• Tidak ada hasil yang ditemukan

laporan - SIMAKIP

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "laporan - SIMAKIP"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana status gizi balita di Maumere, Kabupaten Sikka, NTT dan faktor ibu meliputi status gizi ibu, pekerjaan ibu, pengetahuan gizi ibu, pendidikan dan umur ibu. Jika ibu hamil dan anak tidak mendapatkan nutrisi yang cukup selama periode tersebut, maka akan mempengaruhi status gizi anak yang akan dilahirkan. Seorang ibu dengan pengetahuan dan sikap gizi yang buruk akan sangat mempengaruhi status gizi anaknya dan akan kesulitan dalam memilih makanan yang bergizi untuk anak dan keluarganya.

Oleh karena itu pertumbuhan merupakan indikator yang baik dari perkembangan status gizi anak (Depkes RI 2002). Status gizi yang baik dapat membantu proses tumbuh kembang anak untuk mencapai usia dewasa yang optimal.

KerangkaKonsep

Road Map Penelitian Adapun peta penelitian ini

Tempat dan Waktu Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif yang bersifat analitik dan desain yang digunakan adalah cross-sectional, yaitu pengumpulan data yang berkaitan dengan variabel dependen dan independen dilakukan satu kali dalam satu waktu. Data antropometri balita meliputi berat dan tinggi badan diperoleh melalui pengukuran KMS secara langsung. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur berat badan adalah dacin dengan ketelitian 0,1 kg dan tinggi badan dengan meteran tinggi badan (microtoise) dengan ketelitian 0,1 cm.

Alat ukur untuk mengukur berat badan adalah adasin dengan ketelitian 0,1 kg dan tinggi badan dengan meteran tinggi badan (microtoise) dengan ketelitian 0,1 cm.

Pengolahan Data

Merupakan kegiatan untuk memeriksa lembar data yang dimasukkan apakah ada kesalahan dalam pemasukan data atau tidak (Hastono, 2010).

Analisis Data

Analisis Univariat

Analisis Bivariat

Dari hasil penelitian yang dilakukan pada anak balita di Kota Maumere Kabupaten Sikka, NTT dengan pengukuran tinggi badan (TB), didapatkan data stunting dan status gizi anak dengan terlebih dahulu dilakukan pengobatan menggunakan antropometri WHO. Distribusi frekuensi status gizi berdasarkan indeks tinggi badan/umur balita di Kota Maumere Kabupaten Sikka NTT. Angka ini lebih tinggi dari data Riskesdas (2013), prevalensi stunting nasional pada balita sebesar 37,2% dan lebih tinggi dari angka stunting nasional berdasarkan Riskesdas 2018 yang sebesar 30,8% dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius.

Indikator status gizi berdasarkan indeks tinggi badan/umur memberikan indikasi masalah gizi kronis akibat kondisi yang sudah berlangsung lama.

GAMBARAN PENDIDIKAN IBU

Berdasarkan wajib belajar 12 tahun, pendidikan responden dikelompokkan menjadi pendidikan tinggi (lulusan SLTA, diploma, dan sarjana) dan pendidikan rendah (tidak tamat SD, tamat SD, dan kepemudaan). Tingkat pendidikan ibu pada kategori rendah (SMP) lebih tinggi (68,6%) dibandingkan ibu dengan pendidikan tinggi (SMA ke atas) (31,6%). Jika pendidikan ibu berhubungan dengan stunting balita di Kota Maumere dapat dilihat pada Tabel 4.4 di bawah ini.

Responden berpendidikan tinggi (78.1%) mempunyai lebih ramai kanak-kanak yang tidak terbantut berbanding responden berpendidikan rendah (50.7%). Keputusan ujian khi kuasa dua menunjukkan terdapat perkaitan di antara tahap pendidikan dengan masalah stunting di Kota Maumere (Hasil pengiraan Pvalue. Prevalence ratio (PR) menunjukkan responden yang berpendidikan rendah adalah 3469 kali lebih berkemungkinan mempunyai anak terbantut berbanding responden yang berpendidikan tinggi ( 95% CI .

Hal ini sesuai dengan penelitian Hizni di Kota Cirebon yang menunjukkan bahwa ibu yang berpendidikan rendah berisiko 2,22 kali lebih besar memiliki anak stunting dibandingkan ibu yang berpendidikan tinggi. Konsisten dengan hasil penelitian Nadiyah, dkk (2014) di Bali, Jawa Barat dan Nusa Tenggara Timur menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan stunting pada bayi usia 0-23 bulan dengan Pvalue = 0,000. Ibu dengan pendidikan yang lebih tinggi mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk memperoleh informasi tentang status gizi dan kesehatan anaknya sehingga pengetahuannya bertambah dan dipraktekkan dalam pemilihan jenis makanan, penyiapan makanan.

Indikator status gizi berdasarkan indeks BB/TB memberikan indikasi adanya masalah gizi akut akibat kejadian yang terjadi dalam waktu singkat.

Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi pendidikan ibu yang memiliki balita di Kota Maumere,  Kab, Sikka NTT
Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi pendidikan ibu yang memiliki balita di Kota Maumere, Kab, Sikka NTT

GAMBARAN PEKERJAAN IBU

Masalah kurus dan gemuk di usia muda dapat menimbulkan risiko berbagai penyakit degeneratif di masa dewasa (teori Bark dalam Riskesdas, 2013). Berdasarkan kegiatan yang dilakukan ibu untuk mencari nafkah dan menyita waktunya untuk mengasuh, menyediakan dan menyiapkan makanan bergizi bagi anaknya, pekerjaan responden dikelompokkan menjadi bekerja dan tidak bekerja. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden adalah ibu rumah tangga yang memiliki waktu untuk mengurus anak dan keluarganya serta menyiapkan makanan bergizi.

Hubungan status pekerjaan ibu dengan keadaan stunting pada balita di kota Maumere dapat dilihat pada tabel 4.7 di bawah ini. Dimana responden yang tidak bekerja (61,8%) memiliki anak yang tidak stunting lebih banyak dibandingkan responden yang bekerja (41,7%) namun hasil uji Chi Square menunjukkan tidak. Hasil perhitungan Prevalence Ratio (PR) menunjukkan bahwa responden yang bekerja berpeluang 2.265 kali lebih besar untuk memiliki balita stunting dibandingkan responden yang tidak bekerja (95% CI.

Tabel  4.5  menunjukkan  pekerjaan  responden      yang  paling  banyak  adalah  sebagai  ibu  rumah  tangga  (88.1%)
Tabel 4.5 menunjukkan pekerjaan responden yang paling banyak adalah sebagai ibu rumah tangga (88.1%)

GAMBARAN PENGETAHUAN IBU

Pengetahuan seseorang sangat mempengaruhi rumah tangga yang memiliki waktu untuk merawat dan menyiapkan makanan bergizi bagi anak dan keluarganya. Apakah pengetahuan ibu berhubungan dengan keadaan perolehan TK di Kota Maumere, hal ini dapat dilihat pada tabel 4.11 berikut ini. Dimana responden dengan pengetahuan tinggi (80,4%) memiliki anak yang tidak stunting dibandingkan responden dengan pengetahuan rendah (19,6%), hasil uji Chi Square menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan stunting pada anak prasekolah di Kota Maumere ( Pwaarde.

Menurut hasil penelitian Nimah (2015) yang menunjukkan bahwa ibu balita dengan keterlambatan perkembangan (61,8%) memiliki pengetahuan gizi yang lebih buruk dibandingkan ibu dengan balita normal (29,4%). Faktor pengetahuan gizi ibu dianggap sebagai faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada balita berdasarkan hasil analisis chi square (p=0,015) dengan OR sebesar 3,877. Menurut hasil penelitian Nasikhah dan Margawati (2012) di Semarang Timur bahwa pengetahuan ibu merupakan faktor risiko terjadinya stunting pada balita.

Pengetahuan ibu tentang gizi dan tumbuh kembang si kecil yang baik tercermin dari perawatan dan pemberian bahan dan menu makanan yang tepat bagi si kecil untuk menjaga kesehatan dan status gizi si kecil (Lestariningsih, 2000). Kurangnya pengetahuan tentang gizi dapat menyebabkan kurangnya mutu atau mutu gizi makanan keluarga, terutama makanan yang dikonsumsi oleh anak usia dini (Sjahmien, 2003). Kurangnya pengetahuan gizi dan kemampuan seseorang dalam menerapkan konsep gizi yang baik dan seimbang dalam kehidupan sehari-hari dapat menyebabkan terjadinya gangguan makan pada anak usia dini.

Tingkat pengetahuan gizi ibu mempengaruhi sikap dan perilaku dalam pemilihan bahan makanan yang selanjutnya akan mempengaruhi status gizi keluarganya (Suhardjo, 2003).

Tabel 4.10. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu yang Memiliki Balita di   Kota Maumere, Kabupaten Sikka NTT
Tabel 4.10. Distribusi Frekuensi Pengetahuan Ibu yang Memiliki Balita di Kota Maumere, Kabupaten Sikka NTT

GAMBARAN UMUR IBU

Berdasarkan usia berisiko, usia responden dibagi menjadi dua kategori yaitu risiko tinggi pada usia <20 dan ≥ 35 tahun. Umur seseorang sangat mempengaruhi kedewasaan seorang wanita dalam mengurus rumah tangganya serta merawat dan menyiapkan makanan yang baik dan bergizi untuk anaknya. Apakah umur ibu berhubungan dengan status kehamilan balita di kota Maumere dapat dilihat pada tabel 4.15 berikut ini.

Sekiranya umur responden berisiko tinggi adalah lebih tinggi dalam kalangan mereka yang mempunyai anak tanpa stunting (60.7) berbanding responden berisiko tinggi yang mempunyai anak dengan stunting (39.3%), keputusan ujian Chi-square menunjukkan, bahawa tidak terdapat hubungan yang signifikan. antara umur dan stunting pada kanak-kanak di bawah umur lima tahun di Kota Maumere (Pvalue. Menurut keputusan Nadiyah, 2015, yang menunjukkan umur ibu semasa bersalin, purata ketinggian kanak-kanak dengan umur ibu yang berisiko (<20 tahun dan >35 tahun) adalah lebih pendek berbanding panjang badan kanak-kanak dengan umur ibu yang melahirkan antara 20 hingga 35 tahun.Dalam kajian lain, terdapat hubungan yang signifikan antara umur ibu yang bersalin dengan kelewatan perkembangan dalam kanak-kanak (p>0.05).

Tingkat pendidikan responden yang rendah di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, NTT sebesar 68,3% lebih banyak dibandingkan dengan responden yang berpendidikan tinggi sebesar 31,7%. Hasil uji Chi Square menunjukkan bahwa ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan stunting pada balita di Maumere (Pvalue = 0,010). Hasil uji Chi Square menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara status pekerjaan ibu dengan stunting balita di Maumere (Pvalue = 0,219).

Hasil uji Chi Square menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara umur dengan stunting pada balita di kota Maumere (Pvalue = 1.000).

Tabel 4.13. Distribusi Frekuensi Nilai statistic Umur Ibu yang Memiliki Balita di Kota  Maumere, Kab
Tabel 4.13. Distribusi Frekuensi Nilai statistic Umur Ibu yang Memiliki Balita di Kota Maumere, Kab

SARAN

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara faktor ibu dengan prevalensi stunting pada anak usia 24-59 bulan. Uji Chi-Square menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan ibu (P = 0,010, PR = 3,469) dan tingkat pengetahuan gizi ibu (P = 0,000, PR = 6,689) dengan prevalensi stunting pada balita. usia. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini mencoba mendeskripsikan faktor maternal dan prevalensi stunting pada balita di Kota Maumere Kabupaten Sikka, NTT.

Pekerjaan ibu dan umur ibu tidak menunjukkan hubungan yang bermakna dengan prevalensi stunting pada anak usia 24-59 bulan di Kota Maumere Kabupaten Sikka. Pendidikan ibu merupakan faktor risiko terjadinya stunting pada anak balita, hal ini ditunjukkan dalam penelitian oleh Ikeda, et al. Responden yang tidak bekerja (61,8%) memiliki anak yang tidak cacat lebih banyak dibandingkan responden yang bekerja (41,7%), namun hasil uji Chi Square menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara status pekerjaan dengan stunting pada balita di Kota Maumere. tidak. (Pward.

Sesuai dengan hasil penelitian Aridiyah tahun 2015 di Kabupaten Jember bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara status pekerjaan ibu dengan prevalensi stunting pada balita. Ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan stunting pada balita di Kota Maumere (Pvalue. Pendidikan ibu, dan pengetahuan gizi ibu merupakan faktor yang berhubungan dengan prevalensi stunting pada balita.

Aridiyah dkk, Faktor-faktor yang mempengaruhi stunting pada balita di pedesaan dan perkotaan, e-Jurnal Pustaka Kesehatan, vol. Faktor risiko stunting pada anak usia 0-23 bulan di provinsi Bali, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Timur, Jurnal Gizi dan Pangan, Juli. Faktor-faktor yang berhubungan dengan stunting dalam Jurnal Balita Media Gizi Indonesia Vol 10, No.1 (2015), dikutip dari https://e-journal.unair.ac.id/MGI/article/view/3117/2264.

Tabel 1. Distribusi Frekuensi status gizi berdasarkan indeks TB/U pada Anak  Balita di Kota Maumere, Kabupaten Sikka NTT
Tabel 1. Distribusi Frekuensi status gizi berdasarkan indeks TB/U pada Anak Balita di Kota Maumere, Kabupaten Sikka NTT

SIMAKIP

Demikian biodata ini saya buat untuk memenuhi laporan hasil penelitian Associate Professor Universitas Muhammadiyah Prof DR HAMKA. Semua data yang saya isi dan cantumkan dalam biodata ini adalah benar dan dapat dipertanggung jawabkan secara hukum Apabila dikemudian hari ternyata ada ketidaksesuaian dengan kenyataan, saya bersedia mengambil resiko.

Gambar

Gambar 1  Kerangka Konsep,  Faktor Ibu  Dengan Kejadian  Stunting  Pada Balita Di Kota  Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur
Tabel 4.1. Distribusi Frekuensi status gizi berdasarkan indeks TB/U pada Anak Balita   di Kota Maumere, Kabupaten Sikka NTT
Tabel 4.2. Distribusi Frekuensi pendidikan ibu yang memiliki balita di Kota Maumere,  Kab, Sikka NTT
Tabel 4.2 menunjukkan pendidikan responden   yang tidak tamat SD dan tamat  SD  lebih  banyak  (49.5%)  dari  pendidikan  responden  yang  tamat  SMA  (28.7%)
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Responden yang bekerja sebagai nelayan tradisional paling banyak telah bekerja &lt;20 Tahun yang berjumlah 3 orang atau 18,75%, dan responden yang bekerja lebih dari 30