Bidang ilmu : Kesehatan
LAPORAN PENELITIAN KELOMPOK
HUBUNGAN KUALITAS HIDUP DENGAN BANYAKNYA MACAM ALERGI
TIM PENGUSUL
dr. Andriana Tjitria Widi Wardani, Sp THT-KL, M.Si.Med / 0618046502 dr. Agung Sulistyanto, Sp.THT-KL./ 0628046802
Dibiayai oleh Universitas Islam Sultan Agung, sesuai dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan Penelitian
Tahun Anggaran 2019 2020 Nomor Kontrak :...
Tanggal :...
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
Juli 2019
HALAMAN PENGESAHAN PENELITIAN KELOMPOK
Judul Penelitian : Hubungan Kualitas Hidup dengan Banyaknya Macam Alergi
Kode/Nama Rumpun Ilmu : 307/ Ilmu Kedokteran Dasar & Biomedis Ketua Peneliti
a. Nama Lengkap : dr. Andriana, Sp.THT-KL b. NIDN/NIK : 0610108505/210111135 c. Jabatan Fungsional : Asisten Ahli
d. Program Studi : Pendidikan Profesi Kedokteran e. Nomor HP/Surel : 024-6583584/-
Anggota Peneliti (1) :
a. Nama Lengkap : dr. Agung Sulistyanto, Sp.THT-KL.
a. NIDN/NIK : 0628046802/210105095
b. Perguruan Tinggi : Universitas Islam Sultan Agung Waktu Penelitian : 6 Bulan
Pembiayaan : Rp. 10.000.000,-
Mengetahui,
Semarang, 30 Juli 2019 Dekan Ketua Peneliti
Dr. dr. H. Setyo Trisnadi S.H., Sp.KF dr. Andriana, Sp.THT-KL NIK. 210199049 NIK. 210111135
Menyetujui, Ketua LPPM
Dr. Heru Sulistyo, SE., M.Si NIK. 210493032
ABSTRAK
Rinitis alergi (RA)adalah kelainan hidung yang diakibatkan oleh proses inflamasi yang diperantarai Ig E setelah mukosa hidung terpapar alergen. Gejala RA meliputi pilek, buntu hidung, gatal hidung dan bersin, yang dapat sembuh sendiri atau dengan pengobatan. Pada beberapa kasus dapat disertai gejala mata (gatal, berair dan kemerahan), gatal telinga dan tenggorok. RA merupakan penyakit yang tidak fatal tetapi pada gejala yang berat dapat menurunkan kualitas hidup (KH) penderitanya
Rhintis alergi merupakan penyakit yang sering dijumpai di masyarakat.
Ketika terjadi serangan, pasien rhinitis alergi akan mengalami hambatan dalam aktivitas dan juga dapat mempengaruhi kualitas hidupnya. Dengan dilakukannya penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dini kepada penderita agar menghindari penyebab terjadinya rhinitis alergi.
Penelitian ini sesuai dengan kaidah Islam dalam hal ikhtiar pengobatan dengan memanfaatkan tindakan pembedahan dan tidak bertentangan dengan syariat Islam.
Luaran hasil penelitian ini akan di publikasikan pada jurnal Nasional terakreditasi ORLI Indonesia dan di presentasikan pada Pertemuan ilmiah Nasional PERHATI.
Kata kunci: Otitis Media Supuratif Kronis, Bakteri aerob, bakteri anaerob
BAB I. PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Rinitis alergi adalah gejala ganguan hidung yang diinduksi paparan alergen yang dimediasi oleh IgE radang selaput hidung (Bachert, 2008). Pada tahun 1929 didefinisasikan tiga tanda kardinal gejala rinitis alergi,yaitu: bersin, hidung tersumbat dan ingus encer. Gejala lain yang mungkin juga terjadi adalah sefalgia, hiposmia dan beberapa gejala konjungtiva. Berdasarkan sifat berlangsungnya, dahulu rinitis alergi dibedakan menjadi dua macam, yaitu rinitis alergi alergi musiman (seasonal, hay fever, polinosis) dan rinitis alergi sepanjang tahun (perennial) (Soepardi, 2012). Namun sekarang rinitis alergi berdasarkan rekomendasi WHO Initiative (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) ARIA diklasifikasikan berdasarkan sifat berlangsungnya menjadi intermiten (kadang-kadang) dan persisten (menetap). Untuk derajat berat ringannya dibedakan menjadi ringan dan sedang-berat (Soepardi, 2012).
Tidak seperti banyak penyakit lainnya dimana pengobatan berfokus pada mencegah kematian atau morbiditas kedepan, tujuan pengobatan rinitis alergi untuk meningkatkan kesejahteraan pasien atau kualitas hidupnya. Namun akhir-akhir ini pengobatan rinitis alergi berfokus pada perbaikan gejala tanpa banyak fokus kepada kesejahteraan pasien. Sejak tahun 1990-an telah ada peningkatan tren menilai dampak dari rinitis alergi kepada kualitas hidup dari individu dengan rinitis alergi. Sekarang, diakui bahwa rinitis alergi memiliki dampak signifikan pada kualitas hidup (Meltzer dan Diego, 2011).
Kualitas hidup menurut World Health Oragnization (WHO) adalah persepsi individu mengenai posisi dari kehidupannya dilihat dari konteks budaya dan sistem nilai yang ada di tempat mereka tinggal dan hubungannya terhadap tujuan, harapan, standar dan perhatian mereka. Istilah hubungan kesehatan dengan kualitas hidup oleh WHO pada tahun 1948 kebanyakan mengacu pada definisi sehat WHO yaitu suatu keadaan sejahtera yang meliputi fisik, mental dan sosial yang tidak hanya bebas dari penyakit atau kecacatan (Henrique, 2009).
Walaupun rinitis alergi bukan merupakan penyakit yang mengancam hidup, rinitis alergi dapat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya secara signifikan (Kamel et al., 2015). Selain itu, berdasarkan penelitian mengenai kualitas hidup atau Health Related Quality of Life (HRQL) apabila rinitis alergi terjadi pada usia dewasa muda
tentunya akan mempengaruhi tingkat produktivitas penderitanya dan menurunnya prestasi belajar (Sansone dan Lori, 2011).
Dengan mengetahui banyaknya penderita rinitis alergi pada mahasiswa sebesar 41,4% (Junaedi, 2015), peneliti ingin mengetahui perbedaan kualitas hidup pendertia rinitis alergi dan bukan penderita rinitis alergi dan juga karakteristik (jenis kelamin, riwayat atopi keluarga dan riwayat atopi pribadi) rinitis. (Javed Sheikh, 2012).
Oleh karena itu, penelitian ini dirasa penting karena semakin banyaknya penderita rinitis alergi di dunia bahkan Indonesia, terutama penderita usia dewasa muda yang bekerja sebagai mahasiswa. Dimana kelompok usia tersebut paling banyak menderita rinitis alergi dan dapat mengganggu kualitas hidupnya.
1.2 TUJUAN PENELITIAN
Melihat hubungan kualitas hidup dengan banyaknya macam alergi di poliklinik THT RSI Sultan Agung Semarang
1.3 URGENSI
Penelitian ini perlu dilakukan untuk mengetahui hubungan gejala klinis dengan banyaknya macam alergi.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1
.
Rinitis alergi:Rinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali dengan tahap sensitisasi dan diikuti dengan reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari 2 fase yaitu immediate phase allergic reaction atau reaksi alergi fase cepat (RAFC) yang berlangsung sejak kontak dengan alergen sampai 1 jam setelahnya dan late phase allergic reaction atau reaksi alergi fase lambat (RAFL) yang berlangsung 2-4 jam dengan puncak 6-8 jam (fase hiperreaktivitas) setelah pemaparan dan dapat berlangsung 24-48 jam. Pada kontak pertama dengan alergen atau tahap sensitisasi, makrofag atau monosit yang berperan sebagai sel penyaji (Antigen Presenting Cell/APC) akan menangkap alergen yang menempel di permukaan mukosa hidung.
Setelah diproses, antigen akan membentuk fragmen pendek peptide dan bergabung dengan molekul HLA kelas II membentuk komplek peptide MHC kelas II (Major Histocompatibility Complex) yang kemudian dipresentasikan pada sel T helper (Th0).
Kemudian sel penyaji akan melepas sitokin seperti interleukin 1 (IL-1) yang akan mengaktifkan Th0 untuk berproliferasi menjadi Th1 dan Th2. Th2 akan menghasilkan berbagai sitokin seperti IL-3, IL-4, IL-5, dan IL-13.
IL-4 dan IL-13 dapat diikat oleh reseptornya di permukaan sel limfosit B, sehingga sel limfosit B menjadi aktif dan akan memproduksi imunoglobulin E (IgE).
IgE di sirkulasi darah akan masuk ke jaringan dan diikat oleh reseptor IgE di permukaan sel mastosit atau basofil (sel mediator) sehingga kedua sel ini menjadi aktif.
Proses ini disebut sensitisasi yang menghasilkan sel mediator yang tersensitisasi. Bila mukosa yang sudah tersensitisasi terpapar alergen yang sama, maka kedua rantai IgE akan mengikat alergen spesifik dan terjadi degranulasi (pecahnya dinding sel) mastosit dan basofil dengan akibat terlepasnya mediator kimia yang sudah terbentuk (Performed Mediators) terutama histamin. Selain histamin juga dikeluarkan Newly Formed Mediators antara lain prostaglandin D2 (PGD2), Leukotrien D4 (LT D4), Leukotrien C4 (LT C4), bradikinin, Platelet Activating Factor (PAF), berbagai sitokin (IL-3, IL-4, IL-5, IL-6, GM-CSF (Granulocyte Macrophage Colony Stimulating Factor) dan lain- lain. Inilah yang disebut sebagai Reaksi Alergi Fase Cepat (RAFC).
Histamin akan merangsang reseptor H1 pada ujung saraf vidianus sehingga menimbulkan rasa gatal pada hidung dan bersin-bersin. Histamin juga akan menyebabkan kelenjar mukosa dan sel goblet mengalami hipersekresi dan permeabilitas kapiler meningkat sehingga terjadi rinore. Gejala lain adalah hidung
tersumbat akibat vasodilatasi sinusoid. Selain histamin merangsang ujung saraf Vidianus, juga menyebabkan rangsangan pada mukosa hidung sehingga terjadi pengeluaran Inter Cellular Adhesion Molecule 1 (ICAM1).
Respon primer Terjadi proses eliminasi dan fagositosis antigen (Ag). Reaksi ini bersifat non spesifik dan dapat berakhir sampai disini. Bila Ag tidak berhasil seluruhnya dihilangkan, reaksi berlanjut menjadi respon sekunder.
Respon sekunder Reaksi yang terjadi bersifat spesifik, yang mempunyai tiga kemungkinan ialah sistem imunitas seluler atau humoral atau keduanya dibangkitkan.
Bila Ag berhasil dieliminasi pada tahap ini, reaksi selesai. Bila Ag masih ada, atau memang sudah ada defek dari sistem imunologik, maka reaksi berlanjut menjadi respon tersier.
Respon tersier Reaksi imunologik yang terjadi tidak menguntungkan tubuh.
Reaksi ini dapat bersifat sementara atau menetap, tergantung dari daya eliminasi Ag oleh tubuh.
Gell dan Coombs mengklasifikasikan reaksi ini atas 4 tipe, yaitu tipe 1, atau reaksi anafilaksis (immediate hypersensitivity), tipe 2 atau reaksi sitotoksik, tipe 3 atau reaksi kompleks imun dan tipe 4 atau reaksi tuberculin (delayed hypersensitivity).
Manifestasi klinis kerusakan jaringan yang banyak dijumpai di bidang THT adalah tipe 1, yaitu rinitis alergi (Irawati, Kasakayan, Rusmono, 2008)
Kualitas hidup
Pengukuran Kualitas Hidup telah berkembang selama 20 tahun terakhir dan kini telah menjadi metodologi tertentu dengan teori yang terstruktur.Penilaian kualitas hidup telah semakin diakui sebagai ukuran hasil yang penting baik dalam penelitian, pelayanan kesehatan dan evaluasi pengobatan.Penilaian kualitas hidup secara luas digunakan dalam uji klinis dan dalam pengamatan studi tentang kesehatan dan penyakit (Elvina, 2011).
a. Kualitas hidup terkait kesehatan – Health-Related Quality of Life (HRQL
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sehat adalah keadaan seluruh badan serta bagian-bagiannya bebas dari sakit. Menurut UU Kesehatan No 23 tahun 1992, sehat adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Menurut Badan Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO), sehat adalah keadaan sejahtera secara fisik, mental, dan sosial bukan hanya sekedar tidak adanya penyakit maupun cacat (Situngkir, 2012). Kesimpulan dari ketiga definisi diatas ialah keadaan dimana sejahteranya fisik, jiwa dan sosial seseorang sehingga ia bisa melakukannya aktivitasnya. Health-Related Quality of Life (HRQL) merupakan persepsi individual
terhadap posisi seseorang di kehidupannya dalam konteks kebudayaan dan sistem nilai yang berlaku pada kehidupannya dan hubungannya dengan tujuan, harapan, standard, dan perhatian seseorang.Health-Related Quality of Life (HRQL) merupakan suatu konsep yang luas mengenai cara yang kompleks dalam kesehatan fisik, keadaan psikologis, kepercayaan personal, hubungan sosial, dan hubungan dengan lingkungan.
b. Health-Related Quality of Life (HRQL) pada penderita rinitis alergi
Penderita rinitis alergi akan mengalami keterbatasan dalam aktifitas sehari-hari, sering meninggalkan sekolah atau pekerjaannya, dan menghabiskan biaya yang besar bila berlanjut menjadi kronis (Rajendran, 2010). Rinitis alergi berdampak pada penurunan kualitas hidup penderitanya, penurunan produktifitas kerja, prestasi di sekolah, aktifitas sosial dan malah dapat menyebabkan gangguan psikologis seperti
depresi (Nadraja, 2010).
BAB III. METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional.
3.1 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di poliklinik THT-Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang. Sampel berasal dari pasien penderita rinitis alergi yang di rawat jalan di poliklinik THT-Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang.
3.2 Variabel Penelitian
1. Variabel bebas : Gejala Klinis skala pengukuran : Nominal
2. Variabel Terikat : skor kualitas hidup skala pengukuran: Nominal
3.3 Subjek Uji
Pasien penderita rinitis alergi yang di rawat jalan di poliklinik THT-Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang.
3.4 Tahapan Penelitian
1. Perijinan dan penentuan sampel.
Sebelum dimulai penelitian, semua prosedur penelitian diajukan terlebih dahulu kepada komisi etik untuk memperoleh persetujuan etik. Semua pasien yang akan dijadikan sampel terlebih dahulu diminta persetujuan tertulisnya di lembar inform consent. Pada lembar inform consent dijelaskan identitas sampel dan tujuan penelitian ini. Persetujuan paseien menjadi sampel penelitian dibuktikan dengan penandatangan persetujuan pada lembar inform concent.
2. Penentuan Sampel Penelitian dan Penentuan Kriteria rinitis alergi
Sampel diperoleh dengan menggunakan teknik purposive sampling.
Penderita rinitis alergi ditentukan berdasarkan penegakan diagnosis oleh dokter spesialis THT.
3. Lembar kuisoner ECRHS yang diterjamahkan ke bahasa Indonesia dan lembar kuisoner kualitias hidup SF-36 diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
3.5 Lembar Persetujuan etik
Seluruh prosedur penelitian akan diajukan kepada komisi bioetik Fakultas
Kedokteran Unissula sebelum dimulai.
3.6 Analisis data
Data yang diperoleh ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif.
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
Penelitian tentang Hubungan Kualitas Hidup dengan banyaknya macam alergen di RS Islam Sultan Agung pada bulan Januari – Maret 2019 didapatkan sampel sebanyak 18 pasien yang memenuhi kriteria inklusi.
Rinitis alergi merupakan penyakit yang dapat mengakibatkan gangguan pekerjaan dan aktivitas sekolah sehingga menyebabkan memburuknya kualitas hidup. Kualitas hidup penderita rinitis alergi dapat dipengaruhi oleh berat ringannya gejala yang ditimbulkan rinitis alergi. Derajat beratnya rinitis alergi dibandingkan dengan lama serangan rinitis alergi dalam mempengaruhi kualitas hidup, aktivitas sehari-hari dan penampilan professional.
Sampel yang didapatkan berjumlah 18, pasien yang berjenis kelamin wanita sebanyak 1 pasien, sedangkan pasien yang berjenis kelamin pria berjumlah 17 pasien. Pasien yang berstatus rinitis alergi memiliki presentase 50:50.
Instrumen untuk mengukur kualitas hidup masih terus berkembang.
Terdapat keuntungan dan kerugian yang perlu dipertimbangkan dalam memilih instrumen untuk mengukur kualitas hidup seseorang. Kualitas hidup dapat diukur dengan menggunakan instrumen pengukuran kualitas hidup yang telah teruji dengan baik dan memiliki nilai reliabilitas, sensitifitas dan spesifisitas yang cukup tinggi (Hutasoit, 2001).
Salah satu instrumen umum untuk mengukur kualitas hidup yang cukup banyak digunakan dalam penelitian adalah The Short-Form-36 (SF 36). Kuesioner SF-36 telah digunakan oleh berbagai studi secara global dan telah terstandarisasi (Fryback, 1993). SF-36 merupakan instrumen umum yang mendeskripsikan kualitas hidup pada populasi orang dewasa dan telah tervalidasi untuk penyakit- penyakit alergi saluran pernafasan (Yepes- Nunez, 2012). Kuesioner SF-36 adalah suatu isian pendek yang berisikan 36 item pertanyaan yang dikembangkan oleh The Research And Development (RAND) Corporation Santa Monica sejak tahun 1970. Sebagai instrumen umum, SF-36 dibuat untuk dapat diterapkan secara luas pada berbagai tipe dan beratnya suatu penyakit. Instrumen umum ini berfungsi untuk memantau pasien dengan berbagai kondisi kesehatan untuk selanjutnya dibandingkan dengan status kesehatan pasien dengan kondisi kesehatan yang berbeda dan dibandingkan juga dengan populasi umum (Hutasoit, 2001).
Pengukuran kualitas hidup dengan SF-36 telah didokumentasikan pada hampir 5.000 publikasi. Penelitian mereka mulai diterbitkan pada tahun 1988 sampai tahun 2010 yang didokumentasikan dalam suatu bibliografi instrumen SF-36 di SF36’user manual. Terjemahan dari SF-36 telah dipublikasi dan melibatkan peneliti di 22 negara. Setiap pertanyaan kuesioner yang dipilih juga mewakili beberapa indikator operasional kesehatan, termasuk: perilaku fungsi dan disfungsi, kesusahan dan kesejahteraan, dimana jawaban objektif dan subjektif dinilai valid dan
reliabel dalam mengevaluasi diri dari status kesehatan umum. Pada penelitian yang dilakukan oleh Simon Salim pada tahun 2015 di Jakarta bahwa kuisoner SF-36 berbahasa Indonesia dapat diterima baik oleh pasien dan bersifat valid-reliabel (Salim, 2015).
Kuesioner SF-36 memiliki 8 skala kelompok yang secara umum menunjukkan 2 penilaian yaitu komponen kesehatan fisik dan kesehatan mental. Kuesioner SF-36 mengukur 8 skala kelompok, antara lain (Ware dan Sherbourne, 1992) :
1. Fungsi fisik (Physical functioning / PF)
2. Pembatasan aktifitas karena adanya masalah fisik (Role limitations due
to physical health problems / RP) 3. Nyeri badan (Body pain / BP)
4. Fungsi sosial (Social functioning / SF)
5. Kesehatan mental secara umum (General mental health / MH) 6. Pembatasan aktifitas sosial karena adanya masalah emosional (Role limitations due to emotional problems / RE)
7. Vitalitas (Vitality / VT)
8. Persepsi terhadap kesehatan secara umum (General health perceptions /
GH)
Penilaian untuk setiap pertanyaan pada kuesioner SF-36 dapat dengan menggunakan metode RAND. Untuk menilainya dilakukan recoding pada
setiap pertanyaan dimana nilai yang tinggi menunjukkan keadaan yang lebih baik. Untuk pertanyaan yang memiliki 2 kategori jawaban diberi kode 0 dan 100, untuk pertanyaan yang memiliki 3 kategori jawaban dikode 0, 50 dan 100, untuk pertanyaan yang memiliki 5 kategori jawaban diberikan kode 0, 25, 50, 75 dan 100, sedangkan untuk pertanyaan yang memiliki 6 kategori jawaban diberikan kode 0, 20, 40, 60, 80 dan 100. Kemudian nilai kode untuk pertanyaan-pertanyaan yang memiliki skala yang sama dijumlahkan kemudian dirata-ratakan. Pengukuran kualitas hidup merupakan pengukuran yang bersifat pribadi pada setiap individu, sehingga akan sulit untuk menyajikan nilai-nilai normatif yang pasti untuk kualitas hidup yang dikategorikan baik dan yang dikategorikan buruk. Persentase skor 0% pada suatu skala menunjukkan kemungkinan kualitas hidup terburuk dan 100%
menunjukkan kemungkinan kualitas hidup terbaik. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi skor mengindikasikan kualitas hidup yang lebih baik (Rand Health, 1992). Nilai skor kualitas hidup rata-rata adalah 60, dibawah skor tersebut kualitas hidup dinilai kurang baik dan nilai skor 100 merupakan tingkat kualitas hidup yang sangat baik (Elvina, 2011).
Karakteristik sampel penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.1
Tabel 4.1 Karakteristik Sampel Penelitian
Karakteristik Kelompok Penelitian (n=19)
Median (Min-Max) 20 (19-21) Usia
Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan
N 8 1
% 88,89%
11,11%
Kualitas Hidup Fungsi Fisik Keterbatasan Fisik Nyeri Tubuh Kesehatan Umum Vitalitas
Fungsi Sosial
Keterbatasan Emosional Kesehatan Mental
Mean ± Standar Deviasi 91,11 ± 8,21 33,33 ± 35,35 79,72 ± 14,33 68,98 ± 14,45 63,33 ± 15 66,67 ± 19,76 29,62 ± 30,93 67,11 ± 16,70
Tabel 4.1 menginformasikan bahwa usia sampel penelitian memiliki nilai median yaitu 20 (19-21) tahun. Jenis kelamin sampel penelitian mayoritas adalah laki-laki dengan jumlah 8 dari 9 sampel penelitian. Domain kualitas hidup yang memiliki rerata tertinggi pada sampel penelitian ini adalah fungsi fisik dengan rerata 91,11±
8,21. Domain kualitas hidup dengan rerata terendah yaitu keterbatasan emosional dengan rerata 29,62 ± 30,03
Tabel 4.2 Distribusi Macam Alergen Sampel Penelitian
Sampel Jenis Alergen Jumlah Alergen
1 Debu rumah, Bulu anjing, Bulu kucing, Bulu
burung, Tepung sari rumput, Mite 6
2 Bulu burung, Kapuk 2
3 Bulu anjing, Bulu burung 2
4 Kapuk 1
5 Debu rumah, Bulu anjing, Bulu kucing, Bulu
burung 4
6 Debu Rumah, Bulu anjing 2
7 Debu rumah, Bulu anjing, Bulu kucing, Bulu
burung 4
8 Debu Rumah 1
9 Debu rumah, Bulu anjing, Bulu kucing, Bulu
burung, Tepung sari rumput, Mite 6
Tabel 4.2 menjelaskan bahwa terdapat dua sampel yang memiliki jumlah alergen terbanyak dengan jumlah 6 alegen dan memiliki jenis alergen yang sama yaitu debu rumah, bulu anjing, bulu kucing, bulu burung, tepung sari rumput, dan mite.
Tabel 4.3 Hubungan Kualitas Hidup dengan banyaknya macam alergen Domain Kualitas
Hidup
Mean ± Standar Deviasi Kualitas
Hidup
Pearson(p) Keeratan Hubungan (r)
Fungsi Fisik 91,11 ± 8,21 0,982 -,009
Keterbatasan Fisik
33,33 ± 35,35 0,386 -,033
Nyeri Tubuh 79,72 ± 14,33 0,774 0,112
Kesehatan Umum
68,98 ± 14,45 0,555 0,228
Vitalitas 63,33 ± 15 0,521 -0,247
Fungsi Sosial 66,67 ± 19,76 0,137 -0,536
Keterbatasan Emosional
29,62 ± 30,93 0,262 0,419
Kesehatan Mental
67,11 ± 16,70 0,065 -0,636
p>0,05 Hasil Korelasi Pearson = Tidak berkorelasi
Tabel 4.3 menjelaskan bahwa hasil korelasi sampel penelitian menggunakan korelasi Pearson karena data terdistribusi normal. Hasil korelasi Pearson menunjukkan nilai p>0,05 yang berarti tidak terdapat hubungan antara kualitas hidup dengan banyaknya macam alergen.
4.2. Pembahasan
Sampel pada penelitian ini memiliki nilai median usia 20 (19-21) tahun.
Data usia tersebut sesuai dengan penelitian Wei (2015) yang menyebutkan bahwa angka kejadian rinitis alergi sering terjadi pada usia 16-24 tahun (Wei et al., 2015).
Rinitis alergi adalah penyakit alergi yang banyak dijumpai. Rintis alergi dapat mengakibatkan keterbatasan fungsi dalam kehidupan sehari-hari sehingga mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Hal ini dapat terjadi pada anak-anak maupun dewasa. Penderita rinitis alergi rentan terhadap gangguan tidur dan emosional serta gangguan dalam menjalankan aktifitas dan fungsi sosial. Gejala- gejala klasik pada hidung dan gejala non hidung rinitis alergi dinilai mengganggu aktifitas baik di tempat kerja dan di sekolah. Anak dapat mengalami gangguan dalam belajar dan pada orang dewasa dapat mengakibatkan penurunan konsentrasi dan produktifitas (Leynaert, 2000). Aspek-aspek penderita rinitis alergi menunjukan adanya penurunan kualitas hidup antara lain kualitas tidur yang buruk, kelelahan sepanjang hari, gangguan di sekolah atau di tempat kerja, dan masalah terkait emosional (Ridolo, 2011). Rinitis alergi merupakan penyakit yang dapat mengakibatkan gangguan pekerjaan dan aktivitas sekolah sehingga menyebabkan memburuknya kualitas hidup. Kualitas hidup penderita rinitis alergi dapat dipengaruhi oleh berat ringannya gejala yang ditimbulkan rinitis alergi.
Derajat beratnya rinitis alergi dibandingkan dengan lama serangan rinitis alergi dalam mempengaruhi kualitas hidup, aktivitas sehari-hari dan penampilan profesional (Camelo Nunes dan Sole, 2010). Instrumen untuk mengukur kualitas hidup masih terus berkembang. Terdapat keuntungan dan kerugian yang perlu dipertimbangkan dalam memilih instrumen untuk mengukur kualitas hidup seseorang. Kualitas hidup dapat diukur dengan menggunakan instrumen pengukuran kualitas hidup yang telah teruji dengan baik dan memiliki nilai reliabilitas, sensitifitas dan spesifisitas yang cukup tinggi (Hutasoit, 2001).
BAB 5 KESIMPULAN
Hasil korelasi dari kualitas hidup dengan banyaknya macam alergi menunjukkan nilai p>0,05 yang berarti tidak terdapat hubungan antara kualitas hidup dengan banyaknya macam alergi.
DAFTAR PUSTAKA
1. Baratawidjaja KG. Penyakit Alergi, Tantangan, dan Harapan. Majalah Kedokteran Indonesia. 1991; 41(7).
2. Davies RJ. Seri Kesehatan Bimbingan Dokter pada Alergi. Jakarta: Dian Rakyat; 2003.
3. Amargiamargo. Alergi (Bagian 1). 15 Februari 2007 [diakses tanggal 15 Agustus 2008]. Tersedia di: http://amargiamargo.wordpress.com/2007/02/15 /alergi-bagian1/.
4. Soesatyo MHNE. Imunopatogenesis Alergi Makanan dalam buku Alergi Makanan, ed. Djuffrie. Yogyakarta: Gajah Mada Universitas Press; 2001.
5. Chapman JA et al. Food Allergy: A Practice Parameter. Annals Of Allergy’
Asthma Immunol 2006; 96(3):S1-S68.
6. Haahtela et al. Finnish Allergy Programme 2008– 2018 –Time to Act and Change The Course. 2008 [diakses tanggal 11 Juli 2008]. Tersedia di:
www.who.int.
7. Prawirohartono EP. Makanan sebagai Penyebab Alergi dalam Alergi Makanan, ed. Djuffrie. Yogyakarta: Gajah Mada Universitas Press; 2001.
8. BFR. Allergies Caused by Consumer Products and Foods. 2006. [diakses tanggal 7 November 2007]. Tersedia di: www.bfr.bund.de
9. Judarwanto W. Alergi Makanan, Diet, dan Autisme [Diakses tanggal 26 Agustus 2008]. Tersedia di:
www.gizi.net/makalah/download/alergi%20autisme.pdf.
10. Lovik M. et al. The Norwegian National Reporting System and Register of Severe Allergic Reactions to Food. Norsk Epidemiol. 2004; 14(2):155-160.
11. Sicherer SH, Munoz-Furlong A, Sampson HA. Prevalence of Peanut and Tree Nut Allergy in the United States Determined by Means of a Random Digit Dial Telephone Survey: a 5-year follow-up Study. J. Allergy Clin. Immunol.
2003; 112(6):1203-1207.
12. Likura Y. et al. Frequency of Immediate-Type Food Allergy in Children in Japan. Int. Arch. Allergy Immunol. 1999; 118(2-4):251-252.
13. Woods et al. Prevalence of Food Allergies in Young Adults and Their Relationship to Asthma, Nasal Allergies, and Eczema. Annals Allergy Asthma Immunol. 2002; 88(2):183-189.
14. Davis et al. Tree nut and peanut consumption in relation to chronic and metabolic diaseses including Allergy. J. Nutr. 2008; 138(9):1757S-1762S.
15. Tanaka MA. et al. Prevalence of Corn Allergy Determined of Double-Blind Placebo-control(DBPC) Study. 2001 [diakses tanggal 26 November 2008].
Tersedia di: www.ift.confex.
16. Yoon SH. et al. Sensitization and Identification of IgE Binding Components of the Corn Allergen in Adult Allergy Patients: Comparison between the Wild and the Genetically Modified Corn. J. Asthma Allergy Clin. Immunol. 2005;
25(1):52-58.
17. Munasir Z. Alergi pada Anak. 2006 [diakses tanggal 2 September 2008].
Tersedia di: www.halalguide.info.
18. Kim KT, Hussain H. Prevalence of Food Allergy in 137 Latex-Allergic Patients, in Allergy and Asthma Proceedings. 1999 [diakses tanggal 10 November 2008]. Tersedia di: www.ingentaconnect.com
19. Allergies Team. Chocolate Allergy. 2008 [diakses tanggal 29 Oktober 2008].
Tersedia di: www.allergies-team.com.
20. Wilm KH. Food Allergies. 2008 [diakses tanggal 7November 2008].
Tersedia di: www.ourfood.com.
21. Harsono A, Anang E. Alergi Makanan. 2008 [diakses tanggal 2 September 2008]. Tersedia di: www.ummusalma.wordpress.com.
22. Yoneyama et al. Study of Food Allergy among University Students in Japan.
Allerg. Int. 2002; 51(3):205-208.
LAMPIRAN
HUBUNGAN KUALITAS HIDUP DENGAN BANYAKNYA MACAM ALERGI
Andriana Tjitria Widi Wardani1, Agung Sulistyanto1
1Profesi Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Sultan Agung Email :
ABSTRAK
Rinitis alergi (RA)adalah kelainan hidung yang diakibatkan oleh proses inflamasi yang diperantarai Ig E setelah mukosa hidung terpapar alergen. Gejala RA meliputi pilek, buntu hidung, gatal hidung dan bersin, yang dapat sembuh sendiri atau dengan pengobatan. Pada beberapa kasus dapat disertai gejala mata (gatal, berair dan kemerahan), gatal telinga dan tenggorok. RA merupakan penyakit yang tidak fatal tetapi pada gejala yang berat dapat menurunkan kualitas hidup (KH) penderitanya
Rhintis alergi merupakan penyakit yang sering dijumpai di masyarakat. Ketika terjadi serangan, pasien rhinitis alergi akan mengalami hambatan dalam aktivitas dan juga dapat mempengaruhi kualitas hidupnya. Dengan dilakukannya penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dini kepada penderita agar menghindari penyebab terjadinya rhinitis alergi.
Sampel diperoleh dengan menggunakan teknik purposive sampling. Penderita rinitis alergi ditentukan berdasarkan penegakan diagnosis oleh dokter spesialis THT. Lembar kuisoner ECRHS yang diterjamahkan ke bahasa Indonesia dan lembar kuisoner kualitias hidup SF-36 diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
Hasil korelasi dari kualitas hidup dengan banyaknya macam alergi menunjukkan nilai p>0,05 yang berarti tidak terdapat hubungan antara kualitas hidup dengan banyaknya macam alergi.
Kata kunci: rinitis alergi, kualitas hidup Pendahuluan
Rinitis alergi adalah gejala ganguan hidung yang diinduksi paparan alergen yang dimediasi oleh IgE radang selaput hidung (Bachert, 2008). Pada tahun 1929 didefinisasikan tiga tanda kardinal gejala rinitis alergi,yaitu: bersin, hidung tersumbat dan ingus encer. Gejala lain yang mungkin juga terjadi adalah sefalgia, hiposmia dan beberapa gejala konjungtiva. Berdasarkan sifat berlangsungnya, dahulu rinitis alergi dibedakan menjadi dua macam, yaitu rinitis alergi alergi musiman (seasonal, hay fever, polinosis) dan rinitis alergi sepanjang tahun (perennial) (Soepardi, 2012). Namun sekarang rinitis alergi berdasarkan rekomendasi WHO Initiative (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) ARIA diklasifikasikan berdasarkan sifat berlangsungnya menjadi intermiten (kadang- kadang) dan persisten (menetap). Untuk derajat berat ringannya dibedakan menjadi ringan dan sedang-berat (Soepardi, 2012).
Tidak seperti banyak penyakit lainnya dimana pengobatan berfokus pada mencegah kematian atau morbiditas kedepan, tujuan pengobatan rinitis alergi untuk meningkatkan kesejahteraan pasien atau kualitas hidupnya. Namun akhir- akhir ini pengobatan rinitis alergi berfokus pada perbaikan gejala tanpa banyak fokus kepada kesejahteraan pasien. Sejak tahun 1990-an telah ada peningkatan tren menilai dampak dari rinitis alergi kepada kualitas hidup dari individu dengan rinitis alergi. Sekarang, diakui bahwa rinitis alergi memiliki dampak signifikan pada kualitas hidup (Meltzer dan Diego, 2011).
Kualitas hidup menurut World Health Oragnization (WHO) adalah persepsi individu mengenai posisi dari kehidupannya dilihat dari konteks budaya dan sistem nilai yang ada di tempat mereka tinggal dan hubungannya terhadap tujuan, harapan, standar dan perhatian mereka. Istilah hubungan kesehatan dengan kualitas hidup oleh WHO pada tahun 1948 kebanyakan mengacu pada definisi sehat WHO yaitu suatu keadaan sejahtera yang meliputi fisik, mental dan sosial yang tidak hanya bebas dari penyakit atau kecacatan (Henrique, 2009).
Walaupun rinitis alergi bukan merupakan penyakit yang mengancam hidup, rinitis alergi dapat mempengaruhi kualitas hidup penderitanya secara signifikan (Kamel et al., 2015). Selain itu, berdasarkan penelitian mengenai kualitas hidup atau Health Related Quality of Life (HRQL) apabila rinitis alergi terjadi pada usia dewasa muda tentunya akan mempengaruhi tingkat produktivitas penderitanya dan menurunnya prestasi belajar (Sansone dan Lori, 2011).
Dengan mengetahui banyaknya penderita rinitis alergi pada mahasiswa sebesar 41,4% (Junaedi, 2015), peneliti ingin mengetahui perbedaan kualitas hidup pendertia rinitis alergi dan bukan penderita rinitis alergi dan juga karakteristik (jenis kelamin, riwayat atopi keluarga dan riwayat atopi pribadi) rinitis. (Javed Sheikh, 2012).
Oleh karena itu, penelitian ini dirasa penting karena semakin banyaknya penderita rinitis alergi di dunia bahkan Indonesia, terutama penderita usia dewasa muda yang bekerja sebagai mahasiswa. Dimana kelompok usia tersebut paling banyak menderita rinitis alergi dan dapat mengganggu kualitas hidupnya.
Metode
Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional.Lokasi penelitian ini dilakukan di poliklinik THT- Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang. Sampel berasal dari pasien penderita rinitis alergi yang di rawat jalan di poliklinik THT-Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang. Subjek Uji penelitian ini adalah pasien penderita rinitis alergi yang di rawat jalan di poliklinik THT-Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang.
Sampel diperoleh dengan menggunakan teknik purposive sampling. Penderita rinitis alergi ditentukan berdasarkan penegakan diagnosis oleh dokter spesialis THT. Lembar kuisoner ECRHS yang diterjamahkan ke bahasa Indonesia dan lembar kuisoner kualitias hidup SF-36 diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
Data yang diperoleh ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif.
Hasil
Tabel 1 Karakteristik Sampel Penelitian
Karakteristik Kelompok Penelitian (n=19) Median (Min-Max)
20 (19-21) Usia
Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan
N 8 1
% 88,89%
11,11%
Kualitas Hidup Fungsi Fisik Keterbatasan Fisik Nyeri Tubuh Kesehatan Umum Vitalitas
Fungsi Sosial
Keterbatasan Emosional Kesehatan Mental
Mean ± Standar Deviasi 91,11 ± 8,21 33,33 ± 35,35 79,72 ± 14,33 68,98 ± 14,45 63,33 ± 15 66,67 ± 19,76 29,62 ± 30,93 67,11 ± 16,70
Tabel 1 menginformasikan bahwa usia sampel penelitian memiliki nilai median yaitu 20 (19-21) tahun. Jenis kelamin sampel penelitian mayoritas adalah laki-laki dengan jumlah 8 dari 9 sampel penelitian. Domain kualitas hidup yang memiliki rerata tertinggi pada sampel penelitian ini adalah fungsi fisik dengan rerata 91,11±
8,21. Domain kualitas hidup dengan rerata terendah yaitu keterbatasan emosional dengan rerata 29,62 ± 30,03
Tabel 2 Distribusi Macam Alergen Sampel Penelitian
Sampel Jenis Alergen Jumlah Alergen
1 Debu rumah, Bulu anjing, Bulu kucing, Bulu burung,
Tepung sari rumput, Mite 6
2 Bulu burung, Kapuk 2
3 Bulu anjing, Bulu burung 2
4 Kapuk 1
5 Debu rumah, Bulu anjing, Bulu kucing, Bulu burung 4
6 Debu Rumah, Bulu anjing 2
7 Debu rumah, Bulu anjing, Bulu kucing, Bulu burung 4
8 Debu Rumah 1
9 Debu rumah, Bulu anjing, Bulu kucing, Bulu burung,
Tepung sari rumput, Mite 6
Tabel 2 menjelaskan bahwa terdapat dua sampel yang memiliki jumlah alergen terbanyak dengan jumlah 6 alegen dan memiliki jenis alergen yang sama yaitu debu rumah, bulu anjing, bulu kucing, bulu burung, tepung sari rumput, dan mite.
Tabel 3 Hubungan Kualitas Hidup dengan banyaknya macam alergen Domain Kualitas
Hidup
Mean ± Standar Deviasi Kualitas
Hidup
Pearson(p) Keeratan Hubungan (r)
Fungsi Fisik 91,11 ± 8,21 0,982 -,009
Keterbatasan Fisik 33,33 ± 35,35 0,386 -,033
Nyeri Tubuh 79,72 ± 14,33 0,774 0,112
Kesehatan Umum 68,98 ± 14,45 0,555 0,228
Vitalitas 63,33 ± 15 0,521 -0,247
Fungsi Sosial 66,67 ± 19,76 0,137 -0,536
Keterbatasan Emosional
29,62 ± 30,93 0,262 0,419
Kesehatan Mental 67,11 ± 16,70 0,065 -0,636 p>0,05 Hasil Korelasi Pearson = Tidak berkorelasi
Tabel 4.3 menjelaskan bahwa hasil korelasi sampel penelitian menggunakan korelasi Pearson karena data terdistribusi normal. Hasil korelasi Pearson menunjukkan nilai p>0,05 yang berarti tidak terdapat hubungan antara kualitas hidup dengan banyaknya macam alergen.
Pembahasan
Sampel pada penelitian ini memiliki nilai median usia 20 (19-21) tahun. Data usia tersebut sesuai dengan penelitian Wei (2015) yang menyebutkan bahwa angka kejadian rinitis alergi sering terjadi pada usia 16-24 tahun (Wei et al., 2015).
Rinitis alergi adalah penyakit alergi yang banyak dijumpai. Rintis alergi dapat mengakibatkan keterbatasan fungsi dalam kehidupan sehari-hari sehingga mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Hal ini dapat terjadi pada anak-anak maupun dewasa. Penderita rinitis alergi rentan terhadap gangguan tidur dan emosional serta gangguan dalam menjalankan aktifitas dan fungsi sosial. Gejala- gejala klasik pada hidung dan gejala non hidung rinitis alergi dinilai mengganggu aktifitas baik di tempat kerja dan di sekolah. Anak dapat mengalami gangguan dalam belajar dan pada orang dewasa dapat mengakibatkan penurunan konsentrasi dan produktifitas (Leynaert, 2000). Aspek-aspek penderita rinitis alergi menunjukan adanya penurunan kualitas hidup antara lain kualitas tidur yang buruk, kelelahan sepanjang hari, gangguan di sekolah atau di tempat kerja, dan masalah terkait emosional (Ridolo, 2011). Rinitis alergi merupakan penyakit yang dapat mengakibatkan gangguan pekerjaan dan aktivitas sekolah sehingga menyebabkan memburuknya kualitas hidup. Kualitas hidup penderita rinitis alergi dapat dipengaruhi oleh berat ringannya gejala yang ditimbulkan rinitis alergi.
Derajat beratnya rinitis alergi dibandingkan dengan lama serangan rinitis alergi dalam mempengaruhi kualitas hidup, aktivitas sehari-hari dan penampilan profesional (Camelo Nunes dan Sole, 2010). Instrumen untuk mengukur kualitas hidup masih terus berkembang. Terdapat keuntungan dan kerugian yang perlu dipertimbangkan dalam memilih instrumen untuk mengukur kualitas hidup seseorang. Kualitas hidup dapat diukur dengan menggunakan instrumen
pengukuran kualitas hidup yang telah teruji dengan baik dan memiliki nilai reliabilitas, sensitifitas dan spesifisitas yang cukup tinggi (Hutasoit, 2001).
Kesimpulan
Hasil korelasi dari kualitas hidup dengan banyaknya macam alergi menunjukkan nilai p>0,05 yang berarti tidak terdapat hubungan antara kualitas hidup dengan banyaknya macam alergi.
Referensi
Baratawidjaja KG. Penyakit Alergi, Tantangan, dan Harapan. Majalah Kedokteran Indonesia. 1991; 41(7).
Davies RJ. Seri Kesehatan Bimbingan Dokter pada Alergi. Jakarta: Dian Rakyat;
2003.
Amargiamargo. Alergi (Bagian 1). 15 Februari 2007 [diakses tanggal 15 Agustus 2008]. Tersedia di: http://amargiamargo.wordpress.com/2007/02/15 /alergi- bagian1/.
Soesatyo MHNE. Imunopatogenesis Alergi Makanan dalam buku Alergi Makanan, ed. Djuffrie. Yogyakarta: Gajah Mada Universitas Press; 2001.
Chapman JA et al. Food Allergy: A Practice Parameter. Annals Of Allergy’
Asthma Immunol 2006; 96(3):S1-S68.
Haahtela et al. Finnish Allergy Programme 2008– 2018 –Time to Act and Change The Course. 2008 [diakses tanggal 11 Juli 2008]. Tersedia di: www.who.int. Prawirohartono EP. Makanan sebagai Penyebab Alergi dalam Alergi Makanan,
ed. Djuffrie. Yogyakarta: Gajah Mada Universitas Press; 2001.
BFR. Allergies Caused by Consumer Products and Foods. 2006. [diakses tanggal 7 November 2007]. Tersedia di: www.bfr.bund.de