sebuah klaster. Industri fashion dan desain sasarannya jangka menengah antara tersedianya bahan baku secara kesinambungan terutama yang lokal dan sasaran jangka panjangnya dnegan produk yang ramah lingkungan.
Dengan strategi melakukan kerjasama dnegan lembaga pendidikan atau penelitian serta meningkatkan kualitas pelayanan dan meningkatkan jalan ekspor Jabar dengan memperbaiki sarana dan prasarana untuk distribusinya. Industri kerajinan sasaran jangka menangah dengan bahan baku alam diolah dan dimanfaatkan tanpa merusak ekosistemnya dan untuk jangka panjang dengan memiliki fasilitas pengolahan kembali produksi. Untuk mengembangkannya perlu adanya kerjasama dan membentuk kelompok bagi para pelaku kerjainan dan lembaga sertifikasi kerajinan dikembangkan. Data yang diperoleh oleh peneliti berdasarkan data di lapangan adalah kondisi kreatifitas yanga da di Jawa Barat sudah maju, kreatifitas masyarakat ini memunculkan adanya ekonomi kreatif dan pemerintah berperan dengan memfasilitasi. Kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemda Provinsi Jawa Barat berupa Cetak Biru Rencana Pengembangan Industri Kreatif Jawa Barat, cetak biru ini disusun sesuai dengan taharapan jangka pendek, menengah dan jangka panjang yang diharapkan dapat memberikan kemudahan dalam pelaksanaannya. Peran dari pemerintah tidak dapat disamakan dengan kebijakan lainnya dalam mengembangkan ekonomi kreatif yang ada dan menciptakan kondisi bagaimana usaha tersebut tetap berjalan
5
maka pemerintah dapat memberikan pelatihan-pelatihan bagi pelaku usaha kreatif ini terutama dalam administrasi. Tetapi masih ada beberapa permasalahan seperti masalah permodalan, kurang tepat sasarannya dalam memberikan pendidikan dan pelatihan bagi pelaku usaha ekonomi kreatif dan kurangnya daya dukung riset dan pengembangan yang diberikan sehingga memberikan dampak belum adanya kajian rantai nilai yang utuh mulai kegiatan kreasi, produksi, dan distribusi.
Dalam penelitian berjudul “Sinergitas Birokrasi dalam Mendorong Percepatan Pengembangan Ekonomi Kreatif Berkelanjutan Pariwisata Kawasan Kasultanan Banten Lama Kota Serang” yang ditulis oleh Ipah Ema Jumiati dan Yedi Rusyadi (Jumiati &
Rusyadi, 2023). Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, tujuan dari penelitian ini untuk mengetahu bagaiamana organisasi perangkat daerah di Provinsi Banten dan Kota Serang bersinergi dalam mengambil keputusan untuk pengembangan ekonomi kreatif di Kesultanan Banten.
Kesultanan Banten adalah kerajaan islam yang didirikan di Provinsi Banten. Penelitian ini mengambil daerah Banten Lama untuk dijadikan lokasi penelitian. Kawasan Banten Lama ini memiliki potensi cagar budaya yang sangat beragam dimulai dari benda, bangunan, struktur hingga situs. Akan tetapi peneliti mengatakan bahwa Banten Lama kini landai diabaikan, meninggalkan kualitas fungsiona dan kerusakan fisik. Cagar budaya yang berada di Kawasana Kasultanan Banten ini sudah memiliki umur sekitar 50 tahun, beberapa bangunan cagar budaya yang diakui dan ditetapkan oleh Undang-Undnag Cagr Budaya Tahun 1998 antara lain Istana Keraton Surosowan, Istana Keraton Kaibon, Masjid Agung banten, Vihara Avalokitesvara, Bendeng Spellwijk dan Museum Situs. Dalam melakukan pengembangan ekonomi kreatif fi Kawasan Kasultanan Banten dibagi menjadi tiga kelompok yaitu Stakeholders primer, kunci, dan pendukung. Stakeholder primer ini pemangku kepentingan akan langsung terkena dampaknya baik positif maupun negatif dari rencana yang direncanakan serta memiliki hubungan langsung dengan kegiatan industri kreatif yang dilakukan. Stakeholders kunci, pemangku kepentingan dalam hal ini memiliki otoritas dalam hubungannya dengan pembuat kebijakan, serta memiliki tanggungjawab untuk melaksanakan program pengembangan industri kreatif di Kesultanan Serang Kota Banten. Stakeholders pendukung, dukungan dari pemangku kebijakan ini dalam rencana yang memeperlihatkan proses pembangunan ekonomi kreati di Kesultanan Bantern termsuk Forum Ekonomi Kreatif Kota Serang, LSM Institu Peduli Banten Lama dan Asosiasi Pedagang Kesultanan Banten. Sinergi adalah interaksi antara bagian dan elemen
6
dari orang yang latar belakang yang berbeda membiarkan menciptakan efek lebih besar dalam mencapai tujuan, hal ini dapat didukung dengan melakukan komunikasi, dan koordinasi antar pemangku kepentingan.
2.2 Kajian Teori
2.2.1 Ekonomi Kreatif
2.2.1.1 Pengertian Ekonomi Kreatif
Ekonomi kreatif merupakan pembangunan yang dilakukan terus menerus atas dasar kreativitas, pembangunan yang dilakukan terus menerus ini merupakan kegiatan ekonomi yang memiliki cadangan sumber daya baru dan berdaya saing. Ekonomi kreatif dapat dijadikan sesuatu untuk mempertahankan kehidupan bagi negara berkembang. Ekonomi kreatif memanfaatkan ide, talenta dan kreativitas yang dapat dijadikan sumber daya cadangan untuk membentuk suatu usaha. Menurut Kementerian Perdagangan Indonesia (2009), ekonomi kreatif dapat dijadikan sebagai wujud pembangunan berkelanjutan melalui kreativitas, di mana pembangunan berkelanjutan memiliki iklim perekonomian yang berdaya saing dan memiliki cadangan sumber daya yang terbarukan.
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa ekonomi kreatif merupakan proses menciptakan sesuatu menjadi ada dari tidak ada, untuk menghasilkan sesuatu dapat diperoleh dengan melakukan kolaborasi sesuatu antara yang lama dan baru, dan ekonomi kreatif dapat memanfaatkan sumber daya untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik dan sederhana.
2.2.1.2 Peran Ekonomi Kreatif
Perekonomian kreatif memiliki peran bagi perekonomian negara, yaitu:
1. Pendapatan (income generation)
Ekonomi kreatif mampu memberikan sumbangan yang signifikan pada periode 2002-2006, hal ini memberikan kontribusi pada sektor pengangkutan dan komunikasi, bangunanm serta listrik, gas, dan air bersih.
2. Menciptakan lapangan kerja
Ekonomi kreati ini dapat memberikan peluang untuk menciptakan lapangan kerja karena keterampilan yang dibutuhkan dalam ekonomi kreatif ini dapat dikuasi oleh sebagian masyarakat dan dapat mengurangi tingkat kemiskinan di Indonesia.
3. Meningkatkan penerimaan hasil ekspor
7
Dengan melakukan ekspor dalam bidang ekonomi kreatif ini akan menjadikan nila tambah yang tinggi bagi Indonesia karena memiliki sumber daya manusi yang kreatif nanti akan mampu mengembangkan daya saing dalam produksinya.
4. Menambah kekayaan intelektual
HAKI salah satu upaya dari intelektual manusia sebagai pelindung produksi ide atau gagasan yang uni agar tidak diambil alih atau diclaim oleh orang lain, hal ini membuat ekonomi kreatif dianggap menjadi penentu pembangunan dan pertumbuhan ekonomi suatu bangsa.
2.2.2 Industri Kreatif
2.2.2.1 Pengertian Industri Kreatif
Ekonomi kreatif berkaitan dengan industri kreatif hanya saja ekonomi kreatif cakupannya lebih luas daripada industri kreatif. Industri kreatif salah satu bagian dari ekonomi kreatif atau biasa disebut dengan core creative industri atau industri kreatif yang dapat menjadi nilai tambah dengan memanfaatkan kreativitas orang yang kreatif. Tidak hanya ekonomi yang dihasilkan dari industri kreatid akan tetapi juga menghasilkan transakasi sosial dan budaya.
Departemen Perdagangan Republik Indonesia (2008), industri kreatif adalah upaya menciptakan daya saing secara ekonomi dengan kreativitas untuk melakukan pembangunan berkelanjutan. Industri kreatifitas juga dapat menghasilkan kesejateraan dan menciptakan lapangan kerja dengan memberdayakan kreativitas dan gagasan, dalam industri ini juga memanfaatkan kreativitas, keterampilan dan bakat individu.
2.2.2.2 Ciri Industri Kreatif
Industri kreatif adalah industri ini memiliki penampilan pada kreativitas yang unggul dalam mengahsilkan desain yang melekat pada produk yang dihasilakan. Industri kreatif ini dikembangkan dnegan tujuan untuk mendukung meningkatkan nilai tambah produk dalam mengembangkan kluster-kluster industri lainnya. Ada beberapa ciri industri kreatif antara lain:
1. Unsur utama dari industri ini adalah kreativitas, keahlian dan talenta yang memiliki potensi dengan menawarkan kreasi intelektual dalam meningkatkan kesejahteraan.
8
2. Industri kreatif ini menyediakan produk kreatif kepada pelanggan secara langsung dan mendukung penciptaan nilai kreatif pada sektor lain secara tidak langsung berhubungan dengan pelanggan.
3. Produk kreatif memiliki ciri siklus hidup singkat, margin tinggi, keanekaragaman tinggi dan mudah tiru.
2.2.2.3 Dampak Industri Kreatif terhadap Ekonomi
Industri kreatif akan memberikan sumbangan atau berkontribusi yang signifikan bagi ekonomi setiap negara. Indonesia juga melihat bahwa industri kreatif ini akan memeberikan dampak positif bagi ekonomi dan memiliki potensi yang potensial jika dikembangkan dengan baik dan dimanfaatkan secara maksimal dan jika melihat sumber daya manusia yang ada, kreativitas masyarakat Indonesia dapat dibandingkan dengan bangsa lain di dunia. Industri kreatif ini dapat dijadikan pila utama dalam pembentukan ekonomi kreatid karena hal ini sangat penting dan berdampak positif terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.
9 BAB III PEMBAHASAN 3.1 Definisi Ekonomi Kreatif dan Industri Kreatif
3.1.1 Ekonomi Kreatif
Istilah Ekonomi Kreatif bukanlah suatu yang asing bagi kita, akan tetapi antara keduanya memiliki keterkaitan. Di mana kedua kata ini menjadi pencetus atau penyelesaian masalah yang menghasilkan penciptaan nilai ekonomi yang luar biasa dan lapangan pekerjaan yang baru melalui eksplorasi ide. Ekonomi kreatif sudah termasuk di dalamnya aspek inovasi ide menjadi produk-produk yang kreatif dan inovatif.
Ekonomi Kreatif menekankan aspek eksplorasi dan eksploitasi ide yang akan membawa kinerja ekonomi dan sosial (inovasi) (Basri 2012, 368). Ekonomi kreatif merupakan sebuah konsep di era ekonomi baru yang mengutamakan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia sebagai faktor produksi.
Dalam studi ekonomi dikenal ada empat faktor produksi yakni sumber daya alam, sumber daya manusia, dan orientasi atau manajemen (Arjana 2016, 227).
Ekonomi kreatif merupakan kegiatan ekonomi yang digerakkan oleh industri kreatif yang mengutamakan peranan kekayaan intelektual. Industri kreatif itu sendiri digerakkan oleh para entrepreneur (wirausaha), yaitu orang yang memiliki kemampuan kreatif dan inovatif (Suryana 2017, 3).
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa ekonomi kreatif merupakan gabungan dua kata yang masing-masing memiliki makna tersendiri. Proses ekonomi yang termasuk kegiatan produksi dan distribusi barang serta jasa di dalamnya yang membutuhkan gagasan dan ide kreatif serta kemampuan intelektual dalam membangunnya.
3.1.2 Industri Kreatif
Industri kreatif didefinisikan sebagai industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta
10
lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan memberdayakan daya kreasi dan daya cipta individu tersebut (Kemendag, 2007: 10).
Industri kreatif sejalan dengan berkembanganya ekonomi kreatif, kenyataan sejarah membuktikan bahwa ekonomi kreatif yang mencakup industri kreatif telah memberikan kontribusi nyata bagi perkembangan perekonomian di sejumlah negara.
Konsep industri kreatif memberikan suatu pada terhadap perekonomian, khususnya pengaruhnya terhadap pengangguran, pembangunan regional dan dinamika kawasan urban (Andari et al., 2007; Dina, Deny 2015). Adanya suatu inovasi dalam suatu perusahaan dapat dikategorikan industri kreatif (Green et al., 2007, Dina, Deny 2015). Kajian tentang peran industri kreatif dalam kontribusinya untuk inovasi dalam perekonomian lebih luas dimana input dari industri kreatif dapat digunakan sebagai proses inovasi dalam industri lain (Bakhshi et al., 2008; Dina, Deny, 2015)
3.2 Peran Utama Aktor Ekonomi Kreatif dalam Meningkatkan Inovasi dan Kreativitas Pengembangan Industri Kreatif
Mengutip pada blue-print Pengembangan Ekonomi Kreatif 2025 Departemen Perdagangan Republik Indonesia, struktur industri kreatif yang ada saat ini dipayungi oleh hubungan antara Cendekiawan (Intellectuals), Bisnis (Business) dan pemerintah (Government) yang disebut sebagai sistem ‘triple helix’ yang merupakan aktor utama penggerak lahirnya kreativitas, ide, ilmu pengetahuan dan teknologi yang vital bagi tumbuhnya industri kreatif di Indonesia. Hubungan yang erat, saling menunjang dan bersimbiosis mutualisme antara ke‐3 aktor tersebut dalam kaitannya dengan landasan dan pilar‐pilar model industri kreatif akan menghasilkan industri kreatif yang berdiri kokoh dan berkesinambungan. Cepat atau lambatnya perkembangan ekonomi kreatif sangat bergantung pada peran aktor. Aktor utama penggerak ekonomi kreatif terdiri atas:
1) Cendekiawan (Intellectuals)
Cendekiawan atau intelektual berhubungan dengan penciptaan hal baru yang memiliki daya tawar kepada pasar serta pembentukan insan kreatif.
Cendekiawan adalah orang-orang yang perhatian utamanya mencari kepuasan dalam mengolah seni, ilmu pengetahuan atas renungan metafisika dan hendak mencari tujuan praktis. Cendekiawan atau intelektual memiliki peran:
a) Penyebar (disseminator) ilmu pengetahuan dan teknologi, b) Pelaksana (implementor) ilmu pengetahuan dan teknologi, serta
11
c) Pencipta nilai yang konstruktif di masyarakat bagi pengembangan industri kreatif.
2) Pebisnis (Business)
Tugas pebisnis adalah berinteraksi dalam rangka perubahan ekonomi serta transformasi kreativitas menjadi nilai ekonomi. Peran pebisnis dalam pengembangan industri kreatif meliputi hal-hal berikut:
a) Pencipta, yaitu sebagai pusat keunggulan (center of excellence) dari kreator produk dan jasa kreatif, pasar-pasar baru yang dapat menyerap produk dan jasa yang dihasilkan, serta pencipta lapangan pekerjaan bagi individu-individu kreatif ataupun individu pendukung lainnya.
b) Pembentuk komunitas dan entrepreneur kreatif, yaitu sebagai ‘motor’ yang membentuk ruang publik tempat terjadinya tukar pemikiran (sharing), monitoring yang dapat mengasah kreativitas dalam melakukan bisnis di industri kreatif, pelatihan bisnis (business coaching) atau pelatihan manajemen pengelolaan sumber usaha di industri kreatif.
3) Pemerintah (Government) Tugas pemerintah adalah mengatur mekanisme program, seperti pemberian insentif, pengendalian iklim usaha, dan pemberi arahan kreatif untuk mendukung pengembangan industri kreatif. Peran utama pemerintah dalam pengembangan industri kreatif, yaitu sebagai berikut:
a) Katalisator dan advokasi, yang memberi rangsangan, tantangan, dorongan, agar ide‐ide bisnis bergerak ke tingkat kompetensi yang lebih tinggi. Tidak selamanya dukungan itu haruslah berupa bantuan finansial, insentif ataupun proteksi, tetapi dapat juga berupa komitmen pemerintah untuk menggunakan kekuatan politiknya dengan proporsional dan dengan memberikan pelayanan administrasi publik dengan baik.
b) Regulator, yang menghasilkan kebijakan‐kebijakan yang berkaitan dengan people, industri, institusi, intermediasi, sumber daya, dan teknologi. Pemerintah dapat mempercepat perkembangan industri kreatif jika pemerintah mampu membuat kebijakan‐kebijakan yang menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi industri kreatif. Pemerintah juga harus mengatur bahwa kebijakan yang telah dikeluarkan dijalankan dengan baik.
12
c) Konsumen, investor, dan entrepreneur. Pemerintah sebagai investor harus dapat memberdayakan aset negara untuk menjadi produktif dalam lingkup industri kreatif dan bertanggung jawab terhadap investasi infrastruktur industri. Sebagai konsumen, pemerintah perlu revitalisasi kebijakan procurement yang dimiliki, dengan prioritas penggunaan produk‐produk kreatif. Sebagai entrepreneur, pemerintah secara tidak langsung memiliki otoritas terhadap badan usaha milik pemerintah (BUMN).
d) Jangkauan publik (public outreach). Pemerintah memiliki peran sentral dalam penciptaan kota kreatif (creative city), yang mampu mengakumulasi dan mengkonsentrasikan energi dari individu‐individu kreatif menjadi magnet yang menarik minat individu/perusahaan untuk membuka usaha di Indonesia. Tujuan Pemerintah memiliki peran sentral dalam penciptaan kota kreatif (creative city), yang mampu mengakumulasi dan mengkonsentrasikan energi dari individu‐
individu kreatif menjadi magnet yang menarik minat individu/perusahaan untuk membuka usaha di Indonesia, agar pengembangan ekonomi kreatif ini berjalan dengan baik
3.3 Hambatan yang dihadapi oleh Aktor Ekonomi Kreatif dalam Mendukung Pertumbuhan Industri Kreatif
1. Ketidaksinkronan kebijakan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Sebagian besar kabupaten/kota tidak memiliki akses yang diluas yang didalamnya terdapat bidang yang mengatur urusan pengembangan ekonomi kreatif, hal ini tentunya akan menyulitkan dalam hal koordinasi dan sinergitas program kerja dalam sebuah institusi pemerintahan;
2. Kurangnya koordinasi antar Satuan Kerja Pemerintah Daerah(SKPD) dalam pengembangan ekonomi kreatif.
3. Pengembangan objek wisata terkendala karena terbatasnya anggaran pemerintah daerah,program/kegiatan yang diusulkan seringkali tidak dapat diakomodir oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah(TAPD)karena dianggap belum prioritas.
4. Kurangnya kuantitas dan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) yang kreatif dan inovatif. Sumber daya manusia yang sebagian besar belajar secara otodidak sehingga kualitasnya belum merata. Pengelolaan usaha dilakukan dengan seadanya belum mampu menguasai dan menerapkan manajemen meskipun secara sederhana, hal ini terkait dengan kurangnya kualitas SDM mereka, begitu pula kewirausahaan,
13
inovasi dan kreativitas yang dimiliki masih terbatas sehingga masih perlu pembinaan yang berkelanjutan dan terpadu dari berbagai dari berbagai pihak untuk meningkatkan pengembangan usahanya.
5. Kurangnya perlindungan Hak atas Kekayaan Intelektual. Belum terpenuhinya hak paten industri sehingga rawan untuk dilakukan plagiat pada daerah lain bahkan Negara lain. Kelemahan dalam Hak Paten dipengaruhi oleh kebijakan nasional dimana saat ini secara nasional baru terbentuk 50 sentral HKI seIndonesia.
Beberapa faktor yang ikut berpengaruh pada rendahnya paten industri kreatif adalah kesadaran masyarakat ,sentral HKI baruter bentuk ,birokrasi pematenan,biaya paten dan pemahaman akan pentingnya paten.
14 BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan
Peran utama aktor ekonomi kreatif dalam pengembangan industri kreatif tidak dapat dipandang sebelah mata. Mereka bukan hanya pencipta karya seni dan desain, tetapi juga penggerak utama inovasi, pertumbuhan ekonomi, dan keberlanjutan.
Dengan kreativitas mereka, aktor ekonomi kreatif membentuk identitas budaya, memperkaya dialog antar budaya, dan memberikan solusi inovatif untuk tantangan kontemporer. Penciptaan lapangan kerja, penguatan merek, dan peran sebagai pelopor teknologi juga merupakan kontribusi signifikan mereka. Lebih dari itu, mereka menjadi agen perubahan yang memperkuat komunitas lokal dan membangun jaringan global.
Oleh karena itu, mendukung pertumbuhan dan perkembangan aktor ekonomi kreatif menjadi esensial untuk menciptakan lingkungan yang dinamis, berdaya saing, dan mampu menghadapi tuntutan zaman. Dalam era dimana inovasi dan kreativitas menjadi unsur kunci dalam perekonomian global, mengapresiasi, melindungi, dan memberdayakan aktor ekonomi kreatif menjadi langkah kritis dalam membangun masa depan industri kreatif yang berkelanjutan.
4.2 Saran
Untuk memperkuat peran utama aktor ekonomi kreatif dalam pengembangan industri kreatif, beberapa saran dapat dipertimbangkan. Pertama, perlu adanya dukungan penuh dari pemerintah dalam bentuk insentif fiskal dan kebijakan yang mendukung pertumbuhan sektor kreatif. Ini mencakup penyediaan fasilitas, pelatihan, dan sumber daya yang mendukung kreativitas dan inovasi. Kedua, pentingnya pendidikan dan pelatihan yang terfokus pada keterampilan kreatif perlu ditekankan, sehingga menciptakan tenaga kerja yang kompeten dan siap bersaing dalam industri ini.
Ketiga, perlindungan hak kekayaan intelektual harus diperkuat untuk mendorong penciptaan dan produksi karya-karya kreatif tanpa takut akan pembajakan atau pelanggaran hak. Keempat, kolaborasi antara sektor publik dan swasta perlu ditingkatkan untuk menciptakan ekosistem yang mendukung pertukaran ide dan inovasi. Kelima, penggunaan teknologi dan adaptasi terhadap tren digital perlu diintegrasikan lebih lanjut agar industri kreatif tetap relevan dalam era digital. Dengan menerapkan saran-saran ini, diharapkan aktor ekonomi kreatif dapat berperan lebih
15
efektif dalam memacu pertumbuhan dan keberlanjutan industri kreatif secara keseluruhan.
16
DAFTAR PUSTAKA
Wahyuningsih, S., & Satriani, D. (2019). Pendekatan Ekonomi Kreatif Terhadap Pertumbuhan Ekonomi. IQTISHADUNA: Jurnal Ilmiah Ekonomi Kita, 8 (2), 195-205.
Arjana, I Gusti Bagus. 2016. Geografi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Jakarta: Rajawali Pers.
Basri, M. Chatib. 2012. Rumah Ekonomi Rumah Budaya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Suryana. 2017. Ekonomi Kreatif, Ekonomi Baru Mengubah Ide dan Menciptakan Peluang.
Jakarta: Salemba Empat.
Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. 2007. Studi Industri Kreatif Indonesia.
Jakarta: Kementerian Perdagangan RI.
Kamil, A. (2015). Industri kreatif Indonesia: Pendekatan analisis kinerja industri. Media Trend, 10(2), 207-225.
Dina Melita, Deni Erlansyah. Andari, R., (2015), Pemetaan Industri Kreatif Dalam Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Kawasan Urban di Kota Palembang. Proceeding Economic Globalization Trend and Risk for Developing Country.
Arifianti, R., Mohammad, D., & Alexandri, B. (2017). Activation of Creative Sub- Economic Sector in Bandung City. Jurnal AdBis preneur, 2(3), 201-209.
Najmi, L. (2018). ANALISIS PERAN USAHA EKONOMI KREATIF DALAM PENINGKATAN PENDAPATAN PENGRAJIN TEMPURUNG KELAPA PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM STUDI PADA USAHA KERAJINAN TEMPURUNG KELAPA DI DESA WINONG, RT 21 RW 1, PATI (Doctoral dissertation, IAIN KUDUS).
Purnomo, R. A. (2016). Ekonomi kreatif pilar pembangunan Indonesia. Ziyad Visi Media.
Bercovitz, J., & Feldman, M. (2006). Entpreprenerial universities and technology transfer:
A conceptual framework for understanding knowledge-based economic development.
Journal of Technology Transfer, 31(1), 175–188. https://doi.org/10.1007/s10961-005- 5029-z
Etzkowitz, H., & Leydesdorff, L. (2000). The dynamics of innovation: From National Systems and “mode 2” to a Triple Helix of university-industry-government relations.
Research Policy, 29(2), 109–123. https://doi.org/10.1016/S0048-7333(99)00055-4 Godin, B. (2006). The Linear Model of Innovation. Science, Technology, & Human Values,
31(6), 639–667. https://doi.org/10.1177/0162243906291865
17
Haerisma, A. S. (2018). Pengembangan Ekonomi Kreatif Bidang Fashion Melalui Bauran Pemasaran. Al-Amwal : Jurnal Ekonomi Dan Perbankan Syari’ah, 10(1), 91.
https://doi.org/10.24235/amwal.v10i1.2831
O’Shea, R. P., Allen, T. J., Chevalier, A., & Roche, F. (2005). Entrepreneurial orientation, technology transfer and spinoff performance of U.S. universities. Research Policy, 34(7), 994–1009. https://doi.org/10.1016/j.respol.2005.05.011
Phradiansah, P., Jamaludin, I. I., & Astaginy, N. (2022). Peranan Pemerintah Daerah Dalam Penguatan Kreativitas Inovasi Enterpreneur Pada Ekonomi Kreatif Sub Sektor Kuliner Kota Kendari. Musamus Journal of Public Administration, 5(1), 104–120.
https://doi.org/10.35724/mjpa.v5i1.4746
Sulastri, R. E., & Dilastri, N. (2015). Peran Pemerintah Dan Akademisi Dalam Memajukan Industri Kreatif Kasus Pada UKM Kerajinan Sulaman Di Kota Pariaman. Seminar Nasional Ekonomi Manajemen Dan Akuntansi (SNEMA) Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Padang, c, 87–94.
Daulay, Z. (n.d.). Strategi Pengembangan Ekonomi Kreatif Dengan Metode Triple Helix (Studi Pada UMKM Kreatif di Kota Medan).
Jumiati, I. E., & Rusyadi, Y. (2023). Sinergitas Birokrasi Dalam Mendorong Percepatan Pengembangan Ekonomi Kreatif Berkelanjutan Pariwisata Kawasan Kasultanan Banten Lama Kota Serang. Prosiding Seminar Nasional Komunikasi, Administrasi Negara Dan Hukum, 1(1), 357–370. https://doi.org/10.30656/senaskah.v1i1.243
Sidauruk, R. (2013). Peningkatan Peran Pemerintah Daerah dalam Rangka Pengembangan Ekonomi Kreatif di Provinsi Jawa Barat. Jurnal Bina Praja, 05(03), 141–158.
https://doi.org/10.21787/jbp.05.2013.141-158
Mari Elka Pangestu, Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025 (Jakarta: Departemen Perdagangan RI, 2008), 1.
Reniati, Kreatifitas Organisasi & Inovasi Bisnis (Bandung: Alfabeta, 2013), 2 Suryana, Ekonomi Kreatif, 36.