0
LAPORAN
PENELITIAN INTERNAL
PELAKSANAAN KINERJA GURU SEKOLAH DASAR
UPTD PENDIDIKAN BAYUMANIK KOTA SEMARANG (Studi analisis tentang penyusunan rencana pembelajaran,
penilaian pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran)
PENGUSUL
Muhamad Afandi, M.Pd. (NIDN 0624078002) Sari Yustiana,M.Pd (NIDN 0609079001)
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
AGUSTUS 2018
Penelitian kelompok/ Kependidikan
1
2 ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kinerja Guru sekolah Dasar di UPTD Pendidikan Banyumanik Kota Semarang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari- Agustus 2017. Sampel penelitian ini adalah 162 guru Sekolah Dasar yang dipilih dengan teknik random sampling, kemudian guru dimasing-masing sekolah dirandom sampling dengan alasan agar setiap sekolah dan guru masing-masing sekolah mendapatkan kesempatan yang sama sebagai sampel. Intrumen yang digunakan penelitian ini lembar penilaian, Lembar penilaian terdiri 64 item pernyataan, dan 3 indikator Kinerja Guru Sekolah Dasar. Hasil penelitian menunjukan bahwa masing indikator Rerencanaan Pelaksanaan Pembelajaran amat baik (90,9%), pelaksanaaan pembelajaran adalah baik 83.4%, penilaian pembelajaran adalah baik (82,8%). Secara keseluruhan kinerja guru Sekolah Dasar adalah baik (85,7%). Hasil tersebut menunjukkan bahwa guru Sekolah Dasar UPTD Banyumanik Kota Semarang dapt menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran dan penilaian pembelajaran di Sekolah Dasar.
Kata Kunci: Kinerja, Guru dan Sekolah Dasar
3 DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
ABSTRAK ... vi
DAFTAR ISI ... iii
BAB 1. PENDAHULUAN ... 1
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 5
BAB 3. METODE PENELITIAN ... 10
BAB 4. HASIL DAN PENELITIAN ... 22
BAB 5. SIMPULAN DAN SARAN ... 30
REFERENSI ... 31
4 BAB 1. PENDAHULUAN
Pendidikan sebagaimana tertuang dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah suatu proses yang dilakukan secara sadar atau terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran menjadi menyenangkan sehingga siswa menjadi aktif dan mengembangkan potensi dirinya untuk menambah pengetahuan, wawasan serta pengalaman untuk menentukan tujuan hidup sehingga bisa memiliki pandangan yang luas untuk masa depan yang lebih baik.
Tujuan pendidikan nasional sebagaimana dijelaskan pada Pasal 3 yaitu bertujuan untuk berkembangnya potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, disiplin dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.1 Pendidikan merupakan suatu proses dimana dalam pelaksanaannya melibatkan berbagai aspek untuk menunjang akan keberhasilan dalam mengembangkan potensi diri yang ada siswa, baik itu aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotor. Pendidikan juga menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia karena dengan pendidikan manusia akan selalu memiliki pengetahuan, sikap, dan kebiasaan yang sesuai dengan norma-norma yang ada.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 Tentang Standar nasional pendidikan pada pasal 2 ayat 1 dijelaskan bahwa lingkup Standar Nasional Pendidikan meliputi: standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, standar penilaian pendidikan.2 Standar Nasional Pendidikan berfungsi sebagai dasar dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu dan bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.
Dari delapan Standar Nasional Pendidikan, maka pada standar pendidik yang menjadi perhatian peneliti, bahwa pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rokhani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Tuntutan pemerintah
1 Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2013 Tentang Sistem Pendidikann Nasional, Pasal3.
2 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.
(Jakarta: 2015), Pasal 2.
5 sebagaimana dijelaskan di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 mengindikasikan tentang tugas dan tanggung jawab guru sangat berat, sehingga sebaiknya guru memiliki standar kualitas tertentu, agar dapat melakukan tugas dan tanggung jawab secara baik, terutama dalam hal peningkatan prestasi peserta didik.
Selanjutnya dalam Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pada pasal 1 dijelaskan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.3
Menurut Zakaria menjelaskan bahwa guru merupakan ujung tombak dalam pelaksanaan program-program pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, tidak ada yang meragukan, betapa pentingnya peran guru bagi keberhasilan upaya peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan di sekolah4. Dalam hal ini guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Mulyasa menjelaskan guru adalah pendidik yang menjadi tokoh, panutan, identifikasi bagi peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu guru sebaiknya memilki standar kualitas pribadi tertentu yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin.5
Guru merupakan pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik. Sementara kinerja guru dimaknai prestasi yang dicapai oleh seseorang guru dalam melaksanakan tugasnya selama periode waktu tertentu yang diukur berdasarkan tiga indicator, yaitu: (1) penguasaan bahan ajar, (2) kemampuan mengelola pembelajaran dan (3) komitmen menjalankan tugas.
Dalam melaksanakan tugasnya guru diharapkan memilki kompetensi pedagogik, berdasarkan konferensi pers akhir tahun 2015 di Kantor Kemendikbud yang dilakukan oleh Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Sumarna mengatakan, jika dirinci hasil UKG untuk kompetensi bidang pedagogik saja, rata-rata nasionalnya hanya 48,94, yakni berada di bawah standar
3 Undang-undang Republik Indonesia No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Jakarta: 2005), Pasal 1.
4Teuku Ramli Zakaria, Pembenahan Mutu Guru, Buletin BSNP, Vol. XI/ No. 3 (September 2016), hal. 3.
5 E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional (Bandung: Rosdakarya, 2015), hal. 37.
6 kompetensi minimal (SKM), yaitu 55. Bahkan untuk bidang pedagogik ini, hanya ada satu provinsi yang nilainya di atas rata-rata nasional sekaligus mencapai SKM, yaitu Yogyakarta sebesar 56,91.6 Pedagogik berarti cara mengajarnya yang kurang baik, cara mengajarnya harus diperhatikan”.
Dalam Standar Nasional Pendidikan pasal 28 ayat (3) butir a dijelaskan bahwa kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelaola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahman terhadap peserta didik, perancangana dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar dan pengembanagn peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Selain itu penelitian lain yang dilakukan Yonghong & Chongde
“Since the 1990, many scholars have been defining performance as a set of behaviors”7. Kinerja sebagai seperangkat perilaku berkaitan dengan faktor pendorong dan kemampuan.
Penelitian yang dilakukan Jayaweera mendeskripsikan kinerja sebagai serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan seseorang atau organisasi.8
Dengan demikian terlihat jelas bahwa kinerja merupakan faktor utama yang berpengaruh terhadap keberhasilan suatu organisasi. Dengan kata lain, kinerja seseorang memiliki pengaruh yang kuat terhadap organisasi atau tempat ia bekerja. Jika seseorang berkinerja buruk, maka akan berdampak pada rendahnya prduktivitas, minimnya keuntungan dan buruknya hasil kerja pada suatu organisasi. Untuk mewujudkan kinerja diperlukan unsur- unsur penentu. Berdasarkan latar belakang masalah dalam penelitian ini mengkaji tentang kompetensi pedagogik, dan kinerja guru sekolah dasar. Pembatasan masalah dilakukan agar penelitian lebih terarah, terfokus, dan tidak menyimpang dari sasaran pokok penelitian. Oleh karena itu, penulis memfokuskan kepada pembahasan atas masalah- masalah pokok yang dibatasi dalam konteks permasalahan yang terdiri dari: Bagaimana kompetensi pedagogik berpengaruh langsung terhadap kinerja guru sekolah dasar di UPTD Pendidikan Bayumanik Kota Semarang? Selanjutnya untuk lebih memperdalam penelitian, maka dipilih empat variabel yang relevan dengan permasalahan pokok penelitian meliputi penyusnan rencana pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan penilaian pembelajaran
6 Sumarna, 7 Provinsi Raih Nilai Terbaik Uji Kompetensi Guru 2015 (Jakarta: Kemdikbud, 04 Januari 2016), h. 1. http://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2016/01/7-provinsi-raih-nilai-terbaik-uji-kompetensi-guru- 2015 (diakses tanggal 15 Januari 2017)
7 Yonghon, Cai & Lin Chongde,Theory and Practice on Teacher Performance Evaluation. China: Higher Education, 2006. h. 30.
8 Jayaweera, T, Impact of Work Environmental Factors on Job Performance, Mediating Role of Work Motivation: A Study of Hotel Sector in England. International Journal of Business and Management. Vol. 10, No. 3. (2015), h. 271.
7 Permasalahan yang akan diteliti adalah sebagai berikut. Apakah guru memilki kemampuan dalam penyusunan rencana pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan penilaian pembelajaran di Sekolah Dasar, Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kinerja Guru sekolah Dasar di UPTD Pendidikan Banyumanik Kota Semarang
Kebaruan yang menjadi target utama penelitian ini dari segi pengembangan IPTEKS, penelitian ini dapat berkontribusi pada kualitas pendidikan Sekolah Dasar dan menambah wawasan bagi peneliti, guru, pihak sekolah mitra untuk meningkatkan kualitas pembelajaran disekolah dasar dengan melihatnya dari penyusnan rencana pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan penilaian pembelajaran di sekolah dasar, Untuk maksud tersebut, dicari hubungan antara penyusnan rencana pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan penilaian pembelajaran di sekolah dasar, Dengan mengetahui hubungan tersebut, hasil penelitian diharapkan berguna untuk meningkatkan penyusnan rencana pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan penilaian pembelajaran di Sekolah Dasar.
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi dan referensi bacaan bagi semua pihak yang membutuhkannya.
Dari Segi masalah praktis dalam pembangunan, hasil penelitian ini dapat sebagai bahan masukan, saran dan memberikan informasi bagi pembaca dan pihak yang berkepentingan khususnya sekolah, mengenai hubungan penyusnan rencana pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan penilaian pembelajaran di sekolah dasar. Penelitian ini dapat digunakan bagi Kepala Sekolah untuk mengetahui seberapa korelasi antara penyusunan rencana pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran dan penilaian pembelajaran di Sekolah Dasar.
Tabel 1. Rencana Target Capaian Tahunan
No Jenis Luaran Indikator Capaian
1
Publikasi dalam jurnal
Internasional Terbit Vol. 1 No. 2 Agustus 2018
https://ejournal.unri.ac.id/index.php/JTLEE/issue/v iew/648/showToc
8 BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
Terdapat beberapa pendapat mengenai definisi kinerja dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Para pakar dan peneliti memberi pengertian yang berbeda. Yonghong dan Chongde menjelaskan bahwa kinerja sebagai seperangkat perilaku berkaitan dengan faktor pendorong dan kemampuan.9 Hal senada dijelaskan Borman, & Schmit, dalam Jayaweera bahwa kinerja sebagai serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan seseorang atau organisasi.10
Kinerja Guru menurut Yamin dan Maisah diartikan sebagai perilaku atau respon yang memberi hasil yang mengacu kepada apa yang mereka kerjakan dalam menghadapi tugas.11 Kinerja guru dapat dilihat dari berbagai aspek diantaranya adalah pada pembelajaran, dan pengembangan keprofesian. Berkaitan dengan tugas pokok guru yaitu merencanakan, melaksanakan, dan menganalisis pembelajaran maka kinerja guru pada disini akan difokuskan pada pengertian kinerja guru dalam proses belajar mengajar.
Kinerja guru memiliki kriteria tertentu yang dilihat dan diukur berdasarakan kriteria kompetensi yang wajib dimiliki setiap guru. Terkait dengan proses pembelajaran perilaku guru dapat dilihat dari bagaimana seorang guru merencanakan pembelajaran, melaksanakan kegiatan pembelajaran, dan menilai hasil belajar.12
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja guru adalah wujud perilaku atau hasil kerja guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran mulai dari merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran dan mengevaluasi pembelajaran sebagai wujud dari kompetensi yang dimiliki setiap guru untuk masing-masing bidang keahlian.
Sedangkan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 20 dijelaskan, bahwa dalam melaksanakan tugas yang profesional, guru berkewajiban: (1) merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran, (2) meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, (3) bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran, (4) menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum,
9 Yonghon, Cai & Lin Chongde,Theory and Practice on Teacher Performance Evaluation (China: Higher Education, 2006), h.30.
10 Jayaweera, T, Impact of Work Environmental Factors on Job Performance, Mediating Role of Work Motivation: A Study of Hotel Sector in England. International Journal of Business and Management. Vol. 10, No. 3. (2015), h. 271.
11 Martinis Yamin dan Maisah, Standarisasi Kinerja Guru (Jakarta: Gaung Persada, 2010), h. 86.
12 Ibid.
5
9 dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika; dan (5) memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.13
Berdasarkan beberapa teori di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja guru merupakan kegiatan yang dapat dicapai guru dalam suatu organisasi, sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab yang diberikan organisasi dalam upaya mencapai visi, misi, dan tujuan organisasi bersangkutan secara legal, tidak melanggar hukum dan sesuai dengan moral maupun etika. Kinerja seorang guru merupakan unjuk kerja guru dalam menjalankan tugasnya secara rutin dan berkesinambungan sebagai upaya mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran. Indikator yang diukur adalah kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran.
Pendapat yang sama diungkapkan oleh Mangkunegara bahwa kinerja sebagai prestasi kerja atau hasil kerja (output) baik kualitas maupun kuantitas yang dicapai SDM persatuan periode waktu dalam melaksanakan tugas kerjanya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya14. Supardi secara ringkas juga menjelaskan bahwa kinerja sebagai hasil kerja yang telah dicapai oleh seseorang dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan berdasarkan standardisasi atau ukuran dan waktu yang disesuaikan dengan jenis pekerjaannya dan sesuai dengan norma dan etika yang telah ditetapkan.15
Pentingnya peran dan kinerja guru juga diungkapkan oleh Wenlu Li dan Wang yang mendeskripsikan bahwa guru merupakan bagian utama dalam pendidikan yang memainkan peran penting dalam memajukan model pengajaran sehingga proses dan model evaluasi kinerja guru menjadi tolok ukur utama.16 Untuk meningkatkan kinerja guru, penilaian terhadap kinerja guru menjadi faktor keberhasilan mendidik siswa sebagaimana dijelaskan oleh Baron bahwa penilaian kinerja memberikan informasi dan data penting untuk program persiapan guru yang meliputi berbagai aspek mengajar seperti perencanaan, instruksi, penilaian, dan refleksi.17 Senada dengan Baron, Akalina dan Sucuogl menekankan betapa pentingnya eksistensi guru dalam menciptakan suasana pembelajaran yang efektif dan efisien karena secara substansi keberhasilan pembelajaran sangat bergantung pada seberapa bagus guru mengatur kelas.18 Hildebrandt dan Swanson secara tegas menjelaskan bahwa penilaian terhadap guru dengan pendekatan tradisional sangatlah tidak
13 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, Pasal 20.
14 Anwar Prabu Mangkunegara, Evaluasi Kinerja SDM (Bandung: Refika Aditama, 2014), h. 9
15 Supardi, Kinerja Guru (Jakarta: Rajawali Press, 2016), h. 9.
16 Wenlu Li, Yinghui Wang. Research on the Performance Evaluation Model of Higher Education Teachers Based on the Improved Grey Clustering Analysis Method. Paper, Available at:
http://dx.doi.org/10.3991/ijet.v10i8.5220.
17Lisa Baron, Preparing Pre-Service Teachers for Performance Assessments. Journal of Interdisciplinary Studies in Education. Volume 3, Issue 2. Tahun 2015, h. 68.
18Selma Alkalina & Bulbin Sucuogl, Effects of Classroom Management Intervention Based on Teacher Training and Performance Feedback on Outcomes of Teacher-Student Dyads in Inclusive Classrooms.
Educational Sciences: Theory & Practice. 15(3), Tahun 2015, hh. 739-758.
10 efektif, justru penilaian yang berdasarkan kinerja (performance-based assessment) lebih fokus pada kegiatan nyata guru di kelas dan mengukur kesiapan mereka mengajar.19 Dari beberapa pendapat yang dikemukakan di atas, dapat disintesiskan bahwa penilaian berbasis kinerja dapat meningkatkan profesinalisme guru.
Stewart, dkk mendeskripsikan bahwa dalam penilaian calon pendidik diwajibkan untuk mempertimbangkan konteks kelas yang nantinya mereka ajar dan rencana pembelajaran yang tepat bagi siswa mereka. Selain itu, tim penilai dan supervisor juga berhak mengevaluasi kinerja calon pendidik agar tepat sasaran.20 Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penilaian terhadap pendidik khususnya calon guru sangat diprioritaskan terutama dari aspek kemampuan mengajar termasuk penyusunan rencana pembelajaran di kelas. Berkaitan dengan penilaian guru, Borges dan Rodriguez menjelaskan bahwa ada dua cara atau sumber yang dapat dilakukan untuk menilai kompetensi profesional guru, yaitu: 1) penilaian internal berupa kemampuan mengajar setiap guru di kelas dan lingkungan sekolah (siswa, rekan guru, dan orang-orang di sekitar), 2) penilaian eksternal meliputi standar, tingkat kompetensi, dokumen, portofolio dan pengawas atau penilai dari luar. 21
Berdasrkan uraian di atas, terlihat jelas bahwa kinerja merupakan faktor utama yang berpengaruh terhadap keberhasilan suatu organisasi. Dengan kata lain, kinerja seseorang memiliki pengaruh yang kuat terhadap organisasi atau tempat ia bekerja. Jika seseorang berkinerja buruk, maka akan berdampak pada rendahnya prduktivitas, minimnya keuntungan dan buruknya hasil kerja pada suatu organisasi. Untuk mewujudkan kinerja diperlukan unsur-unsur penentu. Hal ini sejalan dengan Barnawi & Arifin yang secara tegas menjelaskan bahwa kinerja seseorang akan terwujud oleh dua unsur, yaitu motivasi dan kemampuan. Dengan demikian, orang yang tinggi motivasinya menghasilkan kinerja yang rendah. Begitu juga orang yang kemampuannya tinggi tetapi motivasinya rendah akan menghasilkan kinerja yang rendah. Sehingga kita dapat mengartikan kinerja sebagai suatu perbuatan, suatu prestasi atau apa yang diperlihatkan seseorang melalui keterampilan yang nyata.22
Baik buruknya kinerja seseorang dipengaruhi banyak faktor yang berasal dari dalam diri maupun dari luar dirinya. Seorang guru dapat bekerja dengan baik apabila di dalam dirinya ada semangat kerja yang tinggi. Akan tetapi, semangat kerja juga dapat ditimbulkan dari luar diri
19 Susan A. Hildebrandt & Pete Swanson, World Language Teacher Candidate Performance on edTPA: An Exploratory Study Foreign Language Annals, Vol. 47, Iss. 4, Tahun 2014), hh. 576–591.
20Anissa R. Stewart, dkk. Beyond the Criteria: Evidence of Teacher Learning in a Performance Assessment.
Teacher Education Quarterly, Summer, Tahun 2015, h. 36.
21Africa Borges & Manuela Rodriguez-Dorta, Assessment of The Teaching Quality of Teachers of Primary and Special Education, Journal of Education Research. Vol. 9, No. 3 Tahun 2015), hh. 324-325.
22Barnawi & M. Arifin. Kinerja Guru Professional: Instrument Pembinaan,Peningkatan, dan Penilaian (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2014), h. 26.
11 karyawan yakni dengan pemberian motivasi bekerja. Dengan begitu diharapkan semangat kerja menjadi tinggi maka semua pekerjaan yang dibebankan kepadanya akan lebih cepat dan tepat selesai.
Terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian kinerja. Mangkunegara menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian kinerja antara lain faktor individu dan faktor lingkungan organisasi. Faktor individu berkaitan dengan integritas yang dimiliki oleh seseorang, sedangkan faktor lingkungan organisasi berkaitan dengan uraian jabatan yang jelas, autoritas yang memadai, target kerja harmonis, iklim kerja respek dan dinamis, peluang berkarier dan fasilitas kerja yang relatif memadai. Dengan demikian, agar kinerja tercapai dengan baik perlu didukung oleh faktor individu dan faktor organisasi yang baik.23
Berkaitan dengan kinerja guru, Sahertian dalam Dirjen PMPTK mengungkapkan bahwa standar kinerja guru itu berhubungan dengan kualitas guru dalam menjalankan tugasnya seperti: (1) bekerja dengan siswa secara individual, (2) persiapan dan perencanaan pembelajaran, (3) pendayagunaan media pembelajaran, (4) melibatkan siswa dalam berbagai pengalaman belajar, dan (5) kepemimpinan yang aktif dari guru. Selain standar kinerja, penilaian kinerja juga berperan untuk mengukur kinerja guru. Hal ini dikarenakan penilaian kinerja merupakan proses yang diawali dengan pengukuran.24 Sedangkan Mangkuprawira dan Vitayala dalam Yamin dan Maisah menjelaskan bahwa faktor yang mempengaruhi kinerja guru, yaitu: 1) Faktor Kepemimpinan yang meliputi kualitas manajer dan team leader dalam memberikan dorongan, semangat, arahan, dan dukungan kerja pada guru, 2) Faktor Tim yang meliputi kualitas dukungan dan semangat yang diberikan oleh rekan dalam satu tim, kepercayaan terhadap sesama anggota tim, kekompakan, dan keeratan anggota tim, 3) Faktor sistem meliputi sistem kerja, fasilitas kerja yang diberikan oleh pemimpin sekolah, proses organisasi (sekolah) dan kultur kerja, 4) Faktor situasional meliputi tekanan dan perubahan lingkungan eksternal dan internal.25
Selanjutnya Supardi menyebutkan beberapa indikator kinerja guru diantaranya kemampuan menyusun rencana pembelajaran, kemampuan melaksanakan pembelajaran, kemampuan mengadakan hubungan antarpribadi, kemampuan melaksanakan penilaian hasil belajar, kemampuan melaksanakan pengayaan dan kemampuan melaksanakan remedial. Apabila guru mampu melaksanakan indikator-indikator tersebut dengan maksimal, maka kinerja guru tersebut dapat dikatakan baik atau layak.26
Jadi dari tujuh teori di atas dapat disimpulkan bahwa kinerja guru adalah keberhasilan guru dalam menyusun perencanaan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran dan
23 Anwar Prabu Mangkunegara, Evaluasi Kinerja SDM (Bandung: Refika Aditama, 2014), h. 16.
24 Dirjen PMPTK DEPDIKNAS, Penilaian Kinerja guru (Materi Diklat, 2008), h. 23.
25 Yamin dan Maisah, op.cit., h. 129.
26 Supardi. 2016. Kinerja Guru (Jakarta: Rajawali Press, 2016), h. 73.
12 malaksanakan penilaian pembelajaran sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Berangkat dari hal ini, maka penilaian kinerja guru (PKG) dari tiap Rubrik/ butir kegiatan yang terbagi dalam tiga indikator pertama meyusun rencana pembelajaran (Identitas RPP, Komponen, Indikator, Tujuan, Materi Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Sumber Belajar, Kegiatan pendahuluan, Kegiatan inti, Kegiatan Penutup, Penilaian). Indikator kedua pelaksanaan pembelajaran dari kegiatan pendahuluan memberikan apersepsi dan motivasi, penyampaian kompetensi dan rencana kegiatan, pada kegiatan inti pembelajaran antara lain penguasaan Materi Pelajaran, Penerapan Strategi Pembelajaran yang Mendidik, Penerapan pendekatan pembelajaran saintifik (pendekatan berbasis proses keilmuan)., Penerapan Pembelajaran Tematik Terpadu/Tematik Intra mata pelajaran, Pembelajaran berbasis mata pelajaran, pemanfaatan sumber belajar/media dalam pembelajaran, pelibatan peserta didik dalam pembelajaran, penggunaan bahasa yang benar dan tepat dalam pembelajaran, penutup pembelajaran. Sedangkan pada inkator ketiga guru melakukan penilaian dalam pembelajaran diantaranya penilaian oleh guru, penilaian penguasaan pengetahuan, penilaian produk pembelajaran, penilaian iklim pembelajaran dan penilaian oleh siswa.
Indikator kinerja guru merupakan perilaku atau respon yang memberi hasil yang telah dicapai guru yang diukur berdasarkan spesifikasi kompetensi yang harus dimiliki guru. Penilaian kinerja (performance appraisal) pada dasarnya merupakan faktor kunci guna mengembangkan suatu organisasi secara efektif dan efisien, karena adanya kebijakan atau program yang lebih baik atas sumber daya manusia yang ada dalam organisasi. Penilaian kinerja individu sangat bermanfaat bagi dinamika pertumbuhan organisasi secara keseluruhan, melalui penilaian tersebut maka dapat diketahui kondisi sebenarnya tentang bagaimana kinerja guru.
Dengan begitu penilaian kinerja guru sangat penting untuk dilakukan secara periodik karena untuk mengukur tingkat pencapaian keberhasilan guru dalam melaksanakan tugasnya.
Penilaian kinerja guru lebih terfokus jika ada indikator yang dijadikan tolak ukurnya.
Penilaian yang dilakukan secara periodik akan diperoleh gambaran kualitas guru dalam melaksanakan tugas pokoknya dan hasilnya dapat dijadikan alat kontrol dan bahan pembinaan bagi kepala sekolah. Berkenaan dengan tugas guru dalam pembelajaran, terdapat indikator penilaian terhadap kinerja guru yang dilakukan terhadap pembelajaran dikelas yaitu (a) Perencanaan Program Kegiatan Pembelajaran (Perancangan Silabus dan RPP), (b) Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran (pengelolaan kelas, penggunaan media dan sumber belajar, penggunaan metode pembelajaran), dan (c) Penilaian pembelajaran.27
Adapun rincian mengenai indikator penilaian kinerja guru adalah sebagai berikut:
A. Perencanaan Program Kegiatan Pembelajaran
27Undang-Undang Sistem Nasional Pendidikan No. 20 Tahun 2003 (Jakarta: Depdiknas, 2003), h. 22-24.
13 Perencanaan pembelajaran dalam bentuk silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengacu pada standar isi. perencanaan pembelajaran meliputi penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran dan menyiapkan media dan sumber belajar, perangkat penilaian pembelajaran, dan skenario pembelajaran, penyusunann Silabus dan RPP disesuaikan dengan pendekatan pembelajran yang digunakan, silabus merupakan acuan penyusunan kerangka pembelajaran untuk setiap bahan kajian mata pelajaran.28 Menurut Zendrato faktor utama yang dipertimbangkan oleh guru saat menyusun RPP adalah karakteristik siswa, tujuan belajar, kegiatan belajar-mengajar, dan materi pelajaran.29
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar Dan Menengah. Bahwa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan pembelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD). Setiap pendidik pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, efisien, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
RPP disusun berdasarkan KD atau subtema yang dilaksanakan kali pertemuan atau lebih.
Komponen RPP terdiri atas: a. identitas sekolah yaitu nama satuan pendidikan; b. identitas mata pelajaran atau tema/subtema; c. kelas/semester; d. materi pokok; e. alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar dengan mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia dalam silabus dan KD yang harus dicapai; f. tujuan pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan KD, dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan; g. kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi; h. materi pembelajaran, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator ketercapaian kompetensi; i. metode pembelajaran, digunakan oleh pendidik untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai KD yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan KD yang akan dicapai; j. media pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran untuk menyampaikan materi pelajaran; k. sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar, atau sumber belajar lain yang relevan; l. langkah-langkah
28 Kunandar, Penilaian Autentik (Penilaian hasil belajar peserta didik berdasarkan kurikulum 2013) (Jakarta:
Rajawali Press, 2014), h. 3.
29 Juniriang Zendrato. Tingkat Penerapan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Dalam Pelaksanaan Pembelajaran Di Kelas, Scholaria Jurnal pendidikan dan kebudayaan, Vol. 6 No. 2, (2016, h. 71.
14 pembelajaran dilakukan melalui tahapan pendahuluan, inti, dan penutup; dan m. penilaian hasil pembelajaran.30
Perencanaan pembelajaran dirancang dalam bentuk Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengacu pada Standar Isi. Perencanaan pembelajaran meliputi penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran dan penyiapan media dan sumber belajar, perangkat penilaian pembelajaran, dan skenario pembelajaran. Penyusunan Silabus dan RPP disesuaikan pendekatan pembelajaran yang digunakan. Menurut Sunardi, dkk bahwa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rencana kegiatan pembelajaran tatap muka untuk satu pertemuan atau lebih. RPP dikembangkan dari silabus untuk mengarahkan kegiatan embelajaran peserta didik dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD). setiap pendidik pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, efisien, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
RPP disusun berdasarkan KD atau subtema yang dilaksanakan kali pertemuan atau lebih.
Komponen RPP terdiri atas: 1) identitas sekolah yaitu nama satuan pendidikan; 2) identitas mata pelajaran atau tema/subtema; 3) kelas/semester; 4) materi pokok; 5) alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar dengan mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia dalam silabus dan KD yang harus dicapai; 6) tujuan pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan KD, dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan; 7) kompetensi dasar dan indikator pencapaian kompetensi; 8) materi pembelajaran, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator ketercapaian kompetensi; 9) metode pembelajaran, digunakan oleh pendidik untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai KD yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan KD yang akan dicapai; 10) media pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran untuk menyampaikan materi pelajaran; 11) sumber belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar, atau sumber belajar lain yang relevan;
12) langkah-langkah pembelajaran dilakukan melalui tahapan pendahuluan, inti, dan penutup; dan 13) penilaian hasil pembelajaran.31
30 Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar Dan Menengah, (Jakarta: Kemdikbud, 2016), h. 5.
31 Sunardi, dkk. Sumber Belajar Penunjang PLPG 2017 Kompetensi Pedagogik Mata Pelajaran : Guru Kelas SD. Kemdikbud. Ditnaga (2017), h.59
15 RPP adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran tertentu yang mencakup Identitas RPP (nama sekolah, kelas/semester, tema, sub tema/pembelajaran, alokasi waktu), komponen (identitas, KI, KD, indikator, tujuan, materi, metode, media/alat/sumber, langkah-langkah kegiatan, penilaian), Indikator (merumuskan indikator, menggunakan kata kerja operasional, dapat diukur), Tujuan (tujuan pembelajaran dirumuskan berdasarkan KD, menggunakan kata kerja operasional, dapat diamati dan diukur), materi pembelajaran (materi memuat fakta, konsep, prinsip, prosedur yang relevan dan mengacu pada indikator ketercapaian kompetensi), metode pembelajaran (mencantumkan metode yang bervariasi dan relevan dengan materi), sumber belajar (mencantumkan sumber belajar berupa buku, media cetak dan elektronik, alam sekitar atau sumber lainnya), kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, kegiatan penutup dan penilaian.
Silabus merupakan salah satu bentuk perencanaan pembelajaran yang masih memerlukan penjabaran yang lebih operasional ke dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
RPP merupakan pegangan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran baik di dalam kelas, laboratorium, dan/atau lapangan untuk setiap kompetensi dasar. Mengingat perencanaan program pembelajaran sebagai salah satu indikator kinerja guru maka dalam penelitian ini kinerja guru yang dimaksud adalah berupa hasil dari kegiatan guru menyusun program pembelajaran yang berupa silabus dan RPP.
B. Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran
Pelaksanaan pembelajaran pada kurikulum 2013 dalam pembelajaran berbasis kompetensi, dan kareakter yang dilakukan dengan pendekatan tematik integratif harus mempertimbangkan sebagai berikut: Mengintergrasikan pembelajaran dengan kehidupan masyarakat sekitar lingkungan sekolah, mengidentifikasi kompetensi dan karakter sesuai dengan kebutuhan dan masalah yang dirasakan peserta didik, mengembangkan indikator setiap kompetensi dan karakter agar relevan dengan perkembangan dankebutuhan peserta didik, menata stuktur organisasi dan mekanisme kerja yang jelas serta menjalin kerjasama diantara para fasilitator dan tenaga kependidikan lain dalam pembentukan kompetensi peserta didik, merekrut tenaga kependidikan yang memilki pengetahuan, keterampilan dan sikap, sesuai dengan tugas dan fungsiinya, melengkapi sarana dan prasarana yang memadahi, seperti perpustakaan, laboratorium, pusat sumber belajar, perlengkapan teknis, dan perlengkapan administrasi serta ruang pembelajaran yang memadahi, menilai program pembelajaran secara berkala dan berkesinambungan untuk melihat keefektifan dan ketercapaian kompetensi yang dikembangkan, disamping itu penilaian juga penting untuk melihat apakah
16 pembelajaran berbasis kompetensi yang dikembangkan sudah dapat mengembangkan potensi peserta didik.32
Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar Dan Menengah bahwa Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP, meliputi kegiatan pendahuluan, inti dan penutup. 1. Kegiatan Pendahuluan Dalam kegiatan pendahuluan, guru wajib: a. menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran; b. memberi motivasi belajar peserta didik secara kontekstual sesuai manfaat dan aplikasi materi ajar dalam kehidupan sehari-hari, dengan memberikan contoh dan perbandingan lokal, nasional dan internasional, serta disesuaikan dengan karakteristik dan jenjang peserta didik; c. mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari; d. menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai; dan e. menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus. 2. Kegiatan Inti Kegiatan inti menggunakan model pembelajaran, metode pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran. Pemilihan pendekatan tematik dan /atau tematik terpadu dan/atau saintifik dan/atau inkuiri dan penyingkapan (discovery) dan/atau pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning) disesuaikan dengan karakteristik kompetensi dan jenjang pendidikan. a. Sikap Sesuai dengan karakteristik sikap, maka salah satu alternatif yang dipilih adalah proses afeksi mulai dari menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, hingga mengamalkan. Seluruh aktivitas pembelajaran berorientasi pada tahapan kompetensi yang mendorong peserta didik untuk melakuan aktivitas tersebut. b. Pengetahuan Pengetahuan dimiliki melalui aktivitas mengetahui, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, hingga mencipta. Karakteritik aktivititas belajar dalam domain pengetahuan ini memiliki perbedaan dan kesamaan dengan aktivitas belajar dalam domain keterampilan. Untuk memperkuat pendekatan saintifik, tematik terpadu, dan tematik sangat disarankan untuk menerapkan belajar berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning). Untuk mendorong peserta didik menghasilkan karya kreatif dan kontekstual, baik individual maupun kelompok, disarankan yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning). c. Keterampilan Keterampilan diperoleh melalui kegiatan mengamati, menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta. Seluruh isi materi (topik dan sub topik) mata pelajaran yang diturunkan dari keterampilan harus mendorong peserta didik untuk melakukan proses pengamatan hingga penciptaan. Untuk mewujudkan keterampilan tersebut perlu melakukan
32 Mulyasa, Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013, (Bandung: Pemuda Rosda Karya, (2013), h.
105
17 pembelajaran yang menerapkan modus belajar berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry learning) dan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah (project based learning). 3. Kegiatan Penutup Dalam kegiatan penutup, guru bersama peserta didik baik secara individual maupun kelompok melakukan refleksi untuk mengevaluasi: a. seluruh rangkaian aktivitas pembelajaran dan hasil-hasil yang diperoleh untuk selanjutnya secara bersama menemukan manfaat langsung maupun tidak langsung dari hasil pembelajaran yang telah berlangsung; b. memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran; c. melakukan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pemberian tugas, baik tugas individual maupun kelompok; dan d. menginformasikan rencana kegiatan pembelajaran untuk pertemuan berikutnya.33
C. Penilaian Pembelajaran
Hakikat penilaian rangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis dan menafsirkan data tentang proses dan dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematisakurat, dan berkesinambungan dengan menggunakan alat pengkuran tertentu, seperti soal, lembar pengamatan sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan pencapaian kompetensi peserta didik.34
Penialaian Penilaian hasil pembelajaran adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai keberhasilan belajar peserta didik setelah mengalami proses belajar selama periode tertentu. Menurut Permendiknas No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses, penilaian dilakukan oleh guru terhadap hasil pembelajaran untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi peserta didik, serta digunakan sebagai bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar, dan memperbaiki proses pembelajaran.35
Pada lampiran Permendiknas No. 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan, penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara berkesinambungan dan bertujuan untuk memantau proses dan kemajuan belajar peserta didik serta untuk meningkatkan efektivitas kegiatan pembelajaran. Penilaian tersebut meliputi kegiatan: 1) menginformasikan silabus mata pelajaran yang di dalamnya memuatrancangan dan kriteria penilaian pada awal semester, 2) mengembangkan indikator pencapaian KD dan memilih teknik penilaian yang sesuai pada saat menyusun silabus mata pelajaran, 3) mengembangkan instrumen dan pedoman penilaian sesuai dengan bentuk dan teknik penilaian yang dipilih, 4) melaksanakan tes, pengamatan, penugasan,
33 Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2016 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar Dan Menengah, (Jakarta: Kemdikbud, 2016), h. 11
34 Kunandar, Penilaian Autentik (Penilaian hasil belajar peserta didik berdasarkan kurikulum 2013) (Jakarta:
Rajawali Press, 2014), h. 66.
35 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses Lampiran (Jakarta:
Depdiknas, 2008), h. 8.
18 dan/atau bentuk lain yang diperlukan, 5) mengolah hasil penilaian untuk mengetahui kemajuan hasil belajar dan kesulitan belajar peserta didik, 6) mengembalikan hasil pemeriksaan pekerjaan peserta didik disertai balikan/komentar yang mendidik, 7) memanfaatkan hasil penilaian untuk perbaikan pembelajaran, 8) melaporkan hasil penilaian mata pelajaran pada setiap akhir semester kepada pimpinan satuan pendidikan dalam bentuk satu nilai prestasi belajar peserta didik disertai deskripsi singkat sebagai cerminan kompetensi utuh, 9) melaporkan hasil penilaian akhlak kepada guru Pendidikan Agama dan hasilpenilaian kepribadian kepada guru Pendidikan Kewarganegaraan sebagaiinformasi untuk menentukan nilai akhir semester akhlak dan kepribadian peserta didik dengan kategori sangat baik, baik, atau kurang baik.36 Sedangkan penilaian hasil belajar peserta didik pada Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2016 Tentang Standar Penilaian Pendidikan pada pasal 3 dijelaskan bahwa Penilaian hasil belajar peserta didik pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah meliputi aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan pasal 4.37 Penilaian sikap merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk memperoleh informasi deskriptif mengenai perilaku peserta didik. Penilaian pengetahuan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengukur penguasaan pengetahuan peserta didik.
Penilaian keterampilan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengukur kemampuan peserta didik menerapkan pengetahuan dalam melakukan tugas tertentu, Penilaian pengetahuan dan keterampilan dilakukan oleh pendidik, satuan pendidikan, dan/atau Pemerintah.
Menuruat Badrun Kartowagiran bahawa Jenis penilaian yang dapat digunakan oleh pendidik untuk menilai kompetensi pengetahuan, kompetensi keterampilan, dan kompetensi sikap adalah penilaian otentik. Penilaian otentik adalah penilaian perilaku peserta didik secara multi-dimensional pada situasi nyata. Penilaian seperti ini tidak hanya menggunakan tes kertas pensil atau tes tertulis saja tetapi juga menggunakan berbagai metode, misalnya tes perbuatan, pemberian tugas, dan portofolio.38
Peneilaian yang dilakukan guru pada penelitian ini mencakup komponen penilaian penguasaan pengetahuan, penilaian produk pembelajaran, penilaian iklim pembelajaran dan penilaian peserta didik. Adapun indikator yang dikembang sebagai berikut:
a) Terlaksananya penilaian diakhir proses pembelajaran, baik lisan maupun tulisan.
36 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan (Jakarta: Depdiknas, 2008), lampiran h. 5.
37 Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2016 Tentang Standar Penilaian Pendidikan (Jakarta: Kemdikbud, 2016), Pasal. 4
38 Badrun Kartowagiran, Penilaian Berbasis Kurikulum 2013. Makalah disampaikan pada Pelatihan Penilaian Otentik Bagi Guru SMP di Wonosari yang mengimplementasikan kurikulum 2013, pada 29 Agustus 2014
19 b) Tersedianya dokumen hasil penilaian penguasaan pengetahuan, Instrumen penilaian yang
digunakan sesuai dengan kaidah.
c) Momentum (waktu yang paling tepat) melakukan penilaian).
d) Tersedianya produk hasil pembelajaran (model, project, pemecahan masalah).
e) Tersedianya himpunan hasil belajar siswa lengkap dengan komentar dan penilaian guru dalam satu portofolio.
f) Terciptanya suasana atau aura pembelajaran yang kondusif, terciptanya keteraturan suasana belajar.
g) Tercapainya indikator perubahan pengetahuan, sikap, dan keterampilan siswa.
h) Terekamnya kesan siswa terhadap pembelajaran. terekamnya semangat untuk belajar lebih lanjut.
Pada tahap penilaian seorang guru dituntut memiliki kemampuan dalam menyusun alat- alat penilaian, mengolah dan menggunakan hasil penilaian. Kemampuan yang perlu dikuasai guru pada kegiatan penilaian hasil belajar adalah menyusun alat penilaian. Alat penilaian meliputi: tes tertulis, tes lisan, dan tes perbuatan. Seorang guru dapat menentukan alat tes tersebut sesuai dengan materi yang disampaikan. Indikasi kemampuan guru dalam penyusunan alat-alat tes ini dapat digambarkan dari frekuensi penggunaan bentuk alat-alat tes secara variatif, karena alat tes yang telah disusun pada dasarnya digunakan sebagai alat penilaian hasil belajar.
Selain itu yang harus diperhatikan guru adalah pengolahan dan penggunaan hasil belajar.
Dua hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan hasil belajar yaitu: 1) jika bagian-bagian tertentu dari materi pelajaran yang tidak dipahami sebagian kecil siswa, guru cukup memberikan kegiatan remidial bagi siswa yang bersangkutan, 2) jika bagian-bagian tertentu dari materi pelajaran tidak dipahami oleh sebagian besar siswa, maka diperlukan perbaikan terhadap program pembelajaran, khususnya berkaitan dengan bagian yang sulit dipahami.
Melalui penelitian disertasi ini akan diperoleh kebaruan dalam bidang pendidikan dasar. Penelitian ini akan menghasilkan penelitian ini dapat berkontribusi pada kualitas pendidikan Sekolah Dasar dan menambah wawasan bagi peneliti, guru, pihak sekolah mitra untuk meningkatkan kualitas pembelajaran disekolah dasar dengan melihatnya dari kemampuan menyusun rencana pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan penilaian pembelajaran di sekolah dasar khususnya di UPTD Pendidikan Bayumanik Kota Semarang.
20 BAB 3. METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan adalah kulitatif deskriptif. Tempat penelitian dilaksanakan di seluruh sekolah dasar negeri di UPTD Pendidikan Kec. Bayumanik Kota Semarang Jawa Tengah sebanyak 31 sekolah. Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek-objek yang mempunyai kuantitas dan karatersitik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan Sugiyono, (2016). Populasi dalam penelitian ini adalah guru-guru Sekolah Dasar Negeri UPTD Pendidikan Banyumanik Kota Semarang, dengan jumlah sekolah sebanyak 7 Kelompok Kerja Guru/ Gugus, guru kelas keseluruhannya sebanyak 272 orang. Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik simple random sampling of area dengan penetapan responden sampelnya secara undian.
Adapun sampel yang didapat dalam penelitian ini sebanyak 162 orang guru. teknik pengambilan sampel dengan cara random setiap Gugus UPTD Pendidikan Kecamatan Banyumanik Kota Semarang. Penentuan guru diundi berdasarkan Kelompok Kerja Guru/ Gugus kemudian guru dimasing-masing sekolah dirandom sampling dengan alasan agar setiap sekolah dan guru masing- masing sekolah mendapatkan kesempatan yang sama sebagai sampel. Untuk instrumen kinerja guru sekolah dasar diisi oleh kepala sekolah.
Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan menggunakan instrument lembar penilain, Intrumen kinerja guru sebelum dibuat intrumen lembar penilaian (observasi) berpedoman pada konsepsional yang meliputi definisi konseptual, definisi operasional, dan rubrik penilaian instrumen penelitian, dan telaah pakar. Jumlah pernyataan memilki empat alternatif jawaban. Skala pengukuran intrumen Lembar penialaian (observasi) dibuat berdasarkan Skala penilaian mengukur penampilan atau perilaku orang lain (individu) melalui pernyataan perilaku dalam suatu kontinum atau kategori yang memiliki makna atau nilai, Kategori dibuat dalam bentuk rentangan mulai dari yang tertinggi sampai terrendah. Yaitu angka (1) Sangat Baik dengan skor 4, (2) Baik dengan skor 3, (3) Kurang dengan skor 2, (4) Tidak Baik dengan skor 1. Data penelititian terkumpul dianalisis secara deskriptif dengan kriteria menguunakan kriteria kinerja sesuai permenpan & RB 2009 pasal 15 sebagai berikut nilai 91 sampai dengan 100 disebut amat baik; b. nilai 76 sampai dengan 90 disebut baik; c. nilai 61 sampai dengan 75 disebut cukup; d. nilai 51 sampai dengan 60 disebut sedang; dan e. nilai sampai dengan 50 disebut kurang.
21
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Kinerja guru adalah keberhasilan guru dalam menyusun perencanaan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran dan malaksanakan penilaian pembelajaran sesuai dengan tujuan yang akan dicapai
a. Perencanaan Pembelajaran (RPP)
Perencanaan pembelajaran dalam bentuk silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang mengacu pada standar isi. perencanaan pembelajaran meliputi penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran dan menyiapkan media dan sumber belajar, perangkat penilaian pembelajaran, dan skenario pembelajaran, penyusunann Silabus dan RPP disesuaikan dengan pendekatan pembelajran yang digunakan, silabus merupakan acuan penyusunan kerangka pembelajaran untuk setiap bahan kajian mata pelajaran (Kunandar, 2014).
Berdasarkan analisis data, didapatkan profil perencanaan pembelajaran guru Sekolah Dasar UPTD Pendidikan Bayunamanik yang disajikan pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1. Kemampuan menyusun Perencanaan Pelaksanaan Pembelajaran
No Item Pernyataan % Kriteria
1 RPP memuat identitas lengkap (Nama sekolah,
Kelas/Semester ,Tema, Sub tema/Pembelajaran ke-, Alokasi Waktu
98.92 Amat Baik
2 Komponen lengkap (identitas, KI, KD, indikator, tujuan, materi, metode, media/alat/sumber, langkah-langkah kegiatan, penilaian)
97.53 Amat Baik
3 Perumusan indikator unsur dengan KD, menggunakan kata kerja operasional, dapat diukur
93.67 Amat Baik 4 Tujuan pembelajaran dirumuskan berdasarkan KD,
menggunakan kata kerja operasional, dapat diamati dan diukur
93.67 Amat Baik
5 Materi pembelajaran memuat fakta, konsep, prinsip, prosedur yang relevan, dan mengacu pada indikator ketercapaian kompetensi
89.66 Baik
6 Mencantumkan metode yang bervariasi dan relevan dengan materi
92.74 Amat Baik 7 Mencantumkan sumber belajar berupa buku, media cetak,
mdia elektronik, alam sekitar, atau sumber belajar lain yang relevan
84.10 Baik
22 8 Kegiatan pendahuluan memenuhi unsur memotivasi peserta
didik, mengaitkan pembelajaran terdahulu, mempersiapkan peserta didik secara fisik dan psikis untuk belajar,
menyampaikan tujuan
90.89 Amat Baik
9 mencantumkan langkah kegiatan pembelajaran yang mencerminkan saintifik meliputi 5 komponen (mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengolah informasi, mengomunikasikan)
90.28 Amat Baik
10 Mencantumkan kegiatan: membuat simpulan, melakukan penilaian, refleksi, memberikan umpan balik, dan
menginformasikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya
84.10 Baik
11 Penilaian mencantumkan komponen: jenis, teknik, instrument, dan penskoran
84.72 Baik
Total 90.94 Amat Baik
Rerata persentase perencanaan pelaksanaan pembelajaran guru Sekolah Dasar UPTD Pendidikan Banyumanik berada pada kriteria amat baik (Tabel 4.1). Hal ini menunjukan kemampuan guru dalam menyusun RPP sudah amat baik. Rerata persentase tertinggi terdapat pada item pernyataan RPP memuat identitas lengkap (Nama sekolah, Kelas/Semester ,Tema, Sub tema/Pembelajaran ke-, Alokasi Waktu yaitu dengan kriteria amat baik.
Zendrato, (2016) menegaskan bahwa faktor utama yang dipertimbangkan oleh guru saat menyusun RPP adalah karakteristik siswa, tujuan belajar, kegiatan belajar-mengajar, dan materi pelajaran. Oleh karena itu, kemampuan guru dalam menyusun RPP yang sesuai tujuan pembelajaran merupakan suatu hal yang sangat penting.
b. Pelaksanaan pembelajaran
Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan RI Nomor 22 Tahun 2016 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar Dan Menengah bahwa Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP, meliputi kegiatan pendahuluan, inti dan penutup. 1.
Kegiatan Pendahuluan, Kegiatan Inti dan kegiatan Penutup.
Berdasarkan analisis data, didapatkan hasil Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran guru Sekolah Dasar UPTD Pendidikan Bayunamanik yang disajikan pada Tabel 4.2.
23 Tabel 4.2. Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran
No Indikator dan Sub Indikator % Kriteria
1 Kegiatan Awal pembelajaran; Apersepsi dan Motivasi, Penyampaian Kompetensi dan Rencana Kegiatan
83.8 Baik
2 Kegiatan Inti; Penguasaan Materi Pelajaran, Penerapan Strategi Pembelajaran yang Mendidik, Penerapan pendekatan pembelajaran saintifik (pendekatan berbasis proses keilmuan), Penerapan Pembelajaran Tematik Terpadu/Tematik Intramata pelajaran, Pembelajaran berbasis mata Pelajaran, Pemanfaatan sumber belajar/media dalam pembelajaran, pelibatan peserta didik dalam pembelajaran, Penggunaan bahasa yang benar dan tepat dalam pembelajaran,
83.49 Baik
3 Kegiatan penutup pembelajaran refleksi dan tindak lanjut pembelajaran
82.48 Baik
Total 83.4 Baik
Hasil perencanaan pelaksanaan pembelajaran guru Sekolah Dasar UPTD Pendidikan Banyumanik berada pada kriteria amat baik (Tabel 4.2). Hal ini menunjukan kemampuan guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran sudah baik. Hasil tertinggi terdapat pada sub indikator Kegiatan Inti; Penguasaan Materi Pelajaran, Penerapan Strategi Pembelajaran yang Mendidik, Penerapan pendekatan pembelajaran saintifik (pendekatan berbasis proses keilmuan), Penerapan Pembelajaran Tematik Terpadu/Tematik Intramata pelajaran, Pembelajaran berbasis mata Pelajaran, Pemanfaatan sumber belajar/media dalam pembelajaran, pelibatan peserta didik dalam pembelajaran, Penggunaan bahasa yang benar dan tepat dalam pembelajaran yaitu dengan kriteria baik. Oleh karena itu, kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran merupakan suatu hal yang sangat penting
1) Kegiatan Awal Pembelajaran
Hasil apersepsi dan motivasi terdiri dari hasil item pernyataan sebagai berikut:
Mengaitkan materi pembelajaran sekarang dengan pengalaman peserta didik atau pembelajaran sebelumnya sebesar 86.1% (Baik), Mengajukan pertanyaan menantang
24 dengan sebesar 82.7% (Baik), Menyampaikan manfaat materi pembelajaran dengan sebesar 84.7% (Baik), Mendemonstrasikan sesuatu yang terkait dengan tema sebesar 84.7 (Baik), Mengecek prilaku awal (entry behavior) sebesar 80.7% (Baik),. Jadi kriteriai keseluruhan untuk kegiatan pendahuluan apersepsi dan motivasi sebesar 83.8% dengan kriteria baik.
Hasil penyampaian kompetensi dan rencana kegiatan terdiri dari hasil item pernyataan sebagai berikut: Menyampaikan kemampuan yang akan dicapai peserta didik (interaksi KI 3 dan KI 4, yang berimplikasi pada pengembangan KI 1 dan KI 2) sebesar 83.5% (Baik),, Menyampaikan rencana kegiatan misalnya, individual, kerja kelompok, dan melakukan observasi sebesar 83.5% (Baik),Jadi kriteriai keseluruhan untuk kegiatan Penyampaian Kompetensi dan Rencana Kegiatan sebesar 83.5% dengan kriteria baik.
2) Kegiatan Inti pembelajaran
Hasil penguasaan materi pelajaran terdiri dari hasil item pernyataan sebagai berikut: Kemampuan menyesuaikan materi dengan tujuan pembelajaran sebesar 85.9%
(Baik), Kemampuan mengkaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan, perkembangan Iptek , dan kehidupan nyata sebesar 81.5% (Baik), Mengelola pembahasan materi pembelajaran dan pengelaman belajar dengan tepat sebesar 80.4% (Baik), Menyajikan materi secara sistematis (mudah ke sulit, dari konkrit ke abstrak) sebesar 82.1% (Baik), Adapun hasil keselurahan untuk sub indicator Penguasaan Materi Pelajaran sebesar 82.5% dengan kriteri Baik.
Hasil penerapan strategi pembelajaran yang mendidik terdiri dari hasil item pernyataan sebagai berikut: Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai sebesar 83.3% (Baik), Menfasilitasi kegiatan yang memuat komponen eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi sebesar 82.9% (Baik), Melaksanakan pembelajaran secara runtut sebesar 82.9% (Baik), Mengelola kelas (memelihara disiplin dan suasana kelas) sebesar 85.5% (Baik), Melaksanakan pembelajaran yang bersifat kontekstual sebesar 80.1% (Baik), Melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan tumbuhnya kebiasaan positif, sebagai dampak pengiring hasil pembelajaran (nurturant effect atau suasana kondusif yang tercipta dengan sendirinya (hidden curriculum) sebesar 81.0%
(Baik), Melaksanakan pembelajaran sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan
25 82.9% (Baik), Adapun hasil keselurahan untuk sub indikator penerapan strategi pembelajaran yang mendidik sebesar 82.6% dengan kriteria Baik
Hasil penerapan pendekatan pembelajaran saintifik (pendekatan berbasis proses keilmuan) terdiri dari hasil item pernyataan sebagai berikut: Memfasilitasi peserta didik untuk mengamati sebesar 88.1 (Baik), Memancing peserta didik untuk menanya sebesar 86.4% (Baik), Memberikan pertanyaan peserta didik untuk menalar (proses berpikir yang logis dan sistematis) sebesar 86.3% (Baik), Memfasilitasi peserta didik untuk mencoba sebesar 86.7% (Baik), Menyajikan kegiatan peserta didik untuk mengkomunikasikan sebesar 85.8% (Baik), Adapun hasil keselurahan untuk sub indikator penerapan pendekatan pembelajaran saintifik (pendekatan berbasis proses keilmuan) sebesar 86.7%
dengan kriteria Baik
Hasil penerapan pembelajaran tematik terpadu/tematik intramata pelajaran, pembelajaran berbasis mata pelajaran terdiri dari hasil item pernyataan sebagai berikut:
Menyajikan pembelajaran sesuai tema/materi pokok sebesar 92% (Amat Baik), Menyajikan pembelajaran sesuai tema/materi pokok sebesar 89% (Baik), Menyajikan pembelajaran yang memuat komponen karakteristik terpadu sebesar 89% (Baik), Menyajikan pembelajaran yang bernuansa aktif dan menyenangkan sebesar 90% (Baik), untuk total keselurahan penerapan pembelajaran tematik terpadu/tematik intramata pelajaran, pembelajaran berbasis mata pelajaran sebesar 90% dengan kriteria Baik
Hasil pemanfaatan sumber belajar/media dalam pembelajaran terdiri dari hasil item pernyataan sebagai berikut: Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan sumber belajar pembelajaran sebesar 83.6% (Baik), Menunjukkan keterampilan dalam penggunaan media pembelajaran sebesar 82.3% (Baik), menghasilkan pesan yang menarik sebesar 82.3% (Baik), Melibatkan peserta didik dalam pemanfaatan sumber belajar pembelajaran sebesar 86.6% (Baik), untuk total keselurahan Pemanfaatan sumber belajar/media dalam pembelajaran sebesar 83.7 % dengan kriteria Baik.
Hasil kegiatan pelibatan peserta didik dalam pembelajaran terdiri dari hasil item pernyataan sebagai berikut: Menumbuhkan partisipasi aktif peserta didik (mental, fisik, dan sosial) melalui interaksi guru, peserta didik, sumber belajar sebesar 87.8% (Baik), Merespon positif partisipasi peserta didik sebesar 91.4% (Amat Baik), Menunjukkan sikap terbuka terhadap respons peserta didik sebesar 90.3% (Amat Baik), Menunjukkan