• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Praktikum Pembuatan Pestisida Nabati

N/A
N/A
Yuka Sidharta

Academic year: 2024

Membagikan "Laporan Praktikum Pembuatan Pestisida Nabati"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Laporan Praktikum

Mata Kuliah Praktikum Proteksi tanaman Pembuatan Pestisida Nabati

Dosen Pengampu: Titik Inayah, M.Si Disusun Oleh:

Yuka Sidharta Pratama 11210920000072

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

1444 H/2023 M

(2)

Table of Contents

BAB I... 3

1.1. Latar Belakang ... 3

1.2. Tujuan ... 6

BAB II ... 7

BAB III ... 9

3.1. Tempat dan Waktu ... 9

3.2. Alat dan Bahan... 9

3.3. Cara Kerja ... 10

(3)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pestisida nabati adalah pestisida yang bahan aktifnya berasal dari tumbuhan atau bagiantumbuhan seperti akar, daun, batang atau buah. Bahan-bahan ini diolah menjadi berbagai bentuk, antara lain bahan mentah berbentuk tepung, ekstrak atau resin yang merupakan hasil pengambilan cairan metabolit sekunder dari bagian tumbuhan atau bagian tumbuhan dibakar untuk diambil abunya dan digunakan sebagai pestisida. Beberapa tanaman telah diketahui mengandung bahan- bahan kimia yang dapat membunuh, menarik, atau menolak serangga. Beberapa tumbuhan menghasilkan racun, ada juga yang mengandung senyawa-senyawa kompleks yang dapat mengganggu siklus pertumbuhan serangga, sistem pencernaan, atau mengubah perilaku serangga.

Pestisida dari bahan nabati sebenarnya bukan hal yang baru tetapi sudah lama digunakan, bahkan sama tuanya dengan pertanian itu sendiri. Sejak pertanian masih dilakukansecara tradisional, petani di seluruh belahan dunia telah terbiasa memakai bahan yang tersediadi alam untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman.

Pada tahun 1940-an sebagian petani di Indonesia sudah menggunakan bahan nabati sebagai pestisida, diantaranya menggunakan daun sirsak untuk mengendalikan hama belalang dan penggerek batang padi. Sedangkan petani di India, menggunakan biji Nimba sebagai insektisida untuk mengendalikanhama serangga.

Namun setelah ditemukannya pestisida sintetik pada awal abad ke-20, pestisidadari bahan tumbuhan atau bahan alami lainnya tidak digunakan lagi.

Pestisida nabati dapat dibuat dengan menggunakan teknologi yang sederhana yang dikerjakan oleh kelompok tani atau petani perorangan. Pestisida nabati yang dibuat secara sederhana hasilnya dapat berupa larutan hasil perasan, rendaman, ekstrak dan rebusan dari bagian tanaman berupa akar, umbi, batang, daun, buah dan biji.

Apabila dibandingkan denganpestisida kimia, penggunaan pestisida nabati relatif aman dan murah. Beberapa tanaman yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati,

(4)

yang dapat dibuat melalui teknologi yang sederhanaadalah Nimba, biji srikaya, sirih dan lain-lain. Sampai saat ini telah terinventarisasi sebanyak 2.400 jenis tumbuhan yang terdiri dari 235 famili berpotensi sebagai bahan pestisida nabati. Famili tumbuhan yang dianggap merupakan sumber potensial insektisida nabati adalah Meliaceae, Annonaceae, Asteraceae, Piperaceae, Rutaceae. Namun hal ini tidak menutup kemungkinan untuk ditemukannya famili tumbuhan yang baru untuk dijadikan sebagai insektisida nabati. Kelebihan dan Kelemahan Pestisida Nabati Pestisida nabati mempunyai beberapa keunggulan dan kelemahan.

Keunggulan pestisida nabati adalah:

• Murah dan mudah dibuat sendiri oleh petani

• Relatif aman terhadap lingkungan

• Tidak menyebabkan keracunan pada tanaman

• Sulit menimbulkan kekebalan terhadap hama

• Kompatibel digabung dengan cara pengendalian yang lain

• Menghasilkan produk pertanian yang sehat karena bebas residu pestisida kimia.

Kelemahan pestisida nabati adalah:

(5)

• daya kerjanya relatif lambat

• Tidak membunuh jasad sasaran secara langsung

• Tidak tahan terhadap sinar matahari

• Kurang praktis

• Tidak tahan disimpan

• Kadang-kadang harus disemprotkan berulang-ulang (Deptan, 2006).

Pestisida nabati dapat membunuh atau mengganggu serangan hama dan penyakit melalui cara kerja yang unik, yaitu dapat melalui perpaduan berbagai cara atau secara tunggal. Cara kerja pestisida nabati sangat spesifik, yaitu:

• Merusak perkembangan telur, larva dan pupa

• Menghambat pergantian kulit

• Mengganggu komunikasi serangga

• Menyebabkan serangga menolak makan

(6)

• Menghambat reproduksi serangga betina

• Mengurangi nafsu makan

• Memblokir kemampuan makan serangga

• Mengusir serangga, dan

• Menghambat perkembangan patogen penyakit.

1.2. Tujuan

• Mengetahui jenis-jenis tumbuhan yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati dan dapat membuat sendiri pestisida nabati.

(7)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Petani selama ini sangat tergantung pada penggunaan pestisida kimia untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman. Selain harganya yang mahal, pestisida kimia juga banyak memiliki dampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan manusia.

Dampak negatif dari penggunaan pestisida kimia antara lain adalah hama menjadi kebal (resistensi), peledakan hama baru (resurjensi), penumpukan residu bahan kimia di dalam hasil panen, terbunuhnya musuh alami, pencemaran lingkungan oleh residu bahan kimia dan kecelakaan bagi pengguna (Gapoktan, 2009)

Pestisida nabati merupakan suatu pestisida yang dibuat dari tumbuhtumbuhan yang residunya mudah terurai di alam sehingga aman bagi lingkungan dan kehidupan makhluk hidup lainnya. Tumbuhan yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati antara lain tembakau, mimba, mindi, mahoni, srikaya, sirsak, tuba, dan juga berbagai jenis gulma seperti babandotan (Samsudin, 2008). Teknik pengendalian hama menggunakan pestisida nabati yang merupakan pengendalian hama terpadu diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang aman.

Pestisida nabati diartikan sebagai pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan karena terbuat dari bahan-bahan alami, maka jenis pestisida ini mudah terurai di alam sehingga residunya mudah hilang sehingga relatif aman bagi manusia. Beberapa tanaman yang dapat digunakan sebagai pestisidan antara lain mimba, tembakau, mindi, srikaya, mahoni, sirsak, tuba, dan juga berbagai jenis gulma seperti babadotan (Samsudin, 2008 dalam Sinaga R, 2009).

Pestisida ini berbahan aktif tunggal atau majemuk dapat berfungsi sebagai penghambat nafsu makan (antifeedant), penolak (repellent), penarik (attractant), menghambat perkembangan, menurunkan keperidian, pengaruh langsung sebagai racun dan mencegah peletakkan telur. Di alam, terdapat lebih dari 1000 spesies tumbuhan yang mengandung insektisida, lebih dari 380 spp (zoologi dan botani) mengandung zat pencegah makan (antifeedant), lebih dari 270 spp mengandung zat penolak (repellent), lebih dari 35 spp mengandung akarisida dan lebih dari 30 spp

(8)

mengandung zat penghambat pertumbuhan (Susetyo et al., 2008 dalam Rainiyati dan Aryanda, 2015).

Di Indonesia, sebenarnya sangat banyak jenis tumbuhan penghasil pestisida nabati, dan diperkirakan ada sekitar 2400 jenis tanaman yang termasuk ke dalam 235 famili (Kardinan, 1999). Menurut Morallo-Rijesus (1986) dalam Sastrosiswojo (2002), jenis tanaman dari famili Asteraceae, Fabaceae dan Euphorbiaceae, dilaporkan paling banyak mengandung bahan insektisida nabati. Tumbuhan yang berfungsi sebagai pestisida nabati untuk dibudidayakan hendaknya memiliki karakteristik sebagai berikut (Octavia, Andriani, Qirom, & Azwar, 2008):

a) Efektif sebanyak maksimum 3-5% material tumbuhan yang didasarkan pada berat kering.

b) Mudah tumbuh, memerlukan waktu dan ruang yang sedikit untuk penanaman dan pengadaan.

c) Merupakan tumbuhan yang tetap hijau sepanjang tahun, pemulihan cepat setelah material dipanen.

d) Tidak menjadi rumput liar atau inang untuk tanaman patogen atau hama serangga.

e) Memiliki nilai ekonomi yang komplementer.

f) Tidak bersifat racun terhadap organisme yang bukan target, manusia atau lingkungan.

g) Mudah dalam persiapan permanen, persiapan harus sederhana, tidak membutuhkan waktu atau input teknis yang berlebihan

(9)

BAB III

METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1. Tempat dan Waktu

• Tempat : Kebun Praktikum Program Studi Agribisnis

• Waktu : Rabu, pukul 07:30 – 10:00 WIB.

3.2. Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini sebagai berikut:

• Botol

• Daun nimba

• Bawang Putih

• Pisau

• Lengkuas

• Blender

• Serai

• Pengaduk

• Tembakau

• Saringan

• Daun Sirsak -

• Panci

• Daun Pepaya

• Gelas ukur

• Daun Tomat

(10)

3.3. Cara Kerja

Pestisida Nabati Daun Nimba, Serai dan Lengkuas

• Potong kecil-kecil lengkuas dan serai, lalu haluskan menggunakan blender.

Masukkanke dalam ember berisi 5 lt air. Tambahkan serbuk biji Mimba . aduk rata

• Masak larutan tersebut diatas api, tetapi jangan sampai mendidih. Dinginkan dan saring

• Larutan hasil saringan dapat digunakan untuk mengendalikan hama ulat atau kutu daunpada tanaman. Sementara itu ampas sisa saringan dapat digunakan sebagai pupuk.

Cara Pengaplikasian :

• Encerkan 500 ml larutan untuk 10-14 liter air (volume 1 tangki alat semprot). Semprotkan pestisida nabati tersebut ke lahan. Takaran ini untuk luas lahan 1000 m persegi.

Pestisida Nabati Daun Nimbi Dan Lengkuas

• Bahan-bahan yang diperlukan yaitu: daun Nimba 8 kg, lengkuas 6 kg, serai 6 kg, deterjen 20 gram, air 20 liter.

• Cara pembuatan: daun Nimba, lengkuas, dan serai ditumbuk. Seluruh bahan diaduk merata dalam 20 liter air, lalu direndam selama 24 jam. Keesokan harinya larutan disaring dengan kain halus.

Cara Pengaplikasian :

• Larutan hasil penyaringan ditambah deterjen dan diencerkan dengan 60 liter air, bisa digunakan untuk luas 1 ha. Semprotkan pada tanaman.

(11)

Pestisida Nabati Daun Sirsak

• Bahan-bahan: daun sirsak 50-100 lembar, sabun 15 gram, air 5 liter.

• Cara pembuatan: daun sirsak dihaluskan, tambahkan sabun lalu direndam dalam air selama 24 jam. Setelah itu disaring.

Cara Pengaplikasian

• Sebelum digunakan, encerkan dengan air sebanyak 10-15 liter, semprotkan pada semua bagian yang terserang hama.

Pestisida Nabati Daun Sirsak dan Tembakau

• Pestisida nabati daun sirsak dan tembakau efektif untuk mengendalikan hama belalang dan ulat.

• Cara pembuatan: sebanyak 50 lembar daun sirsak dan tembakau satu genggam ditumbuk halus. Bahan-bahan tersebut dimasukkan ke dalam larutan 20 liter air dan 20 gram detergen (sabun solek), diaduk rata, dan direndam selama semalam, kemudian disaring.

Cara Pengaplikasian

• Tiap 1 liter larutan hasil penyaringan diencerkan dengan 50-60 liter air.

• Larutan pengenceran siap digunakan Pestisida Nabati Daun Nimba

(12)

• Tanaman ini mengandung bahan aktif yang bersifat menolak serangga dan menghambat kerja syaraf serangga dan respirasi. Bagian tanaman yang dapat digunakan untuk pengendalian yaitu biji dan daunnya.

• Caranya membuatnya yaitu: 150 gram daun basah atau 50 gram daun kering ditumbuk halus lalu direndam dalam 1 liter air selama 24 jam. Air rendaman lalu disaring, sebelum digunakan larutan tersebut diencerkan dengan 10 liter air.

Semprotan Daun Pepaya

• Kumpulkan 1 kg daun pepaya (sekitar 1 tas plastik besar), lumatkan, dan campurkan ke dalam 1 liter air, lalu biarkan selama 1 jam. Saring dan tambahkan 4 liter air lagi dan 1 sendok besar sabun. Semprotkan pada hama serangga.

• Semprotan pepaya ini dapat digunakan untuk aphid, rayap, hama kecil, dan ulat bulu. Untuk rayap, tumbuk buah pepaya muda dan kumpulkan jus/sarinya.

Semprotkan langsung ke rayap-rayap dan kayu-kayu yang rusak.

Semprotan Daun Talas

• Daun-daun talas mengandung asam lisollic. Bila serangga memakannya, ibarat manusia merasa makan pecahan gelas. Cara meraciknya, tumbuk 10 lembar daun talas dan masukan dalam 3 liter air (½ ember), aduk dengan baik.

• Percikkan ke tanaman dengan menggunakan sapu lidi. Pastikan masing- masing tanaman terciprat larutan ini untuk perlindungan yang baik terhadap serangga.

(13)

Semprotan Daun Tomat

• Daun tomat merupakan insektisida alami dan fungisida ringan, dapat digunakan untuk aphid, semut, cacing, ulat bulu, telur serangga, belalang, ngengat, nematoda, lalat putih, jamur dan bakteri pembusuk.

• Cara membuatnya, masaklah 1 kg daun tomat dalam 2 liter air selama 30 menit, tambahkan lagi potongan 2 genggam daun, batang dan buahnya, dan 2 liter air. Aduk bahan-bahan tersebut, lalu biarkan selama 6 jam (½ hari). Saring dan tambahkan ¼ batang sabun. Semprotkan larutan ini setiap 2 hari bila jumlah serangga, khususnya ngengat, cukup banyak.

• Daun tomat ketika dipakai sebagai insektisida bersifat racun bagi manusia.

Ini disebabkan karena unsur kimia yang ada dalam daun tomat menjadi jauh lebih pekat konsentrasinya. Gunakan sarung tangan dan penutup hidung serta mulut sekaligus saat menyemprotkannya.

Referensi

Dokumen terkait

Pengendalian produk hasil pertanian berupa biji-bijian di Indonesia sebagian besar menggunakan cara mekanik atau pestisida kimia. Hama yang menyerang produk biji-bijian salah

Beberapa tindakan untuk mengurangi dampak negatif penggunaan insektisida kimia dalam mencegah serangan hama serangga antara lain dengan teknik bercocok tanam (rotasi

Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pestisida daun papaya sangat efektif digunakan untuk untuk membunuh jenis hama rayap dengan waktu kematian tercepat diperoleh 10 menit pada

Pengendalian Hama Tanaman dengan Manggunakan Pestisida Nabati Salah satu alternatif untuk menggantikan penggunaan pestisida kimia yang banyak menimbulkan dampak

Penggunaan pestisida kimia telah banyak memberikan dampak negative, maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas dari ekstrak pestisida

Keunggulan penggunaan alat perangkap hama tanaman antara lain: - Pengurangan penggunaan pestisida kimia: Dengan menangkap dan mengendalikan hama secara fisik, alat perangkap dapat

Adapun hasil yang di capai yaitu masyarakat dapat memahami bagiamana cara mengendalikan hama dan penyakit dengan pembuatan Pestisida nabati pada tanaman dengan menggunakan bahan-bahan

Kemudian dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman kopi petani masih menggunakan pestisida kimia yang dampaknya dapat merusak lingkungan hal ini di pengaruhi oleh minimnya kesadaran