29. 7) Oleh karena itu, dalam konteks penegakan hukum di Indonesia, diharapkan sistem yang ada dapat berjalan seefisien mungkin, karena sistem yang tidak efektif akan menimbulkan kondisi seperti disparitas pidana, lingkungan legislatif, korban kejahatan, stigma sosial dan Pemenjaraan yang merupakan permasalahan yang berkaitan dengan sistem peradilan pidana.8) Lebih lanjut penulis menyatakan bahwa sampai saat ini hakim masih mengikuti pola tradisional dalam menjatuhkan putusan, hanya dari sudut pandang balas dendam. Leonard Orland berpendapat bahwa hukum pidana bertujuan untuk mencegah dan mengurangi kejahatan, dan pemidanaan harus bertujuan untuk mengubah perilaku penjahat dan orang lain yang rentan terhadap kejahatan. 13). Selanjutnya ada pula yang menyebutkan hanya dua mazhab hukum pidana, yaitu mazhab klasik dan mazhab modern.
Fenomena perundang-undangan ini sangat menarik untuk dikaji dari sudut pandang kebijakan hukum pidana (penal policy) sebagai alat untuk menanggulangi kejahatan.27). Hukum pidana sebagai alat untuk mengatasi hukuman mempunyai banyak keterbatasan yang selama ini didukung oleh para penegak hukum. Sudarto menyatakan bahwa penggunaan hukum pidana adalah untuk mengatasi suatu gejala (Kurieren am Sympton) dan bukan penyelesaian dengan menghilangkan sebab-sebabnya. 28).
Lebih lanjut Johannes Andenaes menyatakan, berjalannya hukum pidana harus selalu dilihat dari konteks budaya secara keseluruhan.
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN Tujuan khusus penelitian ini adalah
Urgensi reformasi hukum pidana dapat dilihat dari beberapa aspek kebijakan (terutama kebijakan sosial, kebijakan pidana, dan kebijakan penegakan hukum). Oleh karena itu, reformasi hukum pidana pada hakekatnya mengandung makna upaya untuk melakukan reorientasi dan reformasi hukum pidana agar sesuai dengan nilai-nilai sentral sosio-politik, sosio-filosofis, dan sosio-kultural masyarakat Indonesia yang melandasi kebijakan sosial, kebijakan pidana, dan penegakan hukum. kebijakan di Indonesia. Indonesia. Reformasi peradilan pidana harus dilakukan dengan pendekatan kebijakan, karena pada hakikatnya hal tersebut hanyalah bagian dari langkah kebijakan.
Setiap kebijakan juga mengandung pertimbangan nilai, oleh karena itu reformasi hukum pidana harus berorientasi pada pendekatan nilai. Untuk mengetahui gambaran upaya respon residivis anak berbasis perlindungan anak, menentukan rumusan model respon. Pemerintah Daerah khususnya bahan masukan untuk mewujudkan hal tersebut, sesuai dengan permasalahan anak di daerahnya;
Bagi LPAN Jawa Timur di Blitar yang wilayah hukumnya meliputi Jawa Timur, sebagai bahan masukan untuk langkah perencanaan pembangunan.
METODE PENELITIAN
Malang, Blitar dan Tulungagung dalam mengusut, mengadili dan menghukum residivis anak melalui hasil penelitian deskriptif. Malang, Blitar dan Tulungagung; Komisi Perlindungan Anak di wilayah tersebut; Residivisme anak; Kepala LPAN Jawa Timur di Blitar. Sumber datanya adalah Data Primer, sebagai data utama dalam penelitian ini, yang diperoleh langsung dari para informan tersebut di atas, dan Data Sekunder, sebagai data pendukung yang bersifat dokumenter, melalui pencarian literatur terhadap literatur yang sesuai dengan informan dan permasalahannya. di atas sini. , dan temuan penelitian mengenai informan pada penelitian di atas, sedangkan teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan wawancara baik terstruktur maupun tidak terstruktur. Menurut Ronny Hanitijo Soemitro38), wawancara terstruktur disebut wawancara terfokus, yang menggunakan daftar pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya, sedangkan wawancara tidak terstruktur disebut juga wawancara tidak fokus, adalah semua wawancara yang tidak didasarkan pada sistem atau daftar dengan pertanyaan-pertanyaan yang dikuisioner. telah dipersiapkan yaitu pengumpulan data dari informan yang diperoleh melalui pertanyaan tertulis yang telah dipersiapkan sebelumnya, observasi, pengumpulan data selanjutnya menggunakan teknik observasi atau observasi.
Observasi yang digunakan adalah observasi non partisipan yang sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif yang mengikuti tata cara reduksi data, pengumpulan data, penyajian data dan penarikan kesimpulan, dimana permasalahan yang dianalisis dianalisis dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan keberadaan objek penelitian dan objek berdasarkan fakta yang ada. tanpa menggunakan angka-angka, angka-angka, tetapi mengutamakan kualitas data yang ada, sehingga tercapai pemahaman yang lebih mendalam terhadap pokok bahasan yang diteliti. Menurut Masri Singarimbun dan Sofyan Effendi39), penelitian deskriptif adalah penelitian untuk mengukur secara cermat fenomena sosial dan budaya tertentu dengan mengembangkan konsep dan mengumpulkan fakta, namun tidak.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Upaya penanggulangan pada recidive anak yang berbasis perlindungan anak itu
- Data yang diperoleh dari pengadilan-pengadilan sebagai berikut
- Data yang diperoleh di LPAN Blitar Jawa Timur, Kasubsi Binpas, dan Sjrn (Pelaku Recidivist Anak )
Tahun Jumlah Laporan Kejahatan 1. Keluarga miskin, orang tua pekerja migran mencuri karena untuk keperluan keluarga. Sedangkan khusus anak yang mengulangi perbuatannya akibat tindak pidana pencurian berjumlah 7 orang (DP, No. II/3), yang rata-rata mencari nafkah sendiri, sedangkan 1 orang berhutang kepada orang tuanya yang merupakan pekerja/buruh migran. Sda Sumber : Wawancara Camat Binpas, LPAN, Blitar, 26 September 2007 Dari tabel di atas, alasan mereka melakukan tindak pidana pencurian rata-rata karena orang tuanya tidak mampu atau latar belakang keluarga kurang mampu. mati. .
Dijelaskannya, faktor ekonomi adalah keadaan ekonomi keluarga anak yang melakukan tindak pidana tersebut. Dari beberapa alasan tersebut, faktor ekonomi menjadi alasan tertinggi seorang anak melakukan tindak pidana pencurian. Persoalan sebaliknya, hakim menerapkan tujuan preventif khusus terhadap tujuan pidana yang dilaksanakan hakim, artinya pidana yang dijatuhkan harus memperhatikan kepribadian pelaku.
Pasal 18 lebih lanjut menegaskan bahwa setiap anak yang menjadi korban atau pelaku tindak pidana berhak memperoleh bantuan hukum dan bantuan lainnya. Untuk itu, sesuai dengan penerapan SMR-JJ, maka dalam hukum positif di Indonesia khususnya mengenai tugas hakim, SMR-JJ Pasal 16.1 menekankan perlunya mengkaji laporan penelitian sosial mengenai latar belakang kehidupan dan keadaan agar dapat dikaji dengan baik. diselidiki. keadaan di mana anak itu tinggal atau keadaan yang menyebabkan dilakukannya kejahatan. Jika seorang anak melakukan tindak pidana bersama-sama dengan orang dewasa, maka anak tersebut diadili di pengadilan anak, sedangkan orang dewasa diadili di pengadilan biasa, atau jika ia berstatus militer, oleh pengadilan militer;
Penting untuk mengkaji kembali sebab-sebab terjadinya tindak pidana, terutama yang berasal dari dalam (internal), dengan mengkaji aspek tujuan pemidanaan dalam pencegahan khususnya, yaitu mempengaruhi tingkah laku terpidana agar tidak melakukan tindak pidana. kejahatan. Dengan adanya Undang-Undang Pengadilan Anak ini, maka penjatuhan pidana oleh hakim dapat dikhawatirkan akan terus mempolarisasikan gagasan penjatuhan pidana terhadap orang dewasa yang tidak mempunyai pendidikan khusus, seperti yang dikemukakan oleh laporan komisi peradilan anak di Indonesia. Belanda. , yang mengusulkan pendidikan dasar bagi hakim remaja. (Sudarto, op.cit.: 148) Mengenai permasalahan ini, belum ada pemahaman umum mengenai pengalaman pada Pasal 10 huruf a. Residivisme atau pengulangan tindak pidana pada umumnya tidak diatur dalam KUHP pada Peraturan Umum Buku I, namun diatur secara khusus terhadap kelompok tindak pidana tertentu, baik berupa tindak pidana pada Buku II maupun berupa delik pada Buku. AKU AKU AKU.
KUHP menganut sistem residivisme khusus, artinya sanksi pidana hanya dikenakan apabila jenis tindak pidana (tindak pidana/pelanggaran) tertentu diulangi dan dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Ketentuan yang memberatkan tidak berlaku bagi pelaku berulang yang berusia di bawah delapan belas tahun. Pasal 486 khusus mengatur tentang residivisme atas kejahatan terhadap harta benda, Pasal 487 khusus mengatur tentang residivisme atas kejahatan terhadap jiwa dan badan, dan Pasal 488 khusus mengatur tentang residivisme atas kejahatan terhadap kehormatan orang.
3 Tahun 1997 tidak mengatur hal tersebut, terdakwa menjawab bahwa tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang berulang kali dijadikan dasar beratnya pidana yang dijatuhkan kepada pelakunya (alasan yang memberatkan). Alasan ini masih berlaku bagi anak-anak yang berulang kali melakukan pelanggaran, meskipun demikian. tidak diatur dengan undang-undang. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak. Pemahaman aspek ilmu sosial terkait kenakalan remaja tidak hanya sangat relevan tetapi juga penting bagi seorang hakim ketika menangani perkara pidana anak agar putusannya lebih adil dan tepat karena kenakalan yang dilakukan oleh anak merupakan hal yang unik dan sangat berbeda dengan pidana. tindakan yang dilakukan oleh orang dewasa.
KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN
SARAN
- dentitas Informan
- Pemidanaan, recidive, anak
- Pemidanaan yang berbasis perlindungan anak
- Penanggulangan Yang berbasis perlindungan anak
Batasan pilihan hukum pidana dalam pemberantasan kejahatan, peningkatan hukum pidana dan kriminologi, Aspehupiki bekerjasama dengan Fak. Tren dan Latar Belakang Tindak Pidana yang Dilakukan Anak di LPAN Blitar, dalam Juridika, No. Proses Hukum Anak yang Melakukan Tindak Pidana di Kota Bandar Lampung, Tesis Program Pascasarjana Ilmu Hukum, Universitas Indonesia, Semarang: Undip.
Penelitian yang berjudul “Studi Deskriptif Residivisme Anak Berbasis Perlindungan Anak dalam Upaya Membangun Model Perlakuan Terhadap Anak” bertujuan untuk mengetahui deskriptif residivisme anak, deskriptif residivisme anak berbasis perlindungan anak dan deskriptif upaya penanggulangannya. dia. penanggulangan residivisme anak berbasis perlindungan anak, untuk menentukan rumusan model respon. Persoalan ini bermula dari kasus TKW yang menyebutkan “sanksi bagi orang tua yang menelantarkan anaknya” sebagaimana didefinisikan secara normatif dalam UU No. Dampak yang terjadi adalah munculnya komunitas “anak bermasalah” dalam bidang hukum, khusus yang disorot dalam penelitian ini adalah “anak residivis”.
Dari butir (1) berapa jumlah perkara pelaku anak dan pelaku berulang (anak) yang sedang mengajukan pembelaan. Bagaimana pendapat Anda, dalam pengusutan kasus anak dan residivis (anak), apakah sistem yang dikembangkan selama ini mendukung? Bagaimana rata-rata latar belakang pelaku anak dan residivis (anak) yang ditangani/diadili/diadili/diobati? - bersama dengan faktor penyebabnya.
Apakah dengan adanya undang-undang perlindungan anak ini berdampak pada penanganan permasalahan anak, khususnya anak yang mempunyai permasalahan hukum (disebut child repeater). Harapan mendesak apa yang ingin diungkapkan terhadap sebuah model penanganan anak (anak yang ditarik kembali) yang bermasalah dengan hukum atas dasar perlindungan anak. Dari angka 1 mengenai faktor penyebab, persentase faktor penyebab terbesar adalah apakah anak melakukan tindak pidana dan mengulangi tindak pidana (sebagai residivis).
Adakah pengaruh yang signifikan terhadap penyebab tindak pidana yang dilakukan anak dan residivisme akibat orang tua menjadi pekerja migran (MWW). Harapan mendesak apa yang harus disampaikan terhadap model penanganan pelaku anak dan pelaku berulang (anak) yang berbasis pada perlindungan anak?
BAGI HAKIM ANAK
DAFTAR PERTANYAAN
Apa harapan mendesak yang ingin disampaikan agar ada model investigasi pelaku anak-anak dan pelaku berulang (anak-anak) berdasarkan prinsip safeguarding?
Daftar Publikasi