Beton Dan Bahan yang diampu oleh : Dr. Ir.Didik S. S. Mabui , ST., MT
Disusun Oleh :
PUTRI INDAH LUTFIAH SARI 21611071
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK DAN SISTEM INFORMASI UNIVERSITAS YAPIS PAPUA
JAYAPURA
2022
Laporan ini dibuat sebagai salah satu syarat kelulusan Praktikum Beton dan Bahan di Laboratorium Teknik Sipil. Fakultas Teknik dan Sistem Informasi – Universitas Yapis Papua.
Jayapura, 30 Juni 2022
Koordinator di Lapangan Disusun Oleh
Muhammad Guntur, ST. Putri Indah Lutfiah Sari
NPM 21611071
Mengetahui
Dosen Penanggung Jawab
i
TAHUN 2022
UNIVERSITAS YAPIS PAPUA JAYAPURA ( U N I Y A P )
SEMESTE R GENAP DAFTAR NILAI ALHIR PRAKTIKUM
Pada hari ini : Selasa, Tanggal : 24 / 05/ 2022, Jam : 08.00 WIT Bertempat di KAMPUS UNIVERSITAS YAPIS PAPUA (UNIYAP) JAYAPURA telah dilaksanakan PRAKTIKUM BETON DAN BAHAN.
Prog. Studi : TEKNIK SIPIL Jenjang : STRATA 1
Mata Kuliah : PRAKTIKUM BETON DAN BAHAN
SKS : 1 SKS
Kelas : A1 dan A2
No NPM Nama Mahasiswa Kela
s
Tanda Tangan
Nilai Ket
A B C D L T
L 1 21.611.071 Putri Indah Lutfiah Sari A2
2 21.611.035 Ismael Samuel Sindomen A1
3 21.611.013 Ito Geijangge A1
4 21.611.004 Grevandi Bati Lay Nawa A1
5 21.611.073 Daniel Kogoya A2
6 21.611.044 Queenshi Clariza Waroi A2
7 21.611.064 Muhammad Kaim.R A2
8 21.611.024 Bagus Junianto A1
9 21.611.015 Vidyah Nurul Ramadhani A1 10 21.611.027 Yulian S. Sampe A1 11 21.611.039 Syahril Sidik Rumata A1
12 21.611.018 Rezki Hidayat A1
13 21.611.069 Muhammad Faidul Kabir A2
Catatan : 1. Nilai Kelulusan minimal C 2. Centang Yang Benar
ii
Teknologi Beton Dan Bahan” dengan baik, benar dan lancar.
Terima kasih juga saya haturkan kepada segala pihak yang telah membantu saya dalam pengerjaan Laporan Praktikum Teknologi Beton Dan Bahan ini. Oleh karena itu kami mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Ir. Didik S. S Mabui, ST., MT selaku Dosen Pengampu
2. Bapak Muhammad Guntur, ST. Selaku Staff Laboratorium Teknik Sipil yang telah membantu kami dalam pengambilan data di lapangan.
3. Asisten Laboratorium Teknik Sipil yang telah membantu kami dalam pengambilan data di lapangan.
4. Orang tua yang memberi dukungan secara moral dan materi.
5. Kepada teman-teman Angkatan 2021 yang membantu kami dalam
menyelesaikan laporan ini, baik memberi dukungan maupun semangat kepada kami.
Kami pun menyadari bahwa laporan ini tak lepas dari kesalahan dan kekurangan dikarenakan kemampuan kami juga terbatas. Kami berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat serta menambah pengetahuan bagi pembaca.
Jayapura, Juni 2022
Putri Indah Lutfiah Sari
iii
KATA PENGANTAR...iii
DAFTAR ISI...iv
DAFTAR TABEL...vi
DAFTAR GAMBAR...vii
BAB I PENDAHULUAN...1
1.1 Latar Belakang...1
1.2 Rumusan Masalah...2
1.3 Tujuan Praktikum...3
1.4 Manfaat Praktikum...4
BAB II LANDASAN TEORI...5
2.1 Pengertian Beton...5
2.2 Kelebihan Dan Kekurangan Beton...5
2.3 Material Penyusun Beton...6
2.4 Pengujian Slump Test...16
BAB III GAMBARAN UMUM PERAKTIKUM...22
3.1 Umum...22
3.2 Lokasi dan Waktu Pengujian...22
3.3 Teknik Pengumpulan Data...23
3.4 Bahan dan Peralatan Penelitian...23
3.5 Benda Uji...28
3.6 Standar Penelitian dan Spesifikasi Material Penyusun Beton...29
3.7 Standar Pengujian Beton...29
3.8 Tahapan dan Prosedur Penelitian...29
3.9 Pemeriksaan Bahan...32
3.10 Rencana Campuran (Mix Design)...35
3.11 Perawatan Benda Uji...35
3.12 Pengujian Kuat Tekan...35
iv
4.3 Pengujian Slump Tes (Workability)...43
4.4 Kuat Tekan Beton...43
4.5 Hasil Pengujian Beton...44
BAB V PENUTUP...22
4.1 Kesimpulan...52
4.2 Saran...53
DAFTAR PUSTAKA ...viii LAMPIRAN
v
Gambar 2.3. Penerapan Beton Hampa Pada Gedung Tinggi Gambar 2.4. Penerapan Beton Serat Pada Dinding
Gambar 2.5. Beton Mortar
Gambar 2.6. Penerapan Beton Massa Pada Bendungan Gambar 2.7. Beton Bertulang
Gambar 2.8. Beton Prategang Gambar 2.9. Beton Pracetak Gambar 2.10. Beton Siklop Gambar 2.11. Air
Gambar 2.12. Semen Portland Tipe 1 Gambar 2.13. Agregat Kasar
Gambar 2.14. Agregat Halus
Gambar 3.1. Peta Lokasi Praktikum Gambar 3.2. Beton Segar
Gambar 3.3. Memasukkan Agregat Kedalam Saringan Untuk Menentukan Lolos Uji Saringan
Gambar 3.4. Pencucian Agregat Kasar Untuk Mengetahui Kadar Lumpur
Gambar 3.5. Sampel Kadar Air Pada Agregat Kasar ... 17
Gambar 3.6 Proses Penimbangan Berat Jenis... 17
Gambar 3.7. Beton Kubus ... 17
Gambar 4.1. Grafik Gradasi Agregat Halus... 32
Gambar 4.2. Grafik Gradasi Agregat Kasar... 32
Gambar 4.3. Hasil Pengujian Nilai Slump Test... 32
Gambar 4.4. grafik uji kuat tekan beton sampel 1... 32
vi
Tabel 4.3. Proporsi Campuran Beton Tabel 4.4. Nilai Slump
Tabel 4.5. Hasil Pengujian Kuat Tekan Beton Tabel 4.6. Umur Benda Uji Beton
vii
wajib untuk drpahami secara teoritis maupun praktis mengingat bahwa beton merupakan salah satu material paling penting di dalam dunia konstruksi menyangkut kegunaanya sebagai struktur dari sebuah bagunan" Beton sendiri memiliki banyak nama dan jenisnya bergantung pada konstruksi apa yang akan dibuat. Dalam makalah ini, kami akan membahas mengenai proses pembuatan Beton khususnya untuk beton Pracetak, dimulai dari pengukuran berat setiap material penyusun, hingga proses mutu beton sebagai aplikasi dari mata kuliah Teknologi Beton.
Teknologi pernbuatan Beton, dapat dimulai dari menghitung
perbandingan antara Agregat kasar (kerikil), Agregat halus (Pasir), Semen dan Air secara teoritis. Setelah di dapat perbandingan, barulah praktikum dilakukan dengan menimbang setiap material yang telah dihitung secara teoritis. Setelah proses pengukuran rnassa, proses pencampuran material - material, sarnpai pada proses mencetak beton dalam silinder dan proses perawatan sehingga diharapkan saat melakukan pengulian, mutu beton yang tercatat sesuai dengan apa yang kami harapkan.
Dengan melakukan praktikurn Teknologi Beton ini, diharapkan mahasiswa untuk bisa menerapkan cara - cara membuat beton dan bisa
menerapkanya dalam dunia pekerjaan nanti dengan menghasilkan beton dengan kualitas tinggi. Masa-masa gencarnya pembangunan di Indonesia yang biasa disebut jaman pembangunan, telah lewat. Tetapi hal ini tidak akan menyurutkan kebutuhan akan material-material bahan bangunan seperti baja, kayu dan tentu saja beton. Kebutuhan akan beton tentu saja tidak terlepas dari berbagai kelebihan yang dimilikinya sehingga beton seringkali menjadi pilihan utama untuk struktur bangunan. Sebagai seorang calon insinyur teknik sipil, kebutuhan pengetahuan teknologi beton mutlak diperlukan karena hampir seluruh bangunan yang didirikan
1
memilih beton (baik beton bertulang maupun beton pratekan) sebagai material utama untuk strukturnya.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun beberapa rumusan masalah yang dapat diusung dalam kegiatan praktikum Teknologi Beton dan Bahan adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaruh kualitas agregat terhadap kuat tekan beton ? 2. Bagaimana cara perawatan beton yang benar ?
1.3 Tujuan Praktikum
Adapun beberapa tujuan dari praktikum yang dilaksanakan adalah dengan sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui karakteristik agregat.
2. Bagaimana pengaruh kuat tekan beton yang telah direncanakan menggunakan metode aci.
1.4 Manfaat Praktikum
Adapun beberapa tujuan dari praktikum yang dilaksanakan adalah dengan sebagai berikut :
1. Mahasiswa dapat memahami alat-alat yang digunakan dalam pembuatan beton.
2. Mahasiswa dapat mengetahui jenis-jenis agregat dalam pembuatan beton.
3. Mahasiswa dapat mengetahui proses / langkah kerja dalam pembuatan beton.
Beton adalah suatu elemen dalam konstrusi yang merupakan struktur sederhana yang dibentuk oleh campuran semen, air, agregat halus, agregat kasar yang berupa batu pecah atau kerikil, udara serta bahan campuran lainnya. Struktur beton ini dapat diketahui lewat karakteristik beton yang itu sendiri. Komposit tersebut bila dituang dalam cetakan kemudian dibiarkan maka akan mengeras.
Proses terjadinya pengerasan tersebut disebabkan oleh reaksi kimia antara air dan semen dan dalam hal ini tingkat kekerasan beton sesuai dengan umumya. Nilai kekuatan dan daya tahan (durability) beton merupakan fungsi berbagai faktor diantaranya adalah nilai banding campuran dan mutu bahan 10 susun, metode pelaksanaan pengecoran, pelaksanaan finishing, temperatur dan kondisi perawatan pengerasan (Dipohusodo, 1994).
Beton adalah merupakan bahan yang memiliki kuat tekan yang tinggi, bila dibuat dengan cara yang baik, kuat tekan akan menyamai batu alami
(Kardiyono, 1992). Tetapi beton mempunyai kuat tarik yang rendah. Maka dari itu untuk mengimbangi kondisi beton yang lemah terhadap kuat tarik, maka beton diperkuat dengan baja tulangan, yang biasanya disebut dengan beton bertulang.
Kemudian dalam mudahnya memperoleh bahan-bahan yang digimakan dalam pembuatan beton menyebabkan beton banyak digunakan masyarakat. Dengan adanya hal tersebut dan seiring dengan perkembangan pembuatan beton, maka tidak tertutup kemungkinan adanya penggunaan bahan limbah yang sekiranya dapat digunakan sebagai altenatif dalam pembuatan campuran beton dengan tanpa mengabaikan persyaratan yang ditetapkan.
2.2 Jenis - jenis Beton
Jenis – jenis beton memiliki kegunaanya masing-masing dalam pekerjaan konstruksi bangunan. Beton mempunyai berbagai macam jenis sebagai berikut :
3
1. Beton Mortar
Beton mortar adalah beton yang terbuat dari campuran antara mortar semen, pasir, dan air dengan perbandingan tertentu. Oleh karena itu, beton mortar juga kerap disebut sebagai beton semen. Bahan baku untuk membuat beton mortar terdiri atas mortar, pasir, dan air. Ada 3 macam mortar yang sering digunakan antara lain semen, kapur, dan lumpur. Beton mortar semen yang dilengkapi dengan anyaman tulangan baja di dalamnya disebut ferro cement. Beton ini memiliki kekuatan tarik dan daktilitas yang baik.
2. Beton Ringan
beton ringan dibuat dengan memakai agregat yang berbobot ringan.
Beberapa orang juga kerap menambahkan zat aditif yang bisa membentuk
gelembung-gelembung udara di dalam beton. Semakin banyak jumlah gelembung udara yang tersimpan pada beton, maka pori-porinya pun akan semakin bertambah sehingga ukurannya juga bakal kian membesar. Hasilnya, bobot beton tersebut lebih ringan daripada beton lain yang memiliki ukuran sama persis. Beton ringan ini biasanya diaplikasikan pada bagian konstruksi dinding non-struktur.
3. Beton Non Pasir
Dinamakan sebagai beton non-pasir karena proses pembuatan beton non- pasir ini sama sekali tak menggunakan pasir, melainkan hanya material-material yang terdiri atas kerikil, semen dan air. Hal ini menimbulkan terbentuknya rongga udara di antara celah-celah kerikil sehingga total berat jenisnya pun menjadi lebih rendah. Karena beton non-pasir tidak mengguakan pasir, maka kebutuhan semen pada beton ini juga lebih sedikit. Penggunaan beton non-pasir misalnya pada struktur ringan, kolom dan dinding sederhana, bata beton, serta buis beton.
4. Beton Hampa
Beton hampa merupakan jenis beton yang unik. Disebut sebagai beton hampa karena memang beton ini bersifat hampa. Hal ini tidak terlepas dari proses pembuatan beton tersebut. Dalam pembuatan beton hampa ini, beton menjadi hampa karena dilakukan penyedotan air pengencer yang terkandung di dalam adukan beton memakai vacuum khusus. Akibatnya beton pun hanya mengandung air yang sudah bereaksi dengan semen saja. Sehingga kekuatan yang dimilikinya
pun sangat tinggi. Beton hampa banyak dimanfaatkan pada gedung pencakar langit.
5. Beton Bertulang
Beton berulang ialah beton yang terbentuk dari kombinasi atara adukan beton dengan tulangan baja. Beton bertulang tercipta dari ide untuk membuat material baru yang kuat terhadap beban tekan dan beban tarik sekaligus. Perlu diketahui, beton memiliki sifat kuat terhadap gaya tekan tetapi lemah dengan gaya tarik. Oleh karena itu, tulangan baja sengaja ditanamkan ke dalamnya agar
kekuatan beton terhadap gaya tarik pun meningkat. Beton bertulang biasanya dipakai pada struktur bentang lebar seperti pelat lantai, kolom bangunan, jalan, jembatan, dan lain-lain.
6. Beton Massa
Beton massa adalah beton yang dibuat dalam jumlah yang banyak sekaligus. Penuangan beton ini sangat besar di atas kebutuhan rata-rata beton pada umumnya. Begitu pula dengan faktor perbandingan antara volume beton dan luas permukaannya pun sangat tinggi. Selain itu, beton massa ini juga mempunyai dimensi yang begitu besar. Ukuran dimensinya sendiri lebih dari 60 cm. Adapun beton massa ini banyak diaplikasikan pada pembuatan pondasi berukuran besar, pilar-pilar bangunan, bendung, dan bendungan.
7. Beton Siklop
Beton siklop merupakan beton yang menggunakan agregat cukup besar sebagai bahan pengisi tambahannya. Ukuran penampang agregat tersebut berkisar antara 15-20 cm. Bahan ini lantas ditambahkan ke dalam adukan beton normal sehingga dapat meningkatkan kekuatannya. Beton siklop sering kali dibangun pada bendungan, jembatan, dan bangunan air lainnya. Penggunaan beton siklop mampu menghemat biaya pembuatan biaya konstruksi bangunan secara signifikan tanpa mengesampingkan kualitasnya untuk jenis bangunan-bangunan tertentu.
8. Beton Pracetak
Beton yang dicetak di luar area pengerjaan suatu proyek pembangunan disebut sebagai beton pracetak. Beton ini memang sengaja dibuat di tempat lain supaya lebih praktis, mutunya terjaga dengan baik, serta tidak mengotori lokasi
kerja. Selain itu, pemilihan beton tersebut juga kerap didasari pada sempitnya lokasi proyek dan tidak adanya tenaga yang tersedia. Beton pracetak ini selanjutnya dikirim ke lokasi proyek saat hendak dipasang. Biasanya beton pracetak diproduksi oleh perusahaan yang bergerak secara khusus di bidang pembangunan dan pengadaan material.
9. Beton Serap
beton serat dibuat dengan menambahkan serat-serat tertentu ke dalam adukan beton. Tujuannya untuk untuk meningkatkan kualitas dari beton yang dihasilkannya. Contoh-contoh serat yang banyak digunakan di dalam pembuatan beton serat di antaranya yaitu asbestos, plastik, kawat baja, hingga serat alami dari tumbuh-tumbuhan. Penambahan serat ini memang sengaja dimaksudkan untuk menaikkan daktailitas pada beton tersebut sehingga beton pun lebih kuat dan tidak mudah mengalami keretakan.
2.2 Kelebihan dan Kekurangan Beton
Beton adalah campuran dari semen, agregat kasar (kerikil), agregat halus (pasir), air dan dengan atau tanpa bahan tambahan kimia (admixture) lainnya yang membentuk masa yang padat. Kelebihan Beton adalah sebagai berikut:
1. Biaya pembuatan beton terbilang cukup murah mengingat bahan-bahan penyusunnya bisa diperoleh dari daerah lokal, kecuali untuk semen portlang yang harus didatangkan dari luar daerah.
2. Begitu pun dengan biaya pemeliharaan beton terhitung cukup rendah karena material ini mempunyai tingkat ketahanan yang tinggi.
3. Di samping tahan terhadap aus, beton juga tahan terhadap api dan air sehingga penghuni bangunan senantiasa bisa merasa aman.
4. Beton memiliki daya kekuatan dan daya dukung yang sangat tinggi sehingga bisa diaplikasikan pada segala desain bangunan.
5. Kondisi beton juga tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan sehingga risiko mengalami korosi dan pembusukan kecil sekali.
6. Tidak seperti pasangan batu, partikel-partikel pada beton mampu membentuk susunan yang padat dengan ukuran yang lebih kecil.
7. Beton bersifat fleksibel artinya bisa dibuat dalam bentuk dan ukuran yang sesuai dengan keinginan tanpa mempengaruhi kualitasnya secara langsung.
Adapun kekurangan daripada beton antara lain :
1. Beton mempunyai kuat tarik yang rendah, sehingga mudah retak. Oleh karena itu perlu diberi baja tulangan atau tulangan kasa.
2. Beton segar mengerut saat pengeringan dan beton keras mengembang jika basah sehingga dilatasi (constraction joint) perlu diadakan pada beton yang panjang/lebar untuk memberi tempat bagi sudut pengerasan dan
pengembangan beton.
3. Beton keras mengembang dan menyusut bila terjadi perubahan suhu sehingga perlu dibuat dilatasi (expansion joint) untuk mencegah terjadinya retak-retak akibat perubahan suhu.
4. Beton sulit untuk kedap air secara sempurna, sehingga selalu dapat dimasuki air, dan air yang membawa kandungan garam dapat merusakkan beton.
5. Beton bersifat getas (tidak daktail) sehingga harus dihitung dan didetail secara seksama agar setelah dikombinasikan dengan baja tulangan menjadi bersifat dektail, terutama pada struktur tahan gempa.
2.3 Material Penyusun Beton
Beton adalah suatu Campuran dari beberapa bahan batu-batuan yang direkatkan oleh bahan-ikat. Beton dibentuk dari agregat campuran (halus dan kasar) dan ditambah dengan pasta semen. Pada prinsipnya pasta semen mengikat pasir dan bahan-bahan agregat lain (batu kerikil, basalt dan sebagainya). Rongga di antara bahan-bahan kasar diisi oleh bahan-bahan halus. Hal ini memberi gambaran bahwa harus ada perbandingan optimal antara agregat campuran yang bentuknya berbeda-beda agar pembentukan beton dapat dimanfaatkan oleh seluruh material. Material penyusun beton adalah sebagai berikut :
1. Agregat
Agregat adalah butiran mineral alami yang berfungsi sebagai bahan pengisi dalam campuran beton atau mortar. Agregat dapat mengisi kurang lebih
70% hingga 75% volume beton atau mortar. Meskipun hanya sebagai bahan pengisi, akan tetapi agregat sangat berpengaruh terhadap sifat-sifat beton atau mortarnya, sehingga pemilihan agregat merupakan suatu bagian penting dalam pembuatan beton/mortar. Untuk membedakan jenis agregat yang sering dilakukan lalah dengan didasarkan pada ukuran butir-butirnya. Agregat dengan ukuran butir- butir besar disebut agregat kasar, sedang yang berbutir kecil disebut agregat halus.
Sebagai batas antara ukuran butiran yang kasar dan yang halus umumnya diambil 4,8 mm. Agregat yang butirbutirnya lebih besar dari 4,8 mm disebut agregat kasar, dan agregat yang lebih kecil dari 4,8 mm disebut agregat halus.
a. Agregat Halus (pasir)
Agregat halus untuk beton dapat bempa pasir alam sebagai hasil deintegrasi alami dari batuan atau bempa pasir batuan yang dihasilkan oleh alat- alat pemecah batu. Ukuran butiran pasir umumnya berkisar antara 0,15 mm dan 4,8 mm. Pasir yang baik adalah apabila butir-butimya tajam dan kasar, tidak mengandung lumpur lebih 5 %, serta bersifat kekal artinya tidak pecah atau hancur oleh pengamh-pengaruh cuaca, seperti terik matahari dan hujan.
Gambar 2.1 Agregat Halus (Sumber : Google earth)
b. Agregat Kasar
Agregat kasar untuk beton dapat bempa kerikil sebagai hasil disintegrasi alami dari batuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari pemecahan batu.
Ukuran butir kerikil berkisar antara 4,8 mm dan 40 mm. Agregat kasar/ kerikil yang baik adalah apabila butir-butinya keras dan tidak berpori. Tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1%, serta zat-zat yang reaktif alkali. Bersifat kekal, artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh-pengaruh cuaca, sepert, terik matahari dan hujan. Butir-but.r yang berbentuk pipih tidak lebih dan 20% dari agregat seluruhnya.
Gambar 2.2 Agregat Kasar (Sumber : Google earth)
2. Semen
Semen yang biasa digunakan yaitu semen portland, semen portland adalah semen hidrolis yang dihasilkan dengan cara menghaluskan dan
memanaskan bahan dengan suhu yang cukup tinggi dari bahan dasar yang berupa kapur, silikat, alumina dan besi oksida. Sifat-sifat kimia dari bahan pembentuk ini mempengaruhi kualitas semen yang dihasilkan. Sebagai hasil perubahan susunan kimia yang terjadi, diperoleh susunan kimia yang komplek. Walaupun demikian pada dasarnya dapat disebutkan 4 unsur yang paling penting pembentuk semen, yaitu:
1. Tricalsium Silikat ( C3S ) 2. Dicalsium Silikat (C2S ) 3. Tricalsium Aluminat ( C3A )
4. Tetracalsium Aluminoferrite ( C4AF )
Dalam proyek pembangunan, setidaknya ada jenis-jenis semen yang sering digunakan, yaitu sebagai berikut :
a. Semen Portland
Gambar 2.3 Semen Portland (Sumber : Google earth)
Jenis semen ini merupakan jenis yang paling banyak digunakan oleh masyarakat umum. Semen Portland pun terdiri atas beberapa varian, yaitu semen Portland I, semen Portland II, semen Portland III, semen Portland IV, dan semen Portland V. Semen Portland I digunakan untuk membangun konstruksi yang tidak memerlukan persyaratan khusus, semisal perumahan, jalan raya, landasan pacu, dan lain-lain. Sementara, semen Portland II digunakan untuk membangun
konstuksi di tanah rawa, pinggir laut, saluran irigasi, dan bendungan. Jenis semen Portland II disebut tahan panashidrasi sedang dan sulfat. Kemudian semen
Portland III biasa digunakan dalam pembangunan gedung bertingkat tinggi, jalan tol, dan bandara. Semen Portland IV digunakan pada bangunan yang kondisinya dapat dipengaruhi perubahan temperatur, semisal dam dan lapangan udara.
b. Semen Portland Pozzolan
Gambar 2.4 Semen Portland Pozzolan (Sumber : Google earth)
Semen jenis ini dibuat dengan cara menggiling terak, bahan pozzolan, dan gypsum. Biasanya, semen jenis ini digunakan untuk membangun konstruksi yang membutuhkan ketahanan sulfat dan panas tingkat sedang, semisal dermaga dan jembatan.
c. Semen Portland Composite
Gambar 2.5 Semen Portland Composite (Sumber : Google earth)
Jenis semen ini merupakan semen yang umumnya terbuat dari hasil penggilingan terak, beberapa bahan nonorganik, dan gipsum. Semen portland composite akan sering banyak digunakan dalam sebuah pembuatan beton pracetak, paving block, dan konstruksi beton pada umumnya.
3. Air
Air merupakan bahan dasar pembuat beton yang penting namun harganya paling murah. Air diperlukan untuk bereaksi dengan semen, serta untuk menjadi bahan pelumas antara butir-butir agregat agar mudah dapat dikerjakan dan dipadatkan. Untuk bereaksi dengan semen, air dibutuhkan sekitar 30% berat semen saja, namun dalam kenyataannya nilai faktor air semen yang dipakai sulit kurang dari 35%. Kelebihan air ini yang dipakai sebagai pelumas. Tetapi perlu dicatat bahwa tambahan air untuk pelumas ini tidak boleh terlalu banyak karena kekuatan beton menjadi rendah serta betonnya porous.
Gambar 2.6 Air (Sumber : Google earth)
4. Admixture
Bahan campuran tambahan (Admixture) adalah bahan yang bukan air, agregat maupun semen yang ditambahkan kedalam campuran sesaat atau selama pencampuran. Fungsi dari bahan ini adalah untuk mengubah sifat-sifat beton atau pasta semen agar menjadi cocok untuk pekerjaan tertentu, atau ekonomis untuk tujuan lain seperti menghemat energi (Nawy,1996). Suatu bahan tambah pada umumnya dimasukkan ke dalam campuran beton dengan jumlah sedikit, sehingga tingkat kontrolnya harus lebih besar daripada pekerjaan beton biasa. Oleh sebab itu, control terhadap bahan tambah perlu dilakukan dengan tujuan untuk
menunjukkan bahwa pemberian bahan tambah pada beton tidak menimbulkan efek samping seperti kenaikan penyusutan kering, pengurangan elastisitas (L.J.
Murdock dan K.M. Brook, 1991).
2.4 Pengujian Slump Test
Pengujian Slump Test pada beton plastis dengan ukuran agregat maksimum 37,5 mm sebelumnya tidak ada ketentuan maksimum ukuran agregat kasarnya.
Slump test bertujuan untuk untuk memantau homogenitas dan workability (kemudahan pengerjaan beton segar) adukan beton segar dengan suatu kekentalan tertentu yang dinyatakan dengan satu nilai slump.
Alat yang digunakan untuk pengujian slump dinamakan Kerucut Abrams yang terbuat dari logam. Campuran beton yang terlalu cair dapat
menyebabkan mutu beton menjadi rendah dan lama mengering.
Sedangkan campuran beton yang terlalu kering dapat menyebabkan adukan tidak merata dan sulit untuk dicetak. Pengujian slump test dapat dilakukan di laboratorium maupun di lapangan (saat dilakukan
pengecoran).
Dalam konstruksi, beton adalah sebuah bahan bangunan komposit yang terbuat dari kombinasi aggregat dan pengikat semen. Bentuk paling umum dari beton adalah beton semen Portland, yang terdiri dari agregat mineral
(biasanya kerikil dan pasir), semen dan air.
Beton merupakan fungsi dari bahan penyusunnya yang terdiri dari bahan semen hidrolik (Portland cement), agregat kasar, agregat halus, air dan bahan tambah. Nawy (1985:8) berpendapat beton sebagai sekumpulan interaksi mekanis dan kimiawi dari material pembentuknya. Beton yang digunakan sebagai struktur dalam konstruksi teknik sipil, dapat dimanfaatkan untuk banyak hal.
Penggunaan beton sebagai salah satu komponen struktural bangunan saat ini masih menjadi pilihan utama. Pemilihan penggunaan beton dikarenakan keistimewaan beton yang mampu menahan kuat tekan yang tinggi, tahan terhadap api, tahan terhadap perubahan cuaca dan dapat dicor sesuai dengan bentuk yang dibutuhkan.
Biasanya dipercayai bahwa beton mengering setelah pencampuran dan peletakan. Sebenarnya, beton tidak menjadi padat karena air menguap, tetapi semen berhidrasi, mengrekatkan komponen lainnya bersama dan akhirnya membentuk material seperti-batu. Beton digunakan untuk membuat perkerasan jalan, struktur bangunan, fondasi, jalan, jembatan penyeberangan, struktur parkiran, dasar untuk pagar/gerbang, dan semen dalam bata atau tembok blok.
Nama lama untuk beton adalah batu cair.
14
3.2 Lokasi Dan Waktu Pengujian
Praktikum ini di laksanakan di Laboratorium Teknik Sipil, Fakultas Teknik dan Sistem Informasi Universitas Yapis Papua yang terletak di Jl. Dr. Sam Ratulangi No.11, Mandala, Jayapura Utara, Kota Jayapura, Papua.
Gambar 3.1 Lokasi Uniyap (Sumber : Google earth)
Dalam Gambar 3.1 diatas merupakan denah lokasi di lakukannya
kegiatan praktikum mata kuliah Teknologi Beton dan Bahan. Waktu dilaksanakan praktikum Teknologi Beton dan Bahan adalah sebagai berikut :
1. Pengujian karakteristik dilakukan pada tanggal 24 Mei 2022 2. Pembuatan beton segar dilakukan pada tanggal 27 Mei 2022
3. Pengujian beton keras (uji tekan) dilakukan pada tanggal 31 Mei 2022 3.3 Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data sebagai bahan utama dalam penelitian ini, maka digunakan dua metode pengumpulan data yaitu :
1. Studi pustaka, melalui berbagai literatur seperti jurnal penelitian, artikel- artikel penelitian dan standar-standar pengujian sebagai landasan teori dalam penelitian ini.
Lokasi Praktikum
2. Test laboratorium, dimana pemeriksaan dan pengujian sampel dilakukan di laboratorium untuk mendapatkan data primer yang akan digunakan dalam menganalisa hasil dari penelitian yang dilaksanakan.
3. Melalui pemahaman tujuan dan dasar teori yang diperoleh melalui beberapa referemsi serta pengerahan dari dosen dan asisten laboratorium 4. Pengolahan data yang diperoleh dari hasil praktikum dengan metode yang
telah ditentukan pada masing-masing job kerja 3.4 Bahan Dan Peralatan Penelitian
Bahan Dan Peralatan Penelitian atau material yang digunakan di dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Agregat kasar menggunakan kerikil yang sudah disediakan. Agregat kasar adalah agregat yang butirannya lebih besar dari 5 mm atau agregat yang semua butirannya dapat tertahan diayakan 4,75 mm. agregat kasar untuk beton dapat berupa kerikil sebagai hasil dari disintegrasi dari batu-batuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari pemecahan manual atau mesin. Agregat kasar harus terdiri dari butiran-butiran yang keras, permukaan yang kasar.agregat harus memenuhi syarat kebersihan yaitu, tidak mengandung lumpur lebih dari 1 %, dan tidak mengandung zat- zat organik yang
Gambar 3.2 Agregat Kasar (Sumber : dok 2022)
b. Agregat halus berupa pasir yang sudah disediakan. Agregat halus adalah semua butiran lolos saringan 4,75 mm. agregat halus untuk beton dapat berupa pasir alami, hasil pecahan dari batuan secara alami,atau berupa pasir buatan yang dihasilkan oleh mesin pemecah batuyang biasa disebut abu batu. Agregat halus
tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5%, serta tidak mengandung zat-zat organik yang dapat merusak beton.Kegunaannya adalah untuk mengisi ruangan antara butir agregat kasa
Gambar 3.3 Agregat Halus (Sumber : dok 2022)
c. Semen yang sudah disediakan. Semen Portland adalah semen hidrolis yang dihasilkan dengan cara menghaluskan klinker yang terdiri darisilikat-silikat kalsium yang bersifat 16 hidrolis dengan gips sebahagi bahan tambahan (PUBI- 1982). Fungsi semen ialah untuk merekatkan butir-butir agregat agar terjadi suatu massa yang kompak atau padat, selain itu juga untuk mengisi rongga diantara butiran-butiran agregat.
Gambar 3.4 Semen (Sumber : dok 2022)
d. Air yang tersedia di Lab. Air merupakan bahan penyusun beton yang diperlukan untuk bereaksi dengan semen, yang juga berfungsi sebagai pelumas antara butiran- butiran agregat agar dapat dikerjakan dan dipadatkan
Gambar 3.4 Air (Sumber : dok 2022) Peralatan yang digunakan pada praktikum ini adalah : a. Alat Uji Pemeriksaan Agregat
Alat uji pemeriksaan agregat terdiri dari: Satu set saringan (Sieve Analyisis), tes keausan agregat (Los Angeles Tests Machine), alat uji berat jenis (piknometer, timbangan, pemanas), Aggregate Impact Machine, Aggregate Crushing Machine, dan alat pengukur kepipihan (Thickness Gauge).
b. Alat Uji Kuat Tekan
Alat uji pemeriksaan aspal yaitu: alat uji penetrasi, alat uji titik lembek, alat uji daktilitas, alat uji berat jenis (piknometer), dan alat uji kehilangan berat (pemanas).
3.5 Benda Uji
Pada praktikum ini kita menggunakan kubus sebagai bahan uji untuk menentukan kuat tekan beton. Penggunaan benda uji kubus sudah mulai dikenal pada tahun 1955. Namun pemakaian benda uji ini masih sangat terbatas.
Pengaplikasian benda uji kubus biasa digunakan juga pada proyek lingkup pekerjaan umum.
3.6 Standar Penelitian dan Spesifikasi Material Penyusun Beton Untuk mengetahui sifat dan karakteristik dari bahan dasar penyusun beton maka perlu dilakukan pengujian. Pengujian ini dilakukan terhadap agregat halus dan agregat kasar.
1. Standar Pengujian Agregat Halus.
Pengujian terhadap agregat halus dilakukan berdasarkan ASTM dan disesuaikan dengan spesifikasi bahan menurut ASTM. Standar pengujian agregat halus adalah sebagai berikut :
a. ASTM C-40 : Standar penelitian untuk tes kandungan zat organik dalam agregat halus.
b. ASTM C-117 : Standar penelitian untuk agregat yang lolos saringan no.200 dengan pencucian.
c. ASTM C-128 : Standar penelitian untuk menentukan specific gravity agregat halus.
d. ASTM C-136 : Standar penelitian untuk analisis saringan agregat halus.
2. Standar Pengujian Agregat Kasar.
Pengujian terhadap agregat kasar dilakukan berdasarkan ASTM dan disesuaikan dengan spesifikasi bahan menurut ASTM. Standar pengujian agregat kasar adalah sebagai berikut :
a.ASTM C-127 : Standar penelitian untuk menentukan specific gravity agregat kasar.
b. ASTM C-136 : Standar penelitian untuk analisis saringan agregat kasar.
c. ASTM C-131 : Standar penelitian untuk pengujian abrasi (keausan).
3.7 Standar Pengujian Beton
Penentuan standar deviasi didasarkan atas tingkatan mutu pada pengendalian pelaksanaan kombinai beton dan volume pada adukan beton.
Apabila mutunya semakin baik maka semakin kecil nilai standar deviasi. Nilai ini dapat diambil dari tingkat pengedalian pada mutu pekerjaan yang ditentukan sesuai SNI 03-2834-2000.
Mutu pengendalian sangat memuaskan memiliki sd berksar 2,8 Mpa, mutu sangat baik mempunyai Sd 3,5 MPa, mutu baik memiliki nilai Sd berkisar 4,2 MPa, mutu 5,6 MPa untuk penilaian kualitas cukup.
Sedangkan Sd 7 MPa dan Sd 8,4 MPa untuk kualitas jelek dan tanpa kendali.
3.8 Tahapan dan Prosedur Penelitian
AGREGAT KASAR BERAT VOLUME
PB-0204-76
(AASTHOT – 19 – 74*) ; (ASTM C – 29 – 71) Alat yang digunakan :
1. Timbangan 2. Bohler
3. Tongkat pemadat 4. Sendok Spesi 5. Sendok semen
Bahan = Kerikil (Kondisi kering oven) Prosedur percobaan
1. Bohler ditimbang dalam kondisi (A).
2. Kondisi padat
a. Masukkan benda uji kedalam Bohler 4 lapisan.
b. Setiap lapis dipadatkan.
c. Lapis 1,2,3 dan 4 dipadatkan dengan 25 kali tumbukan diantaranya sisi samping 15 kali dan tengah 10 kali.
d. Ratakan permukaan atas bohler menggunakan sendok semen e. Bohler berisi benda uji ditimbang (B).
3. Kondisi Gembur
a. Masukkan benda uji kedalam Bohler Hingga rata permukaan tanpa tumbukan
b. Ratakan permukaan bohler menggunakan sendok semen.
c. Bohler berisi benda uji ditimbang (B).
4. Berat benda uji di hitung (C= B – A)
5. Menggunakan Volume Bohler (D), dengan rumus (V)= = ¼. π . D2 . T.
Dimana : π = 3,14
d = diameter bohler t = tinggi bohler
AGREGAT KASAR KADAR AIR
PB-0210-76 (ASTM C – 556 – 67*) Alat yang digunakan :
1. Timbangan 2. Oven 3. Talang 4. Sendok Spesi
Bahan = Kerikil (Kondisi lapangan) Prosedur Percobaan :
1. Talang (A) ditimbang
2. Talang beserta benda uji ditimbang (B) 3. Berat benda uji (C= B-A
4. Benda Uji dimasukkan kedalam oven selama ± 24 jam lalu dikeluarkan dan dibiarkan sejenak hingga dingin.
5. Benda uji kering oven beserta talang ditimbang (D) 6. Berat bemda uji kering oven (E=D-A)
Rumus menentukan berat volume Berat volume = C
D
Rumus penentuan kadar air:
Kadar air = C−E
E x 100%
AGREGAT KASAR ANALISIS AYAKAN
PB-0210-76
(AASTHOT – 27 – 74*) ; (ASTM C – 136 – 46) Alat yang digunakan :
1. Saringan ukuran : No. 3/4, 1/2, 3/8, dan 4 2. Timbangan
3. Dan alat Bantu lainnya
Bahan = Kerikil = 2000 gr (Kondisi kering oven) Prosedur percobaan :
1. Benda uji ditimbang (A).
2. Saringan dalam kondisi kosong ditimbang beratnya (B).
3. Benda uji dimasukkan kedalam susunan saringan dan disaring dengan manual (dengan cara digoyangkan selama ± 15 menit.
4. Saringan dilepas dari susunan kemudian ditimbang/saringan beserta isinya (C).
5. Benda uji yang tertahan pada masing masing saringan dihitung (D=C-B) Rumus :
% Tertahan per saringan = = D
A x100
% Komulatif lolos = C−B
A x 100%
Modulus kehalusan (Fr)= 100 %−Komulatif tertahan 100 %
AGREGAT KASAR KADAR LUMPUR Alat yang digunakan :
1. Saringan no.200 2. Wadah pencuci 3. Talang (Wadah) 4. Oven
5. Timbangan 6. Skop Bahan : 1. Air
2. Agregat Kasar (Kondisi kering oven) Prosedur Percobaan :
1. Benda uji ditimbang (A)
2. Cuci benda uji kedalam baskom kemudian isi dengan air bersih.
Masukkan benda uji kedalam baskom kemudian isi dengan air bersih.
Tuangkan air cucian kedalam susunan saringan No.200.
Pada waktu menuangkan air cucian, usahakan agar bahan bahan yang kasar tidak ikut tertuang.
3. Masukkan air pencucian baru dan ulangi pekerjaan cucian menjadi jernih 4. Tuangkan bahan yang sudah di cuci bersih kedalam talang dan keringkan
dalam oven selama 24 jam.
5. Keluarkan benda uji dalam oven, biarkan hingga dingin kemudian ditimbang (B).
6. Menghitung berat lumpur yang terkandung dengan cara (C= A –B).
Rumus :
Kadar Lumpur = C
A x 100%
AGREGAT KASAR
SPESIFIC GRAFITY (BERAT JENIS DAN PENYERAPAN) PB-0210-76
(AASTHOT – 84 – 74*) ; (ASTM C – 128 – 68) Alat yang digunakan :
1. Keranjang Kawat 2. Oven
3. Timbangan 4. Bak Perendaman 5. Karung goni/kain lap 6. Sekop
Bahan :
1. Kerikil (sudah pengujian kadar lumpur & agregat yang tertahan saringan no.4)
2. Air
Prosedur Percobaan :
Tahap persiapan
1. Ambil benda uji sebanyak 2000 gram.
2. Rendam benda uji tersebut kedalam bak perendaman selama 24 jam.
Tahap pelaksanaan
1. Benda uji dikeluarkan dari bak perendaman,dihamparkan pada karung goni/lap kain, dilap hingga mencapai kondisi SSD.
2. Timbang keranjang di udara (dalam kondisi kosong)(A).
3. Benda uji kondisi SSD dimasukkan kedalam keranjang.
4. Keranjang + benda uji SSD ditimbang di udara (B).
5. Berat benda uji kondisi SSD di udara (C= B – A)
6. Masukkan keranjang + benda uji SSD kedalam bak perendaman, goyangkan sampai bebas dari gelembung udara.
7. Timbang keranajng + benda uji SSD didalam Air (D).
8. Keluarkan benda uji dari dalam keranjang ke talang, kemudian keringkan kedalam oven.
9. Keranjang kosong ditimbang dalam air (E).
10. Hitung berat benda uji dalam air (F = D – E).
11. Keluarkan sampel dari oven, dinginkan lalu timbang untuk mendapatkan berat kering (G).
3.9 Pemeriksaan Bahan
Pemeriksaan bahan yang dilakukan berupa pemeriksaan karakteriksik agregat yaitu agregat kasar dan agregat halus.
Hasil pemeriksaan karateristik agregat ini dilakukan di laboratorium meliputi agregat kasar, agregat halus dan filler. Pemeriksaan ini dilakukan untuk dapat mengetahui kelayakan agregat yang akan digunakan dalam penelitian ini, apakah telah memenuhi spesifikasi yang disyaratkan.
3.10 Rencana Campuran (Mix Design)
Metode aci (American Concrete Institute) Proses perancangan mengikuti langkah-langkah berikut : 1. Hitung kuat tekan rata-rata yang ditargetkan, f’cr = f’c + k.S 2. Tetapkan nilai slump, nilai ukuran butir maksimum agregat.
3. Tentukan jumlah air yang dibutuhkan berdasarkan nilai slump dan ukuran butir maksimum agregat.
4. Tentukan factor air-semen (FAS).
5. Hitung jumlah semen yang diperlukan = jumlah air : FAS.
6. Tentukan volume agregat kasar berdasarkan ukuran butir maksimum agregat dan modulus kehalusan agregat.
7. Tentukan perkiraan berat beton segar.
8. Hitung berat agregat halus = berat beton basah – berat (air + semen +kasar).
Catatan : Untuk hasil yang lebih teliti dapat dilakukan perhitungan volume absolut. Volume absolut adalah berat bahan dibagi dengan kepadatan absolut.
Kepadatan absolut = berat jenis x kepadatan air.
9. Tetapkan proporsi campuran hasil perhitungan.
10.Lakukan koreksi proporsi campuran berdasarkan kondisi agregat saat pelaksanaan.
Koreksi proporsi campuran rancangan metode ACI : Jika dengan kondisi agregat kering diperoleh proporsi, G1 = berat semen/m3
G2 = berat air/m3
G3 = berat agregat halus/m3, kering G4 = berat agregat kasar/m3, kering Cm = kadar air agregat halus (%) Ca = resapan agregat halus (%) Dm = kadar air agregat kasar (%) Da = resapan agregat kasar (%)
Proporsi campuran yang disesuaikan adalah : Semen, tetap = G1
A i r = G2 – x (Cm – Ca) G3/100 – (Dm – Da) x G4/100 Agregat halus = G3 + Cm x G3/100
Agregat kasar = G4 + Dm x G4/100
3.11 Perawatan Benda Uji
Proses perawatan penting dilakukan agar reaksi semen dengan air dapat bercampur dengan baik. Perawatan tersebut juga penting agar permukaan tetap lembab sampai proses reaksinya mencapai waktu yang sudah ditentukan yaitu kurang lebih satu bulan atau sekitar 28 hari.
Apabila perawatan tidak dilakukan dengan baik, dikhawatirkan air pada campuran beton itu akan merembes atau keluar. Dengan begitu, beton menjadi memiliki kualitas yang buruk dan memicu retak-retak pada bagian
permukaannya. Menjaga kelembaban dalam merawat beton ini dilakukan dengan menyirami bagian permukaan beton tersebut, menggenanginya dengan air maupun dengan meletakkan karung basah di bagian permukaan beton.
Perawatan benda uji yang dilakukan oleh kelompok 4 dalam praktikum ini adalah dengan cara benda uji dibuka dari cetakan kubus lalu masukkan beton kubus tersebut ke tempat perendaman. Perawatan perendaman air dilakukan selama 24 jam. Setelah 24 jam maka beton kubus tersebut diangkat dari tempat perendaman lalu didiamkan di tempat kering selama 1 hari setelah itu dilakukan tes kuat tekan pada beton kubus tersebut.
3.12 Pengujian Kuat Tekan
Uji kuat tekan beton adalan uppaya untuk mendapatkan nilai estimasi kuat tekan beton pada struktur eksisting, dengan cara melakukan tekanan pada sampel beton. Perencanaan kuat tekan pada beton di umur 28 hari harus sesuai dengan syarat struktur dan keadaan setempat. kekuatan beton perencanaan untuk beton berkualitas tinggi berkisar 50 Mpa.
a. Nilai Standar Deviasi
Penentuan standar deviasi didasarkan atas tingkatan mutu pada pengendalian pelaksanaan kombinai beton dan volume pada adukan beton. Apabila mutunya semakin baik maka semakin kecil nilai
standar deviasi. Nilai ini dapat diambil dari tingkat pengedalian pada mutu pekerjaan yang ditentukan sesuai SNI 03-2834-2000.
Mutu pengendalian sangat memuaskan memiliki sd berksar 2,8 Mpa, mutu sangat baik mempunyai Sd 3,5 MPa, mutu baik memiliki nilai Sd berkisar 4,2 MPa, mutu 5,6 MPa untuk penilaian kualitas cukup.
Sedangkan Sd 7 MPa dan Sd 8,4 MPa untuk kualitas jelek dan tanpa kendali.
b. Nilai Tambah dan Kuat Tekan Rata-Rata yang Diinginkan Nilai tambah atau margin diperoleh dari nilai tetapan statistika.
Nilainya sangat bergantung pada jumlah persentase kesalahan atau kegagalan hasil pengujian dengan nilai maksimal 5%.
Nilai tetapan tersebut berkisar 1,64 dan dikalikan dengan nilai standar deviasi perencanaan. Nilai kuat tekan rata-rata atau MPa dihasilkan dari nilai penjumlahan antara kuat tekan beton yang dirancanakan dengan nilai tambah atau margin.
3.13 Teknik Analisis Data
Dari hasil pengujian didapat berat volume agregat dalam kondisi padat lebih besar dibanding dengan berat volume agregat dalam kondisi gembur, baik pada agregat kasar maupun pada agregat halus. Hal ini disebabkan oleh
penumbukkan yang dilakukan pada pengujian berat volume agregat padat .
Penumbukkan yang dilakukan sebanyak 25 kali pada tiap volume agregat yang dimasukkan ke dalam wadah secara berharap (yakni sepertiga isi wadah setiap pengisiananya). Dengan memadatkan agregat, pori-pori atau rongga antar agregat di dalam wadah berkurang. Hal ini menyebabkan agregat yang dapat masuk ke dalam wadah lebih banyak sehingga pada suatu volume wadah yang sama, agregat dalam kondisi padat memiliki berat yang lebih besar. Dengan demikian, berat volume agregat kondisi padat lebih besar dibandingkan agregat kondisi gembur.
Berikut ini merupakan hasil pengujian karakteristik material dari agregat kasar berupa kadar air, analisa ayakan, berat volume, kadar lumpur dan spesific gravity. Material yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari agregat alam yaitu agregat halus (pasir) dan agregat kasar (batu pecah). Berdasarkan pelaksanaan pemeriksaan agregat di Laboratorium Teknik Sipil Universitas Yapis Papua, diperoleh hasil pemeriksaaan karakteristik material yang dimana pada Tabel 4.1 untuk agregat halus dan 4.2 untuk agregat kasar.
1.1.1 Pemeriksaan Karakteristik Agregat Halus (Pasir)
Tabel 4.1 Hasil Pemeriksaan Karateristik Agregat Halus (Pasir)
No. Karakteristik Agregat Interval Hasil
Pemeriksaan Keterangan
1 Modulus Kehalusan 2,3 - 3,1 2.858 Memenuhi
2
Berat Volume :
a. Padat - 46.511 -
b. Gembur - 51.397 -
3 Kadar Air - -20,69% -
4 Kadar Lumpur 5% 0,33% Memenuhi
5
Berat Jenis dan Penyerapan :
a. BJ Nyata 1,6 - 3,3 2,90 Memenuhi
b. BJ Dasar Kering 1,6 - 3,3 2,43 Memenuhi c. BJ Kering
Permukaan 1,6 - 3,3 3,13 Memenuhi
d. Penyerapan Air 0,2% -
2% 4,17% Tidak
Memenuhi
29
Sumber :(Hasil Pengujian Laboraturium Teknik Sipil Universitas Yapis Papua 2022).
Hasil analisis saringan agregat Halus yang kemudian diplot pada grafik batas gradasi masuk pada gradasi agregat ukuran maksimum 30 mm sebagai Gambar 4.1
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5
0 20 40 60 80 100 120
100 100
90
59
20 10
90 75
55 35
0 5
93.75 86.55
64.6 39.4
23.65 6.2
GRADASI ZONA II
GRADASI BATAS BAWAH BATAS ATAS No Saringan (mm)
% Komulatif Lolos
Gambar 4.1 Grafik Gradasi Agregat Halus
Grafik Gradasi Agregat Halus (Pasir) pada gambar diatas menunjukan bahwa agregat halus (Pasir) yang mengacu pada BS-812-1976 yang digunakan merupakan pasir dengan gradasi zona II dengan modulus halus butir agregat 2,858.
1.1.2 Pemeriksaan Karakteristik Agregat Kasar (Batu Pecah)
Tabel 4.2 Hasil Pemeriksaan karateristik Agregat Kasar (Krikil) N0 Karateristik Agregat Interval Hasil
Pemeriksaan keterangan 1 Modulus Kekasaran 6,0-7,1 8,48 Tidak
Memenuhi
2
Berat volume
a.Padat 1,6-1,9 1,57 Tidak
Memenuhi
b. Gembur 1,6-1,9 1,45 Tidak
Memenuhi
3 Kadar air 0,5-2% 0,55% Memenuhi
4 kadar lumpur 0,2-1% 0,09% Memenuhi
5
Spesific Grafity
a. BJ nyata 1,6-33 4,18 Memenuhi
b. BJ dasar Kering 1,6-33 4,09 Memenuhi c. Bj Kering
Permukaan 1,6-33 4,1 Memenuhi
d. Penyerapan Air max
4% 0,53% Memenuhi
Sumber : (Hasil Pengujian Laboraturium Teknik Sipil Universitas Yapis Papua 2022)
Hasil analisis saringan agregat kasar yang kemudian diplot pada grafik batas gradasi masuk pada gradasi agregat ukuran maksimum 30 mmsebagai Gambar 4.2
No. 4 3/8 in 3/4 in 1 1/2 in 3 in
0 20 40 60 80 100 120
Gradasi Agregat Zone I
Batas Atas Batas Bawah Lolos Saringan
Nomor Saringan
(%) Komulatif Saringan
Gambar 4.2 Grafik Gambar Agregat Kasar Grafik Gradasi Agregat Kasar (batu pecah) pada gambar diatas
menunjukan bahwa agregat kasar (batu pecah) yang digunakan merupakan batu pecah dengan gradasi agregat ukuran Max 30 mm, dengan modulus halus butir agregat 8,48.
4.2 Rencana Campuran Beton
Rancang campuran beton yang dilakukan pada praktikum ini
menggunakan perhitungan Mix Design dengan Metode ACI (American Concrete Institute), dan didapatkan proporsi campuran beton sebagai berikut :
Tabel 4.3 Proporsi campuran beton
4.3 Pengujian Slump Test
Setelah melakukan pencampuran Mix Design dilakukan pengujian slump test yang bertujuan untuk mengetahui nilai slump flow yang dihasilkan design campuran beton pengujian dilakukan sekali dan mendapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel 4.4 Nilai Slump
Nilai slump Hasil yang diinginkan Hasil yang didapat
75-100 mm 10 cm 12 cm
Proporsi Campuran Beton /m3 Hasil Perhitungan
Semen 3.89 kg
Air 2.3 Ltr
Agregat Halus 9.08 kg
Agregat Kasar 12,75 kg
Sumber : Hasil Pengujian Laboratorium Teknik Sipil Universitas Yapis Papua 2022
Berdasarkan Tabel 4.4 dapat dilihat bahwa nilai slump yang diuji tidak memenuhi syarat dikarenakan kesalahan pada saat praktikum di lapangan terjadinya Human Eror.
Gambar 4. 1 pengujian slump test Sumber : Dokumentasi 4.4 Kuat Tekan Beton
Dari pengkuran yang di lakukan telah di lakukan pada beton selinder didapatkan rata-rata volume beton kubus sebelum di uji kuat tekan beton adalah 529,9 mm³ dan rata-rata volume beton kubus setelah di uji kuat tekan beton 529,9 mm³
Luas Bidang
A= 15x15 = 2250 mm A= 2250 mm
Dengan demikian akan terjadi tegangan merata sebagai fungsi gaya di luas permukaan sebagai berikut:
Tegangan = F/A
Konversi 1KN = 101,971KG F c= 196300 x 101,971 : 2250 F c= 88,96 Kg/Cm2
F c= 88,96 Kg/Cm2 4.5 Hasil Pengujian Beton
Hasil pengujian yang telah di lakukan di konversikan ke setiap umur benda uji beton dan hasilnya dapat di lihat pada tabel berikut:
Tabel 4.5 Umur Benda Uji Beton
Sumber :Perhitungan 2022
Setelah mendapatkan hasil seperti pada Tabel 4.4 , kita dapat membuat grafik untuk elihat peningkatan mutu dari beton.
Dari percobaan yang telah dilakukan, praktikan dapat mengetahui bahan- bahan pokok pembuatan beton, yaitu agregat kasar, agregat halus, air dan
semen,serta mengenal perannya dalam pembuatan beton, seperti air dan semendigunakan untuk membuat pasta semen, lalu agregat digunakan sebagai bahan penguat beton dan pasta semen digunakan untuk mengikat agregat.Selain itu juga mengetahui parameter-parameter material pembentuk beton, antara lain kadar air, kadar Lumpur dan kadar zat organic pada material pembentuk beton.
parameter material ini diperlukan agar saat membuat beton,campurannya sesuai dengan kebutuhan sehingga menghasilkan beton sesuaidengan yang diinginkan.
Dari dua hal tersebut, praktikan mengetahui caramerencanakan pembuatan beton, yaitu dengan membuat perhitungan kebutuhan bahan-bahan pembuatan beton sesuai dengan kekuatan yang diinginkan. Dansetelah di rencanakan, praktikan dapat mengetahui cara membuat beton, sepertimencampur bahan-bahan dan mencetaknya di bekisting. Hal-hal yang perludiperhatikan saat mencetak beton adalah penumbukan untuk memastikan udarayang tersimpan keluar, penggetaran untuk memastikan agregat merata dan pelapisan oli pada bekisting agar beton yang sudah jadi tidak menempel padadinding bekisting.Terakhir adalah praktikan dapat mengetahui cara merawat beton, yaitu dapat dengan direndam dalam air untuk mengurangi panas hidrasi, dan melakukanuji tekan untuk menguji kuat tekan beton dan menguji sifat mekanik beton tersebut.
5.2 Saran
1) Dalam pembuatan beton dengan mutu baik diperlukan material campuran yang berkualitas baik pula. Bahan yang digunakan harus teruji dengan hasil yang baik. Di samping itu ketelitian dalam perencanaan campuran (mix design) serta ketelitian dalam penimbangan bahan sangat menentukan kualitas beton yang dihasilkan.
35
2) Ketelitian yang tinggi dalam pengecoran beton sangat diperlukan untuk memperoleh mutu beton yang sesuai dengan rencana.
3) Dalam penelitian selanjutnya sangat dibutuhkan ketelitian dalam melakukan penelitian di laboratorium, terutama dalam mix design dan waktu pengadukan agar hasil yang diinginkan benar-benar akurat.
Malang. Malang.2007.
A.Firdaus.Proses Pembuatan Beton Pada PT. Holcim Indonesia tbk.
Jurusan Teknik Kimia Universitas Indonesia.2007.
Mulyono, T., 2004, Teknologi Beton, Andi, Yogykakarta.
Hidayat, 2002, Studi Bidang Pengaruh Faktor Air, Semen, dan Terhadap Kuat Tekan dan Pemeabilitas Beton, Tesis UI, Jakarta.
Standar Nasional Indonesia. SNI-0302847-2002, Tentang Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung. Bandung, Indonesia.
Sitorus, L.R., Sitorus, T. (2018). Analisis Kuat Tekan terhadap Umur Beton.
Universitas Sumatera Utara.
viii
Pengujian analisa saringan agregat kasar
Melakukan pemadatan agregat
Pembuatan Beton Segar