LAPORAN STUDI KASUS
Mata Kuliah : Dietetika Penyakit Infeksi dan Defisiensi Dosen Pengampu : Dhuha Itsnanisa Adi, S.Gz., M.Kes.
Disusun oleh Kelompok 4 :
Titis Azzahra Putri Auni (222110102075)
Syarifil Hidayatul Akbar (222110102076)
Inesa Malika Dewi (222110102081)
Nuraini Puspa Dewi (222110102082)
PROGRAM STUDI S1 GIZI
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS JEMBER
2024
STUDI KASUS
A. SKENARIO KASUS
Selama beberapa bulan terakhir Tn. X mengalami sakit perut sebelah kanan, terutama setelah makan. Selain itu, Tn. X juga kesulitan buang air besar. Awalnya Tn.
X hanya minum jamu untuk mengobati rasa sakitnya. Ketika sakitnya semakin parah, Tn. X juga mengalami demam, mual, dan sering flatus. Hasil anamnesa dengan ahli gizi menunjukkan bahwa Tn. X tidak mengonsumsi sayuran, tempe, dan tahu. Ia suka makanan berlemak dan bersantan. Makan pagi biasanya mengonsumsi nasi goreng, telur, roti isi keju, dan kopi. Ia biasanya makan siang di restoran padang. Namun, frekuensi Tn. X mengonsumsi buah hanya sesekali. Ia suka makan makanan kecil atau selingan, seperti emping, keripik jagung, dan minuman bersoda. Selain itu, Tn. X dapat merokok sebanyak 1 bungkus rokok setiap hari.
B. ULASAN KASUS 1. Identitas
● Nama : Tn.X
● Usia : 45 tahun
● Jenis Kelamin : Laki - laki
● Pekerjaan : Pengusaha Pengiriman Barang 2. Data Subyektif
a. Data Riwayat Gizi
● Tidak suka makan sayur
● Suka makanan berlemak/bersantan
● Jarang konsumsi buah
● Merokok sebanyak 1 bungkus dalam sehari
● Suka minum jamu b. Data Riwayat Penyakit : - 3. Data Obyektif
● Tinggi Badan :165 cm
● Berat Badan : 70 Kg 4. Data Fisik Klinis
● Sakit perut bagian kanan
● Sulit BAB
● Demam
● Mual
● Flatus 5. Data Laboratorium
Indikator Nilai aktual Nilai normal Interpretasi
Hemoglobin 13,5 gr/dl 13-18 gr/dl
(untuk laki-laki)
Normal
Suhu 38°C 36,5°C-37,6°C Demam
Hematocrit 45% 38,3-48,6%
(untuk laki-laki)
Normal Nadi 80 kali per menit 60-100 kali per Normal
menit
Respirasi 20 kali per menit 12-20 kali per menit
Normal
Tekanan darah 120/90 mmHg 110/90 mmHg Normal 6. Obat yang digunakan : -
C. TINJAUAN PUSTAKA
1. Definisi Istilah yang Tidak Diketahui
● Diverticulitis
Divertikulitis adalah kondisi yang terjadi ketika kantong- kantong kecil, yang disebut divertikula, di dalam dinding usus buntu meradang atau terinfeksi.
● Hematocrit
Hematocrit adalah salah satu parameter penting dalam dunia medis yang digunakan untuk mengukur persentase volume sel darah merah dalam darah pasien. Dalam pemeriksaan darah lengkap, biasanya dokter akan memeriksa kadar hematokrit untuk mengetahui kondisi medis pasien serta menentukan perawatan medis yang tepat.
● Flatus
Flatus atau biasa disebut kentut adalah proses pelepasan gas dari dalam saluran pencernaan manusia melalui anus, sebagai hasil dari proses pencernaan dalam tubuh manusia.
2. Gambaran Umun Penyakit Divertikulitis a. Definisi Divertikulitis
Divertikulitis adalah kondisi yang terjadi ketika kantong- kantong kecil, yang disebut divertikula, di dalam dinding usus buntu meradang atau terinfeksi. Divertikula biasanya terbentuk ketika tekanan dalam usus menyebabkan dindingnya menonjol keluar. Ketika materi makanan terjebak di dalam divertikula, dapat menyebabkan peradangan atau infeksi, yang kemudian menyebabkan divertikulitis.
Gejala divertikulitis bervariasi dari ringan hingga parah, termasuk nyeri perut, demam, mual, muntah, dan perubahan pola buang air besar.
b. Etiologi Divertikulitis
Etiologi divertikulitis melibatkan sejumlah faktor, termasuk pola makan yang rendah serat dan tinggi lemak, yang dapat menyebabkan sembelit dan peningkatan tekanan dalam usus. Gaya hidup yang tidak sehat, seperti kurangnya aktivitas fisik, juga dapat meningkatkan risiko terkena divertikulitis. Selain itu, perubahan dalam bakteri yang menghuni usus, yang dikenal sebagai microbiota usus, dapat memainkan peran dalam perkembangan kondisi ini. Gangguan neuromuskuler dalam usus juga dapat menyebabkan perubahan dalam
gerakan usus dan meningkatkan kemungkinan divertikulitis.
Predisposisi genetik juga dapat memainkan peran dalam risiko seseorang terkena kondisi ini. Dengan memahami faktor-faktor ini, penanganan divertikulitis dapat mencakup modifikasi diet, perubahan gaya hidup, dan penggunaan obat-obatan tertentu untuk mengurangi risiko kekambuhan.
c. Epidemiologi Divertikulitis
Divertikulitis merupakan gangguan saluran pencernaan yang umum, terutama di negara-negara Barat, meskipun prevalensinya juga meningkat di negara-negara berkembang seiring dengan perubahan gaya hidup dan pola makan. Sekitar 20% pasien dengan divertikulitis mengalami setidaknya satu kali kekambuhan, yang membuatnya menjadi masalah kesehatan yang signifikan. Faktor-faktor seperti usia tua, obesitas, dan kebiasaan merokok juga dapat meningkatkan risiko divertikulitis. Pemahaman tentang epidemiologi divertikulitis penting untuk pengelolaan yang efektif dan pencegahan komplikasi yang mungkin terjadi.
d. Faktor Risiko Divertikulitis
Beberapa faktor risiko yang berkontribusi pada perkembangan divertikulitis meliputi obesitas, karena berat badan berlebih dapat meningkatkan tekanan pada usus. Pola makan rendah serat juga merupakan faktor risiko, karena serat membantu menjaga kesehatan pencernaan dan mencegah sembelit. Selain itu, ketidakaktifan fisik atau gaya hidup yang kurang aktif dapat mengurangi gerakan usus dan meningkatkan risiko divertikulitis. Interaksi antara pola makan dan gaya hidup dengan microbiota usus juga dapat memainkan peran penting dalam pengembangan kondisi ini. Dengan mengidentifikasi dan memahami faktor risiko ini, langkah-langkah pencegahan yang sesuai dapat diambil untuk mengurangi risiko terkena divertikulitis.
e. Manifestasi Klinis Divertikulitis
Gejala klinis divertikulitis bervariasi dari ringan hingga parah, tergantung pada tingkat keparahan kondisi dan adanya komplikasi.
Nyeri perut merupakan gejala yang umum, biasanya terlokalisasi di sisi kiri bawah atau kanan bawah perut. Nyeri ini bisa bersifat tumpul atau tajam dan dapat memburuk saat makan atau saat ditekan. Selain itu, demam sering terjadi bersamaan dengan divertikulitis, yang bisa menjadi tanda infeksi. Perubahan pola buang air besar juga dapat terjadi, seperti diare atau sembelit, kadang-kadang disertai dengan darah dalam tinja. Gejala tambahan mungkin termasuk mual, muntah, kembung, atau perasaan tidak nyaman di perut.
f. Patofisiologi Divertikulitis
Patofisiologi divertikulitis melibatkan serangkaian perubahan kompleks dalam dinding usus buntu. Divertikula, yang merupakan tonjolan kecil yang terbentuk di dinding usus karena tekanan berlebih,
dapat menyebabkan penekanan pada pembuluh darah yang ada di sekitarnya. Ketika materi makanan terjebak di dalam divertikula, dapat menyebabkan iritasi, peradangan, dan infeksi. Proses ini kemudian memicu respons inflamasi yang melibatkan pelepasan zat kimia inflamasi, seperti sitokin, yang menyebabkan gejala klinis divertikulitis seperti nyeri perut dan demam. Faktor-faktor seperti diet, gaya hidup, genetika, dan microbiota usus juga dapat mempengaruhi perkembangan divertikulitis dengan memengaruhi keseimbangan inflamasi dalam tubuh.
g. Komplikasi Divertikulitis
Divertikulitis dapat menyebabkan sejumlah komplikasi yang serius jika tidak ditangani dengan tepat. Salah satu komplikasi yang paling umum adalah abses, yang merupakan kantong nanah yang terbentuk di sekitar area peradangan. Abses dapat menyebabkan nyeri yang parah, demam, dan perasaan sakit yang menjalar. Perforasi usus, yaitu pecahnya divertikula dan bocornya isi usus ke dalam rongga perut, juga dapat terjadi. Hal ini dapat menyebabkan peritonitis, yaitu peradangan serius dan infeksi di dalam perut, yang memerlukan perawatan medis segera. Komplikasi lainnya termasuk fistula, di mana saluran abnormal terbentuk antara usus dan organ lain, serta obstruksi usus, yang bisa menyebabkan masalah serius dalam pencernaan.
Penanganan dan pengobatan segera diperlukan untuk mencegah komplikasi yang lebih lanjut dan memastikan pemulihan yang optimal bagi penderita divertikulitis.
h. Pencegahan Divertikulitis
Pencegahan divertikulitis melibatkan serangkaian langkah, termasuk modifikasi diet dan gaya hidup. Diet tinggi serat dianjurkan karena serat membantu menjaga kesehatan pencernaan dan mencegah sembelit, yang dapat memperburuk divertikulitis. Mengonsumsi air yang cukup juga penting untuk menjaga agar tinja tetap lunak dan mudah dikeluarkan. Selain itu, menghindari makanan yang dapat memperparah gejala, seperti makanan yang tinggi lemak atau pedas, juga disarankan. Aktivitas fisik teratur juga dapat membantu menjaga gerakan usus yang sehat. Beberapa orang mungkin memerlukan penggunaan agen farmakologis tertentu, seperti suplemen serat atau probiotik, untuk membantu mengontrol gejala dan mengurangi risiko kekambuhan. Dengan mengadopsi gaya hidup yang sehat dan mengikuti rekomendasi pengelolaan yang tepat, risiko terkena divertikulitis dapat diminimalkan.
i. Pengobatan Divertikulitis
Pengobatan divertikulitis tergantung pada tingkat keparahan kondisi dan adanya komplikasi. Untuk kasus ringan hingga sedang, terapi antibiotik biasanya diresepkan untuk mengatasi infeksi dan peradangan. Analgesik atau obat penghilang rasa sakit juga dapat
diberikan untuk mengurangi nyeri. Terapi cairan intravena mungkin diperlukan untuk menjaga hidrasi dan mengatasi dehidrasi yang mungkin terjadi akibat muntah atau diare. Pada kasus yang lebih parah atau bila terjadi komplikasi, seperti abses atau perforasi usus, tindakan bedah mungkin diperlukan. Operasi dilakukan untuk mengangkat bagian usus yang terkena atau untuk memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh komplikasi. Tim medis akan menentukan rencana pengobatan yang sesuai berdasarkan evaluasi kondisi spesifik pasien.
j. Tatalaksana Gizi Divertikulitis
Tatalaksana gizi divertikulitis melibatkan pemberian diet tinggi serat sebagai strategi utama. Serat membantu menjaga kesehatan pencernaan dengan meningkatkan volume dan kekentalan tinja, sehingga memudahkan pergerakan usus dan mencegah sembelit. Jenis makanan yang dianjurkan termasuk buah-buahan, sayuran, biji-bijian utuh, dan kacang-kacangan. Selain itu, penting untuk minum air yang cukup untuk memastikan serat dapat bekerja secara efektif.
Menghindari makanan yang dapat memperburuk gejala, seperti makanan berlemak tinggi atau pedas, juga disarankan. Sebagai bagian dari manajemen gizi, konsultasi dengan ahli gizi atau profesional kesehatan yang berkualifikasi dapat membantu merancang rencana makan yang sesuai dengan kebutuhan individu pasien dan membantu mengelola gejala divertikulitis.
D. TATALAKSANA DIET 1. Perhitungan Status Gizi
BBI = (165-100) – 10% (165-100) = 65-6,5 = 58,5 kg IMT = Berat Badan(kg)
(Tinggibadan(m))2
= 70kg 1,652
= 70kg 2,72
= 25,7 (Gemuk/Obesitas I) 2. Perhitungan Kebutuhan Zat Gizi
➢ Kebutuhan Zat Gizi Makro
● BEE = 66,5 + 13,5 (BBI) + 5 (TB) – 6,78 (U)
= 66,5 + 13,5 (58,5) + 5 (165) – 6,78 (45)
= 66,5 + (789,75 + 825 – 305,1)
= 66,5 + 1.309,65
= 1.376,15 Kkal
Terdapat peningkatan BEE dikarenakan suhu tubuh pasien setinggi 38°C, sedangkan pada suhu tubuh normal 37°C. Peningkatan 1°C dikarenakan demam tersebut meningkatkan kebutuhan energi sebanyak 13%.
Peningkatan BEE = 1 x 13% x 1.376,15 = 179 BEE sakit = BEE normal + Peningkatan BEE
= 1.376,15 + 179 = 1.555,15
● TEE = BEE x FA x FS = 1.555,15 x 1,2 x 1,3
= 2.426,03 Kkal
Toleransi 10% = 2.199,61 Kkal – 2.688,42 Kkal
● Karbohidrat = 65 %x2.4 26,03 4
= 1. 5 77Kkal 4 = 394,22 g
Toleransi 10% = 355 g – 433,64 g
● Protein = 15 %x2. 426,03 4
= 36 4Kkal 4 = 91 g Toleransi 10% = 82 – 99,1 g
● Lemak = 20 %x2. 426,03 9
= 485,2Kkal 9 = 54 g
Toleransi 10% = 48,6 g – 59,4 g
➢ Kebutuhan Zat Gizi Mikro Kelompok
Umur
Vit. A (RE)
Vit. D (mcg)
Vit. E (mcg)
Vit. K (mcg)
Vit. B1 (mg)
Vit. B2 (mg)
Vit. B3 (mg)
30 – 49 tahun 600 15 15 55 1.1 1.1 14
Vit. B5
(Pantotenat) (mg)
Vit. B6 (mg)
Folat (mcg)
Vit. B12 (mcg)
Biotin (mcg)
Kolin (mg)
Vit. C (mg)
5.0 1.3 400 4.0 30 425 75
3. Preskripsi Diet 1) Prinsip Diet
Tn. X berumur 45 tahun adalah seorang pengusaha pengiriman barang yang sukses, sehari-hari ia sibuk dengan usahanya. Selama beberapa bulan terakhir mempunyai keluhan sakit di bagian perut sebelah kanan terutama setelah makan. Selain itu juga merasakn sulit untuk BAB.
Awalnya hanya minum jamu untuk mengobati rasa sakitnya. Ketika rasa sakitnya semakin parah, juga merasa demam, mual, dan sering flatus. Diet yang dianjurkan untuk Tn. X yaitu diet sisa rendah 1, Diet rendah sisa 1 adalah makanan yang terdiri dari bahan makanan rendah serat dan hanya sedikit meninggalkan sisa. Yang dimaksud dengan sisa adalah bagian-bagian makanan yang tidak diserap seperti yang terdapat dalam susu dan produk susu serta daging yang berserat kasar. Di samping itu, makanan lain yang merangsang saluran cerna harus dibatasi. (Sunita,2004). Diet rendah sisa 1 diberikan dalam bentuk saring atau diblender. Makanan yang berserat tinggi dan sedang sama sekali tidak diperbolehkan, kandungan serat maksimal 4 gram per hari, begitu pun bumbu yang tajam, susu juga tidak diperbolehkan. Lemak dan gula diberikan dalam jumlah terbatas.
2) Tujuan Diet
● Memberikan makanan sesuai kebutuhan gizi yang sedikit mungkin meninggalkan sisa sehingga dapat membatasi volume feses.
● Makanan hendaknya mudah dicerna, tidak merangsang baik secara mekanis, termis, maupun kimia dengan menghindari makanan yang tinggi serat
● Menghindari makanan terlalu panas dan terlalu dingin
● Menghindari makanan yang tinggi lemak, terlalu manis, terlalu asam dan terlalu berbumbu
● Mengistirahatkan usus untuk mencegah perforasi.
● Mencegah kenaikan BB.
3) Syarat Diet
● Energi cukup sesuai dengan umur, gender dan aktivitas.
● Protein, Lemak dan Karbohidrat cukup.
● Menghindari makanan berserat tinggi dan sedang, sehingga asupan serat maksimal 4 g/hari.
● Menghindari susu dan daging berserat kasar.
● Menghindari makanan yang terlalu berlemak,terlalu manis, terlalu asam dan berbumbu tajam.
● Makanan dimasak hingga lunak dan dihidangkan pada suhu tidak terlalu panas dan dingin.
● Makanan sering diberikan dalam porsi kecil.
● Bila diberikan untuk jangka waktu lama atau dalam keadaan khusus, diet perlu disertai suplemen.
4. Menu Sehari
Waktu Menu Bahan URT Berat Energ i (kkal)
Protei n (g)
Lema k (g)
Karb o hidrat (g) Pagi
07.00
Bubur nasi
Beras 1/2 cup beras
100 g 180 3 0,3 39,8
Tim ayam
Dada ayam fillet
1 potong sedang
50 g 97,5 14,77 3,86 0
Garam ½ sdm 15 g 0 0 0 0
Telur ayam rebus
Telur ayam ras
1 butir 50 g 86,51 6,97 6,06 0,39
Edamame rebus
Edamame 1
mangkok sedang
50 g 94,5 10,1 4,1 6,34
Jus jeruk Jeruk 2 buah sedang
200 g 125 2.5 0.6 30,1
Selinga n 09.00
Pudding roti
Roti tanpa gluten
1 lembar 40 g 90 3 5 6
Gula 1 sdm 15 g 59.1 0 0 14.1
Agar-agar bubuk
1
bungkus
7 g 20 0 0 8
Jus mangga manalagi
Mangga manalagi
1 buah 100 g 204,61 1,53 0,15 49,38
Gula 1 sdm 15 g 59,1 0 0 14.1
Siang 12.00
Nasi Tim Tuna
Beras ½ cup
beras
100 g 180 3 0.3 39.8
Ikan tuna 1 potong sedang
75 g 81 17,52 0,7 0
Kecap 1 sdm 15 g 10,65 0,85 0,19 1,35
Garam ½ sdm 7,5 g 0 0 0 0
Sop bening
Wortel 1 potong besar
15 g 6,75 0,19 1 1,35
Buncis 2 buah 10 g 3,7 0,26 0,03 0,8
Minyak kanola
1 sdm 15 g 128,55 0 13,92 0
Garam 1 sdt 5 g 0 0 0 0
Kaldu ayam
½ gelas 120 g 6 0,46 0,14 0,74
Gula ½ sdt 2,5 g 9,85 0 0 2,35
Jus nanas Nanas 1 potong sedang
100 g 75,5 1,13 0,56 18,7
Selinga n 15.00
Sereal Havermou t haverjoy instant
4 sdm 60 g 240 5,13 5,13 44,56
Susu oat (Oatside)
1/3 gelas belimbin g
65 ml 48,75 0,37 2,25 5,92
Nagasari Tepung beras (rose brand)
4 sdm 60 g 127,75 2,1 0,49 28
Tepung tapioca (rose brand)
2 sdm 32 g 57,6 0 0 13,42
Gula 4 sdt 20 g 19,7 0 0 4,7
Garam ½ sdt 7,5 g 0 0 0 0
Pisang ambon
1 buah 100 g 72 0,6 0,53 16,2
Malam 18.00
Mashed Potato
Kentang 1 buah sedang
100 g 72,93 2,46 0,24 15,86
Garam ½ sdt 2,5 g 0 0 0 0
Labu kuning panggang
Labu kuning
1 potong sedang
50 g 34,45 1,15 0,34 6,75
Salmon Salmon 1 potong 50 g 109,5 16,21 4,4 0
panggang sedang
Garam ½ sdt 2,5 g 0 0 0 0
Sari melon
Melon 1 potong besar
100 g 63,68 1,03 0,7 13,42
Gula 1 sdt 5 g 19,7 0 0 4,7
Energi Protein Lemak Karbohidrat
Total Menu 2.384,38 94,33 50,99 386,83
Total Kebutuhan 2.426 91 54 394,22
Persentase 98% 103% 94% 98%
● Bahan Makanan yang Dianjurkan
Berikut adalah beberapa bahan makanan yang dianjurkan untuk diet rendah sisa pasien divertikulitis:
1. Biji-bijian olahan seperti roti putih, nasi putih, dan pasta tawar.
2. Buah-buahan yang dimasak dan dikalengkan tanpa kulit atau biji, seperti saus apel atau buah persik kalengan.
3. Sayuran yang dimasak dan dikalengkan tanpa kulit atau biji, seperti wortel atau buncis yang dimasak dengan baik.
4. Telur, unggas, ikan, dan daging sapi yang empuk, digiling, atau dimasak dengan baik.
5. Puding, es krim, dan makanan penutup yang lembut lainnya.
● Bahan Makanan yang Dihindari dan Dibatasi
Berikut adalah beberapa bahan makanan yang harus dihindari dan dibatasi untuk diet rendah sisa pasien divertikulitis:
1. Biji-bijian dan produk yang dibuat dengan biji-bijian utuh.
2. Buah dan sayuran mentah atau kering.
3. Kacang-kacangan, biji-bijian.
4. Daging yang keras atau berlemak.
5. Makanan yang digoreng.
6. Makanan pedas.
DAFTAR PUSTAKA
Strate, L. L., & Morris, A. M. (2019). Epidemiology, Pathophysiology, and Treatment of Diverticulitis. Gastroenterology, 156(5), 1282–1298.e1.
https://doi.org/10.1053/j.gastro.2018.12.033
Dwiyanti, D., & Saputra P. (2021). DIET DIVERTIKULITIS. Ganesha Medicina Journal, 1(1).
P, Bondan. (2021). Diet pada Penyakit Divertikulitis. JNH (Journal of Nutrition and Health), 9(1), 39-43.
Dwiyanti, D A A., Siputra, P A. (2021). Diet Divertikulitis. Ganesha Medicina Journal, 1(1), 1-8.